Anda di halaman 1dari 14

I.

Judul Praktikum

PENGUKURAN KELELAHAN
KERJA

II. Tujuan Praktikum


II.1Mahasiswa mengetahui alat yang dapat digunakan mengukur kelelahan.
II.2Untuk melatih mahasiswa dalam penggunaan Reaction Timer.
II.3Mahasiwa dapat mendeskripsikan kegunaan Reaction Timer.
II.4Mahasiswa dapat mengetahui bagian-bagian dari Reaction Timer.
II.5Mahasiswa mengetahui cara mengukur tingkat kelelahan dengan Reaction Timer.
II.6Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan tingkat kelelahan seseorang berdasarkan
kecepatan waktu reaksi terhadap rangsang cahaya dan suara.
1

II.7Mahasiswa dapat mengukur tingkat kelelahan kerja dengan Reaction Timer.


II.8Mahasiswa dapat menganalisa data hasil pengukuran.
II.9Mahasiswa dapat menentukan tingkat kelelahan kerja berdasarkan standart kelelahan
kerja.
III.Landasan Teoritis
III.1
Latar Belakang
Sering dijumpai pada sebuah industri terjadi kelelahan kerja. Kelelahan kerja
tersebut disebabkan oleh faktor dari pekerja sendiri atau dari pihak menajemen
perusahaan. Kelelahan yang disebabkan oleh pihak pekerja sendiri, karena pekerja
tidak mengatur dengan benar posisi tubuh mereka saat sedang melakukan aktivitas
kerja. Sedangkan faktor penyebab yang ditimbulkan dari pihak manajemen, biasanya
tidak adanya alat-alat keselamatan kerja atau bahkan cara kerja yang dibuat oleh pihak
manajemen masih belum mempertimbangkan segi ergonominya. Misalnya pekerjaan
mengangkat benda kerja di atas 50 Kg tanpa menggunakan alat bantu. Kondisi ini bisa
menimbulkan kelelahan dan bahkan cidera pada pekerja. Untuk menghindari hal
tersebut, pertama-tama yang dapat dilakukan adalah mengidentifikasi resiko yang bisa
terjadi akibat cara kerja yang salah dan juga mengurangi resiko kelelahan kerja yang
berlebihan. Setelah jenis pekerjaan tersebut diidentifikasi, maka langkah selanjutnya
adalah menghilangkan cara kerja yang bisa mengakibatkan kelelahan berlebih dan
cidera.
Kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari
kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat. Istilah kelelahan
biasanya menunjukkan kondisi yang berbeda-beda dari setiap individu, tetapi
semuanya bermuara kepada kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas kerja serta
ketahanan tubuh.

Pengukuran kelelahan kerja seseorang dapat dilakukan dengan menggunakan alat


pencacat waktu reaksi atau reaction timer, untuk mengetahui waktu reaksi ransang
cahaya ( WRC ).
Evaluasi hasil pengukuran kelelahan adalah membandingkan hasil pengukuran
dengan standart yang ada yaitu :
a.
b.
c.
d.

Normal
: < 240 mili detik
Kelelahan ringan : 240 409 mili detik
Kelelahan sedang : 410 579 mili detik
Kelelahan berat : > 580 mili detik
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi waktu reaksi adalah :
a. Faktor fisik
: Jenis kelamin, umur, dan kesehatan.
b. Faktor psikologis : Pendidikan, motivasi, perasaan dan kebiasaan.
c. Ketidaktahuan pengukuran
Pengukuran kelelahan kerja terbagi 2 macam yaitu pengukuran secara objektif dan
pengukuran secara subjektif. Secara objektif dapat dilakukan dengan menggunakan
alat ukur untuk mengukur kelelahan kerjalah satunya pengukuran waktu reaksi. Waktu
reaksi yang diukur dapat merupakan reaksi sederhana atas rancangan tunggal atau
reaksi-reaksi yang memerlukan reaksi. Biasanya waktu reaksi adalah jangka waktu
pemberian suatu rangsangan sampai pada suatu saat kesadaran atau dilaksanakannya
kegiatan tersebut.
Pengukuran waktu reaksi dapat dilakukan dengan Reaction Timer. Reaction Timer
merupakan alat untuk mengukur tingkat kelelahan berdasarkan kecepatan waktu
reaksi terhadap rangsangan cahaya dan bunyi. Prinsip kerja alat ini adalah
memberikan rangsangan tunggal berupa signal cahaya atau suara yang kemudian
direspon secepatnya oleh tenaga kerja, kemudian dapat dihitung waktu reaksi tenaga
kerja yang mencatat waktu yang dibutuhkan untuk merespon signal tersebut.

III.2
Kelelahan Kerja
III.2.1 Pengertian Kelelahan Kerja
Kelelahan merupakan suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh
terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat
3

Kelelahan menurunkan kapasitas kerja dan ketahanan kerja yang ditandai oleh
sensasi lelah, motivasi menurun, aktivitas menurun. Rizeddin (2000). Kelelahan
kerja adalah perasaan lelah dan adanya penurunan kesiapsiagan (Grandjean,
1985).
Kelelahan bagi setiap orang memiliki arti tersendiri dan bersifat subyektif.
Lelah adalah aneka keadaan yang disertai penurunan efisiensi dan ketahanan
dalam bekerja. Kelelahan merupakan mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh
menghindari kerusakan lebih lanjut, sehingga dengan demikian terjadilah
pemulihan (Sumamur, 1996).
Kelelahan menunjukkan kondisi yang berbeda-beda dari setiap individu, tetapi
semuanya bermuara pada kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas kerja serta
ketahanan tubuh (Tarwaka, 2004). Kelelahan adalah aneka keadaan yang disertai
penurunan efisiensi dan ketahanan dalam bekerja (Sumamur, 1989). Kelelahan
kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja (Eko
Nurmianto, 2003).
Menurut Cameron kelelahan kerja merupakan kriteria yang kompleks yang
tidak hanya menyangkut kelelahan fisiologis dan psikologis tetapi dominan
hubungannya dengan penurunan kinerja fisik, adanya perasaan lelah, penurunan
motivasi dan penurunan produktivitas kerja. Selain itu, kelelahan kerja (job
bournout) adalah sejenis stress yang banyak dialami oleh orang-orang yang
bekerja dalam pekerjaan-pekerjaan pelayanan terhadap manusia lainnya seperti
perawat kesehatan, transportasi, kepolisian, dan sebagainya. (Schuler, 1999).
Menurut Mc Farland kelelahan kerja merupakan suatu kelompok gejala
yang berhubungan dengan adanya penurunan efisiensi kerja, keterampilan serta
peningkatan kecemasan atau kebosanan. Kelelahan kerja sendiri biasanya ditandai
oleh adanya perasaan lelah, output menurun, dan kondisi fisiologis yang
dihasilkan dari aktivitas terus-menerus. (Anastesi, 1993).

Kelelahan akibat kerja sering kali diartikan sebagai menurunnya efisiensi,


performans kerja dan berkurangnya kekuatan / ketahanan fisik tubuh untuk terus
melanjutkan yang harus dilakukan (Wignjosoebroto, 2000).
III.2.2 Pembagian Kelalahan Kerja
III.2.2.1 Berdasarkan waktu
a. Kelelahan akut disebabkan oleh kerja suatu organ atau seluruh tubuh secara
berlebihan
b. Kelelahan kronis terjadi bila kelelahan berlangsung setiap hari dan
berkepanjangan
III.2.2.2 Berdasarkan penyebab
a. Kelelahan fisiologis disebabkan oleh faktor fisik ditempat kerja
b. Kelelahan psikologis disebabkan oleh faktor psikologis
III.2.3 Gejala Gejala Kelelahan Kerja
Gejala yang berakibat pada pekerjaan : penurunan kesiagaan dan perhatian,
penurunan dan hambatan persepsi, cara berpikir atau pebuatan anti sosial, tidak
cocok dengan lingkungan, depresi, kurang tenaga, dan kehilangan inisiatif
Gejala umum yang menyertai gejala diatas adalah sakit kepala, vertigo,
gangguan fungsi paru dan jantung, kehilangan nafsu makan serta gangguan
penernaan
1) Faktor Penyebab Kelelahan Kerja
a. Medis :
Flu
Anemia
Gangguan tidur
Hypothyroidism
Hepatitis,
TBC
Penyakit kronis lainnya.
b. Gaya Hidup :
Kurang tidur
Terlalu banyak tidur
Alkohol dan miras
Diet yang buruk
Kurangnya olahraga, gizi, daya tahan tubuh
Circadian rhythm.
2) Faktor psikologis :
Depresi
Kecemasan dan stress
Kesedihan.
3) Tempat Kerja
5

III.3
a.
b.
c.
d.

Kerja shift
Pelatihan tempat kerja yang buruk,
Stress di tempat kerja,
Pengangguran,
Workaholics,
Suhu ruang kerja,
Penyinaran,
Kebisingan,
Monotoni pekerjaan dan kebosanan,
Beban kerja.

Akibat Kelelahan Kerja


Prestasi kerja yang menurun,
Fungsi fisiologis motorik dan neural yang menurun,
Badan terasa tidak enak,
Semangat kerja yang menurun

(Bartley dan Chute, 1982)

IV Waktu dan Lokasi Praktikum


Hari/tanggal

: Selasa, 24 Mei 2016

Waktu

: 14.30 15.00 WIB

Lokasi

: Balai Keselamatan dan Kesehatan Kerja Medan (Jl. Yos Sudarso


Medan-Belawan)

V. Bahan dan Alat Pengukuran


5.1 Reaction Timer ,type L.77 Model MET /3001-MED-95
5.2 Lembar data Reaction Timer
5.3 2 kursi dan 1 meja

VI. Metode Pengukuran


a. Prinsip

Gas sulfur dioksida diserap dalam larutan penjerap tetrakloromerkurat membentuk


senyawa

komplek

diklorosulfonatomerkurat.

Dengan

menambah

larutan

pararosanilindan formaldehid, kedalam senyawa diklorosulfonatomerkurat maka


terbentuk senyawa pararosanilin metal sulfonat yang berwarna ungu. Konsentrasi
larutan di ukur pada panjang 550 nm. (SNI 19-7119.7-2005)
b. Prosedur Kerja
i. Cara Uji Kadar Sulfur Dioksida (SO2) Dengan Metode Pararosanilin
Menggunakan Spektrofotometer (SNI 19-7119.7.2005)
Peralatan pengambilan contoh uji disusun seperti pada gambar. Memasukkan
larutan tetrakloromerkurat (TCM) 0,04 M sebanyak 10 mL ke masing-masing botol
penjerap. Botol penjerap diatur agar terlindung dari hujan dan sinar matahari
langsung. Menghidupkan pompa penghisap udara dan mengatur kecepatan alir 0,5
L/menit sampai 1 L/menit, setelah stabil mencatat laju alir awal F1 (L/menit).
Melakukan pengambilan contoh uji selama 1 jam dan mencatat temperatur serta
tekanan udara. Setelah 1 jam mencatat laju alir akhir F2 (L/menit) dan kemudian
mematikan pompa penghisap. Didiamkan selama 20 menit setelah pengambilan
contoh uji untuk menghilangkan pengganggu.

Memindahkan larutan contoh uji ke dalam tabung uji 25 mL dan menambahkan 5


mL air suling untuk membilas. Menambahkan 1 mL larutan asam sulfamat 0,6% dan
7

tunggu sampai 10 menit. Menambahkan 2,0 mL larutan formaldehida 0,2%.


Menambahkan 5,0 mL larutan pararosanilin. Menepatkan dengan air suling sampai
volume 25 mL, lalu mehomogenkan dan menunggu sampai 30 - 60 menit. Mengukur
serapan masing-masing larutan standar dengan spektrofotometer pada panjang
gelombang 550 nm kemudian menghitung konsentrasi dengan menggunakan kurva
kalibrasi. Melakukan langkah-langkah di atas untuk pengujian blanko dengan
menggunakan 10 mL larutan penjerap.
ii. Penentuan Konsentrasi SO2 Dalam Larutan Induk Na2S2O5
a. Pipet 25 ml larutan induk Na2S2O5 ke dalam labu elenmeyer asah dan pipet 50 ml
larutan 0,01 N ke dalam labu dan simpan dalam ruang tertutup selama 5 menit.
b. Titrasi larutan dalam elenmeyer dengan larutan tio 0,01 N sampai warna larutan
kuning muda
c. Tambahkan 5 ml indicator kanji, dan lanjutkan titrasi sampai titik akhir (warna
biru tepat hilang), catat volum larutan penitar yang diperlukan
d. Pipet 25 ml air suling sebagai blanko ke dalam elenmeyer asah dan lakukan
langkah-langkah di atas
e. Hitung konsentrasi SO2 dalam larutan induk tersebut
iii. Pembuatan Kurva Kalibrasi
a. Optimalkan alat spektrofotometer sesuai petunjuk penggunaan alat.
b. Masukan masing-masing larutan standart Na2S2O5 ke dalam tabung uji 25 ml
c.
d.
e.
f.
g.

menggunakan pipet volum atau buret mikro


Tambahkan larutan penjerat sampai volum 10 ml
Tambahkan 1 ml larutan asam sulfamat 0,6 % dan tunggu sampai 10 menit
Tambahkan 2,0 ml larutan folmaldehid 0,2 %
Tambahkan 5,0 ml larutan pararosalin
Tepatkan dengan air suling sampai volum 25 ml lalu homogenkan dan tunggu

sampai 30 60 menit
h. Ukur serapan masing masing larutan standart dengan spektrofotometer pada
panjang gelombang
i. Buat kurva kalibrasi antara serapan dengan jumlah SO2

VII.

Hasil Pengukuran
a. Pengujian Contoh Uji Untuk Pengambilan Contoh Uji Selama 1 Jam

a. Pindahkan larutan contoh uji ke dalam tabung uji 25 ml dan tambahkan 5 ml air
suling untuk membilas
b. Lakukan langkah-langkah pembuatan kurva dari d h
c. Baca serapan contoh uji kemudian hitung konsentrasi dengan menggunakan kurva
kalibrasi
d. Lakukan langkah-langkah diatas untuk pengujian blanko dengan menggunakan 10
ml larutan penjerat
Kadar gas SO2 yang diukur pada udara lingkungan kerja belum diketahui
dikarenakan keterbatasan waktu untuk menyelesaikan praktikum tersebut selama 1
jam. Sehingga hasil praktikum gas udara ini hanya penjelasan secara teori tentang alat
di laboraturium Balai K3 Medan Belawan hingga jam praktikum berakhir.
b. Volum Uji Udara Yang Diambil
Volum uji udara yang diambil dikoreksi pada kondisi normal (25 0, 760 mmHg)
dengan pengambilan contoh uji selama 1 jam.
c.
a.
b.
c.

Jaminan Mutu
Gunakan thermometer dan barometer yang terkalibrasi
Gunakan alat ukur laju alir (Flowmeter) yang terkalibrasi
Hindari terjadinya penguapan yang berlebihan dari larutan penjerat dalam botol
penjerat, gunakan aluminium foil atau box pendingin sebagai pelindung terhadap

matahari
d. Pertahankan suhu larutan penjerat dibawah 250C selama pengangkutan ke
laboratorium dan penyimpanan sebelum analisa, untuk menghindari kehilangan
SO2
e. Hindari pengambilan contoh uji pada saat hujan
VIII. Pembahasan Hasil Pengukuran
Udara merupakan hal yang paling penting dalam proses kehidupan makhluk
hidup. Baku mutu yang digunakan sebagai patokan pada analisis udara ambien
didasarkan pada Peraturan Gubernur No. 053 Th.2007 tentang baku mutu udara
ambien dan baku tingkat kebisingan dan surat edaran Menteri Tenaga Kerja Nomor :
SE-01/MEN/1997 tentang nilai ambang batas faktor kimia di udara lingkungan kerja.
a. Parameter gas SO2

Analisis kandungan gas SO2 menggunakan metode SNI secara spektrofotometri.


Pada

prosedur

analisisnya

digunakan

suatu

larutan

penjerap

sodium

tetrakloromerkurat untuk gas SO2 di udara. Selanjutnya akan terbentuk senyawa stabil
non volatil dikloro sulfit merkurat. Senyawa ini kemudian perlu ditambahkan dengan
larutan larutan pararosanilin agar terbentuk larutan yang berwarna merah sehingga
dapat diukur serapannya pada spektrofotometer.
Gas SO2 dapat berasal dari berbagai sumber bukan hanya mesin - mesin yang
bekerja dengan bahan bakar fosil namun dapat pula berasal dari asap - asap
pembakaran dari pemukiman dengan berbagai aktivitas. Namun dengan pergerakan
angin gas SO2 yang dihasilkan tidak sampai terakumulasi sangat besar pada satu
lokasi. Pengaruh gas SO2 dapat menyebabkan iritasi sistem pernapasan bahkan dapat
mengakibatkan kematian. Namun dari hasil pengukuran kandungan gas di udara tidak
serta-merta menjadi indikator pasti tubuh akan mengalami gangguan kesehatan, perlu
tindakan lebih lanjut terutama berhubungan dengan pengecekan kesehatan dari tiap
pekerja di lingkungan perusahaan tersebut.
a. Pengendalian Mutu
i. Uji Blanko
a. Uji Blanko Laboratorium
Menggunakan larutan penjerat sebagai contoh uji (blanko) dan dikerjakan
sesuai dengan penetuan contoh uji untuk mengetahui kontaminasi, baik terhadap
pereaksi yang digunakan maupun terhadap tahaptahap selama penentuan di
laboratorium.
b. Uji Blanko Lapangan
Menggunakan larutan penjerat sebagai contoh uji (blanko) dan dikerjakan
sesuai dengan penetuan contoh uji untuk mengetahui kontaminasi, baik terhadap
pereaksi yang digunakan maupun terhadap tahaptahap selama penentuan di
lapangan.
ii. Liniearitas Kurva Kalibrasi

10

Koefisien korelasi (r) lebih besar atau sama dengan 0,998 (atau sesuai dengan
kemampuan laboratoriumyang bersangkutan) dengan intersepsi lebih kecil
sama dengan batas deteksi.
IX. Kesimpulan
Berdasarkan dari pembahasan di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa
Analisis kandungan gas SO2 menggunakan metode SNI secara spektrofotometri
selama 1 jam . Pada prosedur analisisnya digunakan suatu larutan penjerap sodium
tetrakloromerkurat untuk gas SO2 di udara.
Gas SO2 dapat berasal dari berbagai sumber bukan hanya mesin - mesin yang
bekerja dengan bahan bakar fosil namun dapat pula berasal dari asap - asap
pembakaran dari pemukiman dengan berbagai aktivitas. Namun dengan pergerakan
angin gas SO2 yang dihasilkan tidak sampai terakumulasi sangat besar pada satu
lokasi. Pengaruh gas SO2 dapat menyebabkan iritasi sistem pernapasan bahkan dapat
mengakibatkan kematian. Namun dari hasil pengukuran kandungan gas di udara tidak
serta-merta menjadi indikator pasti tubuh akan mengalami gangguan kesehatan, perlu
tindakan lebih lanjut terutama berhubungan dengan pengecekan kesehatan dari tiap
pekerja di lingkungan perusahaan tersebut.

X. Daftar Pustaka
a. Anonim. 1994. ISO Standart Conpendium Environment Air Quality, First Edition
b. Anonim 1. 2010. Pengantar Pencemaran Udara. http://www.pencemaran_udara.pdf
[20 Maret 2011]
c. Anonim 2. 2004. Parameter Pencemar Udara dan Dampaknya terhadap Kesehatan.
http://www.depkes.go.id/downloads/Udara.PDF parameter [9 Maret 2011]
d. Anonim 3. 2011. Dampak Pencemaran Udara Oleh Belerang Oksida (SOx).
http://rikypeacechemistry.wordpress.com/2011/02/03/dampakpencemaran-udara-olehbelerang-oksida-sox/ [20 Maret 2011]

11

e. Azizah, Aulia dan Retno Agnestisia. 2011. Analisis Kualitas Udara Ambien Dengan
Parameter Gas So2, No2 Dan Co Di Balai Hiperkes Dan Keselamatan Kerja Provinsi
Kalimantan Selatan. https://www.academia.edu/72340999/. [ 20 April 2011]
f. Civirily. 2011. Analisa Kualitas Udara.
http://qtauntukselamanya.blogspot.com/2011/01/analisa-kualitas-udara.html [11 April
2011]
g. Herie,

S.

2010.

Polutan

Udara.

http://industri16heriesetiopratama.blog.

mercubuana.ac.id/2010/12/09/polutan-udara/ [ 20 Maret 2011]


h. Lodge, James. 1988. Methods of air sampling and analysis, Third edition, APHA.
Washigton.
i. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara. BAPEDAL.
j. Setio, H.P. 2009. Polutan Udara.
http://POLUTAN_UDARA_Herie_Setio_Pratama.htm [17 Maret 2011]
k. Setyowati, S. 2009. Pencemaran Udara Ambien. http://www.chem-istry.org/materi_kimia/kimia-industri/limbah-industri/pencemaran-udara-ambien/
Maret 2011]
l. Sukirno. 2011.

Pengertian

Pencemaran

Udara.

[9

http://pengertian-pencemaran-

udara.html [ 17 Maret 2011]


m. Sumamur. 2009. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (Hiperkes). Sagung Seto.
Sutardi, T. 2008. Teknik Pengukuran Udara Ambien. http://tiki print_article.php.htm [
17 Maret 2011]
n. Wisconsin Department of Health and Family Services. 2005. Sulfur Dioxide. Division
of Public Health, with funds from the Agency for Toxic Substances and Disease
Registry, Public Health Service, U.S. Department of Health and Human Services.
(PPH 45083 10/2005).

12

XI. Lampiran Foto

13

14