Anda di halaman 1dari 20

Resusitasi pada Bayi Prematur

Maria Monika Muda*Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA


Alamat Korespondensi:
Maria Monika Muda, Fakultas Kedokteran UKRIDA Jl. Terusan Arjuna no. 6,
Tanjung Duren, Jakarta Barat 11510. E-mail: monikmuda@yahoo.com

Pendahuluan
Resusitasi (respirasi artifisialis) adalah usaha dalam memberikan ventilasi yang
adekuat, pemberian oksigen dan curah jantung yang cukup untuk menyalurkan oksigen
kepada otak, jantung dan alat-alat vital lainnya. Resusitasi adalah pernafasan dengan
menerapkan masase jantung dan pernafasan buatan. Resusitasi adalah tindakan untuk
menghidupkan kembali atau memulihkan kembali kesadaran seseorang yang tampaknya mati
sebagai akibat berhentinya fungsi jantung dan paru, yang berorientasi pada otak. Resusitasi
jantung paru terdiri atas dua komponen utama yakni: bantuan hidup dasar (BHD) dan bantuan
hidup lanjut (BHL).1

Anamnesis
Anamnesis adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara. Ada beberapa tipe
anamnesis :
o Autoanamnesis
o Aloanamnesis

: wawancara yang dilakukan langsung kepada pasien


: wawancara yang dilakukan terhadap orangtua, wali, orang

yang dekat dengan pasien, atau sumber lain (keterangan dari dokter yang merujuk,
catatan rekam medik, dan semua keterangan yang diperoleh selain dari pasiennya
sendiri)
Berdasarkan anamnesis sering dapat ditentukan sifat dan beratnya penyakit dan terdapatnya
faktor-faktor yang mungkin menjadi latar belakan penyakit, yang semuanya berguna dalam
menentukan sikap untuk penatalaksanaan selanjutnya. Dalam kebanyakan kasus anak,

aloanamnesis akan lebih sering diterapkan dibandingkan dengan autoanamnesis; dalam


hubungan ini pemeriksa harus waspada akan kemungkinan terjadinya bias, oleh karena data
tentang keadaan pasien yang didapat mungkin berdasarkan asumsi atau persepsi orangtua
atau pengantar. Keadaan ini sering berkaitan dengan pengetahuan, adat, tradisi, kepercayaan,
kebiasaan, dan faktor budaya lainnya.2
Suatu anamnesis yang terarah dapat mempermudah penegakan diagnosis sesuai dengan
keluhan yang dikemukakan oleh anak atau orangtua. Anamnesis yang lengkap harus
dilakukan pada semua pasien, termasuk:

Riwayat kehamilan ibu

Riwayat kelahiran pasien

Makanan

Imunisasi

Tumbuh kembang

Riwayat keluarga dan corak reproduksi

dan lain sebagainya

1. Identitas pasien: nama lengkap dan nama panggilan, umur, jenis kelamin, nama
orangtua, alamat, data orangtua (umur, pendidikan dan pekerjaan), agama dan suku
bangsa
2. Riwayat penyakit: keluhan utama; riwayat perjalanan penyakit (lamanya keluhan
berlangsung; bagaimana sifat terjadinya gejala: apakah mendadak, perlahan-lahan,
terus menerus, berupa bangkitan-bangkitan atau serangan, hilang-timbul, apakah
berhubungan dengan waktu (pagi, sore, atau malam); untuk keluhan lokal harus
dirinci lokasinya dan sifatnya: menetap, menjalar, menyebar, sifat penyebarannya,
berpindah-pindah; berat-ringannya keluhan dan perkembangannya: apakah menetap,
cenderung bertambah berat, cenderung berkurang; terdapatnya hal yang mendahului
keluhan; apakah keluhan tersebut baru pertama kali dirasakan atau sudah pernah

sebelumnya (bila sudah pernah, dirinci apakah intesitas dan karakteristiknya sama
atau berbeda, dan interval antara keluhan-keluhan tersebut); apakah terdapat saudara
sedarah, orang serumah atau sekeliling pasien yang menderita keluhan yang sama;
upaya yang telah dilakukan dan bagaimana hasilnya.
3. Riwayat penyakit yang pernah diderita
4. Riwayat kehamilan ibu: kunjungan antenatal dan kepada siapa kunjungan antenatal itu
dilakukan (dukun, perawat, bidan, dokter umum, dokter spesialis), apakah ibu
mendapatkan toksoid tetanus, terkena infeksi TORCH (toksoplasma, rubella,
cytomegalovirus, dan herpes simpleks), merokok atau minum minuman keras, serta
makanan ibu selama hamil.
5. Riwayat kelahiran: tanggal dan tempat kelahiran, siapa yang menolong, cara kelahiran
(spontan, ekstraksi cunam, ekstraksi vakum, bedah cesar), adanya kehamilan ganda,
keadaan segera setelah lahir, dan morbiditas pada hari-hari pertama setelah lahir.
Masa kehamilan juga perlu ditanyakan (apakah cukup bulan, kurang bulan, atau lewat
bulan). Berat dan panjang lahir, APGAR score yang bisa dilihat di kartu tempat anak
itu lahir, morbiditas yang berhubungan dengan kelahiran dan selama masa neonatus
seperti asfiksia, trauma lahir, infeksi intrapartum, ikterus dan lain-lain.
6. Riwayat makanan: ASI, PASI, makanan tambahan, jenis dan jumlah, serta jadwal
pemberian.
7. Riwayat imunisasi
8. Riwayat tumbuh kembang: kurva berat badan dan tinggi badan, serta kemampuan
motor kasar, motor halus, sosial-personal, dan bahasa-adaptif; perkembangan pubertas
9. Riwayat keluarga
10. Corak reproduksi ibu: umur ibu pada saat hamil, jarak kelahiran, dan jumlah kelahiran
(paritas), jumlah persalinan termasuk aborsi.

Anamnesis mempunyai peran yang sangat penting dalam diagnosis dan tata laksana penyakit
anak. Anamnesis (bersama pemeriksaan fisik) juga menuntun pemeriksa untuk melakukan
pemeriksaan penunjang yang mungkin diperlukan.
Pada semua pasien, anamnesis tidak terbatas pada masalah yang berhubungan dengan
penyakit sekarang, melainkan juga harus mencakup riwayat pasien sejak dalam kandungan
ibu sampai saat dilakukan wawancara.3

Pemeriksaan pada Bayi Baru Lahir


Pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis adalah sebuah proses dari seorang ahli
medis memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis penyakit. hasil pemeriksaan
akan di catat dalam rekam medis. Rekam medis dan pemeriksaan fisik akan membantu dalam
penegakkan diagnosis dan perencanaan perawatan pasien. pemeriksaan fisik pada bayi dapat
dilakukan oleh bidan, perawat atau dokter untuk menilai status kesehatannya.
Waktu pemeriksaan dapat di lakukan saat bayi baru lahir, 24 jam setelah lahir (sesaat sesudah
bayi lahir pada saat kondisi atau suhu tubuh sudah stabil dan setelah di lakukan pembersihan
jalan nafas/resisutasi, pembersihan badan bayi, perawatan tali pusat ) dan akan pulang pulang
dari rumah sakit.
Sebelum melakukan pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir ada beberapa hal yang
perlu di perhatikan, antara lain :
o Bayi sebaiknya dalam keadaan telanjang di bawah lampu terang sehingga bayi tidak
mudah kehilangan panas atau lepaskan pakaian hanya pada daerah yang di periksa.
o Lakukan prosedur secara berurutan dari kepala ke kaki atau lakukan prosedur yang
memerlukan observasi ketat lebih dahulu, seperti paru, jantung dan abdomen.
o Lakukan prosedur yang menggangu bayi, seperti pemeriksaan refleks pada tahap
akhir bicara lembut, pegang tangan bayi di atas dadanya atau lainnya.
Prinsip Pemeriksaan Fisik Bayi Baru Lahir
o
o
o
o

Jelaskan prosedur pada orang tua dan minta persetujuan tindakan


Cuci dan keringkan tangan , pakai sarung tangan
Pastikan pencahayaan baik
Periksa apakah bayi dalam keadaan hangat, buka bagian yangg akan diperiksa (jika
bayi telanjang pemeriksaan harus dibawah lampu pemancar) dan segera selimuti

kembali dengan cepat


o Periksa bayi secara sistematis dan menyeluruh.

Peralatan dan Perlengkapan : Kapas alkohol dalam tempatnya; Bak instrumen; Handscoon;
Tissue dalam tempatnya; Senter;Termometer; Stetoskop; Tongs pate; Selimut bayi; Bengkok
Timbangan bayi; Selimut bayi; Timbangan bayi; Pita ukur/metlin; Timer; Pengukur panjang
badan.
Prosedur Pelaksanaan:
1) Penilaian Apgar score.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai kemampuan laju jantung, kemampuan
bernafas, kekuatan tonus otot, kemampuan refleks dan warna kulit.
Caranya:
o Lakukan penilaian apgar Score dengan cara menjumlahkan hasil penilaian
tanda, seperti laju jantung, kemampuan bernafas, kekuatan tonus otot,
kemampuan refleks dan warna kulit.
o Tentukan hasil penilaian, sebagai berikut :

Adaptasi baik

: skor 7-10

Asfiksia ringan-sedang

: skor 4-6

Asfiksia berat

: skor 0-3

Tabel I. Penilaian Apgar Score

2) Pengukuran Antropometri
o Lakukan Penimbangan berat badan. Letakkan kain atau kertas pelindung dan
atur skala penimbangan ke titik nol sebelum penimbangan. Hasil timbangan
dikurangi berat alas dan pembungkus bayi. Berat badan normal adalah 25003500 gram apabila BB kurang dari 2500 gram disebut bayi Premature dan
apabila BB bayi lebih dari 3500 gram maka bayi disebut Macrosomia.

o Lakukan Pengukuran panjang badan. Letakkan bayi di tempat yang datar.


Ukur panjang badan dari kepala sampai tumit dengan kaki/badan bayi
diluruskan. Alat ukur harus terbuat dari bahan yang tidak lentur. Panjang
badan normal adalah 45-50 cm.
o Ukur lingkar kepala. Pengukuran dilakukan dari dahi kemudian melingkari
o

kepala kembali lagi ke dahi. Lingkar kepala normal adalah 33-35 cm.
Ukur lingkar dada. Ukur lingkar dada dari daerah dada ke punggung kembali
ke dada (pengukuran dilakukan melalui kedua puting susu). Lingkar dada
normal adalah 30 -33 cm. Apabila diameter kepala lebih besar 3 cm dari
lingkar dada maka bayi mengalami Hidrocephalus. Dan apabila diameter

kepala lebih kecil 3 cm dari dada maka bayi mengalami Microcephalus.


o Mengukur Lingkar Lengan atas (LILA). Normalnya 11-15 cm. Untuk LILA
pada BBL belum mencerminkan keadaan tumbuh kembang bayi.2
Pemeriksaan Fisik
a) Kepala
Lakukan Inspeksi pada daerah kepala. Raba sepanjang garis sutura dan fontanel
,apakah ukuran dan tampilannya normal. Sutura yang berjarak lebar mengindikasikan
bayi preterm,moulding yang buruk atau hidrosefalus. Pada kelahiran spontan letak
kepala, sering terlihat tulang kepala tumpang tindih yang disebut moulding/moulase.
Keadaan ini normal kembali setelah beberapa hari sehingga ubun-ubun mudah diraba.
Perhatikan ukuran dan ketegangannya. Fontanel anterior harus diraba, fontanel yang
besar dapat terjadi akibat prematuritas atau hidrosefalus, sedangkan yang terlalu kecil
terjadi pada mikrosefali. Jika fontanel menonjol, hal ini diakibatkan peningkatan
tekanan intakranial, sedangkan yang cekung dapat tejadi akibat deidrasi. Terkadang
teraba fontanel ketiga antara fontanel anterior dan posterior, hal ini terjadi karena
adanya trisomi 21. Periksa adanya tauma kelahiran misalnya; caput suksedaneum,
sefal hematoma, perdarahan subaponeurotik/fraktur tulang tengkorak. Perhatikan
adanya kelainan kongenital seperti ; anensefali, mikrosefali, kraniotabes dan
sebagainya.
b) Wajah
Wajah harus tampak simetris. Terkadang wajah bayi tampak asimetris hal ini
dikarenakan posisi bayi di intrauteri. Perhatikan kelainan wajah yang khas seperti
sindrom down atau sindrom piere robin. Perhatikan juga kelainan wajah akibat trauma
lahir seperti laserasi, paresi N.fasialis.
c) Mata

Goyangkan kepala bayi secara perlahan-lahan supaya mata bayi terbuka. Lakukan
inspeksi daerah mata. Periksa jumlah, posisi atau letak mata. Perksa adanya
strabismus yaitu koordinasi mata yang belum sempurna. Periksa adanya glaukoma
kongenital, mulanya akan tampak sebagai pembesaran kemudian sebagai kekeruhan
pada kornea.Katarak kongenital akan mudah terlihat yaitu pupil berwarna putih. Pupil
harus tampak bulat. Terkadang ditemukan bentuk seperti lubang kunci (kolobama)
yang dapat mengindikasikan adanya defek retina . Periksa adanya trauma seperti
palpebra, perdarahan konjungtiva atau retina. Periksa adanya sekret pada mata,
konjungtivitis oleh kuman gonokokus dapat menjadi panoftalmia dan menyebabkan
kebutaan. Apabila ditemukan epichantus melebar kemungkinan bayi mengalami
sindrom down.
d) Hidung
Kaji bentuk dan lebar hidung, pada bayi cukup bulan lebarnya harus lebih dari 2,5 cm.
Bayi harus bernapas dengan hidung, jika melalui mulut harus diperhatikan
kemungkinan ada obstruksi jalan napas akarena atresia koana bilateral, fraktur tulang
hidung atau ensefalokel yang menonjol ke nasofaring. Periksa adanya sekret yang
mukopurulen yang terkadang berdarah , hal ini kemungkinan adanya sifilis
congenital. Periksa adanya pernapasa cuping hidung, jika cuping hidung mengembang
menunjukkan adanya gangguan pernapasan.
e) Mulut
Lakukan Inspeksi apakah ada kista yang ada pada mukosa mulut. Perhatikan mulut
bayi, bibir harus berbentuk dan simetris. Ketidaksimetrisan bibir menunjukkan adanya
palsi wajah. Mulut yang kecil menunjukkan mikrognatia. Periksa adanya bibir
sumbing, adanya gigi atau ranula (kista lunak yang berasal dari dasar mulut). Periksa
keutuhan langit-langit, terutama pada persambungan antara palatum keras dan lunak.
Perhatikan adanya bercak putih pada gusi atau palatum yang biasanya terjadi akibat
Episteins pearl atau gigi. Periksa lidah apakah membesar atau sering bergerak. Bayi
dengan edema otak atau tekanan intrakranial meninggi seringkali lidahnya keluar
masuk (tanda foote).
f) Telinga
Periksa dan pastikan jumlah, bentuk dan posisinya. Pada bayi cukup bulan, tulang
rawan sudah matang. Daun telinga harus berbentuk sempurna dengan lengkungan
yang jelas dibagia atas. Perhatikan letak daun telinga. Daun telinga yang letaknya
rendah (low set ears) terdapat pada bayi yangmengalami sindrom tertentu (Pierrerobin). Perhatikan adanya kulit tambahan atau aurikel hal ini dapat berhubungan
dengan abnormalitas ginjal. Bunyikan bel atau suara. Apabila terjadi refleks terkejut

maka pendengarannya baik, kemudian apabila tidak terjadi refleks maka


kemungkinan terjadi gangguan pendengaran.
g) Leher
Leher bayi biasanya pendek dan harus diperiksa kesimetrisannya. Pergerakannya
harus baik. Jika terdapat keterbatasan pergerakan kemungkinan ada kelainan tulang
leher. Periksa adanya trauma leher yang dapat menyebabkan kerusakan pad fleksus
brakhialis. Lakukan perabaan untuk mengidentifikasi adanya pembengkakan.periksa
adanya pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis. Adanya lipata kulit yang
berlebihan di bagian belakang leher menunjukkan adanya kemungkinan trisomi 21.
Raba seluruh klavikula untuk memastikan keutuhannya terutama pada bayi yang lahir
dengan presentasi bokong atau distosia bahu. Periksa kemungkinan adanya fraktur.
h) Dada, Paru dan Jantung
Periksa kesimetrisan gerakan dada saat bernapas. Apabila tidak simetris kemungkinan
bayi mengalami pneumotoraks, paresis diafragma atau hernia diafragmatika.
Pernapasan bayi yang normal dinding dada dan abdomen bergerak secara bersamaan.
Tarikan sternum atau interkostal pada saat bernapas perlu diperhatikan. Frekuensi
pernapasan bayi normal antara 40-60 kali permenit. Perhitungannya harus satu menit
penuh karena terdapat periodic breathing, dimana pola pernapasan pada neonatus
terutama pada premature ada henti nafas yang berlangsung 20 detik dan terjadi secara
berkala. Pada bayi cukup bulan, puting susu sudah terbentuk dengan baik dan tampak
simetris. Payudara dapat tampak membesar tetapi ini normal. Lakukan palpasi pada
daerah dada, untuk menentukan ada tidaknya fraktur klavikula dengan cara meraba
ictus cordis dengan menentukan posisi jantung. Lakukan Auskultasi paru dan jantung
dengan menggunakan stetoskop untuk menlai frekuensi dan suara napa/jantung.
Secara normal frekuensi denyut jantung antara 120-160 x / menit.
i) Abdomen
Abdomen harus tampak bulat dan bergerak secara bersamaan dengan gerakan dada
saat bernapas. Kaji adanya pembengkakan. Lakukan pemeriksaan pada tali pusat
bertujuan untuk menilai ada tidaknya kelainan pada tali pusat seperti, ada tidaknya
vena dan arteri, tali simpul pada tali pusat dan lain-lain. Jika perut sangat cekung
kemungkinan terdapat hernia diafragma. Abdomen yang membuncit kemungkinan
karena hepato-splenomegali atau tumor lainnya. Jika perut kembung kemungkinan
adanya enterokolitis vesikalis, omfalokel atau ductus omfaloentriskus persisten..
Lakukan Auskultasi adanya bising Usus. Lakukan perabaan hati, umumnya teraba 2-3
cm di bawah arkus kosta kanan. Limpa teraba 1 cm di bawah arkus kosta kiri.
Lakukan palpasi ginjal, dengan cara atur posisi terlentang dan tungkai bayidi lipat

agar otot-otot dinding perut dalam keadaan relaksasi, batas bawah ginjal dapat di raba
setinggi umbilikus di antara garis tengah dan tepi perut bagian ginjal dapat di raba
sekitar 2-3 cm. Adanya pembesaran pada ginjal dapat di sebabkan oleh neoplasma,
kelainan bawaan, atau trombosis vena renalis
j) Ekstermitas Atas
Kedua lengan harus sama panjang, periksa dengan cara meluruskan kedua lengan ke
bawah. Kedua lengan harus bebas bergerak, jika gerakan kurang kemungkinan adanya
kerusakan neurologis atau fraktur. Periksa jumlah jari. Perhatikan adanya polidaktili
atau sidaktili. Telapak tangan harus dapat terbuka, garis tangan yang hanya satu buah
berkaitan dengan abnormaltas kromosom, seperti trisomi 21. Periksa adanya paronisia
pada kuku yang dapat terinfeksi atau tercabut sehingga menimbulkan luka dan
perdarahan.
k) Ekstermitas Bawah
Periksa kesimetrisan tungkai dan kaki. Periksa panjang kedua kaki dengan
meluruskan keduanya dan bandingkan. Kedua tungkai harus dapat bergerak bebas.
Kuraknya gerakan berkaitan dengan adanya trauma, misalnya fraktur, kerusakan
neurologis. Periksa adanya polidaktili atau sidaktili padajari kaki.
l) Spinal
Periksa spina dengan cara menelungkupkan bayi, cari adanya tanda-tanda
abnormalitas seperti spina bifida, pembengkakan, lesung atau bercak kecil berambut
yang dapat menunjukkan adanya abdormalitas medula spinalis atau kolumna vertebra.
m) Genetalia
Pada bayi laki-laki panjang penis 3-4 cm dan lebar 1-1,3 cm.Periksa posisi lubang
uretra. Prepusium tidak boleh ditarik karena akan menyebabkan fimosis. Periksa
adanya hipospadia dan epispadia. Skrotum harus dipalpasi untuk memastikan jumlah
testis ada dua. Pada bayi perempuan cukup bulan labia mayora menutupi labia minor.
Lubang uretra terpisah dengan lubang vagina. Terkadang tampak adanya sekret yang
berdarah dari vagina, hal ini disebabkan oleh pengaruh hormon ibu (withdrawl
bedding).
n) Anus dan Rectum
Periksa adanya kelainan atresia ani , kaji posisinya. Mekonium secara umum keluar
pada 24 jam pertama, jika sampai 48 jam belum keluar kemungkinan adanya
mekonium plug syndrom, megakolon atau obstruksi saluran pencernaan.
o) Kulit
Perhatikan kondisi kulit bayi. Periksa adanya ruam dan bercak atau tanda lahir.
Periksa adanya pembekakan. Perhatinan adanya vernik kaseosa ( zat yang bersifat
seperti lemak berfungsi sebagai pelumas atau sebagai isolasi panas yang akan
menutupi bayi cukup bulan). Perhatikan adanya lanugo(rambut halus yang terdapat

pada punggung bayi) jumlah yang banyak terdapat pada bayi kurang bulan daripada
bayi cukup bulan.1-3
Refleks-Refleks
Pemeriksaan
Refleks
Berkedip
Tanda babinski

Cara Pengukuran

Kondisi Normal

Kondisi Patologis

Sorotkan cahaya ke Dijumpai pada tahun Jika tidak di jumpai


mata bayi.
Gores telapak

pertama
menunjukkan kebutaan.
kaki Jari kaki mengembang Bila pengembangan jari

sepanjang tepi luar, di dan


ulai dari tumit

ibu

jari

kaki kaki dorsofleksi setelah

dorsofleksi, di jumpai umur 2 tahun adanya


sampai umur 2 tahun.

Moros

tanda

lesi

ekstrapiramidal.
Ubah posisi dengan Lengan Ekstensi, jari- Refleks yang menetap
tiba-tiba atau pukul jari
meja/tempat tidur.

mengembang lebih 4 bulan adanya

kepala terlempar ke kerusakan otak, respon


belakang,

tungkai tidak simetris adanya

sedikit
lengan

ekstensi, hemiparesis,
kembali

ke klavikula, atau cidera

tengah dengan tangan fleksus


menggenggam tulang Tidak
belakang

menghilang

bawah
dislokasi

atau

cidera

pada

umur 3-4 bulan.


di Jari-jari
bayi Fleksi

Letakkan

(palmar graps)

telapak tangan bayi melengkung di sekitar simetris


dari sisi ulnar, jika jari yang di letakkan adanya
lemah

respons

bulan medulla spinalis.

Mengenggam

refleks

ada

bawah adanya

ekstens. Lebih kuat pinggul

jari

brachialis.

dan ekstermitas

ekstermitas
selama

fraktur

atau di telapak tangan bayi refleks

tidak ada berikan bayi dari sisi ulnar, refleks yang

yang

tidak

menunjukkan
paralysis,
menggenggam
menetap

botol atau dot, karena ini menghilang dari menunjukkan gangguan


mengjisap

akan umur 3-4 bulan.

serebral

Rooting

mengeluarkan refleks.
Gores sudut mulut Bayi memutar kea rah Tidak
bayi

garis

adanya

tengah pipi yang di gores, menunjukkan

bibir.

refleks ini menghilang gangguan

reflek
adanya

neurology

pada umur 3-4 bulan. berat


Tetapi bias menetap
sampai umur 12 bulan
khususnya
Kaget (startle)

tidur.
tangan Bayi

Bertepuk
dengan keras.

selama

mengekstensi Tidak adanya refleks

dan memfleksi lengan menunjkkan


dalam

adanya

berespon gangguan pendengaran

terhadap suara yang


keras

tangan

tetap

rapat, refleks ini akan


menghilang
Menghisap

Berikan

bayi

setelah

umur 4 bulan.
botol Bayi
menghisap Reflek yang lemah atau

dan dot.

dengan

kuat

berespons

dalam tidak ada menunjukkan


terhadap kelambatan

stimulasi, reflek ini perkembangan

atau

menetap selama masa keadaan neurologi yang


bayi

dan

mungkin abnormal

terjadi selama tidur


tanpa stimulasi

Resusitasi Bayi Baru Lahir


Resusitasi ( respirasi artifisialis) adalah usaha dalam memberikan ventilasi yang
adekuat, pemberian oksigen dan curah jantung yang cukup untuk menyalurkan oksigen
kepada otak, jantung dan alat-alat vital lainnya.4
Tujuan Resusitasi :
o Memberikan ventilasi yang adekuat

o Membatasi kerusakan serebi


o Pemberian oksigen dan curah jantung yang cukup untuk menyalurkan oksigen kepada
otak, jantung dan alat alat vital lainnya
o Untuk memulai atau mempertahankan kehidupan ekstra uteri
Tanda-tanda resusitasi yang perlu dilakukan :
1. Pernafasan
Apabila penilaian pernafasan menunjukkan bahwa bayi tidak bernafas atau bahwa
pernafasan tidak adekuat. Lihat gerakan dada naik turun, frekuensi dan dalamnya
pernafasan selama 1 menit. Nafas tersengal-sengal berarti nafas tidak efektif dan perlu
tindakan, misalnya apneu. Jika pernafasan telah efektif yaitu pada bayi normal biasanya
30 50 x/menit dan menangis, kita melangkah ke penilaian selanjutnya.
2. Denyut jantung frekuensi
Apabila penilaian denyut jantung menunjukkan bahwa denyut jantung bayi tidak
teratur. Frekuensi denyut jantung harus > 100 per menit. Cara yang termudah dan cepat
adalah dengan menggunakan stetoskop atau meraba denyut tali pusat. Meraba arteria
mempunyai keuntungan karena dapat memantau frekuensi denyut jantung secara terus
menerus, dihitung selama 6 detik (hasilnya dikalikan 10 = frekuensi denyut jantung
selama 1 menit).
Hasil penilaian :
o Apabila frekuensi>100x / menit dan bayi bernafas spontan, dilanjutkan dengan
menilai warna kulit.
o Apabila frekuensi < 100x / menit walaupun bayi bernafas spontan menjadi
indikasi untuk dilakukan VTP (Ventilasi Tekanan Positif)
3. Warna Kulit
Apabila penilaian warna kulit menunjukkan bahwa warna kulit bayi pucat atau bisa
sampai sianosis. Setelah pernafasan dan frekuensi jantung baik, seharusnya kulit menjadi
kemerahan. Jika masih ada sianosis central, oksigen tetap diberikan. Bila terdapat
sianosis purifier, oksigen tidak perlu diberikan, disebabkan karena peredaran darah yang
masih lamban, antara lain karena suhu ruang bersalin yang dingin.
Kondisi yang memerlukan resusitasi :
1. Sumbatan jalan napas : akibat lendir / darah / mekonium, atau akibat lidah yang jatuh ke
posterior.
2. Kondisi depresi pernapasan akibat obat-obatan yang diberikan kepada ibu misalnya obat
anestetik, analgetik lokal, narkotik, diazepam, magnesium sulfat, dan sebagainya.
3. Kerusakan neurologis

4. Kelainan / kerusakan saluran napas atau kardiovaskular atau susunan saraf pusat, dan /
atau kelainan-kelainan kongenital yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan /
sirkulasi
5. Syok hipovolemik

misalnya

akibat

kompresi

tali

pusat

atau

perdarahan

Resusitasi lebih penting diperlukan pada menit-menit pertama kehidupan. Jika terlambat,
bisa berpengaruh buruk bagi kualitas hidup individu selanjutnya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam resusitasi :
o Tenaga yang terampil, tim kerja yang baik
o Pemahaman tentang fisiologi dasar pernapasan, kardiovaskular, serta proses asfiksia
yang progresif
o Kemampuan / alat pengaturan suhu, ventilasi, monitoring
o Obat-obatan dan cairan yang diperlukan.
Persiapan resusitasi bayi baru lahir :
Di dalam setiap persalinan, penolong harus selalu siap melakukan tindakan resusitasi bayi
baru lahir. Kesiapan untuk bertindak dapat menghindarkan kehilangan waktu yang sangat
berharga bagi upaya pertolongan. Walaupun hanya beberapa menit tidak bernapas, bayi baru
lahir dapat mengalami kerusakan otak yang berat atau meninggal.
a) Persiapan Keluarga
Sebelum menolong persalinan, bicarakan dengan keluarga mengenai kemungkinankemungkinan yang dapat terjadi pada ibu dan bayinya serta persiapan yang dilakukan
oleh penolong untuk membantu kelancaran persalinan dan melakukan tindakan yang
diperlukan.
b) Persiapan Tempat Resusitasi
Persiapan yang diperlukan meliputi ruang bersalin dan tempat resusitasi. Gunakan
ruangan yang hangat dan terang. Tempat resusitasi hendaknya rata, keras, bersih dan
kering, misalnya meja, dipan atau di atas lantai beralas tikar. Kondisi yang rata
diperlukan untuk mengatur posisi kepala bayi. Tempat resusitasi sebaiknya di dekat
sumber pemanas (misalnya; lampu sorot) dan tidak banyak tiupan angin (jendela atau
pintu yang terbuka). Biasanya digunakan lampu sorot atau bohlam berdaya 60 watt
atau lampu gas minyak bumi (petromax). Nyalakan lampu menjelang kelahiran bayi.
c) Persiapan Alat Resusitasi
Sebelum menolong persalinan, selain peralatan persalinan, siapkan juga alat-alat
resusitasi dalam keadaan siap pakai, yaitu:
2 helai kain/handuk

Bahan ganjal bahu bayi. Bahan ganjal dapat berupa kain, kaos, selendang,
handuk kecil, digulung setinggi 5 cm dan mudah disesuaikan untuk mengatur

posisi kepala bayi.


Alat pengisap lendir DeLee atau bola karet
Tabung dan sungkup atau balon dan sungkup neonatal
Kotak alat resusitasi
Jam atau pencatat waktu resusitasi5

Langkah-langkah resusitasi :
Sebelum bayi lahir, harus mengetahui informasi:
-

Bayi cukup bulan atau tidak?

Air ketuban bercampur mekonium atau tidak?

Setelah bayi lahir, lakukan penilaian:


-

Bernafas atau menangis?

Tonus otot baik?

Bila hasil penilaian baik, yaitu bayi cukup bulan, air ketuban tidak bercampur mekonium,
bayi menangis, tnus otot baik. Maka lakukan perawatan rutin: Beri kehangatan, Bersihkan
jalan nafas, Mengeringkan bayi.
Bila hasil penilaian tidak baik, maka lakukan :
I.

Airway (langkah awal)


o Jaga bayi tetap hangat. Selimuti bayi dengan kain, pindahkan bayi ke tempat
resusitasi.
o Atur posisi bayi. Baringkan bayi terlentang dengan kepala di dekat penolong.
Ganjal bahu agar kepala sedikit ekstensi. Posisi semi ekstensi yaitu hidung dan
mulut dalam satu garis lurus.
o Isap lendir. Gunakan alat pengisap lendir DeLee atau bola karet.
-. Pertama, isap lendir di dalam mulut, kemudian baru isap lendir di hidung.
-. Hisap lendir sambil menarik keluar pengisap (bukan pada saat
memasukkan).
-. Bila menggunakan pengisap lendir DeLee, jangan memasukkan ujung
pengisap terlalu dalam (lebih dari 5 cm ke dalam mulut atau lebih dari 3 cm ke

dalam hidung) karena dapat menyebabkan denyut jantung bayi melambat atau
henti napas bayi.
o Keringkan dan Rangsang taktil.
Keringkan bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya dengan
sedikit tekanan. Rangsangan ini dapat memulai pernapasan bayi atau bernapas
lebih baik.
Lakukan rangsangan taktil dengan beberapa cara di bawah ini:
a. Menepuk atau menyentil telapak kaki.
b. Menggosok punggung, perut, dada atau tungkai bayi dengan telapak
tangan. Rangsangan yang kasar, keras atau terus menerus, tidak akan
banyak menolong dan malahan dapat membahayakan bayi.
o Reposisi
-. Ganti kain yang telah basah dengan kain bersih dan kering yang baru
(disiapkan).
-. Selimuti bayi dengan kain tersebut, jangan tutupi bagian muka dan dada
agar pemantauan pernapasan bayi dapat diteruskan.
-. Atur kembali posisi terbaik kepala bayi (sedikit ekstensi).
Penilaian apakah bayi menangis atau bernapas spontan dan teratur.
o Lakukan penilaian apakah bayi bernapas normal, megap-megap atau tidak
bernapas. Lakukan evaluasi meliputi: Pernapasan, Frekuensi jantung, Warna
II.

kulit. Bila bayi bernafas, FJ > 100x/menit lakukan perawatan suportif.


Breathing (VTP)
Bila FJ < 100x/menit /APNUE VTP (Ventilasi Tekanan Positif). Ventilasi adalah bagian
dari tindakan resusitasi untuk memasukkan sejumlah udara ke dalam paru dengan tekanan
positip yang memadai untuk membuka alveoli paru agar bayi bisa bernapas spontan dan
teratur.

Pasang sungkup, perhatikan lekatan. Pasang dan pegang sungkup agar menutupi

mulut dan hidung bayi.


Ventilasi 2 kali dengan tekanan 30 cm air, amati gerakan dada bayi. Ventilasi
percobaan (2 kali) Lakukan tiupan udara dengan tekanan 30 cm air. Tiupan awal
ini sangat penting untuk membuka alveloli paru agar bayi bisa mulai bernapas dan
sekaligus menguji apakah jalan napas terbuka atau bebas.

Lihat apakah dada bayi mengembang, bila tidak mengembang :


Periksa posisi kepala, pastikan posisinya sudah benar
Periksa pemasangan sungkup dan pastikan tidak terjadi kebocoran.

Bila dada mengembanglakukan tahap berikutnya :


Bila dada bayi mengembang, lakukan ventilasi 20 kali dengan tekanan 20 cm air
dalam 30 detik
Penilaian apakah bayi menangis atau bernapas spontan dan teratur
Kecukupan ventilasi dinilai dengan memperhatikan gerakan dinding dada dan auskultasi
bunyi napas. Bila bayi bernafas, FJ > 100x/menit, kemerahan lakukan perawatan lanjutan.
III.

Circulation

Apabila setelah dilakukan VTP, FJ < 60x/menit lakukan VTP dan kompresi dada
Kompresi Dada

Kompresi dinding dada dapat dilakukan dengan melingkari dinding dada dengan
kedua tangan dan menggunakan ibu jari untuk menekan sternum atau dengan
menahan punggung bayi dengan satu tangan dan menggunakan ujung dari jari
telunjuk dan jari tengah dari tangan yang lain untuk menekan sternum.

Tehnik penekanan dengan ibu jari lebih banyak dipilih karena kontrol kedalaman
penekanan lebih baik.

Tekanan diberikan di bagian bawah dari sternum dengan kedalaman 1,5 cm dan
dengan frekuensi 90x/menit.

Dalam 3x penekanan dinding dada dilakukan 1x ventilasi sehingga didapatkan 30x


ventilasi per menit. Perbandingan kompresi dinding dada dengan ventilasi yang
dianjurkan adalah 3 : 1.

Evaluasi denyut jantung dan warna kulit tiap 30 detik. Bayi yang tidak berespon,
kemungkinan yang terjadi adalah bantuan ventilasinya tidak adekuat, karena itu
adalah penting untuk menilai ventilasi dari bayi secara konstan.

IV.

Drug

Bila FJ < 60x/menit, berikan EPINEPRIN

Tindakan pasca resusitasi


Pasca resusitasi diberikan sesuai dengan keadaan bayi setelah menerima tindakan resusitasi.
Asuhan pascaresusitasi dilakukan pada keadaan:
a. Resusitasi berhasil
Resusitasi berhasil bila pernapasan bayi teratur, warna kulitnya kembali normal yang
kemudian diikuti dengan perbaikan tonus otot atau bergerak aktif. Lanjutkan dengan
asuhan berikutnya.
Konseling:
o Jelaskan pada ibu dan keluarganya tentang hasil resusitasi yang telah
dilakukan. Jawab setiap pertanyaan yang diajukan.
o Ajarkan ibu cara menilai pernapasan dan menjaga kehangatan tubuh bayi. Bila
ditemukan kelainan, segera hubungi penolong.
o Anjurkan ibu segera memberi ASI kepada bayinya. Bayi dengan gangguan
pernapasan perlu banyak energi. Pemberian ASI segera, dapat memasok energi
yang dibutuhkan.
o Anjurkan ibu untuk menjaga kehangatan tubuh bayi (asuhan dengan metode
Kangguru).
o Jelaskan pada ibu dan keluarganya untuk mengenali tanda-tanda bahaya bayi
baru lahir dan bagaimana memperoleh pertolongan segera bila terlihat tandatanda tersebut pada bayi.
Lakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk:
o Anjurkan ibu menyusukan sambil membelai bayinya
o Berikan Vitamin K, antibiotik salep mata, imunisasi hepatitis B
Lakukan pemantuan seksama terhadap bayi pasca resusitasi selama 2 jam pertama:
Perhatikan tanda-tanda kesulitan bernapas pada bayi :
o
o
o
o

Tarikan interkostal, napas megap-megap, frekuensi napas 60 x per menit.


Bayi kebiruan atau pucat.
Bayi lemas.
Pantau juga bayi yang tampak pucat walaupun tampak bernapas normal.

Jagalah agar bayi tetap hangat dan kering. Tunda memandikan bayi hingga 6 24 jam
setelah lahir (perhatikan temperatur tubuh telah normal dan stabil).

b. Bayi perlu rujukan


Bila bayi pascaresusitasi kondisinya memburuk, segera rujuk ke fasilitas rujukan.
Tanda-tanda Bayi yang memerlukan rujukan sesudah resusitasi :
o
o
o
o
o

Frekuensi pernapasan kurang dari 30 kali per menit atau lebih dari 60 kali per menit
Adanya retraksi (tarikan) interkostal
Bayi merintih (bising napas ekspirasi) atau megap- megap (bising napas inspirasi)
Tubuh bayi pucat atau kebiruan
Bayi lemas

Konseling
o Jelaskan pada ibu dan keluarga bahwa bayinya perlu dirujuk. Bayi dirujuk bersama
ibunya dan didampingi oleh bidan. Jawab setiap pertanyaan yang diajukan ibu atau
keluarganya.
o Minta keluarga untuk menyiapkan sarana transportasi secepatnya. Suami atau salah
seorang anggota keluarga juga diminta untuk menemani ibu dan bayi selama
perjalanan rujukan.
o Beritahukan (bila mungkin) ke tempat rujukan yang dituju tentang kondisi bayi dan
perkiraan waktu tiba. Beritahukan juga ibu baru melahirkan bayi yang sedang dirujuk.
o Bawa peralatan resusitasi dan perlengkapan lain yang diperlukan selama perjalan ke
tempat rujukan
Asuhan bayi baru lahir yang dirujuk
o Periksa keadaan bayi selama perjalanan (pernapasan, warna kulit, suhu tubuh) dan
catatan medik.
o Jaga bayi tetap hangat selama perjalanan, tutup kepala bayi dan bayi dalam posisi
Metode Kangguru dengan ibunya. Selimuti ibu bersama bayi dalam satu selimut.
o Lindungi bayi dari sinar matahari.
o Jelaskan kepada ibu bahwa sebaiknya memberi ASI segera kepada bayinya, kecuali
pada keadaan gangguan napas, dan kontraindikasi lainnya
Asuhan lanjutan
Merencanakan asuhan lanjutan sesudah bayi pulang dari tempat rujukkan akan sangat
membantu pelaksanaan asuhan yang diperlukan oleh ibu dan bayinya sehingga apabila

kemudian timbul masalah maka hal tersebut dapat dikenali sejak dini dan kesehatan bayi
tetap terjaga.
c. Resusitasi tidak berhasil
Bila bayi gagal bernapas setelah 20 menit tindakan resusitasi dilakukan maka hentikan upaya
tersebut. Biasanya bayi akan mengalami gangguan yang berat pada susunan syaraf pusat dan
kemudian meninggal. Ibu dan keluarga memerlukan dukungan moral yang adekuat Secara
hati-hati dan bijaksana, ajak ibu dan keluarga untuk memahami masalah dan musibah yang
terjadi serta berikan dukungan moral sesuai adat dan budaya setempat.4-6

Kesimpulan
Keterampilan resusitasi neonatal sangat penting untuk semua tenaga profesional
layanan medis yang terlibat dalam pengiriman bayi baru lahir. Transisi dari janin yang baru
lahir memerlukan intervensi oleh individu atau tim yang terampil dalam sekitar 10% dari
semua kelahiran. Asfiksia perinatal dan prematuritas sangat berat adalah 2 komplikasi
kehamilan yang paling sering memerlukan resusitasi kompleks oleh tenaga medis yang
terampil. Namun, hanya 60% bayi baru lahir sesak napas dapat diprediksi saat ante partum.
Bayi baru lahir lainnya tidak dapat diprediksi sampai saat kelahiran. Selain itu, sekitar 80%
dari rendah berat lahir bayi memerlukan resusitasi dan stabilisasi pada pengiriman.
Hampir setengah dari kematian bayi baru lahir sebah=gian besar melibatkan bayi yang sangat
prematur terjadi selama 24 jam pertama setelah lahir. Banyak dari kematian dini karena faktor
asfiksia atau depresi pernapasan sebagai penyebab utama. Untuk bayi yang hidup,
manajemen efektif asfiksia dalam beberapa menit pertama kehidupan dapat mempengaruhi
hasil jangka panjang.

Daftar Pustaka
1. Wahab S. Ilmu Kesehatan Anak. Edisi ke-15. Volume 2. Jakarta : EGC; 2008.h.201213.
2. Meadow S, Newell S. Pediatri. Jakarta : Erlangga; 2009.h.60-65.
3. Leveno, Kenneth J. Obstetri Wilians : Panduan Ringkas. Edisi ke-21. Jakarta : EGC;
2009.h.280-290.
4. Surjana A. Vade-Mecum Pediatri. Edisi ke-13. Jakarta : EGC; 2010.h.238-246.
5. Saifuddin A. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono; 2009.h.93-105.

6. Hull, David. Dasar-Dasar Pediatri. Edisi ke-3. Jakarta : EGC; 2008.h.67-89.