Anda di halaman 1dari 23

TAROMBO

Keturunan Silalahi Sabungan


Oleh:
MADELEINE DIANA
XI IPA 1
SMA NEGERI 1 PEMATANGSIANTAR

KEBERADAAN MARGA SILALAHI SEBAGAI ANAK


DALAM SILSILAH SILAHISABUNGAN
Bagan silsilah Silahisabungan yang disusun para penulis atau pendapat pribadi

dari turunan Silahisabungan mengenai keberadaan Silalahi sabungan marga


turunan (sundut) yang keberapa dia dari nenek moyangnya sebagai berikut :
1. W.N. Hutagalung dalam Pustaka Batak tahun 1926 menyusun bagan silsilah
Silahisabungan seperti dibawah ini :
Silahisabungan Ompu Sinabang anak Sinabang pergi ke Balige menjumpai Raja
Parmahan (sigiro) tinggal di Pagarbatu turunannya bermarga Silalahi, di Hinalang
turunannya Silalahi, tetapi dalam bagan turunan Raja Parmahan adalah
Doloksaribu, Sinurat, Nadapdap dan Naiborhu tidak jelas dari anaknya yang mana.
Sinabang maupun Sigiro sudah marga turunannya menjadi Silalahi, tidak logis
Silahisabungaan sebelum pergi ke Silalahi nabolak pernah tinggal di Tolping
Ambarita, akan tetapi tidak ada penjelasan lebih lanjut pernah kawin dan ada
anaknya disana. Selama tinggal di Tolping yang tidak berlanjut inilah yang luput
sehingga keberadaan Silalahi sebagai anak menjadi tidak tertulis dalam bagan
silsilah.

2. Drs. Nalom Siahaan dalam Adat Dalihan na Tolu membuat

bagan silsilah Silahisabungan tahun 1982 sebagai berikut :


Catatan tambahan :
Turunan Silahisabungan juga marga-marga Naiborhu,
Rumasingap, Sigiro, Sipayung, Sipangkar, Doloksaribu,
Sinurat Nadapdap dan Sembiring di Tanah Karo intinya masuk
Silahisabungan.
Untuk 7 (tujuh) anak Silahisabungan diakulade Silalahi tetapi
Si Raja Tambun tidak ikut.
Penjelasan tidak ada dan marga-marga yang masuk
Silahisabungan dalam catatan tambahan tidak jelas turunan
siapa.

3. RT. Tambunan SH, seperti

dalam Poda Sagu-sagu Marlangan


tahun 1990 menulis silsilah
Silahisabungan sebagai berikut :
Sponte I Pinggan Matio br. Padang
batanghari
Tons
Silsilah ini lebih lengkap karena
nama putrinya pun ikut ditulis,
jarang silsilah marga lain ditulis
dengan putrinya.
Dari nama-nama putra-putri
Silahisabungan ini tidak tertera
adanya Silalahi sebagai marga
maupun marga persatuan. Nama /
marga-marga inilah yang terekam
pada relief Tugu Silahisabungan di
Silalahi Nabolak

1. Laho Raja ( Sihaloho)


2. Nungkir Raja (Situngkir)
3. Sondiraja (Sirumasondi)
Deang Namora
Deang na mora: (boru)
Silahisabungan
4. Butar Raja (Sinabutar)
5. Dabariba Raja (Sidabariba)
6. Debang Raja (Sidebang)
7. Batu Raja (Pintubatu)
Sponte II Siboru Mailing
Narasaon
8. Tambun Raja (Tambun)

4. Panitia Pusat Tugu / Tarombo

Silahisabungan tahun 1968


Tarombo
A. Istri Omp. Silahisabungan
1. Pinggan Matio boru Padang
Batanghari
2. Meleng-eleng boru Mangarerak
B. Putra-putra Omp.
Silahisabungan

C. Putri Omp. Silahisabungan


boru Deang Namora

1. Sihaloho Raja
2. Situngkir Raja
B 3.. Putra-putra
Sondiraja
Omp.
4. Sidabutar Raja
Silahisabungan
5.
Sidabariba Raja
6. Sidebang Raja
7. Pintubatu Raja
8. Tambunan raja.

Anjuran :

1) Untuk menghindarkan salah paham dan untuk menjaga


kemurnian Sagu-sagu Marlangan maka dianjurkan kepada seluruh
marga Silahisabungan agar memakai istilah Silalahi dimuka
marganya masing-masing.
2) Untuk menghindarkan kekeliruan pengertian marga yang sama
antara turunan Sondi Raja / Raja Parmahan dan turunan Tambun
Raja maka dianjurkan memakai Silalahi atau Tambun dimuka
marganya masing-masing
Umpamanya :
a. Silalahi Doloksaribu
Silalahi Sinurat
Silalahi Nadapdap
b. Tambun Doloksaribu
Tambun Sinurat
Tambun Nadapdap.
Menurut Panitia tarombo ini karena Silalahi hanya istilah, digunakan
seluruh marga Silahisabungan sampai generasi keberapapun dan si
Tambun Raja tidak terkecuali.

5. Drs. Richard Sinaga, leluhur marga-marga Batak

dalam sejarah, silsilah dan legenda tahun 1997 membuat


bagan silsilah Silahisabungan sebagai berikut :
1. Loho Raja Sinabarno Haloho
Sihaloho Tinapuran .Depari
2. Tungkir Raja Sibagason
.Pandia
Situngkir Sipakpalan Sipayung
Sipangkar
3. Sondiraja Rumasondi
4. Butarraja Sinabutar
5. Sidabariba Raja Sidabariba
6. Debang Raja
7. Baturaja Pintubatu
8. Tambun Raja Tambunan

Raja

C. Marga Silalahi ada beberapa pendapat :

1) Marga Silalahi adalah marga untuk semua keturunan


Silahisabungan di luar keturunan Tambun Raja
2) Marga Silalahi adalah marga untuk keturunan Silalahi Raja
anak Silahisabungan yang lahir dari si Pinta Haomason
3) Marga Silalahi adalah marga yang digunakan keturunan
Laho Raja yang bermukim di Toba.

D. Marga Silalahi dan Marga Tampubolon :

Si Giro (Raja Parmahan) anak Pintubatu diangkat


anak kedua Tuan Sihubil antara Sapalatua
(Tampubolon) dan sigiro (Raja Parmahan) terjalin
hubungan persaudaraan melebihi persaudaraan
hubungan darah yaitu sisada lulu anak sisada lulu
boru. Ikrar ini mencakup antara marga
Tampubolon dengan Saudara Sigiro yang
menggunakan marga silalahi.
Pada tahun 1932 pada waktu peresmian Tugu
Tuan Sihubil, marga Silalahi yang membawa sulangsulang kepada hahadoli Tampubolon.

E. Marga Tampubolon.
Menurut sejarah Batak tulisan Batara Sakti, Doloksaribu,
Sinurat, Naiborhu, dan Nadapdap adalah marga yang tumbuh
dari Tambun
Demikian juga tulisan KK Immanuel Tambunan dalam
sejarah Silahisabungan dengan Omp. Baruara.
WM. Hutagalung dalam Pustaka Batak mencantumkan
Doloksaribu, Sinurat, Nadapdap tanpa ikut Naiborhu tumbuh
dari Sigiro (Raja Parmahan) menurut tokoh Sondiraja di
Jakarta, Doloksaribu, Sinurat, Nadapdap dan Naiborhu adalah
keturunan Sondiraja.

Isi buku ini sudah mengungkap semua permasalahan dalam silsilah Silahisabungan
hanya kemauan turunannya yang ditambah menyamakan titik pandang yang sama
mengenai :
1) Silalahi jelas adalah marga anak Silahisabungan dan tidak ada marga persatuan
hanya mencakup satu ibu harus bersumber dari Bapak yaitu Silahisabungan
2) Laho Raja turunannya hanya 2 (dua) yaitu Sinaborno dan Sinapuran, turunan
yang mana pindah ke Toba dan berobah menjadi Silalahi ! Apakah marga bisa
dirobah-robah ?
3) Pada pesta Tugu Tuan Sihubil tahun 1932 marga Silalahi yang datang memberi
Sulang-sulang kepada hahadoli Tampubolon, kenapa bukan Sigiro atau
Pintubatu ?
Sepanjang diketahui marga Silalahi dari Pagarbatu / Hinalang Balige tidak pernah
mengaku marganya selain Silalahi berarti mereka bukan turunan Sigiro
(Pintubatu), apa keengganan kita memakai marga asli sesuai warisan leluhur.
4) Doloksaribu, Sinurat, Naiborhu dan Nadapdap tidak mungkin dari Sondiraja
karena adat ikrar tidak boleh kawin mengawini sampai turunannya antara Silalahi
dengan Tambupolon, sedang Tampubolon sudah banyak yang kawin mengawini
dengan Doloksaribu, Sinurat, Naiborhu dan Nadapdap, dapat dipastikan
keturunan marga itu tumbuh dari turunan Si Raja Tambun sesuai tulisan Batara
Sakti KK Immanuel Tambunan.

LEGENDA: PERJALANAN
SILAHISABUNGAN
1. Perjalanan ke Tolping dan perkawinannya
W.M. Hutagalung dalam Pustaka Batak menulis, Na lao do
Silahisabungan tu luat Silalahi alai jolo maringanan do ibana di Tolping
Ambarita.Penelitian ini sesuai dengan pesan leluhur, karena untuk
keberangkatan 3 (tiga) orang abang beradik Sipaettua, Silahisabungan dan
Siraja Oloan mencari pemukiman baru sebagai tempat tinggal, Sipaettua
tinggal di Laguboti, Silahisabungan dan Siraja Oloan harus ke Samosir.
Setelah di Lontung SiRaja Oloan dan Silahisabungan berpisah dimana
Silahisabungan harus kearah Utara dan tinggal di Tolping sedangkan Siraja
Oloan harus ke Pangururan.
Huta Tolping dan pulau Tolping dikukuhkan Silahisabungan sebagai
tempatnya yang pertama dan selama tinggal di Tolping kawin dengan Pinta
Haomasan anak Raja Nabolon (Sorbadijulu) dari Pangururan sebagai
upahnya membantu Sorbadijulu mengusir musuhnya marga Lontung.

Perkawinan ini melahirkan seorang anak yang diberi nama


Silalahi, dan sesudah kelahiran anak ini Pinta Haomasan tidak
pernah mengandung lagi.
Silalahi setelah dewasa dikawinkan dengan boru Simbolon dan
dari perkawinan ini lahir 3 (tiga) orang anak yang diberi nama :
1. Tolping Raja
2. Borsuk Raja
3. Raja Bunga-bunga
Raja Bunga-bunga inilah yang diculik Tuan Sihubil yang gagal
membujuk Silahisabungan untuk rujuk dalam doa bersama
karena musim kemarau panjang di Balige.
Setelah diangkat anak kedua dari Tuan Sihubil karena diculik
dari parmahanan namanya diganti menjadi Raja Parmahan
akan tetapi marganya tetap Silalahi

Untuk memperkokoh kekerabatan kedua anaknya kemudian


dibuat ikrar sisada lulu anak sisada lulu boru antara
Tampubolon dengan Silalahi dan sesudah dikawinkan diberi
pauseang di Hinalang Balige dan kampungnya dinamai
Silalahi Hinalang. Ikrar terjadi antara dua marga dan tidak
mungkin perjanjian terjadi antara Raja Parmahan Sigiro dan
hasilnya menjadi Silalahi. Sigiro adalah marga cabang dari
Pintubatu dan ikrar terjadi antara marga Tampubolon dengan
marga Silalahi, dan bila benar Raja Parmahan adalah Sigiro.
Ikrar pun harus dengan Sigiro itulah logikanya.
Tolping raja, Bursak Raja maupun Raja Bunga-bunga tidak
menjadi marga hanya nama, jadi marganya tetap Silalahi.

2. Perjanalan ke Silalahi Nabolak dan Perkawinannya.


Silahisabungan adalah seorang tokoh yang sakti, sanggup mengusir
bala atau penyakit, pintar dan sabungan di hata.
Didorong oleh kesaksiannya Silahisabungan selalu ingin pergi
ketempat lain manandangkon kedatuon (menguji kepintaran /
ketangkasan). Dari Parbaba yang sekarang dilihatnya diseberang
danau ada tanah datar dan perbukitan yang indah lalu timbul
niatnya untuk pergi kesana.
Sebelum kepergiannya sudah dipersiapkan membawa sedikit tanah
dan air dalam kendi kecil.
Sesampai di daerah itu, dipinggiran danau didirikan panca-panca
sebagai tempat tinggal sekaligus tempat menangkap ikan.
Suatu ketika Raja Pakpak datang dan heran didaerah hutan
dipinggir danau yang sepi itu ada orang, lalu didekatinya. Pada
awalnya Raja Pakpak ingin berdebat mengenai keberadaan
Silahisabungan di daerah kekuasaannya itu, akan tetapi setelah
memperhatikan ketangkasannya berbicara akhirnya mengalihkan
pembicaraan mengenai teman hidupnya dan menawarkan putriputrinya menjadi istrinya.

Silahisabungan menyambut tawaran itu


dan dipilihnyalah Pinggan Matio boru Padang
Batanghari menjadi isterinya.
Perkawinan ini melahirkan 7 orang putra dan
seorang putri masing-masing diberi nama
Laho Raja, Tungkir Raja, Sondiraja, Baturaja,
Dabariba Raja, Debang Raja dan Baturaja,
sedang putrinya bernama Deang Namora
yang kemudian menjadi marganya kecuali
Tungkir Raja masih melahirkan marga cabang
yaitu Sipangkar dan Sipayung, dari Sondiraja
Romasondi dan Rumasingap, dari Pintubatu
adalah Sigiro.

Dj Jhon R Sidebang dalam Bonani Pinasa Agustus 1991 menulis bahwa


nama huta Silalahi diambil dari nama Silahisabungan yang menurunkan
marga Silalahi.
Nama anak laki-laki yang menjadi pewaris keturunan marga-marga
Silalahi adalah marga-marga tersebut diatas.
Menurut RT Tambunan SH dalam poda Sagu-sagu Marlangan, Silalahi
Nabolak itu bukan huta tetapi desa (wilayah) karena daerah lingkupnya
tidak hanya tanah perkampungan yang dikelilingi bambu akan tetapi
tanah diluarnya yang masih kosong, tanah hutan serta gunung kalau ada
didekatnya.
Warga desa diikat oleh hubungan darah dan merupakan turunan dari satu
leluhur dan pada umumnya mempunyai marga yang sama (artinya
beberapa marga)
Huta adalah deretan rumah yang dikelilingi pohon bambu yang lebat dan
digerbang kampung biasanya ada pohon ara / hariara. Adat dalihan
natolu ialah penghuni setiap huta adalah turunan dari satu leluhur pria
artinya satu.

Dari pengertian huta dan desa ini dapat dikatakan bahwa didesa
Silalahi Nabolak masih ada huta milik marga lain, misalnya huta
Sihaloho, huta Situngkir dan lain-lain sedangkan nama huta
Silalahi sudah pasti tidak ditemukan disana karena marga
Silalahi anak Silahisabungan terdapat di Silalahi nabolak.
Pada zamannya Silahisabungan belum menjadi marga akan tetapi
nama baru menjadi marga pada generasi turunan-turunannya,
dan bila sudah menjadi marga tidak berubah lagi, artinya marga
kakek, nenek, Bapak diri sendiri dan anak harus sama.

3. Perjalanan ke Sibisa dan perkawinannya.


Setelah beberapa lama di Silalahi Nabolak Silahisabungan pamit kepada
istrinya untuk pergi ketempat lain.
Kepergian kali ini adalah menuju Sibisa karena kerinduannya melihat
daerah yang pernah dilaluinya bersama adeknya Siraja Oloan sewaktu
meraka akan mencari tempat tinggal yang baru.
Raja Mangarerak setelah mendengar Silahisabungan sedang berada
didaerah itu berusaha menghubunginya karena sudah lama diketahui
kepiawaiannya dalam mengobati berbagai penyakit, karena seorang
putrinya menderita penyakit yang parah yang walaupun sudah dibawa
berobat kemana-mana tidak sembuh-sembuh.
Mengenai upah apa saja booleh diminta asalkan putrinya dapat sembuh,
dan ternyata Silahisabungan berhasil menyembuhkannya.
Silahisabungan menagih janji Raja Mangarerak mengenai upahnya
yakni suatu kisah yang sulit dibayangkan sebelumnya karena
Silahisabungan meminta putrinya yang diobati itu dikukuhkan menjadi
istrinya.

Raja Mangarerak menjadi bingung karena sudah dijanjikan namun


ditawarkan untuk memilih putrinya yang lain karena boru Melengeleng ini sudah bertunangan dengan pemuda lain.
Silahisabungan bersikukuh dengan pendiriannya dengan berkata :
Marpudung do palia, mar jaya ia pinamalo ho ditunangan mulak tu
nampunasa.
Pernyataan Silahisabungan ini membuat Raja Mangarerak mau
tidak mau harus menyetujui, kemudian disyahkanlah perkawinan
putrinya itu dengan Silahisabungan.
Tidak berapa lama setela pengesahan perkawinan itu, tanda-tanda
kehamilan boru meleng-eleng mulai kelihatan dan Silahisabungan
walaupun gembira menerimanya namun tumbuh kekhwatiran kalau
tunangan baru pulang sedang anak dalam kandungan belum lahir.
Saya bapaknya, orang lain yang memelihara dan membesarkannya
bagaimana nantinya nasib anak itu, demikian terngiang dalam
pikiran Silahisabungan.

Apa yang diramalkan benar terjadi satu minggu setelah kelahiran


sianak itu. Berita kepulangan tunangannya sudah menyebar dari
mulut ke mulut untuk membuat perhitungan dengan Raja
Mangarerak atas persetujuannya meresmikan tungangannya
kawin dengan pria lain.
Mendengar beritu itu Silahisabungan berkata kepada boru
meleng-eleng bahwa sesuai janji saya kepada Bapak Raja
Mangarerak, saya dan bayi ini harus pergi, untuk itu siapkan
keberangkatan.
Meleng-eleng menangis, saya tidak rela melepas anak ini,
menetekpun belum bisa dan lagipula air susu siapakah yang
mungkin ada untuk menghidupinya sambil bersinandung.
(bernyanyi)
Ale Ompung mulajadi nabolon, panongosmi di au leang-leang
mandi. Pangalu-aluhon tua ahu ale Ompung molo ingkon mate
anakkon ala so minum.
Sebagai yang baru lahir itu dimasukkan kedalam gajut, susu
kerbau sebagai bekal dijalan dan diberi tanda sebuah TAGAN
tempat sirih, tanda mana kalau kelak anak ini bisa pulang dan
saya masih hidup, lalu dilepaslah keberangkatan itu dengan
deraian air mata.