Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Analisis regresi adalah suatu analisis statistik yang menyatakan hubungan
antara dua variable atau lebih. Tujuan dari analisis regresi yaitu melihat
adanya ketergantungan suatu variabel dependen pada satu atau lebih variabel
lain yang dinamakan variabel independen (supranto, 2000). Penggunaan
regresi sangat dibutuhkan dalam kehidupan kita karena dapat memecahkan
sebagian permasalahan yang muncul dari berbagai aspek kehidupan. Regresi
juga sangat berguna dalam aspek kesehatan. Misalnya kasus demam berdarah
dengue yang ingin diteliti dalam kasus ini ialah faktor-faktor yang
mempengaruhi tingginya demam berdarah di Kota Makassar.
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah salah satu penyakit
menular yang disebabkan oleh virus dengue ditularkan dari seorang kepada
orang lain melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. DBD telah muncul sebagai
masalah kesehatan masyarakat internasional pada abad 21, menurut WHO
(2000) antara tahun 1975-1995 terdeteksi di 102 negara dari lima wilayah
WHO, yaitu 20 negara di Afrika, 42 negara di Amerika, 7 negara di Asia
Tenggara, 4 negara di Timur Tengah dan 29 negara di Pasifik Barat (Depkes
RI, 2003).

Di Indonesia nyamuk penular (vektor ) penyakit DBD yang

penting adalah Aedes aegypti, Aedes albopictus, dan Aedes scutellaris, tetapi

sampai saat ini yang menjadi vektor utama dari penyakit DBD adalah Aedes
aegypti. Penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya
dengan kasus 58 orang anak, 24 diantaranya meninggal dengan Case Fatality
Rate (CFR) = 41,3%. Sejak itu penyakit DBD menunjukkan kecenderungan
peningkatan jumlah kasus dan luas daerah terjangkit. Seluruh wilayah
Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit DBD , kecuali daerah
yang memiliki ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut.
Penyakit DBD dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, mobilitas penduduk,
kepadatan penduduk, adanya kontainer buatan ataupun alami di tempat
pembuangan akhir sampah (TPA) ataupun di tempat sampah lainnya,
penyuluhan dan perilaku masyarakat, antara lain : pengetahuan, sikap,
kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), fogging, abatisasi, dan
pelaksanaan 3M (menguras, menutup, dan mengubur).
Kejadian DBD di Kota Makassar mulai dari tahun 2002-2012 cenderung
naik turun. Angka tertinggi kejadian DBD terjadi pada tahun 2002 dengan
jumlah kasus 1445 penderita. Kasus tertinggi di Kecamatan Rappocini
kemudian disusul Kecamatan Panakukang. Pada tahun 2003 jumlah kasus
1154, tahun 2004 menurun drastis menjadi 637 kasus tapi melonjak naik pada
tahun 2005 yaitu 892 kasus (meninggal 32 orang) jumlah kematian tertinggi
jika dilihat dari tahun 2002-2012. Angka kematian dapat ditekan menjadi 6
orang dari 852 penderita pada tahun 2006. Tahun 2007 jumlah kasus DBD di
Kota Makassar yaitu sebanyak 457 kasus, tahun 2008 sebanyak 265 kasus,

tahun 2009 sebanyak 256 kasus, tahun 2010 sebanyak 185 kasus, tahun 2011
sebanyak 85 kasus, dan pada tahun 2012 sebanyak 86 kasus dengan jumlah
kematian sebanyak 2 kasus (Dinkes Kota Makassar, 2012)
Pada analisis data tahan hidup (analisis survival) dinyatakan dengan
model regresi weibull. Menurut lawless (1982), cara yang dilakukan dalam
pengambilan sampel analisis data tahan hidup ada dua yaitu distribusi
tersensor dan distribusi tak tersensor (data lengkap). Distribusi tersensor
adalah data yang diambil jika semua individu atau unit yang diteliti dihentikan
setelah waktu yang ditentukan, sedangkan distribusi tak tersensor (data
lengkap) adalah data yang diambil jika semua individu atau unit yang diteliti
tersebut mati atau gagal. Dalam analisis data tahan hidup digunakan regresi
weibull.
Data tahan hidup suatu individu atau unit bias juga diterapkan pada
berbagai bidang seperti teknik, industri, biologi dan dalam bidang kedokteran.
Kita dapat melihat penggunaan metode statistik pada ketahanan hidup
mempunyai manfaat yang sangat besar. Pembentukan model regresi tahan
hidup, bias dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor tertentu terhadap tahan
hidup atau waktu hidup suatu benda (Lawless, 1998)
Pada penelititan ini nantinya juga akan dicari faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi tingginya demam berdarah dengue. Menurut Iriawan dan
Astuti (2006), peran analisis regresi tahan hidup bertujuan untuk memprediksi

seberapa jauh pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen


(tahan hidup).
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang dan batasan masalah yang sudah dikemukakan pada
sebelumnya, kita dapat merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana bentuk dari model regresi Weibull untuk analisis survival?
2. Bagaimana mengaplikasikan regresi Weibull pada bidang medis untuk
mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingginya demam
berdarah di Kota Makassar dengan bantuan software?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan bertujuan:
1. Mengetahui model regresi Weibull untuk analisis survival
2. Mengaplikasikan regresi Weibull pada bidang medis untuk mengetahui
faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingginya demam berdarah
dengue di Kota Makassar dengan menggunakan .software
D. Manfaat penelitian
Manfaat dari penelitian ini ialah memberikan pengetahuan serta gambaran
tentang distribusi tahan hidup, mengetahui gejala awal bila terjadi demam
berdarah dengue, sehingga kita dapat menangani dengan memberikan
pengobatan yang sesuai kepada pasien demam berdarah dengue, dan
mengetahui faktor apa saja yang paling mempengaruhi tingginya demam
berdarah dengue.