Anda di halaman 1dari 18

Anemia adalah berkurangnya hingga di bawah nilai normal jumlah SDM,kuantitas hemoglobin,

dan volume packed red blood cells (hematokrit) perl 100 ml darah. Dengan demikian, anemia
bukan suatu diagnosis melainkan suatu cerminan perubahan patofisiologik yang mendasar yang
diuraikan melalui anamnesis yang seksama, pemeriksaan fisik dan konfirmasi laboratorium.
KRITERIA ANEMIA
Parameter yang paling umum dipakai untuk menunjukkan penurunan massa eritrosit
adalah kadar hemoglobin, disusul oleh hematokrit dan hitung eritrosit.Pada umumnya ketiga
parameter tersebut saling bersesuaian. Yang menjadi masalah adalah berapakah kadar
hemoglobin yang dianggap abnormal. Harga normal hemoglobin sangat bervariasi secara
fisiologik tergantung pada umur, jenis kelamin, adanya kehamilan dan ketinggian tempat tinggal.
Di Negara Barat kadar hemoglobin paling rendah untuk laki-laki adalah 14 g/dl dan 12 gr/dl
pada perempuan dewasa pada permukaan laut. Peneliti lain memberi angka berbeda yaitu 12
gr/dl (hematokrit 38%) untuk perempuan dewasa, 11g/dl (hematokrit 36%) untuk perempuan
hamil, dan 13 g/dl untuk laki dewasa. WHO menetapkan cut off point anemia untuk keperluarn
penelitian lapangan yaitu
Kelompok
Laki-laki Dewasa
Wanita Dewasa tidak hamil
Wanita Hamil

Kriteria Anemia (Hb)


< 13 g/dl
< 12 g/dl
< 11 g/dl

Klasifikasi
Anemia dapat diklasifikasikan menjadi empat bagian:1,3,4

Anemia defisiensi, anemia yang terjadi akibat kekurangan faktor-faktor


pematangan eritrosit, seperti defisiensi besi, asam folat, vitamin B12, protein,
piridoksin dan sebagainya.

Anemia aplastik, yaitu anemia yang terjadi akibat terhentinya proses pembuatan
sel darah oleh sumsum tulang.

Anemia hemoragik, anemia yang terjadi akibat proses perdarahan masif atau
perdarahan yang menahun.

Anemia hemolitik, anemia yang terjadi akibat penghancuran sel darah merah yang berlebihan.
Bisa bersifat intrasel seperti pada penyakit talasemia, sickle cell anemia/ hemoglobinopatia,

sferosis kongenital, defisiensi G6PD atau bersifat ektrasel seperti intoksikasi, malaria,
inkompabilitas golongan darah, reaksi hemolitik pada transfusi darah.

Menurut morfologi eritrosit:


1.

Anemia mikrositik hipokromik (MCV < 80 fl ; MCH < 27 pg)


Anemia defisiensi besi
Thalassemia
Anemia akibat penyakit kronis
Anemia sideroblastik

2.

Anemia Normokromik Normositik (MCV 80-95 fl; MCH 27-34 pg)


Anemia pascaperdarahan akut
Anemia aplastik-hipoplastik
Anemia hemolitik- terutama didapat
Anemia akibat penyakit kronik
Anemia mieloptisik
Anemia pada gagal ginjal kronik
Anemia pada mielofibrosis
Anemia pada sindrom mielodisplastik
Anemia pada leukemia akut

3. Anemia Makrositik
Anemia defisiensi asam folat
Anemia defisiensi vitamin B12
4.

Nonmegaloblastik
Anemia pada penyakit hati kronik
Anemia pada hipotiroid
Anemia pada sindrom mielodisplastik

ANEMIA MAKROSITIK NORMOKROM


Anemia makrositik merupakan kondisi dimana ditemukan pada morfologi apusan darah
tepi berupa sel-sel darah merah yang besar (makrositik) dan warna yang normal/ tidak
mengalami kepucatan (hipkrom). Yang termasuk dari anemia jenis ini ialah anemia

megaloblastik yang disebabkan oleh ganngguan sintesis DNA akibat defisiensi vitamin B12 dan
asam folat.
ANEMIA MEGALOBLASTIK
Anemia megaloblastik adalah anemia yang khas ditandai oleh adanya sel megaloblast dalam sum
sum tulang. Sel megaloblast adalah sel precursor eritrosit dengan entuk sel yang besar disertai
adanya kesenjangan pematangan sitoplasma dan inti , dimana sitoplasma maturasinya normal
tetapi inti besar dengan susunan kromosom yang longgar. Anemia megaloblastik disebabkan oleh
gangguan pembentukan DNA pada inti eritroblast , terutama akibat defisiensi vitamin B12 dan
asam folat.
PATOGENESIS
Anemia megaloblastik disebabkan oleh terjadinya defisiensi vitamin B12 dan asam folat , dan
fungsi vitamin B12 dan asam folat :
a

Pembentukan DNA inti sel

Khusus untuk pembentukan selubung myelin

Akibat dari gangguan sintesa DNA pada inti eritroblast ini maka :
a

Maturasi inti lebih lambat sehingga kromatin lebih longgar

Sel menjadi lebih besar karena pembelahan sel lambat

Sel eritroblast dengan ukuran yang lebih besar serta susunan kromatin yang lebih longgar disebut
sel megaloblast. Sel megaloblst fungsinya tidak normal , dihancurkan waktu masih dalam sum
sum tulang (hemolisis intramedular) sehingga terjadi eritropoesis inefektif dan masa hidup
eritrosit jadi lebih pendek , yang berujung pada anemia.

ETIOLOGI

Anemia megaloblastik disebabkan karena kekurangan vitamin B12 dan asam folat
1

Defisiensi asam folat


a

Asupan Kurang
-

Gangguan Nutrisi : Alkoholisme, bayi prematur, orang tua, hemodialisis,


anoreksia nervosa.

Malabsorbsi : Alkoholisme, celiac dan tropical sprue, gastrektomi parsial,


reseksi usus halus, Crohns disease, skleroderma, obat anti konvulsan
(fenitoin, fenobarbital, karbamazepin), sulfasalazine, kolestiramin, limfoma
intestinal, hipotiroidisme.

Peningkatan

kebutuhan

Kehamilan,

anemia

hemolitik,

keganasan,

hipertiroidisme, dermatitis eksfoliativa, eritropoesis yang tidak efektif (anemia


pernisisosa, anemia sideroblastik, leukemia, anemia hemolitik, mielofibrosis).
c

Gangguan metabolisme folat : penghambat dihidrofolat reduktase (metotreksat,


pirimetamin, triamteren, pentamidin, trimetoprin), akohol, defisiensi enzim.

Penurunan cadangan folat di hati : alkoholisme, sirosis non alkohol, hepatoma.

Obat-obat yang mengganggu metabolisme DNA : antagonis purin (6


merkaptopurin, azatioprin, dll), antagonis pirimidin (5 flourourasil, sitosin
arabinose, dll), prokarbazin, hidroksiurea, acyclovir, zidovudin.

Gangguan metabolik (jarang) : asiduria urotik herediter, sindrom Lesch-Nyhan.

Defisiensi vitamin B12 (kobalamin)


a

Asupan Kurang : vegetarian

Malabsorbsi
-

Dewasa : Anemia pernisiosa, gastrektomi total/prsial, gastritis atropikan,


tropikal sprue, blind loop syndrome (operasi striktur, divertikel, reseksi
ileum), Crohn's

disease, parasit (Diphyllobothrium latum), limfoma

intestinal, skleroderma, obat-obatan (asam para amino salisilat, kolkisin,


neomisin, etanol, KCl).
-

Anak-anak: Anemi pernisiosa, ganguan sekresi faktor intrinsik lambung,


Imerslund-Grasbeck syndrome.

Gangguan metabolisme seluler : defisiensi enzim, abnormalitas protein pembawa


kobalamin (defisiensi transkobalamin II), paparan NO yang berlangsung lama

GAMBARAN KLINIK
Gambaran umum anemia megaloblastik adalah:
1

Anemia timbul perlahan dan progresif

Kadang kadang disertai ikterus ringan

Glositis dengan lidah berwarna merah, seperti daging

Pada defisiensi vitamin B12 dijumpai gejala neuropati,sedangkan defisiensi besi tidak disertai
gejala neuro pati. Gejala neuropati berupa subacute combined degeneration
1

Neuritis perifer : mati rasa , rasa terbakar pada jari

Kerusakan columna posterior :gangguan posisi , vibrasi dan tes Romberg positif

Kerusakan columna lateralis : spasitisitas dengan deep reflex hiperaktif dan ganggua
serebrasi.

GAMBARAN LABORATORIUM
Pada pemeriksaan darah tepi akan dijumpai:
1

Hb menurun dari ringan samapi berat(3-4g/dl)

Dijumpai oval macrocyte dengan poikilositosis berat

MCV meningkat 110-125 fl, sedangkan retikulosit normal

Kadang disertai dengan trombositopenia

Pada pemeriksaan sum sum tulang dapat dijumpai:

Hiperplasia eritrosit dengan sel megaloblast

Giant metamyelocyte

Sel megakariosit yang besar

Cadangan besi sum-sum tulang meningkat

Kadar bilirubin indirek serum dn LDH meningkat

ANEMIA DEFISIENSI VITAMIN B12


Vitamin B12 atau Cyano-cobalamine merupakan salah satu vitamin B yang berguna
untuk membentuk sel darah merah, melindungi lapisan myelin yang membungkus urat saraf,

mempengaruhi pertumbuhan dan kesuburan,dibutuhkan untuk pembentukan DNA, sangat


penting bagi perempuan hamil dan menyusui, serta membantu pencernaan lemak, protein, dan
karbohidrat. Jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh yaitu 2,5 - 3,0 mikrogram perhari. Namun
demikian vitamin B12 harus tetap ada dalam tubuh kita. Kekurangan vitamin B12 dapat
mengakibatkan anemia.
Definisi
Anemia Karena Kekurangan Vitamin B12 (anemia pernisiosa) adalah anemia
megaloblastik yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B12. Selain zat besi, sumsum tulang
memerlukan vitamin B12 dan asam folat untuk menghasilkan sel darah merah. Jika kekurangan
salah satu darinya, bisa terjadi anemia megaloblastik. Pada anemia jenis ini, sumsum tulang
menghasilkan sel darah merah yang besar dan abnormal (megaloblas). Sel darah putih dan
trombosit juga biasanya abnormal. Anemia megaloblastik paling sering disebabkan oleh
kekurangan vitamin B12 dan asam folat dalam makanan atau ketidakmampuan untuk menyerap
vitamin tersebut. Kadang anemia ini disebabkan oleh obat-obat tertentu yang digunakan untuk
mengobati kanker (misalnya metotreksat, hidroksiurea, fluorourasil dan sitarabin).
Penyebab
Penyerapan yang tidak adekuat dari vitamin B12 (kobalamin) menyebabkan anemia
pernisiosa. Vitamin B12 banyak terdapat di dalam daging dan dalam keadaan normal telah
diserap di bagian akhir usus halus yang menuju ke usus besar (ilium). Supaya dapat diserap,
vitamin B12 harus bergabung dengan faktor intrinsik (suatu protein yang dibuat di lambung),
yang kemudian mengangkut vitamin ini keilium, menembus dindingnya dan masuk ke dalam
aliran darah. Tanpa faktor intrinsik, vitamin B12 akan tetap berada dalam usus dan dibuang
melalui tinja. Pada anemia pernisiosa, lambung tidak dapat membentuk faktor intrinsik, sehingga
vitamin B12 tidak dapat diserap dan terjadilah anemia, meskipun sejumlah besar vitamin
dikonsumsi dalam makanan sehari-hari. Tetapi karena hati menyimpan sejumla besar vitamin
B12, maka anemia biasanya tidak akan muncul sampai sekitar 2-4 tahun setelah tubuh berhenti
menyerap vitamin B12. Selain karena kekurangan faktor intrinsik, penyebab lainnya dari
kekurangan vitamin B12 adalah:
- pertumbuhan bakteri abnormal dalam usus halus yang menghalangi penyerapan vitamin B12

- penyakit tertentu (misalnya penyakit Crohn)


- pengangkatan lambung atau sebagian dari usus halus dimana vitamin B12 diserap
- vegetarian.
Patofisiologi
Absorbsi kobalamin di ileum memerlukan faktor intrinsik (FI) yaitu glikoprotein yang
disekresi lambung. Faktor intrinsik akan mengikat 2 melekul kobalamin. Proses Absorbsi
kobalamin adalah sebagai berikut :
-

Pada ileum, kobalamin berikatan dengan FI, membetuk IF-Cbl complex

Kemudian IF-Cbl complex berikatan dengan cubilin, reseptor lokal pada membarana
apikal sel epitel ileum, kemudian berikatan dengan megalin.

Kobalamin masuk ke dalam sel ileum secara endositosis diikuti degradasi IF

Kobalamin berikatan dengan transkobalamin (TC II) membentuk, TC II-Cbl complex,


untuk disekresikan ke vena porta

Kemudian TC II-Cbl complex diuptake oleh sel, pada sel hepatosit dan sel epitel pada
tubulus proksimal ginjal, berikatan dengan TC II receptor dan kobalamin dilepaskan ke
dalam sel

Dalam sel ini, kobalamin dirubah menjadi bentuk koenzim, koenzim inilah yang
berperan dalm sintesin DNA, methyl-Cbl dan 5'-deoxyadenosyl-Cbl berperan dalam
mengkonversi homosistein ke metionin, dan metilmalonil CoA ke suksinil CoA.

Gambar : Proses absorbsi dan transpor kobalamin


Pada orang dewasa, faktor intrinsik dapat berkurang karena adanya atropi lambung
(gastritis atropikan), gangguan imunologis (antibodi terhadap faktor intrinsik lambung) yang
mengakibatkan defisiensi kobalamin. Defisiensi kobalamin menyebabkan defisiensi metionin
intraseluler, kemudian menghambat pembentukan folat tereduksi dalam sel. Folat intrasel yang
berkurang akan menurunkan prekursor tidimilat yang selanjutnya akan menggangu sintesis
DNA. Model ini disebut methylfolate trap hypothesis karena defisiensi kobalamin
mengakibatkan penumpukan 5-metil tetrahidrofolat.
Defisiensi kobalamin yang berlangsung lama mengganggu perubahan propionat menjadi
suksinil CoA yang mengakibatkan gangguan sintesis myelin pada susunan saraf pusat. Proses
demyelinisasi ini menyebabkan kelainan medula spinalis dan gangguan neurologis. Sebelum
diabsorbsi asam folat (pteroylglutamic acid) harus diubah menjadi monoglutamat. Bentuk folat
tereduksi (tetrahidrofolat, FH4) merupakan koenzim aktif. Defisiensi folat mengakibatkan
penurunan FH4 intrasel yang akan mengganggu sintesis tidimilat yang selanjutnya akan
menggangu sintesis DNA.

Disamping defisiensi kobalamin dan asam folat, obat-obatan juga dapat mengganggu
sintesis DNA. Metotreksat menghambat kerja eznim dihirofolat reduktase, yang mereduksi
dihidrofilat menjadi tetrahidrofolat, sedangkan 5-flourourasil menhambat kerja timidilat sintetase
yang berperan dalam sintesis pirimidin.

Gambar : Sintesis Pirimidin


Dua vitamin ini berperan sebagai koenzim, kekurangan kobalamin maupun asam folat
dapat menyebabkan kegagalan pematangan dan pembelahan inti3. Selanjutnya sel-sel
eritroblastik pada sumsum tulang gagal berproliferasi dengan cepat, sehingga menghasilkan sel
darah merah yang lebih besar dari normal. Sel eritrosit ini mempunyai membran yang tipis dan
seringkali berbentuk tidak teratur, besar, dan oval, berbeda dengan bentuk bikonkav yang biasa.
Penyebab terbentuknya sel abnormal ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
ketidakmampuan sel-sel untuk mensintesis DNA dalam jumlah yang memadai akan
memperlambat reproduksi sel-sel, tetapi tidak mengahalangi kelebihan pembentukan RNA oleh
DNA dalam sel-sel yang berhasil diproduksi. Akibatnya, jumlah RNA dalam setiap sel akan
melebihi normal, menyebabkan produksi hemoglobin sitoplasmik dan bahan-bahan lainnya
berlebihan, yang membuat sel mejadi besar4.

Gejala
Selain mengurangai pembentukan sel darah merah, kekurangan vitamin B12 juga
mempengaruhi sistem saraf dan menyebabkan:
- kesemutan di tangan dan kaki
- hilangnya rasa di tungkai, kaki dan tangan
- pergerakan yang kaku.
Gejala lainnya adalah:
- lemah
- lesu
- tidak nafsu makan
- susah buang air besar
- buta warna tertentu, termasuk warna kuning dan biru
- luka terbuka di lidah atau lidah seperti terbakar
- penurunan berat badan
- warna kulit menjadi lebih gelap
- linglung
- depresi
- penurunan fungsi intelektual.
Diagnosa
Biasanya, kekurangan vitamin B12 terdiagnosis pada pemeriksaan darah rutin untuk
anemia. Pada contoh darah yang diperiksa dibawah mikroskop, tampak megaloblas (sel darah
merah berukuran besar). Juga dapat dilihat perubahan sel darah putih dan trombosit, terutama
jika penderita telah menderita anemia dalam jangka waktu yang lama. Jika diduga terjadi
kekurangan, maka dilakukan pengukuran kadar vitamin B12 dalam darah. Jika sudah pasti terjadi
kekurangan vitamin B12, bisa dilakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebabnya.
Biasanya pemeriksaan dipusatkan kepada faktor intrinsik:
1

Contoh darah diambil untuk memeriksa adanya antibodi terhadap faktor intrinsik.
Biasanya antibodi ini ditemukan pada 60-90% penderita anemia pernisiosa.

Pemeriksaan yang lebih spesifik, yaitu analisa lambung. Dimasukkan sebuah selang kecil
(selangnasogastrik) melalui hidung, melewati tenggorokan dan masuk ke dalam
lambung. Lalu disuntikkanpentagastrin (hormon yang merangasang pelepasan faktor
intrinsik) ke dalam sebuah vena. Selanjutnya diambil contoh cairan lambung dan
diperiksa untuk menemukan adanya faktor intrinsik.
Jika penyebabnya masih belum pasti, bisa dilakukan tes Schilling. Diberikan sejumlah

kecil vitamin B12 radioaktif per-oral (ditelan) dan diukur penyerapannya. Kemudian diberikan
faktor intrinsik dan vitamin B12, lalu penyerapannya diukur kembali. Jika vitamin B12 diserap
dengan faktor intrinsik, tetapi tidak diserap tanpa faktor intrinsik, maka diagnosisnya
pasti anemia pernisiosa.
Diagnosis Banding
-

Leukemia akut

Anemia hemolitik (pada krisi hemolitik)

Eritroleukemia

Penyakit hati yang berat

Hipotiroidisme

Nefritis kronis

Pengobatan
Pengobatan kekurangan vitamin B 12 atau anemia pernisiosa adalah pemberian vitamin
B12. Sebagian besar penderita tidak dapat menyerap vitamin B12 per-oral (ditelan), karena itu
diberikan melalui suntikan. Pada awalnya suntikan diberikan setiap hari atau setiap minggu,
selama beberapa minggu sampai kadar vitamin B12 dalam darah kembali normal. Selanjutnya
suntikan diberikan 1 kali/bulan. Penderita harus mengkonsumsi tambahan vitamin B12
sepanjang hidupnya.
Pencegahan
Jika penyebabnya adalah asupan yang kurang, maka anemia ini bisa dicegah melalui pol
makanan yang seimbang.

ANEMIA DEFISIENSI ASAM FOLAT


Asam folat atau folat sangat dibutuhkan manusia. Kekurangan zat ini mengakibatkan bayi lahir
cacat. Folat dapat mencegah penyakit kardiovaskular, Alzheimer, dan kanker. Sayuran berwarna
hijau tua, buah-buahan, biji-bijian, susu, daging, dan sereal merupakan sumber alami folat.
Istilah asam folat atau folat merupakan salah satu komponen dari vitamin B kompleks. Asam
folat, sebagai bentuk yang paling stabil, sangat jarang terdapat dalam pangan atau dalam tubuh
manusia.
Asam folat umumnya digunakan sebagai komponen dalam suplemen vitamin atau fortifikan pada
pangan. Dalam praktiknya, istilah folat mengacu pada bentuk folat yang terdapat secara alami
dalam bahan pangan, sedangkan asam folat adalah istilah yang mengacu pada unsur kimia yang
terdapat dalam suplemen atau sebagai fortifikan.
Secara alamiah, folat terdapat dalam berbagai struktur kimia. Folat yang ditemukan pada pangan
dapat langsung dimetabolisme di dalam tubuh manusia. Berdasarkan berbagai penelitian, asam
folat atau folat telah diketahui memiliki berbagai efek yang sangat menguntungkan bagi
kesehatan manusia.
Sumber folat alami terutama adalah sayuran berdaun hijau tua (bayam, asparagus), buah-buahan,
baik segar maupun sarinya, polong-polongan, biji-bijian, susu, daging, serta sereal yang
difortifikasi

(produk

gandum

dan

sereal

sarapan)

(Lombardi,

2003).

Fungsi Asam Folat


Satu-satunya fungsi dari koenzim folat dalam tubuh adalah sebagai perantara dalam transfer unitunit berkarbon tunggal. Koenzim folat berperan sebagai akseptor dan donor dari unit berkarbon

tunggal dalam berbagai reaksi yang sangat penting dalam metabolisme asam nukleat dan asam
amino.
Dalam metabolisme asam nukleat, koenzim folat memiliki peran yang sangat vital melalui dua
jalur. Jalur pertama adalah dalam sintesis DNA dari prekursornya, yang sangat bergantung pada
peran folat. Jalur yang kedua adalah peran koenzim folat dalam sintesis metionin.
Metionin adalah asam amino yang sangat dibutuhkan dalam pembentukan S-adenosilmetionin
(SAM). SAM adalah donor grup metil (unit berkarbon tunggal) yang digunakan dalam berbagai
reaksi metilasi biologis, termasuk metilasi sejumlah sisi DNA dan RNA (Marinus, 2003).
Metilasi DNA sangat penting dalam pencegahan kanker.
Koenzim folat juga dibutuhkan dalam metabolisme beberapa asam amino, seperti sintesis
metionin dari homosistein dan pembentukan vitamin B12. Defisiensi folat dapat menyebabkan
penurunan sintesis metionin dan peningkatan produksi homosistein. Kenaikan jumlah
homosistein di dalam tubuh dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan beberapa penyakit
kronis lain.
Metabolisme homosistein menjadi metionin yang melibatkan koenzim folat ternyata juga
memiliki jalur lain. Jadi, selain menghasilkan metionin, proses tersebut juga menghasilkan asam
amino sistein dengan bantuan dua molekul vitamin B6.
Berdasarkan siklus metabolisme yang terjadi, jumlah homosistein di dalam darah diregulasi oleh
tiga vitamin, yaitu asam folat, vitamin B6, dan vitamin B12 (Marinus, 2003).
Cegah Penyakit Kardiovaskular
Kenaikan homosistein dalam darah disebabkan oleh tidak terjadinya perubahan homosistein
menjadi metionin yang dimotori oleh folat. Lebih dari 80 penelitian menemukan bahwa kenaikan
homosistein darah dapat menyebabkan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Sebuah
penelitian menemukan bahwa penurunan homosistein darah sebesar 1 mikromol per liter telah

dapat

menurunkan

risiko

penyakit

kardiovaskular

sebesar

10

persen.

Mekanisme spesifik homosistein dalam menyebabkan penyakit kardiovaskular belum diketahui


secara pasti. Namun, beberapa peneliti telah menduga bahwa mekanismenya berhubungan
dengan penggumpalan darah, vasodilasi arteri, dan penebalan dinding arteri. Sayangnya, tetap
tidak ditemukan suatu bukti ilmiah bahwa menurunkan jumlah homosistein darah selalu akan
menurunkan

risiko

kardiovaskular

pada

tingkat

yang

sama.

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa suplementasi folat yang cukup, baik bagi pria
mupun wanita, dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 45 persen. Meskipun
demikian, mekanisme pencegahan dan penurunan risiko kardiovaskular oleh folat belum dapat
diketahui secara pasti. Kesimpulan sementara para ilmuwan adalah mekanismenya merupakan
suatu

interaksi

positif

antara

homosistein,

folat,

vitamin

B6,

dan

vitamin

B12.

Tingkatkan Kemampuan Otak Simpan Memori


Peran folat dalam metabolisme asam nukleat dan reaksi metilasi dapat menunjang kinerja dan
fungsi otak yang normal. Dalam beberapa penelitian, sejumlah dosis suplemen folat diberikan
kepada para lansia yang mulai mengalami penurunan daya ingat dan dementia. Hasilnya adalah
peningkatan

dalam

kemampuan

menyimpan

memori

jangka

pendek.

Folat diketahui dapat menghambat atropi sel-sel otak yang berjalan secara alami seiring dengan
bertambahnya usia. Penelitian dilakukan terhadap otak penderita alzheimer yang telah meninggal
dunia.
Belakangan juga diketahui bahwa Alzheimer memiliki hubungan erat dengan kandungan
homosistein darah dan vitamin B12. Kandungan vitamin B12 plasma yang rendah (kurang dari
150 piktomol/liter) atau kandungan folat plasma yang rendah (kurang dari 10 nmol/liter) dapat
melipatgandakan risiko Alzheimer dan dementia vaskuler. Kadar homosistein darah yang
melebihi 14 mikromol/liter juga diduga dapat meningkatkan risiko Alzheimer hingga dua kali.

Belum pernah dilaporkan adanya dampak negatif akibat konsumsi folat yang berlebihan. Dosis
maksimum diterapkan hanya pada asam folat sintetis. Meskipun demikian, perlu ditetapkan batas
maksimum konsumsi folat berdasarkan perannya. Folat yang berlebihan ternyata dapat
menyebabkan defisiensi vitamin B12 yang menyebabkan anemia megaloblastik.
Kecukupan Asupan
Berdasarkan Recommended Dietary Allowance (RDA), kecukupan asupan folat ditentukan
berdasarkan perannya dalam menghasilkan jumlah sel darah merah yang normal dan jumlah
homosistein darah yang stabil. Kecukupan juga ditentukan berdasarkan cadangan folat yang ada
di dalam hati. Kecukupan folat bagi wanita hamil juga ditentukan berdasarkan pertimbangan
tersebut.
Sejauh ini kecukupan folat bagi wanita hamil belum mempertimbangkan adanya gangguan lain
yang mungkin muncul selama kehamilan akibat defisiensi folat seperti Neural Tube Defect
(NTD). Folat sebagai pencegah penyakit tertentu dikategorikan sebagai folat yang harus
disuplementasi selama kondisi yang diperlukan.
Kecukupan folat dinyatakan dalam satuan yang lain. Satuannya adalah Dietary Folate Equivalent
(DFE). Penggunaan satuan ini dimotori oleh Food and Nutrition Board, Institute of Medicine,
Amerika Serikat.
Penggunaan satuan DFE dalam kecukupan folat merefleksikan suatu ketersediaan asam folat
sintetik yang lebih tinggi daripada asam folat alami yang terdapat dalam pangan. Hal tersebut
berhubungan dengan daya cerna dan daya serapnya.
Perhitungan dengan satuan DFE dilakukan dengan ketentuan: (a) 1 mikrogram (mcg) folat alami
dalam pangan = 1 mcg DFE, (b) 1 mcg folat dalam pangan fortifikasi = 1,7 mcg DFE, (3) 1 mcg
suplemen

folat

tanpa

konsumsi

pangan

mcg

DFE.

Contoh perhitungannya, bila satu takaran saji makanan mengandung 60 mcg folat, akan

menyumbangkan 60 mcg DFE. Sementara itu, konsumsi satu porsi pasta yang difortifikasi folat
sejumlah 60 mcg akan menyumbangkan 1,7 x 60 mcg = 102 mcg DFE karena ketersediaannya
lebih tinggi. Sementara itu, konsumsi suplemen folat berdosis 60 mcg tanpa didampingi oleh
konsumsi pangan lainnya akan menyumbangkan 2 x 60 mcg = 120 mcg DFE bagi tubuh.
Defisiensi Asam Folat
Defisiensi folat dapat disebabkan oleh beberapa kondisi. Penyebab utama adalah kurangnya
asupan folat melalui pangan, rendahnya penyerapan usus terhadap folat, serta gangguan
penyerapan akibat konsumsi alkohol. Kondisi lainnya yang perlu diwaspadai adalah masa
kehamilan.
Saat kehamilan terdapat laju pembelahan sel dan sintesis asam amino yang tinggi. Keadaan ini
dapat menyebabkan defisiensi asam folat apabila tidak ditunjang oleh asupan yang memadai.
Kondisi yang juga dapat memacu defisiensi adalah masa penyembuhan penyakit tertentu yang
mengharuskan konsumsi obat-obatan tertentu. Zat-zat dalam obat dapat mengikat folat yang
terdapat dalam pangan dan menyebabkan ketersediaan folat di dalam tubuh menjadi menurun,
sehingga terjadi defisiensi.
Gejala-gejala defisiensi pada tahap awal mungkin tidak dapat dideteksi secara visual, tetapi bisa
diketahui dengan pemeriksaan darah yang menunjukkan kenaikan kadar homosistein darah.
Gejala defisiensi folat sangat rentan pada individu yang sedang mengalami fase pembelahan sel
cepat, yaitu masa kehamilan atau masa pertumbuhan.
Apabila pada fase tersebut tidak terdapat cadangan folat yang cukup, pembelahan sel akan
menjadi abnormal. Risiko bahaya akan semakin tinggi apabila abnormalitas pembelahan sel
terjadi pada sel tulang dan sumsum tulang belakang.
Abnormalitas akan menyebabkan sel-sel darah merah yang dihasilkan menjadi lebih sedikit
jumlahnya, tetapi memiliki ukuran yang lebih besar daripada normal. Kondisi semacam ini

disebut sebagai anemia megaloblastik atau anemia makrotik, yaitu suatu kondisi yang sama
persis anemia yang terjadi akibat defisiensi vitamin B12.
Keadaan anemia dapat menyebabkan fungsi sel darah merah menurun. Suplai oksigen yang
harus diberikan pada sel-sel tubuh yang lain menjadi berkurang. Keadaan rendah oksigen dapat
menyebabkan gejala-gejala kelelahan, lemah dan lesu, napas pendek dan terengah-engah.
Etiologi
Defisiensi asam folat
a

Asupan Kurang
-

Gangguan Nutrisi : Alkoholisme, bayi prematur, orang tua, hemodialisis,


anoreksia nervosa.

Malabsorbsi : Alkoholisme, celiac dan tropical sprue, gastrektomi parsial,


reseksi usus halus, Crohns disease, skleroderma, obat anti konvulsan
(fenitoin, fenobarbital, karbamazepin), sulfasalazine, kolestiramin, limfoma
intestinal, hipotiroidisme.

Peningkatan

kebutuhan

Kehamilan,

anemia

hemolitik,

keganasan,

hipertiroidisme, dermatitis eksfoliativa, eritropoesis yang tidak efektif (anemia


pernisisosa, anemia sideroblastik, leukemia, anemia hemolitik, mielofibrosis).
c

Gangguan metabolisme folat : penghambat dihidrofolat reduktase (metotreksat,


pirimetamin, triamteren, pentamidin, trimetoprin), akohol, defisiensi enzim.

Penurunan cadangan folat di hati : alkoholisme, sirosis non alkohol, hepatoma.

Obat-obat yang mengganggu metabolisme DNA : antagonis purin (6


merkaptopurin, azatioprin, dll), antagonis pirimidin (5 flourourasil, sitosin
arabinose, dll), prokarbazin, hidroksiurea, acyclovir, zidovudin.

Gangguan metabolik (jarang) : asiduria urotik herediter, sindrom Lesch-Nyhan.

Tanda dan Gejala Klinik


Pada defisiensi asam folat, manifestasi utama :
1

Anemia megaloblastik

Glositis

Pada anemia megaloblastik, kadang ditemukan subikterus, petekie dan perdarahan retina,
hepatomegali, dan splenomegali.

Diagnosis
Guna menegakkan diagnosis anemia megalobalstik, perlu menelusuri pemeriksaan fisik,
laboratorium darah juga sumsusm tulang . Bisanya penderita datang berobat karena keluhan
neuropsikiatri, keluhan epigastrik, diare dan biukan oleh keluhan aneminya. penyakit biasanya
terjadi perlahan-lahan. Keluhan lain berupa rambut cepat memutih, lemah badan, penurunan
berat badan. Pada Anemia megaloblastik ditemukan :
-

Gejala : Anemia, ikterus ringan, glositis, stomatitis, purpura, neuropati.

SADT : eritrosit yang besar berbentuk lonjong, trombosit dan lekosit aga menurun,
hipersegmentasi netrofil, Giant stab-cell, retikulosit menurun.

Sumsum tulang hiperseluler dengan sel-sel eritroblast yang besar (megaloblast), Giant
steb-cell.

Pada anemia pernisiosa, schilling test positif.

Terapi
1

Suportif : - transfusi bila ada hipoksia


- suspensi trombosit bila trombositopenia mengancam jiwa

Defisiensi asam folat : Pemberian asam folat 1mg/hari selama 2-3 minggu, kemudian
dosis pemeliharaan 0,25-0,5 mg/hari

Terapi penyakit dasar

Menghentikan obat-obat penyebab anemia megaloblastik.