Anda di halaman 1dari 4

SOP PENGELOLAAN PENYAKIT

TIROTOKSIKOSIS
No Dokumen :
SOP/UKP/RJ/01
No. Revisi
: 00
SOP
Tanggal Terbit : 20/04/2016
Halaman
: 1/4

PUSKESMAS
PEKAUMAN

Tanda tangan kapus

Dr. Muhammad Fuadi
NIP. 19780611 200701
1 011

1. Pengertian

Pengelolaan Tirotoksikosis adalah manifestasi klinis akibat kelebihan
hormon tiroid yang beredar didalam sirkulasi. Sebagian besar kejadian
tiroroksikosis
akibat hipertiroidisme
sehingga
kelenjar tiroid
memperoleh perintah salah untuk menghasilkan hormon tiroid yang
banyak.. Sehingga perlu diperhatikan bahwa tirotoksikosis dapat
dengan atau tanpa hipertiroidisme, oleh sebab itu tiroktosikosis di bagi
dalam 2 kategori, yaitu:
a. Kelainan yang berhubungan dengan Hipertiroidisme.
b. Kelainan yang tidak berhubungan dengan Hipertiroidisme.

2. Tujuan

Dokter dapat melakukan pengelolaan Tirotoksikosis yang meliputi
a. Anamnesis
b. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang sederhana
c. Penegakan diagnosis
d. Rencana penatalaksanaan

3. Kebijakan

Keputusan Kepala Puskesmas Pekauman Nomor :
/ KAPUS/ IV/
2016
Tentang Kebijakan Pelayanan Klinis Puskesmas Pekauman

4. Referensi

Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Primer

5. Prosedur/langkahlangkah

Alat
a. EKG
b. Cairan rehidrasi (NaCl 0,9%)
c. Infus set
d. Antipiretik
e. PTU
SOP
1. Anamnesa ( Subyektif )
Keluhan
Pasien dengan tirotoksikosis memiliki gejala antara lain:
 Berdebar-Debar
 Tremor
 Iritabilitas
 Intoleran Terhadap Panas
 Keringat Berlebihan
 Penurunan Berat Badan
 Peningkatan Rasa Lapar (Nafsu Makan Bertambah)
 Diare

Pada pemeriksaan karena sistem saraf pusat terganggu dapat . Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana( Objektif ) Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik didapatkan:  eksoftalmus  takikardia sampai 130-200 x/menit  demam tinggi sampai 40°C  tremor halus  kulit hangat dan basah  rambut rontok  pembesaran kelenjar tiroid  bruit pada tiroid  dermopati local  akropaki  dapat ditemukan gagal jantung kongestif dan ikterus. dan bruit terdengar. Gangguan Reproduksi (Oligomenore/Amenore Dan Libido Turun)  Mudah Lelah  Pembesaran Kelenjar Tiroid  Umumnya Penderita Merasa Sukar Tidur  Rambut Rontok. Spesifik untuk penyakit Grave ditambah dengan:  Oftalmopati (spasme kelopak mata atas dengan retraksi dan gerakan kelopak mata yang lamban  eksoftalmus dengan proptosis  pembengkakan supraorbital dan infraorbital)  edema pretibial  kemosis  proptosis  diplopia  visus menurun  ulkus kornea  dermopati  akropaki  kelenjar membesar  halus. Faktor Risiko Memiliki penyakit Graves (autoimun hipertiroidisme) atau Struma multinodular toksik Faktor Pencetus  Infeksi  operasi  trauma  zat kontras beriodium  hipoglikemia  partus  stress emosi  penghentian obat antitiroid  ketoasidosis diabetikum  tromboemboli paru  penyakit serebrovaskular/stroke  palpasi tiroid terlalu kuat 2.

obat: kelebihan iodium (fenomena Jod Basedow). mengatasi gagal jantung: O2. diuretik. b. Penegakan Diagnosa ( assessment ) Diagnosis Klinis Untuk kasus hipertiroidisme yang biasa. Pasien harus segera dirujuk. struma multinudosa toksik. Diagnosis tirotoksikosis sering dapat ditegakkan secara klinis tanpa pemeriksaan laboratorium. Tirotoksikosis tanpa hipotiroidisme: tiroiditis sub akut. Pemberian obat simptomatis b. Pemeriksaan Penunjang 1. Diagnosis Banding 1. digitalis. Hipertiroidisme primer: penyakir Graves.mutasi reseptor TSH. Antagonis aktivitas hormon tiroid diberikan di layanan sekunder. 4.terjadi delirium. adenoma toksik. EKG:  sinus takikardia atau fibrilasi  atrial dengan respon ventrikuler cepat. Pemeriksaan penunjang lanjutan berupa laboratorium:  TSHs sangat rendah  T4/ fT4/ T3 tinggi  anemia normositik normokrom  limfositosis  hiperglikemia  enzim transaminase hati meningkat  azotemia prerenal. koma. b. radiasi. Pada keadaan sangat berat: dapat diberikan melalui pipa . struma ovari. tiroiditis silent. Tata laksana krisis tiroid: (terapi segera dimulai bila dicurigai krisis tiroid) a. Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan a. sindrom resistensi hormon tiroid. namun untuk menilai kemajuan terapi tanpa pemeriksaan penunjang sulit dideteksi. perawatan suportif: kompres dingin. memperbaiki gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit: infus dextros 5% dan NaCl 0. (karena aminoidarone. Propanolol dosis 40-200 mg dalam 4 dosis.9%. tumor yang mensekresi HCG. 4. metastasisi karsinoma tiroid fungsional. Anxietas. 3. 2. antipiretik (asetaminofen). destruksi tiroid. Hipertiroidisme sekunder: adenoma hipofisis yang mensekresi TSH. tirotoksikosis gestasional. diagnosis yang tepat adalah dengan melakukan pengukuran langsung konsentrasi tiroksin bebas di dalam plasma (serum free T4 & T3 meningkat dan TSH sedikit/tdk ada) dengan menggunakan cara pemeriksaan radioimunologik yang tepat. infark adenoma) asupan hormon tiroid berlebihan (tirotoksikosis faktisia) 3. Blokade produksi hormon tiroid: PTU dosis 300 mg tiap 4-6 jam PO Alternatif: metimazol 20-30 mg tiap 4 jam PO. c.

d. dosis disesuaikan respons (target: frekuensi jantung < 90 x/m). Pengobatan terhadap faktor presipitasi: antibiotik. Unit terkait Loket Poliklinik Laboratorium Rumah Sakit . Diagram Alir (jika dibutuhkan) 7. Setelah ditegakkan diagnosis dan terkendali di layanan sekunder maka pasien dirujuk balik ke layanan primer untuk pemantauan. Kriteria Rujukan Setelah penanganan kegawatan (pada krisis tiroid) teratasi perlu dilakukan rujukan ke layanan kesehatan sekunder (spesialis penyakit dalam). Konseling dan Edukasi Hal ini perlu dilakukan agar terbangun dukungan keluarga dalam hal kepatuhan meminum obat. kemudian setiap bulan sampai pengobatan selesai perlu dilakukan karena kegagalan terapi sering terjadi akibat ketidakpatuhan pasien makan obat. nasogastrik (NGT) PTU 600 – 1. dll. Blokade ekskresi hormon tiroid: soluti lugol (saturated solustion of potasium iodida) 8 tetes tiap 6 jam.000 mg atau metinazole 60-100 mg. Glukokortikoid: Hidrokortison 100. Rencana Tindak Lanjut Pemeriksaan ulang setiap 2 minggu pada 2 bulan pertama. dialisis peritoneal. Penyekat ß: propanoolol 60 mg tiap 6 jam PO. 6. Bila refrakter terhadap reaksi di atas: plasmaferesis.500 mg IV tiap 12 jam.