Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN
Transfusi darah sering menyelamatkan kehidupan, misalnya dalam kasus-kasus
yang gawat, perawatan neonatus premature yang intensif modern, anak dengan kanker,
penerima cangkok organ merupakan kasus yang tidak mungkin tanpa tranfusi. Tranfusi
darah merupakan tindakan pengobatan pada pasien (anak, bayi dan dewasa) yang
diberikan atas indikasi. Kesesuaian golongan darah antara resipien dan donor merupakan
salah satu hal mutlak.
Transfusi darah adalah salah satu rangkaian proses pemindahan darah donor ke
dalam sirkulasi darah resipien sebagai upaya pengobatan.
Pemikiran dasar pada transfusi darah adalah cairan intravaskuler dapat diganti
atau disegarkan dalam cairan pengganti yang sesuai dari luar tubuh. Pada tahun 1901,
Landsteiner menemukan golongan darah sistem ABO dan kemudian sistem antigen Rh
(rhesus) ditemukan oleh Levine dan Stetson di tahun 1939. Kedua sistem ini menjadi
dasar penting bagi tranfusi darah modern. Meskipun kemudian sistem berbagai sistem
antigen lain seperti Duffy, Kell dan lain-lain, tetapi sistem-sistem tersebut kurang
berpengaruh.
Transfusi darah memang merupakan upaya untuk menyelamatkan kehidupan
dalam banyak hal, dalam bidang pediatri misalnya dalam perawatan neonates prematur,
anak dengan keganasan, anak dengan kelainan defisiensi atau kelainan komponen darah,
dan transplantasi organ. Namun tranfusi bukanlah tanpa resiko, meskipun telah dilakukan
berbagai upaya untuk memperlancar tindakan tranfusi, namun efek samping reaksi
tranfusi atau infeksi akibat tranfusi tetap mungkin terjadi.
Pemberian komponen-komponen darah yang diperlukan saja lebih dibenarkan
dibandingkan dengan pemberian darah lengkap (whole blood). Prinsip ini lebih
ditekankan lagi di bidang ilmu kesehatan anak karena bayi maupun anak yang sedang
tumbuh sebaiknya tidak diganggu sistem imunologisnya dengan pemberian antigenantigen yang tidak diperlukan.1
Tujuan dari penulisan referat ini adalah untuk mengetahui tentang definisi
transfusi darah, macam bentuk sediaan darah serta komponen darah, indikasi pemberian
transfusi darah, dan reaksi transfusi darah.

1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKAN
2.1. DARAH
2.1.1. Darah sebagai organ
Darah yang semula dikategorikan sebagai jaringan tubuh, saat ini telah
dimasukkan sebagai suatu organ tubuh terbesar yang beredar dalam
sistem kardiovaskuler, tersusun dari :
a) Komponen korpuskuler atau seluler
Komponen korpuskuler yaitu materi biologis yang hidup dan
bersifat multiantigenik, terdiri dari sel darah merah, sel darah putih
dan keping trombosit, yang kesemuanya dihasilkan dari sel induk yang
senantiasa hidup dalam sumsum tulang. Ketiga jenis sel darah ini
memiliki masa hidup terbatas dan akan mati jika masa hidupnya
berakhir. Agar fungsi organ darah tidak ikut mati, maka secara berkala
pada waktu-waktu tertentu, ketiga butiran darah tersebut akan diganti,
diperbarui dengan sel sejenis yang baru.
b) Komponen cairan
Komponen cair yang juga disebut plasma, menempati lebih dari 50
volume % organ darah, dengan bagian terbesar dari plasma (90%) adalah
air, bagian kecilnya terdiri dari protein plasma dan elektrolit. Protein
plasma yang penting diantaranya adalah albumin, berbagai fraksi globulin
serta protein untuk factor pembekuan dan untuk fibrinolisis. 2
2.1.2. Peran penting darah
a. Sebagai organ transportasi, khususnya oksigen (O2), yang dibawa dari
paru-paru dan diedarkan ke seluruh tubuh dan kemudian mengangkut
sisa pembakaran (CO2) dari jaringan untuk dibuang keluar melalui
paru-paru.

Fungsi

pertukaran

O2

dan

CO2

ini

dilakukan

oleh

hemoglobin, yang terkandung dalam sel darah merah. Protein plasma
ikut berfungsi sebagai sarana transportasi untuk metabolism organorgan tubuh.
b. Sebagai organ pertahanan tubuh (imunologik), khususnya dalam
menahan invasi berbagai jenis mikroba pathogen dan antigen asing.

2

Transfusi darah adalah salah satu rangkaian proses pemindahan darah
donor ke dalam sirkulasi darah resipien sebagai upaya pengobatan.
Mekanisme pertahanan ini dilakukan oleh leukosit (granulosit dan
limfosit) serta protein plasma khusus (immunoglobulin).
c. Peranan darah dalam menghentikan perdarahan

(mekanisme

homeostasis) sebagai upaya untuk mempertahankan volume darah
apabila terjadi kerusakan pada pembuluh darah. Fungsi ini dilakukan
oleh

mekanisme

fibrinolisis,

khususnya

jika

terjadi

aktifitas

homeostasis yang berlebihan.
Apabila terjadi pengurangan darah yang cukup bermakna dari
komponen darah korpuskuler maupun non korpuskuler akibat kelainan
bawaan ataupun karena penyakit yang didapat, dan tidak dapat diatasi
oleh mekanisme homeostasis tubuh dalam waktu singkat maka diperlukan
penggantian dengan transfusi darah, khususnya dari komponen yang
diperlukan.3

2.2. Tranfusi darah
2.2.1. Definisi tranfusi darah(3,4)
Tranfusi darah pada hakekatnya adalah pemberian darah atau komponen
darah dari satu individu (donor) ke individu lainnya (resipien), dimana dapat
menjadi penyelamat nyawa, tetapi dapat pula berbahaya dengan berbagai
komplikasi yang akan terjadi sehingga tranfusi darah hendaklah dilakukan
dengan indikasi yang jelas dan tepat sehingga diperoleh manfaat yang jauh
lebih besar dari pada risiko yang mungkin terjadi.
Tujuan transfusi darah adalah :
a. Mengembalikan dan mempertahankan volume yang normal
b.
c.
d.
e.

peredaran darah
Menggantikan kekurangan komponen seluler atau kimia darah
Meningkatkan oksigenasi jaringan
Memperbaiki fungsi homeostasis
Tindakan terapi khusus2,4

2.2.2. Komponen darah 3,5
Komponen darah ialah bagian darah yang dipisahkan dengan cara
fisik/mekanik misalnya dengan cara sentrifugasi. Meliputi :

3

-->Selular
· Darah utuh (whole blood)
· Sel darah merah pekat (packed red blood cell)
- Sel darah merah pekat dengan sedikit leukosit (packed red blood cell
leukocytes reduced)
- Sel darah merah pekat cuci (packed red blood cell washed)
- Sel darah merah pekat beku (packed red blood cell washed)
· Trombosit konsentrat (concentrate platelets)
· Granulosit feresis (granulocytes pheresis)
Non selular
· Plasma sangat beku (fresh frozen plasma)
· Plasma donor tunggal (single donor plasma)
· Kriopresipitat faktor anti hemophilia (cryoprecipitale AHF)
Dasar pemikiran penggunaan komponen darah:
(1) lebih efisien, ekonomis, memperkecil reaksi transfusi
(2) lebih rasional, karena:
(a) Darah terdiri dari komponen seluler maupun plasma yang fungsinya
sangat beragam, serta merupakan materi biologis yang bersifat
multiantigenik,

sehingga

pemberiannya harus

memenuhi

syarat-

syarat variasi antigen minimal dan kompatibilitas yang baik.
(b) Transfusi selain merupakan live saving therapy tetapi

juga

replacement therapy sehingga darah yang diberikan haruslah safety
blood.
Kelebihan terapi komponen dibandingkan dengan terapi darah lengkap:
(1) Disediakan dalam bentuk konsentrat sehingga mengurangi volume
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)

transfusi
Resiko reaksi imunologik lebih kecil
Pengawetan
Penularan penyakit lebih kecil
Aggregate trombosit dan leukosit dapat dihindari
Pasien akan memerlukan komponen yang diperlukan saja
Masalah logistic lebih mudah
Pengawasan mutu lebih sederhana.4

2.2.3. Indikasi tranfusi darah 3,4,6

4

Sedangkan untuk orang dewasa dengan kadar Hb normal angka patokannya ialah 20%. dan ambang batas untuk melakukan tranfusi adalah kadar hemoglobin dibawah 7. misalnya pada anemia. Kehilangan darah sampai 20% dengan gangguan faktor pembekuan maka diberi cairan kristaloid sebanyak 3 kali lipat jumlah darah yang hilang. ambang batasnya dapat dinaikkan sampao 10.0 atau 8.0 g/dl. Pada bayi dan anak dengan kadar hemoglobin normal. Secara garis besar Indikasi Tranfusi darah adalah : A)Untuk mengembalikan dan mempertahankan suatu volume peredaran darah yang normal. karena tidak memberatkan kompensasi tubuh maka cukup diberi cairan koloid atau kristaloid. kehilangan darah sebanyak 10-15% volume darah. Secara umum dari beberapa panduan yang telah dipublikasikan. maka pertimbangan risiko dan manfaat benar-benar harus dilakukan dengan cermat sebelum memutuskan pemberian tranfusi. trauma bedah.Oleh karena tranfusi mempunyai risiko yang cukup besar.0 g/dl.0 g/dl adalah ambang batas tranfusi untuk yang dioperasi yang tidak memiliki faktor risiko iskemia. namun penelitian dengan jumlah pasien yang lebih besar masih perlu dilakukan. kecuali untuk pasien dengan penyakit kritis. sedangkan koloid diberikan dengan jumlah sama. misalnya pada anemia karena perdarahan. Kalau 5 . Walaupun sebuah studi dengan 383 pasien dengan penyakit kritis melaporkan bahwa tidak ada perbedaan mortalitas pada kelompok yang di tranfusi dengan batasan kadar hemoglobin dibawah 10.0 g/dl. hipotrombinemia. B)Untuk mengganti kekurangan komponen seluler atau kimia darah. Tranfusi darah >50% diberikan pada saat perioperasi dengan tujuan untuk menaikkan kapasitas pengangkut oksigen dan volume intravascular. dan lain-lain. sementara untuk pasien dengan risiko iskemia. tidak direkomendasikan untuk melakukan tranfusi profilaksis. sedangkan diatas 15% perlu tranfusi darah karena adanya gangguan pegangkutan oksigen.0 g/dl dan 7. namun tranfusi profilaksis tetap tidak dianjukan. trombositopenia. Kadar hemoglobin 8. atau luka bakar luas.

trombosit. Sebaiknya 1 unit darah diberikan dalam waktu 1-2 jam tergantung status kardiovaskuler dan dianjurkan tidak lebih dari 4 jam mengingat kemungkinan proliferasi bakteri pada suhu kamar.Identitas dan jumlah darah dalam kemasan dicocokkan dengan formulir permintaan darah c. Darah segar yaitu darah yang disimpan sampai 48 jam. Lama simpan dari darah lengkap ini tergantung dari antikoagulan yang dipakai pada kantong darah. serta diulang secara rutin. Jenis tranfusi darah3. pada pemakaian sitrat fosfat dekstrose (CPD) lama simpan adalah 21 hari.4. maka perlu diperhatikan : a. frekuensi denyut jantung dan suhu harus diperiksa sebelumnya. Di Indonesia. sedangkan dengan CPD adenine (CPDA) adalah 35 hari.Tekanan darah. Suhu simpan antara 1-6o Celcius. Banyak Prosedur pelaksanaan tranfusi darah laporan mengenai kesalahan tatalaksana tranfusi. 7 2. Untuk menghindari berbagai kesalahan. ada juga yang satu kantong darah lengkap berisi 350 mL darah dengan 49 mL antikoagulan. terutama pada 15 menit pertama setelah tranfusi darah dimulai. d. Menurut masa simpan invitro ada 2 macam darah lengkap.hanya kenaikan volume intravascular saja cukup dengan koloid dan kristaloid.Identitas pasien harus dicocokan secara lisan maupun tulisan b. yaitu darah segar dan darah baru. leukosit.Observasi ketat. sedangkan darah baru yaitu darah yang disimpan 6 . Satu unit kantong darah lengkap berisi 450 mL darah dan 63 mL antikoagulan.5.2.8 1) Darah lengkap (whole blood) Darah lengkap ini berisi sel darah merah. misalnya kesalahan pemberian darah milik pasien lain. satu kantong darah lengkap berisi 250 mL darah dengan 37 mL antikoagulan. dan plasma.

450 ml. 350 ml. Sel darah merah ini didapat dengan memisahkan sebagian besar plasma dari darah lengkap. Setiap unit darah lengkap diberikan dalam 4 jam dengan tetesan sesuai keadaan klinis. trombosit. Volume nya diperkirakan 150-300 mL 7 .sampai dengan 5 hari.3 Sel darah merah pekat terdiri eritrosit. Rumus kebutuhan whole blood 6 x ∆Hb (Hb normal -Hb pasien) x BB Ket : Hb normal : Hb yang diharapkan atau Hb normal Hb pasien : Hb pasien saat ini 2) Sel darah merah pekat (packed red blood cell) Packed red cell diperoleh dari pemisahan atau pengeluaran plasma secara tertutup atau septik sehingga hematokrit menjadi 70-80%. Kontraindikasi Sebaiknya tidak diberikan pada pasien dengan anemia kronik yang normovolemik atau yang bertujuan meningkatkan sel darah merah. Unit kantong darah yang dipakai yaitu antara lain 250 ml. Anak : 8 mL/kg darah lengkap akan meningkatkan Hb sekitar 1 g/dl. leukosit dan sedikit plasma. Dosis dan cara pemberian Dewasa : 1 unit darah lengkap akan meningkatkan Hb 1 gr/dl atau hematokrit 3-4%. Lama simpan darah 24 jam dengan sistem terbuka. Indikasi Kehilangan darah lebih dari 25-30% volume darah total. sehingga diperoleh sel darah merah dengan nilai hematokrit 60-70%.

anemia aplastik. dekstrosa. Sel darah merah disimpan dalam suhu 1-6 o Celcius. Biasanya tercapai bila kadar Hb sudah di atas 8 g%. yang hanya memerlukan massa sel darah merah pembawa oksigen saja misalnya pada pasien dengan gagal ginjal atau anemia karena keganasan. Pemberian transfusi bertujuan untuk memperbaiki oksigenasi jaringan dan alat-alat tubuh. leukemia dan anemia karena keganasan lainnya. Hemoglobin <10 gr/dl dengan penyakit-penyakit utama : (misalnya empisema. 1. Indikasi Meningkatkan jumlah sel darah merah pada pasien yang menunjukkan gejala anemia. Hemoglobin <8 gr/dl. 2. dengan massa sel darah merah 100-200 mL.tergantung besarnya kantung darah yang dipakai. Sediaan ini bukan merupakan sumber trombosit dan granulosit. adenine. Packed cells banyak dipakai dalam pengobatan anemia terutama talasemia. sedangkan bila menggunakan antikoagulan CPD masa simpan dari sel darah merah ini 21 hari.1 Kontraindikasi 8 . manitol) memiliki nilai hematokrit 52-60% dan masa simpan 42 hari. namun memiliki kemampuan oksigenasi seperti darah langkap. 3. Kehilangan darah >20% dan kehilangan volume darah lebih dari 1000 ml. atau penyakit jantung iskemik) 4. Hemoglobin <12 gr/dl dan tergantung pada ventilator. Bila menggunakan antikoagulan CPDA maka masa simpanan dari sel darah merah ini 35 hari dengan nilai hematokrit 70-80 %. Komponen sel darah merah yang disimpan dalam larutan tambahan (buffer.

5x1010 trombosit dengan volume sekitar 50 mL. Volume darah yang diberikan lebih sedikit 4. Trombosit pekat ini dapat diperoleh dengan cara pemutaran (centrifugasi) darah lengkap segar atau dengan cara tromboferesis. 1 kantong trombosit pekat yang berasal dari 450 mL darah lengkap seorang donor berisi kirakira 5. Mengurangi kemungkinan penularan penyakit 2. Trombosit pekat ( concentrate platelets) Berisi trombosit. Dosis dan cara pemberian Untuk menaikkan kadar Hb sebanyak 1 gr/dl diperlukan 4 ml/kgBB atau 1 unit dapat menaikkan kadar hematokrit 3-5 %. Keuntungan menggunakan PRC dibandingkan dengan darah jenuh adalah: 1.Dapat menyebabkan hipervolemi jika diberikan dalam jumlah banyak dalam waktu singkat. 1 kantong trombosit pekat yang diperoleh dengan cara tromoferesis seorang donor dapat berisi 9 . beberapa leukosit dan sel darah merah serta plasma. Kebutuhan darah (ml) : 3 x ∆Hb (Hb normal -Hb pasien) x BB Ket : -Hb normal : Hb yang diharapkan atau Hb normal -Hb pasien : Hb pasien saat ini Tujuan transfusi PRC adalah untuk menaikkan Hb pasien tanpa menaikkan volume darah secara nyata. Diberikan selama 2 sampai 4 jam dengan kecepatan 1-2 mL/menit. dengan golongan darah ABO dan Rh yang diketahui. Mengurangi kemungkinan reaksi imunologis 3. 3) sehingga kemungkinan overload berkurang Komponen darah lainnya dapat diberikan pada pasien lain.

sedangkan dengan kantong darah khusus dengan cara penyimpanan yang sama trombosit dapat disimpan selama 5 hari. Produk ini daya hemostatik nya kurang sedangkan viability pasca tranfusi nya lebih baik. Produk ini daya hemostatiknya lebih baik sedangkan viability pasca tranfusi nya kurang. Trombosit pekat ini dapat disimpan dalam suhu 20-24o celcius dengan kantong darah biasa yang diletakkan pada rotator atau agitator yang selalu berputar atau bergoyang. Pada suhu 16o celcius. setara dengan 6 kantong trombosit yang berasal dari donor darah biasa. leukemia. remaja dan bayi Anak-anak dan remaja -Trombosit <10x109/L dan perdarahan -Trombosit <10x109/L dan prosedur invasif -Trombosit <20x109/L dan kegagalan sumsum tulang dengan faktor risiko perdarahan tambahan -Defek trombosit kumulatif dan perdarahan atau prosedur invasive Bayi berusia < 4 bulan 10 . DIC dan aplasia sumsum tulang karena pemberian sitostatika terhadap tumor ganas. trombosit dapat disimpan selama 3 hari. demam berdarah. Indikasi Setiap perdarahan spontan atau suatu operasi besar dengan jumlah trombositnya kurang dari 50.sekitar 3x1011 trombosit.000/mm3. trombosit ini dapat disimpan selama 3 hari. Indikasi transfusi trombosit pada anak. Misalnya perdarahan pada trombocytopenic purpura. anemia aplastik. Splenektomi pada hipersplenisme penderita talasemia maupun hipertensi portal juga memerlukan pemberian suspensi trombosit prabedah.

Masa simpan ± 48-72 jam. demam. Peningkatan post transfusi pada dewasa rata-rata 5. Efek samping berupa urtikaria. 25-50 mL sel darah merah. trombosit beberapa sel darah merah dan sedikit plasma. Dibuat dengan cara melakukan pemusingan (centrifugasi) lagi pada Platelet Rich Plasma. trombosit.Platelet Concentrate (trombosit pekat) Kandungan utama yaitu trombosit.3 4) Granulosit feresis (granulocytes pheresis) Diperoleh dengan cara sitaferesis dari donor tunggal.berisi granulosit.3 Macam sediaan: a. Penyimpanan 34°C sebaiknya 24 jam.Platelet Rich Plasma (plasma kaya trombosit) Platelet Rich Plasma dibuat dengan cara pemisahan plasma dari darah segar. Indikasi 11 . volume 50 ml dengan suhu simpan 20°±2°C. alloimunisasi Antigen trombosit donor.000/ul. b. limfosit. sehingga diperoleh endapan yang merupakan pletelet concentrate dan kemudian memisahkannya dari plasma yang diatas yang berupa Platelet Poor Plasma.3 Rumus Transfusi Trombosit BB x 1/13 x 0. sejumlah limfosit.-Trombosit -Trombosit -Trombosit -Trombosit <100x109/L dan perdarahan <50x109/L dan prosedur invasif <20x109/L dan secara klinis stabil <100x109/L dan secara klinis tidak stabil.0 x1010 granulosit. menggigil. Setiap unit mengandung sekitar 1. dan mungkin sedikit hidroksietil starch (HES) dengan volume 200-300 mL. Berguna untuk meningkatkan jumlah trombosit.000-10. suhu simpan dari sediaan ini 20-40 o celcius dan harus segera ditranfusikan.

dan defisiensi faktor pembekuan II. karena sudah tersedia konsentrat faktor VIII dan IX yang lebih aman.2 a. Indikasi lain transfusi plasma beku segar adalah sebagai cairan pengganti selama penggantian plasma pada penderita dengan purpura trombotik trombositopenik atau keadaan lain dimana plasma beku segar diharapkan bermanfaat. Transfusi plasma beku segar tidak lagi dianjurkan untuk penderita dengan hemofilia A atau B yang berat. penyakit hati berat. maka dosisnya 20-40 ml/ kgBB/hari. Penggunaannya ialah untuk menghentikan 12 . faktor pembekuan XIII. X dan XI. V. Plasma beku segar ditransfusikan untuk mengganti kekurangan protein plasma yang secara klinis nyata. seperti larutan albumin atau imunoglobulin intravena. Kebutuhan akan plasma beku segar bervariasi tergantung dari faktor spesifik yang akan diganti. Plasma beku segar tidak dianjurkan untuk koreksi hipovolemia atau sebagai terapi pengganti imunoglobulin karena ada alternatif yang lebih aman. faktor Von Willbrand dan fibrinogen. dan pada bayi dengan enteropati disertai kehilangan protein (protein losing enteropathy). Dan bila diperlukan. Komponen ini dapat diberikan pada trauma dengan perdarahan hebat atau renjatan (syok). 5) Tranfusi Plasma Segar Beku (fresh frozen plasma) Plasma segar beku adalah bagian cair dari darah lengkap yang dipisahkan kemudian dibekukan dalam waktu 8 jam setelah pengambilan darah.Komponen ini dipakai untuk meningkatkan jumlah granulosit pada pasien sepsis dengan leucopenia yang tidak menunjukkan perbaikan dengan pemberian antibiotik. Meskipun demikian. misalnya tukar plasma pada penderita dengan perdarahan dan koagulopati berat. (Bila ada/ tersedia. penggunaan komponen ini sekarang semakin berkurang. harus diberikan factor pembekuan yang spesifik sesuai dengan defisiensinya). imunodefisiensi tanpa ketersediaan preparat khusus. VII.Cryopresipitate Komponen utama yang terdapat di dalamnya faktor VIII. komponen ini masih diberikan untuk defisiensi berbagai factor pembekuan. Hingga sekarang.

ditransfusikan dalam waktu 6 jam setelah dicairkan. Pada 100 ml albumin 20% mempunyai tekanan osmotik sama dengan 400 ml plasma biasa. Efek sampingnya berupa demam dan alergi.5x ∆Hb (Hb normal -Hb pasien) x BB b. sebab komponen ini tidak tahan pada suhu kamar. Suhu simpan -18°C atau lebih rendah dengan lama simpan 1 tahun. tidak melalui tetesan infus. mengandung factor pembekuan yang tergantung vitamin K. Kadang diberikan pada hemofilia 13 . Cara pemberian ialah dengan menyuntikkan intravena langsung.4 c. Komponen ini biasanya digunakan untuk pengobatan hemofilia B. AHF dan fibrinogen dipisahkan dari plasma. seperti factor VII. pemberian segera setelah komponen mencair. Rumus Kebutuhan Albumin ∆ albumin x BB x 0. Dalam pemakaian diencerkan sampai menjadi cairan 5% atau 20%. Kemurnian 96-98%. dan faktor XIII. serta protrombin. Sebagian ada pula yang mengandung protein C. X. yang disintesis di hati. Albumin Dibuat dari plasma. setelah gamma globulin. Satu kantong (30 ml) mengadung 75-80 unit faktor VIII. Indikasi : -Hemophilia A -Perdarahan akibat gangguan faktor koagulasi -Penyakit von wilebrand Rumus Kebutuhan Cryopresipitate :3 0. faktor von wilebrand. Kompleks faktor IX Komponen ini disebut juga kompleks protrombin. 150-200 mg fibrinogen.perdarahan karena kurangnya faktor VIII di dalam darah penderita hemofili A. IX.

10.11. Komponen yang hiperimun didapat dari donor dengan titer tinggi terhadap penyakit seperti varisela. Imunoglobulin Komponen ini merupakan konsentrat larutan materi zat anti dari plasma.1 d. atau infeksi bakteri yang tidak dapat diatasi hanya dengan antibiotika dan lain-lain. rubella. dan yang baku diperoleh dari kumpulan sejumlah besar plasma. atau rhesus. Komplikasi6. cemas. Biasanya diberikan untuk mengatasi imunodefisiensi. nyeri di tempat infuse. juga jika pasien berkeberatan menerima donor orang lain. Meskipun volume darah inkompatibel hanya sedikit (10-50 ml) namun sudah dapat menyebabkan reaksi berat. Meski demikian. untuk kemudian ditransfusikan lagi. mual. Hal ini sebagai pilihan jika pasien memiliki zat anti dan tak ada satu pun golongan darah yang cocok. nyeri dada atau punggung. Dosis yang dianjurkan adalah 80-100 unit/kgBB setiap 24 jam. Dosis yang digunakan adalah 1-3 ml/kgBB. yang dikumpulkan terlebih dahulu.yang mengandung inhibitor factor VIII dan pada beberapa kasus defisiensi factor VII dan X. Reaksi Hemolitik Akut (Acute Hemolytic Reaction) 3. hepatitis B. gelisah.5. tetap saja bisa terdapat efek samping dan reaksi transfusi seperti terjadinya infeksi. Semakin banyak volume darah yang inkompatibel maka akan semakin meningkatkan risiko Pasien yang mengalami reaksi hemolitik akut mungkin mengalami mengeluh rasa panas di muka (flushing). 6) Transfusi darah autologus Transfusi jenis ini menggunakan darah pasien sendiri. pengobatan infeksi virus tertentu. atau diare. Antibodi dalam plasma pasien akan melisiskan sel darah merah yang inkompatibel.2. dispnea.7 2. Reaksi Imunologi : I.14 Reaksi hemolisis akut adalah reaksi yang disebabkan inkompatibilitas sel darah merah.9 A.Tanda berupa demam dan menggigil serta temuan khas 14 .

Pada hemolisis intravaskuler yang baru terjadi. lakukan terapi simptomatik dengan anti piretik oral/supp dan/atau anti histamine iv. terutama kesalahaan pemberian label spesimen. penyebab tersering adalah karena kesalahan klinis.11.pada syok dan gagal ginjal. atau perdarahan generalisata akibat koagulasi intravaskuler diseminata. dan yang lebih sering lagi pada orang – orang yang telah banyak mendapat transfusi darah sebelumnya. dan penatalaksanaan status klinis pasien. Indikator terbaik adanya hemolisis intravaskuler adalah adanya peningkatan bilirubin tidak terkonjugasi (indirek) dan kegagalan hematokrit mencapai kadar pascatransfusi yang diharapkan. setelah 15-30 menit berikan hidrokortison dan epinefrin iv kemudian infuse manitol 10 % yang diteruskan dengan pemberian bikarbonat natrikus serta diuretika (1).15 15 . Reaksi Alergi Reaksi alergi terjadi pada 1% dari semua transfusi darah. Pencegahan Hemolisis akibat Reaksi transfusi Dilakukan pemeriksaan teliti identitas donor dan resipien II. Buatlah laporan kepada Bank Darah untuk pemeriksaan akan sebab-sebab reaksi. indikasi pertama mungkin hemoglobulinuria. Pemeriksaan reaksi transfusi hemolitik Dilakukan pemeriksaan teliti identitas donor dan resipien. adanya methemalbumin. Reaksi alergi ini disebabkan oleh adanya antibody dalam tubuh penderita terhadap protein dalam plasma donor. Laboratorium dapat mengkonfirmasi peningkatan hemoglobulin bebas. Pada pasien koma atau dalam anestesi. sering terjadi pada orang – orang dengan riwayat alergi. hemoglobulin bebas dapat mewarnai plasma dan urin.14. atau pemindahan alergi dari donor10. Langkah berikutnya adalah membuktikan adanya destruksi sel darah merah. Penatalaksanaan hemolisis akibat reaksi transfusi Segera menghentikan transfusi. atau penurunan haptoglobin serum bila perlu. pemeriksaan penyebabnya.

minggu atau bulan setelah proses transfusi. Namun hasil positif dapat dipastikan akan terjadi reaksi bila transfusi dilakukan. sakit kepala dan muntah. Antibodi pada resipien akan terbentuk dalam hitungan hari. transfusi diperlambat dan diberikan antihistamin iv. kecuali kembar identik. maka tanda awalnya adalah takikardi.14 7 -Bila gejala alergi ringan berupa urtikaria. Reaksi Demam Non Hemolitik / Aloimunisasi Karena tidak ada dua manusia yang memiliki susunan genetik yang sama. Dapat diberikan antihistmin dan korikosteroid sebelum transfusi darah. III. bibir. 4 -Edema laring jarang.Tanda dan Gejala 1 -Urtikaria disertai gatal. 3 -Edema pada muka. Antigen ini tidak secara langsung mengakibatkan reaksi imunologis. 2 -Dapat disertai demam. proses transfusi darah berarti memasukkan banyak antigen asing. transfusi dihentikan dan diberikan adrenalin. Pencegahan 1.11. 8 -Bila timbul gejala – gejala berat. antihistamin dan kortikosteroid. Hasil negative belum tentu bebas reaksi karena dapat pula terjadi “false negative”. Reaksi imunologi ini disebabkan rangsangan aloantigen asing yang terdapat pada 16 . dan kelopak mata. impotensi dan sesak nafas. 6 -Jarang terjadi reaksi anafilakik dengan gejala shok. Penatalaksanaan10. 5 -Dapat timbul gejala – gejala asma bronchial. Dapat dilakukan skin test sebelumnya dengan plasma donor. reaksi ini dapat dicegah dengan pemberian eritrosit yang telah dicuci. Pada penderita dengan riwayat alergi sesudah transfusi atau penyuntikan. tetapi bila ada. 3. 2. namun bila timbul merupakan komplikasi yang berat. biasanya timbul segera mulainya transfusi.

Komplikasi ini hanya terdapat pada pasien yang perlu berulang-ulang mendapat transfusi atau memerlukan sejumlah darah yang banyak. penderita gelisah. sakit kepala dan disertai mual dan muntah. IV. Sedativa bila penderita gelisah. Selimuti penderita agar tidak kedinginan 2. 3.3 jam mulainya transfusi. Suhu badan sekitar 38° C – 40° C. 4. kecuali bila penderita dengan keadaan umum buruk. Reaksi Anafilaksis Reaksi anafilaktik ini sangat jarang. Demam timbul secara tiba – tiba. Biasanya ½ .eritrosit. Bila tidak ada perbaikan transfusi dihentikan atau diganti Pencegahan Pada penderita-penderita anemia yang hanya membutuhkan erirosit. diperkirakan hanya terjadi pada 1 dari 170. Anti piretika dan anti histamin dan/atau kortikosteroid. Penatalaksanaan 1. sekitar 10 kali transfusi. 3 Jarang menimbulkan bahaya pada penderita. sebaiknya diberikan washed red cells (eritrosit cuci). 2 Biasanya disertai menggigil. eritrosit saja yang diberikan sedang plasma dan yang banyak mengandung leukosit dan trombosit tidak diberikan. Transfusi diperlambat.000 17 . Pada penderita-penderita yang telah terbukti adanya antibody terhadap leukosit dan trombosit. leukosit. trombosit dan protein plasma. Bila resipien mendapat transfusi yang mengandung antigen tersebut maka akan terjadi pembentukan antibodi sehingga kelak bila mendapat transfusi dapat terjadi mediasi imunologi. Tanda dan Gejala 1.

sebaiknya ditangani dengan komponen darah defisiensi IgA dari saudara atau daftar donor. lakukan pemantauan tanda – tanda vital secara intensif sampai stabil. yaitu dengan bebaskan jalan nafas dan berikan bantuan nafas serta sirkulasi agar tetap stabil. Pencegahan Pada penderita yang memiliki antibody terhadap molekul IgA. V. dan shok. Sitokin dalam plasma merupakan salah satu penyebab bronkokonstriksi dan vasokonstriksi pada resipien tertentu. Hentikan transfusi 2. Batuk -batuk dengan kesulitan bernafas. Dapat dilakukan skin test sebelumnya dengan plasma donor. Hasil negative belum tentu bebas reaksi karena dapat pula terjadi false negative. Jangan berikan kembali transfusi. 3. hipotensi. Berikan cairan koloid jika memungkinkan 5. Tampak beberapa saat setelah diberikannya transfusi. Prinsipnya ABC. 4. bradikardi. Tanda dan Gejala 1. disertai bronkospasme. Dua tanda klasik reaksi anafilaktik segera terjadi yaitu gejala hanya setelah beberapa millimeter darah atau plasma dimasukkan tanpa ada demam. Mual. Reaksi anafilaktik dapat terjadi pada pasien dengan defisiensi IgA dan pasien yang memiliki antibodi anti-IgA. Namun hasil positif dapat dipastikan akan terjadi reaksi bila transfusi dilakukan. Penurunan kesadaran. muntah terkadang disertai dengan diare dan dengan abdominal cramps 3.transfusi. Berikan epinepherin (0. 2. Penatalaksanaan 1.4 ml dari 1:1000 solution) sc/im 4. Kerusakan Paru akut akibat Transfusi (Transfusion-Related Acute Lung Injury = TRALI) 18 .

hipotensi dan sianosis. Reaksi Non Imunologi 1. umumnya akan mereda dalam 48-96 jam dengan bantuan pernafasan. Telah terkontaminasi dengan bakteri. Dosis tinggi kortikosteroid mungkin menguntungkan. Pada pemberian darah yang telah terhemolisis disebabkan oleh . Umumnya berupa ”respiratory distress” berat yang tiba-tiba. disebabkan oleh sindrom edema pulmonal non kardiogenik. yang bereaksi dengan granulosit resipien. sehingga eritrosit hancur Tanda dan Gejala Cepat dan beratnya gejala bervariasi. sehingga eritrosit dapat membengkak atau hancur. karena menghambat agregrasi granulosit.14. Diduga aglutinasi granulosit dan aktivasi komplemen terjadi dalam jaringan vaskuler paru.Kerusakan paru disebabkan transfusi antibodi di dalam plasma donor. Pada pemeriksaan radiologis nampak edema paru. menyebabkan endotel kapiler rusak sehingga terjadi kebocoran cairan kedalam alveoli. Cara penyimpanan yang kurang baik. nyeri dada.tiba dengan diberikan atau dimasukkan air panas yang temperaturnya melebihi panas tubuh atau suhu yang terlalu rendah. mungkin ada. Pemberian transfusi dengan cara memompa atau dengan tekanan. II. Pemanasan tiba . melainkan karena pemberian darah yang telah mengalami hemolisis atau oleh karena pemberian transfusi bersama – sama dengan larutan hipotonis. Reaksi Hemolitik Non Imun10. panas. Darah donor sudah terlalu lama disimpan. 19 . Pada awalnya berat. ada yang baru 40 – 50 ml sudah timbul gejala. Penanganan dengan tindakan mengatasi edema paru dan hipoksia. tanpa gejala sisa.15 Reaksi hemolitik non imun merupakan reaksi akibat transfusi yang disebabkan bukan karena reaksi antara antigen dan antibody. sebagaimana umumnya edema paru. termasuk bantuan pernafasan bila diperlukan. Menggigil. Reaksi dapat terjadi dalam beberapa jam selama transfusi.

Pada reaksi yang berat memberikan gejala yang klasik yakni : 1. kaki dan prekordial. 3. Pada penderita yang sedang dalam pembiusan tanda dan gejala sering tidak tampak.Untuk merangsang diuresis dapat diberikan manitol atau pemberian diuretika furosemid dosis tinggi.Diganti dengan darah yang kompatibel atau plasma ekspader untuk mengatasi shok. 2.ada yang setelah 1-2 jam transfusi dihentikan. demam. 6. 2. Adanya gangguan ketidakseimbangan elektrolit akibat terjadi kegagalan ginjal. 5. Penatalaksanaan 1. Harus dicurigai adanya reaksi hemolitik bila nadi meningkat dengan cepat. Gejala . Menggigil. sakit pada region lumbal.gejala setelah melewati fase akut yaitu danya ikterus dan uremia akibat kegagalan ginjal mendadak. mual. takut. Pada yang cepat.Kortikosteroid dan noradrenalin dapat diberikan 4. gejalanya biasanya berat. Dapat timbul gangguan hemostatis berupa perdarahan yang abnormal dari vena punksi atau luka operasi.Bila ada gangguan hemostatis pengobatan seperti DIC. Pemeriksaan Laboratorium : 1. rasa sesak. 3. takikardi dan shok. Pada fase berikutnya adanya hiperbilirubinemia dan ureum dapat meningkat 4. Terjadinya kegagalan ginjal mendadak dan gangguan hemostatis disebabkan oleh proses koagulasi intravaskuler (DIC). Penderita gelisah. 6. Dapat disusul oliguria dan anuria akibat kegagalan ginjal mendadak. 5. 7.Pada penderita yang menetap dengan anuria atau oligouria dirawat dengan 20 . munah. Hemoglobinuria dimana urin berwarna seperti air daging. tekanan darah yang tiba-tiba menurun serta perdarahan yang sukar diatasi. Hemoglobinemia secara mudah diketahui darah didiamkan plasma berwarna merah. 3. 4.Transfusi segera dihentikan 2.

14. Komplikasi dekompensasi kordis merupakan yang terpenting karena banyak menyebabkan kematian.Pada setiap botol darah. Tekanan vena sentralis meningkat. Digitalis iv. 2. edema paru serta hiperhidrosis renalis. Berikan Diuretika (furosemid iv). Kelebihan beban sirkulasi10. pada orang tua. Pencegahan : 1. Kemungkinan terjadinya over transfusi lebih besar pada penderita – penderita dengan anemia kronis. anak kecil. Tanda dan Gejala 1. 2. 2. sianosis. dan pada penderita dengan penyakit paru. awasi menit – menit pertama pemberian transfusi.kegagalan ginjal akut. 3. Pada auskultasi terdengar rhonki basah halus dan krepitasi.13. ortopnoe. timbul selama transfusi atau segera setelah transfusi dihentikan. Penderita sesak.15 Terjadinya hipervolemia secara mendadak akibat transfusi akan menyebabkan terjadinya bendungan dalam paru yang disusul dengan sembab paru dan akan tampak gejala – gejala dekompensasi jantung mendadak. Seperti gejala dekompensasi kordis mendadak.15 1. 3. Penatalaksanaan10. 3. jantung dan penyakit degeneratif. Transfusi segera dihentikan dan penderita ditegakkan.Teliti dalam mengambil darah dengan memperhatikan tanggal (lama) penyimpanan darah. Torniket keempat ekstremitas dilonggarkan secara bergantian 21 . Oksigenasi 4. sebab gejala yang berat dapat terjadi 40-50 ml pertama.Penyimpanan darah yang baik 2. 4. batuk – batuk dengan dahak kemerah – merahan.

Juga terjadi pada transfusi yang dipercepat dengan meninggikan tekanan. Pencegahan10. Phlebotomi. Emboli Udara10 Kejadian ini dapat terjadi pada permulaan transfusi atau yang paling sering pada waktu transfusi habis dan tak terkontrol oleh petugas. 3. Pemberian diuretika sebelum/selama transfusi. dengan cara memasukkan udara ke dalam botol. 22 . 3. Selang segera diklem 2. 2. Pada pengobatan anemia sebaiknya hanya diberikan packed red cell saja.13.15 1. Namun dengan adanya kantong plastik untuk darah emboli darah sudah jarang terjadi. 4. Pingsan dan dapat disusul dengan kematian. Oksigenasi. transfusi sebaiknya secara perlahan – lahan.5. sianosis dan gelisah 2. Penatalaksanaan 1.12. Takikardi dan tekanan darah menurun 3. 3. Syncope terjadi oleh karena adanya tanda-tanda tersebut dan terjadi begitu cepat sehingga penderita dapat mendadak iskemia serebral. Tanda dan Gejala 1. Sesak nafas. bisa terjadi juga pada saat pemasangan selang transfusi atau waktu penggantian botol darah. Penderita segera dimiringkan ke kiri (jika memungkinkan) dan kepala direndahkan sedang tungkai ditinggikan dengan demikian udara diharapkan tertahan di ventrikel kanan. Pengawasan vena sentralis. 4. Pada penderita yang diduga mudah terjadi komplikasi ini. tidak ikut aliran darah ke paru.

Pasien yag berisiko untuk berkembang menjadi keracunan sitrat atau deficit kalsium ialah mereka yang mendapat transfusi plasma. Gangguan Irama Jantung Pada penderita yang menerima transfusi darah yang masif (cepat dan banyak) dapat timbul gangguan irama jantung yang pada keadaan berat dapat menyebabkan cardiac 23 .mengurangi kalsium yang terionisasi. Tanda dan Gejala 1. Keracunan Sitrat Darah simpan supaya awet dan tidak membeku diberikan pengawet campuran sitrat untuk mengikat kalsium agar tidak terjadi pembekuan. Tremor 2. dan dekstrosa sebagai sumber energi sel darah merah serta Ademin untuk membantu resistensi adenosin Trifosfat dan menjaga supaya 2.Pencegahan 1. Perhatikan jika kantong darah sudah akan habis. wholeblood. atau lebihrendah pada pasien dengan penyakit hati. fosfat sebagai penyangga (buffer). Pantau dan pastikan selang transfusi bebas dari udara. 2. Pada penderita yang mengalami penyakit hepar dan ginjal yang berat. Dimana hati tidak bias mengikuti pemberian yang cepat. 5. akan menderita intoksikasi sitrat oleh karena sitrat dimetabolisme di hati dan diekskresi di ginjal. Perubahan EKG : ST segmen memanjang Penatalaksanaan Pemberian glukonas kalsikus 10 % 4 – 8 cc setiap pemberian transfusi 1 unit kolf darah. 4. trombosit dengan kecepatan melebihi 100 mL/menit.3 DPG tidak cepat rusak. untuk mencegah masuknya udara. tidak bisa memetabolasi sitrat. Hipokalsemia dapat memicu aritmia jantung.

Biasanya sering timbul pada transfusi yang lama. tetapi hati-hati terjadinya over heating karena dapat terjadi hemolisis. Penatalaksanaan 1. Walaupun jarang terjadi namun dapat menyebabkan komplikasi berupa emboli dan/atau sepsis. Thrombo Flebritis Merupakan peradangan pada sepanjang pembuluh darah vena yang digunakan. 6. 3. memberikan hasil yang baik. dimana telah banyak ion kalium keluar dari sel-sel darah ke dalam plasma. Anti inflamasi. Faktor-faktor penyebab : 1. Usahakan gunakan darah yang belum terlalu lama disimpan. Keracunan sitrat yang menyebabkan hipokalsemia. Bila penyebab adalah intoksikasi sitrat lakukan terapi seperti pada intoksikasi sitrat Pencegahan : 1. 2. Khusus bila digunakan darah yang telah lama disimpan (lebih dari satu minggu). phenylbutazon 3 x 100 mg/hari. Memanaskan darah sampai suhu tubuh. Keadaan hiperkalemi lebih mudah terjadi bila penderita insufisiensi ginjal. sehingga memberikan gejala tetani keracunan sitrat lebih mudah terjadi bila ada gangguan hepar. 3. 2. Keracunan sitrat dapat dihindari dengan pemberian 10 ml 10 % larutan kalsium glukosa setiap liter darah pada transfusi yang masif. Darah yang dingin yang diberikan secara cepat dan banyak (masif) Penatalaksanaan 1. Apabila terjadi cardiac arrest lakukan resusitasi jantung – paru 3. Hiperkalemi.arrest. Antibiotika terutama bila ditakutkan terjadinya infeksi 24 . 2. Hiperkalemi. Berikan obat Anti Aritmia 2.

I. -Kekurangan faktor V dan Viii (faktor labil) Pada penyimpanan darah secara biasa faktor V dan VIII juga cepat rusak. Pengawasan. Pada transfusi yang masif sebaiknya diselingi pemberian darah segar yang masih cukup mengandung trombosit dan faktor-faktor pembekuan.50 %. cukup dengan 5 – 20 % dari kadar normal. lakukan terapi D. Bila ada tanda-tanda D. tetapi telah diselediki setelah penyimpanan 21 hari. 2. Faktor-faktor penyebab : -Dilutional trombocytopenia (trombositopenia akibat pengenceran) Darah yang telah disimpan lebih dari 48 jam. sehingga sesudah transfusi darah yang masif trombosit penderita mengalami pengenceran. Penatalaksanaan dan Pencegahan : 1. faktor-faktor ini masih ada 20 % . harus segera dipindahkan. bila ada tanda-tanda peradangan. sehingga kekurangan faktor-faktor ini bukan sebab utama terjadi perdarahan pasca tranfusi.Pencegahan 1. Gangguan Hemostatis Pada suatu transfusi darah dapat terjadi gangguan hemostatis atau koagulasi yang memberikan gejala-gejala perdarahan. ·Disseminata Intravasculer Coagulation (DIC) Diduga oleh adanya hipoksia jaringan dan Stagnant blood flow akan dilepaskan tromboplastin jaringan yang selanjutnya merangsang terjadinya koagulasi intravaskuler.C 25 .C. 7. Transfusi setiap 48 jam harus dipindahkan ke vena yang lain. hampir tidak mengandung trombosit lagi. sedang untuk proses pembekuan berjalan biasa.I. 2.

26 . muka kemerahan. Reaksi Transfusi Delayed (lambat) Reaksi transfusi yang terjadi setelah 24 jam pemberian transfusi. 6 -Pada penderita yang menetap dengan anuria atau oligouria dirawat dengan kegagalan ginjal akut. dapat pula mengakibatkan gagal ginjal akut (1). Terapi (Seperti terapi pada reaksi hemolitik yang lain) 1 -Transfusi segera dihentikan 2 -Diganti dengan darah yang kompatibel atau plasma ekspader untuk mengatasi shok. panas. 5 -Bila ada gangguan hemostatis pengobatan seperti DIC. perusakan eritrosit donor terjadi ekstravaskular. sakit pinggang.B. respon terbentuknya antibodi lambat. Pada reaksi transfusi hemolotik lambat ini. anemia. respirasi menjadi cepat dan pendek. Reaksi Hemolitik Lambat Reaksi ini biasanya timbul setelah 3-21 hari setelah transfusi (1) reaksi ini biasanya ringan dan dapat sembuh sendiri. yaitu di sistem retikulo endotelial (clearance dipercepat) Tanda dan Gejala Gejala yang timbul dapat berupa Sakit kepala (berdenyut). sakit dada. Pembagiannya berdasarkan akibat reaksi Imun dan Non Imun Reaksi Imunologi : 1. 3 -Kortikosteroid dan noradrenalin dapat diberikan 4 -Untuk merangsang diuresis dapat diberikan manitol atau pemberian diuretika furosemid dosis tinggi. terjadi sesudah kemasukan antigen eritrosit. kadang – kadang hipotensi dan takikardi. kelesuan yang hebat. Reaksi ini umumnya bersifat sekunder. urtikaria. puncak reaksi tercapai juga lambat.

terjadi pada hari ke 5-10 sesudah transfusi.2. Ini disebabkan oleh berkembangnya aloantibodi yang 27 . Transfusi lebih lanjut harus ditunda sampai serologi pasien dapat ditentukan dengan jelas. Hal tersebut terjadi dari transfusi sebelumnya atau kehamilan14. Syok dan penyulit ginjal jarang terjadi. Sekitar 1 dari 150 pasien asimptomatik akan membentuk antibody baru setelah 1 minggu transfusi. dan menunjukkan peningkatan amnestik antibody yang sebelumnya tidak terdeteksi oleh rangsangan transfusi. pasien dapat menghancurkan semua sel yang ditransfusikan tanpa memperlihatkan adanya sel antibody. ikterus serta demam dijumpai pada 1:500 pasien yang ditransfusi. Walaupun jarang. Sensitisasi imun terhadap antigen Rhesus D Sensitisasi imun terhadap antibody Rhesus D dapat menyebabkan hemolisis ekstravaskuler karena bersifat imun. biasanya ringan dan timbul 5-10 hari setelah transfusi. Tanda dan Gejala Klinis yang tampak berupa malaise. Penatalaksanaan Pasien yang mengalami hemolisis ekstravaskuler akibat sensitisasi imun terhadap rhesus D harus di tangani secara konservatif. Pencegahan Anti-D bertanggung jawab untuk sebagian besar problem klinis yang bersamaan dengan system ini oleh karena itu skrinning orang – orang terhadap rhesus D positif atau rhesus D negative memberikan maksud klinik terhadap pencegahan kasus ini. Penanganan yang lainnya bersifat simptomatik seperti pada penatalaksanaan reaksi hemolisis yang lain. kecuali bila nyawa pasien terancam. 3. Purpura Pasca Transfusi Merupakan pengembangan trombositopeni yang mengancam kehidupan.15.

bila darah yang akan diambil dilakukan penyimpangan dengan baik (dengan segera dimasukkan dalam refrigerator). Kuman tersebut tidak akan berkembang biak dan tidak akan memberikan gejala klinis. Kematian dapat terjadi sesudah transfusi. Reaksi Penularan Penyakit Transfusi dengan darah yang telah kejangkitan kuman sangat berbahaya. umumnya akan terjadi kontaminasi dengan kuman yang ada di kulit atau diudara. Yang paling banyak ditemukan ialah kuman gram (-). takikardi disusul penurunan tekanan darah. sedang kuman yang tidak mati.ditijukan kepada antigen khusus trombosit. tetapi darah segar bersifat bakterisid sehingga kuman yang terkontaminasi sebagian besar akan mati. Tetapi bila penyimpanan tidak baik atau darah dibiarkan dengan temperature ruangan maka kuman akan cepat berkembang. bila terlihat kuman berarti darah yang mengalami kontaminasi kuman. meskipun darah diambil secara steril mungkin.Kadang – kadang sulit dibedakan dengan reaksi hemolitik. yang menimbulkan gejala – gejala syok akibat endotoksin10. apalagi telah lama disimpan dapat menyebabkan syok sampai kematian. Tanda dan Gejala Pada darah yang mengalami kontaminasi berat akan menyebabkan sepsi akut dan syok endotoksin dengan didahului demam. berarti adanya hemolisis 8 -Buat preparat hapus dari sisa darah botol transfusi dan diwarnai menurut gram. Untuk membedakannya secara sederhana : 7 -Ambil darah penderita. menggigil.15. muntah. Untungnya kejadian ini jarang terjadi. mual. berkeringat. diamkan sejenak dan dilihat bila plasmanya berwarna merah merah oleh adanya hemoglobinemia. Adapun penularan penyakit yang dilaporkan oleh peneliti dan 28 . Reaksi Non Imunologi 1. Diagnosa diperkuat dengan pemeriksaan kultur darah dari sisa darah yang diberikan dan dari darah penderita.

000 sampai1:5. Malaria b. Sebab Triponema (sifilis) 3. Kontaminasi : -Coliform Sp -Pseudomonas -Proteus Untuk mengurangi potensi penularan penyakit. Sebab Bakterial: a. dilakukan penapisan faktor risiko donor berdasarkan riwayat medis dan pemeriksaan dengan serangkaian uji laboratorium. namun belum diciptakannya metode untuk melakukan sterilisasi terhadap komponen sel.para ahli Hematologi adalah sebagai berikut10 : 1. Hepatitis (HAV. non-B. Kala Azar 4. Chaga’s Disease c. Di bawah ini kami jelaskan sedikit tentang beberapa penyakit yang kami anggap perlu dan umum untuk dilakukan pemeriksaan. HBV. Sebab Protozoa: a. Cito Megalo Virus c. Sebab Viral: a. Bakteremia b. Hepatitis Risiko hepatitis virus (non-A. NANB) b. EBV d.C. AIDS 2. HDV.000 29 .D) kira-kira 1:3. Telah digunakan teknik sterilisasi untuk beberapa komponen plasma dan produk fraksional. Tryponemiasis d.

Risiko transfusiterhadap hepatitis C kira-kira 1:1.pemajanan donor . Perbaikan kriteria seleksi donor dan uji penapisan spesifik. karena 50 % pasien yang terinfeksi berkembang menjadi penyakit hati kronik. Jarang terjadi pada darah yang disimpan pada suhu yang dingin. tetapi bukti serologi baru dapat dideteksi pada minggu ke 2-26 setelah transfusi. penyebab AIDS.613. Hepatitis C biasanya hanya akan menimbulkan sedikit gejala dan tanda.000 pemajanan donor. tampaknya telah secara bermakna menurunkan angka ini. ). Insiden hepatitis B yang berkaitan dengan transfusi saat ini sangatlah rendah. Walaupun insidennya rendah dan frekuensinya menurun tetapi hepatitis C merupakan masalah kesehatan yang serius. menginfeksi sekitar 90 % pasien yang mendapat darah tercemar. Risiko transfusi terhadaphepatitis B kira-kira 1:171. bayi premature dan pasien dengan cacat kekebalan. biasanya merupakan virus herpes yang tidak berbahaya. walupun belum pernah dilaporkan kasus yang berkaitan dengan transfusi di Amerika Serikat. dapat menjadi patogen penting pada perempuan hamil.000 tiap unit transfusi. Selain itu bukti statistic mengaitkan HBV dan HCV dengan karsinoma hepatoseluler. dan tersedia vaksin hepatitis B untuk pasien rentan yang diperkirakan akan mendapatkan transfusi kronik.000 sampai 1: 1. namun unit darah yang tercemar denganStaphylococcus aureus atau oleh 30 . Risiko infeksi saat ini diperkirakan 1: 225. saat ini dilakukan juga pemeriksaan terhadap virus tersebut pada donor darah. Sebelum dilakukan uji rutin untuk donor darah. Virus serupa. transfusi merupakan penyebab pada 2-3 % kasus AIDS total. Infeksi Retrovirus Beberapa retrovirus manusia mudah ditularkan melalui transfusi darah.000 unit yang ditransfusikan. Infeksi lain CMV.000 tiap unit transfuse. Sebagian besar hepatitis yang ditularkan melalui transfusi adalah hepatitis C. Risiko transfusi terkait HIV mendekati nol. Human Immunodeficiency Virus tipe 1 (HIV-1). dengan perkiraan berkisar antara 1:300. Pasien ini harus mendapat komponen seronegatif atau darah yang telah diolah untuk menghilangkan leukositnya. dikaitkan dengan AIDS. HIV-2.000.

Penyulit jantung letal terjadi pada beban 60 gram atau sekitar 300 unit. ekivalen dengan sekitar 100 unit sel darah merah. Terapi kelasi besi harus dipertimbangkan untuk semua pasien yang diperkirakan memerlukan pemberian sel darah intensif. gejala dan penyebab reaksi transfusi mild dan moderately severe 31 . Malaria dan penyakit Chagas adalah penyakit menular terpenting yang merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas yang berkaitan dengan transfusi. 2. Hemosiderosis Transfusi Hemosiderosis akibat transfusi merupakan tertimbunnya zat besi dalam jaringan – jaringan yang dapat terjadi pada transfusi yang berulang – ulang pada penderita anemia yang bukan kekurangan besi. Anak yang menderita talesemia minor merupakan satusatunya kelompok yang terkena. Setiap milliliter sel darah merah mengendapkan 1. tetapi cukup banyak anak yang menderita anemia kongenital dan orang dewasa dengan anemia refrakter yang diterapi secara intensif juga beresiko. Terapi antibiotika yang sesuai harus dimulai segera setelah didiagnosis disebut dan sebelum hasil kultur diketahui. Berbagai bakteri dan spiroketa dapat tumbuh baik pada konsentrat trombosit yang disimpan dalam suhu kamar. Deposit besi mulai mempengaruhi fungsi endokrin. Penatalaksanaan Pasien dengan darah terinfeksi mencakup penatalaksanaan syok.08 mg besi di jaringan sewaktu sel darah merah menua atau mati. Tanda. hati dan jantung bila beban tubuh total naik mencapai lebih dari 20 gram.organisme gram negative tertentu seperti Yersinia enterocolitica dan spesies Citrobacter yang tumbuh baik pada 4°C dan dalam darah bersitrat dapat menimbulkan syok dan kematian.

hipokalsemia dan kelainan koagulasi karena terjadi pengenceran dari trombosit dan factor. kegagalan hemostatik. Komplikasi dari transfusi massif Transfusi massif adalah transfusi sejumlah darah yang telah disimpan. Pada keadaan ini dapat terjadi hipotermia bila darah yang digunakan tidak dihangatkan.factor pembekuan. acute lung injury. Gejala dan Penyebab Reaksi Transfusi Life Threatening Penanganan Reaksi Transfusi Life Threatening Lanjutan Penanganan Reaksi Transfusi Life Threatening 2. Penggunaan darah simpan dalam waktu yang lama akan menyebabkan terjadinya beberapa komplikasi diantaranya adalah kelainan jantung. Efek samping lain dan resiko lain transfusi 1.2. dengan volume darah yanglebih besar daripada volume darah resipien dalam waktu 24 jam. asidosis. 32 . hiperkalemia.6.Penanganan Reaksi Transfusi Mild And Moderately severe Tanda.

Biasanya virus ini menetap di leukosit danor. Meski sekarang ini sebagian besar hepatitis pasca transfusi ini dapat dicegah melalui seleksi donor yang baik dan ketat. bahkan sampai mungkin renjatan. toxoplasmosis.000. Sekitar 90% kejadian hepatitis pasca transfusi disebabkan oleh virus hepatitis non A non B. serta penapisan virus hepatitis B dan C. Keadaan ini perlu ditangani seperti pada RTHA ditambah dengan pemberian antibiotic yang adekuat. GVHD(Graft versus Host disease) GVHD merupakan reaksi/ efek samping lain yang mungkin terjadi pada pasien dengan imunosupresif atau pada bayi premature. Infeksi CMV Penularan CMV terutama berbahaya bagi neonatus yang lahir premature atau pasien dengan imunodefisiensi. E. meski telah diupayakan penyaringan donor yang baik dan ketat. Diperkirakan 5-10 % resipien transfusi darah menunjukkan kenaikan kadar enzim transaminase. C. kasus tertular masih tetap terjadi. Pasien yang terinfeksi ini dapat mengalami reaksi transfusi akut.1. B. yang merupakan bukti infeksi virus hepatitis. Pencemaran oleh bakteri juga mungkin terjadi saat pengumpulan darah yang akan ditransfusikan. dan penyakit CJD ( Creutzfeldt Jakob Disease). Hal ini terjadi oleh karena limfosit donor bersemai 33 .000 dan hepatitis C lebih besar yaitu sekitar 1:10.000. AIDS (Acquired Immune Deficiency syndrome) Penularan retrovirus HIV telah diketahui dapat terjadi melalui transfusi darah. mononucleosis infeksiosa. HTLV-1. Penyakit infeksi lain yang jarang Beberapa penyakit walaupun jarang. Perkiraan resiko penularan hepatitis B sekitar 1 dari 200. hingga penyingkiran leukosit merupakan cara efektif mencegah atau mengurangi kemungkinan infeksi virus ini. Penularan penyakit Infeksi A.2.2 D. Transfusi sel darah merah rendah leukosit merupakan hal terbaik mencegah CMV ini. dapat juga ditularkan melalui transfusi adalah malaria. Hepatitis virus Penularan virus hepatitis merupakan salah satu bahaya/ resiko besar pada transfusi darah. penyakit chagas (disebabkan oleh trypanosoma cruzi). yaitu dengan rasio 1:670.

orang dengan golongan darah AB tidak dapat mendonorkan darah kecuali pada sesama AB. orang dengan golongan darah A hanya dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah A atau O. -Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen. orang dengan golongan darah AB dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut resipien universal. orang dengan golongan darah B hanya dapat menerima darah dari orang dengan dolongan darah B atau O -Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B.(engrafting) dalam tubuh resipien dan bereaksi dengan antigen penjamu. -Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya. Sehingga. tapi memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B.3. Namun. Sehingga. Reaksi ini dapat dicegah dengan pemberian komponen SDM yang diradiasi atau dengan leukosit rendah. Dua jenis penggolongan darah yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). sebagai berikut: -Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A di permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B dalam serum darahnya. orang dengan golongan darah O dapat mendonorkan darahnya kepada orang dengan golongan darah ABO apapun dan 34 . GOLONGAN DARAH DAN CARA PENGUMPULAN DARAH Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Sehingga. 3 2. Sistem ABO Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang terkandung dalam darahnya. Sehingga.

disebut donor universal. Berat badan minimal 50 kg 3. Jika seseorang Rh(+). Anti serum yang didapat ternyata bereaksi dengan sel-sel darah merah. seorang donor darah harus memenuhi syarat sebagai berikut: (1) 1. yaitu : -Rhesus positif. Kadar hemoglobin >12. maka golongan darah manusia dibedakan atas dua kelompok. maka ia dapat menerima darah dengan Rh(+) atau Rh (-). . Untuk dapat menyumbangkan darah. Oleh karena itu darah Rh(-) sering disediakan untuk operasi-operasi darurat dimana tidak ada waktu lagi untuk melakukan pengecekan golongan darah seseorang. 2. Calon donor harus berusia 17-60 tahun. Sedangkan orang dengan Rh(-).5 gr% 4. orang dengan golongan darah O hanya dapat menerima darah dari sesama O. hanya bisa menerima darah dengan Rh (-) saja.antigen-Rh yang ditemukan dalam darah kera Macaca rhesus oleh Landsteiner dan Wiener pada tahun 1940 itu juga ditemukan dalam darah manusia. 35 . bila dalam darah merahnya terdapat faktor Rh pada permukaan sel darah merahnya. Berdasarkan ada tidaknya antigen-Rh. Sistem Rhesus Sistem rhesus ini ditemukan melalui penyuntikan sel-sel darah merah kera Macacca rhesus kepada marmot (guinea-pig) untuk mendapatkan anti serum. -Rhesus negatif. bila dalam darah merahnya tidak terdapat faktor Rh pada permukaan sel darah merahnya. Namun. Tekanan darah 100-150 (sistole) dan 70-100 (diastole).

menindik. AIDS dan kemungkinan tercemar oleh virus AIDS. tekanan darah rendah. Biasanya ada sedikit rasa nyeri pada saat jarum 36 . dan pemeriksaan oleh dokter 9. kanker (kecuali bentuk tertentu misalnya kanker kulit yang terlokalisasi). hamil atau sedang menyusui. Hepatitis. tekanan darah dan suhu tubuhnya diukur. asma yang berat. calon donor tidak boleh dalam kondisi atau menderita sakit seperti alkoholik. Penyumbang darah (donor) dilihat keadaan kesehatannya. menyumbangkan darah adalah aman. Ditanyakan apakah pernah atau sedang menderita keadaan tertentu yang menyebabkan darah mereka tidak memenuhi syarat untuk disumbangkan. Lulus pengujian kondisi berat badan. anemia atau pemakaian obat tertentu. begitu juga untuk yang belum setahun melakukan tato . Nadi 30-100x/menit teratur 6. Tidak mengalami gangguan pada pembekuan darah 8. penyakit jantung. dan contoh darahnya diperiksa untuk mengetahui adanya anemia. baru saja dicabut giginya kurang dari tiga hari. golongan darah. atau kelompok masyarakat risiko tinggi mendapatkan AIDS serta mengalami sakit seperti demam atau influensa. Keseluruhan proses membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Biasanya donor tidak diperbolehkan menyumbangkan darahnya lebih dari 1 kali setiap 2 bulan. Untuk menjaga kesehatan dan keamanan darah. Menandatangani formulir pendaftaran 7. epilepsi. hemoglobin. pernah menerima transfusi kurang dari setahun. atau akupunktur. pengambilan darahnya sendiri hanya membutuhkan waktu 10 menit. untuk sementara waktu bisa menyebabkan tidak terpenuhinya syarat untuk menyumbangkan darah. malaria. pembedahan mayor yang baru saja dijalani. tekanan darah tinggi yang tidak terkendali.5. diabetes militus. kelainan perdarahan. Keadaan tersebut adalah hepatitis. Untuk yang memenuhi syarat. penyakit hepatitis. kehamilan. Denyut nadi.

B. tanpa memperhatikan hasil Crossmatch minor. Sebagai tindakan pencegahan berikutnya. maka darah yang disumbangkan. secara rutin digolongkan berdasarkan jenisnya. Darah yang didinginkan dapat digunakan dalam waktu selama 42 hari. pemeriksa mencampurkan setetes darah donor dengan darah resipien untuk memastikan keduanya cocok: teknik ini disebut crossmatching. AB atau O dan Rh-positif atau Rh-negatif. yaitu: 1. tetapi setelah itu rasa nyeri akan hilang. sel darah merah bisa dibekukan dan disimpan sampai selama 10 tahun. sedangkan dengan 37 . hepatitis virus dan sifilis. (misalnya untuk mengawetkan golongan darah yang jarang). apakah golongan A. bila crossmatch mayor menghasilkan aglutinasi. Crossmatch minor : mencampur eritrosit resipien (aglutinongen resipien) dengan serum donor (aglutinin donor) Cara menilai hasil pemeriksaan adalah sebagai berikut: Bila kedua pemeriksaan (crossmatch mayor dan minor tidak mengakibatkan aglutinasi eritrosit. Sejumlah kecil contoh darah dari penyumbang diperiksa untuk mencari adanya penyakit infeksi seperti AIDS. Pada keadaan tertentu. Bila Crossmatch mayor tidak menghasilkan aglutinasi.dimasukkan. Crossmatch adalah pemeriksaan serologis untuk menetapkan sesuai atau tidak sesuainya darah donor dengan darah resipien. sebelum memulai transfusi. Standard unit pengambilan darah hanya sekitar 0. Dilakukan sebelum transfusi darah dan bila terjadi reaksi transfusi darah.48 liter. Karena transfusi darah yang tidak cocok dengan resipien dapat berbahaya. maka diartikan bahwa darah donor sesuai dengan darah resipien sehingga transfusi darah boleh dilakukan. Crossmatch mayor : mencampur enitrosit donor (aglutinongen donor) dengan serum resipien (aglutinin resipien) 2. Darah segar yang diambil disimpan dalam kantong plastik yang sudah mengandung bahan pengawet dan komponen anti pembekuan. diartikan bahwa darah donor tidak sesuai dengan darah resipien sehingga transfusi darah tidak dapat dilakukan dengan menggunakan darah donor itu. Terdapat dua cara pemeriksaan.

2. Sebagai organ transportasi. BAB III KESIMPULAN 1. khususnya oksigen (O2). Transfusi darah adalah suatu rangkaian proses pemindahan darah donor ke dalam sirkulasi darah resipien sebagai upaya pengobatan. maka transfusi darah masih dapat dilakukan dengan menggunakan darah donor tersebut. Bila pemeriksaan dengan serum donor yang diencerkan menghasilkan aglutinasi. pemikiran dasar pada transfusi adalah cairan intravaskuler dapat diganti atau disegarkan dengan cairan pengganti yang sesuai dari luar tubuh. maka Crossmatch minor harus diulangi dengan menggunakan serum donor yang diencerkan. Sebagai organ pertahanan tubuh (imunologik). b. Bila pemeriksaan terakhir ini ternyata tidak menghasilkan aglutinasi.Crossmatch minor terjadi aglutinasi. Peran penting darah adalah : a. 38 . yang dibawa dari paru-paru dan diedarkan ke seluruh tubuh dan kemudian mengangkut sisa pembakaran (CO2) dari jaringan untuk dibuang keluar melalui paru-paru. maka darah donor itu tidak dapat ditransfusikan. khususnya dalam menahan invasi berbagai jenis mikroba pathogen dan antigen asing.

urine berkurang. koagulasi intravaskuler diseminata (KID).c. 6. hipofibrinogenemia. (3) Meningkatkan oksigenasi jaringan. Gejala dan tanda yang dapat timbul pada RTHL adalah demam. hemoglobinuria. Peranan darah dalam menghentikan perdarahan (mekanisme homeostasis) sebagai upaya untuk mempertahankan volume darah apabila terjadi kerusakan pada pembuluh darah. (2) Mengganti kekurangan komponen seluler atau kimia darah. trombositopenia. (4) Memperbaiki fungsi homeostasis. misalnya pada anemia. dan kadang-kadang hemoglobinuria. plasma dan factor. Darah dapat pula disimpan dalam bentuk komponen. misalnya pada anemia karena perdarahan. sakit punggung atau dada. atau luka bakar luas. sesak napas. b. hipoprotrombinemia. Reaksi Transfusi Non-Hemolitik a. Untuk mengganti kekurangan komponen seluler atau kimia darah. dan hipotensi. Gejala dan tanda yang dapat timbul pada Reaksi Tranfusi Hemolitik Akut adalah demam dengan atau tanpa menggigil. leukosit. 5. mual. Tujuan transfusi darah adalah: (1) Mengembalikan dan mempertahankan volume yang normal peredaran darah. trombosit. 4. pucat. Untuk mengembalikan dan mempertahankan suatu volume peredaran darah yang normal.komponen darah yaitu: eritrosit. dan lain-lain. Pada keadaan yang lebih berat dapat terjadi renjatan (shock). (5) Tindakan terapi khusus. 8. ikterus.factor pembekuan darah dengan proses tertentu yaitu dengan Refrigerated Centrifuge. trauma bedah. 3. Demam 39 . Secara garis besar Indikasi Transfusi Darah adalah: a. dan/atau gagal ginjal akut yang dapat berakibat kematian 7.

transfusi darah belum dapat menghilangkan secara mutlak resiko dan efek sampingnya. Reaksi alergi c. Penyakit infeksi lain yang jarang e. Hepatitis virus b. Graft Versus Host disease Transfusi darah merupakan bentuk terapi yang dapat menyelamatkan jiwa. agar transfusi menjadi makin aman. harus mempertimbangkan keadaan pasien menyeluruh.b. Penularan penyakit infeksi pada tranfusi a. maka perlu kiranya mereka yang terlibat dalam praktek transfusi darah mempunyai pengetahuan dan keterampilan dalam bidang ilmu kedokteran transfusi (transfusion medicine). Reaksi anafilaktik 9. Menyadari hal ini. AIDS c. Maka untuk memutuskan apakah seorang pasien memerlukan transfusi atau tidak. karena setiap transfusi yang tanpa indikasi adalah suatu kontraindikasi.Untuk itulah indikasi transfusi haruslah ditegakkan dengan sangat hati.hati. Indikasi untuk pelaksanaan transfusi didasari oleh penilaian secara klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium. Berbagai bentuk upaya telah dan hampir dapat dipastikan akan dilaksanakan. 40 . Penyakit CMV d. dengan resiko yang makin kecil. Pada pemberian transfusi sebaiknya diberikan komponen yang diperlukan secara spesifik untuk mengurangi resiko terjadinya reaksi transfusi. Meskipun demikian.

journal of emedicine medscape. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi 4. Medan. Setiohadi B. Mudrik T. Sudarmanto B. IDAI cabang Jakarta. Jakarta. AG Sumantri. Sudoyo AW. Sara J. Jakarta Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI : 2002 2. Majalah Kedokteran Nusantara Vol. Achsanuddin. 2006 Hanafie. halaman: 21-30 3. Transfusi Darah dan Transplantasi dalam Buku Ajar Hematologi. 2005. 2009. Jakarta. Anemia dan Transfusi Sel Darah Merah pada Pasien Kritis. Balai Penerbit IDAI. Eric M . 2005. 3. 39. SMF-Anestesi dan Reanimasi FK-USU/RSUP Hají Adam Malik. Blood Substitutes . Ramelan S. Kardon. journal of emedicinemedscape 6. Cachlan MR. Latief SA. Transfusion Reactions In Emergency Medicine. Suryadi KA. RSU Dr. Keempat. Gatot D. Pirngadi Medan 5. Grethlein. WHO. 2013. Petunjuk Praktis Anestesiologi Edisi Kedua. No. 8. 2012. 2014. Transfusi Darah Pada Bayi dan Anak dalam Pendidikan Kedokteran berkelanjutan (Continuing Medical Education) Pediatrics Updates. 7. the clinical use of blood in general medicine obstetric 41 .DAFTAR PUSTAKA 1.Onkologi Anak. halaman: 217-225. Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

14. EGC.. Vol: 59. ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. Petit. Kapita Selekta Haematologi (Essential Haematology). second Ed. 9. Laboratorium FK UNDIP. Dari Wikipedia Indonesia.com/2007/08/pengertiantransfusi -darah.wikipedia.pediatrics surgery & anaesthasia trauma and Bums.html 11.Petz. D. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Hoofbrand.A. J.htm. posted by Unit Transfusi Darah Daerah.Golongan darah.org/wiki/Golongan_darah. 1989. Medline plus Medical Encyclopedia Transfusion Reaction.D. Clinical Practice of Transfusion Medicine.nlm.Lawrance.gov/medlineplus /ency/article/001303. Reaksi Transfusi Darah. 42 .Pretransfusion Testing. 10. Reaksi Hemolitik Akibat Transfusi. Available at: http://www.htm. M. No: 8.Pengertian Transfusi Darah. page 713-733.nih. 1996 15.E. Di akses 31 mei 2016 13. 12. Majalah Kedokteran Indonesia. Available at: http://utdd-pmijateng. diakses 31 mei 2016. Adriansyah. Update Date: 3/13/2007 Updated by: Mark Levin.V. Available at: http://id. RS Dr Kariadi Semarang. Rizky dkk. 2009.Bambang Hariadi.blogspot. Hematologist and Oncologist.