Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kanker Laring adalah keganasan pada pita suara dan kotak suara (laring).
Karsinoma sel skuamosa merupakan keganasan laring yang paling sering terjadi
(94%). Karsinoma sel skuamosa adalah karsinoma awal setempat yang berasal
dari epitel skuamosa serta tampak sebagai sel-sel kuboid dan keratinisasi. Jenis
lain yang jarang dijumpai adalah karsinoma anaplastik, pseudosarkoma,
adenokarsinoma, dan sarkoma.1,2
Karsinoma laring merupakan tumor ganas kepala leher yang sering
ditemukan. Karsinoma laring bukanlah hal yang jarang ditemukan di bidang THT.
Insiden tumor ganas laring dilaporkan lebih tinggi pada penduduk Asia dan India
dan diperkirakan dua kali lipat angka Amerika Serikat, sedangkan di RSCM
menempati urutan ketiga setelah karsinoma nasofaring, tumor ganas hidung dan
sinus paranasal.2,3,4
Etiologi Karsinoma Laring belum diketahui secara pasti, namun dikatakan
oleh para ahli bahwa perokok dan peminum alkohol merupakan kelompok orangorang dengan resiko tinggi terhadap karsinoma laring. 5
Gejala terpenting pada karsinoma laring ialah suara parau dan perubahan
suara. Gejala klinis lain adalah rasa nyeri terutama waktu menelan, dan kadangkadang terjadi pembengkakan di leher.6
Untuk menegakkan diagnosa karsinoma laring masih belum memuaskan,
hal ini disebabkan antara lain karena letaknya dan sulit untuk dicapai sehingga
dijumpai bukan pada stadium awal lagi. Biasanya pasien datang dalam keadaan
yang sudah berat sehingga hasil pengobatan yang diberikan kurang memuaskan.
Yang terpenting pada penanggulangan tumor ganas laring ialah diagnosa dini.2
Secara

umum

penatalaksanaan

karsinoma

laring

adalah

dengan

pembedahan, radiasi, sitostatika ataupun kombinasi daripadanya, tergantung
stadium penyakit dan keadaan umum penderita.2

1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi
Laring dibentuk oleh sebuah tulang di bagian atas dan beberapa tulang
rawan yang saling berhubungan satu sama lain dan diikat oleh otot intrinsik dan
ekstrinsik serta dilapisi oleh mukosa.6

Gambar 2.1 : Gambar saluran pernafasan
Laring terletak di bagian tengah depan leher setinggi korpus vertebra
servikalis IV-VI. Laring menghubungkan bagian inferior faring dengan trakea.3
Kerangka laring terdiri dari Sembilan tulang rawan yang berhubungan
melalui ligamentum dan membrana. Dari Sembilan tulang rawan terdapat tiga
yang tunggal (Kartilago tiroid, Kartilago Krikoid, Kartilago epiglotika).3
Tulang dan tulang rawan laring yaitu :
a. Os Hioid: terletak paling atas, berbentuk huruf “U”, mudah diraba
pada leher bagian depan. Pada kedua sisi tulang ini terdapat prosesus
longus dibagian belakang dan prosesus brevis bagian depan.

2

otot krikoaritenoid lateral dan di bagian belakang melekat otot krikoaritenoid posterior. Kartilago tiroid : merupakan tulang rawan laring yang terbesar.6 Gambar 2. terdiri dari dua lamina yang bersatu di bagian depan dan mengembang ke arah belakang. mandibula dan tengkorak. c. Di setiap sisi tulang rawan krikoid melekat ligamentum krikoaritenoid. 2 : Anatomi laring 3 . Kartilago Krikoid : terletak di belakang kartilago tiroid dan merupakan tulang rawan paling bawah dari laring. b.Permukaan bagian atas tulang ini melekat pada otot-otot lidah.

Sternohioid dan M. lidah dan prosesus stiloideus pada cranium.1.3 : Posisi Laring 2. Tirohioid b.Gambar 2. Krikoaritenoid. sementara otot intrinsik menyebabkan gerakan antara berbagai struktur-struktur laring sendiri.M. Otot-otot ekstrinsik : 1) Otot elevator : . Aritenoid oblique dan transversum Otot yang mengatur tegangan ligamentum vokalis : 4 . Geniohioid. Omohioid.1 a. Digrastikus dan M. M. M. M. Otot ekstrinsik yang utama bekerja pada laring secara keseluruhan. Otot-otot Intrinsik : 1) Otot Adduktor dan Abduktor : . 2) Otot depressor : . Milohioid.M. Stilohioid meluas dari Os Hioid ke mandibula. M.M.1 Otot-otot Laring Otot-otot laring terdiri dari 2 kelompok yaitu otot ekstrinsik dan otot intrinsik.

2 Rongga Laring  Batas atas rongga laring ialah aditus laring. Bidang antara plika vokalis kiri dan kanan disebut rima glotis.3 Pada laring terdapat pita suara asli (plika vokalis) dan pita suara palsu (plika ventrikularis). M. Batas depannya ialah permukaan belakang epiglotis.M.1 Gambar 2. tuberkulum epiglotis. M. Tiroepiglotik. Krikotiroid 2) Otot yang mengatur pintu masuk laring : .M. dan bidang antara plika ventrikularis kiri dan kanan disebut rima vestibuli.1.4 : muskulus di laring 2. ligamentum tiroepiglotik. Aritenoid transversus dan lamina kartilago krikoid. Tiroaritenoid. Ariepiglotik. Plika vokalis dan plika ventrikularis membagi 5 .. sudut antara kedua belah lamina  kartilago tiroid dan arkus kartilago krikoid Batas belakangnya ialah M. M.  Batas bawahnya ialah bidang yang melalui pinggir bawah kartilago  krikoid. Vokalis.

3 Gambar 2.3. 2. dan subglotik (di bawah plika vokalis).1.5 : Rongga Laring 2. yaitu: vestibulum laring/supraglotik (di atas plika ventrikularis).1.rongga laring dalam 3 bagian.3 Perdarahan laring terdiri dari 2 cabang. glotik.4 Perdarahan Laring Arteri-arteri laring berasal dari cabang-cabang arteri tiroid superior dan arteri tiroid inferior memasok darah kepada laring. Nervus laringeus superior berakhir menjadi dua cabang di dalam sarung karotis yaitu nervus laringeus internus (sensoris dan otonom) dan nervus laringeus eksternus (motoris).3 Persarafan Laring Saraf-saraf laring berasal dari Nervus Vagus (Nervus Kranialis X) melalui ramus eksternus nervus laringeus superior dan nervus laringeus rekurens. yaitu : 6 . Krikotiroid yang dipersarafi oleh nervus laringeus eksternus. Arteri laring inferior mengiringi nervus laringeus inferior dan memasok darah kepada membran mukosa dan otot-otot di aspek inferior laring. kecuali M.1.6 Nervus laringeus rekurens mempersarafi semua otot laring intrinsik. Arteri laring superior mengiringi ramus internus nervi laringealis superior melalui membran tiroid dan kemudian bercabang-cabang untuk mengantar darah ke permukan dalam laring.

3 Vena-vena laring mengikuti arteri-arteri laring. Arteri laringis superior.a. lalu bermuara ke vena jugularis interna.5 Drainase Limfatik Laring 7 . Vena laring superior biasanya bersatu dengan vena tiroid superior. konstriktor faring inferior dan memperdarahi mukosa dan otot laring.6 : Persarafan dan perdarahan Laring 2.3 Gambar 2. Arteri laringis inferior. Berjalan melewati bagian belakang membran tirohioid dan menembus membran ini untuk berjalan disubmukosa dari dinding lateral dan lantai sinus piriformis untuk mendarahi mukosa dari otot-otot laring. merupakan cabang dari arteri tiroid superior. lalu masuk laring melalui daerah pinggir bawah M. Berjalan ke belakang sendi krikotiroid. merupakan cabang arteri tiroid inferior. b.1. Vena laring inferior bersatu dengan vena tiroid inferior atau pleksus vena-vena tiroid yang beranastomosis pada aspek anterior trachea.

3 Gambar 2. 2) Area Glotis : nyaris tanpa sistem limfatik 3) Area Subglotis : jaringan limfatik lebih sedikit dibanding areasupraglotis. 7 : Persarafan. drainase limfe ke kelenjar leher profunda media (kelenjar limfe area III).2 Fisiologi 8 . kelenjar limfe leher profunda inferior (kelenjar limfe area IV) atau kelenjar limfe para-trakea (kelenjar limfe area VI).1) Area Supraglotis : kaya akan jaringan limfatik. kapiler limfatik mengikuti pembuluh darah dan saraf laringea superior menembus membran tirohioidea. perdarahan dan pembuluh limfe laring 2. berakhir di kelenjar limfe leher profunda superior (kelenjar limfe area II) atau menembus membran kortikotiroid dan lobus glandula tiroid ipsilateral masuk ke kelenjar limfe leher profunda media (kelenjar limfe area III).

Elemen yang bergetar adalah pita suara.Walaupun laring biasanya dianggap sebagai organ penghasil suara.1 a. Selain itu. menjauhi kartilago aritenoid. memungkinkan peningkatan tekanan intratorakal yang diperlukan untuk tindakan-tindakan mengejan. Bila plika vokalis dalam aduksi. namun ternyata mempunyai tiga fungsi utama yaitu: a. Aditus laringis sendiri tertutup oleh kerja sfingter dari otot tiroaritenoid dalam plika ariepiglotika dan korda vokalis palsu. Pita suara menonjol dari dinding lateral laring ke arah tengah dari glotis. Perubahan tekanan ini membantu sistem jantung seperti juga ia mempengaruhi pengisian dan pengosongan jantung dan paru. tekanan intratoraks dikendalikan oleh berbagai derajat penutupan korda vokalis sejati. Pada saat yang bersamaan M. Respirasi Selama respirasi. krikotiroid akan merotasikan kartilago tiroid ke bawah dan ke depan. krikoaritenoid posterior akan menahan atau menarik kartilago aritenoid ke belakang. maka M. proteksi jalan nafas respirasi dan fonasi. yang umumnya disebut tali suara. krikoaritenoid akan mendorong kartilago krikoaritenoid ke 9 .1 c. disamping aduksi korda vokalis sejati dan aritenoid yang ditimbulkan oleh otot intrinsik laring lainnya.3 Fungsi laring sebagai fonasi yaitu dengan membuat suara serta menentukan tinggi rendahnya nada. Proteksi jalan nafas Perlindungan jalan nafas selama aksi menelan terjadi melalui berbagai mekanisme berbeda. Sebaliknya kontraksi M. c. Fonasi Laring khususnya berperan sebagai penggetar (vibrator). 1 b. bentuk korda vokalis palsu dan sejati memungkinkan laring berfungsi sebagai katup tekanan bila menutup. Plika vokalis kini dalam keadaan efektif untuk berkontraksi. Tinggi rendahnya nada diatur oleh peregangan plika vokalis. b.

Kontraksi serta mengendornya plika vokalis akan menentukan tinggi rendahnya nada. Emosi Laring berfungsi mengekspresikan emosi seperti berteriak. mengeluh.3 Definisi Kanker Laring adalah keganasan pada pita suara. Karsinoma sel skuamosa adalah karsinoma awal setempat yang berasal dari epitel skuamosa serta tampak sebagai sel-sel kuboid dan keratinisasi. Karsinoma sel skuamosa merupakan keganasan laring yang paling sering terjadi (94%).1. sehingga mempengaruhi sirkulasi dalam tubuh.7 2.2 10 . yaitu gerakan laring bagian bawah ke atas. sekret yang berasal dari paru dapat dikeluarkan. Demikian juga dengan bantuan batuk. Menelan Laring membantu menelan melalui 3 mekanisme.depan. menangis. sehingga plika vokalis akan mengendor. d. menutup aditus laringis dan mendorong bolus makanan turun ke hipofaring dan tidak masuk lagi ke dalam laring. dan lain-lain.7 Fungsi laring lainnya yaitu: a. Refleks batuk Benda asing yang telah masuk ke dalam trakea dapat dibatukkan keluar. c. b. kotak suara (laring). Sirkulasi Dengan terjadi perubahan tekanan udara di dalam traktus trakeobronkial akan mempengaruhi sirkulasi darah dari alveolus.

sedangkan di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta. menduduki peringkat ketiga keganasan THT (712 kasus).8% dari 1030 kasus keganasan THT.97%. Karsinoma nasofaring sebesar 11 .Gambar 2. Jumlah kasus rata-rata 25 pertahun.000 penduduk meninggal oleh karsinoma laring.5.740 kasus baru tumor ganas laring di Amerika Serikat dan diperkirakan 3560 orang meninggal. Periode 1988-1992 karsinoma laring sebesar 9.2 orang per 100.8 Menurut data statistik dari WHO (1961) yang meliputi 35 negara. 8 : Karsinoma Laring 2. karsinoma laring menduduki urutan ketiga setelah karsinoma nasofaring dan tumor ganas hidung dan sinus paranasal.5 Di Departemen THT FKUI/RSCM periode 1982-1987 proporsi karsinoma laring 13. seperti dikutip oleh Batsakis (1979). rata-rata 1.4 Prevalensi Pada tahun 2011 diperkirakan 12.

karena tumornya masih terisolasi dan dapat diangkat secara radikal. sesuai dengan kenaikkan jumlah rokok yang dihisap. Usia penderita berkisar antara 30 sampai 79 tahun. 5 Pengumpulan data yang dilakukan di RS Cipto Mangunkusumo menunjukkan bahwa karsinoma laring jarang ditemukan pada orang yang tidak merokok.5 Di RSUP H. fonasi serta fungsi sfingter laring.71. sedangkan resiko untuk mendapatkan karsinoma laring naik.6 Histopatologi Karsinoma sel skuamosa meliputi 95% sampai 98% dari semua tumor ganas laring. 28 orang diantaranya telah dilakukan operasi laringektomi total. orofaring/tonsil 1.69%. rongga mulut 1.11%. Februari 1995 – Juni 2003 dijumpai 97 kasus karsinoma laring dengan perbandingan laki dan perempuan 8 : 1. Alkohol c. esophagus/bronkus 1. Dari Februari 1995 – Februari 2000. diikuti oleh keganasan hidung dan paranasal 10.5 Etiologi Etiologi karsinoma laring belum diketahui secara pasti. terbanyak pada usia 56-69 tahun dengan kebiasaan merokok didapatkan pada 73. Rokok b.11%. Tujuan utama ialah mengeluarkan bagian laring yang terkena tumor dengan memperhatikan fungsi respirasi. Penelitian epidemiologik menggambarkan beberapa hal yang diduga menyebabkan terjadinya karsinoma laring yang kuat ialah: a. Dikatakan oleh para ahli bahwa perokok dan peminum alkohol merupakan kelompok-kelompok orang-orang dengan resiko tinggi terhadap karsinoma laring.40% dan parotis 0. Adam Malik Medan.28%. Terpajan oleh sinar radioaktif.4 2. telinga 2.5 Yang terpenting pada penanggulangan karsinoma laring adalah diagnosis dini dan pengobatan atau tindakan yang tepat dan kuratif.77%.5 2.94%. Karsinoma sel skuamosa dibagi 3 tingkatan diferensiasi : 12 .54%.2 Perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 11:1.

klasifikasi dan stadium tumor ganas laring terbagi atas : 13 . sinus piriformis dan plika ariepiglotika kurang berdiferensiasi baik. tiroid 20% dan aritenoid 10%. Prognosanya sangat baik. Sering pada laki-laki 40 – 60 tahun. Insidennya 1 – 2% dari seluruh tumor ganas laring. berdiferensiasi sedang (grade 2) c. Tidak terjadi metastase regional atau jauh. Terapi yang dianjurkan adalah reseksi radikal  dengan diseksi kelenjar limfe regional dan radiasi paska operasi. Sering dari kelenjar mukus supraglotis dan subglotis dan tidak pernah dari glotis. berdiferensiasi buruk (grade 3). 2 Karsinoma Verukosa Adalah satu tumor yang secara histologis kelihatannya jinak. Kebanyakan tumor ganas pita suara cenderung berdiferensiasi baik. c. Sering bermetastase ke paru-paru dan hepar. radioterapi tidak efektif dan merupakan kontraindikasi. Pengobatannya dengan operasi.5 Jenis lain yang jarang kita jumpai adalah: a.2 2. Lesi yang mengenai hipofaring.a.2 Kondrosarkoma Adalah tumor ganas yang berasal dari tulang rawan krikoid 70%. akan tetapi klinis ganas. lebih banyak mengenai pria dari wanita dengan perbandingan 3 : 1. b.7 Klasifikasi dan Stadium Berdasarkan Union International Centre le Cancer (UICC) 1982. Tumor tumbuh lambat tetapi dapat membesar sehingga dapat menimbulkan kerusakan lokal yang luas. Terapi yang dianjurkan adalah laringektomi total. d.2  Adenokarsinoma Angka insidennya 1% dari seluruh tumor ganas laring.  karsinoma anaplastik karsinoma pseudosarkoma adenokarsinoma sarkoma. two years survival rate-nya sangat rendah. berdiferensiasi baik (grade 1) b.

pita suara palsu. Subglotis (1%)  Supraglotis Yang termasuk supraglotis adalah : permukaan posterior epiglotis yang terletak di sekitar os hioid. 9 : tumor ganas supraglotis  Glotis Yang termasuk glotis adalah : mengenai pita suara asli. tumor glotis dapat mengenai satu atau kedua pita suara. 10 mm merupakan batas inferior otot–otot intrinsik pita suara. Gambar 2. Batas superior adalah ventrikel laring. dapat meluas ke subglotis sejauh 10 mm. aritenoid. epiglotis yang terletak di bawah os hioid. Batas inferior glotis adalah 10 mm dibawah tepi bebas pita suara. komisura anterior dan komisura posterior.a. Oleh karena itu. Supraglotis (30-35%) b. ventrikel. dan dapat mengenai komisura anterior atau posterior atau prosesus vokalis kartilago aritenoid. 14 . Glotis (60-65%) c. Terbatas pada daerah mulai dari tepi atas epiglotis sampai batas atas glotis termasuk pita suara palsu dan ventrikel laring. lipatan ariepiglotik.

10 : Tumor ganas glotis  Subglotis Yang termasuk subglotis adalah dinding subglotis. plika ariepiglotika.3. 11 : Tumor ganas subglotis Klasifikasi dan stadium tumor berdasarkan UICC : a. Tumor primer (T) Supraglottis : T is : tumor insitu T 0 : tidak jelas adanya tumor primer l T 1 : tumor terbatas di supra glotis dengan pergerakan normal T 1a : tumor terbatas pada permukaan laring epiglotis.4.6. Tumbuh lebih dari 10 mm dibawah tepi bebas pita suara asli sampai batas inferior krikoid. ventrikel atau pita suara palsu satu sisi.Gambar 2.7 Gambar 2. 15 .

T 3 : tumor terbatas pada laring dengan fiksasi dari satu atau ke dua pita suara T 4 : tumor dengan perluasan ke luar laring Subglotis : T is : tumor insitu T 0 : tak jelas adanya tumor primer T 1 : tumor terbatas pada subglotis T 1a : tumor terbatas pada satu sisi T 1b : tumor telah mengenai kedua sisi T 2 : tumor terbatas di laring dengan perluasan pada satu atau kedua pita suara asli dengan pergerakan normal atau terganggu T 3 : tumor terbatas pada laring dengan fiksasi satu atau kedua pita suara 16 .T 1b: tumor telah mengenai epiglotis dan meluas ke rongga ventrikel atau pita suara palsu T 2 : tumor telah meluas ke glotis tanpa fiksasi T 3 : tumor terbatas pada laring dengan fiksasi dan / atau adanya infiltrasi ke dalam. Glotis : T is : tumor insitu T 0 : tak jelas adanya tumor primer T 1 : tumor terbatas pada pita suara (termasuk komisura anterior dan posterior) dengan pergerakan normal T 1a : tumor terbatas pada satu pita suara asli T 1b : tumor mengenai kedua pita suara T 2 : tumor terbatas di laring dengan perluasan daerah supra glotis maupun subglotis dengan pergerakan pita suara normal atau terganggu. T 4 : tumor dengan penyebaran langsung sampai ke luar laring.

kelenjar bilateral atau kontra lateral N3a: klinis terdapat kelenjar homolateral dengan diameter > 6 cm N3b :klinis terdapat kelenjar bilateral N3c: klinis hanya terdapat kelenjar kontra lateral c.≤ 6 cm. b. setiap N .1 Gejala-gejala Dini Gejala-gejala dini dari karsinoma laring ialah : a. T2. Metastase jauh (M) M0: tidak ada metastase jauh M1: terdapat metastase jauh d. nyeri c.T 4 : tumor dengan kerusakan tulang rawan dan/atau meluas keluar laring. N1.5 2. N0. suara parau (serak) dan sesuai dengan keterlibatan timbul b. M0. setiap T. N2. Stadium : Stadium I : T1 N0 M0 Stadium II : T2 N0 M0 Stadium III : T3 N0 M0 T1. M0 Stadium IV : T4.8. M1. Pembesaran kelenjar getah bening leher (N) Nx: kelenjar tidak dapat dinilai N0: secara klinis tidak ada kelenjar. M0 Setiap T. T3. N1: klinis terdapat kelenjar homolateral dengan diameter ≤ 3cm N2: klinis terdapat kelenjar homolateral dengan diameter >3 – <6 cm atau klinis terdapat kelenjar homolateral multipel dengan diameter ≤ 6 cm N2a: klinis terdapat satu kelenjar homolateral dengan diameter > 3 cm . N2b: klinis terdapat kelenjar homolateral multipel dengan diameter ≤ 6 cm N3: kelenjar homolateral yang masif.8 Gejala Klinis 2. dispnea dan akhirnya 17 .

sumbang dan nadanya lebih rendah dari biasanya. seperti perasaan tidak nyaman. Pada tumor ganas laring. dibagian baeah plika ventrikularis. Fiksasi dan nyeri menimbulkan suara bergumam (hot potato voice). Apabila tumor tumbuh pada pita suara asli.d.  disfagia. serak dapat merupakan gejala akhir atau tidak timbul sama sekali. besar pita suara. Pada kelompok ini. pita suara gagal berfungsi secara baik disebabkan oleh ketidak teraturan pita suara. rasa ada yang mengganjal di tenggorok. atau di batas inferior pita suara. Kadang-kadang bisa afoni karena nyeri. penumpukan kotoran atau 18 . terserangnya otot-otot vokalis. Serak menyebabkan kualitas suara menjadi kasar. oklusi atau penyempitan celah glotik. Gejala ini disebabkan oleh gangguan jalan nafas oleh massa tumor. serak merupakan gejala dini dan menetap. ketajaman tepi pita suara. serak akan timbul kemudian. mengganggu.7 Serak Disebabkan karena gangguan fungsi fonasi laring.5 Hubungan antara serak dengan tumor laring tergantung pada letak tumor. Apabila tumor tumbuh di daerah ventrikel laring.5  Dispnea dan stridor Adalah gejala yang disebabkan oleh sumbatan jalan nafas dan dapat timbul pada tiap tumor laring. kecepatan getaran dan ketegangan pita suara.6  Nyeri Keluhan nyeri tenggorok dapat bervariasi dari rasa goresan sampai rasa nyeri yang tajam. Pada tumor supraglotis dan subglotis. Adanya tumor di pita suara akan mengganggu gerak maupun getaran kedua pita suara tersebut. gejala pertama tidak khas dan subjektif. sumbatan jalan nafas atau paralisis komplit. Kualitas nada sangat dipengaruhi oleh besar celah glotik. sendi dan ligamentum krikoaritenoid dan kadang-kadang menyerang saraf.

b.5  Disfagia Adalah ciri khas tumor pangkal lidah. penurunan berat badan Menandakan perluasan tumor ke luar laring atau metastasis jauh. Hemoptisis sering terjadi pada tumor glotik dan tumor supraglotik.2 Gejala-gejala Lain a. biasanya timbul dengan tertekannya hipofaring disertai secret yang mengalir ke dalam laring. Keluhan ini merupakan keluhan yang paling sering pada tumor ganas postkrikoid.3 Gejala dan tanda sumbatan laring Gejala dan tanda sumbatan laring yang tampak adalah : 7 a. Nyeri alih ke telinga ipsilateral c.5 b.5 2. Rasa nyeri saat menelan (odinofagia) menandakan adanya tumor ganas lanjut yang mengenai struktur ekstra laring. maupun oleh fiksasi pita suara. Batuk jarang ditemukan pada tumor ganas glotik. Stridor (napas berbunyi) yang terdengar pada waktu inspirasi. Halitosis d. Perbesaran kelanjar getah bening leher Dipertimbangkan sebagai metastasis tumor ganas yang menunjukkan tumor pada stadium lanjut. Sesak napas (dispnea).5 2.5 f.sekret. Pada umumnya dispnea dan stridor adalah tanda prognosis yang kurang baik.8.5 e. Nyeri tekan laring Adalah gejala lanjut yang disebabkan oleh komplikasi supurasi tumor yang menyerang kartilago tiroid dan perikondrium. hipofaring dan sinus piriformis. Batuk dan hemoptisis. supraglotik.8. 19 .

7 Pemeriksaan laring dapat dilakukan dengan cara tidak langsung menggunakan kaca laring atau langsung dengan menggunakan laringoskop. MRI f. nafas berbunyi. 2. Gelisah karena pasien haus udara (air hunger). CT-Scan. e. sulit bernafas. Warna muka pucat dan terakhir menjadi sianosis karena hipoksia. Foto torak diperlukan 20 . d.3. supraklavikula.9 Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan : a. batuk berdarah.3. sulit menelan dan  kadang–kadang ditemukan bau mulut. nyeri tenggorokkan. Pemeriksaan radiologi khusus : politomografi. Pemeriksaan ini untuk menilai lokasi tumor.2  Anamnesa Didapatkan keluhan berupa suara serak. Pemeriksaan THT rutin c. Radiologi foto polos leher dan dada e. penurunan berat badan. Laringoskopi d. Cekungan yang terdapat pada waktu inspirasi di suprasternal. penyebaran tumor. kemudian dilakukan biopsi untuk pemeriksaan patologi  anatomi. interkostal. Anamnesa b. Cekungan itu terjadi sebagai upaya dari otot-otot pernafasan untuk mendapatkan oksigen yang adekuat. epigastrium. Pemeriksaan hispatologi dari biopsi laring sebagai diagnosa pasti.5 Radiologi Pemeriksaan penunjang yang diperlukan selain pemeriksaan laboratorium darah.c. juga pemeriksaan radiologi.

lingkup tumor. tepinya.3  CT Scan laring dan MRI CT Scan laring dapat secara lebih baik menunjukkan keberadaan tumor. 12 : Normal laring pada CT-Scan potongan Axial 21 . Kelebihan MRI laring adalah daya beda terhadap jaringan lunak lebih tinggi dari CT Scan. lingkup invasinya.kondisi saluran nafas. ada atau tidaknya suatu proses spesifik dan metastasis di paru. ada tidaknya dekstrusi kartilago tiroidea dan ada tidaknya penebalan bayangan jaringan lunak prevertebral .5. berguna meningkatkan akurasi penentuan stadium TNM klinis. lokasinya. jaringan lunak atau kartilagoserta infiltrasi ke kelenjar limfe.7 Foto polos laring frontal.6 Gambar 2.dll.untuk menilai keadaan paru. lateral dapat melihatlokasi.

c.10 Diagnosis Banding a.5 2. d. berwarna putih kelabu. tampak sebagai tukak dangkal tertutup sekret purulen. Dari hasil patologi anatomi terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa. nyeri dada. bergerak sesuai nafas. Papiloma pada dewasa harus dipandang sebagai lesi prekanker. sebesar biji beras.demam pada sore hari. Permukaan polip pita suara licin. dan gejala lainnya. 13 : Karsinoma laring pada CT-Scan potongan Axial Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan patologi anatomi dari bahan biopsi laring dan biopsi jarum halus pada pembesaran kelenjar getah bening di leher. Papiloma Laring Dapat ditemukan pada anak maupun dewasa.sering bertangkai. Nodul pita suara seringkali bilateral. tampak sebagai tonjolan papilar. tunggal atau multiple. b. basisnya hiperemis.Gambar 2. Keratosis dan leukoplakia laring 22 . simetris. umumnya di paru terdapat lesi TB. TB laring Lesi kebanyakan di celah (kartilago aritenoid). Dapat disertai batuk. Nodul dan polip pita suara Umumnya terjadi pada perbatasan 1/3 anterior dan tengah pita suara.

2) Diseksi Leher Radikal Tidak dilakukan pada tumor glotis stadium dini (T1 – T2) karena kemungkinan metastase ke kelenjar limfe leher sangat rendah. riwayat penyakit panjang.11. Pembedahan Tindakan operasi untuk keganasan laring terdiri dari : 1) Laringektomi a) Laringektomi parsial Laringektomi parsial diindikasikan untuk karsinoma laring stadium I yang tidak memungkinkan dilakukan radiasi. dan tumor stadium II. Diagnosis dengan sediaan patologi.Manifestasi klinis berupa suara serak. suatu kelainan jinak. submukosa terdapat sebukan sel radang. a. Amiloidosis faring Etiologinya tidak jelas. b) Laringektomi total Adalah tindakan pengangkatan seluruh struktur laring mulai dari batas atas (epiglotis dan os hioid) sampai batas bawah cincin trakea. 3 2.1 Penatalaksanaan Karsinoma Laring Secara umum ada 3 jenis penanggulangan karsinoma laring yaitu pembedahan. tampak sebagai nodul submukosa atau tonjolan makular. Sedangkan tumor 23 .tak enak di laring. terdapat bercak merah jambu atau putih. Dapat disertai keratosis tidak sempurna dan hiperplasia papilomatoid.11 Penatalaksanaan 2. radiasi dan sitostatika. Karakteristik histopatologik berupa hiperplasia epitel dengan derajat bervariasidan timbul keratin. Pada laringoskopi indirek tampak pita suara menebal. e. kondisi umum pasien baik. Terutama mengenai pita vestibularis dan pita vokalis. ataupun kombinasi daripadanya.

3 Rehabilitasi suara dapat dilakukan dengan pertolongan alat bantu suara. Vocational Rehabilitation dan Social Rehabilitation”. Tetapi faktor fisik dan psiko-sosial merupakan 2 faktor utama. di samping harga obat ini yang relatif mahal. Dosis yang dianjurkan adalah 200 rad perhari sampai dosis total 6000 – 7000 rad. Wang dan Schulz memberikan 4500–5000 rad selama 4–6 minggu diikuti dengan laringektomi total.supraglotis. dkk.5 d. Dengan dilakukannya pengangkatan laring beserta pita suara yang berada di dalamnya. sehingga tidak terjangkau oleh pasien. ataupun dengan suara yang dihasilkan dari esofagus melalui proses belajar. Pembedahan ini tidak disarankan bila telah terdapat metastase jauh. c. Mungkin dengan 24 .2 Laringektomi yang dikerjakan untuk mengobati karsinoma laring menyebabkan cacat pada pasien. Radioterapi dengan dosis menengah telah pula dilakukan oleh Ogura. Wang. b. 3 Banyak faktor yang mempengaruhi suksesnya proses rehabilitasi suara ini. yakni semacam vibrator yang ditempelkan di daerah submandibula. maka pasien menjadi afonia dan bernafas melalui stoma permanen di leher. untuk tumor-tumor tertentu. Konsepnya adalah untuk memperoleh kerusakan maksimal dari tumor tanpa kerusakan yang tidak dapat disembuhkan pada jaringan yang melapisinya. subglotis dan tumor glotis stadium lanjut sering kali mengadakan metastase ke kelenjar limfe leher sehingga perlu dilakukan tindakan diseksi leher. Som. biasanya jadwal pemberian sitostatika tidak sampai selesai karena keadaan umum memburuk. Keuntungan dengan cara ini adalah laring tidak cedera sehingga suara masih dapat dipertahankan. Radioterapi Radioterapi digunakan untuk mengobati tumor glotis dan supraglotis T1 dan T2 dengan hasil yang baik (angka kesembuhannya 90%). Sitostatika Pemakaian sitostatika belum memuaskan.Rehabilitasi Rehabilitasi setelah operasi sangat penting karena telah diketahui bahwa tumor ganas laring yang diterapi dengan seksama memiliki prognosis yang baik. rehabilitasi mencakup : “Vocal Rehabilitation.

Adanya metastase ke kelenjar limfe regional akan menurunkan 5 year survival rate sebesar 50%. Hal ini dikarenakan secara anatomis.8 25 .2.adanya wadah perkumpulan guna menghimpun pasien-pasien tuna laring guna menyokong aspek psikis dalam lingkup yang luas dari pasien. pilihan pengobatan. baik sebelum maupun sesudah operasi. glotis tidak memiliki saluran limfe serta vaskularisasi yang lebih sedikit dibandingkan supraglotis dan subglotis. lokasi tumor dan kecakapan tenaga ahli. Selain itu prognosis juga tergantung dari stadium tumor.3 2.12 Prognosis Prognosis keseluruhan baik dengan angka harapan hidup yang terbaik pada pasien tumor ganas glotis dibandingkan supraglotis dan subglotis. stadium III 60 – 70% dan stadium IV 40 – 50%. Secara umum dikatakan five years survival pada karsinoma laring stadium I 90 – 98% stadium II 75 – 85%.

Dikatakan oleh beberapa ahli bahwa perokok dan peminum alkohol merupakan kelompok orang yang dengan resiko tinggi terhadap karsinoma laring. pemeriksaan laring secara langsung maupun tidak langsung. Pemeriksaan penunjang juga dilakukan. Pembesaran kelenjar getah bening pada leher dipertimbangkan sebagai metastasis tumor ganas yang menunjukan tumor pada stadium lanjut. Terpajan dengan sinar radioaktif pun dikatakan dapat menyebabkan penyakit ini. kotak suara (laring). foto thorak dan CT Scan laring. disfagia.1 Kesimpulan Kanker Laring adalah keganasan pada pita suara. gejala ini disebabkan oleh sumbatan jalan nafas oleh massa tumor. Suara serak merupakan gejala utama karsinoma laring. nyeri alih telinga ipsilateral. batuk. Karsinoma sel skuamosa adalah karsinoma awal setempat yang berasal dari epitel skuamosa serta tampak sebagai sel-sel kuboid dan keratinisasi. penurunan berat badan dapat juga terjadi pada pasien. Etiologi dari karsinoma laring belum diketahui secara pasti. merupakan gejala paling dini tumor pita suara. hemoptisis. Diagnosis dapat ditegakkan dengan anmnesis. Diagnosis pasti 26 36 . Tumor pada laring terbagi menjadi 2. Nyeri tenggorok. halitosis. Karsinoma sel skuamosa merupakan keganasan laring yang paling sering terjadi (94%). seperti pemeriksaan laboratorium. hanya kurang dari 5% dari seluruh tumor laring. penumpukan kotoran atau sekret dan fiksasi oleh pita suara. Tumor laring merupakam tumor yang cukup sering ditemui di THT. Tumor laring jinak jarang ditemukan.BAB III PENUTUP 3. Nyeri tekan laring positif bila sudah terjadi komplikasi. yaitu tumor laring jinak dan tumor laring ganas. Dispnae dan stidor cukup sering ditemukan juga.

radiasi maupun operasi tergantung dari ukuran dan lokasi dari tumor itu sendiri. Tergantung dari stadium tumor. 27 . lokasi tumor dan kecakapan tenaga ahli. pilihan pengobatan. Stadium awal tumor kepala dan leher merupakan penyakit yang dapat disembuhkan bila mendapatkan pengobatan yang tepat.ditegakkan dengan pemeriksaan patologi anatomi dan biopsi jarum halus pada pembesaran kelenjar getah bening di leher. stadium III 60 – 70% dan stadium IV 40 – 50%. Keputusan untuk pengobatan. Secara umum dikatakan five years survival pada karsinoma laring stadium I 90 – 98% stadium II 75 – 85%. keadaan pasien dan tentu saja pengetahuan dan pengalaman dokter yang menanganinya. Adanya metastase ke kelenjar limfe regional akan menurunkan 5 year survival rate sebesar 50%. Dan hasil dari patologi anatomi yang terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa.

8. http://library.unand. 5. 2015 28 . 369-447 2. Utgeverij Acco. Jakarta. http://jurnal. H e r m a n i B . Pukul 20.ac. h. d k k . Eds. EGC. NEUS-EN OORHEELKUNDE”. Boies. Thirteenth Edition. In: Dissease of the Nose. 13258. 2011. Throat. FKUI.DAFTAR PUSTAKA 1. 7. Edisi II.id/download/fk/tht-siti %20hajar. Hongkong. 6. Ballenger JJ. Broek VP. “ZAKBOEK KEEL-. Tokyo. Buku Ajar Onkologi Klinis.id. h 194-98. Jakarta. Spector JG. Edisi XI. 1997. Jakarta:FKUI.pdf. Head and Neck. EGC. 2007. Philadelphia. Lawrence R. h. Tumors of the larynx and laryngopharynx. Irfandy D. Diagnosis dan Penatalaksanaan Tumor Ganas Laring. Hall.27887 4.usu. Baltimore. Guyton. Edisi ke-12. Siti Hajar Haryuna. T u m o r L a r i n g . Jr. D a l a m S o e p a r d i E A .fk. Munich. Desen W. Buku Ajar Penyakit THT. 2007. 620-25. 2009. pen yu nting. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher. 3.. Diunduh pada tanggal 22 September 2012. Feenstra L. Edisi ke-6. Jakarta.00 WIB. Belgium. Edisi VI. Ogura JH.ac. Sidney. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ear. Rahman S. h. London. Lea & Febiger 1996: p.