Anda di halaman 1dari 1

Bagaimanakah efek pemakaian ganja terhadap otak?

Zat psikoaktif utama yang terdapat pada ganja adalah delta-9-tetrahydrocannabinol, atau THC. Saat ganja
dihisap, maka dengan cepat THC akan masuk ke dalam paru-paru lalu ke aliran darah. Oleh darah, THC
lalu dialirkan ke otak dan mengalami penyerapan. Kecepatan penyerapan THC akan lebih lambat jika
ganja/marijuana tersebut ditelan bersama makanan atau minuman.
Di dalam otak, THC akan berikatan dengan cannabinoid, sebuah reseptor yang terdapat pada otak (CB1
dan CB2). THC kemudian mengaktifkan reseptor ini meskipun tidak sesempurna seperti yang dilakukan
endocannabinoid (zat kimia dalam tubuh yang mengaktifkan cannabinoid). Akibat dari aktifasi
cannanbinoid ini adalah seseorang dapat mengatur suasana hati, tidur, dan nafsu makan pada jangka
waktu tertentu. Dan ini lah yang mendasari efek yang ditimbulkan oleh ganja.
Tingginya kadar cannabinoid reseptor pada otak dapat mempengaruhi mood, daya ingat, kemampuan
berpikir, konsetrasi, dan persepsi. Namun, penggunaan ganja jangka panjang dapat menyebabkan
overaktivitas sistem endocannabinoid yang dapat menyebabkan efek negatif seperti terjadinya gangguan
persepsi dan halusinasi, gangguan koordinasi, kesulitan dalam berpikir dan memecahkan masalah, dan
dapat mengganggu proses belajar dan daya ingat.
Adakah hubungan antara pemakaian ganja dengan gangguan jiwa?
Dalam beberapa dekade terakhir, penelitian telah difokuskan pada hubungan antara pemakaian ganja
dengan gangguan jiwa. Apakah penggunaan ganja benar-benar menyebabkan penyakit jiwa? Bukti ilmiah
terbaru menunjukkan bahwa terdapatnya hubungan antara penggunaan ganja dengan psikosis atau
gangguan jiwa. Sebagai contoh, serangkaian penelitian prospektif yang diikuti oleh sekelompok orang
dari waktu ke waktu menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan ganja dengan perkembangan
gangguan jiwa pada tahapan berikutnya.
Penggunaan ganja juga dapat memperburuk kondisi pasien yang menderita skizofrenia dan dapat
menghasilkan reaksi psikotik singkat pada beberapa pemakai saat berhenti menggunakannya. Jumlah
ganja yang digunakan, usia saat pertama sekali menghisap ganja, dan kerentanan genetik dapat
mempengaruhi hubungan antara ganja dengan gangguan jiwa. Dalam sebuah penelitian didapatkan
adanya peningkatan resiko terjadinya gangguan jiwa pada orang dewasa yang telah menggunakan ganja
sejak remaja dan pada mereka yang memiliki gen spesifik dalam tubuh yang merangsang catechol-Omethyltransferase (COMT), enzim yang mendegradasi neurotransmiter dopamin dan norepinefrin. Kedua
neurotransmitter ini sangat berperan pada gangguan prilaku dan gangguan psikiatrik (jiwa)