Anda di halaman 1dari 24

JOURNAL READING

Sindrom Kompartemen pada Cruris dan Pedis
Diterjemahkan dari

COMPARTMENT SYNDROME OF THE LOWER LEG AND FOOT
Michael Frink MD, Frank Hildebrand MD, Christian Krettek MD, Jurgen Brand MD, and Stefan Hankemeier MD
Clin Orthop Relat Res 2010; 468: 940−950

Oleh:
I Gusti Ayu Putri Purwanthi
(NIM. 1002005126)
Pembimbing :
dr. I Gusti Lanang Ngurah Artha, Sp.OT (K)

KEPANITERAAN KLINIK MADYA
(KKM)
BAGIAN SMF BEDAH
RSUP SANGLAH, BALI

OUTLINES
PENDAHULUAN
ANATOMI

PATOFISIOLOGI
DIAGNOSIS & PENATALAKSANAAN
HASIL & DISKUSI

Dekompresi bedah  intervensi terapeutik . Sindrom kompartemen dari cruris  lebih rendah Iskemia  disfungsi pada saraf dan otot yang permanen.Sindrom kompartemen akut  komplikasi fraktur. trauma jaringan lunak. dan cedera reperfusi setelah obstruksi arteri akut Insiden sindrom kompartemen pada pedis  6% pada kecelakaan sepeda motor.

OUTLINES PENDAHULUAN ANATOMI PATOFISIOLOGI DIAGNOSIS & PENATALAKSANAAN HASIL & DISKUSI .

KOMPARTEMEN CRURIS .

KOMPARTEMEN CRURIS .

KOMPARTEMEN CRURIS .

KOMPARTEMEN PEDIS .

KOMPARTEMEN PEDIS .

OUTLINES PENDAHULUAN ANATOMI PATOFISIOLOGI DIAGNOSIS & PENATALAKSANAAN HASIL & DISKUSI .

Patofisologi .

Patofisologi .

Patofisologi Kerusakan saraf dan otot yang ireversibel  5 sampai 6 jam setelah terjadinya iskemia. yang dapat menyebabkan disfungsi ginjal . Jaringan otot bereaksi terhadap iskemia dengan pembentukan bekas luka yang mengakibatkan perlekatan myotendinous dan kontraktur. Studi klinis yang lebih baru  nekrosis otot terjadi dalam 3 jam pertama. Kontraktur otot  kekakuan dan deformitas distal pada kompartemen yang terkena. Nekrosis otot  myoglobinemia.

OUTLINES PENDAHULUAN ANATOMI PATOFISIOLOGI DIAGNOSIS & PENATALAKSANAAN HASIL & DISKUSI .

DIAGNOSIS Pain Paresthesia Paresis Pain with Strecth Pulse Examination Pink Skin Colour + Invasive Measurements .

PENATALAKSANAAN CRURIS Dekompresi semua kompartemen  insisi lateral tunggal atau insisi gabungan anterolateral dan posteromedial Insisi parafibular  sepanjang cruris Septum intermuskularis antara kompartemen posterior lateral dan superfisial  diidentifikasi dan harus dibagi secara longitudinal. DP = kompartemen deep posterior. Pendekatan lateral menggunakan insisi longitudinal. L = kompartemen lateral. SP = kompartemen superficial posterior . A = kompartemen anterior. Kompartemen deep posterior  kulit dibedah secara anterior kemudian meretraksi otot peroneal Anatomical Section View dari cruris.

Sebuah penutupan definitif mungkin dilakukan setelah pembengkakan mereda. karena kompartemen lateral sulit untuk didekompresi. Namun. Pada pasien dengan pembengkakan persisten. Kompartemen medial menjadi terlihat dan dibagi secara longitudinal. mesh graft harus digunakanN . Penutupan luka sementara  sistem vacuum dressing atau kulit buatan. Halusis abduktor harus ditarik untuk mencapai kompartemen lain.PEDIS PENDEKATAN PLANTAR PENDEKATAN LATERAL Sindrom kompartemen terisolasi pada kompartemen calcaneus dengan kompresi medial dan saraf serta pembuluh darah plantar lateral  insisi plantar tunggal Insisi dimulai pada maleolus lateral dan diperluas ke kaki depan antara metatarsal keempat dan kelima. Pendekatan ini dimulai dengan insisi dari aspek plantar metatarsal pertama. kita umumnya tidak merekomendasikan hal ini.

Insisi ini memfasilitasi akses ke kompartemen interosseus dan adductor. Anatomical Section View dari forefoot. L = kompartemen lateral . S = kompartemen superfisial. M = kompartemen medial. Kompartemen interosseus pertama. A = kompartemen adductor. MT = metatarsal. dibuat dua insisi melalui jaringan subkutan untuk menjaga perfusi. Patah tulang calcaneus  insisi medial yakni medial terhadap metatarsal kedua dan insisi lateral yakni lateral terhadap metatarsal keempat. Minimalisir risiko nekrosis kulit.PEDIS PENDEKATAN DORSAL Pendekatan ini dapat dimodifikasi menjadi dua insisi dorsal pada metatarsal kedua dan keempat. otot dibebaskan dari fasia medial dan ditarik ke arah medial. Pendekatan dorsal digunakan dengan satu atau dua insisi longitudinal. Fasia dorsal setiap kompartemen interoseus dibuka secara longitudinal.

otot halusis abduktor terlepas dari fascia dan tertarik ke arah superior. Insisi medial dimulai dari origo halusis abduktor (kira-kira 3 cm di atas permukaan plantar dan 4 cm dari posterior tumit) dan diperpanjang hingga ke permukaan plantar. Fascia putih yang terlihat adalah barrier kompartemen calcaneus dan sebaiknya dipisahkan secara longitudinal. sepanjang 6 cm. Fascia dari halusis abduktor dapat terlihat dan terbagi sesuai dengan insisi kulit. Sebuah insisi longitudinal akan melepaskan kompartemen ini. Kompartemen medial dibawa ke arah superior. skin graft atau penutupan vacuum-assited .PEDIS PENDEKATAN MEDIAL PLANTAR Dekompresi kompartemen calcaneus  pendekatan medial plantar yang dikombinasikan dengan pendekatan dorsal untuk dekompresi semua kompartemen pedis. Otot flexor digitorum brevis ditarik ke arah inferior sehingga bagian fascia medial daripada kompartemen lateral dapat diidentifikasi. Dekompresi kompartemen lateral dilakukan ketika otot abduktor digiti quinti dan flexor digiti minimi terlihat. sehingga kompartemen superfisial dapat diidentifikasi yakni dari bagian lateral ke medial. Setelah pelepasan dari kompartemen medial. Semua luka dibiarkan terbuka untuk mencapai penyembuhan sekunder.

Pendekatan ini menggunakan satu atau dua insisi longitudinal. Kompartemen dapat diakses dengan menggunakan pendekatan medial plantar. L = kompartemen lateral. M = kompartemen medial. Kompartemen calcaneus dapat diakses dengan menggunakan pendekatan medial plantar. C = kompartemen calcaneus. L = kompartemen lateral. M = kompartemen medial. S = kompartemen superfisial. Anatomical Section View dari hindfoot.PEDIS Anatomical Section View dari forefoot. . S = kompartemen superfisial. A = kompartemen adductor.

OUTLINES PENDAHULUAN ANATOMI PATOFISIOLOGI DIAGNOSIS & PENATALAKSANAAN HASIL & DISKUSI .

HASIL CRURIS  Studi 26 pasien dengan sindrom kompartemen traumatis pada cruris. angka kejadian infeksi dilaporkan lebih rendah PEDIS Pada suatu studi yang melibatkan 14 pasien dengan sindrom kompartemen pada pedis 4 pasien dikatakan dapat kembali bekerja dan melanjutkan kegiatan preoperative exercise 6 pasien memiliki gangguan ringan terhadap pekerjaan sehari-harinya 3 pasien mengalami komplikasi berupa kontraktur dengan claw toes.9%  nyeri saat beraktivitas 1 sampai 7 tahun setelah trauma. Pada pasien dengan skin graft.  Lebih dari 50% pasien  penurunan range of motion. .4%  nyeri saat istirahat. 15. 26.  Infeksi akibat tindakan fasciotomi terjadi pada lebih dari 38% pasien.

 Fasciotomi pada cruris dapat dilakukan dengan 2 metode insisi.DISKUSI & KESIMPULAN  Sindrom kompartemen cruris dan pedis adalah kasus yang jarang ditemukan namun merupakan komplikasi yang serius.  Meskipun tindakan fasciotomi yang segera merupakan tindakan yang dapat dilakukan pada pasien dengan sindrom kompartemen. Pendekatan yang digunakan pada dermatofasciotomi pedis sebaiknya direncanakan berdasarkan basis dari cedera yang terkait. . namun masih belum dapat ditemukan guideline untuk pasien-pasien yang berisiko.