Anda di halaman 1dari 4

CATATAN OTOKRITIK TENTANG PENGADILAN

HUBUNGAN INDUSTRIAL
February 15, 2011 No Comments
OLEH : CH. N. MEGAWATI TOBING
MEDAN, FEBRUARI 2011
I.

Pendahuluan
Pada periode tahun pertama dan kedua sejak Pengadilan Hubungan Industrial
dioperasionalkan atau tepatnya sejak bulan April 2006, ekspektasi pekerja/buruh
terhadap peradilan khusus ini tampak begitu antusias. Setidaknya hal itu terlihat dari
data kuantitas perkara di kepaniteraan PHI pada PN. Medan, yang mencatatkan
bahwa jumlah perkara tahun 2006 sebanyak 142 kasus, dan tahun 2007 meningkat
menjadi 208 kasus.( Data perkara PHI, Mei 2010)
Namun pada periode tahun 2008, jumlah perkara menurun menjadi 140 kasus,
kemudian tahun 2009 menjadi 109 kasus, dan tahun 2010 (sampai bulan April)
menjadi 29 kasus. Hal yang menarik untuk diperhatikan, bahwa dari total perkara
tahun 2006 – 2009 sebanyak 599 kasus, 329 kasus diantaranya kasasi, tetapi hingga
April 2010, hanya sekitar 30 kasus yang diputuskan oleh Mahkamah Agung. Dari 30
perkara yang telah diputuskan MA tersebut, tidak satu kasus pun diantaranya yang
berhasil dieksekusi oleh pengadilan sampai dengan bulan April 2010. Padahal
eksekusi adalah ujung tombak keberhasilan PHI dalam menegakkan hukum dan
kepastian hukum.
Tingginya antusiasme masyarakat khususnya pekerja/ buruh)terhadap PHI yang
dibentuk berdasarkan UU No. 2 Tahun 2004, tentu saja merupakan respons yang
sangat logis. Sebab, Penjelasan Umum UU ini menegaskan bahwa PHI merupakan
konsep tanding terhadap sistem penyelesaian perselisihan perburuhan berdasarkan
UU No. 22 Tahun 1957, yakni P4D/ P4P (Panitia Penyelesaian Perselisihan
Perburuhan Daerah/ Pusat), yang dinilai tidak mampu mewujudkan penyelesaian
perselisihan perburuhan secara cepat, tepat, adil dan murah. Alasannya, selain
penyelesaian perselisihan yang memakan waktu sangat panjang dan berlarut-larut,
putusan P4D/ P4P dinilai tidak final karena adanya hak veto menteri dan tidak
memiliki kepastian hukum karena putusannya dapat digugat di PTUN. Bahkan
putusannya juga dinilai tidak pro buruh karena komposisi panitia tidak mencerminkan
pluralitas kebebasan serikat pekerja/ serikat buruh. Maka sebagai konsep tanding, PHI
diharapkan menjadi satu sistem penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang
efektif dan mampu menyelesaikan perkara secara cepat, tepat, adil dan murah.( Data
perkara PHI, Mei 2010)
II. Sebuah Paradoks
Sebagaimana tercermin dari spirit Pasal 56 dan Pasal 60 UU No. 2 Tahun 2004 bahwa
sistem peradilan PHI dirancang hanya dalam dua tingkat, yakni :

pengajuan gugatan (Pasal 81). konklusi. dan batas waktu untuk memutus perkara (Pasal 103 dan 115). adil dan murah. Itu artinya. telah membuat PHI tidak akan mampu berjalan efektif untuk mewujudkan penyelesaian perselisihan secara cepat. jawaban. kuasa hukum (Pasal 87). tepat. bahwa masalah paling fundamental mengapa PHI tidak dapat mewujudkan sistem penyelesaian perburuhan secara cepat. adalah berkaitan dengan hukum acara PHI. Pasal 103. mediasi paling lama 30 hari dan secara litigasi di PHI pada PN paling lama 50 hari. 2 Tahun 2004 PHI sebagai sistem penyelesaian perburuhan secara cepat. 2 Tahun 2004 adalah peradilan khusus yang bersifat ‘lex specialis’. Pasal 57 UU No. 2 Tahun 2004. bahwa sepanjang PHI masih berdasarkan hukum acara perdata umum (HIR/ RBg). mulai dari pembuatan gugatan. dan mengadili perselisihan kepentingan dan perselisihan antar serikat pekerja/ serikat buruh dalam satu perusahaan di tingkat pertama dan terakhir. tepat. menegaskan bahwa hukum acara PHI adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku pada Peradilan Umum. Tak hanya itu. maka sistem peradilan PHI yang cepat. 2 Tahun 2004. adil dan murah hanyalah utopia. 2 Tahun 2004. masalah yang paling krusial justru eksekusi terhadap putusan perkara yang telah berkekuatan hukum tetap tidak dapat berjalan secara efektif. sebab hukum acara perdata versi HIR/ RBg pada hakekatnya adalah proses panjang dan formalistis. serta di Mahkamah Agung paling lama 30 hari. 2 Tahun 2004. PHI pada Mahkamah Agung yang hanya berwenang untuk mengadili perselisihan hak dan PHK di tingkat terakhir. terutama penyelesaian kasasi di Mahkamah Agung yang mencapai waktu berkisar 2 hingga 3 (tiga) tahun lebih. semuanya berdasarkan Hukum Acara Perdata sebagaimana diatur dalam HIR atau RBg. adil dan murah.(1). Beranjak dari kajian analisis terhadap kontens dan substansi UU No. maka pada prinsipnya PHI di Indonesia adalah sebuah peradilan yang sederhana dan cepat. Meskipun hakekat PHI sebagaimana diatur dalam Pasal 55 UU No. untuk mengoreksi sistem P4D/P4P yang tidak efisien dan tidak . namun realitasnya justru UU No. putusan. Pasal 115 UU No. tetapi dalam realitasnya penyelesaian perkara perburuhan ini justru berjalan sangat lambat. kasasi dan eksekusi. Konsekuensi logis dari HIR/ RBg. replik. pembuktian. Demikian pula pada Pasal 3 ayat 2. duplik. Demikian pula dalam hal upaya hukum dalam UU No. adil dan murah. pengajuan gugatan. 2 Tahun 2004 sama sekali tidak memuat mekanisme dan prosedur khusus untuk berperkara. PHI pada PN yang berwenang untuk mengadili perselisihan hak dan PHK di tingkat pertama. Meskipun spirit dasar dari UU No. bahwa batas waktu penyelesaian perkara secara nonlitigasi berupa bipartite paling lama 30 hari. tepat. hingga akhirnya melahirkan persoalan baru menggejalanya penyelesaian putusan perkara secara “negosiable justice” (negosiasi keadilan). (2). adil dan murah. 2 Tahun 2004 pada dasarnya hanya mengenal kasasi pada Mahkamah Agung sebagai satu-satunya upaya hukum terhadap putusan PHI pada Pengadilan Negeri. Selebihnya tentang mekanisme dan prosedur berperkara. tepat. Semangatnya. PHI memanglah dirancang untuk sistem peradilan yang cepat. tepat. Pasal 15. UU ini hanyalah memuat beberapa pasal kekhususan tentang biaya perkara (Pasal 58). sepanjang tidak diatur secara khusus dalam UU No.

(Sudikno Mertokusumo: 2006. tepat. Prorogasi. Pasal 103 s/d 112 UU No. HGB. 2 Tahun 2004 mengatur bahwa : “Sub kepaniteraan PHI pada PN dalam waktu selambatlambatnya 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak penerimaan permohonan kasasi harus sudah menyampaikan berkas perkara kepada Ketua Mahkamah Agung”. bahwa terbukanya ruang untuk melakukan berbagai bentuk upaya hukum / perlawanan hukum terhadap putusan PHI pada PN maupun PHI pada Mahkamah Agung. ada juga jenis perlawanan hukum lain berupa perlawanan terhadap eksekusi oleh pihak ketiga yang tidak hanya dapat dilakukan atas dasar hak milik. Perlawanan Pihak Ketiga (Derdenverzet). 125 ayat (3) jo. mengatur tentang bagaimana upaya hukum itu dilakukan oleh para pihak. Pasal 112 UU No. yakni upaya hukum terhadap putusan verstek yang dijatuhkan tanpa hadirnya tergugat (Ps. Hal. Akan tetapi bias dari Pasal 57 UU No. yakni peninjuan kembali terhadap suatu putusan perkara perdata yang telah mendapat kekuatan hukum yang tetap karena adanya perkembangan baru yang sebelumnya tidak diketahui oleh hakim. yakni pembatalan putusan atas penetapan pengadilan. (Pasal 29. Peninjauan kembali (Request civiel). 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung). Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Perdata Umum dan Perdata Khusus (Buku II). adil dan murah. Secara teknis. Kasasi. hak tanggungan. III. tentu saja semakin memperpanjang proses penyelesaian perkara dan semakin menjauhkan hakekat PHI tentang sebuah peradilan yang cepat. 129 HIR / Ps. Tetapi. 236) 3.pengadilan dari semua lingkungan peradilan dalam tingkat peradilan terakhir. ( Anonim.30 UU No. (Sudikno Mertokusumo: 2006. dll. 239) 4. Verzet. di antara ruang yang tersedia barangkali ada sisi yang sekecil apapun dapat mempertimbangkan rasa keadilan. Sudikno Mertokusumo: 2006. 149 ayat (3) jo. 2 Tahun 2004. sebagai berikut : 1. Mahkamah Agung RI. Mengutip filsafat hukum klasik bahwa : “sebaik apapun .memiliki kepastian hukum (lihat pendahuluan). Penutup Tulisan ini tentu saja sangat diharapkan mampu sebagai media untuk mengeksplor gagasan – gagasan kritis kita terutama dalam merespons persoalan PHI secara konkrit. yakni bantahan dari pihak ketiga yang terkena penyitaan. Purba: 2009:113) Selain itu. Lebih lanjut. upaya hukum atau perlawanan dalam PHI telah berkembang menjadi konstruksi hukum yang sedemikian luas terhadap PHI sebagaimana terkandung dalam hukum acara perdata umum (HIR/ RBg atau Rv). akan tetapi juga dilakukan atas dasar hak-hak lainnya seperti hak pakai. Hukum acara PHI adalah persoalan yang bersifat struktural dan untuk mengamandemen atau merubahnya bukanlah otoritas kita. (Michael R. (Michael R. 153 RBg). yaitu kepada hakim dalam tingkat peradilan yang lebih tinggi. 2007. Pasal 111 UU No. HGU. hak sewa. Purba: 2009: 369) 5. Jakarta. 2 Tahun 2004 mengatur bahwa : “Salah satu pihak atau para pihak yang hendak mengajukan permohonan kasasi harus menyampaikan secara tertulis melalui sub kepaniteraan PHI pada PN setempat”. 101) Satu catatan penting. 2 Tahun 2004. 232) 2. yakni pengajuan suatu sengketa berdasarkan suatu persetujuan kedua belah pihak kepada hakim yang sesungguhnya tidak berwenang memeriksa sengketa tersebut.

Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Perdata Umum dan Perdata Khusus (Buku II). Widyatamma. Penerbit Liberty. Michael R. 4. Kamus Hukum Internasional. Hukum Acara Perdata Indonesia. Jogyakarta. Penulis adalah Hakim Ad Hoc PHI pada PN Medan. Jakarta. Mei 2010 2. Medan. Data perkara PHI. Anonim. Hal. Terima kasih. Mei 2010) 3. 2007. Daftar Referensi 1. Medan. 2009 5. Data perkara PHI. 2006. Purba. 101 . Mahkamah Agung RI. Sudikno Mertokusumo.hukum sangat tergantung pada pelaksananya”. Jakarta. akhirnya semoga tulisan ini berguna bagi kita semua. Kepaniteraan PHI pada PN. Kepaniteraan PHI pada PN.