Anda di halaman 1dari 15

Keadilan restoratif dan Sistem Peradilan Pidana di Indonesia

Indonesia merupakan negara yang berdasar atas hukum, demikian disebutkan
dalam Pasal 1 Ayat (3) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 (Republik Indonesia, 2002:1). Negara Hukum bersandar pada keyakinan
bahwa kekuasaan negara harus dijalankan atas dasar hukum yang adil dan baik.
Ada dua unsur dalam negara hukum, yaitu pertama, hubungan antara yang
memerintah

dan

yang diperintah

tidak berdasarkan

kekuasaan

melainkan

berdasarkan suatu norma objektif, yang juga mengikat pihak yang memerintah, dan
kedua, norma objektif itu harus memenuhi syarat bahwa tidak hanya secara formal,
melainkan dapat dipertahankan berhadapan dengan ide hukum.
Usaha melindungi masyarakat dalam kehidupan yang damai, aman dan tertib atas
segala gangguan dari pelaku pelanggar norma, maka salah satu sarana untuk
menanggulanginya dengan hukum pidana. Menurut E. Utrecht (1968) dalam Faal
(1991:4) bahwa hukum pidana merupakan hukum yang bersifat represif, hukum
yang mempunyai sanksi istimewa, hukum ini tak kenal kompromi, walaupun
seumpama si korban tindak pidana sudah memaafkan, mendamaikan dengan si
pelaku dan atau sudah menerima nasib agar pelakunya dimaafkan atau tidak
dituntut, namun hukum pidana itu bersikap tegas, hukum harus ditegakkan dan
pelaku harus ditindak.
Kekuatan hukum pidana tersebut diimbangi dengan berbagai kelemahan terkait
sanksinya, yaitu bahwa sanksi pidana keras/kejam, operasionalisasi dan aplikasinya
memerlukan sarana pendukung yang lebih bervariasi dan membutuhkan biaya yang
tinggi, mengandung sifat kontradiktif/paradoksal yang berefek samping negatif,
bersifat pengobatan simptomatik (kurieren am sympton), hukum pidana hanya
sebagian kecil dari sarana kontrol yang tidak mampu mengatasi masalah kejahatan
sebagai masalah kemanusian yang sangat kompleks, sistem pemidanaan bersifat
fragamentair dan individual/personal, serta keefektifan pidana masih tergantung
pada banyak faktor, karenanya penggunaannya harus sebagai upaya terakhir
(ultimum remedium) (Arief, 1998:139-140).
Berkaitan dengan hukum pidana, terkait pula pemidanaan, yaitu penjatuhan nestapa
atau derita kepada pelaku tindak pidana, pemberitaan derita atau nestapa ini

korban atau masyarakat secara umum. yang memiliki sifat imperatif atau memaksa (Sudikno Mertokusumo. Namun pada perkembangannya norma hukum pidana sudah mengarah pada tahapan terlalu berlebihan. reformasi (reformation) atau perbaikan pelaku tindak pidana tidak akan bisa dicapai apabila pemidanaan tidak memberikan keadilan dan kemanfaatan baik bagi pelaku. Sementara dua tujuan lainnya (restraint dan retribution) cenderung berkaitan dengan asas kepastian dalam pemidanaan. sementara belum tentu semua peraturan perundanganundangan membutuhkan sanksi pidana sebagai sarana imperatif dari ruang lingkup yang diaturnya. Restraint.Z. begitu pula sebaliknya. Mengapa pemidanaan harus melihat asas keadilan dan asas kemanfaatan? Patut diperhatikan bahwa berangkat dari tujuan pemidanaan yang dalam literatur biasanya dikenal dengan 3R dan 1D yaitu Reformation. sementara melihat fakta di . 1999:16). maka apabila pemidanaan hanya memiliki asas kepastian tanpa memperhatikan asas keadilan dan kemanfaatan maka bisa saja tujuan pemidanaan di atas tidak dapat tercapai. selain tentunya memberikan keadilan dan kemanfaatan kepada masyarakat secara umum. setiap penjatuhan pidana setidaknya memenuhi asas keadilan. kepastian dan kemanfaatan. mengingat penjatuhan pidana yang tegas atau pasti belum tentu menjamin adanya keadilan dan kemanfaatan. 2010 : 42). hampir setiap peraturan perundang-undangan yang dirumuskan dan ditetapkan memiliki sanksi pidana di dalamnya. Meskipun pada prakteknya tidak mudah. Abidin dan Andi Hamzah. Norma hukum atau secara khusus hukum pidana dan pemidanaannya merupakan rumusan dari penguasa (negara). Perumusan yang lahir dari penguasa (negara) pemidanaan harus memiliki wibawa agar dapat dipatuhi oleh masyarakat yang diatur oleh norma hukum pidana tersebut.memiliki tujuan untuk pembalasan dan pencegahan. Dalam rangka penegakan hukum pidana. Retribution dan Detterence (A. begitu pula dengan tujuan pencegahan (detterence) yang dapat diartikan memberikan efek jera kepada pelaku tindak pidana dan menunjukkan wibawa kepada pihak lain yang mungkin akan melakukan tindak pidana yang sama bisa saja tidak tercapai bila dalam pemidanaan tidak memberikan keadilan dan kemanfaatan kepada masyarakat umum. Sebagai contohnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika yang masih merumuskan sanksi pidana kepada para pelaku tindak pidana terkait narkotika dan psikotropika.

Keadilan Restoratif dan Sistem Peradilan Pidana di Indonesia Sebelumnya. namun nestapa dan derita semata. Contoh seperti ini yang kemudian dapat digolongkan pada overkriminalisasi. The most restrictive category consists of process-based definitions emphasizing the importance of encounters between the stakeholders in the crime and its aftermath. . The most expansive category consists of justice-based definitions emphasizing the outcome and/or value of restorative justice (Van Ness. definitions fall into one of two categories. Van Ness mengemukakan sebagai berikut : There is no single accepted definition of restorative justice. tentu tanpa mengabaikan hak-hak asasi setiap warga negara. Typically. 2005:3). Dengan berjalannya waktu dunia hukum terus mengalami perkembangan paradigma menyangkut peradilan pidana terutama di Indonesia. dimana terlalu banyak perbuatan yang dirumuskan ke dalam perbuatan pidana dan harus dijatuhi sanksi pidana. Pendekatan kekinian dalam sistem peradilan pidana tersebut adalah keadilan restoratif (restorative justice). dan masyarakat luas dengan seadil-adilnya. perlu dipahami mengenai keadilan restoratif. Amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pada alinea keempat tujuan negara Republik Indonesia salah satunya adalah melindungi segenap bangsa Indonesia. however. Daniel W. Beragam definisi dan konsep tentang keadilan restoratif yang dikemukakan oleh para ahli. Banyak negara mulai meninggalkan cara kusut dan kuno dalam rangka penegakan hukum pidana yang tidak manusiawi menuju pada pendekatan yang humanis serta ujung pangkalnya yaitu memulihkan keadaan kembali kondisi semula sebelum terjadi kejahatan.lapangan para pengguna narkoba (narkotik dan obat-obatan terlarang) sebenarnya lebih membutuhkan rehabilitasi dibandingkan sanksi pidana penjara. Overkriminalisasi dapat menimbulkan ketakutan dan ketidakpercayaan masyarakat akan hukum dan aparaturnya karena bukan lagi keadilan yang didapat. Pelaku maupun korban dalam kasus hukum pidana membutuhkan proyeksi yang sebanding dalam konteks keadilan yang proporsional. pelaku kejahatan. Makna yang bisa dipetik di sini adalah negara wajib melindungi setiap warga negaranya baik sebagai korban kejahatan.

serta masyarakat. “restorative justice is not a single coherent theory or perspetive on crime and justice. dan keadilan transformatif. Ada beberapa istilah lain yang dipakai dengan makna yang mirip dengan keadilan restoratif. Restorative justice is a theory of justice that emphasizes repairing the harm caused or revealed by criminal behaviour. and the community in passive roles. but a loose unifying term which encompasses a range of distict ideas. 1990:181). keadilan positif. Istilah yang paling mirip atau memiliki makna yang sama adalah keadilan transformatif. 2005:3). Coates dan Elizabeth Lightfoot mengatakan bahwa. Kay Harris dalam Atalim (2013:144) mengatakan. It creates obligations to make things right. Robert B. reconciliation and reassurance” (Howard Zehr. M. keadilan relasional. Instead of viewing the state as the primary victim in criminal acts and placing victims. bukan memuaskan . restorative justice recognizes crime as being directed against individual people” (Mark S. and proposals”. the offender and the community in a search for solution which promote repair. ”viewed through a restorative justice lens. practice. Betty Vos. keadilan partisipatif. It is best accomplished through inclusive and cooperative processes (Van Ness.al. “restorative justice and transformative justice are two names for the same thing and prperly understood. keadilan restoratif sebagai sebuah konsep dapat dimaknai sebagai sebuah pendekatan untuk keadilan yang berfokus pada kebutuhan korban. “crime is a violation of people and relationship. offenders.Van Ness lebih lanjut mengemukakan bahwa bahwa dari kedua kategori definisi di atas dapat dikombinasikan sehingga ditemukan satu definisi yaitu. Justice involves the victim. pelaku. 2005:255). Johnstone dalam Atalim (2013:143) menyatakan bahwa. the terms should be considered interchangeable”. melainkan pendekatan restoratif (Atalim. “Restorative justice offers a very different way of understanding and responding to crime. et. Umbreit. Mark S. Beberapa praktisi bependapat pula bahwa istilah paling cocok bagi konsepsi ini bukan keadilan restoratif. Sementara itu Howard Zehr berpendapat bahwa. Misalnya keadilan prosedural. 2013:144). Meskipun terdapat beragam pendapat dan pengertian. keadilan real.Umbreit.

penyembuhan (healing). perbaikan (repair). Pendekatan yang digunakan untuk mewujudkan tujuan tersebut adalah mengupayakan proses mediasi antara korban dan pelaku. Liebmann dalam Atalim (2013:145) merumuskan tujuan utama keadilan restoratif yakni: “Restorative justice aims to restore the well-being of victims. Keadilan restoratif menantang kita untuk memikirkan “kejahatan”. Keragaman ini tentu tidak hanya memperkaya khazanah teoritis tentang keadilan restoratif. Harus diakui bahwa terdapat beranekaragam pemahaman dan definisi tentang keadilan restoratif. sementara pelaku didorong untuk mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka. pertemuan dan dialog antara korban dan pelaku yang melibatkan keluarga dan masyarakat luas. tanggung jawab (responsibility). and to prevent further offending”. dan ketulusan (sincerity). dan menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab pelaku dan korban. kesepahaman (mutuality). penyesalan dan tobat (repentance). melainkan guna mereparasi dan merestorasi korban dan pelaku. “korban”. dan dalam proses tersebut tetap melibatkan penegak hukum yang merupakan kepanjangan tangan dari negara. Keadilan restoratif harus dapat dilihat sebagai perangkat ide yang ingin melampaui penegakkan keadilan konvensional yang sudah mapan. masyarakat membantu memberikan pendapat serta solusi. Keragaman pemahaman konseptual dan praktik keadilan restoratif itu bukanlah sesuatu yang fatal sehingga ide tersebut layak untuk diterima. offenders and communities damaged by crime. kejujuran (honesty). dan “reaksi terhadap pelaku” secara baru. melainkan sekaligus merefleksikan keragaman kepentingan dan ideologi yang terlibat dalam proses penegakkan keadilan restoratif ketika ide tentang keadilan tersebut didiskusikan.prinsip-prinsip hukum abstrak atau menghukum pelaku. Maka nilai keadilan terletak pada dialog (dialogue). Semangat utama keadilan resoratif adalah tidak terutama untuk mengadili dan menghukum pelaku. Korban mengambil peran aktif dalam proses. Howard Zehr (1955) dalam Atalim (2013:145-146) membuat peta perbedaan antara keadilan restoratif dengan keadilan retributif yang bisa dirangkum dalam tabel berikut: .

Offender accountability defined as taking punishment understanding impact of action and helping decided how to make things right 12. Stigma of crime removable through restorative action 16. Victim’s and offender’s role recognised in a. komunitas/masyarakat). Community as facilitator in restorative abstractly by state process 9. Dependence upon proxy proffesional 17. ‘Debt’ owed to state and society in 13. No encouragement for repentance 16. dan berorientasi pada pemecahan masalah (problem solving). . social. Imposition of pain to punish and 4. Stigma of crime unremovable 15. Focus on problem-solving. Community on side line. Crime defined as violation of one person by another 2. 9. Offender accounteability defined as 11. Restitutions as a means of restaring both deter/prevent parties. Justice defined by intent and by prpcess: 5. Direct involvement by participants Sumber: Atalim (2013:145-146) Tebel perbedaan antara pendekatan pengadilan kejahatan konvensional atau keadilan retributif dengan keadilan restoratif di atas menunjukkan sisi prosedur dan hasil yang berbeda. Possibilities for repentance and and forgiveness forgiveness 17. keadilan retributif menekankan unsur eksklusi (tertutup). Action directed from state to offender: 10. on liabilities past (did he/she do it ?) and obligations. reconciliation/restorations as goal 5. Offender encouraged to take responsibility 11. on 2. pelaku. penjara). repressed: confict seen as conflict: value of conflict recognised individual vs state 7. Focus on repair of social injury 8. menuntut kesediaan dan sukarela (voluntary). Offence understood in whole contextdevoid of moral. Offence defined in purely legal terms. Interpersonal. Dari sisi proses. on future (what should be done ?) 3. dan pembalasan (menanggung akibat). represented 8. Adversarial relationshops and process 3. Victim ignored both problem and solution: b. economic. Encourage of mutuality individualistic values 10. Focus on estabilishing blame. Debt/liability to victim recognised the abstract 14. 12. Crime defined as violation of the state 1. kepentingan tunggal (menghukum pelaku). Crime recognised as interpersonal obscured. Offender passive a. political dimensions 13. Victim rights/need recognised b. Response focused on harmful behavior consequences of offender’s behavior 15. social. Dialogue and negotiations normative normative 4. Justice defined as right reationships: right rules judge by the outcome 6. Response focused on offender’s past 14. on guilt. One social injury replaced by another 7. penggunaan kekerasan/represi (kepolisian. political moral. keseimbangan kepentingan (korban. Unsur-unsur ini berbeda dengan keadilan restoratif yang menekankan inklusi (terbuka terhadap semua pihak). Encouragement of competitive. conflictual nature o crime 6.Perbedaan Keadilan Retributif dan Keadilan Restoratif Paradigma lama: Keadilan Retributif Paradigma baru: Keadilan Restoratif 1. economic.

Meskipun kepentingan korban dengan demikian dibela. Pelaku kejahatan memang perlu ‘dihukum’. . Memikul tanggungjawab mengandung pengakuan dan kesadaran bahwa ia telah melakukan kejahatan. Korban juga menghendaki agar harta bendanya kembali. terampil. Pelaku bertanggungjawab atas apa yang telah ia lakukan. Prioritas ini yang membedakan keadilan restoratif dengan sistem pengadilan kriminal konvensional. kedua pendekatan ini menunjukkan tendensi yang berbeda. Keadilan restoratif bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara berbagai kutub yang berbeda yakni antara model terapeutik dan retributif. kesalahan dan kejahatan (harm). Meskipun tujuan sistem pengadilan kriminal kkonvensional bertujuan untuk mendukung dan memulihkan korban. atau para eksekutor. alokasi perhatian dan penetapan orientasi dan tujuan hukum ke depan belumlah seimbang. pengasingan (ostracism). proses komunikasi dan dialog yang konstruktif. saling percaya. dan kebenaran secara menyeluruh. Hasil yang ingin dicapai oleh keadilan restoratif adalah kesatuan dalam pertemuan. Dukungan dan pemulihan korban menjadi prioritas. putusan ang dicapai merupakan pilihan yang realistik dan rasional. ditangkap. bahkan juga dihukum mati. diborgol. kedua belah pihak menerima tanggun jawab. staf penjara. Ini berbeda dari tendensi yang ingin dicapai dalam keadilan retributif yakni separasi (pemisahan). kebenaran legal (legal truth). dihukum. mereka juga menghendaki agar pertanyaan-pertanyaan dijawab. perkembangan. menjelaskan apa yang sebetulnya terjadi dan menanggung akibat dari perbuatannya. Pelaku kejahatan atau orang yang dianggap bersalah diincar.Dari sisi hasil dan tujuan yang ingin dicapai. dipenjara. atau orang yang bersalah. dan solusi yang diambil merupakan kesepakatan bersama dan bukan atas dasar pemaksaan pihak-pihak tertentu. semua pihak terlibat secara aktif. hakim. mereka menginginkan agar semua informasi tentang kejadian sesungguhnya diperoleh dengan cukup. dilumpuhkan. cakap. 2. tidak ada tekanan dan pemaksaan. Kepentingan korban dan masyarakat secara keseluruhan tidak dengan sendirinya ditegakkan dengan menghukum pelaku. Tetapi hasil ini hanya dapat dicapai apabila fasilitator atau mediator berperan secara tidak memihak. Agen atau institusi yang terlibat dalam proses ini hanyalah polisi. reintegrasi. jaksa. Prinsip dasar Keadilan Restoratif Marian Liebmann dalam Atalim (2013:147) menguraikan prinsip-prinsip keadilan restoratif sebagai berikut: 1. didakwa. Hukum bukanlah terutama untuk menghakimi melainkan untuk menyelaraskan tindakan dengan nilai-nilai dan kepentingan masyarakat secara keseluruhan. antara hak-hak korban dan hak pelaku dan kewajiban untuk melindungi publik. pengakuan bahwa semua pihak yang telibat sama pentingnya. fokus sistem pengadilan kriminal konvensional justru hanya terletak pada pelaku kejahatan (offender). pelanggar. tetapi ini tidak sama dengan memikul tanggungjawab atas apa yang telah ia lakukan.

dan sebagainya bisa menjadi faktor pemicu kejahatan. dan kadang-kadang ini diperlukan untuk menghentikan kejahatan. 3. Dalam kasus pencuarian misalnya. Di sini apologi bisa terjadi. keterampilan. Sementara. Tetapi banyak pelaku justru tidak memiliki kemampuan. Tetapi banyak pelaku pun tidak memahami bagaimana mereka bisa melakukan kejahatan. Dialog ini umumnya tidak terjadi untuk tidak mengatakan tidak mungkin – dalam pengadilan formal. seringkali kejahatan itu dilakukan pelaku untuk menyambung hidup. Dialog untuk mencapai kesepahaman. 4. gelandangna. dan situasi korban bisa kembali seperti semula. tetapi merupakan proses inti dalam keadilan restoratif. tetapi kadang banyak pula problem yang mengitari pelaku kejatahatan. Sekali seorang pelaku mengakui kejahatan yang ia lakukan. Pelaku berusaha untuk menghindari kejahatan serupa di masa depan. Situasi korban dan komunitas perlu dikembalikan dan diperbaiki. kejujuran. atau tidak adanya jaminan sosia dari negara bagi warga negara miskin. Apa yang terjadi pada korban dan pelaku sehingga kejahatan itu bisa terjadi ? Di sini dialog diperlukan. sehingga ia ‘terpakasa’ melakukan kejahatan lagi. Langkah logis berikut sebagai bukti tanggung jawab pelaku dan masyarakat terhadap korban adalah mengupayakan agar semua hak. miskin dan tidak mampu untukk memulihkannya secara material. Tetapi yang dibutuhkan justru lebih dari itu. minuman keras. kondisi. Poin penting dari pendekatan restoratif adalah memotivasi pelaku untuk mengubah hidupnya sendiri. Kemiskinan yang dialami pelaku secara implisit menampakkan ketidakmampuan negara menyediakan lapangan kerja. Di sini peran masyarakat luas dan negara dibutuhkan. Adanya upaya untuk menempatkan kejahatan yang sudah dilakukan pada posisi sebenarnya. 5. umumnya ia tidak ingin mengulanginya lagi. merumuskan kebijakan upah yang berpihak pada buruh. Ada banyak pertanyaan dari para korban yang tidak terjawab dalam proses pengadilan konvensional. Tidak jarang benyak korban pun mendukung restorasi pelaku guna menghindari kejahatan di masa depan. Keadilan restoratif menekankan usaha bersama dari berbagai macam sumber daya yang ada untuk mewujudkan tujun ini dan tidak menimpakan sepenuhnya kesalahan pada pelaku. Ini berarti bahwa bantuan nyata dalam menyelesaikan persoalan-persoalan ini bisa mempromosikan gaya dan kualitas hidup yang berbeda dan menghindari kejahatan serupa di masa depan. Kemiskinan. korban pun tidak jaran justru menghendaki agar pelaku ‘membayar’ kejahatan yang ia lakukan dengan membantu orang lain yang lebih tidak beruntung. broken home.termasuk mengembalikan kerugian yang diakibatkan oleh tindakannya. Unsur ini merupakan titik tolak keadilan restoratif. Pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa saya ? mengapa mobil atau rumah saya ? apa sesungguhnya terjadi ? apakah kejadian ini bisa terjadi lagi ? Hanya satu orang yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini yakni pelaku. .

yang dibutuhkan mungkin tidak hanya lembaga perlindungan saksi dan korban. dan psikologis tidak hanya terbatas pada korban. terutama setelah hukuman penjara. pekerjaan. Mencegah disparitas (perbedaan yang besar) dalam pidana yang dijatuhkan untuk perkara yang serupa. dimana dalam rangka mencapai tujuan sistem peradilan pidana ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu : 1. maka : terpidana akan melihat dirinya sebagai “kambing hitam” yang tidak beruntung dan tidak akan mau mengikuti secara sukarela program pembinaan yang ada dalam lembaga.6. menambah keluaran (output) dan mempersingkat penyidangan perkara. ia tidak perlu dialianasi atau disingkirkan. Dalam konteks sistem peradilan pidana di Indonesia. kejaksaan dan pengadilan. Efisiensi kepolisian (angka pengungkapan kejahatan yang tinggi yang disertai penyidikan yang adil) merupakan prasyarat untuk administrasi pemasyarakatan yang baik. 2. termasuk terhadap lembaga pemasyarakatan. korban pun perlu diintegrasikan ke dalam komunitas dan masyarakat. Yang dibutuhkan oleh pelaku adalah akomodasi. Jelasa bahwa pelaku perlu diintegrasikan ke dalam masyarakat. yang akan menyukarkan pembinaannya. Organisasi-organisasi karitatif yang menyediakan pelayanan konsultasi. dialogis. Mengurangi beban (penghuni) lembaga pemasyarakatan dapat pula dilakukan melalui seleksi yang ketat terhadap perkara yang memang akan diajukan ke pengadilan dan juga dengan mempergunakan kemungkinan lain daripada pidana penjara (alternatives to imprisonment). melainkan juga bisa diperluas sampai pada pelaku. Penggunaan yang berlebihan dalam penahanan sementara akan mengakibatkan lembaga pemasyarakatan menampung penghuni di atas batas kapasitasnya. Sistem peradilan pidana ini sendiri terdiri dari para penegak hukum sebagai bagian dari negara yaitu kepolisian. Di tanah air. agar terpidana tidak merasakan dirinya diperlakukan secara tidak adil dan menimbulkan rasa permusuhan terhadap komponen-komponen sistem peradilan pidana. dan relasi yang positif sebagai anggota komunitas dan masyarakat. tetapi juga perlindungan bagi pelaku. 3. Komunitas/masyarakat membantu mengintegrasikan baik korban maupun pelaku dalam masyarakat. Di sisi lain. karena kejahatan yang dialaminya ini merupakan salah satu tujuan pokok dari dukungan terhadap korban. dan hal ini sebenarnya dapat diatasi dengan mengurangi masukan (input). 2007:140). dimana sistem peradilan pidana merupakan suatu sistem yang dibangun untuk menanggulangi dan mengendalikan kejahatan dalam batas-batas toleransi yang dapat diterima (Mardjono Reksodiputro. karena bila ini tidak terlaksana. Maka dengan melihat beberapa pemikiran terkait tujuan dalam sistem peradilan pidana di atas. keadilan restoratif kemudian dapat menjadi salah satu alternatif . 4.

2. Namun sebagaimana diungkapkan oleh Eva Achjani Zulfa perkembangan konsep tentang keadilan restoratif apabila dikaitkan dengan sistem peradilan pidana menjadi kontraproduktif (2009:29). 2005:294-295). yang pertama adalah mediasi antara pelaku dengan korban. hal ini menunjukkan posisi dari keadilan restoratif yang memang berada di luar sistem peradilan pidana. 2005 :297). The victim’s rights movement works to have the right of victims to participate in the legal process recognized.Z. Restitution as a response to crime was rediscovered in the 1960’s. Abidin dan Andi Hamzah pencarian alternaif hukuman untuk pidana penjara sudah jauh dilakukan sejak usai Perang Dunia II ketika manfaat pidana penjara untuk perbaikan dan rehabilitasi penjahat ternyata tidak ada sama sekali (2010:21).dalam penyelesaian perkara pidana. keadilan restoratif patut dipertimbangkan sebagai alternatif untuk pidana yang sudah ada. Bahkan menurut A. Kemudian bentuk yang kedua adalah Family Group Conferencing yang melibatkan kelompok masyarakat lebih besar. The movement focused on the needs of victims. The informal justice movement emphasized informal procedures with a view to increasing access to and participation in the legal process. Llewellyn dan Robert Howse ada lima model atau pergerakan terkait keadilan restoratif : 1. Meskipun begitu. . Di luar sistem peradilan pidana melalui lembaga / institusi lain di luar sistem 3. Di luar sistem peradilan pidana dengan tetap melibatkan pihak penegak hukum Peluang Penerapan Keadilan Restoratif di Indonesia Ada beberapa bentuk keadilan restoratif pada prakteknya. maintaining that meeting the needs of victims would serve the interests of society more generally. Keadilan restoratif sendiri dalam korelasinya dengan sistem peradilan pidana dapat dilihat dari tiga model hubungan keadilan restoratif dengan sistem peradilan pidana yang dikemukakan dalan The Vienna Declaration On Crime and Justice 10-17 April 2000 yaitu (Eva Achjani Zulfa 2009:33) : 1. Namun setidaknya menurut Jennifer L. dimana antara korban kejahatan dan pelaku kejahatan dipertemukan dengan mediator terlatih untuk mengembangkan rencana perbaikan kondisi yang rusak akibat kejahatan atau dikenal dengan Victim Offender Mediation (Leena Kurki. dalam rangka perkembangan pemikiran terkait pemidanaan dan sistem peradilan pidana. anggota keluarga dan pihak lain untuk memastikan pelaku memenuhi kesepakatan yang dibuat (Leena Kurki. 3. Sebagai bagian dari sistem peradilan pidana 2. They focused on delegalization in an effort to minimize the stigmatization and coercion resulting from existing practices.

Dalam hal ini. sebelum kemudian mencapai kesepakatan di antara pihak-pihak yang berkonflik. Llewellyn and Robert Howse. 4.4. Moderation presumes that the parties will be able to come to terms with conflicts themselves after a few interventions. this process brings victim and offender together with a mediator to discuss crime in order to form a plan to address the situation. . The social justice movement – Van Ness and Strong use this label to refer generally to a number of different groups working for a vision of justice as concerned inherently with social well being (Jennifer L. victim/offender mediation – Originating from efforts of the Mennonite Central Committee. The mediator’s role is generally limited to creating the setting for the encounter between the parties and by placing significant issues on the foreground of their dialogue. artinya sekecil apapun konflik yang timbul akibat adanya tindak pidana atau tindak kriminal. Process mediation deals with deeply rooted mutual perceptions and modes of behaviour. In the negotiation process the mediator attempts to find an agreement acceptable to all of the parties concerned which will make it possible to coexist. 5. metode mediasi urgen untuk dilakukan agar mengembalikan “kerusakan” yang terjadi antara pelaku dan korban.1998:14-15). 2. 3. atau lebih luas tatanan sosial dan keadilan dalam lingkup masyarakat. Dapat dilihat dari uraian tahapan di atas. b. In socio-therapeutic process mediation. interventions are therapeutically enhanced. This strategy is appropriate if the parties are unable to co-operate in solving the problems directly. Zwinger menguraikan tahapan pencegahan eksakalasi konflik melalui mediasi sebagaimana dituliskan dalam Restorative Justice Practice and its Relation to The Criminal Justice System (2002:83) : 1. bahwa ada penggalian persepsi yang saling menguntungkan di antara kedua pihak. This should contribute to breaking existing neurotic ties to specific roles and other psychotherapeutically indicated problem situation. bukan pada jenis tindakan kriminalnya (Georg Zwinger. mirip dengan metode mediasi yang digunakan dalam mediasi pada konflik-konflik umum di luar masalah hukum. Mediasi ini fokus kepada kemungkinan ekskalasi konflik tersebut. This method is particularly appropriate if the participants’ loss of face has already fundamentally affected their personal identity. 2002:83). Pada dasarnya metode mediasi dalam keadilan restoratif. Reconciliation/conferencing movement – Van Ness and Strong cite two major strands in this movement: a. Family group conferencing movement in New Zealand – arising out of the Maori traditions in New Zealand. Rigid roles and relationships must be eased.

These and other measures to repair harm (if an expansive definition of restorative justice is used) are considered restorative outcomes. a sincere admission and expression of regret for their conduct. return or replacement of property. where in the offender pays back the victim through financial payments. . or in any way that the parties agree. dan kelima. Wiranata sebagaimana dikutip Eva Achjani Zulfa (2010:189-190) : 1. khususnya dalam rangka pelaku kejahatan memberikan ganti kerugian yang dialami korban (Daniel W. ketiga. menarik kemudian melihat bagaimana masing-masing masyarakat adat menerapkan sanksi adat kepada pelaku kejahatan sebagaimana dikemukakan I Gede A. conferencing (bertemu untuk saling mendengar dan mengungkapkan keinginan). kedua. 2005 :5) yaitu : The first is by offering an apology. Indonesia sebagai negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa juga memiliki banyak masyarakat adat dengan norma-norma yang berlaku di daerah masingmasing. Sementara cara yang ketiga serupa dengan kerja sosial. performing direct services for the victim. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan. A second is restitution. dimana musyawarah dalam mufakat dipandang sebagai filosofi dasar dari Indonesia sebagai negara yang berlandaskan Pancasila. keempat. reconciliation (berdamai dengan tanggungjawab masing-masing).B. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil putusan untuk kepentingan bersama. Pengganti kerugian immateriil dalam pelbagai rupa seperti paksaan menikahi gadis yang telah dicemarkan. circles (saling menunjang). Bagaimana kemudian praktek-praktek keadilan restoratif ini diterapkan di Indonesia? Hal ini kemudian dapat dilihat dari nilai dasar keadilan restoratif yang berasal dari nilai-nilai tradisional.Ada beberapa cara yang dapat digunakan dalam proses mediasi. search solutions (mencari solusi atau titik temu atas masalah yang sedang dihadapi). pada ruang lingkup di Indonesia hal ini ditunjukkan dengan keberadaan lembaga musyawarah sebagai nilai dasar dari penerapan keadilan restoratif. repair (memperbaiki atas semua akibat yang timbul).Van Ness. Sila ke-4 Pancasila mengajarkan kepada kita untuk menentukan sebuah pilihan melalui cara musyawarah. sehingga kalau di breakdown falsafah “musyawarah” mengandung 5 (lima) prinsip sebagai berikut: pertama. The third is through performing community service by providing free services to a charitable or governmental agency. sebagaimana di negara Indonesia lembaga musyawarah sering sekali digunakan sebagai sarana untuk mencapai kemufakatan. Cara yang pertama dan yang kedua dapat dilakukan melalui musyawarah.

3. sebagaimana bahwa secara filosofis kedua undang-undang tersebut: 1. Pengasingan dari masyarakat serta meletakkan orang diluar tata hukum (dalam hal ini orang yang dikenai sanksi diberikat pembatasan haknya sebagai anggota masyarakat adat). agar dapat mewujudkan peradilan yang benar-benar terbaik terhadap abh sebagai penerus bangsa. Di Indonesia sendiri praktek keadilan restoratif pada kasus pidana anak dimungkinkan untuk dilakukan dengan adanya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tetang Perlindungan Anak. pada dasarnya jaksa diberikan wewenang lebih untuk melakukan diskresi daripada polisi . yang berupa benda yang sakti sebagai pengganti kerugian rohani. Pelbagai rupa hukuman badan hingga hukuman mati.Van Ness. Sebagai contoh di New Zealand keberadaan The Children. khususnya dalam kasus-kasus terkait pidana anak. 3. bahkan apabila sudah masuk dalam pengadilan. di sejumlah negara polisi sudah mulai menggunakan proses pendekatan restoratif. substansi yang paling mendasar dalam uu ini adalah pengaturan secara tegas mengenai keadilan restoratif dan diversi. 2005:7). Pembayaran ”uang adat” kepada orang yang terkena. Penutup malu. keadilan restoratif. Praktek keadilan restoratif oleh pihak kepolisian misalnya. menjamin kepentingan 2. untuk itu kita bisa belajar dari praktek-praktek di beberapa negara. Undang-Undang ini menawarkan pada korban. Young Persons and Their Families Act of 1989 menciptakan alternatif restoratif bagi polisi yang kemudian dikenal sebagai bentuk praktek keadilan restoratif selain mediasi pelaku korban yaitu family group conferences (Daniel W. 6. peran serta semua pihak bertujuan untuk tercapainya bagi ABH maupun bagi korban. dan anak dapat kembali kedalam lingkungan sosial yang wajar. Salah satu tujuan dari dirumuskannya undang-undang ini adalah untuk mengesampingkan tindak pidana anak dari pengadilan.2. Menjadi pertanyaan pula bagaimana kemudian menerapkan praktek keadilan restoratif diterapkan dalam sistem peradilan pidana di Indonesia. pelaku dan keluarganya hukuman apa yang paling tepat untuk dijatuhkan. dengan maksud untuk: mengindari dan menjauhkan anak dari proses peradilan sehingga dapat menghindari stigmatisasi ABH. 4. permintaan maaf. 4. baik Contoh berbeda untuk penggunaan praktek keadilan restoratif bagi jaksa. 5. Selamatan (korban) untuk membersihkan masyarakat dari segala kotoran gaib.

Dengan pendekatan keadilan restoratif. Penyelesaian perkara dengan pendekatan keadilan restoratif menempatkan kejahatan/pelanggaran semata-mata bukan hanya berkaitan dengan hukum saja. Namun ini kemudian menghadapi hambatan dimana peradilan adat masih berbenturan dengan hukum positif. Keadilan restoratif menjadi pilihan yang tepat sebagai sarana rekayasa sosial dalam pengendalian kejahatan. mulai dari kewenangan. 2005 :8). melainkan permasalahan sosial yang kompleks. Tapi di negara-negara civil law pada beberapa peraturan perundangundangan tertentu jaksa diperbolehkan memberikan pendekatan restoratif pada kasus-kasus tertentu (Daniel W. 2005 :8). Sehingga dibutuhkan harmonisasi antara hukum adat dengan hukum positif yang sudah berlaku di Indonesia. Dibutuhkan pula rumusan yang jelas terkait kualifikasi tindak pidana apa saja yang dapat diselesaikan dengan pendekatan keadilan restoratif dan metode yang dipakai. .di negara-negara common law jaksa punya otoritas untuk mengesampingkan perkara. hakim dapat menggunakan pendekatan restoratif pada tahapan sebelum persidangan (pengesampingan perkara) dan bisa juga digunakan sebagai bagian dari persiapan hukuman (Daniel W. fungsi serta hubungannya dengan sistem peradilan pidana formal yang ada. sehingga penyelesaiannya bukan hanya dengan mengedepankan sistem hukum saja. masyarakat diwajibkan untuk secara aktif (bertanggung jawab) dalam penyelesaian suatu perkara.Van Ness. ini dapat dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan tersendiri (UU Sistem Peradilan Anak misalnya) atau dalam Rancangan KUHP dan KUHAP mendatang misalnya dalam tindak pidana ringan sehingga tidak muncul lagi rumusan yang mengarah pada ketidakadilan.Van Ness. Kesimpulan Pada dasarnya penerapan praktek keadilan restoratif di Indonesia memang cukup melekat dengan nilai-nilai dasar yang dimiliki warga negara Indonesia. selain pelibatan korban dan pelaku. sebaiknya juga harus ada peraturan perundangundangan yang mengatur dengan jelas tentang lembaga peradilan adat. khususnya terkait musyawarah dan bagaimana masyarakat adat di Indonesia sudah memiliki pendekatan restoratif dalam penjatuhan sanksi adatnya. Demikian pula dengan praktek keadilan restoratif yang dapat digunakan oleh hakim di pengadilan. melainkan dengan pendekatan aspek kehidupan lain secara komprehensif.

Van Ness. Beberapa Aspek Kebijakan Penegakkan dan Pengembangan Hukum Pidana. 2002. 2005. S. Liberty. Zehr. Papers from The Second Conference of the European Forum for Victim-Offender Mediation and Restorative Justice 10-12 October 2002. Mertokusumo. Mengenal Hukum Suatu Pengantar. Daniel W. Jakarta. Zulfa. Sudikno. Jennifer L. Reksodiputro. Georg. 1990. Workshop 2: Enhancing Criminal Justice Reform. Restorative Justice Practice and its Relation to The Criminal Justice System. Howard. Zwinger. Llewellyn. Glass House Press. Tanpa Kota. Universitas Indonesia. 2005. Law Commision Of Canada. Faal. Ringkasan Disertasi Keadilan Restoratif di Indonesia (Studi Tentang Kemungkinan Penerapan Pendekatan Keadilan Restoratif dalam Praktek Penegakan Hukum Pidana). 2. Yarsif Watampone. Restorative Justice A Conceptual Framework.) Governing Paradoxes of Restorative Justice. 2010. Penyaringan Perkara Pidana oleh Kepolisian (Diskresi Kepolisian). Yogyakarta. Mardjono. Including Restorative Justice.DAFTAR PUSTAKA Abidin. 6 No. 2 No. et. An Overview Of Restorative Justice Around The World. 2010.. Mark S.II.T. 1999. M. 2009. Tanpa Kota. Leena. The International Centre for Criminal Law Reform and Criminal Justice Policy. Barda Nawawi. Bandung: P.. dan Andi Hamzah. and Robert Howse. “Evaluating Restorative Justice Practices” dalam Goerge Pavlich (ed. 1998. Ontario. Jakarta. Citra Aditya Bakti. Jakarta.Z. Bangkok. Oregon. Atalim. Eva Achjani. Marquette Law Review. 1991. Paradnya Paramitha.. 2005. Restorative Justice in The Twentyfirst Century : A Social Movement Full of Opportunities and Pitfalls. 1998. Marquette University Law School. Jurnal Rechts Vinding. Kurki. Pengantar dalam Hukum Pidana Indonesia.al. Keadilan Restoratif Sebagai Kritik Inheren Terhadap Pengadilan Legal-Konvensional. Keadilan Restoratif Dan Revitalisasi Lembaga Adat Di Indonesia. 2013. ______________.T. Agustus 2013. Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum Universitas Indonesia. . Fakultas Hukum Universitas Indonesia. A.. FH Universitas Tarumanegara. Changing Lenses :A New Focus for Crime and Justice. Jakarta. Kriminologi dan Sistem Peradilan Pidana. Umbreit. 2007. Vol. Jakarta: P. Jakarta. Oostende.. Jurnal Kriminologi Vol. Herald Press. Arief.