Anda di halaman 1dari 24

UNIVERSITAS INDONESIA

KAJIAN ILMU KEPOLISIAN
Mata Kuliah : Perbandingan Hukum Kepolisian
Dosen : Prof. Dr. Farouk Muhammad

I.

SISTEM KEPOLISIAN AMERIKA SERIKAT
Amerika Serikat adalah negara federal yang berbentuk republik. Negara bagian
memegang kunci penting karena kekuasaan federal merupakan penyerahan sebagian
kekuasaan negara bagian yang semula sebagai pembentuk negara federal. Undangundang dasar yang pertama ada adalah UUD negara bagian. Dalam hal pembagian
kekuasaan antara Pemerintah Federal dengan Pemerintah Negara Bagian State
mendelegasikan kekuasaan kepada Federal Government dalam undang-undang dasar
terhadap 18 jenis urusan yaitu :
1.

Menarik pajak.

2.

Meminjam dan mencetak uang.

3.

Mendirikan kantor pos dan jalan-jalan/ jaringan pos.

4.

Mengatur perdagangan antar negara dan luar negeri.

5.

Membentuk badan-badan peradilan.

6.

Menyatakan perang.

7.

Membentuk dan memelihara Angkatan Darat /Army.

8.

Membentuk dan memelihara Angkatan Laut/ Navy.

9.

Menyelenggarakan milisi.

10.

Menyelenggarakan hubungan luar negeri.

Kekuasaan yang tetap berada pada State (Reserved Powers, Exclusive State Powers)
antara lain urusan :
1.

Mengatur perdagangan dalam state.

2.

Membentuk pemerintahan daerah (Local Government).

3.

Melindungi kesehatan, keselamatan dan kesusilaan.

4.

Melindungi jiwa dan harta benda serta memelihara ketertiban.

Di samping itu terdapat kekuasaan yang dimiliki secara bersama-sama antara federal
dan state (Concurrent Powers) . Urusan tersebut antara lain :
1.

Memungut pajak.

2.

Meminjam uang.

Created by: Rudi Setiawan, SIK

3.

Membentuk badan-badan peradilan.

4.

Membentuk dan menegakkan undang-undang.

Pemerintah federal dapat memperluas kekuasaan dengan berpatokan pada Teory
Implied Powers. Teori ini menyebutkan bahwa United State Congres diberi wewenang
untuk membuat undang-undang yang dianggap perlu dan sesuai (necessary and
power). Kewenangan yang sama juga diberikan kepada pemerintah/departemen. Di
samping implied powers di atas pemerintah federal dapat memperluas kewenangan
melalui interpretasi dari Mahkamah Agung Federal, amandemen konstitusional.
Pemerintah federal juga dapat memberikan bantuan kepada pemerintah negara bagian.
Sistem Pemerintahan
Pembagian kekuasaan di Amerika Serikat menganut azas Trias Politica di mana
kekuasaan eksekutif berada di tangan Presiden, kekuasaan legislative ada pada
Kongres (terdiri dari Senat dan House of Representatives), kekuasaan yudikatif pada
Supreme of Court/ Mahkamah Agung. Amerika Serikat juga menganut azas
“keseimbangan” (Check & Balance) di mana Presiden mempunyai hak veto tetapi
tidak mempunyai kewenangan untuk membubarkan Kongres. Presiden dalam
mengangkat jabatan- jabatan penting harus mendapat persetujuan dari Kongres (senat)
misalnya : Duta Besar, Direktur CIA, dan lain-lain. Rancangan undang-undang APBN
yang dibuat {Presiden juga harus mendapat persetujuan Kongres. Mahkamah Agung
juga dapat menyatakan Presiden melanggar UUD padahal Mahkamah Agung diangkat
oleh Presiden. Selain menganut azas Trias Politica dn azas keseimbangan Amerika
Serikat juga menganut azas Desentralisasi, Dekonsentrasi dan otonomi daerah.
Presiden adalah Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata . Untuk masalah keamanan
dalam negeri dipisahkan dari masalah pertahanan. Masalah keamanan dalam negeri
merupaka tanggung jawab masing-masing pemerintah mulai pemerintah federal,
pemerintah negara bagian, pemerintah county, pemerintah kota/rural, dan Urban
Municipality (pemerintah desa). Gubernur negara bagian bukan merupakan bawahan
Presiden tetapi otonom penuh sebagai Kepala Negara Bagian. Desentralisasi juga
terlihat dalam penyerahan urusan pemerintah menjadi urusan rumah tangga sendiri.
Penyelenggaraan pemerintahan daerah secara penuh tanpa campur tangan dari
pemerintah pusat/ federal. Dekonsentrasi terlihat dalam pelimpahan wewenang. Untuk
masalah tertentu seperti : penegakan undang-undang (Narkotika, Keamanan Negara).

2

demikian juga dengan Pemerintah Kota dan Pemerintah County tidak bertanggung jawab kepada Gubernur. Menteri Keuangan. Puerto Rico. Di sini Kepala Polisi bertanggung jawab kepada Dewan Kota. Menteri Dalam Negeri. Menteri Kesehatan. tidak ada sistem kepolisian Amerika Serikat. 3 . yang ada Dewan Pemerintah Kota/Kabupaten. Menteri Energy. Di pemerintahan federal terdapat menteri-menteri pemerintahan federal seperti : Menteri Pertanian. Presiden dalam pelaksanaan tugasnya tidak bertanggung jawab kepada kongres.Dewan Kota ini dipilih langsung oleh rakyat. Hawaii. Menurut Bruce Smith di Amerika Serikat yang ada adalah sistem-sistem kepolisian. Sementara Kepala Polsus diangkat oleh Kepala Departemen Pemerintah Negara Bagian yang bersangkutan. menteri Pertahanan. Eksekutif dipegang oleh Gubernur. Oklahoma. Terdapat 3 sistem antara lain : sistem Walikota-Dewan Kota. Setiap menteri ini mempunyai badan-badan kepolisian yang bertanggung jawab kepada Presiden. dan lain-lain (teritori khusus). Gubernur tidak bertanggung jawab kepada Presiden. namun ada juga yang diangkat oleh Board yang anggotanya dipilih oleh rakyat. Menteri Luar Negeri. legislative dipegang oleh DPR yang terdiri dari 2 kamar.City Council. Gubernur berwenang menggunakan National Guard untuk memulihkan keamanan dan ketertiban umum yang terganggu. Dalam pemerintahan ini tidak ada badan legislative. Presiden dan Wakil Presiden dipilih langsung oleh rakyat yang dalam pelaksanaan tugasnya dibantu oleh sejumlah Menteri. Commissioner atau City Council sesuai dengan sistem pemerintahannya. Gunernur bertanggung jawab atas keamanan dalam negeri. Sistem cabinet di Amerika Serikat adalah kabinet presidensil dengan Presiden sebagai kepala pemerintahan. Florida. Kepala State Police dipilih oleh Gubernur. Menteri Buruh.Negara Federasi Amerika Serikat mempersatukan 50 negara bagian seperti : New York. Dalam Pemerintahan negara bagian terdapat juga pembagian kekuasaan. Pemerintahan terendah dalam negara bagian adalah Pemerintahan County/Kabupaten dan Pemerintahan Municipality/Town/Kota. Menteri Perumahan. Menterin Perdagangan. Tanggung jawab keamanan dalam negeri ada pada masing-masing pemerintahan atau tanggung jawab bersama. Menteri Transportasi dan Menteri Negara. Guam. yudikatif dipegang oleh Mahkamah Agung negara bagian. sistem Komisaris-Commissioner dan sistem Manager Kota. Washington DC. Menteri ini dipilih oleh Presiden.

yaitu: State Police. Divisi Bea dan Cukai. DEA. 50 Pemerintah Negara Bagian dan 80.Tipe Pemerintahan Di Amerika Serikat terdapat 1 Pemerintahan Nasional Amerika Serikat. strukturnya bisa kita lihat sebagai berikut: a) Untuk tingkat pusat tidak ada lembaga kepolisian yang melaksanakan fungsi kepolisian secara penuh. US Marshal Service.042 Counties/provinsi. Sehingga untuk menangani kasus-kasus yang melibatkan beberapa negara bagian atau dalam bahasa hukum melibatkan beberapa yuridiksi maupun yang masuk dalam kategori transnational crime. 18. maka timbul sebuah kekawatiran yang cukup besar terhadap penyalah gunaan dari suatu organisasi polisi yang otonom. Dinas Satuan Intel dari Biro Pajak. State 4 . b) Untuk kepolisian tingkat Negara Bagian ada beberapa dinas. Oleh karena bersistem seperti itu. memang dibentuk oleh pemerintah daerah setempat dan diatur dengan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh pemerintah dimana tempatnya berada. atau disebut juga dengan sistem desentralisasi yang ekstrim atau tanpa sistem.856 Municipalities/kabupaten.822 Townships/kodya dan 41.120 Pemerintah Lokal. antara lain: Dinas Imigrasi dan Naturalisasi atau Border Patrol. as membentuk badan-badan kepolisian federal dengan wewenang yang meliputi seluruh daerah di as. Pemerintah lokal ini terdiri dari 3.400 Distrik. sehingga kewenangan tugas hanya sebatas daerah hukum itu saja. FBI. Amerika Serika Menggunakan paradigma Fragmented System of Policing yaitu sebuah sistem kepolisian yang terpisah dan berdiri sendiri. dan Divisi dari Kantor Pos. yaitu hanya sebatas pada daerah di mana suatu badan kepolisian berada. Sehingga dalam penerapan Fragmanted System ini selalu diikuti dengan pembatasan kewenangan kepolisian. US Secret Service. Hal ini dikarenakan secara umum lembaga kepolisian di setiap daerah di as. 16. Kewenangan yang dimiliki oleh lembaga kepolisian bersifat terbatas. Dinas Hubungan Internasional. State Constabulary. State Highway Police. Sistem Kepolisian di Amerika Serikat Untuk sistem Kepolisiannya sendiri. baik di tingkat negara bagian sampai dengan tingkat propinsi maupun kabupaten. State Trooper. Sistem kepolidian dengan pola di atas memiliki ciri antara lain yaitu: 1.

suatu lembaga kepolisian pada daerah tertentu tidak bisa memasuki wilayah hukum daerah yang lain. Penyelidik Kejaksaan. maksudnya yaitu bahwa dalam pelaksanaan penegakkan hukum tersebut. artinya pengawasan yang dilakukan terhadap tugas-tugas serta wewenang lembaga kepolisian dilakukan oleh tiap-tiap struktur lokal yang ditentukan dalam suatu lembaga kepolisian. Biro Identifikasi dan Penyidikan Kriminal. Babinkamtibmas yang ada di kepolisian Indonesia. dan Railway Police. c) Badan Kepolisian County yang biasanya dipimpin oleh seorang Sheriff. dan lain-lain. dan satuan pengamanan yang tidak memiliki wewenang kepolisian. termasuk dalam hal ini pengawasan terutama dilakukan secara melekat oleh publik daerah setempat dimana suatu lembaga kepolisian tersebut berada. Hal ini memang cenderung dipengaruhi oleh basic model penerapan hukum yang dianut oleh as yaitu model anglo saxon atau common law yang mana memang dalam sistem tersebut lemba kepolisian tumbuh dari adanya kepentingan dalam masyarakat sendiri sehingga representasi polisi dalam model ini dapat dikatakan sebagai representasi dari masyarakat itu sendiri. e) Kepolisian Kota yang banyak diemban oleh Departemen Kepolisian. antara lain: Parkway Police. f) Untuk kepolisian di tingkat desa/dusun biasanya diemban oleh one men police yang disebut constable atau marshal. d) Badan Kepolisian Tingkat Kota yang dikepalai oleh seorang Chief of Police.Ranger. Los Angeles Police Departement (LAPD). Pengawasan terhadap lembaga kepolisian sifatnya lokal. Selain itu pemerintah county juga mempunya beberapa polisi khusus. seperti. Hal ini disebabkan karena setiap lembaga kepolisian di as diatur dengan suatu peraturan perundang-undangan tersendiri yang ditentukan 5 . Atau dengan kata lain bahwa polisi adalah milik masyarakat karena munculnya lembaga kepolisian pada awalnya bukan dikarenakan adanya kepentingan negara. Boulevard Police. Ini kemungkinan bisa seperti 2. National Guard. the police being only members of the public who are paid to give full time attention to duties which are incumbent on every citizen in the interest of community welfare and 3. Polisi-polisi khusus di lingkup Deaprtemen. melainkan karena adanya kepentingan masyarakat sebagaima filosofi yang dikemukakan oleh Sir Robert Peel. NYPD. yaitu “The police are the public and the public ar the police. existance” Penegakkan hukum dilaksanakan secara terpisah atau berdiri sendiri.

Kedua. Sebagai kelompok individu yang harus menentukan keputusan maka proses yang menarik untuk dipelajari adalah proses bagaimana mereka mengambil keputusan secara kompleks dan latar belakang pengambilan keputusan secara variatif. dilakukan dengan pemilihan yang random. 1988).oleh pemerintah daerah setempat. Calon-calon ini dikirimi surat panggilan untuk diwawancarai hakim. Jaksa penuntut dan pembela dapat menolak calon juri dengan mengemukakan alasan. Juri selama bekerja diberikan honorarium. Bagaimanapun dewan juri adalah kelompok individu 6 . pengadilan mencoba mendapatkan sample yang representatif. dan jika dia bekerja. Kassin & Wrightsman. pengetahuan dan wawasan mereka dalam bidang hukum dan perspektif lainnya. II. maka atasannya diberi surat agar pegawainya dibebaskan dari pekerjaan selama menjadi juri. pengadilan melakukan pendaftaran penduduk yang dapat dipilih atau yang berkompeten dalam bidang hukum dan perspektif lainnya. Jaksa dan pengacara juga bisa menolak calon juri tanpa alasan yang jelas. termasuk di dalamnya mengenai hal tekhnis pelaksanaan penegakkan hukumnya. atau bisa juga dari daftar pemberi suara dalam pemilihan umum. pertama. Juri dipilih oleh pengadilan dari masyarakat umum di wilayah yurisdiksi kejadian perkara. Tetapi sekarang sejumlah negara bagian sudah mengurangi anggota jurinya sampai hanya 6 orang saja. Biasanya juri yang dipilih 12 orang. Hal inilah yang seharusnya menjadi kajian psikologi sosial karena ada pengaruh psikologis dalam proses pengambilan keputusan yang kompleks tersebut (Hans & Vidmar. kemampuan. dan pembela terdakwa. Nama-nama calon juri dipilih secara acak (random) dari daftar nama pembayar pajak. atau dari buku telepon. Misalnya orang tersebut ada hubungan keluarga atau persahabatan dengan pihak yang terlibat perkara. Ketiga. 1986. tapi ada batas jumlahnya. setelah calon juri terdaftar maka langkah selanjutnya adalah dengan melakukan seleksi dengan wawancara terhadap minat. dengan 1 atau 2 cadangan kalau ada yang berhalangan. jaksa penuntut. Penjabaran Sistem Pengadilan Dengan Menggunakan Dewan Juri Dalam persidangan di negara Amerika dan negara-negara barat lainnya. Mereka dipilih dari beberapa orang yang berkompeten dalam bidang hukum dan terdiri dari kelompok orang yang ganjil (9 orang) untuk memvoting keputusan bersalah atau tidak bersalahnya seorang pesakitan. selain hakim yang memutuskan suatu hasil persidangan adalah Juri. Dewan Juri dipilih melalui 3 proses.

dengan para saksi 7 . Misalnya. Scientific Jury Selection adalah metode seleksi juri yang mempertimbangkan faktor demografis dan faktor relevan lainnya dalam memilih juri pada suatu kasus tertentu. Bahkan juri harus mengambil keputusan yang tepat dan cepat untuk menyelesaikan suatu perkara dalam beberapa persidangan pada hari yang sama. pembela. Bukanlah suatu hal yang mudah untuk mengambil keputusan ditengah tekanan argumentatif dari pembela dan jaksa. peradilan kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh Mike Tyson terhadap kontestan Miss Black American maka dewan juri yang diseleksi berdasarkan keseimbangan demografis juri dan kepribadian yang kuat agar faktor demografis dan konformitas tidak mempengaruhi dalam pengambilan keputusan. Sebagai suatu contoh. Berdasarkan beberapa hambatan dalam menjalankan tugasnya sebagai dewan juri yang dituntut untuk obyektif dalam mengambil keputusan maka pengadilan membuat suatu sistem seleksi yang ketat. Kemudian apakah tugas hakim dalam sistem pengadilan dewan juri ini? Tugas hakim adalah memimpin sidang dan menjaga ketertiban jalannya persidangan. Kondisi ini bukanlah hal yang aneh karena individu yang terlibat dalam kelompok mencoba melakukan konformitas terlebih jika individu tersebut menginginkan penerimaan dan merasa sebagai minoritas. Hal lainnya adalah adanya konformitas yang dilakukan oleh anggota dewan juri dalam pengambilan keputusan. pesakitan adalah ras negro. Kondisi ini memberikan kajian bahwa latar belakang suatu perkara dan pelaku persidangan dapat mempengaruhi pengambilan keputusan. Konformitas yang dimaksud adalah proses menyamakan pendapat anggota dewan juri terhadap keputusan mayoritas anggotanya. Hakim menjadi penengah pada saat tanya jawab antara jaksa. Hal ini digunakan untuk menjaga indepensi dan obyektivitas juri dalam menentukan keputusan. jika dewan juri mayoritas orang negro maka pengacara akan meyakinkan dewan juri dan memberikan tekanan secara demografis. Berdasarkan penelitian Fulero & Penrod (1990) menyimpulkan bahwa pembela atau pengacara dapat memprediksikan kemenangan kasusnya dengan memperhatikan demografis mayoritas dewan juri. Hal ini juga dilakukan oleh jaksa penuntut untuk menyakinkan dan untuk mendapatkan simpati dari dewan juri jika korban mempunyai demografis yang sama dengan demografis mayoritas dewan juri.yang dengan latar belakang sosialnya mereka pasti mempunyai tendesi yang berbedabeda sehingga pengambilan keputusan secara individual mereka pun berbeda.

Hak-hak tersangka dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia Di Indonesia sendiri. Hak-hak tersebut antara lain: a. Hak-hak tersangka dalam Sistem Peradilan Pidana Amerika Serikat: Di Amerika Serikat. Sedangkan untuk vonis hukuman penjatuhannya tetap dilakukan oleh hakim.atau terdakwa. hak-hak hukumnya. yang diberikan oleh pejabat yang bersangkutan. saya keberatan yang mulia. Si pembela akan tegak dari duduknya dan akan berteriak “objection your honor. Misalnya seorang jaksa mengajukan pertanyaan yang sangat tajam kepada saksi atau terdakwa yang oleh pihak pembela dianggap tidak ada kaitannya dengan perkara yang disidangkan. Karena setiap perkataa tersangka dapat dan akan digunakan dalam c.” Maksudnya adalah. 8 . hak-hak tersangka diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Berhak segera mendapatkan pemeriksaan oleh penyidik dan b. selanjutnya dilimpahkan ke penuntut umum (pasal 50 ayat 1). yaitu: a. misalnya tentang kebiasaan buruk atau soal pribadi dari tersangka atau saksi-saksi. pertanyaan tersebut tidak ada kaitannya dengan perkara. the question is irrelevant. setiap proses pidana akan dimulai dengan Miranda Rule yang merupakan hak tersangka sebelum diperiksa oleh penyidik/instansi yang berwenang. Hak untuk mendapatkan penasehat hukum/advokat untuk membela d. b. Berhak perkaranya segera dimajukan ke pengadilan oleh penuntut umum (pasal 50 ayat 2). Apabila tersangka tidak mampu. penuntutan. Hak untuk diam. Jadi dewan juri hanya memutuskan apakah terdakwa bersalah atau tidak. hakim memutuskan hukuman yang dijatuhkan bagi terdakwa. 2. III. Dan juga dalam perkara pidana. maka dia akan mendapatkna penasehat hukum/advokat dari negara. Disini hakim menjadi penentu apakah pertanyaan itu perlu atau tidak. Perbandingan Hak-hak Tersangka Dalam Sistem Peradilan Indonesia Dan Amerika Serikat 1.

Penasehat hukum sebagaimana dimaksud point “i” disediakan secara k. pekerjaan atau untuk kepentingan keluarga (pasal 61). tersangka berhak menghubungi dan berbicara dengan perwakilan negaranya dalam menghadapi perkaranya m. 53 ayat 2 dan pasal 178). Berhak secara langsung atau melalui penasehat hukum untuk menghubungi dan menerima kunjungan sanak keluarganya dalam hal hal yang tidak ada kaitan dengan perkaranya atau untuk kepenyingan q. Berhak mengirim atau menerima surat baik oleh keluarga maupun r. keluarga atau penasehat hukum wajib diberitahu juga o. pidananya ataupun tidak (pasal 58). Berhak memberikan keterangan tertulis apabila tersangka bisu (pasal g. Berhak menghubungi dan menerima kunjungan dari rohaniawan (pasal 63). penyidik pada saat pemeriksaan (pasal 52).c. pejabat yang berwenang wajib menunjuk penasehat hukum bagi tersangka j. Berhak mendapatkan pemberitahuan atas penahanannya oleh pejabat yang berwenang. Berhak memilih sendiri penasehat hukum yang akan digunakannya i. penahanan atau usaha mendapatkan bantuan hukum (pasal 60). waktu pemeriksaan dimulai (pasal 51 ayat 1). penasehat hukumnya (pasal 62 ayat 1). Apabila tersangka adalah WNA. (pasal 57 ayat 2). Cuma-Cuma oleh pejabat yang berwenang (pasal 56 ayat 2). maka apabila tersangka tidak memiliki penasehat hukum sendiri. (pasal 55). Apabila diancam dengan pidana mati atau diatas 15 tahun. Berhak menerima kunjungan pihak yang mempunyai hubungan keluarga dan lainnya guna mendapatkan jaminan penangguhan p. Berhak untuk diberitahukan dengan jelas dalam bahasa yang dimengerti olehnya tentang apa yang disangkakan kepadanya pada d. Berhak menerima kunjungan dokter baik yang terkait dengan n. Berhak mendapatkan bantuan penasehat hukum selama pemeriksaan h. Berhak mendapatkan bantuan juru bahasa kapan saja dibutuhkan pada f. Berhak memberikan keterangan secara bebas dan tanpa tekanan kepada e. (pasal 59). Berhak menghubungi penasehat huumnya (pasal 57 ayat 1). l. oleh penyidik (pasal 54). (pasal 56 ayat 1). saat pemeriksaan (pasal 53 ayat 1). 9 .

menguntungkan bagi dirinya (pasal 65). Gambaran Sistem Peradilan Pidana di Amerika Serikat dan Di Indonesia 1. Hak untuk dituntut hanya sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku (pasal 18 ayat 2). apabila ada perubahan aturan hukum (pasal 18 ayat 3). u. d.s. yaitu UU No. Hak untuk mendapatkan bantuan dan perlindungan yang adil dari pengadilan yang obyektif (pasal 5 ayat 2). Hak untuk mendapatkan bantuan hukum dari awal penyidikan (pasal 18 ayat 4). Berhak untuk meneliti dan membaca kembali hasil pemeriksaan sebelum tersangka menandatanganinya (pasal 118 ayat 1). Hak untuk disangkakan pasal berdasarkan peraturan hukum yang telah ada sebelumnya (pasal 18 ayat 2). Hak untuk mendapatkan jaminan hukum yang diperlukan untuk pembelaannya (pasal 18 ayat 1). i. f. siapapun atau dalam bentuk apapun (pasal 117 ayat 1). Hak untuk dianggap sama di depan hukum (pasal 17). Berhak untuk dicatat keterangan yang dibrikan dengan seteliti-telitinya sesuai dengan kata-kata yang dipergunakan oleh tersangka sendiri x. v. e. Amerika Serikat 10 . b. Berhak mengusahakan atau mengajukan saksi atau seseorang yang mempunyai keahlian khusus guna memberikan keterangan yang t. Sementara dalam perundangan lainpun. Berhak untuk tidak dibebani kewajiban pembuktian (pasal 66). yaitu: a. c. h. Berhak untuk memberikan keterangan secara bebas tanpa tekanan dari w. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia diatur tentang hak-hak tersangka. Berhak menuntut ganti rugi atau rehabilitasi (pasal 68). Hak untuk dianggap tidak bersalah sebelum diputuskan oleh hakim (pasal 18 ayat 1). (pasal 117 ayat 2). Hak untuk mendapatkan ketentuan hukum yang paling menguntungkan tersangka. g. IV. Hak untuk tidak disidik dalam kasus yang sama untuk kedua kalinya (pasal 18 ayat 5).

kitab undang-undang sendiri. pengadilan-pengadilan federal barbagi pakai kekuasaan peradilan dengan pengadilan-pengadilan negeri. pengadilan federal dan pengadilan negeri keduanya boleh meutuskan kasus-kasus yang menyangkut pihak-pihak bersengketa yang bertempat tinggal di negara bagian yang berbeda. struktur pemerintah sendiri. Pihak-pihak yang bersengketa mempunyai hak untuk diadili oleh juri dalam semua kasus kriminal dan kasus-kasus sipil umumnya. Struktur Sistem Pengadilan Federal Adalah konstitusi Amerika Serikat yang membentuk Makhamah Agung Amerika Serikat dan memberi kongres kekuasaan untuk membentuk pengadilan-pengadilan rendah federal. misalnya kasus yang menyangkut undang-undang federal. Semua kekuasaan lain yang tidak didelegasikan kepada pemerintah federal akan tetap dijalankan oleh pemerintah negaranegara bagian. Pengadilan-pengadilan federal memiliki kekuasaan peradilan yang eklusif atas kasus-kasus jenis tertentu. dan sistem pengadilan sendiri. Misalnya. bukan melalui sidang pengadilan.A. Kongres telah membentuk dua 11 . Setiap limapuluh negara-negara bagian memiliki konstitusinya sendiri. B. Walaupun demikian. Kasus-kasus tersebut diselesaikan lewat mosi hukum atau ikhtiar pembayaran. Juri biasanya terdiri dari sebuah panel berjumlah duabelas orang warga negara yang mendengarkan kesaksian dan mengaplikasikan undang-undang. persengketaan hukum di Amerika Serikat pada umumnya dapat diselesaikan sebelum kasus tersebut mencapai juri. Latar Belakang Konstitusi Amerika Serikat adalah yang membentuk sistem federal pemerintah. yang dinyatakan oleh hakim. Pengadilan-pengadilan negeri memiliki kekuasaan peradilan ekslusif atas kasus-kasus yang umumnya sangat luas. dan kasus-kasus yang menyangkut negara asing. Konstitusi Amerika Serikat juga membentuk cabang yudisial dari pemerintah federal dan merinci kekuasaan dari pengadilan federal. dalam usaha mencapai keputusan bersama berdasarkan bukti-bukti yang dibeberkan pada saat juri memastikannya dengan melihat pada kesaksian dalam sidang peradilan. Di dalam bidang-bidang tertentu lainnya. persengkataan antara negara-negara bagian. Konstitusi memberikan kekuasaan-kekuasaan tertentu kepada pemerintah federal (nasional).

Terdapat sejumlah 94 pengadilan-pengadilan distrik di seluruh negara AS. Selain hakim-hakim distrik.peringkat pengadilan-pengadilan federal yang berada di bawah Makhamah Agung yaitu: Pengadilan-pengadilan Distrik Amerika Serikat dan Rangkaian Pengadilan-pengadilan Banding Amerika Serikat. Para pihak yang berkasus boleh mengajukan permohonan/kasasi berkenaan dengan haknya atas hukum kepada rangkaian pengadilan-pengadilan banding(terkecuali pemerintah yang tidak mempunyai 12 . adn Court of Veterans Appeals ditempatkan di tiap-tiap negara bagian. Rangkaian pengadilan-pengadilan banding Amerika Serikat berada pada peringkat berikutnya. Para hakim distrik masing-masing duduk untuk mendengarkan berbagai kasus. Sebuah panel yang terdiri dari 3 hakim mendengarkan kasasi-kasasi dari pengadilanpengadilan distrik. juga terdapat hakim kepailitan (yang hanya mendengarkan kasus-kasus kebangkrutan) dan hakim magistrat (yang hanya menjalankan berbagai tugas Peradilan di bawah pengawasan umum para hakim distrik) yang berlokasi di dalam pengadilan-pengadilan distrik. Terdapat sejumlah 12 pengadilan-pengadilan tinggi tingkat daerah yang berlokasi di berbagai wilayah negara AS. Pengadilan-pengadilan Distrik Amerika Serikat adalah pengadilan tingkat pertama di dalam sistem federal. Sedikitnya ada satu pengadilan distrik yang Supreme Court s se ca t n Court of Appeals te Pa Federal Circuits District Courts Court of Int’l Trade Claim Court.

Puncak dari sistem peradilan federal adalah Makhamah Agung Amerika Serikat. Setiap sistim pengadilan memiliki ciriciri yang unik. Banyak juga negara-negara bagian Amerika Serikat yang memiliki pengadilan negeri menengah yang juga disebut pengadilan 13 . Selain itu negara-negara bagian juga memiliki pengadilan-pengadilan umum yurisdiksi tingkat pertama yang diketuai oleh seorang hakim. yang biasanya disebut makamah agung negeri yang fungsinya sama seperti pengadilan tinggi. Struktur Dari Sistem Pengadilan Negeri Struktur dari sistim-sistim pengadilan negeri berbeda-beda antara satu negara bagian dengan negara bagian lainnya. beberapa penyamarataan umum dapat dibuat. misalnya kasus-kasus lalu lintas atau pertikaian keluarga. seperti juga yang akan dilakukan oleh pengadilan-pengadilan tertinggi negeri jika kasasi tersebut menyangkut Konstitusi Amerika Serikat atau undang-undang federal.hak untuk naik banding dalam sebuah kasus kriminal jika vonisnya adalah “tidak bersalah”). Beberapa negara bagian lainnya memiliki pengadilan-pengadilan khusus yang hanya mendengarkan kasus-kasus tertentu. Makhamah Agung Amerika Serikat mungkin akan mendengarkan kasasi-kasasi dari rangkaian pengadilan-pengadilan banding federal. Rangkaian pengadilan-pengadilan daerah ini juga mendengarkan kasasi-kasasi dari keputusan-keputusan yang dibuat oleh badan-badan administratif federal. Atas kebijaksanaanny. Satu dari rangkaian pengadilan non daerah (rangkaian federal) adalah untuk mendengarkan kasasi-kasasi dalam kasuskasus khusus seperti misalnya kasus-kasus yang menyangkut undang-undang paten dan gugatan-gugatan terhadap pemerintah federal. C. yang dibentuk dari 9 hakim agung yang duduk bersama-sama dalam mendengarkan kasus-kasus. Semua negara-negara bagian di Amerika Serikat memiliki satu pengadilan tertinggi. walaupun demikian. Pengadilan-pengadilan tingkat pertama ini biasanya disebut pengadilan-pengadilan rangkaian atau pengadilan-pengadilan superior dan fungsinya mendengarkan kasus-kasus sipil-utama dan kriminal. Sebagian besar negara-negara bagian AS memiliki pengadilanpengadilan dengan yurisdiksi terbatas yang diketuai oleh seorang hakim dimana dia mendengarkan kasus-kasus sipil-ringan dan kriminal.

D. dibentuk dari 27 anggota (Kepala Hakim Amerika Serikat dan 26 hakimhakim dari setiap wilayah geografis AS). Muktamar Yudisial Amerika Serikat. D. menawarkan program-program pendidikan berlanjut bagi para hakim.banding yang tugasnya mendengarkan kasasi-kasasi dari sidang pengadilan. Hakim Para hakim agung dari Makhamah Agung Amerika Serikat dan dari rangkaian serta hakim-hakim distrik. Para hakim agung ini bisa terus mengabdi apabila selama dalam melakukan tugasnya 14 . dan mengkaji pelaksanaan sidang pengadilan. semuanya ditunjuk oelh presiden Amerika Serikat jika disetujui oelh mayoritas suara dari senat Amerika Serikat. Mukatamar Yudisial ini dibantu oleh sejumlah besar komitekomite yang dibentuk dari hakim-hakim federal (dan kadang-kadang juga dari hakim-hakim pengadilan negeri serta pengacara-pengacara) dimana mereka mempelajari berbagai sistim pengadilan federal yang berbeda dan membuat rekomendasi-rekomendasi. cabang-cabang yudikatifdari pemerintah federal dan pemerintah negara bagian mengontrol fungsi administrasi pengadilan. Satu tanggung jawab penting dari Muktamar Peradilan adalah untuk merekomendasikan perubahan-perubahan di dalam aturan-aturan prosedur yang digunakan oleh seluruh pengadilan-pengadilan federal. Untuk memastikan kemandirian jalannya peradilan. Administrasi Pengadilan Cabang-cabang yudikatif dari pemerintah federal dan pemerintah negara bagian adalah terpisah fungsinya dari cabang-cabang legislatif dan eksekutif. menulis peraturan-peraturan sidang pengadilan dan prosedur pengadilan tinggi. Pihak yang berkasus umumnya memiliki hak satu kali untuk naik banding. memeriksa perkara-perkara disiplin yudikatif. Tugas-tugas di administrasi pengadilan termasuk mengelola anggaran-anggaran belanja pengadilan. mengemban segenap tanggung jawab administrasi dari seluruh pengadilan dan memiliki kekuasaan utama dalam membuat kebijakan yang berhubungan dengan pelaksanaan cabang yudikatif dari pemerintah. Di dalam sistim pengadilan federal.

Pemilihan dengan cara ini mungkin mendapatkan dukungan secara sepihak atau bahkan tidak mendapatkan dukungan sama sekali. yang mana dakwaannya dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representative) dan sidang pengujiannya dilakukan oleh senat. Jaksa Agung AS yang mengepalai Departemen Kehakiman.berkelakuan baik dan bisa mengabdi sampai akhir hayatnya. Metode dalam pemelihin hakim-hakim negeri sangat berbeda antara negara bagian yang satu dengan yang lainnya. bahkan dalam satu negara bagianpun kadang berbeda tergantung jenis pengadilannya. Di dalam Departemen 15 . E. Biasanya orangorang yang dicalonkan menjadi hakim agung ini oleh presiden kebanyakan berasal dari partai yang sama dengan presiden. hakim pengadilan rendah federal atau hakim pengadilan negeri. Para hakim ini hanya mungkin dipecat melalui proses pendakwaan karena menyalah gunakan jabatannya. ditunjuk oleh presiden dengan mendapat konfirmasi dari senat. Dalam sistim nominasi dari komisi. dan kadang-kadang hakim. guru besar hukum. Jaksa Penuntut Jaksa-jaksa penuntut dalam sistim federal adalah merupakan bagian dari Departemen Kehakiman AS di dalam cabang eksekutif. hakim-hakim ditunjuk oleh gubernur (sebagai kepala eksekutif negara bagian) yang harus menentukan dari beberapa calon yang sudah diajukan oleh komisi independen yang terdiri dari para kumpulan pengacara. maka gajinya tidak dapat diturunkan. Ketua jaksa penuntut di dalam distrik-distrik pengadilan federal disebut pengacara-pengacara AS dan mereka juga ditunjuk oleh presiden setelah mendapatkan konfirmasi dari senat. Sedangkan untuk sistim pemilihan dengan cara populerisasi dipilih dengan siapa yang paling populer. legislator. warga biasa. Orang-orang yang ditunjuk biasanya berasal dari profesi pengacara terhormat. Sedangkan calon-calon yang dipilih harus memenuhi kualifikasi tertentu seperti pernah menjalani profesi pengacara selama jangka waktu tertentu. Begitu para hakim ini ditunjuk untuk menjalankan tugasnya. Sistem pemilihan yang lazim digunakan secara umum adalah dengan sistem nominasi dari komisi dan populerisasi.

Bagi para tertuduh kejahatan yang tidak sanggup membayar seorang pembela hukum. Bagi perorangan yang tidak sanggup membayar seorang pembela hukum. Pembela Hukum Sistem hukum di Amerika Serikat menggunakan proses pertentangan. namun pembela hukum sering dibutuhkan keberadaannya untuk menghadapkan kasus-kasus secara lebih efektif. Berdasarkan penyajian-penyajian alat bukti yang disampaikan oleh pembela hukum. Indonesia A. Ada juga jaksa-jaksa penuntut yang tersebar di berbagai wilayah negeri. Setiap negara bagian juga memiliki seorang jaksa agung di dalam cabang eksekutif negeri yang biasanya dipilih oleh penduduk setempat. mereka akan diwakili oleh seorang pembela hukum yang ditunjuk oleh pengadilan atau oleh kantor pembela masyarakat federal atau negeri. hakim sidang dan dewan juri akan menilai dan memastikan alat bukti yang diajukan dalam persidangan untuk mengambil keputusan bersama sebelum memasuki saat keputusan hakim. Dasar Hukum Pidana Indonesia Sistem peradilan Indonesia berdasarkan sistem-sistem. undang-undang dan lembaga-lembaga yang diwarisi dari negara Belanda yang pernah menjajah 16 . F. Para pembela hukum bertanggung jawab terhadap pengajuan alat-alat bukti dari klien mereka pada saat melakukan pembelaan di depan sidang pengadilan. ia dapat mencoba untuk mendapatkannya tanpa membayar melalui sebuah perhimpunan bantuan hukum lokal. yang disebut dengan pengacara-pengacara negara atau pengacara-pengacara distrik.Kehakiman terdapat juga Biro Penyelidikan Federal (FBI) yang menyelidiki semua kejahatan yang ditujukan terhadap negara Amerika Serikat. 2. Para jaksa penuntut ini juga biasanya dipilih. Peran pembela-pembela hukum sangatlah penting dalam proses ini. Setiap individu bebas mewakili dirinya sendiri di pengadilan-pengadilan Amerika Serikat.

sedangkan Malaysia. sedangkan KUHP menentukan 1 Prof. Namun RUU KUHP baru memunculkan beberapa hal yang sangat menarik terkait dengan perubahan-perubahan yang dapat terjadi pada sistem hukum pidana dan patut didiskusikan. kenyataannya adalah sampai sekarang RUU tersebut belum dilaksanakan. 17 . Seperti dikatakan oleh Andi Hamzah1: Misalnya Indonesia dan Malaysia dua bangsa serumpun. jaksa. Brunei. namun sistem dan asasnya tetap bertumpu pada sistem Eropa Kontinental (Belanda). Hukum pidana acara dapat disebut dalam Bahasa Inggris sebagai “procedural law” dan hukum pidana materiil sebagai “substantive law”. Dr. Kedua kategori tersebut dapat kita temui dalam Kitab masing-masing yaitu. Walaupun bertumpu pada sistem Belanda.bangsa Indonesia selama kurang lebih tiga ratus tahun. Menurut keterangan dari beberapa sumber. jur Andi Hamzah Hukum Acara Pidana Indonesia (Edisi Kedua Sinar Grafika. Jakarta 2008) Hal 33. KUHAP (dibedakan dari KUHP). hukum pidana Indonesia modern dapat dipisahkan dalam dua kategori. yaitu Belanda dan Inggris. Maka dari itu. RUU tersebut telah diajukan kepada DPR Jakarta selama kurang lebih dua puluh tahun dan belum dapat disepakati apalagi disahkan. menentukan prosedur-prosedur yang harus dianut oleh berbagai lembaga yang terlibat dalam sistem peradilan misalnya hakim. untuk sementara KUHAP dan KUHP merupakan undangundang yang berlaku dan digunakan oleh lembaga lembaga penegak hukum untuk melaksanakan urusan sehari-hari dalam menerapkan hukum pidana di Indonesia. Akibatnya. meskipun kita telah mempunyai KUHAP hasil ciptaan bangsa Indonesia sendiri. KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana) dan KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) berturut-turut. polisi dan lain-lainnya. yaitu hukum pidana acara dan hukum pidana materiil. Singapura bertumpu kepada sistem Anglo Saxon. tetapi dipisahkan dalam sistem hukumnya oleh masing-masing penjajah.

Bandung. Upaya yang demikian harus diwujudkan dalam sebuah sistem yang bertugas menjalankan penegakan 2 Herbert L. UU Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. hal. serta saling mempengaruhi satu sama lain. Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana. meskipun produk perundang-undangan tersebut tidak termasuk dalam perundang-undangan yang tidak mengatur secara spesifik tentang suatu tindak pidana. 18 . Perkembangan Sistem Peradilan Pidana Indonesia Upaya penanggulangan kejahatan dengan menggunakan sanksi (hukum) pidana merupakan cara yang paling tua. bahkan ada yang mengatakan bahwa hukum pidana merupakan the older philosophy of crime control2. seperti UU Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Packer. hukum pidana masih digunakan dan “diandalkan” sebagai salah satu sarana politik kriminal3. 3. The Limits of Criminal Sanction”. UU Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. hal. 3 Barda Nawawi Arief. 1998. B. setua peradaban manusia itu sendiri. Fenomena tersebut memberi kesan seolah-olah suatu peraturan akan kurang sempurna atau “hambar” apabila tidak disertai dengan ketentuan pidana. Citra Aditya Bakti. 39.pelanggaran-pelanggaran dan kejahatan-kejahatan yang berlaku dan dapat diselidiki ataupun dituntut oleh lembaga-lembaga tersebut. Upaya yang sistematis ini dilakukan dengan mempergunakan segenap unsur yang terlibat di dalamnya sebagai suatu kesatuan dan saling berhubungan (interelasi). hukum pidana hampir selalu digunakan untuk “menakut-nakuti” atau mengamankan berbagai kebijakan yang timbul di berbagai bidang terutama dalam menanggulangi kejahatan. Hal tersebut dapat dilihat dari adanya ancaman pidana pada hampir setiap produk perundang-undangan yang dikeluarkan oleh badan legislatif negara ini. 1968. Sampai saat ini pun. Aplikasi atau penegakan hukum pidana yang tersedia tersebut dilaksanakan oleh instrumen-instrumen yang diberi wewenang oleh Undang Undang untuk melaksanakan kewenangan dan kekuasaannya masing-masing dan harus dilakukan dalam suatu upaya yang sistematis untuk dapat mencapai tujuannya. UU Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan sebagainya. Dengan demikian.

Citra Adtya Bakti. Adapun implementasi dari masing-masing sub sistem dalam Sistem Peradilan Pidana tersebut adalah sebagai berikut: 1. Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan. C. Sistim Peradilan Pidana Indonesia Masing-masing kekuasaan yang merupakan sub sistem dalam Sistem Peradilan Pidana tersebut merupakan kekuasaan yang merdeka/independent dalam arti bebas dari pengaruh penguasa atau dari tekanan dari pihak luar. 4 Barda Nawawi Arief. yaitu Sistem Peradilan Pidana (Criminal Justice Sytem) yang pada hakikatnya merupakan “sistem kekuasaan menegakkan hukum pidana”4. 6 Barda Nawawi Arief. hal 30. dalam Media Hukum Vol. Bandung. 19 . Oleh karena itu. - Kekuasaan mengadili dan menjatuhkan putusan putusan/pidana oleh oleh badan pengadilan. tetapi kemandirian dalam satu sistem. 5 Ibid. Kekuasan penyidikan oleh lembaga penyidik. 2 Nomor 1. hal. Sistem Peradilan Pidana Terpadu dalam Kaitannya dengan Pembaruan Kejaksaan. 28. yaitu Sistem Peradilan Pidana yang integral (Integrated Criminal Justice System)6. tahun 2003. Sistem Peradilan Pidana ini diwujudkan/diimplementasikan dalam 4 (empat) sub sistem. yaitu : -Kekuasaan “Penyidikan” oleh lembaga penyidik. setiap aparat dari sistem peradilan pidana (criminal justice system) harus selalu mengikuti perkembangan dari setiap perundang-undangan yang terbit karena aparat dalam sistem peradilan pidana tersebut “menyandarkan” profesinya pada hukum pidana dalam upaya mengantisipasi kejahatan yang terjadi. 2001. - Kekuasaan pelaksanaan badan/aparat pelaksana/eksekusi5.hukum pidana tersebut. Akan tetapi kemandirian tersebut tidak bersifat parsial (fragmenter). - Kekuasaan Penuntutan oleh lembaga penuntut umum.

Aparat kehutanan untuk Tindak Pidana Kehutanan. yang diberi wewenang ini adalah Hakim sebagai Pejabat Peradilan Negara yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk mengadili. . Kekuasaan pelaksanaan putusan/pidana oleh badan/aparat pelaksana/eksekusi. secara umum yang diberi kewenangan untuk melakukan penyidikan suatu tindak pidana adalah Kepolisian Republik Indonesia (POLRI). 2. 4.Aparat Bea Cukai untuk Tindak Pidana Kepabeanan. terdapat beberapa lembaga yang dapat melakukan penyidikan. Hal tersebut tertuang dalam Ketentuan Umum KUHAP angka 6 dan angka 7 serta tecantum pula dalam Undang Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia pada Pasal 2 ayat (1) yang menyebutkan bahwa “Kejaksaan Republik Indonesia yang selanjutnya dalam Undang Undang ini disebut Kejaksaan adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan Negara di bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan undangundang. . . Selanjutnya berdasarkan Pasal 1 angka 8 KUHAP. maka yang dimaksud dengan Penyidik adalah Pejabat Polisi Negera Republik Indonesia atau Pejabat Pegawai Negeri Sipil (PPNS) tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan.Aparat Dirjen Pajak untuk Tindak Pidana Perpajakan. seperti: . Kekuasaan mengadili dan menjatuhkan putusan oleh lembaga peradilan.Kejaksaan untuk Tindak Pidana Korupsi dan Tindak Pidana HAM. Yang dimaksud dengan Kekuasaan mengadili sebagaimana diatur dlam Pasal 1 angka 9 KUHAP adalah serangkaian tindakan hakim untuk menerima. Dengan demikian. namun untuk tindak pidana tertentu ada juga lembaga lain yang diberi kewenangan untuk melakukan penyidikan. maka dalam menjalankan kekuasaan penuntutan hanya satu lembaga yang berwenang melaksanakan yaitu lembaga Kejaksaan Republik Indonesia. 20 . Kekuasaan penuntutan oleh lembaga penuntut umum. memeriksa dan memutus perkara pidana berdasarkan asas bebas. Apabila dalam Kekuasaan Penyidikan. jujur dan tidak memihak di sidang pengadilan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang undang ini.” 3.Berdasarkan Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Pasal 1 angka.

Hak Konstitusional Miranda Rule tepatnya Miranda Priciple. V. Kejaksaan. 21 . Indonesia sebagai negara yang berdasarkan hukum pada dasarnya sangat menghormati MIRANDA PRINCIPLE ini. Komitmennya Indonesia terhadap penghormatan MIRANDA PRINCIPLE telah dibuktikan dengan mengadopsi MIRANDA PRINCIPLE ini ke dalam system Hukum Acara Pidana kita (KUHAP) Secara universal Miranda Principle ini merupakan hakhak dasar manusia atau hak Konstitusional tersangka yang pada pokoknya meliputi : 7 Mardjono Reksodiputro. Keempat unsur inilah yang merupakan subsistem dari sistem peradilan pidana. MIRANDA PRINCIPLE adalah merupakan hak konstitusional yang bersifat universal dihampir semua negara yang berdasarkan hukum. Kejaksaan. Pengadilan dan Pemasyarakatan terpidana7.1. Pidato Pengukuhan Guru Besar tetap dalam Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. adalah merupakan hak-hak konstitusional dari tersangka / terdakwa yang meliputi hak untuk tidak menjawab atas pertanyaan pejabat bersangkutan dalam proses peradilan pidana dan hak untuk didampingi atau dihadirkan Penasihat Hukum sejak dari proses penyidikan sampai dan/atau dalam semua tingkat proses peradilan. Yang dimaksud dengan sistem peradilan pidana dapat juga dikatakan sebagai sistem pengendalian kejahatan yang terdiri dari lembaga-lembaga Kepolisian.Kekuasaan ini dimiliki oleh Jaksa Penuntut Umum karena di samping berwenang melaksanakan penuntutan. unsur-unsur sistem peradilan pidana meliputi : Kepolisian. Sistem Peradilan Pidana di Indonesia. Oleh karena itu. Pengadilan dan Lembaga Pemasyarakatan. sehingga keberhasilan upaya penegakan hukum sangat dipengaruhi oleh keterkaitan dan ketergantungan keempat unsur tersebut. Hal tersebut diatur dalam Ketentuan Umum KUHAP Pasal 1angka 6 dan angka 7 serta juga diatur dalam Pasal 30 Undang Undang Nomor 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia. hal. Jaksa Penuntut Umum juga berwenang melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. 1993. Dengan demikian dalam proses penegakan hukum pidana.

(a right to the presence of an attotney or the right to counsil). karena segala sesuatu yang dikatakannya dapat digunakan untuk melawannya dan memberatkannya di Pengadilan . 2. cuma ditekankan disini tersangka pada : a.)hak untuk diam. adalah mirip dengan miranda rule. (a right to remain in silent). Di Indonesia masalah miranda principle ada diakomodir di dalam pasal 54.) Hak untuk memilih penasihat hukumnya sendiri (vide:psl 55 KUHAP). MIRANDA WARNING.) hak untuk diam dan menolak menjawab segala pertanyaan polisi yang menangkap sebelum diperiksa oleh penyidik . kecuali menanyakan sebatas indentitas belaka. Jika dilakukan maka hasilnya tidak sah dan tidak bisa dijadikan bukti di Pengadilan. 56 ayat (1) dan pasal 114 KUHAP. Secara khusus prinsip miranda rule terdapat di dalam pasal 56 ayat (1) KUHAP yang berbunyi sbb : “Dalam hal tersangka atau terdakwa disangka atau didakwa melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau ancaman pidana lima belas tahun atau lebih atau bagi mereka yang tidak mampu yang diancam dengan pidana lima tahun atau lebih yang tidak mempunyai penasihat hukum sendiri.) hak untuk menghubungi penasihat hukum/advokat. c. pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan wajib menunjuk penasihat bagi mereka” 22 . Adapun MIRANDA PRINCIPLE. b. adalah peringatan yang harus diberikan kepada tersangka akan hak-haknya sebagaimana yang terdapat di dalam miranda rule dan miranda right di atas (pasal 114 KUHAP). Hak untuk menghadirkan Penasihat Hukum dan hak untuk berkonsultasi sebelum dilakukan pemeriksaan atau penyidikan oleh penyidik. MIRANDA RIGHT. 3. 3. MIRANDA RULE. jika ia tidak mampu maka ia berhak untuk disediakan penasihat hukum oleh negara. [vide: pasal 56 ayat (1) KUHAP]. b.56 ayat 1 KUHAP). yaitu : 1. Hak untuk disediakan Penasihat Hukum bagi tersangka atau terdakwa yang tidak mampu.1. dan d. a. Hak untuk tidak menjawab atau diam sebelum diperiksa dan/atau sebelum dilakukan penyidikan . polisi tidak bisa mengintrogasi tersangka di tempat kejadian. dalam praktiknya dibagi menjadi 3 (tiga). yaitu suatu aturan yang mewajibkan polisi atau penyidik untuk memberikan hak-hak seseorang sebelum dilakukan pemeriksaan oleh penyidik antara lain. 55. 2.) Hak untuk menghubungi penasihat hukum dan mendapat bantuan hukum dari advokat bersangkutan (psl 54 KUHAP).) Hak untuk disediakan penasihat hukum jika tersangka “tidak mampu” (Psl.

Perlu diketahui bahwa yang ingin dicapai dan/atau ditegakkan di dalam prinsip Miranda Rule yang terdapat di dalam pasal 56 ayat (1) tentang KUHAP adalah agar terjamin pemeriksaan yang fair dan manusiawi terhadap diri Tersangka / Terdakwa. Tembak Korban. Pasal 56 ayat (1) KUHAP. pasal 3 ayat (2). Jambret Diadili”. sebab dengan hadirnya Penasihat Hukum untuk mendampingi . dan tidak harus menunggu atau bergantung pada inisiatif pihak keluarga terdakwa yang mencarikan 23 . maka hasil pemerik-saan penyidikan tersebut adalah tidak sah atau batal demi hukum. pemaksaan dan kekejaman yang dilakukan penegak hukum dalam proses peradilan yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran HAM atau Hak Asasi Manusia ( vide : pasal 33. Pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan wajib menunjuk Penasihat Hukum bagi mereka (tersangka/terdakwa) . karena bertentangan dengan hukum acara ( undue process ) . pasal 17. Pasal 365 (4) KUHP. 2. Dalam tindak pidana yang disangkakan atau didakwakan kepada Tersangka / Terdakwa harus diancam dengan pidana mati atau 15 (lima belas) tahun atau lebih atau yang tidak mampu di-ancam dengan pidana 5 ( lima ) tahun atau lebih yang tidak punya Penasihat Hukum sendiri. Dan kewajiban pejabat yang bersangkutan untuk menunjuk Penasihat Hukum bagi terdakwa tidak bisa ditawar-tawar karena bersifat imperatif.39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia ] di samping itu adanya kontrol oleh Penasihat Hukum terhadap jalannya pemeriksaan tersangka selama dalam proses persidangan di pengadilan. Dalam kasus ini Majelis Hakim atau Ketua Pengadilan Negeri Yogyakarta sebelum memeriksa perkara terdakwa lebih lanjut. Berdasarkan pasal 56 ayat (1) KUHAP Jo. pasal 18 ayat (1) dari UU No. harus terlebih dahulu mencarikan atau menunjuk Pengacara/Advokat sebagai Penasihat Hukum bagi Terdakwa di dalam pemeriksaan perkara tersebut. Pemeriksaan penyidikan yang tersangkanya tidak didampingi Penasihat Hukum sesuai dengan kerangka pasal 114 Jo. membela hak-hak hukum bagi tersangka atau terdakwa sejak dari proses penyidikan sampai pemeriksaan di pengadilan dimaksudkan dapat berperan melakukan kontrol. pasal 5 ayat (2). Berdasarkan uraian dalam pasal 56 ayat (1) KUHAP dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. bila dikaitkan dengan berita KR tanggal 10 Agustus 2007 pada halaman “Hukum & Kriminal” dengan judul “Terdakwa Minta Didampingi Pengacara. apalagi Jaksa/Penuntut Umum dalam dakwaannya menjerat terdakwa dengan pasal 365 ayat (4) KUHP dengan ancaman pidana mati. sehingga proses pemeriksaan terhindar dari penyiksaan.

Reksodiputro. Sistem Peradilan Pidana di Indonesia. Citra Aditya Bakti. ------------------------. SH. P. ------------------------. Packer. 2003 Lamintang. Republik Indonesia. 24 . 1997. Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Mardjono. Permata Press. Sistem Peradilan Pidana Terpadu Dalam Kaitannya Dengan Pembaharuan Kejaksaan. Citra Aditya Bakti. Bandung. Jakarta. Citra Aditya Bakti. Herbert L. Bandung. R. Masalah Penegakkan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan. Bandung. Barda Nawawi. 2004. Sugandi. Beberapa Aspek Kebijakan Penegakkan dan Pengembangan Hukum Pidana. 1981. 1998.. Surabaya. 1993.. 1968..8 tahun 1981 tentang KUHAP. Dalam Media Hukum Vol. The Limits of Criminal Sanction. Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab UndangUndang Hukum Pidana.A. Jakarta.F. Daftar Pustaka: Arief. dalam pidato pengukuhan Guru Besar Tetap Dalam Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. California. KUHP dan Penjelasannya. Sudah saatnya semua pejabat penegak hukum dalam semua tingkat proses peradilan pidana di negeri ini harus menghormati UU No. Usaha Nasional. -------------------------. 2 Nomor 1. Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia. 2008. 2001. Permata Press. khususnya tentang Miranda Rule yang terdapat di dalam pasal 56 ayat (1) KUHAP.Penasihat Hukum bagi terdakwa.