Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

SEDIAAN INJEKSI ANTALGIN DAN TETES MATA FENILEFRIN


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Farmasetika Sediaan Steril

KELOMPOK : 6
KELAS : A
1. Rahmatika

(201210410311xxx)

2. Marlina Winda Puspita

(201210410311118)

3. Sarah Alfiah Usman

(201210410311xxx)

4. Nicky Pratiwi Yuliayuari

(201210410311128)

5. Selvin Nurfadita Harlinanda

(201210410311267)

DOSEN PEMBIMBING
Dian Ermawati, M. Farm., Apt.
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
JUNI 2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah subhanahu wataala,
karena berkat rahmat-nya kami dapat menyelesaikan LAPORAN AKHIR
PRAKTIKUM SEDIAAN INJEKSI ANTALGIN DAN TETES MATA
FENILEFRIN. Laporan akhir ini disusun untuk memenuhi tugas praktikum
farmasetika sediaan steril
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya.
Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga
makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk
pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Malang , Juni 2016

Penulis

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Mata merupakan organ yang peka dan penting dalam kehidupan,
terletak dalam lingkaran bertulang berfungsi untuk member perlindungan
maksimal dan sebagai pertahanan yang baik dan kokoh. Penyakit mata dapat
dibagi menjadi 4 yaitu, infeksi mata, iritasi mata, mata memar dan glaucoma.
Mata mempunyai pertahanan terhadap infeksi karena secret mata mengandung
enzim lisozim yang menyebabkan lisis pada bakteri dan dapat membantu
mengeleminasi organism dari mata. Obat mata dikenal terdiri atas beberapa
bentuk sediaan dan mempunyai mekanisme kerja tertentu. Obat mata dibuat
khusus. Salah satu sediaan mata adalah obat tetes mata. Obat tetes mata ini
merupakan obat yang berupa larutan atau suspensi steril yang digunakan
secara local pada mata.
Karena mata merupakanorgan yang palingpekadarimanusia maka
pembuatan larutan obat mata membutuhkan perhatian khusus dalam hal
toksisitas bahan obat, nilai isotonisitas, kebutuhan akan dapar, kebutuhan akan
pengawet, sterilisasi dan kemasan yang tepat. Hal-hal yang berkaitan dengan
syarat tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam makalah ini
1.2. Rumusan Masalah
Apa tujuan dari praktikum pembuatan sediaan steril mata ini?
1.3. Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui lebih lanjut
mengenai sediaan tetes mata dan persyaratan-persyaratan untuk
obat tetes mata serta untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi
dan Formulasi Sediaan Steril.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Definisi Tetes Mata


Tetes mata adalah larutan steril bebas partikel asing, merupakan

sediaanyang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga sesuai untuk digunakan
pada mata (FI IV). Obat tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau
suspense, digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir
mata disekitar kelopak mata dan bola mata. Sediaan ini diteteskan kedalam mata
sebagai antibacterial, anastetik, midriatik, miotik, dan antiinflamasi.

Yang perlu diperhatikan :


1. Pengeluaran dan pengaliran air mata bertentangan dengan arah penembusan
obat.
2. Struktur kornea mata yang khas

Anatomi dan fisiologi mata


1. KELOPAK MATA
a. Melindungi bola mata
b. Selaluterlubrikasidanterbasahioleh cairan dari kelenjar lakrimal
2. BOLA MATA :
- Dinding bola mataterdiridari :
a. Lapisan fibrous terluar
b. Lapisanvaskularbagiantengah
c. Lapisanbersyaraf : retina

3. KONJUNGTIVA :
a. Membran konjungtiva menutupi permukaan luar dari putih mata
dan bagian dalam kelopak mata
b. Melekattidakkuat (longgar) sehingga bola matadapatbergerakbebas
4. KORNEA
Tebal: 0,5 1 mm, disusunoleh :
a. Epithelium kornea (pelindunginvasibakteri)
b. Substantiapropria (stroma)
c. Endoteliumkornea
5. SISTEM LAKRIMAL
Permukaankonjungtivadankorneatetutupdanterlubrikasiolehlapisan
yang
tersusundaricairan
disekresiolehkelenjarlakrimaldankelenjarkonjungtival
Fungsi air mata :
Menjaga kelicinan mata (lubrikasi)
Melindungi kornea dari penguapan
Menetralkan efek sediaan tetes mata

film
yang

BIOAVAILIBILITAS
KONDISI FISIK MATA:

Kondisi normal, volume air mata 7l

Kapasitas drainage, jauhlebihtinggidibandinglajulakrimasi, hal ini


diperlukan untuk mengakomodasi volume besardariobattetesmata ( 50
70 l )

Ideal: konsentrasi tinggi, volume kecil


ABSORBSI KORNEA :

Obat yang dikenakanpadamataharusmampupenetrasimata,


khususnyamelewatikornea

Absorbsikornealebihefektifdaripadaabsorbsiskleraataukonjungtiva,
sebabakanterjadipenyebaranobatkesirkulasidarahdalamtubuh

Untukmempertahankankelarutandanstablitasnya, pH
larutandibuatsedikitasam.

Setelahobatditeteskan, akanterjadinetralisasiolehcairanlakrimal, sehingga


pH berubahmenjadi 7,4 secaracepat

Akhirnya, obat yang terdisosiasimeninggalkanendoteldanmenuju aqueous


humor, langsungberdifusipada iris danciliary body, yang merupakansite of
pharmacological action.

BENTUK SEDIAAN MATA


1. LarutanOpthalmik :
FI V: Larutanobatmataadalahlarutansteril, bebaspartikelasing,
meruapakansediaan yang
dibuatdandikemassedemikianrupahinggasesuaidigunakanpadamata.
Semuabahanharusdalambentuklarut
Tidakadamasalahdenganhomogenitas
Tidakmengganggupandangan
Kontakdenganpermukaanabsorbsisangatsingkat
Untukmeningkatkankontak,
dilakukandenganmeningkatkanviskositas( misalnyadenganmenamb
ahkanmetilselulose).
Pembuatanlarutanobatmatamembutuhkanperhatiankhususdalamhal
Toksisitasobat
Nilaiisotonisitas
Kebutuhanpembawa
Pengawet
Sterilisasidankemasan yang tepat
Korneaadalahmembran yang bersifathidrofildanlipofil, sehinggapenetrasi
paling efektifakanterjadiapabilaobatbersifatbaikhidrofilmaupunlipofil. Obat
yang mudahlarutdalam air, sulitmengalamipenetrasi,
sebaliknyabilaobatsukarlarut air danlebihlipofilik, akan mudah penetrasi.
2. SuspensiOpthalmik

Serbuk sangat halus ( 10 )


Senyawa yang relatif tidak larut dalam air
Mengandung suspending agent dan dispensing agent
Obat ada kemungkinan tertinggal pada cul-de-sac, maka lama kerja
obat dan lama kontak obat lebih tingi dibanding larutan

Obat diabsorbsi, berkurangnya obat karena absorbsi, akan


dikompensasi dengan kelarutan obat yang tersisa pada cul-de-sac.
Ukuran partikel berpengaruh pada mekanisme ini

Bila suspending agent yang digunakan adalah metilselulose, maka pada


saat disterilkan dengan otoklaf, akan terjadi pengendapan dan pemisahan
metilselulose, tetapi setelah dingin, akan homogen dan jernih kembali. Hal ini
disebabkan karena peningkatan suhu dapat mengurangi kelarutan MC.
3. Salapmata
Salapmataakanmenimbulkangangguanpandangan,
kecualibiladigunakanmalamhari, menjelangtidur

Keuntungansalapmata: waktukontak yang lebih lama danbioavailabilitas


yang lebihtinggi

Kerugiansalapmata : onset lebihlambatdanmemerlukanwaktulebih lama


untukmencapaipuncak
Untukmendapatkansediaansteril, syrarat sebagai berikut :
a. Mencampuraseptis
b. Sterilisasidengansinargama
Perluditambahkanpengawet :khlorobutanol,

parabendangaramorganiklainnya.
2.2.

Fenileprin
Fenileprin adalah obat yang biasanya digunakan untuk meredakan
sementra hidung, sinus, dan telinga. Dalam bentuk tetes digunakan juga
sebagai obat mata pada penyakit tertentu dan memperbesar pupil mata,
baik sebelum atau sesudah operasi.
Dalam sediaan opthalmic phenylephrine digunakan sebagai
midriatik dalam konsentrasi tinggi 10 %. ( martindale edisi 36 )

BAB III
3.1.2 KARAKTERISTIK BAHAN AKTIF DAN PEMILIHAN BAHAN
AKTIF
1. Karakteristik Bahan Obat
Tinjauan sifat fisika kimia bahan obat
1.

Rumus molekul C9H13NO2


Bobot molekul 167,2
Rumus bangun

2. Data kelarutan dalam berbagai pelarut :


Mudah larut dalam air dan etanol ( FI V : 420 )
Mudah larut dalam air 1:2
Mudah larut dalam etanol 1:4
3. Data stabilitas
Hasil penelitian selama 36 bulan, fenileprin dapat stabil apabila disimpan
dalma wadah tertutup, jauhkan dari cahaya matahari, dan jangkauan anakanak dan disimpan dalam suhu dibawah 25 derajat celcius ( Medicines and
Healthcare Products Regulatory Agency ). Tidak stabil terhadap udara,
tidak stabil terhadap cahaya. Ph stabil yakni 3-4 (Martindale 36th Edition,
page : 1568).
4. Inkompatibilitas
inkompatibilitas terhadap analgesik lokal butacaine (Martindale 36th
Edition, page : 1568). Inkompatibilitas fenileprin juga pada obat-obat
oksitoksik dan guanethidin. ( AHFS Drug Information Essensial).
Fenileprin juga inkomwindaelf
patibilitas pada natrium fenitoin injeksi.
5. Data lain
Sebuah kristal putih atau hampir putih (Martindale 36th Edition)

3.2. Tinjauan Eksipien (Bahan Tambahan)


Karakteristik eksipien 1
Tinjauan sifat fisika kimia eksipien Benzalkanium klorida (BKC)
1.

Rumus molekul : [C6H5CH2N(CH3)R]Cl2


Bobot molekul : 360
Rumus bangun

2. Data kelarutan dalam berbagai pelarut :


Praktis tidak larut dalam eter; sangat larut dalam aseton, etanol (95%),
methanol, propanol, dan air. larutan air dari benzalkonium klorida berbusa
ketika terguncang, memiliki tegangan permukaan rendah dan memiliki
deterjen dan properti pengemulsi
( Handbook of Pharmaceutical Excipients)
3. Data stabilitas
Benzalkonium klorida bersifat higroskopis dan dapat dipengaruhi oleh
cahaya,udara, dan logam. Larutan distabilkan padapH dan temperatur yang
luas jangkauan dan dapat disterilkan dengan autoklaf tanpa kehilangan
efektivitas. Selain itu larutan dapat disimpan untuk waktu yang lama pada
suhu kamar. Larutan dapat disimpan dalam polyvinyl chloride atau
polyurethane wadah busa mungkin kehilangan aktivitas antimikroba.
Bahan massal harus disimpan dalam wadah kedap udara, terlindung dari
cahaya dan kontak dengan logam, di tempat yang sejuk dan kering.
Termasuk dalam obat-obatan nonparenteral berlisensi di Inggris.
( Handbook of Pharmaceutical Excipients)

4. Inkompatibilitas
Tidak kompatibel dengan aluminium, surfaktan anionik, sitrat, kapas,
fluorescein, hidrogen peroksida, hypromellose, iodida, kaolin, lanolin,
nitrat, surfaktan nonionik dalam konsentrasi tinggi, permanganates,
protein, salisilat, garam perak, sabun, sulfonamid, tartrat, seng oksida,
seng sulfat, beberapa campuran karet, dan beberapa campuran plastik.
Benzalkonium klorida telah terbukti diserap ke berbagai membran
penyaringan, terutama yang hidrofobik atau anionik.
( Handbook of Pharmaceutical Excipients)

2. Karakteristik eksipien 3
Tinjauan sifat fisika kimia eksipien natrium metabisulfit
1.

Rumus molekul
Bobot molekul 190.1
Rumus bangun

2. Data kelarutan dalam berbagai pelarut :


Etanol (95%) : agak mudah larut
Gliserin
: sangat mudah larut
Air
: 1 : 1.9
: 1 : 1.2 pada suhu 100 0C
( Handbook of Pharmaceutical Excipients)
3. Data stabilitas
Saat terpapar udara dan kelembaban, natrium metabisulfit perlahan-lahan
teroksidasi menjadi natrium sulfat dengan adanya peristiwa disintegrasi
kristal.Dalam air, natrium metabisulfit segera dikonversi ke natrium (Na+)
dan ion bisulfit (HSO3). natrium metabisulfit dalam bentuk cair juga
terurai di udara, terutama pada pemanasan. Solusi yang bisa diatasi yaitu
disterilkan dengan autoklaf dan harus dimasukkan ke dalam wadah yang
udaranya telah digantikan dengan gas inert, seperti nitrogen. Penambahan
dekstrosa untuk natrium metabisulfit dalam bentuk cair dapat membuat
penurunan stabilitas metabisulfit tersebut. Bahan massal harus disimpan

dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya, di tempat yang sejuk
dan tentunya kering.
( Handbook of Pharmaceutical Excipients)
4. Inkompatibilitas
Natrium metabisulfit bereaksi dengan obat-obat simpatomimetik dan obatobatan lain yang orto-orpara-hydroxybenzyl yang masih turunan alkohol
yang membentuk turunan asam sulfonat jadi ia memiliki sedikit atau tidak
ada aktivitas farmakologis. Selanjutnya obat yang membuat inaktivasi ini
adalah epinefrin (adrenalin) dan turunannya. Selain itu natrium
metabisulfit tidak sesuai dengan kloramfenikol karena reaksi yang lebih
kompleks; itu juga menginaktivasi cisplatin dalam larutan.
( Handbook of Pharmaceutical Excipients)

3. Tinjauan sifat fisika kimia eksipien natrium klorida


1.

Rumus molekul

: Nacl

Bobot molekul

: 58.44

2. Data kelarutan dalam berbagai pelarut :


Ethanol
Ethanol (95%)
Gliserin
Air

: agak mudah larut dalam air


: 1 : 250
: 1 : 10
: 1 : 2.8

1 : 2.6 at 1000C
Keasaman / alkalinitas pH = 6,7-7,3 (larutan jenuh)
Sudut istirahat 38o untuk kristal kubik
Titik didih 1413oC
( Handbook of Pharmaceutical Excipients hal 637)
3. Data stabilitas
Larutan natrium klorida stabil tetapi dapat menyebabkan
pemisahan partikel dari jenis tertentu pada wadah kaca.
larutan air dapat disterilkan dengan autoklaf atau filtrasi.
Bahan padat stabil dan harus disimpan dalam wadah
tertutup baik, di tempat yang sejuk dan kering. Telah
terbukti bahwa karakteristik pemadatan dan sifat mekanik
dari tablet dipengaruhi oleh kelembaban relatif dari kondisi
penyimpanan natrium klorida disimpan.
( Handbook of Pharmaceutical Excipients hal 639)
4. Inkompatibilitas
Larutan natrium klorida bersifat korosif untuk besi. Mereka juga bereaksi
membentuk endapan dengan garam perak, timbal, dan merkuri. Oksidator kuat
membebaskan klorin dari solusi diasamkan natrium klorida. Kelarutan
methylparaben pengawet antimikroba menurun dalam larutan natrium klorida
berair dan viskositas gel karbomer dan larutan dari hidroksietil selulosa atau
hidroksipropil selulosa berkurang dengan penambahan
natrium klorida.
( Handbook of Pharmaceutical Excipients hal 639)

4. Tinjauan sifat fisika kimia eksipien air untuk injeksi


1.

Rumus molekul H20


Bobot molekul : 18.02
Rumus bangun

2. Data stabilitas
Air secara kimiawi stabil di semua negara fisik (es, cair, dan uap). Air
yang meninggalkan sistem pemurnian farmasi dan memasuki tangki
penyimpanan harus memenuhi persyaratan tertentu. Tujuan ketika
merancang dan mengoperasikan penyimpanan dan distribusi sistem adalah
untuk menjaga air dari kelebihan batas yang diijinkan selama
penyimpanan. Secara khusus, penyimpanan dan distribusi sistem harus
memastikan air yang dilindungi terhadap kontaminasi ion dan organik,
yang akan mengakibatkan peningkatan konduktivitas dan jumlah karbon
organik, masing-masing. Sistem ini juga harus dilindungi terhadap
masuknya fisik partikel asing dan mikroorganisme sehingga pertumbuhan
mikroba dicegah atau diminimalkan. Air untuk tujuan tertentu harus
disimpan dalam wadah yang sesuai;Air untuk injeksi disimpan dalam
wadah tertutup rapat.
( Handbook of Pharmaceutical Excipients)
3. Inkompatibilitas
Dalam formulasi farmasi, air dapat bereaksi dengan obat dan eksipien lain
yang rentan terhadap hidrolisis (dekomposisi dengan adanya air atau uap
air) pada suhu kamar dan tinggi. Air dapat bereaksi dengan logam alkali
dan cepat dengan logam alkali dan oksida mereka, seperti kalsium oksida
dan magnesium oksida. Air juga bereaksi dengan garam anhidrat untuk
membentuk hidrat dari berbagai komposisi, dan dengan bahan organik
tertentu dan kalsium karbida. Deionisasi
( Handbook of Pharmaceutical Excipients)
5. Karakteristik eksipien 5
Tinjauan sifat fisika kimia eksipien natrium metabisulfit

1.

Rumus molekul
Bobot molekul
C10H14N2Na2O8 336.2 (for anhidrat)
C10H18N2Na2O10 372.2 (for dihidrat)
Rumus bangun

5. Data kelarutan dalam berbagai pelarut :


Keasaman / alkalinitas pH 4,3-4,7 (1% b / v dalam karbon dioksida bebas air)
Titik beku

0.14oC (1% b / v larutan)

Titik lebur

252oC untuk dihidrat

Indeks bias

1,33 (1% b / v larutan)

Kelarutan

Praktis tidak larut dalam kloroform dan eter; sedikit larut


dalam etanol (95%); larut 1 bagian dalam 11 bagian air.
berat jenis 1,004 (1% b/v larutan berair)

Viskositas (kinematik) 1.03mm2 / s (1,03 cSt) (1% b/v berair larutan).


( Handbook of Pharmaceutical Excipients hal 243)

6. Data stabilitas
Garam edetat lebih stabil daripada asam etilenadiaminatetraasetat.
Namun, dinatrium edetat dihidrat kehilangan air dari kristalisasi ketika
dipanaskan sampai 1208C. larutan air dari dinatrium edetat mungkin
disterilkan dengan autoklaf, dan harus disimpan dalam wadah bebas alkali.
Dinatrium edetat adalah higroskopis dan tidak stabil saat terkena
kelembaban. Ini harus disimpan dalam wadah tertutup baik di tempat yang
sejuk, tempat yang kering.
( Handbook of Pharmaceutical Excipients hal 243)

7. Inkompatibilitas
Dinatrium edetat berperilaku sebagai asam lemah, menggusur karbon
dioksida dari karbonat dan bereaksi dengan logam untuk membentuk
hidrogen. Ini kompatibel dengan oksidator kuat, basa kuat, ion logam, dan
paduan logam.
( Handbook of Pharmaceutical Excipients hal 243)

BAB IV
PERSYARATAN UMUM SEDIAAN

1. KarakteristikSediaan Mata
a. Kejernihan
b. Stabilitas
c. Buffer danpH :
- pH ideal = 7,4

- Buffer harus dapat mempertahan harga pH, stabilitas


- Bilakapasitasbuffer terlalu tinggi, akanmenimbulkanmasalah
- pH berpengaruh pada pembentukanobat tak terdisosiasi
Obatmatasepertigaram alkaloid
bersifatasamlemahdanhanyamempunyaikapasitasdapar yang
lemah.Sebagaianbesargaram alkaloid mengendapsebagai alkaloid
bebaspada pH ini
Jikahanyasatuatauduateteslarutan yang
mengandungobattersebutditeteskanpadamata, pendaparanoleh air
biasanyacukupuntukmenaikkan pH sehingga tidak terlalu merangsang
mata.
6. Harus steril atau bebas dari mikroorganisme
Pemakaian tetes mata yang terkontaminasi mikroorganisme dapat
terjadi rangsangan berat yang dapat menyebabkan hilangnya daya
penglihatan atau terlukanya mata sehingga sebaiknya dilakukan sterilisasi
atau menyaring larutan dengan filter pembebas bakteri.
7. Sedapat mungkin harus jernih
Persyarataninidimaksudkanuntukmenghindarirangsanganakibatbahanp
adat. Filtrasi dengan kertas saring atau kain wol tidak dapat menghasilkan
larutan bebas partikel melayang. Oleh karena itu, sebagai material
penyaring

kita

menggunakan

leburan

gelas,

misalnyaJenaerFrittendenganukuranpori G 3 G 5.
8. Harus mempunyai aktivitas terapi yang optimal
Harga pH mata sama dengan darah, yaitu 7,4. Pada pemakaian tetesan
biasa, larutan yang nyaris tanpa rasa nyeri adalah larutan dengan pH 7,39,7. Namun, daerah pH 5.5-11.,4, masih dapat diterima. Pengaturan pH
sangat berguna untuk mencapai rasa bebas nyeri, meskipun kita sangat
sulit merealisasikannya.

BAB V
RANCANGAN SPESIFIKASI SEDIAAN
5.1 Rancangan Spesifikasi Sediaan Tetes Mata
Bentuk Sediaan
: tetes mata 5 ml
Dosis
: 0,125 %
Aturan Pakai
: 1- 2 tetes 6-8 x sehari
Cara Penggunaan
: diteteskan 1-2 tetes setiap 3-4 jam pada mata
Sterilisasi

yang sakit
: secara filtrasi

5.2 Permasalahan Formulasi


1. Fenilefrin tidak stabil terhadap cahaya.
2. Sediaan kemungkinan teroksidasi dalam cahaya.
3. Sediaan mata larutan opthalmik merupakan sediaan multiple dose sehingga
penggunaan berulang dapat menyebabkan resiko kontaminasi yang tinggi.
4. Fenilefrin tidak tahan panas.
5. Dapat membentuk kelat/kompleks dengan logam karena adanya
penambahan antioksidan.

6. pH fenilefrin stabil pada pH 4 7,5 dan tidak stabil pada pH > 9.


5.3 Pengatasan Yang Dilakukan
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Disimpan dalam wadah yang tertutup rapat dan kedap serta tertutup rapat.
Formulasi diberi antioksidan.
Formulasi diberi preservative.
Menggunakan sterilisasi filtrasi.
Formulasi diberi chelating agent.
Dibuat sediaan dengan pH 6 / pH < 9.

BAB VI
FORMULASI SEDIAAN
6.1 Macam Macam Formulasi
6.1.1 Formulasi 1
Fenilefrin HCl
4g
Disodium hydrogen fosfat
40 mg
NaCl 0,9%
75 ml
Steril water of injection
ad 100 ml
Sumber: Jurnal Elsevier Masson Formulation and Stability Study of
Apediatric 2% Phenylephrine Hydrocholide Eye Drop Solution
6.1.2 Formulasi 2
Fenilefrin HCl
25 mg
Sodium fosfat, monobasic, dihidrat
0,3 mg
Sodium fosfat, dibasic, dihidrat
1,9 ml
Asam borat
1 ml
Benzalkonium klorida
0,0001 mg
Water of injection
ad 1 ml
Sumber: HUB Pharmaceuticals Ophtalmic Diagnostic Products, UC.
6.1.3 Formulasi 3
Fenilefrin HCl
2,5%
Sodium fosfat monobasic
0,5%
Sodium fosfat, dibasic, anhidrat
0,3%
Asam borat
1,0%
Benzalkonium klorida
0,01%
Sodium hidroksida
q.s
Asam hidroksida
q.s
Sumber: USP-Methods and Composition of Stable Phenylephrine
Formulation
6.1.4 Formulasi 4
Fenilefrin HCl
Sodium sitrat dihidrat

59,60 g
90 g

Sodium metabisulfit
49,50 g
Natrium klorida
319,50 g
Zinc sulfat
123,75 g
Sodium hidroksida
23,99 g
1 N Sodium hidroksida
q.s
Water of injection
30 L
Sumber: Handbook of Pharmaceutical Manufacturing Formulations Sterile
Products. Vol 6 of 6.
6.1.5 Formulasi 5
Fenilefrin HCl
Sodium metabisulfit
Sodium dihidrogen fosfat
Larutan cetrimide 0,5%
Water of injection
Sumber: WHO, eye drop update 2002.
6.1.6 Formulasi 6
Fenilefrin HCl
Sodium metabisulfit
Disodium edetat
Sodium klorida
Benzalkonium klorida
Water of injection
Sumber: Martindale 28th, page 25 (APE)

10 g
500 mg
500 mg
4 ml
100 ml
125 mg
100 mg
50 mg
700 mg
0,02 ml
100 ml

6. 2 Formulasi Yang Direncanakan


Fenilefrin HCl
Natrium metabisulfit
Disodium edetat
Benzalkonium klorida
Natrium klorida
Water of injection

0,2%
0,1%
0,02%
0,01%
0,9%
q.s

6.3 Fungsi Setiap Bahan Dalam Formulasi


Nama Bahan
Fenilefrin HCl
Nametabisulfit

Fungsi

Kelarutan

PH

Bahan aktif

Stabilitas
Mudah larut air, 4 7,5

Sterilisasi
Sterilisasi

Antioksidan

alkohol
Mudah larut air

filtrasi
Sterilisasi

35

Cara

filtrasi

Disodium

Chelating

Larut 1 bagian 4,3 4,7

Sterilisasi

edetat

agent

dalam 11 bagian

filtrasi

Preservatif

air
sangat

Sterilisasi

Benzalkonium
klorida
NaCl

WFI

dalam
Preservatif

larut 5 8
aseton,

etanol (95%), air


Kelarutan dalam
air 1 : 2.8 dan
1 : 2.6 pada
100oC

filtrasi
6.77.3

Sterilisasi
filtrasi

Pelarut

6.4 Penyusunan Formula Sediaan


Phenylephrine

Mudah larut dalam


airMencegah
Mudah
teroksidasi
kontaminasi
Menbentuk
mikroorganisme
kompleks
logam
Tidak
tahan pemanasan
Tidak stabil
terhadap
cahaya

Diberi antioksidan
Diberi pengawet
Diberi chellating
Dikemas
agent
dengan botol
Metode
kacasterilisasi
coklat
filtras

6.5 Rancangan Formulasi Sediaan Tetes Mata


Sodium metabisulfit
Benzalkonium kloridaNa-edetat
No
Nama Bahan
Fungsi
Kebutuhan (20 ml)
.
Phenylephrine HCL
1
Bahan Aktif
0.04 g
0,2%
Sodium Metabisulfit
2
Antioksidan
2 ml
0,1%
Benzalkonium
3
Pengawet
2 ml
Klorida 0,01%

4
5
6

Na- Edetat 0,02%


NaCl 0,9%
WFI

Chellating Agent
Pengisotonis
Pelarut

4 ml
0,002 g
Ad 20 ml

6.6 Perhitungan Volume dan Berat


1. Sediaan dibuat 5ml, dibuat 2 sediaan maka 5 ml x 2 = 10 ml.
Dilakukan penambahan volume sediian dengn penambahan 10%
dari total sediaan.
10ml + (10% x 10) = 11ml 20 ml
Fenilefrin HCl = 0,2% x 20ml = 0,04 g 40 mg
Na-metabisulfit = 0,1% yang tersedia 1%
0,1% x 20g = 0,02 g 20mg
Na-EDTA 0,02% yang tersedia 0,1%
0,02% : 0,1 x 20ml = 4ml
BKC 1 gram ~ 0,18 NaCl
0,01% : 100ml = X : 20
0,2 = 100X
X = 0,002
0,002 BKC ~ 0,0004 gram
0,002 x 0,18 = 0,0004 gram

BAB VII
RANCANGAN PRODUKSI
7.1 Cara Peracikan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Di siapkan alat dan bahan di LAF (Laminal Air Flow)


Di timbang dan diukur semua bahan
Di ukur 5ml WFI untuk melarutkan phenylephrine
Setelah phenylephrine larut, kemudian ditambahkan NaCl aduk ad larut
Ditambahkan Na- Edetat,Benzalkonium dan Na-Metabisulfit aduk ad homogen
Ditambahkan NaOH ad pH 6
Ditambahkan WFI ad 20 ml
Campuran larutan disaring dengan kertas saring
Diambil larutan sebanyak 5,3 ml dengan spuit injeksi

10.Dimasukkan kedalam botol dengan spuit yang sudah diberi membran filter
holder (0,2m).
7.2 Alat Dan Wadah Yang Digunakan Dan Cara Sterilisasinya
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Nama Wadah
Beaker glass
Erlenmeyer
Vial
Pinset
Batang
pengaduk
Alumunium

Ukuran
100 ml
100 ml

Jumlah
2
1
3
1

Cara Sterilisasi
Panas kering
Panas kering
Panas kering
Panas kering

Suhu
180 C
180 C
180 C
180 C

Waktu
30 menit
30 menit
30 menit
30 menit

Panas kering

180 C

30 menit

Dibakar

voil
langsung
180 C
Pipet
1
Panas kering
121 C
Gelas ukur
25 ml
3
Panas basah
180 C
Gelas arloji
1
Panas kering
121 C
Corong gelas
1
Panas basah
121 C
Gelas ukur
10 ml
1
Panas basah
disaring dengan1Diambil
kertas saring
larutan
sebanyak
1805,3
C
Spatula logam
Panas kering

30 menit
15 menit
30 menit
15 menit
15 menit
ml
dengan spui
30 menit

7. 3 Bagan Alir
5ml
WFIad
+ larut
(+) NaCl
aduk
phenylephrine aduk ad
larut

(+) WFI ad 20ml

Dimasukkan kedalam botol dengan spuit yang sudah diberi me


(+) 2ml Na-metabisulfit
(+)4ml Na-EDTA
(+) 2ml BKC
Aduk ad homogen

(+) NaOH ad PH 6

BAB VIII
PENUTUP
8.1 Pembahasan
praktikum kali ini adalah membuat larutan steril isotonis untuk mata dengan
bahan aktif fenilefrin. Fenilefrin HCl merupakan derivat adrenalin hanya memiliki
1 OH pada cincin benzen. Obat ini terutama berdaya alfa-adrenergis secara tak
langsung jalan pembebasan NA dari ujung saraf. Daya kerjanya 10 kali lebih
lemah dari adrenalin, tetapi bertahan lebih lama. Tidak menstimulir SSP, efek
jantungnya ringan sekali. Berdaya vasokonstriksi perifer dengan meningkatkan
tensi, maka digunakan pada keadaan hipotensi (kolaps). Digunakan sebagai
dekongestivum hidung dan mata dan dalam banyak sediaan kombinasi anti flu
bersama analgetika, antihistamin dan antitusif. Sedangkan fenilefrin pada sediaan
tetes mata memiliki efek alfa-adrenergis pada mata. Fenilefrin bekerja lokal
sebagai vasokonstriktor kuat dan midriatik oleh pembuluh darah dan otot radial
dari iris. Manfaat fenilefrin HCl sebagai sediaan ophtalmik karena memiliki efek
yang cepat dan memiliki durasi cukup lama. Selain itu tetes mata fenilefrin juga
memiliki manfaat sebagai decongestan mata yaitu melegakan mata merah dan
berair.
Fenilefrin memiliki beberapa permasalahan dalam formulasi sediaan tetes
mata diantaranya yaitu tidak stabil terhadap cahaya, teroksidasi dengan adanya
cahaya, merupakan tipe sediaan multiple dose sehingga bisa terjadi kontaminasi,
dapat membentuk kompleks logam karena penambahan, stabil pada pH 4 7,5
dan tidak stabil pada pH > 9 serta tidak tahan pemanasan. Untuk mengatasi
permasalahan tersebut terdapat beberapa solusi diantaranya yaitu disimpan pada
wadah tertutup rapat dan dijauhkan dari cahaya, diberi antioksida, menggunakan
sterilisasi filtrasi, pH dibuat sesuai rentang, hindari kontaminasi pada pipet drop
serta diberi pengawet.
Menurut FI V Larutan obat mata adalah larutan steril,bebas partikel asing,
merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga sesuai
digunakan pada mata. Pembuatan larutan obat mata membutuhkan perhatian
khusus dalam hal toksisitas bahan obat, nilai isotonisitas, kebutuhan akan dasar,
kebutuhan akan pengawet (dan jika perlu pemilihan pengawet) sterilisasi dan
kemasan yang tepat.
Nilai isotonisitas Cairan mata isotonik dengan darahdan mempunyai nilai
isotonisitas sesuai dengan larutan natrium klorida P 0,9%. Secara ideal larutan
obat mata harus mempunyai nilai isotonis tersebut, tetapi mata tahap terhadap
nilai isotonis rendah yang setara dengan larutan natrium klorida P 0,6% dan
tertinggi setara dengan larutan natrium klorida P 2,0% tanpa gangguan nyata.

Pada praktikum ini ditambahkan NaCl 0,9% sebanyak 0,15g. Penambahan


NaCl 0,9% ditujukan untuk membuat sediaan larutan tetes mata mempunyai nilai
isonitas yang sama atau serupa dengan target orang yang dituju yakni mata. Selain
itu juga untuk memenuhi kriteria pembuatan larutan mata steril yang sesuai
dengan standart yang berlaku. Kebutuhan penambahan NaCl 0,9% sebelumnya
dikonversikan dengan jumlah kesetaraan bahan tambahan yang digunakan.
Pada pembuatan tetes mata phenylephrine dilakukan pendaparan pH 6.
Pendaparan pH 6 didapatkan dengan penambahan NaOH diteteskan terus menerus
sampai didapat pH 6. Pemilihan pH 6 dilakukan dengan pertimbangan stabilitas
dari bahan aktif Phenylephrine yang stabil pada pH 4-7,5. Selain itu juga dilihat
dari kestabilan bahan tambah yang digunakan. Meskipun pada pH larutan sediaan
tidak sesuai dengan pH fisiologis mata namun karena pada penggunaannya
diperlukan hanya beberapa tetes saja sehingga efek pedih pada mata akibat
perbedaan pH bisa diminimalisir. Pembuatan obat mata dengan sistem
daparmendekati pH fisiologis dapat dilakukan dengan mencampurkan secara
aseptik larutan obat steril dengan larutan dapar steril. Walaupun demikian, perlu
diperhatikan mengenai kemungkinan berkurangnya kestabilan obat pada pH yang
lebih tinggi, pencapaian dan pemeliharaan sterilitas selama proses pembuatan.
Pengawet Larutan obat mata dapat dikemas dalamwadah takaran ganda
bila digunakan secara perorangan pada pasien dan bila tidak terdapat kerusakan
pada permukaan mata. Wadah larutan obat mata harus tertutup rapat dan disegel
untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama. Larutan harus mengandung
zat atau campuan zat sesuai untuk mencegah pertumbuhan atau memusnahkan
bakteri yang mungkin masuk pada waktu wadah dibuka saat digunakan.
Pada formulasi larutan sediaan steril obat mata dirancang digunakan dosis
ganda yang dutujukan untuk penggunaan berulang. Sehingga dalam
pembuatannya perlu ditambahkan bahan pengawet untuk mencegah kontaminasi
mikroorganisme setelah sediaan dibuka atau setelah penggunaan pertama
kali.Penyaringandenganpenyaring membran steril secara aseptik merupakan
metode yang lebih baik. Jika dapat ditunjukkan bahwa pemanasan tidak
mempengaruhi stabilitas sediaan, sterilisasi obat dalam wadah akhir dengan
otoklaf juga merupakan metode yang baik. Penyaringan menggunakan
penyaringan bakteri adalah suatu cara yang baik untuk menghindari pemanasan,
namun perlu perhatian khusus dalam pemilihan, perakitan dan penggunaan alatalat. Sedapat mungkin gunakan penyaring steril sekali pakai.
Bahan aktif yang digunakan pada praktikum kali ini adalah Phenylephrine
yang merupakan bahan yang tidak tahan terhadap pemanasan. Sehingga metode
sterilisasi yang digunakan adalah metode penyaringan (filtrasi) dengan
menggunakan spuit injeksi yang diberi kertas membran filter ukuran 0,2 m.

Sebelumnya di injeksikan dilakukan uji bubble point test pada spuit injeksi yang
diberi kertas membran ukuran 0,2 m dalam beker gelas yang berisi air.
Sebelumnya ambil udara dari luar sebanyak 1 ml. Apabila keluar gelembung
dalam air pada skala maksimal 0,8 ml, maka membran filter tidak dapat
digunakan karena mengalami kebocoran. Sedangkan gelembung udara dalam air
tidak keluar sampai skala 0 maka membran filter juga tidak dapat digunakan
karena terjadi sumbatan.
Pengawet Larutan obat mata dapat dikemas dalamwadah takaran ganda
bila digunakan secara perorangan pada pasien dan bila tidak terdapat kerusakan
pada permukaan mata. Wadah larutan obat mata harus tertutup rapat dan disegel
untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama. Larutan harus mengandung
zat atau campuan zat sesuai untuk mencegah pertumbuhan atau memusnahkan
bakteri yang mungkin masuk pada waktu wadah dibuka saat digunakan.
8.2 Kesimpulan
Tetes mata fenilefrin digunakan untuk indikasi midriasis dan decongestan
pada mata. Mekanisme kerja fenilefrin yaitu memiliki efek alfa-adrenergik pada
mata sehingga menjadi vasokonstriktor kuat dan midriatik oleh pembuluh darah
dan otot radial dari iri. Fenilefrin dipilih sebagai bahan aktif dalam sediaan tetes
mata karena memilikiefek yang cepat dan memiliki durasi yang cukup lama.
Metode yang digunakan dalam pembuatan tetes mata fenilefrin dipilih metode
aseptis karena sediaan fenilefrin yang tidak stabil terhadap pemanasan. Pembuatan
sediaan ini dilakukan di dalam LAF (Laminar Air Flow) yang dijaga kondisi
sekitarnya agar tidak terkontaminasi oleh bakteri. metode sterilisasi yang
digunakan adalah metode filtrasi dengan membran filter ukuran 0,2 m.
Sebelumnya dilakukan uji kebocoran membran filter dengan metode bubble point
test.
Faktor lain yang juga harus dipertimbangkan dalam pembuatan sediaan
steril yang membutuhkan teknis khusus sehingga diperlukan proses tahapantahapan untuk menunjang hasil akhir sediaan steril yang sesuai dengan standart
yang berlaku seperti Informasi terkait sifat fisiko kimia suatu bahan aktif
diperlukan sebagai penunjang pembuatan sediaan steril yang sesuai dengan
standart. Pemilihan bahan tambahan yang sesuai dengan bahan aktif yang
digunakan juga perlu menjadi pertimbangan dalam proses pembuatan. Wadah
yang digunakan juga harus sesuai dengan sediaan steril yang dibuat, misalnya
pada pembuatan obat tetes mata Phenyepherine mudah teroksidasi dengan adanya
cahaya sehingga wadah yang digunakan iala botol kaca coklat untuk menghindari
kontak lansgsung dengan cahaya yang dapat merusak sediaan steril yang dibuat.
Selain itu faktor pH juga sangat penting diperhatikan dimana pH sediaan harus
mendekati dengan pH fisiologis mata tentunya dengan mempertimbangkan 3 hal
yaitu pH stabilitas bahan aktif, pH kelarutan bahan aktif dan pH mata. pH mata

adalah 7,4 namun dengan mempertimbangkan 3 hal tadi pada sediaan fenilefrin
dibuat pH 6 dengan penambahan NaOH.

BAB XI
RANCANGAN PENANDAAN
Kemasan Primer
Kemasan Sekunder
Brosur

DAFTAR PUSTAKA