Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada klien dengan post operasi apendisitis melalui pendekatan proses keperawatan.
Apendisitis merupakan masalah yang sering ditemukan pada klien dengan gangguan sistem
gastrointestinal. Kebanyakan klien yang masuk ke rumah sakit dengan gejala nyeri pada
kuadran kanan bawah dan abdomen. Berdasarkan data yang diperoleh dari RSUD. Sidoarjo
didapatkan bahwa dari tahun 2010 sampai bulan Maret 2013 terjadi peningkatan kasus
apendisitis.
Apendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm melekat
pada sekum. Apendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam sekum.
Apendisitis penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran kanan bawah dan
rongga abdomen. Kira-kira 7 % dan populasi akan mengalami apendisitis pada waktu yang
bersamaan dalam hidup mereka: pria lebih dipengaruhi daripada wanita.
Berdasarkan kasus yang ditemukan pada klien dengan gangguan sistem intestinal:
apendisitis dan gambaran di atas sekiranya perlu dilakukan asuhan keperawatan pada klien
dengan post operasi Apendisitis melalui pendekatan proses keperawatan.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Memperoleh pengalaman nyata dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan
post operasi apendisitis dan diharapkan mampu mengidentifikasi seluruh masalah yang
terjadi sehubungan dengan post operasi apendisitis.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu mengkaji klien dengan masalah utama post operasi apendisitis.
2. Mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan klien dengan masalah utama
post operasi apendisitis
3. Mahasiswa mampu melaksanakan tindakan keperawatan klien dengan masalah utama
post operasi apendisitis
4. Mahasiswa mampu mengimplementasikan rencana keperawatan klien dengan masalah
utama post operasi apendisitis
1

5. Mahasiswa mampu mengevaluasi tindakan keperawatan klien dengan masalah utama
post operasi apendisitis
1.3 Manfaat Penulisan
1. Mahasiswa memperoleh gambaran dan pengalaman belajar dalam merawat klien dengan
masalah utama post operasi apendisitis.
2. Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa khususnya pada asuhan keperawatan klien dengan
masalah utama post operasi apendisitis.
3. Sebagai bahan masukan kepada perawat ruangan dalam merawat klien dengan masalah
utama post operasi apendisitis pada khususnya dan pada rumah sakit pada umumnya.
1.4 Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini yaitu:
1. Metode kepustakaan
Metode penulisan dengan menggunakan beberapa literatur sebagai sumber
2. Metode wawancara
Data diperoleh dengan cara wawancara langsung kepada klien dan keluarga
3. Metode observasi
Dengan mengobservasi langsung klien dengan masalah utama post operasi apendisitis.

BAB 2
2

Obstruksi fungsional 5. Insiden tinggi di negara maju (diet serat rendah). Appendicitis adalah peradangan dari appendiks vermiformis.1 Definisi a. Apendisitis. benda asing.2. (Price. Appendiks adalah organ tambahan kecil yang menyerupai jari. lumen lebar.2006) f. Apendisitis jarang ditemukan pada: Anak: apendiks pendek. angka kematian cukup tinggi.2 Etiologi Penyebab pasti belum diketahui. terutama umur 10 – 30 tahun dan pria lebih banyak yang menderita daripada wanita. Apendiks merupakan kasus terbanyak pada bedah emergensi. (Arif Mansjoer ddk 2000 hal 307 ). cacing 3. Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Apendisitis adalah radang apendiks yang disebabkan oleh obstruksi atau proses infeksi. d. tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. b. tekanan intrasekal tinggi akibat konstipasi 3 . c. Faktor pencetusnya antara lain : 2. melekat pada sekum tepat dibawah katup ileocecal ( Brunner dan Sudarth. (Anonim. struktur dinding apendiks 4. Hyperplasia kelenjar lymphoid 2. (Corwin 2000) 2. Apendisitis adalah peradangan apendiks yang mengenai semua lapisan dinding organ tersebut yang disebabkan oleh agen infeksi. Apendisitis adalah peradangan apendiks yang relative sering di jumpai yang dapat timbul tanpa sebab yang jelas atau timbul setelah obstruksi apendiks. dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Bila tidak terawat. 2002 hal 1097 ).1 Obstruksi 1.LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS 2. distal menyempit) Orang tua: lumen mengecil atau fibrotik. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan. bentuk kerucut (proksimal lembar. Fekalit. dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur. 2007) e. Tumor.

3 Patifisiologi dan Penyimpangan KDM Luka terbuka ↓ Invasi kuman ke jaringan ↓ Media berkembang biaknya kuman/ bakteri ↓ Resti infeksi Feses yang terperangkap dalam lumen APP ↓ Menyerap air >> ↓ Hiperplasia jaringan limfoid sub mukosa ↓ Obstruksi lumen apendiks ↓ Invasi kuman E. coli. Coli ↓ Appendisitis ↓ Appendektori ↓ Terputusnya kontinuitas Jaringan ↓ Pengeluaran mediator kimia oleh sel-sel radang ↓ Infuls dihantarkan oleh saraf afferent ↓ Infuls ke korteks serebri ↓ Dikirim kembali melalui saraf afferent ↓ Kembali ke sumber nyeri ↓ Nyeri dipersepsikan 4 Perubahan status kesehatan ↓ Kurang informasi ↓ Kurang pengetahuan Pembatasan pasca operasi ↓ Resti kurang volume cairan . E. streptococcus.2.2. listolitika 2.2 Infeksi E.

sigmoid) o Sakit seluruh perut bila sudah ada peritonitis generalisasi. jelas (nyeri somatic) 2. Penonjolan perut kanan bawah bila sudah ada infiltrate atau abses 3. Nyeri samar/tumpul (nyeri visceral) 2. abses. Kembung dan tidak ikut gerak nafas bila sudah ada perforasi atau peritonitis 5 . Tidak tampak kelainan 2. Terutama di titik Mc. peritonitis o Kurang bergerak. Sakit bila berjalan. mengiritasi rectum. Beberapa jam kemudian (4 – 6 jam) berpindah ke perut kanan bawah o Sakit perut kanan bawah 1. diare (bila letak pelviral. Nyeri tajam.2. nafas dalam. Bumey 3. Pemeriksaan Fisik o Demam ringan 37. Kadang kolik (obstruksi) 3.5 – 38. paha difleksikan o Pada inspeksi 1. abses.4 Manifestasi Klinik Anamnesis o Sakit di sekitar pusar dan epigastrium 1. peritonitis o Nadi cepat: infiltrate. mengedan atau batuk (batuk sign) o Nafsu makan hilang o Mual dan muntah (muntah yang mendahului nyeri bukan apendisitis) o Konstipasi.5 ºC (perbedaan 1 ºC rectal dan eksiter sudah bermakna) o Demam tinggi: massa infiltrate.

Burney) 2. bising usus menghilang 2. Psoas sign: hiperfleksi pangkal paha  sakit (retrosekal. Sfingter longgar. bila ada peritonitis. dekat otot obstruktor) 7. Obturator sign: fleksi dan endorotasi.o Pada palpasi 1. Teraba massa di perut kanan bawah bila sudah terbentuk infiltrate atau abses 3. Pekak hepar menghilang bila sudah ada perforasi o Pada auskultasi 1. pelvinal. sendi panggul  sakit (apendiks. Nyeri pada posisi jam 10 dan 11. 2. lalu lepas tiba-tiba  sakit 5. Rovsing sign: tekan perut kiri bawah lalu dorong ke kanan  sakit 6. Blumberg sign: tekan perlahan. dekat otot psoas) o Pada perkusi 1.5 Penatalaksanaan Medik Prinsipnya bila diagnosis apendisitis akut ditegakkan harus segera dilakukan apendiktomi. Nyeri tekan perut kanan bawah (terutama titik Mc. Peristaltik normal kecuali bila ada peritonitis. Konservatif Dilakukan pada: o Infiltrate apendikular o Abses apendikular (abses primer dengan walling of sempurna) 6 . Colon di ubur 3. bila letak pelviral 4. Defence muscular lokal  defence menyeluruh bila sudah peritonitis 4.

suhu 3. Insisi paramedian kanan 2. rendah serat oAntibiotik yang sesuai/spektrum luas oObservasi dilakukan 2 – 4 kali/hari 1. Nadi. Laboratorium: leukosit. konsistensi 2. Riwayat Keperawatan 7 . Laparoscopy o Macam insisi 1. Burney) paling sering dipakai 2. Insisi griol iron (Mc. Nyeri. Tanda peritonitis oBila ada observasi gejala menetap atau bertambah lakukan segera apendektomi emergensi oBila ada perbaikan.Tindakan berupa oBedrest total oDiet cair. LED 4. tunda sampai 2 – 3 bulan lalu dilakukan apendektomi efektif Pembedahan Apendektomi o Sebaiknya dilakukan dalam 2 x 24 jam o Pendekatan 1.6 Konsep Dasar Keperawatan 1. Terbuka 2. masa. lunak.

o Keamanan Tanda : demam (biasanya rendah) o Pernafasan 8 . mual/muntah o Nyeri/kenyamanan Gejala : nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus.o Aktivitas/istirahat Gejala : malaise o Sirkulasi Tanda : takikardia o Eliminasi Gejala : konstipasi pada awitan awal. meningkat karena berjalan. penurunan atau tidak bising usus o Makanan/cairan Gejala : anoreksia. batuk. nyeri lepas pada sisi kiri diduga inflamasi peritoneal. contoh retrosekal atau sebelah ureter). bersin. nyeri tekan/nyeri lepas kekakuan. yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. diare (kadang-kadang) Tanda : Distensi abdomen. Burney (setengah jarak umbilicus dengan tulang ileum kanan). meningkatnya nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak. Tanda : perilaku berhati-hati: berbaring ke samping atau terlentang dengan lutut ditekuk. atau nafas dalam (nyeri berhenti diduga perforasi atau infark pada apendiks) keluhan berbagai rasa nyeri/gejala tidak jelas (sehubungan dengan lokasi apendiks.

Dapat terjadi pada berbagai usia 2.Tanda : takipnea. neutrofil meningkat sampai 75 % o Urinalisis: normal. tetapi eritrosit/leukosit mungkin ada o Foto abdomen: dapat mengatakan adanya pengerasan material pada apendiks (fekalit).000/mm3. pernafasan dangkal o Penyuluhan/pembelajaran Gejala : riwayat kondisi lain yang berhubungan dengan nyeri abdomen. Kurang pengetahuan 2. Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan usus oleh inflamasi. Risiko tinggi infeksi 3. batu uretra. Nyeri 2.8 Rencana Tindakan Keperawatan 1. Risiko tinggi kurang volume cairan 4.7 Masalah / Diagnosa Keperawatan 1. contoh pielitis akut.Pemeriksaan Diagnostik o SDP: leukositosis di atas 12. ileus terlokalisir 2. salpingitis akut. ileitis regional. adanya insisi bedah Ditandai dengan: o Klien mengeluh nyeri o Ekspresi wajah meringis o Klien memegang area perut yang nyeri Tujuan: nyeri berkurang atau hilang 9 .

menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi telentang. memerlukan upaya evaluasi medik dan intervensi. beratnya (0 – 10). gelisah. o Berikan lingkungan yang tenang dan kurangi rangsangan stress Rasional: Meningkatkan istirahat o Pertahankan istirahat dengan posisi semi Fowler Rasional: Gravitasi melokalisasi eksudat inflamasi dalam abdomen bawah atau pelvis. o Observasi TTV.Dengan kriteria: o Klien tidak mengeluh nyeri o Klien tampak tenang o Klien tidak meringis o Tanda-tanda vital dalam batas normal Intervensi: o Kaji nyeri. 10 . selidiki dan laporkan perubahan nyeri dengan cepat Rasional: Berguna dalam pengawasan keefektifan obat. Rasional: Dapat membantu mengevaluasi pernyataan verbal dan keefektifan intervensi. kemajuan penyembuhan perubahan pada karakteristik nyeri menunjukkan terjadinya abses/peritonitis. karakteristik. catat lokasi. perhatikan petunjuk non verbal misal tegangan otot.

contoh ambulasi. menurunkan frekuensi pernafasan. Rasional: Menurunkan risiko penyebaran infeksi 11 .o Ajarkan teknik nafas dalam bila rasa nyeri datang Rasional: Teknik nafas dalam menurunkan konsumsi abdomen akan O2. Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka yang aseptik. berkeringat. perubahan mental. frekuensi jantung dan ketegangan otot yang menghentikan siklus nyeri. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan ditandai dengan adanya tanda-tanda infeksi Tujuan: tidak terjadi infeksi Dengan kriteria: o Meningkatkan penyembuhan luka dengan benar o Bebas tanda-tanda infeksi/inflamasi Intervensi: a. Rasional: Dugaan adanya infeksi/terjadinya sepsis. 2. batuk. perhatikan demam. o Kolaborasi dengan pemberian analgetik sesuai indikasi Rasional: Menghilangkan nyeri. menggigil. Awasi tanda-tanda vital. abses. meningkatnya nyeri abdomen. Berikan perawatan paripurna. mempermudah kerjasama dengan intervensi lain. peritonitis b.

jujur pada pasien/orang terdekat\ Rasional: Pengetahuan tentang kemajuan situasi memberikan dukungan emosi. membantu menurunkan ansietas e. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotik sesuai indikasi Rasional: Mungkin diberikan secara profilaktik atau menurunkan jumlah organisme (pada infeksi yang telah ada sebelumnya) untuk menurunkan penyebaran dan pertumbuhannya pada rongga abdomen. Lihat balutan dan insisi. 3. Rasional: Memberikan deteksi dini terjadinya proses infeksi dan/atau pengawasan penyembuhan peritonitis yang telah ada sebelumnya d.c. Intervensi: a. Catat karakteristik drainase luka/drain (bila dimasukkan) adanya eritema. Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pasca operasi Tujuan: tidak terjadi kekurangan volume cairan Kriteria hasil: Mempertahankan keseimbangan cairan dibuktikan oleh kelembaban mukosa. turgor kulit baik. Berikan informasi yang tepat. Awasi tekanan darah dan nadi Rasional: Tanda yang membantu mengidentifikasi fluktuasi volume intravaskuler 12 . tanda-tanda vital stabil dan secara individual haluaran urine adekuat.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi. berat jenis Rasional: Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan berat jenis diduga dehidrasi/kebutuhan peningkatan cairan c. Kaji tingkat pemahaman klien dan keluarga tentang penyakit. keterbatasan kognitif ditandai dengan klien banyak bertanya ketidakakuratan mengikuti instruksi. Rasional: 13 . Awasi masukan dan haluaran: catat warna urine/konsistensi.b. Kolaborasi dengan pemberian cairan IV dan elektrolit Rasional: Peritenium bereaksi terhadap iritasi/infeksi dengan menghasilkan sejumlah besar cairan yang dapat menurunkan volume sirkulasi darah. dehidrasi dapat terjadi ketidakseimbangan elektrolit 4. Tujuan: klien dapat memahami dan kooperatif dalam pemberian tindakan pengobatan Kriteria hasil: Klien tidak banyak bertanya Klien ikut serta/kooperatif dalam program pengobatan Intervensi: a. mengakibatkan hipolemia. Berikan sejumlah kecil minuman jernih bila pemasukan per oral dimulai dan lanjutkan diet sesuai toleransi Rasional: Menurunkan iritasi gaster/muntah untuk meminimalkan kehilangan cairan d.

Tekankan pentingnya terapi antibiotik sesuai kebutuhan Rasional: Penggunaan pencegahan terhadap infeksi 14 .Mengidentifikasi sejauhmana tingkat pengetahuan keluarga atau klien tentang penyakit yang dideritanya. Identifikasi gejala yang menentukan evaluasi medik contoh meringankan nyeri: edema/eritema luka. c. Diskusikan perawatan insisi termasuk mengganti balutan Rasional: Pemahaman meningkatkan kerjasama dengan program terapi meningkatkan penyembuhan dan mengurangi komplikasi. adanya drainase demam Rasional: Upaya intervensi menurunkan risiko komplikasi serius d. b.

keluarga dan rekam medik Penanggung Jawab Nama : Tn. R Umur : 17 tahun Jenis Kelamin : perempuan Status Perkawinan : belum kawin Agama : Islam Suku : Jawa Pendidikan : SMA Pekerjaan : Pelajar Alamat : Tanggulangin . 15 .Sidoarjo RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI Keluhan utama : Klien mengaku sakit perut kuadran kanan bawah Alasan masuk RS : sakit dirasakan ± 3 bulan yang lalu dan bertambah parah jika klien melakukan aktivitas yang berat karena sakitnya bertambah dari hari ke hari sehingga klien dan keluarga memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit dan disarankan untuk rawat inap. APPENDISITIS No. Sidoarjo Sumber info : Klien.Sidoarjo Tanggal masuk RS : 17 Februari 2013 Ruangan : Perawatan IV Kelas Paviliun RSUD. R Umur : 47 tahun Pekerjaan : Wiraswasta Hubungan dengan klien: keluarga klien Alamat : Tanggulangin . RM : 084284 Tanggal : 18-02-2013 Tempat : Perawatan IV RSUD Sidoarjo DATA UMUM KLIEN Identitas Klien Nama : Nn.ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN POST OP.

Quality : nyerinya timbul bila klien bergerak dan beraktivitas Region : daerah perut kuadran kanan bawah Severity : nyeri akut dengan skala 6 (sedang) Timing : klien mengatakan nyeri tidak menentu waktunya RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU Penyakit yang pernah dialami Saat anak-anak. demam. RIWAYAT PSIKO-SOSIO-SPIRITUAL Pola coping Pengambilan keputusan di tentukan oleh keluarga karena klien belum cukup untuk memutuskan masalah. Riwayat alergi : tidak ada RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA Klien mengatakan tidak ada keluarganya yang menderita seperti penyakit yang dialaminya. Konsep diri Klien bisa menerima keadaannya sebelum dioperasi. Pengetahuan klien tentang penyakitnya Klien tidak tahu persis penyebab dari penyakit yang dideritanya. klien hanya sakit biasa flu. karena banyak keluarga yang datang membesuk dan menjaganya di rumah sakit selama dirawat. Hubungan dengan anggota keluarga Klien menyatakan bahwa hubungannya baik. dan sakit perut biasa dan biasanya hanya mengatasinya dengan membeli obat di warung terdekat. Harapan klien terhadap keadaan penyakitnya Klien berharap penyakitnya akan sembuh agar berkumpul bersama keluarganya kembali Faktor stressor Klien mengatakan nyeri bila terlalu banyak bergerak atau beraktivitas tapi nyeri hilang bila tidak beraktivitas.Riwayat penyakit : Provocative/palliative : klien mengatakan nyeri disebabkan karena asam lambung tinggi. Hubungan dengan masyarakat 16 .

Minum Sebelum MRS : frekuensi tidak tentu sesuai dengan aktivitas yang dilakukan dalam sehari namun biasanya minum 4 – 5 gelas/hari. nasi tim dan lauk sesuai dengan terapi diet yang diberikan di rumah sakit. : frekuensi makan 3 x sehari dengan komposisi bubur. tidak sakit pada saat BAK Setelah MRS : klien mengatakan BAK lancar.lakinya. tidak sakit pada saat BAK Personal hygiene 17 .30 pagi Setelah MRS : klien mengatakan setelah masuk rumah sakit klien sering tidur tetapi juga sering bangun karena rasa nyeri yang di rasakan dan malam hari klien tidur jam 22. KEBUTUHAN DASAR/POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI Makan Sebelum MRS : frekuensi makan 2x sehari dengan komposisi nasi lauk pauk terkadang makan sayur.00 pagi. Setelah MRS : klien mengatakan belum BAB semenjak masuk rumah sakit. Eliminasi /BAK Sebelum MRS : klien mengatakan BAK lancar. Setelah MRS : klien mengatakan minum 6 – 10 gelas/hari Tidur Sebelum MRS : klien jarang tidur siang karena kesibukannya yang sebagai pelajar sampek sore tapi malam klien biasa tidur jam 21. Keyakinan tentang kesehatan Klien yakin bahwa penyakitnya akan sembuh dan menyerahkan semua kepada Tuhan YME.00 – 05. tetapi porsi makannya Setelah MRS sedikit.00 – 06. warna kuning dan tidak menggunakan obat penahan. Eliminasi /BAB Sebelum MRS : Klient mengaku dalam 1 minggu BABnya 3-4 kali dengan konsistensi lunak.Klien mengatakan hubungan dengan masyarakat baik Keadaan lingkungan Klien mengatakan keadaan lingkungannya baik dan tinggal bersama orang tua serta satu orang adik laki.

Vena jugularis dan tidak ada rasa kaku Dada 18 . tidak ada peradangan. tekstur kenyal. tidak terdapat edema. tidak bergairah. Vital sign : S : 37 ºC TD : 90/55 mmHg P : 20 x/mnt ND : 76 x/mnt Head to toe Kulit/integument Kulit kuning lansat. cuci rambut 3x seminggu Setelah MRS : klien nampak bersih karena klien sudah dimandikan di tempat tidur oleh keluarganya. tidak ada peradangan serta polip. akomodasi bagus. Kepala dan rambut Kulit kepala klien cukup bersih tidak ada peradangan rambut warna hitam sebahu dan ikal. kuku tangan dan kaki tampak bersih. karies tidak ada Leher Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid. fungsi penglihatan mengalami rabun jauh dan klien memakai kacamata. Mulut dan gigi Bibir tidak kering. nyeri tekan dan beraktivitas di tempat tidur. kedua pupil isokhor. fungsi pengecapan bagus. konjungtiva tidak ademis. Kuku Bantalan kuku berwarna merah mudah. PEMERIKSAAN FISIK Hari: Selasa / 19 Februari 2013 Keadaan umum Klien tampak lemah. lidah tidak kotor. turgor baik suhu 37 ºC. kuku tangan dan kaki cukup bersih dan pendek Mata/penglihatan Mata bulat. tampak meringis. Hidung/penciuman Septum hidung berada di tengah. tidak ada distensi.Sebelum MRS : klien mengatakan 2 x sehari mandi. refleks cahaya normal. simetris kanan dan kiri.

telah dilakukan tindakan appendektori pada tanggal 18 Februari 2013 Auskultasi : bising usus 5 x/menit Perkusi : perkusi hati pada midklavikulari kanan terdengar redup perkusi limfe di daerah posterior midaksilaris kiri terdengar redup Palpasi : tidak ada pembesaran hati. tampak ada luka. tidak terlihat massa. bunyi jantung I dan II murni. tidak ada nyeri dan tidak ada bunyi jantung tambahan Abdomen Perut tidak kembung. Bentuk abdomen simetris. Genitalia Tidak ada peradangan dan perdarahan Ekstremitas atas dan bawah Tidak ada kekakuan. Klien mengatakan nyeri bila ditekan pada daerah perut kanan bawah. ictus kordis tidak tampak. frekuensi pernafasan 20 x/menit. edema dan atropi pada ekstremitas atas dan bawah. limfe dan ginjal tidak teraba adanya massa pada abdomen. tidak ada pembesaran hepar. bising usus (+). denyut apeks teraba pada ICS 5.Pernafasan tenang. pada ekstremitas atas sinistra terpasang infus RL 20 tetes/menit. gerakan toraks ke atas dan keluar simetris saat inspirasi. Pengkajian data fokus Sistem gastrointestinal Inspeksi : umbilicus terletak di garis tengah dan tidak menonjol. nyeri tekan pada perut kanan bawah (SPKB). Pemeriksaan diagnostik USG: tampak adanya tanda-tanda apendisitis Penatalaksanaan medis Hari/tanggal: 19 Februari 2013 Cefotoxime 1 gr/12 jam Seminac 1 amp Ramitidine 1 amp/8 jam KLASIFIKASI DATA Data Subjektif: 19 . tidak ada massa.

P : 20 x/mnt. TD : 90/55 mmHg. ND : 76 x/mnt 20 .Klien mengatakan nyeri pada perut kanan bawah Data Objektif: Tampak meringis Tampak luka insisi di perut kuadran kanan bawah Tampak lemah Nyeri tekan (+) Klien sering bertanya tentang penyakitnya TTV: S : 37 ºC.

DS: -Klien mengatakan nyeri pada perut kanan bawah DO: -Tampak meringis -Nyeri tekan (+) -TTV S : 37 ºC TD : 90/55 mmHg P : 20 x/mnt ND : 76 x/mnt 2.ANALISA DATA No Data Kemungkinan Penyebab 1. DS: DO: -Sering bertanya tentang penyakitnya Tindakan pembedahan ↓ Terputusnya kontinuitas jaringan ↓ Pengeluaran zat-zat kimia (bradikinin. prostatglandin. histamin) ↓ Merangsang hipotalamus ↓ Stimulus korteks serebri ↓ Rasa nyeri dipersepsikan Apendisitis ↓ Perubahan status kesehatan ↓ Kurang informasi ↓ Kurang pengetahuan 21 Diagnosa Keperawatan Nyeri Kurang pengetahuan .

Kaji tingkat nyeri. Nyeri berkurang catat atau karakteristik hilang dengan kriteria: . keefektifan verbal S : 37 ºC TD : membantu dan intervensi 100/60 3. - - - Keperawatan Gangguan rasa nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan karena tindakan operasi ditandai dengan: DS: -Klien mengatakan nyeri pada daerah operasi -Klien mengatakan nyeri pada perut kanan bawah DO: -Tampak meringis Nyeri tekan (+) -TTV S : 37 ºC TD: 100/60 mmHg P : 20 x/mnt ND : 86 x/mnt ND : 86 x/mnt TD : 100/60 mmH P : 20 x/ ND : 86 x/mnt No. Ajarkan teknik nafas Teknik nafas dalam bila rasa nyeri menurunkan datang abdomen menurunkan 22 dalam konsumsi akan O2. frekuensi . mengeluh nyeri . menghilangkan dalam tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi telentang 5. RM: 084284 Tujuan Tujuan: Intervensi Rasional 1.Klien Berguna dalam pengawasan memerlukan upaya evaluasi tampak medik dan intervensi.Klien lokasi. R Ruang: Perawatan IV Diagnosa Rencana Tindakan Keperawatan No 1.RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN Inisial Klien: Nn. Pertahankan istirahat Gravitasi melokalisasi dengan posisi semi eksudat inflamasi Fowler abdomen bawah atau pelvis.TTV TTV. Berikan lingkungan Meningkatkan istirahat mmHg yang P : 20 x/mnt kurangi ND : 86 x/mnt stress tenang dan rangsangan 4. tenang . Observasi meringis . kemajuan dan penyembuhan beratnya (0 – 10) pada karakteristik tidak nyeri menunjukkan terjadi abses.Klien tidak 2. keefektifan obat. Dapat perhatikan petunjuk mengevaluasi pernyataan non verbal.

Kurang Tujuan: pengetahuan Klien berhubungan memahami dengan sesuai indikasi 1. kerjasama intervensi lain.Sering bertanya .Ikut serta dalam 3.Klien tentang penyakitnya 2. dengan contoh ambulasi. batuk. pemberian analgetik sesuai indikasi Kolaborasi dengan pemberian analgetik 2. Tekankan pentingnya Penggunaan terapi 23 antibiotik terhadap infeksi pencegahan . Identifikasi gejala Upaya intervensi program yang menentukan menurunkan pengobatan evaluasi medik contoh komplikasi serius meringankan edema/eritema risiko nyeri: luka. Kaji tingkat Mengidentifikasi dapat dan kurang kooperatif dalam pemahaman klien sejauhmana tingkat dan keluarga tentang pengetahuan keluarga atau penyakitnya klien tentang penyakit yang informasi ditandai pemberian dideritanya dengan: tindakan DS: - pengobatan perawatan insisi kerjasama dengan program DO: dengan kriteria: termasuk ganti terapi . Diskusikan tidak Pemahaman meningkatkan balutan meningkatkan penyembuhan bertanya-tanya dan mengurangi komplikasi . adanya drainase demam 4.pernafasan. Kolaborasi dengan Menghilangkan pemberian analgetik mempermudah sesuai indikasi dengan Kolaborasi nyeri. frekuensi jantung dan ketegangan otot yang menghentikan siklus nyeri 6.

sesuai kebutuhan 24 .

lokasi dan 13 karakteristik Hasilnya: Nyeri sedang (6) lokasi pada perut kuadran kanan bawah 09. dengan posisi semi Fowler 09. Mengobservasi TTV Hasilnya: TD : 90/55 mmHg S : 37 ºC P : 20 x/mnt ND: 76 x/mnt 09.00 S : klien mengatakan nyerinya sudah berkurang O : .00 5. 29-03-2006 Jam: 14. Mengkaji tingkat pemahaman klien dan Jam: 14.50 4. Memberikan lingkungan yang tenang dan mengurangi rangsangan stress Hasilnya: Klien tampak baring di atas tempat tidur.15 25 .35 2.30 19-021.IMPLEMENTASI KEPERAWATAN No dx I 2 Hari/ Implementasi Tanggal Rabu/ 09. Mengkolaborasikan dengan pemberian analgetik sesuai indikasi Hasilnya: Injeksi Cefotoxime 1 gr/12 jam Evaluasi Rabu.45 3.Mengkaji tingkat nyeri.Wajah tampak meringis .30 Rabu 29-03-06 1.vital sign S : 37 ºC TD : 100/70 mmHg P : 20 x/mnt ND: 84 x/mnt A : masalah belum teratasi P : Pertahankan intervensi 10. Mengajarkan teknik nafas dalam bila rasa nyeri datang Hasilnya: Klien nampak tarik nafas melalui hidung dan mengeluarkannya melalui mulut 10.

adanya drainase. Mendiskusikan perawatan insisi termasuk ganti balutan Hasil: Verban tampak kering 10.klien dapat memahami tentang penyakitnya .Klien tidak banyak bertanya : masalah teratasi : pertahankan intervensi . Mengidentifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik contoh peningkatan nyeri: edema/eritema luka.00 4. drainase (-) demam (-) 11. Menekankan pentingnya terapi antibiotik sesuai kebutuhan Hasil: Injeksi Cefotoxime 1 gr/12 jam 26 S O A P ::.35 2.keluarga tentang penyakitnya Hasil: Klien mengatakan tidak tahu apa penyebab penyakitnya 10. demam Hasil: Nyeri (+). edema (-).40 3.