Anda di halaman 1dari 143

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015

ISSN 2089-8460

Pengantar Redaksi

Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni merupakan salah satu institusi


akademik yang berkonsentrasi pada ilmu pendidikan bahasa dan seni. Dinamika
ilmu pendidikan bahasa dan seni amatlah pesat. Oleh karena itu diperlukan wadah
untuk menghimpun dan menyosialisasikan perkembangan ilmu pendidikan bahasa
dan seni tersebut. Berdasarkan kesadaran dan komitmen civitas akademika,
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni berhasil mewujudkan idealisme ilmiahnya
melalui jurnal Stilistetika yang terbit dua kali setahun, yakni pada bulan Mei dan
November. Apa yang ada di tangan pembaca budiman saat ini merupakan jurnal
Stilistetika Tahun iv Volume 7, November 2015.
Jurnal Stilistetika ini memiliki makna tersendiri. Penerbitan edisi ini selain
disebarkan secara internal dalam kampus Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni,
juga didistribusikan pada komunitas akademik yang lebih luas. Jurnal Stilistetika
kali ini memuat empat buah artikel ilmiah yang dihasilkan oleh dosen Fakultas
Pendidikan Bahasa dan Seni, satu buah artikel dari dosen Politeknik Negeri Bali,
dua buah artikel ilmiah oleh mahasiswa Pascasarjana ISI Yogyakarta, dan tiga
buah artikel ilmiah yang dihasilkan oleh mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa
dan Seni. Adanya sumbangan tulisan dari luar Fakultas Pendidikan Bahasa dan
Seni diharapkan memperluas cakrawala ilmiah komunitas akademik.
Semoga penerbitan jurnal Stilistetika ini menjadi wahana yang baik untuk
membangun atmosfer akademik. Akhirnya, sumbangan pemikiran, kritik, dan
saran dari pembaca diharapkan dapat memperbaiki terbitan edisi selanjutya.

Redaksi

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

Halaman
Pengantar Redaksi .........................................................................................
i
Daftar Isi .......................................................................................................
ii
Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Tantri Perempuan yang
Bercerita Karya Cok Sawitri
Ni Komang Yuliani ........................................................................................

Learning Center (LC) dengan Pembelajaran Mandiri: Suatu Strategi untuk


Meningkatkan Nilai TOEFL Mahasiswa
A.A. Raka Sitawati dkk. .................................................................................

12

Orientasi Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal Bali: Penguatan


Peran Sastra (Paribasa Bali) bagi Siswa Sekolah Menegah Atas
I Nyoman Sadwika. .......................................................................................

20

Analisis Contact Phonology Unsur Serapan Bahasa Inggris dalam Bahasa


Indonesia
Ni Luh Gede Liswahyuningsih, S.S., M.Hum. ...............................................

36

Kontraksi Dalam Deiksis Bahasa Bali: Sebuah Kajian Fonologi Generatif


Ida Ayu Agung Ekasriadi ..................................................................................

44

Nilai Religius Hindu Dalam Seni Lukis I Gusti Nyoman Lempad


Drs. I Komang Dewanta Pendit, M.Si. .........................................................

72

Ekspresi Barong Dalam Lukisan: Sebagai Persepsi Budaya Bali Saat Ini
I Gusti Agung Bagus Ari Maruta ..................................................................

87

Perubahan Lingkungan: Kesuburan dalam Kenangan


I Wayan Putra Eka Pratama .........................................................................

101

Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw untuk


Meningkatkan Keterampilan Menarikan Tari Sekar Jepun dalam
Kegiatan Ekstrakurikuler Tari Siswa Smp Pancasila Canggu, Kuta Utara,
Badung Tahun Pelajaran 2014/2015
Ni Komang Orhitra Sari ...............................................................................

116

Analisis Kesalahan Pemakaian Bahasa Indonesia Tataran Sintaksis pada


Karangan Siswa Kelas V SD Negeri 10 Sumerta Kecamatan Denpasar
Timur Tahun Pelajaran 2013/2014
Ni Nyoman Prassini ......................................................................................

127

ii

STILISTETIKA
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

Penanggung Jawab
Dekan FPBS IKIP PGRI Bali
Redaksi :
Ketua
Sekretaris
Bendahara
Anggota

: Dr. Nengah Arnawa, M.Hum. (IKIP PGRI Bali)


: Drs. Nyoman Astawan, M.Hum. (IKIP PGRI Bali)
: Dra. Ni Made Suarni, M.Si. (IKIP PGRI Bali)
: 1. Prof. Dr. Nyoman Suarka, M.Hum. (Unud)
2. Prof. Dr. Oktavianus, M.Hum. (Unand)
3. Prof. Dr. I Nengah Suandi, M.Hum. (Undiksha)
4. I Made Sujana, S.Sn., M.Si. (IKIP PGRI Bali)
5. Gusti Ayu Puspawati, S.Pd., M.Si.(IKIP PGRI Bali)
6. Dr. Anak Agung Gde Alit Geria, M.Si.(IKIP PGRI Bali)

Penyunting Bahasa Indonesia:


Drs. I Nyoman Suarsa, M.Pd.
Ida Ayu Agung Ekasriadi, S.Pd., M.Hum.

Penyunting Bahasa Inggris:


Ni Luh Gede Liswahyuningsih, S.S., M.Hum.
Komang Gede Purnawan, S.S.

Sirkulasi:
I Nyoman Sadwika, S.Pd., M.Hum.
Putu Agus Permanamiarta, S.S., M.Hum.
Administrasi :
Luh De Liska, S.Pd., M.Pd.
Ni Luh Purnama Dewi, S.Pd.
Gusti Ngurah Okta Diana Putra

Alamat : FPBS IKIP PGRI BALI


Jalan Akasia, Sumerta, Denpasar Timur
E-mail : stilistetika@yahoo.com

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL TANTRI
PEREMPUAN YANG BERCERITA KARYA COK SAWITRI

oleh

Ni Komang Yuliani, NIM 2011.11.1.087


Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah
Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui struktur Novel Tantri Perempuan
yang Bercerita dan (2) untuk mengetahui dan mendeskripsika nilai-nilai pendidikan
karakter yang terdapat dalam Novel Tantri Perempuan yang Bercerita.
Penelitian ini adalah penelitian deskrptif kualitatif dengan menggunakan
pendekatan pragmatik. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini
adalah metode kepustakaan dengan teknik pengumpulan data menggunakan teknik kartu
atau pencatatan. Metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah metode
deskriptif analisis.
Berdasarkan hasil analisis data, peneltian ini sampai pada simpulan bahwa Novel
Tantri Perempuan yang Bercerita mengandung delapan belas nilai-nilai pendidikan
karakter yang sesuai dengan konsep Kemdiknas. Delapan belas nilai-nilai karakter
tersebut adalah religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis,
rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi,
bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial
dan tanggung jawab.
Kata kunci: nilai-nilai, pendidikan karakter, novel
Abstract
This study has 2 objectives. One is to know the structures of the novel Tantri
Perempuan yang Bercerita, and the second is to know the values of the characters
education in the novel Tantri Perempuan yang Bercerita.
The method that used in this research is descriptive qualitative with pragmatic
approach. The method in data collection is used literature. The technique used in data
collection is a card or recording technique and, to analyze data is descriptive analysis.
Based on the results of data analysis, this study resulted in conclusions that novel
Tantri Perempuan yang Bercerita has eighteen values of character education as state in
Kemdiknas. The eighteen values of characters education are religious, honest, tolerate,
discipline, hard work , creative, independent, nationalist, democratic, curiosity, love of
country, appreciation, friendly/communicative, love of peace, love to read, care of
environment, care of society, and responsibility.
Keywords: values, character education, novel

PENDAHULUAN

Dalam bab ini, diuraikan tiga hal, yaitu (1) latar belakang, (2) landasan
teori, dan (3) tujuan penelitian.

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

1.1 LatarBelakang
Indonesia dalam perkembangannya selama ini masih harus menghadapi
berbagai macam permasalahan, seperti melemahnya kecintaan terhadap budaya,
semakin memudarnya etika dan tatakrama dalam masyarakat terutama di kalangan
remaja, maraknya perjudian, kriminal, dan kasus korupsi di kalangan pejabat
pemerintahan, yang berakibat pada semakin merosotnya prestasi-prestasi di
kancah persaingan dunia. Semua permasalahan tersebut disebabkan merosotnya
nilai-nilai moral dan karakter dalam diri masnyarakat Indonesia. Olehkarenaitu,
pendikan karakter menjadi sesuatu yang sangat penting untuk digencarkan di
seluruh lapisan masyarakat.
Presiden pertama Indonesia, Soekarno, menyatakan bahwa nation dan
character building sebagai bagian dari integral pembangunan bangsa (Muslich,
2013:5). Masyarakat membentuk karakter suatu bangsa dan karakter suatu bangsa
berperan besar dalam mempertahankan eksistensi bangsa itu sendiri. Pendidikan
karakter mengedepankan pembentukan sikap dan mental peserta didik. Seperti
disebutkan dalam UU nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional,
bahwasannya ada delapanbelas sikap yang perlu dikembangkan dalam diri peserta
didik. Delapan belas butir sikap tersebut adalah jujur, toleransi, disiplin,
kerjakeras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingintahu, semangat kebangsaan,
cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar
membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab
Sastra merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mampu
memberikan sumbangan atau sebagai penopang terlaksananya penidikan karakter.
Novel adalah salah satu bentuk sastra yang potensial sebagai media pendidikan
karakter. Salah satu novel yang sesuai dengan pendidikan karakter adalah novel
Tantri Perempuan yang Bercerita. Cerita yang ditulis dalam novel ini merupakan
cerita yang melegenda di beberapa daerah khususnya di Bali. Cerita Tantri telah
diterbitkan dalam bentuk buku dalam beberapa versi mengingat banyaknya nilainilai kehidupan luhur yang terkandung dalam cerita tersebut. Cerita Tantri
mengandung banyak nilai-nilai kearifan lokal yang patut untuk dikembangkan.
Cerita Tantri sangat inspiratif, tentang kepemimpinan, kedisiplinan, adu domba,
keberanian, kesetiaan, dll, dihadirkan dengan agenda sistermatis .Melihat dari
latar belakang tersebut penulis memilih novel Tantri Perempuan yang Bercerita
sebagai novel yang layak untuk dijadikan bahan penelitian berkaitan dengan
pendidikan karakter.
1.2 LandasanTeori
1.2.1 Novel
Novel merupakan bagian dari cerita fiksi atau prosa naratif yang di
dalamnya mengandung unsur-unsur seperti tema, alur, karakter, setting, sudut
pandang, gaya, dan suasana. Novel yang baik haruslah memiliki criteria unity.

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
Artinya, segala sesuatu yang diceritakan bersifat dan berfungsi mendukung tema
utama (Nurgiyantoro, 2010:14). Dalam hal ini, biasanya kita temui novel terdiri
dari beberapa bagian cerita, namun masing-masing bagian cerita tersebut adalah
saling berkaitan dan berkesinambungan. Oleh karena unsure pembangunnya,
maka novel memilik kesamaan dengan cerpen yang juga merupakan bagian dari
cerita fiksi. Oleh karena itu novel dan cerpen dapat dianalisis dengan pendekatan
yang kurang lebih sama (Nurgiyantoro, 2010:10).
1.2.2 Struktur Novel
Struktur intrinsik novel yang dibahas disini adalah tema, tokoh, alur, latar
dan amanat. Tema merupakan sejenis komentar terhadap subjek atau pokok
masalah, baik secara eksplisit maupun implisit (Wiyatmi, 2008:42). Tema secara
keseluruhan dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu (1) tema jasmaniah,
berkaitan dengan keadaan jiwa seorang manusia, (2) tema organic, berhubungan
dengan moral, (3) tema sosial, berhubungan dengan masalah politik, propaganda
dan pendidikan, (4) tema egoik, berhubungan dengan reaksi-reaksi pribadi yang
pada umumnya menentang pengaruh sosial, dan (5) tema ketuhanan, yang
berhubungan kondisi dan situasi manusia sebagai makhluk sosial.
Tokoh adalah para pelaku yang terdapat dalam sebuah fiksi (Wiyatmi,
2008:30). Tokoh dalam sebuah cerita harus memiliki beberapa dimensi, yaitu (1)
dimensi fisiologis, melipputi usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, cirri-ciri muka
dan sebagainya, (2) dimensi sosiologis, yang meliputi status sosial, pekerjaan,
jabatan, peranan dimasyarakat, pendidikan, agama, dll., (3) dimensi psikologis,
yang meliputi mentalitas, ukuran moral, keinginan dan perasaan pribadi, sikap dan
kelakuan, juga intelektualitasnya. Tokoh dalam fiksi dapat dibedakan menjadi
beberapa jenis, yaitu (1) berdasarkan keterlibatan dalam cerita, ada tokoh sentral
dan tokoh tambahan, (2) bedasarkan watak tokoh dalam cerita, tokoh dibedakan
menjadi tokoh sederhana dan tokoh kompleks.
Alur pada dasarnya merupakan eretan peristiwa dalam hubungan logic dan
kronologik saling berkaitan dan yang diakibatkan atau dialami oleh para pelaku
(Luxemburg dalam Wiyatmi, 2008:49). Secara garis besar alur dibagi dalam tiga
bagian, yaitu awal, tengah dan akhir (Sayuti dalam Wiyatmi, 2008:36). Tiga
bagian tersebut di awal mengandung instabilitas dan konflik, bagian tengahnya
merupakan puncak atau klimaks dari konflik dan bagian akhirnya merupakan
tahap penyelesaian. Dalam perancangan sebuah alur, ada beberapa kaidah yang
perlu diperhatikan. Kaidah-kaidah tersebut diuraikan oleh Sayuti (dalam Wiyatmi,
2008:37) yaitu plausibilitas (kemasukakalan), surprise (kejutan), suspense, dan
unity (keutuhan).
Dalam fiksi, latar dibedakan menjadi tiga macam, yaitu latar tempat,
waktu dan sosial. Latar tempat berkaitan dengan masalah geografis. Di lokasi
mana peristiwa terjadi, di desa apa, kota apa, dan sebagainya. Latar waktu
berkaitan dengan masalah waktu, hari, jam, maupun historis. Latar sosial

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
berkaitan dengan kehidupan masyarakat (Sayuti dalam Wiyatmi, 2008:40). Fungsi
latar adalah untuk memberi konteks dalam cerita. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa sebuah cerita terjadi dan dialami oleh tokoh di suatu tempat
tertentu, pada suatu masa, dan lingkungan masyarakat tertentu (Wiyatmi,
2008:40).
Secara umum amanat merupakan kesan/pesan yang ingin disampaikan
oleh pengarang kepada pembaca. Amanat yang disampaikan dalam karya sastra
biasanya berupa pesan moral atau nilai-nilai luhur kehidupan. Amanat dalam
karya sastra dapat disampaikan baik secara eksplisit maupun implisit. Untuk
mengetahui amanat yang tertuang secara implisit dalam karya sastra, seorang
perlu dengan seksama membaca dan merenungkan teks-teks dalam karya sastra
tanpa judgement terlebih dahulu terhadap karya sastra tersebut.
1.2.3 Definisi Pendidikan Karakter
Karakter menurut Kemdiknas tahun 2010 adalah watak, tabiat, akhlak atau
kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan
yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir,
bersikap, dan bertindak (Wibowo, 2013:13). Karakter juga sering dikaitkan
dengan kepribadian, sehingga pembentukan katakter juga dihubungkan dengan
pembentukan kepribadian. Kepribadian menurut Kartini Kartono dan Dali Gulo
(dalam Nashir, 2013:11) adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang
membedakannya dengan orang lain; integrasi karakteristik dan struktur-struktur,
pola tingkah laku, minat, pendirian, kemampuan dan potensi yang dimiliki
seseorang; segala sesuatu mengenai diri sendiri sebagaimana diketahui oleh orang
lain.
Dalam KBBI, kata pendidikan diberikan arti proses pengubahan sikap
dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha untuk mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran atau pelatihan (KBBI offline versi 1.1).
Mochtar Buchory yang dikutip oleh Sudewo dalam Nashir (2013:15) mengatakan
bahwa pendidikan dalam kaitan pembentukan kemampuan manusia memiliki tiga
tujuan khusus, yaitu: 1) agar peserta didik bisa menghidupi diri sendiri; 2) agar
peserta didik bisa bermanfaat lebih dengan menghidupi orang lain; 3) untuk
memuliakan kehidupan.
Melihat dari pengertian karakter dan juga pengertian pendidikan, maka
penulis menarik kesimpulan bahwa pendidikan karakter sesungguhnya adalah
bagaimana menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai luhur yang
sesungguhnya sudah ada dalam diri peserta didik itu sendiri sehingga mereka
menyadari kembali adanya nilai-nilai luhur tersebut sehingga akan mampu untuk
menerapkan dalam sikap dan tingkah laku dalam kehidupan mereka sebagai
anggota keluarga, masyarakat dan warga negara.

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
1.2.4 Nilai-Nilai Pendidikan Karakter
Adapun nilai-nilai pendidikan karakter yang dimaksud dalam penelitian ini
adalah delapa belas butir nilai pendidikan karakter berdasarkan Kemdiknas.
Delapan belas butir nilai pendidikan karakter tersebut adalah sebagai berikut.
1. Religius
Nilai religius yang dimaksud adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam
melaksanakan agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah
agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2. Jujur
Perilaku jujur adalah perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan
dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan,
dan pekerjaan.
3. Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan suku, etnis, agama, pendapat,
sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4. Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai
ketentuan dan peraturan.
5. Kerja Keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi
berbagai hambatan belajar dan tugas, serta mennyelesaikan tugas dengan
sebaik-baiknya.
6. Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari
sesuatu yang telah dimiliki.
7. Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam
menyelsaikan tugas-tugasnya.
8. Demokratis
Cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban
dirinya dan orang lain.
9. Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan
meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat, dan didengar.
10. Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan
bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11. Cinta Tanah Air
Cara berpikir, bersikap, berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian,
dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial,
budaya, ekonomi, dan politik bangsa.

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
12. Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu
yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati
keberhasilan orang lain.
13. Bersahabat/Komunikatif
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja
sama dengan orang lain.
14. Cinta Damai
Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang
dan aman atas kehadiran dirinya.
15. Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang
memberikan kebajikan bagi dirinya.
16. Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada
lingkungan alam disekitanya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk
memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17. Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan
masyarakat yang membutuhkan.
18. Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang
seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam,
sosial, dan budaya), negara dan Tuhan yang Maha Esa.
1.2.5 Ciri Pendidikan Karakter
Menurut Foerster (dalam Muslich, 2013:127), ada empat ciri dasar
dalam dalam pendidikan karakter, yaitu keteraturan interior, koherensi, otonomi,
yang terakhir keteguhan dan kesetiaan. Keteraturan menurut Foerster dalam
Muslich (2013:127), dimana setiap tindakan diukur berdasarkan nilai. Nilai
dijadikan sebagai pedoman normatif setiap tindakan. Koherensi yang dimaksud
oleh Foester (Muslich, 2013:127) adalah koherensi yang memberi keberanian,
membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada
situasi yang baru atau takut resiko. Ketiga, yaitu otonomi. Dalam tahap ini,
individu yang bersangkutan menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi
nilai-nilai bagi pribadi (Muslich, 2013:128). Ciri dasar keempat adalah keteguhan
dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa
yang dipandang baik; dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas
komitmen yang dipilih (Muslich, 2013: 128).

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
1.2.6 Pendidikan Karakter; Keseimbangan Antara Moral Knowing, Moral
Feeling, dan Moral Action.
Menurut Lickona (Muslich, 2013:133), dalam pendidikan karakter ada
tiga komponen karakter yang baik yang perlu ditekankan, yaitu: moral knowing
(pengetahuan tentang moral), moral feeling (perasaan tentang moral), dan moral
action (perbuatan moral). Moral knowing dikatakan penting untuk ditanamkan.
Moral knowing ini terdiri dari enam hal, yaitu: (1) moral awareness (kesadaran
moral), (2) knowing moral values (mengetahui nilai-nilai moral), (3) perspective
taking, (4) moral reasoning, (5) decision making, dan (6) self knowledge
(Muslich, 2013:133).
Moral feeling merupakan energi untuk seseorang bertindak sesuai dengan
prinsip-prisip moral. Hal-hal yang perlu ditanamkan berkaitan dengan moral
feeling ini adalah: (1) conscience (nurani), (2) self esteem (percaya diri), (3)
empathy (merasakan penderitaan orang lain), (4) loving the good (mencintai
kebenaran), (5) self control (mampu mengontrol diri), dan (6) humility
(kerendahan hati) (Muslich, 2013:134). Moral action adalah bagaimana
mewujudkan pengetahuan moral menjadi tindakan nyata.
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui struktur dari novel Tantri Perempuan yang Bercerita.
2. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan karakter
yang terdapat dalam novel Tantri Perempuan yang Bercerita.
2

METODE PENELITIAN
Adapun metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah (1) metode
pengumpulan data, (2) teknik pengumpulan data, (3) metode analisis data, dan (4)
metode penyajian hasil analisis data.
1.2 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode kepustakaan. Yang dimaksud dengan metode kepustakaan adalah suatu
metode yang digunakan untuk memperoleh data yang bersifat konkret dengan cara
mengumpulkan sumber-sumber buku yang berkaitan dengan penelitian yang
dilakukan.Metode yang digunakan untuk memperoleh data dari novel TPB ini
adalah: 1) membaca dengan seksama novel lembar-perlembar novel Tantri
Perempuan yang Bercerita, 2) memberi tanda dan kode pada kutipan-kutipan
yang akan digunakan sebagai data penelitian, 3) mencatat kutipan-kutipan yang
telah diberi tanda, dan 4) menganalisis dan mengklasifikasikan kutipan-kutipan
tersebut ke dalam 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yang telah tertera pada
bab 2 penelitian ini.

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
2.2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data ini adalah teknik kartu
atau pencatatan. Dalam kartu data berisikan kutipan pernyataan atau kata-kata
sulit dan sumber kepustakaan yang meliputi pengarang, tahun terbit buku, judul
buku, kota penerbit, penerbit, dan halaman kutipan. Kartu data dibuat dengan cara
membaca terlebih dahulu teks yang akan diteliti, kemudian setelah menemukan
kutipan-kutipan yang berkaitan dengan penelitian, kutipan tersebut dicatat. Teknik
ini digunakan agar data yang berhasil dikumpulkan terjamin kebenarannya dan
berfungsi menghindari terjadinya kesalahan akibat faktor kelupaan, mengingat
terbatasnya kemampuan daya ingat penulis.
2.3 Metode Analisis Data
Metode analsis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif analisis yang dilakukan dengan cara mendeskriptifkan fakta-fakta yang
kemudian disusul dengan analisis.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis data penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis struktur dasar novel
2. Mencatat dan mengelompokan masing-masing bagian struktur novel
3. Menganalisis pesan yang disampaikan dalam kutipan,
4. Mencatat dan mengelompokkan data sesuai dengan nilai-nilai yang
terkandung dalam kutipan,
5. Menguraikan dan memberi pemahaman untuk setiap kutipan.
2.4 Metode Penyajian Hasil Analisis Data
Penyajian data dapat dilakukan dengan dua metode yaitu metode formal
dan metode informal. Metode formal menurut Sudaryanto (dalam Muhammad,
2014:265) merupakan perumusan kaidah atau kaidah-kaidah dengan
menggunakan tanda, dan lambang-lambang. Sedangan metode informal dimana
metode ini menggunakan kata-kata biasa untuk merumuskan kaidah sesuai dengan
domainnya, konstrain, dan hubungan antar kaidah (Muhammad, 2014:288).
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode informal, sementara
metode formal bersifat mendukung.
3

HASIL PENELITIAN
Berdasarkan hasil penelitian terhadap novel Tantri Perempuan yang
Bercerita, diketahui bahwa novel ini mengangkat tema social. Dikatatakan
mengangkat tema sosial karena cerita dalam novel mengandung unsur politik,
propaganda dan juga pendidikan. Novel TPB menggunakan tokoh manusia dan
banyak tokoh binatang yang berjumlah lebih dari lima puluhan. Akan tetapi dari
banyak tokoh tersebut dapat ditemukan tokoh-tokoh yang penting yang muncul
dari awal cerita dan mempunyai peran besar dalam cerita, seperti Ni Diah Tantri

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
dan Raja Eswaryadala yang menjadi tokoh utama dalam cerita, Mahapatih
bandeswara, raja singa Candapinggala, Lembu Nandaka, dan Patih Sambada.
Secara garis besar, alur yang dipakai adalah alur maju. Akan tetapi, jenis cerita
yang berbingkai dimana tokoh-tokoh dalam cerita juga bercerita makan lebih tepat
disebut menggunakan alur campuran.
Sesuai dengan jenis cerita yang menyerupai fabel maka untuk memberi
konteks cerita, seting atau latar dalam novel TPB ini menggunakan latar istana
pada jaman kerajaan, hutan, pedesaan, telaga dan laut. Novel TPB mengandung
banyak sekali amanat-amanat sebagai pesan untuk para pembaca dan amanatamanat tersebut, dalam penelitian ini diuraikan menjadi delapan belas butir nilainilai pendidikan karakter.
Novel karya Cok Sawitri ini cukup kuat untuk mempresentasikan nilainilai pendidikan karakter. Nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam
novel TPB ini dapat digunakan sebagai acuan untuk melakukan tindakan dalam
kehidupan sehari-hari, untuk memperbaiki sikap yang salah dan untuk melatih
karakter-karakter baik yang perlu dikembangkan.
Berdasarkan hasil penelitian, novel TPB mengandung nilai-nilai
pendidikan karakter dan dari data yang telah diuraikan di bab empat terdapat
delapan belas nilai-nilai pendidikan karakter, yaitu nilai religius, jujur, toleransi,
disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat
kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta
damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

SIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa novel Tantri

perempuan yang Bercerita mengangkat tema sosial yang didukung oleh beberapa
tema minor. Tokoh dalam novel berjumlah lebih dari lima puluhan dengan
karakter masing-masing. Beberapa tokoh sentral dalam novel ini adalah Tantri,
Raja Eswaryadala, Mahapatih Bandeswara, Lembu Nandaka, Raja Singa
Candapinggala, dan Patih Sambada. Alur yang digunakan dalam novel adalah alur
campuran. Latar yang dipakai dalam novel menunjang cerita yang diangkat, yaitu
latar istana, hutan, desa, telaga dan laut. Sedangkan amanat diuraikan dalam butirbutir nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam novel.

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
Berdasarkan hasil penelitian, novel Tantri Perempuan yang Bercerita
mengandung nilai-nilai pendidikan karakter dan dari data yang telah diuraikan di
bab empat terdapat delapan belas nilai-nilai pendidikan karakter, yaitu nilai
religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa
ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi,
bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli
sosial, dan tanggung jawab.
Beberapa saran yang disampaikan kepada masyarakan dan peneliti
selanjutnya. Pertama, pembaca bisa membaca novel TPB ini untuk mawas diri,
bercermin, mengintropeksi diri, bagaimana selama ini kita dalam berhubungan
dengan orang lain dan bersikap pada diri sendiri. Bagaimanapun, sebagai manusia
dalam kehidupan kita tidak lepas dari berhubungan dengan makhluk lainnya.
Harus diingat bahwa masing-masing dari kita memiliki perasaan dan harga diri.
Sikap mawas diri dan kritis perlu dikembangkan guna terhindar dari hasutan atau
tindakan yang tidak berdasarkan kebenaran.
Kedua, selain untuk memahami diri sendiri dan orang lain, novel TPB ini
juga dapat digunakan sebagai tambahan materi dan acuan dalam mendidik
karakter anak di sekolah bagi yang berprofesi sebagai guru mengingat bahwa
pendidikan karakter saat ini seperti menjadi sesuatu yang harus mendapat
penanganan serius dan menyeluruh. Selain itu para orang tua juga dapat
menggunakan cerita-cerita dalam novel ini sebagai dongeng pengantar tidur anakanak mengingat ceritanya yang banyak mengangkat tokoh binatang dan sangat
mudah untuk menemukan pesan-pesan dalam masing-masing cerita.
Ketiga, untuk pengembangan peneliti selanjutkan bisa menganalisis
novel TPB karya Cok Sawitri ini dengan mengkaji bentuk analisi yang berbeda
dengan menggunakan metode yang berbeda, atau bisa meneliti nilai yang berbeda
yang terdapat dalam novel TPB, seperti nilai moralitas, nilai keagamaan, nilai
budi pekerti yang luhur, dan nilai sosial.

DAFTAR RUJUKAN

Muslich, Masnur. 2013. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis


Multidimensional. Jakarta. PT. Bumi Aksara.

10

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

Nashir, Haedar. 2013. Pendidikan Karakter Berbasis Agama dan Kebudayaan.


Yogyakarta: Multi Presindo.
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Sawitri, Cok. 2011. Tantri Perempuan yang Bercerita. Jakarta. PT. Kompas
Media Nusantara
Setiawan, Ebta. 2010. KBBI Offline Versi 1.1. Pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi.
Pusat Bahasa.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional. (Daring). Tersedia di: http://www.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2012/10/UU20-2003-Sisdiknas.pdf

Wibowo, Agus. 2013. Pendidikan Karakter Berbasis Sastra. Yogyakarta: Pustaka


Pelajar.
Wiyatmi. 2008. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.

11

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
LEARNING CENTER (LC) DENGAN PEMBELAJARAN MANDIRI: SUATU
STRATEGI UNTUK MENINGKATKAN NILAI TOEFL MAHASISWA
A.A. Raka Sitawati, I Nyoman Rajin Aryana, I M. Rai Jaya Widanta,
I Wayan Dana Ardika
Politeknik Negeri Bali
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Learning Center (LC) sebagai suatu
tempat untuk belajar dan melatih mengerjakan TOEFL (Test of English as a Foreign
Language). Pengembangan ini didasari atas hasil studi penelusuran tentang
kebutuhan para mahasiswa dan dosen di lima universitas pada saat pembelajaran
TOEFL yang menyatakan bahwa LC sangat perlu untuk dikembangkan untuk
mendukung pembelajaran TOEFL. Sebagai tempat pembelajaran mandiri, LC
dilengkapi dengan beberapa fasilitas, di antaranya sepuluh modul ajar dan latihan
TOEFL, materi listening, lembar jawaban, CD player, kartu pencatat nilai, kartu
anggota LC, kartu petunjuk dan SOP. Agar menjadi perangkat yang berterima, modul
ajar dan latihan divalidasi baik menyangkut isi, disain, uji perorangan dan uji
kelompok kecil. Para tim validasi diminta untuk mengisi angket untuk mengomentari
model tersebut. Uji lapangan dengan melibatkan satu kelas mahasiswa dilakukan
untuk melihat efektifitas modul tersebut dilakukan paling akhir. Dalam
implementasinya, sekelompok mahasiswa tersebut diberikan kesempatan untuk
mempelajari salah satu modul TOEFL secara mandiri. Tes TOEFL yang ada dibagian
belakang modul kemudian dikerjakan secara individu. Hasil tes tersebut kemudian
dibandingkan dengan hasil tes awal mereka yang dilakukan sebelum pembelajaran
mandiri ini dilakukan. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata capaian siswa
antara tes 1 dan tes 2 adalah berturut-turut 367.26 dan 416.17. Peningkatan nilai
peserta dari tes 1 ke tes 2 adalah 48.91 dengan rerata peningkatan 13.32. Hasil
tersebut menunjukkan bahwa model LC yang dikembangkan adalah efektif untuk
digunakan sebagai tempat pembelajaran TOEFL secara mandiri.
Kata kunci: Pengembangan model, Learning Center, pembelajaran mandiri, TOEFL
Abstract
This paper describes development of Learning Center (LC) as a place to learn and
practice TOEFL (Test of English as a Foreign Language). The idea for development
of LC was pursuant to the result of tracer study to see needs of assistance of students

12

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
and lecturers in five universities in Bali in learning TOEFL, who agreed that LC
shall be developed. As a self-directed learning site, LC is completed with a number of
facilities, including ten learning and practice test modules, listening materials in
form of CD, answer sheet, CD player, point card, membership card and directory
sheet and SOP. To be appropriate devices, the modules had been finalized through
some validation including content, design, individual, and a small group test. They
were required to fill questionnaire to comment on the modules. The field test to see
effectiveness of modules was done at the end. Thus, a group of student as sample
group was given a self-directed learning for one session by using one of the modules
and practice test at the end of the session. The result of the test was then compared
with that of the test prior to the learning. The result showed that the mean of
students achievement between test 1 and test 2 were respectively 367.26 and 416.17.
The mean of increase of both tests was 48.91 with percentage of increase 13.32. In
conclusion, the developed model was said to be effective considering the result of
statistical analysis.
Key words: Development of model, Learning Center, Self-directed learning, TOEFL
I. Pendahuluan
Self-directed learning (SDL) telah banyak digunaan di berbagai belahan dunia.
Model pembelajaran ini digunaan karena telah terbukti memberiakan dampak nyata.
Selain memberikan dampak positif terhadap rasa percaya diri, inisiatif, keuletan dan
kepuasan hidup pelajar, model ini juga mampu menurunkan kadar kemungkinan
bahwa siswa akan merasa menderita dari beban panjang pelajaran yang memaksa.
SDL juga menyediakan kesempatan yang jauh lebih banyak di mana pelajar bisa
menunjuuan minatnya dibandingkan dengan seolah pada umumnya serta mampu
memacu olaborasi di dalam, dan di luar keluarga.
SDL merupakan pembelajaran mandiri yang cocok untuk berbagai tingkat pada
setiap orang dan situasi belajar. Hal ini disebabkan karena SDL melibatan berbagai
kegiatan dan sumber daya, seperti membaca mandiri, pemagangan, yang efektif bagi
guru memancing berfikir kritis siswa (Hiemstra, 1994). Ini merupakan cara untuk
mengimplementasikan informasi ke dalam kehidupan seseorang (Altuger-Genc,
2013). SDL juga mampu membangun pemahaman kita tentang pembelajaran dengan
mengidentifikasi suatu bentuk pembelajaran

13

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
orang dewasa dan menyediakan pandangan tentang proses, tantangan serta
karakteristik pelajar dewasa serta memperluas pemikiran tentang pembelajaran
formal (Caffarella, 1993). Selain itu, SDL, khususnya untuk pelajar dewasa lebih
menguntungkan karena mampu memacu pelajar utnuk belajar, lebih efektif, kreatif,
inisiatif, mandiri serta berorientasi pada masa depan (Knowles, 1975; Gugilielmo,
1977; Tylor, 1981)
Model ini digunakan sebagai dasar untuk mengembangan LC sebagai tempat
mempelajari dan berlatih TOEFL. TOEFL dipilih sebagai alat ukur kompetensi
bahasa Inggris mahasiswa Politeknik Negeri Bali karena alat ukur ini diakui sebagai
alat ukur standar yang telah mendunia (Pedoman Pendidian Politeknik Negeri Bali,
2006, ayat 6). Merujuk pernyataan tersebut dan dengan memperetimbangkan
pentingnya keberadaan alaj uji tersebut, beberapa model pembelajaran dengan SDL
telah dikembangkan untuk memfasilitasi mahasiswa agar mampu meningkatkan
prestasi akademisnya (Widanta, 2008; Widanta, 2012).
LC dikembangkan di Politeknik Negeri Bali untuk menyediakan siswa suatu
tempat di mana mereka bisa belajar grammar, serta strategi-strategi untuk menjawab
dan latihan TOEFL. Dalam mengembangan LC, ada beberapa langkah telah
dilakukan, seperti menganalisis kebutuhan pengguna, mengembangkan modul ajar,
dan mengukur efektivitas modul.
Model LC yang dikembangan ini masih bersifat konvensional karena masih
dilakukan dengan cara sederhana, manual dan materi ajar masih disediakan dalam
bentuk buku. Dengan perkembangan tenologi yang semakin pesat, pengembangan LC
ini diharapkan akan berbantukan piranti komputer sehingga pembelajaran akan lebih
menarik.
Ada sejumlah tilik kaji tentang pembelajaran mandiri berbantuan komputer telah
dilakukan oleh para pakar pembelajaran, seperti yang dilakukan ODonnell (2006).
Dia menyelidiki efektifitas penggunaan program CALL (computer-assisted language
learning) untuk pembelajaran bahasa Inggris sebagai b bahasa kedua di Korea. Di
pihak lain, K. Lee (2000) menyarankan bahwa teknologi berbasis jaringan cocok
digunakan untuk pelajar bahasa Inggris sebagai bahasa kedua (ESL) karena dapat

14

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
memberikan pengalaman langsung yang dapat meningkatkan maotivas belajar dan
meningkatkan prestasi mereka. Hasil kajian Kannan and MacKnish (2000) juga
menyatakan

bahwa

agar

siswa

mampu

mempraktekkan

keahlian

mereka,

mengenalkan mereka komputer, serta menyediakan mereka teman dan lingkungan


belajar alternatif, mereka harus menggunakan pembelajaran online. Model
pembelajaran itu mampu mengurangi tingkat stress siswa, khususnya ketika
pembelajaran tersebut diberikan di lab multimedia, karena mereka mampu
bervisualiasai tentang situasi topik pembelajaran (Huang & Liu, 2000). Model
pembelajaran itu juga berguna dalam berbagai situasi pembelajaran lainnya karena
siswa mendapatkan balikan secara langsung (Atikson & Davies, 2005).

II. Metodologi, Hasil, dan Pembahsan


Pengembangan LC untuk pembelajaran TOEFL ini dilakukan berdasarkan hasil
kajian penelusuran yang dilakukan di lima universitas dan sekolah tinggi di Bali
(Widanta, 2013). Kajian tersebut berfokus pada

empat aktivitas, seperti (1)

mengetahui kompetensi bahasa Inggris dasar mahasiswa di kelima tempat tersebut;


(2) mengetahui respon para dekan dan ketua jurusan terhadap pengembangan LC; (3)
mengetahui respon para dosen terhadap pengembangan LC; dan (4) mengetahui
respond an harapan mahasiswa di lima perguruan tinggi tersebut tentang
pembelajaran TOEFL. Karena hasil kajian penelusuran
renspon positif, pengembangan LC untuk

tersebut menunjukkan

pembelajaran TOEFL kemudian

dilakukan.
Ada sejumlah langkah yang telah dilakukan dalam pengembangan ini, yaitu (1)
mengembangkan modul TOEFL, (2) mengembangkan instrumen validasi, (3)
memvalidasi modul, (4) memberikan tes awal (pre-test), (5) mengimplementasikan
pembelajaran mandiri dengan modul yang telah divalidasi, dan (6) memberikan tes
akhir (post-test).
Modul TOEFL memuat dua bagian, yaitu modul belajar dan modul tes. Ada 10
(sepuluh) modul diembangkan untuk memfasilitasi LC. Modul tersebut digradasi dari

15

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
tingkat kesultitan tererndah hingga tertinggi. Peserta harus mengerjakan modul
tersebut secara hirarkis dari modul 1 hingga 10.
Instrumen validasi modul dibuat setelah modul selesai dibuat. Ada lima jenis
instrumen validasi yang dibuat untuk memvalidasi model LC, yaitu validasi isi,
disain, uji kelompok perorangan, uji kelompok kecil dan uji lapangan. Setiap
instrumen memuat kuesioner untuk dijawab, dinilai serta dikomentari oleh para ahli
dan mahasiswa.
Validasi dilakuan setelah semua instrumen disiapkan. Validasi isi dilaukan oleh
pakar dan dosen senior dari Universitas Pendidikan Ganesha yang latar belakang
pendidikannya adalah adalah pendidikan bahasa Inggris. Validasi disain modul
dilakukan oleh seorang dosen senior dari fakultas Pendidikan Fisika Universitas
Pendidikan Ganesha yang telah mengembangkan berbagai model pembelajaran.
Uji perorangan, kelompok kecil, dan uji coba lapangan dilakukan dengan
mengundangan siswa di jurusan Teknik Sipil untuk memberikan tanggapan terhadap
modul itu. Kelompok siswa ini dipilih secara acak. Satu orang siswa dengan tingkat
kemampuan yang tidak diukur dipilih untuk memberikan tanggapan. Setelah uji
perorangan, tiga orang mahasiswa dengan masing-masing tingkat kemahiran rendah,
sedang, dan tinggi dipilih untuk memberikan komentar dan masukan terhadap modul.
Mereka diberikan kuesioner untuk diisi. Penentuan tingkat kemahiran tersebut adalah
berdasarkan nilai rata-rata bahasa Inggris mereka serta dengan saran dari dosen
pengajar bahasa Inggris merea. Segala saran, komentar dan masukan yang diberikan
oleh para ahli dan mahasiswa kemudian diiventarisasi untuk dijadikan sebagai dasar
untu merevisi modul. Revisi dilakukan setelah masukan tersebut dirangkum.
Setelah revisi modul selesai, modul tervalidasi ini kemudian digunakan untuk
menyelenggarakan uji coba lapangan. Pada saat uji coba lapangan, satu kelas
mahasiswa jurusan Teknik Sipil digunakan sebagai sampel. Pada saat pembelajaran
tersebut, mahasiswa dibagikan modul untuk dipelajari secara mandiri. Dosen pengajar
bahasa Inggris di kelas tersebut yang telah dilatih dengan cara menyelenggarakan
program LC ini diberikan kesempatan untuk melakukan pembelajaran tersebut.
Mahasiswa sampel tersebut diberikan satu jam untuk mempelajari modul satu

16

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
kemudian disuruh mengerjakan tes pada halaman berikutnya. Tes dilakukan selama
dua jam. Tes tersebut dimulai dengan listening, kemudian structure and written
expression, dan terakhir reading comprehension. Untuk melihat efektivitas model
pembelajaran TOEFL dengan LC ini, kedua hasit tes (Pre-test dan Post-test)
dibandingkan dan dianalis dengan statistik deskriptif.

Rata-rata
Kenaikan rata-rata
Persentase Kenaikan
Median
Standar Deviasi
Varians

PreTest
367.26
363.00
31.04
963.66

Post-Test
416.17
48.91
13.32
420.00
45.29
2050.88

Hasil uji statistik menunjukan bahwa rata-rata tes awal adalah 367.26 dan rata
rata tes akhir adalah 416.17. Peningatan persentase adalah 48.91. Peningkatan ini
signifikan. Peningkatan ini berarti dapat memberian fata bahwa LC dengan
pemeblajaran TOEFL mandiri efektif. Walaupun LC dilakukan secara konvensional
yang tidak menggunakan teknologi komputer terbukti mampu memacu dan
memotivasi mahasiswa untuk belajar lebih baik. Dan walaupun mahasiswa diajarkan
dengan watu yang relatif singkat, mereka mampu meraih prestasi yang baik. Di
samping itu, mahasiswa tersebut tampa lebih termotivasi untuk belajar dan berlatih.

17

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
III. Simpulan dan Saran
Pengembangan LC yang masih bersifat konvensional ini terbukti efektif mampu
meningkatkan prestasi mahasiswa di bidang TOEFL. Hal ini sangat perlu
diimplementasikan untuk mata kuliah lainnya di Politenik Negeri Bali atau di
perguruan tinggi lainnya. Untuk mengintegrasikannya dengan perkembangan
teknologi saat ini, program LC ini perlu dibantu dengan memanfaatkan teknologi
komputer. Untuk hal itu, modul-modul belajar TOEFL serta modul tes TOEFL ini
perlu dimasukkan dalam piranti lunak sehingga akan lebih praktis. Mahasiswa akan
hanya perlu mampu mengoperasikan komputer untuk mengikuti program LC. Dengan
melakukan SDL mahasiswa menemukan bahwa mengalami bahwa cara memecahkan
masalah dengan secara mandiri seperti ini sangat menguntungkan.
Namun, usaha untuk suatu mewujudan pembelajaran yang lebih baik dengan
memberdayakan teknologi-teknologi baru seperti komputer harus selalu diupayakan
dan dirancang. LC yang masih bersifat konvensional ini perlu dikembangkan menjadi
model LC berbantuan komputer sehingga lebih praktis dan memotivasi mahasiswa.

Daftar Pustaka
Atikson, T & Davies, G. 2005. Computer-Aided Assessment (CAA) and language
mearning, Module 4.1 Information and communications Technology for Language
Teachers. Retrieved June 17, 2005 from http://www.ict4lt.org/en/en_mod4l.htm#introduction.
Altuger-Genc, G. 2013. Design and development of a self-directed learning
component for a mechanical engineering technology course. SUNY Farmingdale
State College.
Caffarella, R. S. 1993. Self-directed learning. In S.B. Marriam (ed), An Update on
adult learning theory, no.57.San Francisco: Jossey-Bass.
Hiemstra, R. 1994. Self-directed learning. In T. Husen & T.N. Postlethwaite (Eds.),
The International Encyclopedia of Education (second edition), Oxford: Pergamon
Presss.,Retrieved
May
31,
2006
from
http://home.twcny.rr.com/hiemstra/sdlhdbk.html.

18

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
Huang, S.J. & Liu, H.F. 2000. Communicative Language Teaching in a Multimedia
Language Lab. The Internet TESL Journal, 6(2). Retrieved May 23, 2005, from
http://itslj.org/Articles/Lee-CALLbarriers.html
Kannan, J. & Macknish C. 2000. Issues Affecting On-line ESL Learning : A
Singapore Case Study . The Internet TESL Journal, 6(11). Retrieved May 16, 2005
from http://itslj.org/Articles/Kannan-OnlineESL.html
Knowles, M.S. 1975. Self-directed Learning. New York: Association Press.
Lee, K. 2000. English Teachers Barriers to the Use of Computer-assissted Language
Learning. The internet TESL Journal, 6 (12). Retrieved May 23 2005 from
http://itslj.org/Articles/Lee-CALLbarriers.html
ODonnell, Timonthy J. 2006. Learning Engish as a foreign language in Korea: Does
CALL have a place? Asian EFL Journal. The EFL Professional Writen Forum.
Retrieved April 2006. Fom http://www-asian-efl-journal.com/pta-April06-TJO
Taylor, M. 1981. The Social Dimension of Adult Learning. In: Salter L (ed.).
Communication Studies in Canada Butterworth. Toronto, Ontario, 133-146.
Widanta. I. M. R. J. 2008. Pengembangan model pembelajaran mandiri berbasis
TOEIC di bidang teknologi, Politeknik Negeri Bali. Laporan penelitian hibah
bersaing Dikti 2008.
Widanta. I. M. R. J. 2012. Pengembangan model pembelajaran mandiri berorientasi
TOEFL Untuk meningkatkan nilai TOEFL mahasiswa Politeknik Negeri Bali.
Laporan penelitian hibah bersaing Dikti 2012.
Widanta. I. M. R. J. 2013. Studi empiris tentang kebutuhan mahasiswa, dosen, dekan
dan ketua jurusan di empat universitas di Bali terhadap pengembangan learning
center (LC) berbasis TOEFL. Laporan penelitian hibah unggulan perguruan tinggi
(HUPT) Dikti 2013.

19

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
ORIENTASI PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS KEARIFAN LOKAL
BALI: PENGUATAN PERAN SASTRA (PARIBASA BALI) BAGI SISWA
SEKOLAH MENEGAH ATAS
oleh
I Nyoman Sadwika
Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni
IKIP PGRI BALI

Abstrak
Karya sastra Bali (Paribasa Bali) mempunyai potensi yang sangat besar
dalam upaya pembentukan karakter anak didik, sehingga anak didik memiliki
karakter yang kokoh berakar pada nilai-nilai budaya. Karya sastra (Paribasa Bali)
adalah salah satu karya sastra
yang dapat dijadikan acuan dalam pendidikan
karakter. Paribasa Bali yang mengandung kearifan lokal diharapkan dapat
memberikan kontribusi tersendiri dalam membentuk karakter-karakter anak didik.
Masalah yang dibahas dalam penelitin ini adalah (1) bagaimanakah konsep
kearifan lokal Bali (Paribasa Bali) mengajarkan pendidikan karakter kepada peserta
didik. (2) jenis-jenis pendidikan karakter apa saja yang ditemukan dalam Paribasa
Bali. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Digunakan juga
strategi survey bertujuan untuk mengumpulkan besar variabel melaui alat pengukur
wawancara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk dapat mengetahui konsep dan
jenis-jenis pendidikan karakter yang dapat diajarkan kepada anak didik melalui karya
sastra khususnya Paribasa Bali.
Kata kunci : Orientasi, Paribasa Bali, Nilai karakter

Abstract
Bali literary works (Paribasa Bali) has a huge potential in establishing the
character of the students, so that students have a strong character rooted in cultural
values. Literary works (Paribasa Bali) is one of the literary works that can be used as
a reference in character education. Paribasa Bali containing local wisdom was
expected to contribute in shaping the character of the students.
The problems discussed in this experiment were (1) how the concept of local
knowledge Bali (Bali Paribasa) teaches character education to students. (2) the types
of education any character found in Paribasa Bali. The method used is descriptive

20

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
qualitative method. It was also used survey strategy aims to collect large variable
gauges through interviews. The aim of this study was to determine the concept and
the types of character education can be taught to the students through literature,
especially Paribasa Bali.
Keywords: Orientation, Paribasa Bali, character Value

PENDAHULUAN
Pergeseran etika dan moral masyarakat telah dirasakan sangat drastis pada era
globalisasi belakangan ini. Beberapa peristiwa yang dialami dan dilakukan kalangan
anak-anak, remaja, dan orang dewasa telah menunjukkan terjadinya degradasi moral,
distorsi, disintegrasi, dan disharmoni seperti yang diindikasikan oleh aneka konflik,
eksploitasi sumberdaya, kesenjangan sosial ekonomi, konversi lahan, dan berbagai
sisi gelap lainnya. Kekerasan sepertinya menunjukkan bahwa kata-kata atau bahasa
telah

kehilangan

kekuatannya

sebagai

sarana

berkomunikasi.

Fenomena

memburukknya hubungan antara sesama manusia dalam kondisi tertentu (saling


menghina, menghujat dan menuding), semakin ramainya pejabat dan dan para
petinggi pemerintah yang korupsi, dekadensi moral dikalangan remaja berbentuk
tawuran, penggunaan narkoba, sex bebas, demonstrasi yang berakhir ricuh,
penyerangan sekelompok warga berdalih agama, mutilasi dan lain-lain.
Memang ironis bahwa bangsa dan negara Indonesia yang sejatinya adalah
bangsa dan negara yang berbudaya yang memiliki kekayaan budaya yang luar biasa.
Tetapi sikap dan prilakunya tidak mencerminkan peradaban. Karena itu, revitalisasi
budaya melalui berbagaai langakah pengkajian sangat dibutuhkan untuk membangun
karakter bangsa yang kokoh. Masalah pendidikan karakter akhir-akhir ini menjadi
topik yang sangat menarik diperbincangakan oleh karena kondisi masyarakat yang
sangat memperihatinkan. Isu pendidikan karakter dicanangkan kembali secara resmi
oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam rangka Hari Pendidikan Nasional 2
Mei 2010. Substansinya adalah pemerintah ingin memperoleh dukungan sepenuhnya
dari seluruh rakyat Indonesia. Di era globalisasi ini konsep pendidikan karakter yang
berbasis paribasa Bali yang berisi kearifan lokal diharapkan dapat memberikan

21

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
kontribusi tersendiri dalam membentuk karakter seseorang sejak dini. Salah satu
unsur budaya Bali yang dikaji dalam kesempatan ini adalah Paribasa Bali sebagi
genre sastra lisan Bali tradisional. Paribasa Bali merupakan permainan kata-kata dan
bunyi yang digunakan dalam praktik berbahasa masyarakat Bali untuk memperindah
bahasa dengan tujuan membangkitkan rasa senang, memotivasi, dan menyadarkan
bahkan menyindir lawan bicara.
Orientasi pembentukan karakter positif sejak dini dikalangan masyarakat dan
pendidikan karakter positif diberikan secara kontinyu diharapkan dapat memberikan
penyadaran, khususnys pada generasi muda tentang etika berprilaku baik di dalam
keluarga, masyarakat, dan terhadap lingkungan.

PEMBAHASAN
Konsep Pendidikan Karakter
Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah bawaan, hati,
jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen,
watak. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan
berwatak. Penguatan pendidikan moral atau pendidikan karakter dalam konteks
sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di Negara
Indonesia. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas,
maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman,
pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalah gunaan obat-obatan, pornografi,
kolusi, korupsi nepotisme dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah
sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas. Oleh karena itu betapa
pentingnya pendidikan karakter.
Banyak sarana yang bisa mempengaruhi kepribadian seseorang sejak dalam
kandungan, ketika lahir, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Apa yang dilihat,
dirasakan, dialami, dan dikerjakan akan terekam dengan baik dalam ingatan
seseorang. Rekaman tersebut merupakan bekal dalam membentuk kepribadian.

22

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
Semua masyarakat tentu menginginkan hidup aman, sehat sejahtera, menginginkan
generasi yang baik, bukan yang buruk. Tetapi kadang-kadang harapan dan kenyataan
tidak sesuai dengan yang diinginkan. Akibat dari unsur negatif yang tanpa disadari
menjadi unsur pembentuk kepribadian, karakter, dan akhlak manusia. Di dalam
berbagai budaya di Indonesia setiap suku tentu ada bentuk-bentuk pendidikan yang
dapat dijadikan, rujukan dan refrensi untuk membentuk manusia menjadi manusia
yang terhormat. Tetapi akibat kurangnya pengenalan terhadap budaya khususnya
tentang sastra paribasa Bali, dan karena generasi sekarang lebih banyak
diperkenalkan dengan media elektronik yang serba gampang dan instan, sehingga
pembentukan karakter dalam kehidupan sehari-hari menjadi sangat berkurang. Rasa
toleransi, rasa persaudaraan, kebersamaan, kerukunan, kejujuran, kreativitas,
semangat, dan tolong menolong sudah semakin menipis.
Begitu pula dengan nilai-nilai pendidikan lainnya yang berhubungan dengan
sifat, sikap moral, etika, tatakrama dan sebagainya semakin tidak tersampaikan.
Didalam undang-undang Sisdiknas tahun 2003, disebutkan bahwa: Pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secra aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
Negara.
Nilai-nilai karakter yang dikembangakan disekolah, menurut Indonesia
Heritage Foundation (IHF) dalam Gunawan (2014 : 42) merumuskan sebilan
karakter dasar yang menjadi tujuan pendidikan karakter, yaitu ; (1) cinta pada Allah
dan semesta beserta isinya, (2) tanggung jawab disiplin dan mandiri, (3) jujur, (4)
hormat dan antun, (5) kasih sayang, peduli, dan kerjasama, (6) percaya diri, kreatif,
kerja keras, dan pantang menyerah (7) keadilan dan kepemimipinan, (8) baik dan
rendah hati, (9) toleransi, cinta damai, dan persatuan.

23

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
Lebih lanjut, Kemendiknas (2010) melansir bahwa berdasarkan kajian nilainilai agama, norma-norma sosial, peraturan/hukum, etika akademik, dan prinsipprinsip HAM, telah teridentifikasi 80 butir nilai karakter yang dikelompokkan
menjadi lima, yaitu; (1) nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan
sesama manusia, (2) nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan
kebangsaan, (3) nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan Tuhan Yang
Maha Esa, (4) nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan diri sendiri,
serta (5) nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan lingkungan. Hal
inilah yang digunakan acuan dalam penelitian ini.
Jenis - Jenis Pendidikan Karakter dalam Ungkapan dan Paribasa Bali
Pendidikan karakter dimaksudkan sebagai pembentukan karakter, usaha
pendidikan dan pembentukan karakter yang dimaksud tidak terlepas dari pendidikan
dan penanaman moral atau nilai-nilai luhur pada siswa. Pendidikan karakter itu
sendiri merupakan sebuah proses pembelajaran untuk menanamkan nilai-nilai luhur,
budi pekerti, akhlak mulia yang berakar pada ajaran agama, adat istiadat, dan nilainilai keIndonesiaan dalam rangka mengembangkan kepribadian siswa supaya
menjadi manusia yang bermartabat, menjadi warga bangsa yang berkarakter sesuai
dengan nilai-nilai luhur bangsa dan agama ( Suyanto, 2011:76). Tujuan pendidikan
karakter adalah agar siswa menjadi orang yang bermartabat, orang yang terpuji, dan
sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religious,
menanamkan jiwa kepemimipinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi
penerus bangsa, mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang
mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan, dan mengembangkan lingkungan
kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreatifitas dan
persahabatan. Sebagai suatu kearifan lokal yang berasal dari pandangan hidup dan
sudah menjadi tradisi turun temurun, maka kearifan local dikaitkan dengan
pendidikan karakter bangsa mempunyai fungsi-fungsi, agar fungsi tersebut dapat
maksimal maka makna dalam ungkapan tradisional seperti dalam Paribasa Bali
tersebut perlu diinfrensikan agar selaras dengan perkembangan jaman. Mengingat

24

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
degradasi moral melanda Indonesia maka Kementrian Pendidikan Nasional
mencanangkan delapan belas pendidikan karakter, yang dituangkan pada setiap
bidang ilmu dalam pembelajaran di sekolah-sekolah. Dari pernyataan tersebut dapat
dikatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang terencana, proses pendidikan
yang terencana itu diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik dapat mengembangkan potensinya. Akhir dari proses
pendidikan adalah kemampuan peserta didik memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang
diperlukan dalam mengarungi kehidupan (Sanjaya, 2007:2). Pemaksimalan makna
akan mengembangkan fungsi kearifan local sebagai pandangan, acuan, dan tauladan,
dalam menjaga karakter bangsa.
Adapun fungsi ungkapan dalam Paribasa Bali tersebut antara lain:
1. Kepedulian terhadap Sesama
a. Nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama yakni sadar akan hak
dan kewajiban diri dan orang lain ini tercermin dalam sesonggan
(pepatah). Buka sepite, pedaduanan tatuekne buka anake menyama tuah
ajake dadua Seperti sepit (penjepit) selalu berduaan atau berpasangan.
Yang memiliki makna sehebat apaun kita tanpa dibantu oleh orang lain
akan tidak berarti apa-apa, janganlah kita merasa mampu bekerja
sendirian tanpa bantuan orang lain. Infrensi dari arti tersebut adalah
orang yang arogan dan sombong karena merasa diri hebat bisa
melakukan

segala-galanya,

orang

yang

demikian

cendrung

mengabaikan orang lain, tidak menghormati pemikiran dan sikap orang


lain karena merasa diri serba bisa. Orang tersebut sesungguhnya tidak
tahu apa-apa yang seharusnya dikerjakan. Memahami hak dan
kewajiban sangat dibutuhkan dalam kehidupan siswa. Nilai karakter ini
tampaknya sejak dulu sudah mendapat perhatian dari leluhur kita,
sebagaimana dapat dicermati misalnya, dalam sesonggan, geng yasa
geng goda, besar jasa besar pula godaannya, gede kayune gede

25

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
papahne, besar pohonnya besar pula rantingnya, serta dalam
sesenggakan, buka benange suba kadung maceleban seperti benang
terlanjur basah, sesonggan geng yasa geng goda mendidik kita untuk
tabah, bertanggung jawab akan hak dan kewajiban semakin besar hasil
yang didapat (hak) semakin besar pula kewajiban kita membayar pajak
pada negara. Disamping itu siswa juga harus diajarkan bertanggung
jawab, ulet, tekun, tabah, dan selalu berpikir positf mana hak dan mana
kewajiban yang harus dikerjakan seperti, sesenggakan buka benange
suba kadung maceleban sebagai siswa harus bekerja sampai tuntas
tidak boleh setengah-setengah meskipun hak yang di terima kurang
sesuai dengan harapan.
b. Nilai karakter patuh kepada aturan-aturan sosial, sikap menurut dan taat
terhadap aturan-aturan berkenaan dengan masyarakat dan kepentingan
umum, terdapat dalam Sesonggan (Pepatah) Caruk gong, muah aud
kelor, semua perangkat gamelan atau menarik daun kelor dari
batangnya yang memiliki makna di ibaratkan seperti siswa yang sudah
terjun ke masyarakat apabila ada kegiatan apapun semuanya ikut
bekerja tanpa terkecuali. Dalam kehidupan sehari-hari dilingkungan
manapun berada diharapkan dapat hidup saling tolong menolong berat
dan ringan harus ditopang bersama-sama demi kemajuan bersama. Nilai
karakter patuh pada aturan aturan-aturan sosial dengan cara bersikap
dan bertindak dalam menghadapi masalah dengan menghindari sikap
lupa

diri,

terburu-buru,

ceroboh,

dan

bertindak

berdasarkan

pertimbangan yang matang. Niali karakter ini tercermin pula dalam


beberapa sesonggan, antara lain, gangsaran tinda kuangan daya,
bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu dija kadena langite endep,
jangan mengira ada langit yang rendah, sangat baik dipakai untuk
menasehati dan mendidik anak-anak yang kurang bisa mengendalikan
diri atau cendrung bersifat ceroboh serta terburu-buru sehngga tidak
mentaati aturan-aturan yang berlaku. Sikap ceroboh, dan terburu-buru

26

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
tersebut dalam mengambil suatu keputusan sangat merugikan dalam
kehidupan.
c. Nilai karakter menghargai karya dan prestasi orang lain, sikap dan
tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang
berguna

bagi

masyarakat,

dan

mengakui

serta

menghormati

keberhasilan orang lain terkandung dalam sesonggan (pepatah) Aduk


sera aji keteng tatuekne, karusakang baan anak padidi sane tiosan.
Makanan yang dicampur dengan terasi berlebihan maknanya,
diibaratkan seperti pekerjaan yang sudah dilakukan oleh masyarakat
dengan baik tetapi hasil akhirnya dirusak oleh satu orang. Artinya
perbuatan apapun yang dilakukan harus selalu berhati-hati apalagi
menyangkut orang banyak persatuan dan kesatuan harus dikedepankan.
Nilai karakter sikap menghargai karya dan prestasi orang lain yang
berhubungan dengan sifat, sikap menghargai yang berbeda atau
bertentangan dengan pendirian sendiri. Nilai karakter ini dapat
dicermati pula dalam sloka, buka slokane tusing ada lemete elung tak
ada sesuatu yang lentur itu patah, nilai yang terkandung dalam sloka itu
menandakan adanya bentuk kompromi dan tidak melakukan hal balas
dendam dalam menyelesaikan masalah, selalu menghargai karya orang
lain sehingga tercipta keselarasan dalam kehidupan Suarka (dalam
jurnal Aksara 2010 : 103).
d. Nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama yakni, santun, sifat
halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata prilakunya
kesemua orang, tersurat dalam sesawangan (perumpamaan) Kemikane
luir madu juruh, tatuekne, kemikane manis nyunyur. Suaranya manis
bagaikan madu gula, maknanya suaranya sangat manis, pintar, jujur,
sopan, santun. Siswa yang baik adalah Siswa yang memegang teguh
kata-kata yang diucapakan (santun, satya wacana). Nilai tatakrama dan
santun berhubungan dengan sikap hormat kepada orang lain yang patut
dihormati dengan penuh kesadaran dan prilaku sopan dalam bertindak

27

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
serta santun

dalam berbahasa di kehidupan sehari-hari, nilai sopan

santun tampak tercermin pula dalam dibalik makna sesonggan kuping


ngliwatin tanduk, degag delem, makecuh mulet menek, dan dibalik
makna sesenggakan ; buka guake ngadanin iba , buka jangkrike
galak di bungut, buka naar krupuku gedenan kriak mengandung
makna durhaka, sombong, dan angkuh. Karena itu sesonggan tersebut
dipakai menasehati anak-anak agar tidak berbuat durhaka, sombong,
dan angkuh tetapi menghormati orang yang patut dihormati.
e. Nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama yaitu demokratis
terdapat dalam sesenggakan (ibarat) Buka ngae bajune, sikutang
keraga, tatuekne, buka melaksana, makeneh, wiadin ngomong yan
tibakang marep teken anak len, patut imbangang malu ka deweke
padidi. seperti membuat baju ukur dulu pada diri sendiri, maknanya
seperti berbuat berpikir, maupun berbicara kalau di terapkan pada orang
lain harus sesuaikan dulu dengan diri sendiri, artinya siswa dalam
berbuat, berpikir, maupun berbicara harus disesuaikan dengan situasi
dan kondisi, memiliki rasa demokrasi cara berpikir, bersikap, dan
bertindak menilai sama hak dan kewajiban diri sendiri dengan orang
lain.

2. Nilai kebangsaan
a. Nilai karakter Nasionalis yakni cara berpikir, bersikap, dan berbuat
yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi
terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik
bangsanya terkandung dalam sesenggakan (ibarat) buka sumangahe,
ngutgut kanti mati, tatuekne buka anak ane nindihin kenehne diastun
ngemasin mati. seperti semut merah menggigit sampai mati, maknanya,
seperti seseorang yang membela tanah air sepenuh jiwa dan raga
mempertaruhkan nyawanya. Hendaknya siswa mentauladani sikap
tersebut sebagai generasi muda penerus bangsa.

28

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
b. Nilai karakter menghargai keberagaman yakni sikap memberikan
respek/kehormatan terhadap berbagai macam hal baik yang berbentuk
fisik, sifat, adat istiadat, budaya, suku, dan agama terkandung dalam
wewangsalan (tamsil) belahan pane belahan paso, selebingkah beten
biu tatuekne ade kene ada keto, gumi linggah ajak liu. pecahan
gerabah, pecahan baskom, dibawah pohon pisang, maknanya ada yang
seperti ini ada yang seperti itu, dunia ini milik kita bersama.
Maksudnya, sebagai siswa harus saling hormat menghormati, harga
menghargai, sehingga tercipta kerukunan walaupun ada perbedaan satu
sama lain. Cara lain yang ditawarkan pula dalam mencermati
keberagaman tersebut dituangkan dalam bentuk sesenggakan buka
besine teken sangiane ibarat besi dengan batu asah yakni terjadi sikap
saling mengalah satu sama lain demi tujuan bersama. sebagaimana
diketahui Indonesia dicirikan oleh keberagaman dalam berbagai aspek,
seperti suku, ras, agama, bahasa daerah, ideologi, tatakrama, karena itu
pemahaman terhadap keberagaman dan perbedaan itu perlu ditanamkan
sejak dini sehingga tercipta suatu kondisi dimana dalam perbedaan dan
keberagaman masyarakat kita tetap memiliki satu kedudukan yang sama
saling menghargai dan menghormati satu sama lainnya.

3. Nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa


(Religius)
Berkaitan dengan nilai karakter yang berhubungan dengan Tuhan
Yang Maha Esa, pikiran, perkataan, dan tidakan seseorang yang
diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan atau ajaran
agamanya terdapat dalam bebladbadan (metafora), I Made Molog mula
kereng mawang putihin timpalne, tatuekne mamisunayang, I Made Molog
memang suka membawang putihkan temannya maknaya memfitnah.
Dalam agama siswa diajarkan tidak boleh memfitnah teman, dan
menjatuhkan teman untuk kepentingan sendiri sehingga merugikan orang

29

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
lain perbuatan tersebut sangat melanggar ajaran agama. Selain itu nilai
karakter dalam wujud keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa dituangkan
dalam

bentuk

sesapaan,

misalnya

ketika

orang-orang melakukan

pembicaraan dan ada suara cecak terdenganr, maka mereka mengucapkan


sesapaan turun Saraswati maksudnya apa yang diucapkan diberkati
Tuhan (dalam manifestasinya sebagai dewi Saraswati). Begitu pula, ketika
masyarakat Bali kencing disuatu tempat atau bukan di WC umpamanya
atau mungkin ditegalan yang tak dikenal mereka mengucapkan, jero-jero
megingsir jebos tiang manyuh maksudnya minta ijin supaya yang tinggal
didaerah tempat kencing itu yang tidak dapat dilihat secara kasat mata
pergi sejenak sehingga apa yang kita lakukan terberkati.

4. Nilai karakter dalam hubungan dengan diri sendiri meliputi;


a. Jujur
Merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya
sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan,
dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain. Terdapat dalam
sesawangan (perumpamaan), munyine jangih kadi sunarine tempuh
angin, tatuekne, jangih, ngulangunin, tur lengut pisan. tutur bahasanya
nyaring bagai sunari yang di hembus angin, maknanya halus, merdu,
dan indah sekali. Siswa yang jujur adalah siswa yang memilki tutur
kata, tindakan, pekerjaan

yang baik, halus, dapat dipercaya, dan

dipertanggung jawabkan.
b. Bertanggung jawab
Merupakan sikap dan prilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan
kewajibannya sebagaimana yang seharusnya siswa lakukan, terhadap
diri sendiri, masyarakat, lingkungan, (alam, sosial, dan budaya), negara
dan Tuhan Yang Maha Esa. Terdapat dalam sesonggan (pepatah), sekah
gelah nyen man tunden maktinin, tatuekne, gumi Indonesia ene mula
iraga ngelah, iraga patut ngutamayang, tempat dewa-dewi (dalam

30

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
agama hindu) siapa yang disuruh menyembahnya, sama halnya dengan
bumi Indonesia yang tercinta ini memang kita yang memiliki harus kita
yang menjaganya. Sebagai siswa yang bertanggung jawab harus
melaksanakan tugas dan kewajiban terhadap Tuhan, nusa dan bangsa.
c. Kerja keras
Merupakan suatu prilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh
dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas
(belajar/bekerja) dengan sebaik-baiknya. Terdapat dalam sesonggan
(pepatah), sapuntul-puntulan besine yening sangih dadi mangan,
tatuekne, lamun apa je belogne yening malajah pasti lakar dueg,
setumpul-tumpulnya besi apabila diasah pasti akan tajam,maknanya
sebodoh bodohnya siswa apabila mau sungguh-sungguh dalam
mengatasi permasalahan, pekerjaan maupun belajar pasti akan berhasil
dan pintar,dalam menanamkan nilai kerja keras dalam paribasa dapat
dilakukan juga melalui pujian atau cara sopan dalam sindiran. Nilai
prilaku upaya sungguh-sungguh dalam bekerja dalam paribasa Bali
disampaikan secara sopan dalam paribasa Bali dapat tercermin dalam
sesonggan, seperti, cenik-cenikan punyan sotong, keci-kecilan pohon
jambu biji, yeh ngetel bisa molongin batu setetes air dapat melobangi
batu, sesenggakan, seperti, buka petapan ambengane, ibarat alangalang, sesonggan dan sesenggakan tersebut dipakai untuk menasehati,
mendidik anak-anak agar memiliki sikap kerja keras, prilaku yang
sungguh-sungguh, belajar yang kuat seperti pohon jambu kecil tapi
kuat, begitu juga dengan setetes air lama-lama bisa melobangi batu .
Semua manusia memiliki potensi yang baik. Manusia harus belajar dari
kecil karena pada usia muda, pikiran, konsentrasi dan kecerdaasan anakanak sangat tajam serta sudah tua akan dijadikan sebagai pengayom
inilah yang diumpamakan seperti alang-alang. Siswa sangat perlu
diberikan nasehat paribasa Bali ini supaya mampu mengerjakan dan
menyelesaikan tugas dan kewajiban dengan baik.

31

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
d. Percaya diri
Merupakan sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap
pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya. Terdapat
dalam bladbadan (metafora), prakpak balok kaden sundih, awak belog
ngaku ririh, bara balok dikira api lampu templek, dirinya bodoh
mengaku pintar maknanya sebagai siswa harus memiliki sikap percaya
diri, keyakinan dan kemampuan diri sendiri sehingga dapat bersaing
dalam kehidupan sehari-hari, meskipun ilmu yang dimiliki kurang
memadai tetapi kalau sudah memiliki keyakinan, percaya diri niscaya
semuanya

dapat

teratasi.

Adakalanya

dalam

masyarakat

Bali,

pengakuan sikap, prilaku bijaksana dan percaya diri seseorang


terindikasi melalui sikap rendah hati seseorang. Karena itu, sikap rendah
hati dan percaya diri menjadi indikator bagi tingkah laku manusia Bali,
sebagai mana tercermin dalam ungkapan eda ngaden awak bisa
depang anake ngadanin, sikap percaya diri berkaitan dengan sikap
tidak menyombongkan diri meskipun dipuji, suka menerima saran atau
kritikan untuk meningkatkan prestasi.
e. Cinta ilmu
Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunujukkan kesetiaan,
kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap pengetahuan.
Terdapat dalam sesonggan (pepatah) song beduda buin titinin, tatuekne,
buka anake ane plapan melaksana, ngidepang ilmu pengetahuan di
sahananing laksana. Lobang beduda (semacam serangga yang sering
buat lubang ditanah) dibuatkan jembatan, hal ini sangat baik diajarkan
pada siswa dalam berbuat, berbicara, harus selalu berdasarkan
pengetahuan yang dimiliki sehingga apa yang dicita-citakan dapat diraih
dan berhasil.
f. Berpkir logis, kritis, kreatif, dan inovatif
Berpikir dan melakukan sesuatu cara kenyataan atau logika untuk
menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang telah

32

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
dimiliki. Tersurat dalam sesenggakan (ibarat), buka padine ane misi
nguntul, ane puyung sunggar, tatuekne buka anake pradnyan alep tur
mendep, sakewala anake ane belog punggung, sombong ngucicak.
seperti padi yang penuh berisi menunduk, sedangakan yang kosong
berdiri, makna seperti siswa yang sangat pandai diam, tidak banyak
bicara, tetapi siswa yang bodoh terlalu banyak bicara dan sombong.
Artinya sebagai siswa harus rajin belajar, berpikir logis, kritis, dan
inovatif demi bangsa dan negara.
g. Mandiri
Sesuatu sikap dan prilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain
dalam menyelesaikan tugas-tugas. Seperti terdapat dalam sesenggakan
(ibarat), buka ulungan durene, nyaputin iba, tatuekne, buka anake ane
tanggar teken awakne apang tuara kasengkalen tipal. seperti jatuhnya
buah duren, berselimut sendiri, maknanya sebagai siswa harus bersikap
dan berprilaku mandiri tidak tergantung orang lain. Ini sangat baik
dipakai mendidik anak-anak supaya bisa hidup tabah, kuat, berani
mengambil resiko, dan berpikir fositif dalam mengerjakan tugas-tugas
pribadi maupun tugas negara.
5. Nilai karakter dalam hubungannya dengan lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada
lingkungan

alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk

memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi dan selalu ingin memberi
bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. Nilai ini
berhubungan dengan sikap, sifat, perhatian, karena dewasa ini masyarakat
sudah mulai melakukan illegal loging secara besar-besaran sehingga
pemanasan global terjadi. Pada era reformasi sekarang mengelola kekayaan
alam, hutan, dan hasil bumi lainnya sudah semakin meraja lela sehingga
hutan menjadi rusak, lingkungan rusak, dan kekayaan alam semakin
menipis sebenarnya masyarakat yang baik adalah masyrakat yang eling,
ingat, dan selalu waspada sehingga tidak terjadi kerusakan dimana-mana.

33

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
Nilai karakter ini maknanya dapat dilihat dalam sindiran berikut,
sesonggan, ngalih baling ngaba alutan, buta tumben ngedat, takut ngetel
payu makebios, sau kerep dungki langah, mengandung makna tidak mampu
mengelola kekayaan alam dengan baik (berhasil guna, tepat sasaran)
menyebabkan hidup ini hancur berantakan (takut ngetel payu makebios),
cendrung boros tidak mau lagi menanam hutan hanya menebang saja
sehingga banjir dan pemanasan global terjadi (sau kerep dungki langah),
membuat hidup menjadi menderita, pas-pasan (ngalih balang ngaba
alutan), sesonggan tersebut sering digunakan menyindir sikap dan tingkah
laku orang yang angkuh, sombong, dan conkak, dengan tujuan untuk
menyadarkan orang tersebut bahwa kepentingan pribadi yang dilakukan
untuk memperkaya diri sendiri dengan cara merusak lingkungan sangat
merugikan orang banyak.

KESIMPULAN
Ungkapan-ungkapan tradisional yang merupakan mutiara kata dari nenek
moyang mengandung pesan moral yang dapat berlaku sepanjang jaman. Ungkapanungkapan tradisional tersebut dibuat sebagai petuah, nasehat yang disampaikan secara
tersirat dengan memperhatikan estetika bahasa yang tinggi. Seiring dengan
tergerusnya akar budaya maka perlu adanya penguatan karakter bangsa. Lebih lanjut
karakter bangsa perlu dijaga agar tetap terjaga paribasa bali merupakan genre sastra
lisan Bali tradisional yang sangat kaya dengan

nilai-nilai karakter. Nilai-nilai

karakter tersebut memiliki kontribusi strategis dalam pembentukan karakter bangsa.


Manusia

berkarakter

adalah

manusia

yang

memiliki

kesehimbangan

dan

keharmonisan dalam hal rasa. Untuk itu revitalisasi budaya melalui pengkajian
sebagai aset budaya termasuk paribasa Bali, merupakan upaya penting dan strategis
dalam rangka penguatan dan ketahanan budaya.

34

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
Karakter-karakter yang tampak kental pada ungkapan-ungkapan paribasa Bali
adalah pembentukan karakter, hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan
dengan diri sendiri, hubungan dengan sesama, hubungan dengan lingkungan, dan
nilai kebangsaan. Untuk memahami ungkapan dalam paribasa Bali tersebut perlu
adanya orientasi pendidikan karakter berbasis kearifan lokal upaya pengembangan
makna sesuai dengan konteks dapat maksimal, lebih lanjut siswa dapat menerima dan
mengaplikasikan dalam tutur dan tindakan untuk pembelajaran karakter baik bagi diri
sendiri, orang lain, maupun bangsa dan negara.

DAFTAR PUSTAKA
Ginarsa, Ketut t. th. Paribasa Bali. Denpasar: CV. Kayumas.
Gunawan, Heri. 2012. Pendidikan Karakter, Konsep, dan Implementasi. Bandung:
Penerbit Alfabeta.
Kementrian Pendidikan Nasional. 2010. Buku Pedoman Pendidikan Karakter di
Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Direktorat Jendral Mandikdasmen,
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama.
Kementrian Pendidikan Nasional. 2010. Desain Induk Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan Nasional. Jakarta: Direktorat Jendral
Mandikdasmen, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama.
Kementrian Pendidikan Nasional. 2010. Kerangka Acuan Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010. Jakarta: Direktorat Jendral
Mandikdasmen, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama.
Suarka, I Nyoman. 2010. Aksara Jurnal Bahasa dan Sastra. Balai Bahasa Denpasar.
Nomor 36, TH XXII, Desember 2010
Suyanto. 2011. Pendidikan Karakter di Sekolah Perlu Direvitalisasi Majalah
Diknas Kementerian Pendidikan Nasional RI Jakarta.
Yudhoyono, Susilo Bambang. 2011. Mari Kita Kerja Keras melalui Jalur
Pendidikan Majalah Diknas Kementerian Pendidikan Nasional RI Jakarta.

35

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
ANALISIS CONTACT PHONOLOGY UNSUR SERAPAN
BAHASA INGGRIS DALAM BAHASA INDONESIA

Oleh:
Ni Luh Gede Liswahyuningsih, S.S., M.Hum.
FPBS, IKIP PGRI Bali
Abstrak
Dalam fonologi penggunaan unsur serapan dari bahasa asing ke dalam bahasa
sendiri disebut mengalami contact phonology. Salah satu bahasa asing yang banyak
mempengaruhi terjadinya kontak fonologi dalam bahasa Indonesia adalah bahasa
Inggris karena adopsi bahasa Inggris sudah tersebar luas sebagai bahasa kedua yang
mempengaruhi fonologi hampir seluruh bahasa di dunia. Pelafalan kosakata serapan ini
sudah mengalami penyesuaian dengan aturan fonologi bahasa Indonesia, sehingga kata
serapan tersebut mengalami perubahan yang cukup besar. Data dalam kajian ini
dianalisis dengan teori fonologi generatif. Dari analisis data, dapat disimpulkan bahwa
penyesuaian bunyi yang terjadi pada unsur serapan bahasa Inggris dalam bahasa
Indonesia melibatkan proses fonologi netralisasi, pelepasan konsonan, pelepasan vokal,
pelemahan vokal, penguatan vokal dan perpaduan vokal.
Kata kunci: contact phonology, kata serapan, fonologi generatif
Abstract
In phonology, the use of loanwords from foreign language into own language is
called as contact phonology. One foreign language that influences the contact
phonology in Indonesian language is English because adoption to English has widely
been used as second language. English has influenced phonological system of all
languages in the world. The pronunciation of loanwords has been adapted to the
Indonesian phonological system, therefore the loanwords has experienced a big change.
The data were analyzed by using phonology generative theory. From the data analysis,
we can conclude that the sound adaptation in the English loanwords into Indonesian
involves phonological process of neutralization, consonant release, vocal release, vocal
weakening, vocal strengthening and vocal synthesis.
Keywords: contact phonology, loanwords, phonology generative
PENDAHULUAN
Bahasa Indonesia selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu sesuai
dengan tuntutan kebutuhan masyarakat penuturnya. Hal ini mengakibatkan masuknya
berbagai unsur kebahasaan dari bahasa asing yang kemudian disebut sebagai unsur
serapan. Dalam fonologi penggunaan unsur serapan dari bahasa asing ke dalam bahasa

36

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
sendiri disebut mengalami contact phonology. Terjadinya kontak fonologi ditandai oleh
adanya proses adopsi dan adaptasi unsur bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia.
Fenomena kontak fonologi ini tidak dapat dihindari lagi mengingat era
globalisme seperti sekarang ini dimana penggunaan bahasa sangatlah tidak terbatas
sehingga tanpa disadari terjadilah kontak antara bahasa Indonesia dengan bahasa asing
lainnya karena kebiasaan masyarakat penutur menggunakan dua bahasa dan bahkan
lebih. Salah satu bahasa asing yang banyak mempengaruhi terjadinya kontak fonologi
dalam bahasa Indonesia adalah bahasa Inggris karena adopsi bahasa Inggris sudah
tersebar luas sebagai bahasa kedua yang mempengaruhi fonologi hampir seluruh bahasa
di dunia (Smith, 2007: 76).
Namun, sering kali kita mendengar orang-orang Indonesia yang masih belum
menggunakan unsur serapan dengan tepat, padahal pemerintah Indonesia telah membuat
aturan-aturan resmi tentang tata bahasa yang baik termasuk juga unsur bahasa serapan
yang sudah dibakukan ke dalam tata bahasa baku bahasa Indonesia. Dalam tata bahasa
baku bahasa Indonesia bentuk kosakata dan bunyi dari bahasa asing telah disesuaikan
dengan kaidah-kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia. Pada umumnya pelafalan
kosakata serapan ini sudah mengalami penyesuaian dengan aturan fonologi bahasa
Indonesia, sehingga kata serapan tersebut mengalami perubahan yang cukup besar. Hal
ini terjadi pula pada kata serapan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Maka dari
itu, dalam makalah ini dipaparkan bagaimana penyesuaian bunyi kata serapan bahasa
Inggris dalam bahasa Indonesia yang sudah disesuaikan dengan aturan fonologi bahasa
Indonesia.
Kajian tentang kata serapan bahasa Inggris dalam bahasa Indonesia pernah
dilakukan oleh Syafar (2012) yang membahas khusus pada kajian morfologi dan
semantik dari kata serapan simpleks, kompleks dan majemuk. Dalam kajian tersebut
tidak membahas tentang kajian penyesuaian bunyi dari kata serapan tersebut, sehingga
penulis tertarik menulis tentang penyesuaian bunyi kata serapan bahasa Inggris dalam
bahasa Indonesia yang sudah disesuaikan dengan kaidah-kaidah fonologi bahasa
Indonesia.

37

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
METODE PENELITIAN
Data dalam penelitian ini berupa kata-kata bahasa Inggris yang sudah diserap
dalam bahasa Indonesia yang diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia dan
dibandingkan dengan kamus bahasa Inggris Oxford Advanced Learners Dictionary.
Data dikumpulkan dengan cara dicatat kemudian dikelompokkan dan kemudian
dianalisis secara kualitatif dengan membandingkan system fonologi bahasa Inggris dan
bahasa Indonesia.
Teori yang digunakan dalam analisis adalah teori contact phonology dari Smith
(2007) yang menyebutkan terdapat lima tipe contact phonology, yaitu: (1) Loanword
phonology, (2) Areal influence, (3) Dialect mixing, (4) Language mixing dan (5)
Simplification. Peminjaman kata dari satu bahasa ke bahasa lain akan meliputi loanword
phonology jika dua bahasa memiliki fonologi yang berbeda. Jika jumlah loanword
cukup banyak, maka fonologi ini dapat menimbulkan perubahan yang abadi dalam
sistem fonologi untuk peminjaman bahasa. Areal influence pengaruh areal dapat
terjadi karena penggunaan sejumlah bahasa oleh orang-orang dalam situasi kontak yang
stabil di sebuah wilayah geografis untuk jangka waktu yang lama. Dialect mixing,
percampuran dialek mengacu pada berbagai macam jenis campuran. Language mixing
mengacu pada bahasa baru yang muncul pada kondisi bilingualisme dari campuran dua
bahasa terpisah yang terlihat jelas. Sedangkan simplification penyederhanaan
disebabkan oleh pidginization/creolization. Pada penelitian ini, hanya tipe loanword
phonology yang akan dibahas karena hanya akan membahas penyesuaian bunyi yang
terjadi pada unsur serapan bahasa Inggris dalam bahasa Indonesia.
Teori tentang loanwords tersebut akan didukung dengan teori Fonologi
Generatif untuk memproses struktur lahir bunyi sehingga menghasilkan gambaran
fonetik (Pastika, 2005:7). Dalam fonologi generative juga dibicarakan proses-proses
dan kaidah-kaidah fonologis. Schane (1973:49) mengelompokkan proses-proses
fonologi menjadi empat macam, yakni:
a) Asimilasi adalah suatu ruas menerima ciri-ciri dari suatu ruas yang
berdekatan. Asimilasi dibedakan menjadi 1) konsonan mengasimilasi cirriciri vokal, 2) vokal mengasimilasi cirri-ciri konsonan, 3) konsonan

38

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
mengasimilasi cirri-ciri konsonan, dan 4) vokal mengasimilasi cirri-ciri
vokal
b) Struktur suku kata yaitu proses yang memengaruhi distribusi secara
relasional konsonan-vokal, yaitu dalam hubungannya satu sama lain dalam
kata. Proses-proses ini meliputi 1) pelepasan konsonan, 2) pelepasan vokal,
3) penyisipan konsonan atau vokal, 4) penggabungan vokal dan konsonan, 5)
penggabungan konsonan dan vokal, 6) perubahan golongan utama, dan 7)
metatesis
c) Pelemahan dan penguatan yaitu perubahan struktur kata yang disebabkan
oleh ruas-ruas yang lemah atau kuat dalam suatu kata atau morfem.
d) Netralisasi adalah suatu proses pengurangan perbedaan fonologis pada suatu
lingkungan tertentu. Segmen-segmen yang berkontras dalam satu lingkungan
mempunyai representasi yang sama dalam lingkungan netralisasi. Netralisasi
dibedakan menjadi netralisasi konsonan dan netralisasi vokal.
Teori fonologi generatif ini digunakan untuk menunjukkan perubahan bunyi yang
terjadi akibat penyesuaian bunyi kata serapan bahasa Inggris dalam bahasa Indonesia.

PEMBAHASAN
Unsur bahasa Inggris yang diserap ke dalam bahasa Indonesia tentunya akan mengalami
penyesuaian dengan sistem fonologi bahasa Indonesia. Peminjaman unsur bahasa
Inggris tidak akan mengubah struktur fonologi kata dari bahasa sumber, melainkan akan
mengubah struktur fonologi kata tersebut dalam bahasa Indonesia. Adapun analisisny
sebagai berikut.
1.1 Netralisasi
Salah satu bentuk netralisasi dalam penyerapan unsur bahasa Inggris ke dalam bahasa
Indonesia adalah bunyi /v/ pada akhir kata berubah menjadi /f/. Dalam bahasa Inggris
banyak kata yang diakhiri dengan bunyi /v/ yang secara transkripsinya ditulis ve. Jika
kata tersebut diserap dalam bahasa Indonesia maka bunyi /v/ akan berubah menjadi
bunyi /f/. Hal tersebut tampak pada data berikut.

39

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
(1) Aggressive [gresv]

[agresif]

(2) Impulsive [mplsv]

[impulsif]

(3) Relative [reltv]

[relatif]

(4) Conducive [kndusv]

[kondusif]

Pada contoh-contoh di atas telah terjadi proses fonologi netralisasi dimana bunyi
fricative labiodental /v/ dalam bahasa Inggris disesuaikan dengan bunyi dalam bahasa
Indonesia menjadi bunyi /f/ yang juga merupakan bunyi fricative labiodental. Bunyi /v /
dan bunyi /f/ merupakan dua bunyi yang kontras dalam satu lingkungan yang sama.
Perubahan bunyi tersebut dapat digambarkan dengan kaidah fonologi generatif berikut.
+ kons

+kons

+bersuara

-bersuara

Selain itu, proses netralisasi bunyi bahasa Inggris dalam bahasa Indonesia juga terjadi
pada penyesuaian bunyi /c/ menjadi /k/, dimana kedua bunyi tersebut merupakan dua
bunyi yang kontras dalam lingkungan yang sama. Bunyi /c/ dalam bahasa Inggris jika
dilafalkan maka bunyi yang dihasilkan juga adalah bunyi /k/, sehingga disesuaikan
dalam bahasa Indonesia menjadi /k/. Misalnya dapat dilihat pada contoh berikut.
(5) Charismatic [karzmatk]

[karsmatk]

(6) Domestic [dmestk]

[domestk]

(7) Characteristic [karktrstk]

[karakterstk]

1.2 Pelepasan Konsonan


Proses fonologi pelepasan konsonan dalam penyerapan unsur bahasa Inggris dalam
bahasa Indonesia adalah bunyi /n/ pada akhir kata berubah menjadi /si/. Kata-kata
dalam bahasa Inggris yang berakhiran bunyi /n/ diserap dalam bahasa Indonesia diubah
menjadi bunyi /si/. Perubahan tersebut merupakan penyesuaian bunyi dalam bahasa
Indonesia, seperti pada contoh-contoh berikut.
(8) Association [susen]

[asosiasi]

40

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
(9) Confirmation [konfmen]

[konfirmasi]

(10)

Dissertation [dstein]

[disertasi]

(11)

Edition [dn]

[edisi]

(12)

Evacuation [vakjuein]

[evakuasi]

Pada contoh-contoh di atas terlihat bahwa terjadi pelepasan konsonan /n/ dari bahasa
Inggris ke dalam bahasa Indonesia sehingga bunyi /n/ berubah menjadi /si/. Bila di
gambarkan dalam kaidah fonologi maka perubahan bunyi tersebut dapat dikaidahkan
sebagai berikut.
+kons

+kons

+korona

+nas

-ant

+ant

+kons

+sil

+korona

+tinggi

+ant

+bersuara

1.3 Pelepasan vokal


Proses fonologi pelepasan vokal juga terjadi dalam penyerapan unsur bahasa Inggris ke
dalam bahasa Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat pada contoh berikut.
(13)

Keeper [ki:pr]

[kiper]

(14)

Taboo [tbu:]

[tabu]

(15)

Cream [ kri:m]

[krim]

Dari contoh kata-kata di atas dapat dilihat adanya penyesuaian bunyi vokal panjang
pada bahasa Inggris yang mengalami pelepasan vokal menjadi vokal pendek dalam
bahasa Indonesia.
1.4

Pelemahan Vokal

Proses fonologi pelemahanan vokal juga terjadi dalam penyerapan unsur bahasa Inggris
ke dalam bahasa Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat pada contoh berikut.
(19) baloon [blu:n]

[balon]

41

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
Pada data (19) terjadi pelemahan vokal yaitu dari vokal tinggi panjang /u:/ menjadi
vokal madya /o/. Bunyi /u:/ diucapkan lebih tegang daripada bunyi /o/, sehingga
pelemahan vokal tersebut dapat dikaidahkan sebagai berikut.
+sil

+sil

+bul

+bul

+ting

+bel

/ ____ [-sil] #

1.5 Penguatan Vokal


Penguatan bunyi vokal terjadi pada penyesuaian bunyi /y/ pada akhir suku kata dalam
bahasa Inggris yang berubah menjadi bunyi /i/ dalam bahasa Indonesia. Jika bunyi /y/
pada akhir suku kata dilafalkan dalam bahasa Inggris maka bunyi yang dihasilkan
adalah juga bunyi /i/ sehingga dalam bahasa Indonesia bunyi tersebut disesuaikan
menjadi bunyi /i/. Hal itu dapat dilihat pada contoh kata-kata berikut.
(16)

Allergy [ald]

[alergi]

(17)

Accessory [ksesr]

[aksesori]

(18)

Energy [end]

[energi]

Pada contoh kata-kata tersebut tampak terjadinya penguatan bunyi vokal pada akhir
suku kata dimana semua kata tersebut berakhiran dengan bunyi /y/ dalam bahasa Inggris
yang kemudian mengalami penguatan bunyi vokal menjadi bunyi /i/ dalam bahasa
Indonesia.

1.6

kons

- kons

sil

+ sil

Perpaduan Vokal
Proses ini merupakan proses persandian karena melibatkan perpaduan dua vokal

menjadi bunyi vokal yang baru. Contoh data tampak pada kata berikut.
(20)

Data [det]

[data]

42

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460
Pada data tersebut tampak terjadinya perpaduan bunyi vokal /e/ dalam bahasa Inggris
menjadi /a/ dalam bahasa Indonesia. Bunyi [e] secara fonetis merupakan vokal depan,
tegang, tinggi, tidak bulat menjadi vokal /a/ yang merupakan vokal belakang, rendah,
tegang dan tidak bulat. Pada data tersebut, proses fonologi pelemahan vokal juga juga
terjadi dari perubahan

SIMPULAN
Dari analisis data di atas, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian bunyi yang
terjadi pada unsur serapan bahasa Inggris dalam bahasa Indonesia melibatkan proses
fonologi netralisasi, pelepasan konsonan, pelepasan vokal, pelemahan vokal, penguatan
vokal dan perpaduan vokal. Proses netralisasi terjadi pada penyesuaian bunyi /v/ pada
akhir kata bahasa Inggris yang berubah menjadi bunyi /f/ dalam bahasa Indonesia.
Pelepasan konsonan terjadi pada pelepasan konsonan /n/ dari bahasa Inggris ke dalam
bahasa Indonesia sehingga bunyi /n/ berubah menjadi /si/. Pelepasan vokal terjadi pada
perubahan vokal panjang dalam bahasa Inggris menjadi vokal pendek dalam bahasa
Indonesia. Proses fonologi pelemahan vokal terjadi dari vokal tinggi panjang /u:/
menjadi vokal madya /o/. Penguatan vokal terjadi pada bunyi /y/ dalam bahasa Inggris
yang kemudian mengalami penguatan bunyi vokal menjadi bunyi /i/ dalam bahasa
Indonesia. Sedangkan perpaduan bunyi vokal terjadi pada perubahan bunyi /e/ dalam
bahasa Inggris menjadi /a/ dalam bahasa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Odden, David. 2005. Introducing Phonology. New York: Cambridge University Press.
Pastika, I Wayan. 2005. Fonologi Bahasa Bali. Denpasar: Pustaka Larasan.
Schane, Sanford A. 1973. Generative Phonology. Prentice Halle, EnglewoodCliffts,
NewJersey.
Smith, Norval. 2007. Contact Phonology (dalam Phonology in Context, Pennington,
Martha. C, ed., New York: Palgrave Macmillan, hlm. 76108).

43

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

KONTRAKSI DALAM DEIKSIS BAHASA BALI:


SEBUAH KAJIAN FONOLOGI GENERATIF
oleh
Ida Ayu Agung Ekasriadi
FPBS, IKIP PGRI Bali
ekasriadi@gmail.com
Abstrak
Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses fonologis dan kaidah serta
motivasi proses itu terjadi dalam deiksis bahasa Bali. Analisis dilakukan dengan
memperhatikan hubungan antara fonologi dan sintaksis serta pendekatan fonologi
generatif sehingga tergambar proses-proses dan kaidah-kaidah perubahan bunyi
beserta fitur pembedanya. Kaidah fonologi dalam deiksis bahasa Bali ini berupa
pemendekan atau kontraksi atau disebut juga abreviasi. Pemendekan itu terjadi
dengan melesapkan suku awal atau suku akhir deiksis. Suku kata yang dilesapkan
bisa berupa rangkaian konsonan-vokal (KV), konsonan-konsonan-vokal (KKV),
atau hanya sebuah vokal saja (V). Proses fonologi kontraksi ini terjadi pada jenis
deiksis persona (pronominal, nomina penyapa yang diturunkan dari istilah
kekerabatan, nomina penyapa yang diturunkan dari nama generik, dan nomina
penyapa yang diturunkan dari nama jabatan/profesi) dan deiksis demonstratif
(pronominal penunjuk). Perubahan bunyi yang terjadi pada deiksis bahasa Bali ini
merupakan akibat pengaruh lingkungan sintaksis terhadap proses fonologis karena
perubahan bunyi itu terjadi dalam pemakaian konteks kalimat. Pengaruh
lingkungan sintaksis terhadap proses perubahan bunyi yang terjadi berlangsung
secara tidak langsung (tidak wajib). Motivasi yang melatarbelakangi perubahan
bunyi pada kontraksi tersebut adalah kemudahan dalam pengucapan atau
artikulasi, lemahnya alokasi tekanan pada suku kata yang dilesapkan, dan
keinginan pada diri pemakai bahasa untuk berbahasa yang lebih ekonomis dan
lebih praktis.
Kata kunci: kontraksi, deiksis, dan bahasa Bali
Abstract
This study is aimed at describing phonological processes, their rules and the
motivation of the said processes in the deixies in the Balinese. The analysis is
conducted by observing the relation between phonology and syntax as well as
generative phonological approach, so that the processes and the rules of sound
changes can be described along with their distinctive features. The phonological
rule in the Balinese deixies is in the form of shortening or contraction or also
called abbreviation. The shortening is implemented by deleting initial and final
syllables of the deixies. The deleted syllables could be the clusters Consonant
Vowel (CV), Consonant-Consonant Vowel (CCV) or only vowel (V). The
process of contraction phonology is occurred on the type of persona deixies

44

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

(pronominal, addressing nouns derived from kinship terms, addressing nouns


derived from generic names, and addressing nouns derived from
positions/professions and demonstrative deixies. The sound changes occurred in
the Balinese deixies are the impacts of the influence of syntactical environment
on phonological processes because the sound changes occurred in sentence
context usage. The influence of syntactical environment on the processes of sound
changes occurred indirectly (nonmandatory). The motivation behind the sound
changes in the said contractions is easier articulation, the weak stress on the
deleted syllables and the desire of the speaker to speak in a more economical and
practical manner.
Keywords: contraction, deixies and the Balinese
I. PENDAHULUAN
Deiksis adalah kata yang referennya berpindah-pindah atau berganti-ganti,
bergantung pada siapa yang menjadi pembicara dan bergantung pada saat dan
tempat dituturkannya kata itu. Misalnya, kata saya dapat mengacu pada orang
yang pada saat berkomunikasi bertindak sebagai penutur, siapa saja, bisa A dan
bisa B. Kata di sini dan ini masing-masing mengacu kepada tempat dan barang
yang dekat dengan penutur (Kaswanti Purwo (1984: 12).
Istilah deiksis berasal dari bahasa Yunani deiktikos yang bermakna
menunjuk(kan).

Intinya,

deiksis

menunjukkan

cara

di

mana

bahasa

mengenkodekan atau menggramatikalkan unsur-unsur (feature) dari konteks


ujaran (contekxt of uttereance) atau peristiwa tutur (speech event), dan karena itu
juga menunjukkan cara-cara di mana penafsiran terhadap ujaran bergantung
kepada analisis tentang konteks ujaran itu. Karena deiksis itu meliputi banyak
petunjuk, baik persona, tempat, waktu, tunjuk (demonstratif), maupun yang
lainnya, maka ujaran yang kekurangan deiksis dapat membingungkan. Misalnya:
sebuah tulisan di pintu berbunyi Saya akan kembali satu jam lagi tidak akan
dipahami oleh pembacanya jika dia tidak tahu kapan ujaran itu ditulis Sumarsono
(2010:71). Hal yang sama dikemukakan oleh Nadar (2009: 5455) bahwa
keberhasilan suatu interaksi antara penutur dan lawan tutur sedikit banyak akan
bergantung pada pemahaman deiksis yang digunakan oleh penutur.
Pentingnya

penggunaan

deiksis

dalam

proses

komunikasi

juga

diungkapkan oleh Huang (2007: 132) bahwa melakukan komunikasi melalui

45

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

wahana bahasa di antara sesama penggunanya tidak dapat berjalan secara efektif
dan efisien tanpa kehadiran deiksis di dalamnya. Pendapat senada dengan Huang
tentang urgensi deiksis dalam penggunaan bahasa juga diungkapkan oleh
Bohnemeyer (2006) bahwa penggunaan bahasa untuk menjelaskan sesuatu (dunia)
dapat terkendala apabila tidak disertai pelibatan penggunaan deiksis di dalamnya.
Urgensi pelibatan penggunaan deiksis demikian dalam komunikasi lingual
terkait dengan fungsi deiksis itu sendiri. Setidaknya, menurut Bohnemeyer (2006),
deiksis memiliki tiga fungsi dalam penggunaan bahasa, yaitu (1) menghadirkan
acuan yang dimaksud (dengan versi yang berbeda) ke dalam tuturan, (2) membuat
spesifikasi di antara sejumlah kemungkinan acuan dalam konteks tutur, dan (3)
menggiring perhatian mitra tutur kepada acuan yang dimaksudkan oleh penutur.
Fungsi (1) adalah fungsi yang juga dapat ditemukan pada unsur lingual pada
umumnya (termasuk yang non-deiktis). Namun, dua fungsi yang terakhir (2) dan
(3)) hanya terdapat pada unsur lingual yang bersifat deiktis saja.
Menurut Hymes (1961) seperti yang dikutif oleh Sumarsono (2010: 8)
bahwa untuk mampu berbahasa (bertutur) atau berkomunikasi dalam bahasa,
orang tidak cukup hanya menguasai kaidah gramatika saja, melainkan juga harus
mengetahui cara penggunaannya dalam berkomunikasi. Orang yang hafal kaidahkaidah gramatika belum tentu mampu menerapkan kaidah-kaidah tersebut dalam
penggunaan nyata yang dapat diterima oleh masyarakat bahasanya. Yang penting
bukan hanya kompetensi akan kaidah gramatika, melainkan juga kompetensi
tentang kaidah komunikasi, yang disebut kompetensi komunikatif. Kompetensi
komunikatif itu intinya ialah kemampuan untuk menggunakan kalimat sesuai
dengan kaidah gramatika dan sesuai dengan konteknya.
Uraian di atas menyiratkan betapa pentingnya pemahaman terhadap
deiksis bagi partisipan di dalam berkomunikasi. Dengan kata lain, proses
komunikasi dapat berlansung secara efektif dan efisien apabila partisipan yang
terlibat dalam komunikasi tersebut memahami bentuk, makna, acuan, dan kaidah
penggunaan deiksis, termasuk di dalam berkomunikasi dengan bahasa Bali.
Dalam bahasa Bali lebih rumit lagi karena penggunaannya meliputi bentuk hormat
(halus) dan bentuk tidak hormat (biasa dan kasar) sesuai dengan kelas sosial

46

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

masyarakat Bali yang mengenal sistem kasta. Misalnya: sesorang yang berkasta
Jaba (Sudra) jika berbicara dengan seorang yang berkasta Brahmana, orang Jaba
tersebut harus menggunakan ragam bahasa halus (hormat), sedangkan seorang
Brahmana dibenarkan menggunakan bahasa kasar (lepas hormat). Oleh karena
itu, penutur dituntut untuk mampu menggunakan deiksis secara tepat sesuai
dengan tingkatan bahasa yang disebut unda-usuk basa, sor singgih basa, atau
anggah-ungguhing basa yang ada dalam bahasa Bali (Tinggen, 1986: 7). Tanpa
pemahaman deiksis yang baik, baik bentuk, makna, fungsi, maupun kaidah
penggunaannya di dalam masyarakat Bali, maka komunikasi tidak akan berhasil
dengan

baik

atau

gagal,

bahkan

bisa

menimbulkan

ketidaknyamanan,

ketersingguangan, kebencian, bahkan permusuhan.


Agar dapat menggunakan dan memahami deiksis dengan baik, setiap
partisipan dalam proses komunikasi juga harus memahami proses-proses
fonologis yang terjadi pada deiksis. Mengapa? Jawabannya adalah karena deiksis
dinyatakan dengan kata, kata-kata, atau morfem terikat yang berbentuk bunyibunyi). Dengan kata lain, makna dan acuan (referen) deiksis diwujudkan melalui
bunyi-bunyi bahasa. Deiksis yang berbentuk kata, kata-kata, atau morfem terikat
yang diwujudkan melalui bunyi-bunyi bahasa seringkali mengalami proses
fonologis, baik yang berupa kontraksi, pelesapan, penyisipan, maupun yang
lainnya. Oleh karena itu, untuk memahami dan menggunakan deiksis, partisipan
komunikasi (penutur/pembicara dan pendengar/pembaca) harus memahami
bentuk-bentuk

deiksis

yang

mengalami

proses-proses

fonologis

dalam

penggunaannya. Karena itu, proses fonologis dalam deiksis bahasa Bali ini
penting diselidiki atau dikaji untuk mengetahui proses-proses fonologis yang
terjadi dalam penggunaan deiksis dalam masyarakat Bali. Temuan penelitian ini
penting artinya bagi pengembangan atau penyempurnaan tata bahasa, khususnya
fonologi bahasa Bali yang terkait dengan deiksis, serta pengembangan ilmu
pragmatik, yang salah satu bidang kajiannya adalah deiksis. Ketersediaan
informasi tentang proses-proses fonologis dalam deiksis bahasa Bali akan
membantu anak-anak, remaja, orang dewasa, orang tua, guru, dan masyarakat
non-Bali dalam mempelajari dan menggunakan bahasa Bali. Karena terbatasnya

47

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

ruang dan waktu, artikel ini hanya akan mengkaji kontraksi dalam deiksis bahasa
Bali. Kontraksi atau pemendekan ini pun dibatasi hanya pada pemendekan kata,
tidak termasuk pemendekan frasa.
Sepanjang pengetahuan penulis, setakat ini belum ada yang mengkaji
secara spesifik proses-proses fonologis dalam deiksis bahasa Bali. Walaupun
demikian, penelitian yang membahas fonologi bahasa Bali secara umum telah
dilakukan oleh Pastika (1990). Kajian fonologi yang lain yang terkait dengan
artikel ini adalah Pengaruh Lingkungan Sintaksis terhadap Proses Fonologis
oleh Pastika (2006). Dalam artikel ini pelesapan suku kata dalam bentuk sapaan
bahasa Bali disajikan sebagai salah satu contoh pembahasan. Demikian juga
dalam artikel Suparwa (2007), proses kontraksi yang menimbulkan pelesapan
bunyi dibahas sebagai salah satu contoh dalam kajian Fonologi Posleksikal
Bahasa Melayu Loloan Bali. Fonologi posleksikal yang dimaksudkan dalam
artikel ini adalah analisis fonologi yang melampaui batas kata, yaitu menyangkut
proses-proses dan kaidah-kaidah perubahan bunyi yang terjadi di dalam
lingkungan di atas tataran kata (leksikal). Di atas tataran kata atau leksikal yang
dimaksudkan adalah frasa, klausa, atau sintaksis.
Berdasarkan latar belakang di atas, dalam artikel ini akan dibahas tiga
masalah pokok, yakni (1) proses fonologis apa sajakah yang terjadi pada deiksis
bahasa Bali?, (2) bagaimakah kaidah proses fonologi generatifnya?, dan (3)
apakah motivasi yang melatarbelakangi proses fonologis tersebut?
Kajian ini merupakan studi kualitatif yang bertujuan (1) untuk menggali
dan mendeskripsikan fenomena proses-proses fonologi yang terjadi pada deiksis
bahasa Bali, (2) merumuskan kaidah-kaidah perubahan bunyi atau proses
fonologis dalam deiksis bahasa Bali berdasarkan fonologi generatif, dan (3)
menjelaskan motivasi yang melatarbelakangi terjadinya proses fonologi tersebut
dalam deiksis bahasa Bali.
II. METODE PENELITIAN
Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan pendekatan
deduktif-induktif karena tulisan ini bertolak dari suatu kerangka teori yang

48

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

bersifat universal dan pengetahuan terhadap teori universal tersebut diterapkan


pada data almiah. Kajian ini menggunakan metode deskripsi melalui pemaparan
realitas fenomena bahasa seperti apa adanya secara sistematis, faktual, dan akurat,
sifat-sifat serta hubungan fenomena-fenomena yang diteliti (Djajasudarma, 1993:
13).
Data utama penelitian ini berupa data lisan dan data tulis, sedangkan data
penunjangnya adalah data intuitif yang keberterimaannya diujikan kepada
narasumber. Data lisan bersumber dari informan penutur asli bahasa Bali yang
dipilih berdasarkan kriteria tertentu (Samarin, 1988: 4549) dan kegiatan
masatua oleh guru bahasa Bali dalam proses belajar mengajar di sekolah dasar,
sedangkan data tulis bersumber dari kumpulan cerita rakyat (satua) berbahasa
Bali yang berjudul Satua-Satua Bali (I) (1993); kumpulan cerpen berbahasa Bali
yang berjudul Swecan Widhi (2015) dan Lawar Goak (2014).
Data dikumpulkan dengan metode simak (Sudaryanto, 1993: 133140).
Metode simak diterapkan dengan menggunakan aneka tekniknya, yakni teknik
sadap, teknik simak libat cakap, teknik simak bebas libat cakap, teknik rekam, dan
teknik catat. Teknik sadap sebagai teknik dasar, sedangkan teknik simak libat
cakap dan bebas cakap merupakan teknik lanjutan pertama, sementara teknik
rekam dan teknik catat sebagai teknik lanjutan kedua.
Data yang telah dikumpulkan selanjutnya dianalisis dengan metode
distribusional (metode agih) dengan teknik dasar bagi unsur langsung (BUL).
Teknik bagi unsur langsung dilanjutkan dengan beberapa teknik lanjutannya,
yaitu teknik lesap (delesi), teknik ganti (substitusi), teknik sisipan (interupsi),
dan teknik balik (permutasi). Hasil pembahasan disajikan dengan metode
informal (perumusan dengan kata-kata biasa) dan metode formal (perumusan
dengan

tanda

atau

lambang-lambang tertentu

yang digunakan

dalam

merumuskan kaidah fonologi generatif, seperti tanda bintang (*), tanda panah
(), tanda kurung ({}, [ ]), tanda garis miring (/), tanda garis lurus (__), tanda
panah (), tanda tambah (+), tanda kurang (-), tanda kosong atau lesap (), dan
tanda batas kata (#) (Sudaryanto, 1993:145).
Teori yang dijadikan acuan untuk membahas ketiga permasalahan di atas

49

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

adalah teori fonologi generatif (Schane, 1992). Fonologi generatif merupakan


subbidang teori bahasa yang dikenal sebagai tatabahasa generatif transformasi
(transformational generative grammar). Menurut tatabahasa ini, komponen
fonologi digunakan untuk memproses struktur lahir sehingga menghasilkan
gambaran fonetis. Fonologi generatif beranggapan bahwa ciri-ciri pembeda
(distinctive feature) adalah unit terkecil yang membedakan arti. Ciri-ciri pembeda
adalah unsur-unsur terkecil dari fonetik, leksikal, dan suatu transkripsi fonologis
yang dibentuk oleh kombinasi dan rangkaian. Dalam hubungan ini, fonem
didefinisikan sebagai kumpulan ciri pembeda yang tidak memiliki status linguistik
tertentu. Simbol-simbol abjad yang digunakan untuk mewakili ruas (segmen)
bunyi hanyalah merupakan konvensi dan penyingkatan khusus sekumpulan ciri
itu. Simbol yang disingkat itu digunakan supaya mudah dibaca dan dicetak
(Chomsky and Halle, 1968: 64).
Secara garis besar ciri-ciri pembeda dikelompokkan menjadi enam
kelompok (Schane, 1973: 2432). Secara ringkas, keenam ciri pembeda tersebut
adalah (1) ciri-ciri golongan utama: [silabis], [sonorant], dan [consonantal]; (2)
ciri-ciri cara artikulasi [malar], [p.t.s], [kasar], [nasal], dan [lateral]; (3) ciri-ciri
tempat artikulasi: [anterior] dan [koronal]; (4) ciri-ciri punggung lidah: [tinggi],
[belakang], [bulat], dan [rendah];

(5) ciri-ciri tambahan: [tegang], [suara],

[aspirasi], dan [hambat]; (6) ciri-ciri prosodi: [tekanan] dan [panjang].


Penggunaan cirri-ciri pembeda itu harus dilengkapi oleh sistem biner. Sistem
biner adalah tanda tambah (+)

dan tanda kurang (-) yang digunakan untuk

menunjukkan sifat-sifat yang berlawanan. Tanda (+) menunjukkan ciri-ciri yang


dimiliki oleh suatu segmen bunyi bahasa, sedangkan tanda (-) menunjukkan ciriciri yang tidak dimiliki.
Pengkaidahan fonologi menurut teori generatif transformasi harus
mempertimbangkan tiga hal pokok: (1) segmen bunyi yang berubah (refresentasi
fonologis), (2) bagaimana perubahannya (referensi fonologis), dan dalam kondisi
yang bagaimana perubahan itu terjadi. Satu segmen (atau satu klas segmen) yang
berubah dan wujud perubahannya harus ditunjukkan oleh ciri-ciri pembeda secara
efektif (Schane, 1973: 62). Efektif di sini berarti bahwa ciri pembeda digunakan

50

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

sedikit mungkin, tetapi berdaya guna bagi satu atau satu klas segmen. Kaidah
yang dibuat semestinya juga memenuhi prinsip-prinsip teori ini, yakni sederhana,
hemat, dan tuntas/umum (Pastika, 2004: 200).
Proses fonologis merupakan perubahan bunyi yang terjadi yang
disebabkan oleh sejumlah faktor, yakni: (1) perubahan itu disebabkan oleh
lingkungan bunyi lain yang ada di dekatnya, yang dapat berupa lingkungan bunyi
konsonan atau vokal (menyangkut karakteristik ciri bunyi itu), (2) disebabkan
oleh adanya modifikasi penyukuan (misalnya: adanya penyisipan V/K), dan (3)
disebabkan oleh bunyi itu berada pada perbatasan morfem atau perbatasan kata.
Schane (1973: 4961) mengelompokkan proses-proses fonologi menjadi
empat macam, yakni: (1) asimilasi, (2) struktur suku kata, (3) pelemahan dan
penguatan, dan (4) netralisasi. Dalam artikel ini hanya dibahas kontraksi
(pelesapan suku kata) dalam deiksis bahasa Bali. Berdasarkan mengelompokan
proses fonologis di atas, kontraksi dalam deiksis bahasa Bali termasuk ke dalam
proses fonologis struktur suku kata.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Sebelum sampai pada inti permasalahan, dalam artikel ini dipandang perlu
untuk mendiskusikan terlebih dahulu konsep makna dan acuan serta deiksis.
3.1 Makna dan Acuan
Pembahasan tentang deiksis tidak bisa dilepaskan dengan semantik karena
pembahasan tentang deiksis berkaitan dengan aspek-aspek makna. Karena itu,
untuk memahami deiksis, uraian harus diawali dengan pembahasan tentang makna
dan acuan.
Deiksis adalah kata yang tidak memiliki referen atau acuan yang tetap
(Kaswanti Purwo, 1984:1). Dalam definisi di atas tidak ditemukan istilah makna.
Pertanyaannya adalah apakah acuan itu sama dengan makna?

Untuk

menjawabnya, kita harus menengok semantik leksikal.


Di dalam semantik ada teori atau pendekatan yang disebut teori
referensial. Teori ini mencoba menganalisis kata ketika kata itu berdiri sendiri,
tidak dalam konteks. Salah satu dari teori itu dikemukakan oleh Ogden dan

51

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

Richards (dalam Ullmann, 1975) yang mengemukakan tentang teori segi tiga
dasar. Segitiga itu mengandung tiga komponen makna, yaitu: (1) lambang
(adalah kata yang terbentuk

dari bunyi), terletak pada titik kiri-bawah; (2)

lambang (kata) ini melambangkan fikiran atau referensi (Inggris: reference) yang
ada pada titik puncak segitiga; referensi ini mengacu pada (3) unsur atau peristiwa
yang disebut acuan atau referen (Inggris: referent). Perhatikan Gambar 1 dari
Ogden dan Richards (dalam Ullmann, 1975), kemudian bandingkan dengan
Gambar 2 dari Lyons (1972) dan Gambar 3 dari Richards dkk. (1985).
Referensi

Makna/Konsep

Konsep Abstrak
tentang meja

KATA
Lambang

Referen

Gambar 1

Bantuk

Referen

Gambar 2

Kata
meja

Bentuk Nyata
meja

Gambar 3

Paparan Odgen dan Richards itu diperjelas oleh Lyons (1972). Menurut
Lyons, bentuk sebuah kata (=lambang) melambangkan sesuatu dalam arti
konsep yang diasosiasikan (dikaitkan) dengan bentuk kata tadi di dalam benak
atau pikiran penutur; konsep itulah makna dari kata tersebut; dan makna itu
merupakan abstraksi (pengabstrakan) dari benda atau sesuatu yang senyatanya,
yaitu referen atau acuan. Contoh konkret diberikan oleh Richards dkk. sebagai
berikut.
Sebuah kata, yaitu meja, mempunyai makna meja, berwujud bayangan
(gambaran, konsep abstrak) tentang meja. Jika diwujudkan dalam bentuk konkret,
konsep abstrak tentang meja tadi menjadi benda nyata yang disebuty meja. Jadi,
harus dibedakan antara kata (berbentuk bunyi-bunyi), makna (yang dilambangkan
oleh kata), dan acuan (yang diacu oleh kata). Kalau Anda ditanya, Apakah meja
itu?, maka akan (dan harus) Anda jawab dengan penjelasan seperti Meja ialah
. Penjelasan itu bisa juga berupa batasan, sesuai konsep tentang meja atau
makna dari kata meja. Luas dan dalamnya penjelasan Anda bergantung kepada
pengetahuan dan pengalaman Anda tentang meja. Jika Anda ditanya,
Bagaimanakah meja itu? atau Seperti apakah meja itu/, maka kemungkinan

52

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

besar Anda akan segera menunjuk atau mengacu (mungkin disertai dengan
gerakan telunjuk Anda) sebuah benda yang biasa dinamakan meja. Apa yang
Anda tunjuk itu adalah acuan, bukan makna. Jadi, kata Lyons, apa yang kita
amati, yang kita acu adalah acuan atau referen; dan hubungan antara kata
dengan referennya adalah hubungan referensial.
3.2 Deiksis
Deiksis adalah kata yang referennya berpindah-pindah atau berganti-ganti,
bergantung pada siapa yang menjadi pembicara dan bergantung pada saat dan
tempat dituturkannya kata itu . Misalnya, kata saya, sini, dan sekarang. Kata di
sini dan ini masing-masing mengacu kepada tempat dan barang yang dekat
dengan penutur (Kaswanti Purwo (1984: 12).

Perhatikan contoh yang

dikemukakan oleh Verhaar (2012: 397398) berikut ini.


(1) Saya sakit.
(2) Kamu beruntung.
(3) Ibu Sandiwan ada di rumah.
Orang yang diacu oleh pronominal saya dalam (1) adalah penutur. Apabila
sayalah yang menuturkan (1), maka yang dinyatakan sakit itu saya; bila Anda,
yang dinyatakan sakit itu Anda. Bila Bapak X, Bapak X-lah yang diacu. Demikian
pula, orang yang diacu oleh kamu dalam (2) adalah orang yang disapa oleh
penutur klausa (2), akan tetapi untuk mengetahui siapakah yang disapa itu perlu
diketahui identitas penutur. Jadi, identitas penutur menjadi akar referensi untuk
baik (1) maupun (2): secara langsung untuk saya dalam (1) dan secara tidak
langsung untuk kamu dalam (2). Pronomina seperti saya dan kamu dalam hal ini
berbeda dengan nomina Ibu Sandiwan dalam (3): identitas Ibu Sandiwan itu tidak
bergantung pada identitas penutur klausa (3).
Deiksis berakar pada persona pertama tunggal, dan menyangkut persona,
waktu, dan ruang. Waktu yang menjadi akar adalah waktu penutur menuturkan
sesuatu dan waktu tersebut adalah saat ini. Ruang yang menjadi akar adalah
tempat penutur berada sewaktu ia menuturkan tuturan. Perhatikan contoh (4)(5)
berikut ini.

53

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

(4) Sekarang hujan.


(5) Ibu Sandiwan ada di sini.
Dalam (4) sekarang mengacu pada saat dituturkannya penuturan ini dan
dalam (5) di sini mengacu pada tempat dituturkannya penuturan yang
bersangkutan. Perhatikan bahwa penutur itu sendiri tidak disebut dalam (4) dan
(5).
Menurut

Sumarsono (2010: 75) sebenarnya kata deiksis itu memiliki

acuan, tetapi acuannya itu yang tidak tetap. Karena itu, ada baiknya batasan itu
diubah menjadi deiksis adalah kata yang mempunyai acuan yang tidak tetap.
Dalam artikel ini, konsep deiksis tidak hanya berbentuk kata (morfem bebas)
seperti yang diungkapkan oleh Kaswanti Purwo di atas, tetapi juga bisa berupa
morfem terikat dan frase.
Deiksis berasal dari kata Yunani deiktikos, yang berarti hal penunjukan
secara langsung. Dalam logika istilah Inggris deictic dipergunakan sebagai istilah
pembuktian langsung (pada masa setelah Aristoteles) sebagai lawan dari istilah
elenctic, yang merupakan istilah untuk pembuktian tidak langsung. Dalam
linguistik sekarang kata itu dipakai untuk menggambarkan fungsi kata ganti
persona, kata ganti demonstratif, fungsi waktu, dan bermacam-macam ciri
gramatikal dan leksikal lainnya yang menghubungkan ujaran dengan jalinan ruang
dan waktu dalam tindak ujaran (Lyons, 1977: 636). Sebelumnya, istilah deiktikos
dipergunakan oleh tatabahasawan Yunani dalam pengertian yang sekarang disebut
kata ganti demonstratif atau kata ganti penunjuk, yang dalam bahasa Indonesia
ialah ini dan itu. Tatabahawan Roman (yang meletakkan dasar bagi timbulnya tata
bahasa tradisional di dunia barat) memakai kata Latin demonstratives untuk
menerjemahkan kata deiktikos itu (Kaswanti Purwo, 1984: 2). Deiksis kemudian
diperkenalkan kembali ke dalam linguistik abad ke-20 oleh Karl Buhler. Konsep
yang mirip dengan itu, tetapi lebih luas cakupannya disebut dan diperkenalkan
dalam logika oleh C.S. Pierce dengan istilah indeksikalitas (indexicality)
(Nababan, 1987: 40; Sumarsono, 2010: 77).
Menurut Nababan (1987: 4041), Levinson (1989: 68), dan Cummings
(2007: 3132), dalam kajian pragmatik dikenal lima macam deiksis, yakni: (1)

54

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

deiksis orang (persona), (2) deiksis tempat, (3) deiksis waktu, (4) deiksis wacana,
dan (5) deiksis sosial. Lyons (1977: 636) membedakan deiksis (penunjukan) atas
(1) pronominal orang (an), (2) nama diri, (3) pronominal demonstratif (penunjuk),
(4) kala, (5) keaspekan ciri gramatikal atau leksikal waktu. Yule (2006: 1315)
membagi deiksis menjadi tiga, yaitu (1) deiksis persona, (2) deiksis tempat, dan
(3) deiksis waktu. Sumarsono (2010: 8596) menyebutkan ada enam jenis
deiksis, yaitu (1) deiksis persona, (2) deiksis penunjuk, (3) deiksis tempat, (4)
deiksis waktu, (5) deiksis wacana, dan (6) deiksis sosial.
Dalam penelitian ini, pandangan tentang berbagai jenis deiksis oleh para
ahli di atas akan digunakan untuk melihat proses fonologis dalam deiksis bahasa
Bali. Pada jenis deiksis yang manakah terjadi proses-proses fonologis yang
menyebabkan terjadinya perubahan bentuk deiksis dalam bahasa Bali.
3.3 Kontraksi dalam Deiksis Bahasa Bali
Secara teoretis suatu perubahan bunyi bahasa dapat terjadi pada tingkat
morfem, kata, frase, dan klausa atau sintaksis. Perubahan itu dapat terjadi, baik
karena semata-mata lingkungan fonologis maupun disebabkan oleh perpaduan
lingkungan fonologis dan lingkungan sintaksis (Pastika, 2006: 48). Vogel dan
Kenesei (1990:340) telah memformulasikan keterkaitan antara fonologi dan
sintkasis, yakni terjadi sistem pengaruh dua arah dan hubungan keterkaitan.
Dalam sistem pengaruh dua arah, suatu perubahan bunyi dapat terjadi karena
adanya pengaruh lingkungan sintaksis terhadap struktur fonologis; atau
sebaliknya, suatu perubahan struktur sintaksis dapat terjadi karena adanya
pengaruh lingkungan fonologis. Dalam hal hubungan keterkaitan, sistem pengaruh
dua arah itu dapat berlangsung secara langsung ataupun tidak langsung.
Jika semua hubungan keterkaitan tersebut dimungkinkan, maka sistem
gramatika suatu bahasa akan membolehkan empat tipe interaksi yang berbeda
antara fonologi dan sintaksis yang ditunjukkan oleh hubungan keterkaitan itu.
Namun, berdasarkan pengujian yang dilakukan oleh Vogel dan Kenesei di atas,
hanya dua hubungan yang mungkin, yakni arah interaksinya bisa aspek fonologi
menentukan aspek sintaksis atau sebaliknya. Interaksi langsung dan interaksi

55

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

taklangsung dapat terjadi pada kedua sistem keterkaitan, baik itu dari fonologi ke
sintaksis maupun dan sintaksis ke fonologi. Proses fonologis yang terjadi pada
deiksis bahasa Bali merupakan akibat pengaruh lingkungan sintaksis terhadap
proses fonologis karena perubahan bunyi itu terjadi dalam pemakaian konteks
kalimat. Pengaruh lingkungan sintaksis terhadap proses perubahan bunyi yang
terjadi pada deiksis bahasa Bali berlangsung secara tidak langsung (tidak wajib).
Dalam bahasa Bali ada kecenderungan penutur melesapkan suku kata awal
atau suku kata akhir dari deiksis persona dan deiksis demonstratif. Pelesapan suku
kata atau pemendekan deiksis persona dan demonstratif ini menimbulkan variasi
bentuk dalam pemakaian deiksis bahasa Bali, yakni bentuk panjang dan bentuk
pendeknya. Perubahan bentuk deiksis tersebut dipandang sebagai variasi alternasi
karena variasi bentuk tersebut memiliki makna atau menunjuk kepada referen
yang sama dan hubungan variasi tersebut dapat dijelaskan secara fonologis.
Bentuk pendek ini umumnya digunakan sebagai bentuk sapaan (walaupun tidak
selalu karena digunakan juga dalam kalimat deklaratif). Alasan pemakaian bentuk
pendek ini oleh penutur adalah karena lebih mudah dan lebih praktis
mengucapkan dibandingkan dengan bentuk panjangnya.
Verhaar (2012: 85) mengemukakan bahwa dalam semua bahasa di dunia,
penutur-penutur berusaha untuk menghemat tenaga dalam pemakaian bahasa
dan memperpendek tuturan-tuturannya, sejauh hal itu tidak menghambat
komunikasi dan tidak bertentangan dengan budaya tempat bahasa tersebut
dipakai. Sifat hemat itu dalam bahasa lazim disebut ekonomi bahasa. Hal
yang hampir sama dikemukakan oleh Suparwa (2007) dalam penelitiannya
tentang fonologi posleksikal bahasa Melayu Loloan Bali bahwa motivasi yang
melatarbelakangi terjadinya pemendekan adalah faktor pragmatik, yakni
kecepatan berbicara dan kepraktisan.
Perubahan bentuk seperti tersebut di atas oleh Kridalaksana (2009:94) dan
Verhaar (2012: 8586) disebut dengan istilah kontraksi yang berasal dari istilah
bahasa Inggris contraction/reduction. Kontraksi merupakan proses pemendekan
yang meringkaskan leksem dasar (seperti tak dari tidak, ndak -- dalam percakapan
informal-- dari tidak atau gabungan leksem, seperti takkan (dari tidak akan), tiada

56

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

(berasal dari bentuk tidak ada), sendratari (dari seni, drama, dan tari), berdikari
(dari berdiri di atas kaki sendiri), dan rudal (dari peluru kendali). Bentuk
kontraksi merupakan bagian dari istilah kependekan (abbreviation) (Kridalaksana,
2009:178). Kependekan sebagai salah satu proses pembentukan kata diartikan
sebagai bentuk kata atau frasa yang diringkaskan yang dipakai di samping bentuk
panjangnya. Dalam artikel ini dibatasi pada pemendekan leksem dasar (kata),
tidak termasuk gabungan leksem (frasa).
Untuk menjelaskan dan merumuskan kaidah perubahan bunyi dalam
fonologi generatif, peneliti harus menentukan bentuk asal dari dua bentuk yang
bervariasi tersebut. Terkait dengan artikel ini, pelesapan suku kata awal dalam
deiksis bahasa Bali, sementara suku kedua dan atau terakhir dipertahankan (dan
dapat berperan sebagai kata) yang juga disebut kontraksi tersebut merupakan
sebuah proses yang menghasilkan sebuah bentuk bahasa (kata). Dengan demikian,
bentuk yang sebelum mengalami proses kontraksi atau pemendekan dipandang
sebagai bentuk asal (representasi fonologis) dan bentuk yang telah mengalami
proses kontraksi atau pemendekan ditetapkan sebagai bentuk turunan (representasi
fonetis). Hal yang sama dikemukakan oleh Suparwa (2007: 209210) dalam
penelitian fonologi posleksikal bahasa Melayu Loloan Bali.
Penentuan tersebut selaras dengan kriteria bentuk asal dalam teori fonologi
generative. Pertama, penentuan tersebut sesuai dengan kriterian keteramalan
(predictability). Variasi dua bentuk dalam proses abreviasi, yaitu bentuk panjang
dan bentuk kependekannya, lebih mudah diramalkan jika bentuk panjangnya
dipandang sebagai bentuk asal daripada penentuan bentuk pendeknya. Dalam hal
mi diperlukan kaidah pelesapan segmen untuk menjelaskan bentuk turunannya.
Apabila bentuk pendeknya ditetapkan sebagai bentuk asal, diperlukan kaidah
penambahan segmen. Dalam hal mi, tentu tidak bisa diramalkan macam segmen
yang muncul dan motivasi kemunculan segmen tersebut. Kedua, kenentuan
bentuk panjang sebagai bentuk asal juga didukung oleh kriteria kealamiahan
(naturalness) dan keuniversalan (universal). Secara alamiah, proses perubahan
segmen secara fonetik bisa terjadi karena ada upaya untuk memudahkan
artikulasi. Pelesapan segmen akibat proses abreviasi (pembentukan bentuk

57

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

pendek) merupakan proses yang sangat alamiah terjadi dalam bahasa untuk tujuan
mempermudah pengucapan. Hal itu bisa terjadi karena bentuk yang pendek
tersebut lebih ringkas dan lebih sederhana sehingga alat fonetik pun dapat
mengucapkannya dengan lebih singkat dan lebih sederhana. Jika pemilihan bentuk
asal dengan kebalikannya (bentuk asal adalah bentuk panjangnya), akan sulit
dijelaskan secara alamiah, yaitu lebih mudah dan lebih praktis mengucapkan
bentuk panjangnya. Penentuan bentuk panjang sebagai bentuk asal juga didukung
oleh kriteria yang lain, yaitu kesederhanaan dan ekonomi. Kriteria kesederhanaan
sangat terkait dengan ekonomi karena pada prinsipnya bentuk yang sederhana
selalu lebih ekonomis daripada bentuk yang tidak sederhana. Penjelasan yang
digunakan lebih sederhana dan lebih ekonomis bila ditetapkan bentuk panjang
sebagai bentuk asal, yaitu hanya diperlukan kaidah pelesapan segmen. Sebaliknya,
bila ditetapkan bentuk kependekannya sebagai bentuk asal diperlukan kaidah
kemunculan segmen dalam pembentukan bentuk panjang yang biasanya sulit
dijelaskan alasan kemunculan segmen tensebut. Demikian juga dengan kriteria
ekonomi, karena uraian yang sederhana dalam proses pembentukan bentuk
pendek tentu lebih ekonomis daripada uraian yang tidak sederhana dalam
pembentukan bentuk panjang. Ketiga, kriteria keselarasan pola juga mendukung
penetapan bentuk panjang sebagal bentuk asal. Hal itu terkait dengan pemakaian
bentuk pendek dan bentuk panjang tersebut merupakan fenomena umum yang
berlaku dalam bahasa Bali dan pola penyingkatan bentuk bahasa tidak asing lagi
dalam bahasa Bali. Pada prinsipnya, setiap penyingkatan selalu berdasarkan pada
pola penyingkatan tertentu yang tidak melanggar kaidah umum jejeran segmen
dalam bahasa Bali karena kependekan itu dibentuk selalu mirip (sekurangkurangnya dalam bunyi) dengan bentuk yang dipendekkan (panjangnya) sehingga
tercipta kemiripan bentuk dan makna. Dalam setiap bentuk kontraksi selalu terjadi
proses pelesapan segmen. Pola pelesapan segmen tersebut merupakan kaidah yang
berlaku secara luas dalam bahasa Bali.
Deiksis persona yang mengalami kontraksi (pelesapan suku kata) dalam
pemakaiannya mencakup empat jenis: yakni: (1) deiksis persona pronominal, (2)
deiksis nomina penyapa yang diturunkan dari istilah kekerabatan, (3) deiksis

58

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

nomina penyapa yang diturunkan dari nama generik, dan (4) deiksis nomina
penyapa yang diturunkan dari nama jabatan/profesi. Dengan demikian, pelesapan
suku kata atau yang juga disebut kontraksi atau abreviasi terjadi pada lima jenis
deiksis, dan yang ke- (5) adalah deiksis demonstratif.
3.3.1 Kontraksi pada Deiksis Persona Pronominal
Deiksis

persona

yang

suku

kata

awalnya

sering

dilesapkan

pemakaiannya adalah deiksis yang berupa pronomina persona pertama tunggal


icang saya (6a) menjadi cang saya (6b) dan pronominal pertama jamak
iraga kita (7a) menjadi raga kita (7b). Deiksis icang saya atau cang saya
dan iraga kita atau raga kita digunakan dalam pergaulan oleh orang yang
lebih muda atau sederajat usianya dalam lingkungan keluarga atau antarteman
yang mempunyai hubungan akrab.
(6) a. Mani semengan pesan icang majalan. (Satua-Satua Bali (I), 1993: 17)
Besok pagi-pagi sekali saya akan berangkat.
b. Sing cang ngelah bapa, Me? (Satua-Satua Bali (I), 1993: 17)
Tidakah saya memiliki ayah/bapak, Bu?
(7) a. Makelo masi iraga tusing maen (basket) bareng (kumpulan cerpen
Swecan Widhi, 2015: 25).
Sudah lama kita tidak main (basket) bersama.
b. Raga ajak dadua paturu ngelah beban lan tanggung jawab
(kumpulan cerpen Swecan Widhi, 2015: 29).
Kita berdua sama-sama memiliki beban dan tanggung jawab.
Seperti terlihat pada contoh di atas, penggunaan deiksis persona pertama
tunggal dan jamak disingkat atau dipendekkan dengan melesapkan suku
pertamanya yang berupa sebuah vokal /i/ dan digunakan secara bervariasi dengan
bentuk lengkapnya dengan makna yang sama. Bentuk deiksis icang saya (6a)
digunakan secara bervariasi dengan bentuk cang saya (6b); bentuk deiksis
pronominal pertama jamak iraga kita (7a) digunakan secara bervariasi dengan
bentuk raga kita (7b). Pemakaian bentuk bervariasi tersebut terkait dengan
situasi dan kondisi pemakaian bahasa (faktor pragmatik), yaitu kecepatan
berbicara dan kepraktisan dalam berbicara (Bandingkan dengan Suparwa (2007:
208212).

59

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

Berdasarkan data di atas, kaidah pelesapan suku kata yang berupa sebuah
vokal, yaitu vokal /i / pada awal kata deiksis persona pronominal pertama icang
saya dan deiksis pertama jamak iraga kita dapat dirumuskan sebagai berikut.
K-PL 1
V
+tinggi

#__

-belakang

cang
raga
[pronominal pertama]

Kaidah pelesapan 1 (K-PL 1) di atas menyatakan bahwa vokal /i/ yang


[+tinggi, -belakang] akan lesap bila berada pada posisi awal kata icang saya atau
iraga kita. Kaidah tersebut hanya berlaku pada dua kata itu saja sehingga
menghasilkan turunan cang saya atau raga kita. Kedua bentuk tersebut
merupakan kata pronominal pertama. Pelesapan vokal /i/ ini tidak bersifat wajib,
tetapi hanya merupakan variasi dari bentuk icang saya atau iraga kita. Karena
itu, pengaruh struktur atau lingkungan sintaksis terhadap proses fonologis deiksis
pronominal pertama tunggal dan jamak dalam bahasa Bali bersifat tidak langsung.
Kalaupun pengaruh lingkungan sintaksis tersebut diabaikan (tidak dilesapkan)
bentuk deiksis persona pronominal pertama tersebut tetap berterima.
3.3.2 Kontraksi pada Deiksis Nomina Penyapa Istilah Kekerabatan
Pelesapan suku kata awal juga terjadi pada jenis deiksis nomina penyapa
yang diturunkan dari istilah kekerabatan, nama generik, dan nama jabatan.
Budaya Bali yang memperhatikan benar tata karma atau sopan santun pergaulan
seringkali membuat orang segan memakai pronominal persona kedua ragane
kamu/anda karena pronominal seperti itu dirasakan kurang hormat. Untuk
menunjukkan rasa hormat, ada perangkat nomina tertentu yang dipakai sebagai
kata penyapa dan pengacu pemeran peserta ujaran. Pada umumnya nomina
penyapa dan pengacu itu berkaitan dengan istilah kekerabaatan seperti meme
ibu, bapa bapak/ayah, nanang bapak/ayah, pekak kakek, kaki kakek,
dadong nenek, ninik nenek, odah nenek, iwa paman/bibi, bapak bapak,

60

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

dan ibu ibu); berkaitan dengan nama generik di depan namanya sendiri seperti
Wayan, Putu, Gede, Made, Kadek, Nyoman, Komang, Koming,

dan Ketut;

berkaitan dengan nama jabatan seperti profesor dan dokter. Misalnya: Ragane
uli dija? Anda dari mana?, orang memperhalus dan mengakrabkannya
dengan kalimat Bapak saking napi?
Nomina penyapa yang berdasarkan hubungan kekerabatan, nama
generik, atau yang berdasarkan hubungan jabatan atau hierarki mempunyai
bentuk yang lebih pendek. Nomina penyapa yang berdasarkan hubungan
kekerabatan memiliki bentuk pendek seperti me bu, pa pak/yah, nang
pak/yah, kak kek, ki kek, dong nek, nik nek, dah nek, wa paman/bi,
pak pak, dan bu bu). Nomina penyapa yang berdasarkan hubungan jabatan
atau hierarki memiliki bentuk pendek seperti prof dan dok. Berikut contoh
pemakaian deiksis nomina penyapa yang berdasarkan hubungan kekerabatan.
(8) a. {Meme/Bapa/Nanang/Pekak/Kaki/Dadong/Ninik/Odah/Iwa/Bapak/Ibu}

lakar luas kija?


{Ibu/Ayah/Kakek/Nenek/Paman/Bibi/Bapak/Ibu} akan pergi ke mana?
b. Lakar luas kija {Me/Pa/Nang/Kak/Ki/Me/Dong/Nik/Dah/Wa/Pak/Bu}?
Akan pergi ke mana {Bu/Kak/Yah/Kek/Nek/Paman/Bibi/Pak/Bu}?
Kalimat tanya (8a) merupakan ragam bahasa resmi sehingga penggunaan
bentuk sapaan untuk orang kedua (yang berasal dari istilah kekerabatan: meme
ibu, bapa bapak/ayah, nanang bapak/ayah, pekak kakek, kaki kakek,
dadong nenek, ninik nenek, odah nenek, dan iwa paman/bibi) digunakan
secara utuh. Secara sintaksis, kalimat ini menggunakan pola urutan Subjek-VerbaAdverbia. Berbeda halnya dengan kalimat tanya (8b) yang merupakan ragam
bahasa tidak resmi yang membolehkan adanya pelesapan suku pertama (baik suku
awal itu hanya berupa sebuah vokal (V) maupun rangkaian konsonan-vokal (KV))
sehinggga bentuk sapaan tersebut menjadi tidak utuh secara fonotatik dengan
dilesapkannya suku pertama (me bu untuk meme ibu, pa pak/yah untuk bapa
bapak/ayah, nang pak/yah untuk nanang bapak/ayah, kak kek untuk pekak
kakek, ki kek untuk kaki kakek, dong nek untuk dadong nenek, nik nek
untuk ninik nenek, dah nek untuk odah nenek, dan wa paman/bi untuk iwa

61

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

paman/bibi). Secara sintaksis kalimat tidak resmi ini menggunakan pola urutan
Adverbial/Kata Tanya-Subjek.
Pelesapan suku awal kata yang terjadi pada deiksis bahasa Bali yang
berbentuk sapaan dari istilah kekerabatan (seperti terlihat pada data di atas)
disebabkan oleh lemahnya alokasi tekanan pada suku yang dilesapkan, sementara
suku kedua dan atau suku akhir dipertahankan (dan dapat berperan sebagai kata)
karena suku ini mendapat alokasi tekanan paling kuat. Perlu dijelaskan di sini
bahwa alokasi tekanan pada setiap suku kata terpusat pada unsur puncak
(nuclear), yakni segmen vokal, bukan pada unsur konsonan awal suku (onset)
atau pada konsonan akhir suku (coda) (lihat Pastika, 2006:5556). Proses
pelesapan suku kata seperti tersebut di atas juga dapat terjadi dalam bahasa
Indonesia laras tidak resmi (Pastika, 2006: 54).
Dalam konteks tertentu, baik bentuk panjang maupun bentuk pendek,
dapat dipakai. Akan tetapi, dalam konteks kalimat yang lain, hanya salah satu
yang bisa digunakan.
Contoh:
(8) a. Bapak Made sampun rauh.
Bapak Made sudah datang.
b. Pak Made sampun rauh.
Pak Made sudah datang.
Jika nomina tidak diikuti nama diri, maka bentuk yang pendek kurang
berterima. Perhatikan contoh berikut ini.
(9)

a. *Napi Bu sampun ngrayunin?


Apakah Bu sudah makan?
b. Napi Ibu sampun ngrayunin?
Apakah Ibu sudah makan?
Jika bentuk yang pendek akan dipakai tanpa nama, kalimatnya harus

berakhir dengan sapaan (vokatif), seperti terlihat pada contoh berikut.


(10) a. Ituni semengan lunga kija, Pak?
Tadi pagi pergi ke mana, Pak?
b. Sampun ngrayunin, Bu?
Sudah makan, Bu?
Jadi, bahasa Bali tidak membolehkan pelesapan suku kata awal deiksis

62

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

bentuk nomina sapaan tanpa diikuti nama diri apabila modus kalimatnya adalah
deklaratif yang memanfaatkan istilah kekerabatan sebagai orang ketiga, bukan
orang kedua sehingga bentuk deklaratif seperti (12c) berikut ini tidak berterima.
(11) c. *{Me/Pa/Nang/Kak/Ki/Dong/Nik/Dah/Wa/Pak/Bu} luas ka peken?
*{Bu/Pak/Kek/Nek/Bi} pergi ke pasar?
Berdasarkan data di atas, kaidah pelesapan suku kata awal pada deiksis
nomina penyapa yang berupa istilah kekerabatan, baik yang berupa sebuah vokal
maupun rangkaian konsonan-vokal, dapat dirumuskan sebagai berikut.
K-PL 2
([+konsonan])

+silabis

#__ [+konsonan]
[nomina sapaan istilah
kekerabatan sebagai
orang kedua]

Kaidah pelesapan 2 di atas menyatakan bahwa rangkaian konsonal-vokal (suku


kata yang berstruktur KV) atau vokal (suku kata yang terdiri atas sebuah vokal)
akan lesap apabila berada pada posisi awal kata deiksis yang diikuti oleh suku
kata yang diawali dengan konsonan. Bentuk deiksis tersebut berupa nomina
sapaan yang menggunakan istilah kekerabatan sebagai orang kedua atau vokatif,
bukan sebagai orang ketiga.
3.3.3 Kontraksi pada Deiksis Nomina Penyapa Nama Generik
Struktur sosial masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu disebut
wamsa, yang oleh masyarakat luas disebut wangsa. Walaupun wangsa dan kasta
itu sama-sama bukan ajaran Hindu, namun di Bali wangsa pada kenyataannya
ada, tetapi tidak setajam kasta di India. Persamaannya, wangsa di Bali membedabedakan masyarakat berdasarkan keturunannya. Dalam sistem wangsa ini, ada
satu keturunan yang dipandang lebih tinggi dan ada yang dipandang lebih rendah.
Secara tradisional, struktur sosial masyarakat Bali secara hierarkis tersusun ke
dalam empat wangsa (caturwangsa, caturjadma), yaitu: (1) brahmana, (2)
satria/ksatria, (3) wesia, dan (4) jaba/sudra (Bagus (1979:103).
Berkaitan dengan caturwangsa atau caturkasta, setiap orang Bali memiliki
nama generik di depan namanya sendiri sesuai dengan wangsa atau kastanya.

63

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

Misalnya: untuk kasta terendah (sudra), nama generik itu menunjukkan urutan
seperti Wayan, Putu, dan Gede (anak ke-1), Made, Kadek (anak ke-2), Nyoman,
Komang, Koming (anak ke-3), dan Ketut (anak ke-4). Nomina penyapa yang
berdasarkan nama generik ini memiliki bentuk pendek seperti Yan, Tu, De
(bentuk pendek dari Gede), De (bentuk pendek dari Gede), Dek, Man, Mang,
Ming, dan Tut.
Sama halnya dengan deiksis yang sudah dibahas di atas (deiksis
pronominal dan istilah kekerabatan), pemendekan bentuk deiksis nomina sapaan
yang berkaitan dengan nama generik ini terjadi dengan melesapkan suku kata
awalnya. Pelesapannya terjadi secara konsisten atau teratur seperti tampak pada
contoh berikut ini.
(12) a.{Wayan/Putu/Gede//Made/Kadek/Nyoman/Komang/Koming/Ketut}suba
mandus?
{Wayan/Putu/Gede/Made/Kadek/Nyoman/Komang/Koming/Ketut}sudah
mandi?
b. {Yan/Tu//(Ge)De/(Ma)De/Dek/Man/Mang/Ming/Tut} suba mandus?
{Yan/Tu/(Ge)De/(Ma)De/Dek/Man/Mang/Ming/Tut} sudah mandi?
c. Suba mandus {Yan/Tu/(Ge)De/(Ma)De/Man/Dek/Mang/Ming/Tut}?
Sudah mandi {Yan/Tu/(Ge)De/(Ma)De/Man/Dek/Mang/Ming/Tut}?
Contoh (13a) menunjukkan bahwa deiksis nomina penyapa yang berupa nama
generik wangsa sudra secara lengkap digunakan, sedangkan (13b) dan (13c)
digunakan bentuk pendeknya dan ketiganya berterima dalam tuturan bahasa Bali
yang bermodus interogatif. Baik bentuk panjang maupun bentuk pendek deiksis
tersebut digunakan sebagai orang kedua, bukan sebagai orang ketiga. Akan tetapi,
jika dipakai dalam modus kalimat pernyataan (deklaratif), seperti *Yan suba teka
ibi semengan Yan sudah datang kemarin pagi tidak berterima dalam tuturan
bahasa Bali.
Berdasarkan data di atas, kaidah pelesapan suku kata awal deiksis nomina
penyapa yang diturunkan dari nama generik wangsa sudra dapat dirumuskan
sebagai berikut.

64

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

K-PL 3
[+konsonan] ([konsonan]) [+silabis]

#__ [+konsonan]
[nomina sapaan
nama generik
wangsa sudra
sebagai orang
kedua]

Kaidah pelesapan 3 di atas menyatakan bahwa suku kata awal setiap deiksis nama
generik wangsa

sudra yang berbentuk rangkaian konsonan-konsonan-vokal

(KKV) atau konsonan-vokal (KV) yang diikuti suku kata yang diawali dengan
konsonan akan

dilesapkan

apabila

digunakan

dalam

penyapaan

atau

digunakan sebagai orang kedua.


3.3.4 Kontraksi pada Deiksis Nomina Penyapa Nama Jabatan/Profesi
Berbeda dengan deiksis yang sudah dibahas di atas (deiksis pronominal,
istilah kekerabatan, dan nama generik), pemendekan bentuk deiksis nomina
sapaan yang berkaitan dengan nama jabatan seperti dokter dilakukan dengan
melesapkan suku kata akhir kata, bukan suku awal kata seperti tampak pada
contoh di bawah ini.
(13) a. Ten wenten dokter praktek.
Tidak ada dokter praktek.
b. *Ten wenten dok praktek.
Tidak ada dok praktek.
c. *Dok sampun rauh?
Dok sudah datang?
d. Malih pidan dados buka jahitanne, Dok?
Kapan jaritannya boleh dilepas, Dok?
Pada contoh (14d) bentuk pendek dok dari bentuk lengkap dokter bisa
berterima digunakan sebagai orang kedua atau vokatif, tetapi tidak berterima
digunakan dalam kalimat deklaratif (14b) atau kalimat interogatif (114c) sebagai
orang ketiga. Pemakaian bentuk pendek dok ini sama dengan penggunaan nomina
penyapa istilah kekerabatan dan nama generik. Bedanya adalah bentuk pendek
nomina penyapa dengan nama jabatan ini terjadi dengan melesapkan suku kata
akhir, bukan suku kata awal, yaitu dari bentuk panjang dokter menjadi bentuk

65

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

pendek dok.
Proses perubahan bentuk deiksis nomina penyapa yang berupa
pemendekan nama profesi dokter menjadi dok dapat dijelaskan dengan rumusan
kaidah seperti di bawah ini.
K-PL 4
K

+anterior

+belakang

+sonoran

-bersuara

-bulat

+anterior

-malar

-rendah

+koronal

-kasar

__#
[dok]

+malar

[deiksis nomina
penyapa nama
jabatan/profesi]

Kaidah pelesapan 4 menyatakan bahwa suku kata akhir deiksis nomina penyapa
nama jabatan/profesi yang diawali dengan konsonan /t/ [+kons, +ant, -suara, -mal,
-kasar], diikuti oleh vokal /e/ [+sil, +bel, -bul, -ren] dan konsonan /r/ [+kons,
+son,

+ant,

+kor,

+mal]

akan

dilesapkan

dalam

pemakaiannya

oleh

pembicara/penulis. Kaidah ini hanya berlaku pada kata deiksis itu saja sehingga
menghasilkan bentuk turunan dok. Pemendekan ini digunakan oleh penutur atau
penulis karena membuat penyapaan menjadi lebih mudah, cepat, praktis, dan
masih tetap sopan atau hormat pada orang yang disapa yang berprofesi sebagai
dokter.
3.3.1.5 Kontraksi pada Deiksis Demonstratif
Deiksis demonstratif ini disebut juga deiksis pronominal penunjuk.
Pelesapan suku kata pada deiksis bahasa Bali ternyata juga terjadi pada deiksis
demonstratif (kata ganti penunjuk). Deiksis tersebut adalah ene ini dipendekkan
menjadi ne ni dan ento itu menjadi to tu. Deiksis ene ini untuk menunjuk
sesuatu yang dekat dengan penutur/penulis, ke masa yang akan datang, atau ke
informasi yang disampaikan, sedangkan deiksis ento itu untuk menunjuk sesuatu
yang jauh dari penutur/penulis, ke masa lampau, atau ke informasi yang sudah
disampaikan. Sesuatu itu bukan hanya benda atau barang, melainkan juga

66

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

keadaan, peristiwa, bahkan waktu. Perhatikan penggunaanya dalam kalimatkalimat berikut ini.
(15) a. Nanging ento tuah dadi kenangan (kumpulan cerpen Swecan Widhi,
2015:2 9).
Tetapi, itu hanya menjadi kenangan.
b. Unduk apa ento, yan? Saur Guru Mokoh banban. (kumpulan cerpen
Lawar Goak, 2015: 23)
Masalah apa itu, Yan? Jawab Guru Mokoh pelan.
c. Yen unduk goba, to nak suba pican Widhi, tan sandang Bli Gus
nyeselang. (kumpulan cerpen Swecan Widhi, 2015: 28).
Kalau masalah wajah, tu memang sudah pemberian Tuhan, tidak
perlu Bli Gus menyesali.
d. To tolih panak pisagane akude ane suba dadi sarjana, kaden pragat
glawar-gliwir tusing karuan apa. (Kumpulan Cerpen Lawar Goak, 2014:
16).
Itu lihat anak tetangga berapa sudah jadi sarjana, tetapi hanya ke sana ke
mari tidak jelas.
(16) a. Nah ene Nyoman Songkrong mara teka, kenken mirib ortanne.
(kumpulan cerpen Lawar Goak, 2014: 21).
Nah ini Nyoman Songkrong dating, bagaimana kira-kira beritanya.
b. Beli, Beliiiii, melipetan, ene apa kandike dini anggon Beli sanan busan.
(kumpulan cerpen Lawar Goak, 2014: 20).
Kak, Kakak, kembali, ini apa kapaknya di sini Kakak pakai memanggul
tadi.
c. Ne tuunge duang kranjang Beli negen, icang nyuwun ketimune.
(kumpulan cerpen Lawar Goak, 2014: 19).
Ini terongnya dua keranjang Kakak yang memanggul, saya menjunjung
ketimunya.
d. Ne jukute enu, nasine pada (kumpulan cerpen Lawar Goak, 2014: 14).
Ini sayurnya masih ada, nasinya juga.
Seperti deiksis persona pronominal pertama, deiksis demonstratif to
[to]itu (contoh (15c) dan (15d)) merupakan bentuk pendek dari ento [nto] itu
(contoh (15a) dan (15b) yang digunakan sebagai variasi tanpa membedakan arti.
Demikian juga deiksis demonstratif ne [ne]ini (contoh (16c) dan (16d)
merupakan bentuk pendek dari deiksis ene [ne] ini (contoh (16a) dan (16b).
Kedua deiksis bentuk pendek ini dibentuk dengan melesapkan suku awal bentuk
panjangnya. Suku kata yang dilesapkan pada deiksis demonstratif ento [nto]

67

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

menjadi to [to]merupakan rangkaian konsonan-vokal (KV), sedangkan deiksis ene


[ne] menjadi ne [ne] berupa sebuah vokal.
Berdasarkan uraian di atas, kaidah perubahan deiksis demonstatif ento
[nto] itu menjadi to [to] dan ene [ne] ini menjadi ne [ne] adalah sebagai
berikut.
K PL 5
V

+belakang

+nasal

-bulat
-rendah

+anterior

#__ [+konsonan]
[deiksis demonstratif

+koronal

penunjuk]

Kaidah pelesapan 5 di atas menyatakan bahwa deiksis demonstratif petunjuk yang


diawali oleh vokal /e/ [+silabis, +belakang, -bulat, -rendah] dan konsonal nasal
atau tanpa konsonan nasal /n/ [+nasal, +anterior, +koronal] akan mengalami
pelesapan suku kata pada awal deiksis tersebut. Pelesapan suku kata tersebut
disebabkan oleh lemahnya alokasi tekanan pada suku kata e- [] pada ene [ne]
ini atau en- [n-] pada ento [nto] itu yang dilesapkan, kemudahan dalam
mengartikulasikan atau mengucapkan, dan keinginan pada diri penutur/pembicara
untuk berbahasa yang lebih cepat (ekonomis) dan lebih praktis (tidak bertele-tele).
III. SIMPULAN
Berdasarkan analisis fonologi terhadap deiksis bahasa Bali, dapat
disimpulkan bahwa kaidah fonologi dalam deiksis bahasa Bali ini berupa
pemendekan atau kontraksi atau disebut juga abreviasi. Pemendekan itu terjadi
dengan melesapkan suku awal atau suku akhir deiksis. Suku kata yang dilesapkan
bisa berupa rangkaian konsonan-vokal (KV), konsonan-konsonan-vokal (KKV),
atau hanya sebuah vokal saja (V). Perubahan bunyi yang terjadi pada deiksis
bahasa Bali ini merupakan akibat pengaruh lingkungan sintaksis terhadap proses
fonologis karena perubahan bunyi itu terjadi dalam pemakaian konteks kalimat.
Pengaruh lingkungan sintaksis terhadap proses perubahan bunyi yang terjadi
berlangsung secara tidak langsung (tidak wajib).

68

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

Proses fonologi terjadi pada deiksis persona dan deiksis demonstratif.


Jenis deiksis persona yang mengalami perubahan bunyi adalah (1) deiksis persona
pronominal, (2) deiksis nomina penyapa yang diturunkan dari istilah kekerabatan,
(3) deiksis nomina penyapa yang diturunkan dari nama generik, dan (4) deiksis
nomina penyapa yang diturunkan dari nama jabatan/profesi, sedangkan deiksis
demonstratif berupa demonstratif pronominal penunjuk.
Motivasi yang melatarbelakangi perubahan bunyi tersebut disebabkan oleh
lemahnya alokasi tekanan pada suku kata yang dilesapkan, kemudahan dalam
pengucapan atau pengartikulasian, dan keinginan pada diri pemakai bahasa untuk
berbahasa yang lebih ekonomis atau lebih cepat dan lebih praktis atau tidak
bertele-tele.
Untuk memperloleh gambaran yang lebih komprehensif tentang perubahan
bunyi (proses fonologis) pada deiksis bahasa Bali perlu dilakukan kajian yang
lebih mendalam. Artikel ini baru membahas sebatas kontraksi yang menimbulkan
pelesapan suku kata dalam deiksis bahasa Bali, sementara pelesapan konsonan,
pelesapan vokal, pelesapan karena pembentukan akronim, penyisipan konsonan,
dan proses fonologis pada deiksis bentuk hormat belum disentuh. Kontraksi ini
pun masih dibahas sebatas pemendekan kata, belum menyentuh pemendekan
frasa. Karena itu, kajian ini dapat dilanjutkan dengan ruang lingkup yang lebih
luas dan dengan data yang lebih banyak serta lebih bervariasi.

DAFTAR PUSTAKA
Bagus, I Gusti Ngurah. 1979. Perubahan Pemakaian Bentuk Hormat dalam
Masyarakat Bali: Sebuah Pendekatan Etnografi Berbahasa. Tesis untuk
Progran Studi Pascasarjana Linguistik, Universitas Indonesia. Jakarta.
Bohnemeyer, J. 2006. Deixis (Makalah). Nijmegen: Max Planck Institute for
Psycholinguistics.
Chomsky, Noam and Morris Halle. 1968. The Sound Pattern of English. New
York: Harper & Row.
Cummings, Louise. 2007. Pragmatik: Sebuah Perspektif Multidisipliner. (Eti
Setiawati dkk., Penerj.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Djadjasudarma. 1993. Metode Linguistik: Ancangan Metode Penelitian dan

69

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

Kajian. Bandung: Eresco.


Huang, Yan. 2007. Pragmatics. New York: Oxford University Press.
Juliartha, I Komang Alit. 2015. Swecan Widhi. Tabanan, Bali: Pustaka Ekspresi.
Kaswanti Purwo, Bambang. 1984. Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PN
Balai Pustaka.
Kridalaksana, Harimurti. 2009. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Levinson, Stephen C. 1989. Pragmatics. Cambridge University Press.
Lyons, John. 1972. Introduction to Theoretical Linguistics. Cambridge:
Cambridge University Press.
Lyons, John. 1977. Semantics 2. Cambridge: Cambridge University Press.
Nababan, P.W.J. 1987. Ilmu Pragmatik: Teori dan Penerapannya. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan.
Nadar, F.X. 2009. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Pastika, I Wayan. 1990. Fonologi Generatif Bahasa Bali (The Generative
Phonology of The Balinese Language) (tesis). Ujung Pandang: Fakultas
Pascasarjana, Universitas Hasanuddin.
Pastika, I Wayan. 2004. Deskripsi Bunyi Bahasa dan Proses Perubahannya:
Model Tagmemik, Generatif, dan Sinfonologi. Dalam Linguistika, Vol. 11,
No. 21, Hal.193208.
Pastika, I Wayan. 2006. Pengaruh Lingkungan Sintaksis trehadap Proses
Fonologis. Dalam Linguistika, Vol. 13, No. 24, Hal. 4761.
Richards, J. dkk. 1985. Longman Dictionary of Applied Linguistics. England:
Longman Group.
Rida, I Ketut. 2014. Lawar Goak. Bali: Buku Arti [Arti Foundation]
Samarin, W.J. 1988. Ilmu Penelitian Bahasa Lapangan. Yogyakarta: Universitas
Gadjah Mada.
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar
Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis. Yogyakarta:
Duta Wacana University Press.
Sumarsono. 2010. Pragmatik. Universitas Pendidikan Ganesha.

70

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

Suparwa, I Nyoman. 2007. Fonologi Posleksikal Bahasa Melayu Loloan Bali.


Dalam Linguistika, Vol. 14, No. 27, Hal. 209224.
Tinggen, I Nengah. 1986. Sor Singgih Basa Bali. Singaraja: Rhita.
Tinggen, I Nengah. 1993. Satua-Satua Bali (I): Singaraja: Indra jaya.
Schane, Sanford A. 1973 Generative. Fhonology. New Jersey: Prentice Hall.
Schane, Sanford A. 1992. Fonologi Generatif. (Kentjanawati Gunawan, Penerj.).
Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.
Verhaar, J.W.M. 2012. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada
Univertity Press.
Vogel, Irene and Istvan Kinesei. 1990. Syntax and Semantics in Phonology.
Dalam Sharon Inkelas and Draga Zec. The Phonology-Syntax Connection.
Chicago: The University of Chicago Press.
Yule, George. 2006. Pragmatik. (Indah fajar Wahyuni dan Rombe Mustajab,
Penerj.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

71

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

NILAI RELIGIUS HINDU DALAM SENI LUKIS


I GUSTI NYOMAN LEMPAD

Oleh
Drs. I Komang Dewanta Pendit, M.Si.
Program Studi Pendidikan Seni Rupa
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali
ABSTRAK
Nilai religius Hindu dalam seni lukis I Gusti Nyoman Lempad yang meliputi;
ceritra Purana, Ramayana, Mahabharata, Siwa Tatwa, Siwa Budha tatwa, Sutasoma
mithologi,tantri dan kehidupan religius. Sedangkan proses kreatif secara visual lebih
menekankan pada garis, warna sederhana (tri datu) dan warna emas sebagai vocal
point. Dengan garis dekoratif yang kuat dalam seni lukisnya merupakan pemahaman
dan pendalaman bentuk ornamen, wayang kamasan dan gambar rerajahan.
Seni lukis I Gusti Nyoman Lempad banyak mendapat apresiasi dan
penghargaan dari berbagai kalangan baik dari Pemerintah, Pencinta seni, kolektor,
termasuk Dalam Negeri dan Manca Negara. Penghargaan yang diberikan kepada
Maestro seni lukis I Gusti Nyoman Lempad, seperti; Wijaya Kusuma, Darma
Kusuma, dari Pemerintah RI. lukisannya dikoleksi pada: Museum Ratna Warta Ubud,
Museum Arma, Museum Neka, Museum Voor Volkenkunde di Basel (Jerman).
Kata kunci: Religius Hindu dalam seni lukis I Gusti Nyoman Lempad.
ABSTRACT
Hindu religious values in painting I Gusti Nyoman Lempad which include;
ceritra Purana, Ramayana, Mahabharata, Tatwa Shiva, Shiva Buddha Tatwa,
Sutasoma mithologi, tantri and the religious life. While the creative process visually
more emphasis on line, simple color (tri datu) and gold as the vocal point. With a
strong decorative lines in his art is the understanding and deepening the form of
ornaments, puppets and images Kamasan rerajahan.
Painting I Gusti Nyoman Lempad got a lot of appreciation and recognition
from various circles both from the Government, Art lovers, collectors, including the
in goverment and international goverment. An award given to Maestro painting I
Gusti Nyoman Lempad, such as; Wijaya Kusuma, Dharma Kusuma, from the
government RI. paintings collected on: Museum Ratna Warta Ubud, Arma Museum,
Neka Museum, Museum Voor Volkenkunde in Basel (Germany).
Keywords: Hindu Religious in I Gusti Nyoman Lempad painting.

72

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

I. PENDAHULUAN
Kebudayaan religius Hindu di Bali merupakan nilai rasa terdiri dari seni,
prilaku yang mengandung falsafah Tri Hita Karana, menghasilkan produk kesenian
seperti; Tari Barong,Gambuh, Joged, sedangkan dalam bidang seni rupa seperti; seni
lukis Ubud, Wayang Kamasan Klungkung.(Artadi,2011:v). Nilai religius merupakan
kualitas dan ukuran kerohanian seseorang terhadap nilai keagamaan yang merupakan
proses penempaan batin melalui pemahaman nilai religius akan keyakinan keagamaan
yang diwujudkan dalam sikap tingkah laku dalam proses berkarya bagi seorang
pelukis. Nilai religius pada karya seni lukis terbentuk dari pengalaman estetis,
mendengar, membaca, melihat dan merenungkan melalui proses kontemplasi kreatif
melalui nilai-nilai religius, menghasilkan karya seni lukis bernuansa religius.
I Gusti Nyoman Lempad salah satu pelukis Bali yang menuangkan karyakarya bernilai religius, serta mengusai berbagai bidang kesenirupaan termasuk seni,
ukir, seni patung dan undagi terutama dalam pembuatan bade metumpang, lembu,
nagabanda untuk keperluan ngaben dalam upacara pitra yadnya. I Gusti Nyoman
Lempad sangat terkenal baik di Bali dan mancanegara. Gaya seni lukisnya sangat
unik dengan pengungkapan unsur garis yang sederhana yang meliputi warna; merah,
hitam, putih (tri datu) dengan warna emas/prada sebagai aksen lukisannya. Karya
seni lukis I Gusti Nyoman Lempad seperti menyerupai seni lukis/gambar
rerajahan,wayang kamasan,lukisan Prasi, bernuansa nilai religius Hindu dengan
visualisasi garis sebagai wujud karya. Nilai riligius Hindu menjadi spirit dan roh
dalam karya seni, sehingga karya seni lukis tersebut memiliki Taksu. (Dibia,2012).
Karya seni lukis I Gusti Nyoman Lempad memiliki nilai religius Hindu Bali, yang
memiliki nilai keindahan/estetika berkualitas tinggi sebagai seorang Pelukis Maestro
dan dianggap sebagai leluhurnya seni lukis Bali seperti yang diungkapkan

Pande

Suteja Neka dalam memberikan sambutan dalam buku catalog pameran yang
bertajuk Lempad for the World (Suteja,2014:4).

73

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

Seni lukis I Gusti Nyoman Lempad banyak mendapat apresiasi dan


penghagaan dari berbagai kalangan baik dari orang barat seperti Walter Spies,
Rudlof Bonnet, termasuk dari kalangan pemerhati seni budaya juga banyak membuat
tulisan tentang karya dan ketokohannya, dan juga dari Pemerintah Republik
Indonesia, Pemerintah Daerah Bali memberikan penghargaan dan apresiasi. Nuansa
nilai religius tersebut tercermin dari pengungkapan tema-tema yang terinspirasi dari
nilai-nilai filosofi Teologi Hindu, Itiasa dan Purana seperti; Ramayana,
Mahabharata, Sutasoma, calonarang, tokoh-tokoh para dewa,Sarasamusccaya,
Tantri, dan suasana religius kehidupan masyarakat di Ubud. I Gusti Nyoman Lempad
sebagai seorang pelukis/Sangging yang memiliki jiwa Brahmin/Brahmana, Yogi
dengan diberkati Umur Panjang: 116 Tahun (tahun 1862-1978) dan secara produktif
berkarya seni lukis mencapai puncaknya sekitar tahun 1930-1960, (sekitar usianya
pada waktu itu berkisar 68 tahun sampai diusia 98 tahun), walaupun sebelum tahun
1930 sudah sebagai dan undagi di puri Ubud.

II. PEMBAHASAN
2.1 Biografi dan Proses Berkarya Seni Lukis I Gusti Nyoman Lempad
I Gusti Nyoman Lempad (1862-1978) merupakan anak bungsu dari tujuh
bersaudara, berasal dari Desa Bedulu Banjar Lebah, lahir tahun 1862. Ayahnya
bernama

I Gusti Mayukan yang menjabat Sedan

dan juga memiliki profesi

sangging, undagi dan balian/dukun di Bedulu serta menguasai pengetahuan kitab


Asta Kosala-Kosali dan Asta Bumi, juga sering membuat wadah/bade untuk upacara
ngaben nyekah dan membuat Barong dan Rangda yang disakralkan atau
dikeramatkan sebagai sungsungan/tapakan. Masa Krakatau meletus ( 1883 ) I Gusti
Nyoman Lempad sudah menjadi pematung di Bedulu sebagai arsiteknya dalam
pembangunan Puri Ubud. Pada awalnya I Gusti Nyoman Lempad mengikuti gaya
seni lukis wayang Kamasan, namun semenjak datangnya pelukis barat Wallter Spies,
Rudolf Bonnet maka terjadi perubahan gaya /corak yang memadukan unsur gaya

74

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

seni lukis tradisi dan modern, dan mulai menerapkan struktur proporsi dan anatomi
tubuh manusia. I Gusti Nyoman Lempad merupakan seniman yang tertua dari
generasi pelukis Bali modern yang tergabung dalam Pita Maha sekitar tahun 1930-an.
I Gusti Nyoman lempad

berbakat hampir di semua cabang seni. Selain melukis

kisah - kisah klasik seperti: Ramayana, Mahabharata, Sutasoma, Jayaprana, dan


juga banyak mengungkap tema - tema keluarga, erotisme, tema keseharian
kehidupan masyarakat Ubud dan ceritra Keluarga Men Brayut" yang dalam
mitologi masyarakat Bali

yang diidentikan ibu yang mempunyai banyak anak.

Perkembangan seni lukis

I Gusti Nyoman Lempad mengalami perkembangan dan

perubahan karakter seni lukisnya mulai dari periode pengaruh wayang Kamasan,
berlanjut perubahan bentuk yang mengarah modern atau barat dengan mulai
menampilkan anatomi pada tokoh dan karakter manusianya, dan yang kemudian
berkembang bentuk-bentuk figure karakter tokoh gambar dengan proporsi
diperpanjang (Elongated figure). Hal ini merupakan peralihan dan inovasi yang
sangat berarti dalam seni lukis Bali corak baru. Karya seni lukis I Gusti Nyoman
Lempad termasuk gaya seni lukis tradisional. Seni lukis tradisional lebih bayak
berkembang di dunia timur termasuk di Cina, Jepang, Indonesia dan di Bali. Gaya
seni lukis ini seperti gambar ornamen, batik, gambar wayang, pignet,rerajahan dan
ulap ulap. Seni lukis tradisi lebih bayak menggunakan unsur garis yang bersifat
dekoratif dari stilirisasi bentuk geometris,alam benda tumbuh-tumbuhan, binatang,
manusia yang sangat indah.

2.2 Faktor Internal dan Eksternal Munculnya Nilai Religius


Manusia dalam kehidupan ini ingin mencari kebahagian lahir dan batin,
moksartam jagaditha ya ca iti Dharmah. Menurut Aristipos sesungguhnya yang baik
bagi manusia adalah kesenangan, sejak kecil manusia sudah tertarik akan kesenangan,
begitu sebaliknya menjauhkan diri dari ketidak senangan. Menurut Epikuros (341270 SM) melihat kesenangan (hedune) sebagai tujuan hidup manusia, yang meliputi

75

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

kesenangan badani/jasmani maupun kesenangan yang lebih halus yang menyangkut


kesenangan jiwa/rohani. (Bertens,2013:183-184)
Nilai religius merupakan kualitas rohani seseorang yang menyangkut soal
kepercayaan dan agama. Agama secara mendasar dan umum dapat didefinisikan
sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan
TuhanNya, mengatur

hubungan manusia dengan Manusia lain dan mengatur

hubungan manusia dengan lingkungannya. (Narwoko,2004:248). Edward Tylor


(1871) dalam bukunya Primitive Culture teorinya mengenai bentuk agama yang
paling awal adalah the belief in spiritual beings. Kepercayaan ini diberi nama
animisme. dengan kata lain animisme berkembang menjadi politeisme dan politeisme
lahir monoteisme sebagai bentuk agama yang tertinggi.
I Gusti Nyoman Lempad sudah mencapai fase kematangan dalam memahami
nilai religius Hindu yang meliputi nilai, Satwam (kebenaran), Siwam (kesucian) dan
Sundaram (keindahan) yang bersumber pada ajaran kitab suci Weda, Purana, Itiasa,
Ramayana, Maha Bharata, Sutasoma yang di aktualisasikan dalam bentuk karya seni
lukis, dalam hal ini beragama dan kepercayaan juga dibayang-bayangi oleh simbol,
metafora, cerita, mitos, dan lain-lain yang memerlukan penafsiran kembali sebagai
proses kreatif, dan pada akhirnya memuncak pada kesatuan spiritualitas religius
Hindu dengan mulainya akan kedekatan terhadap Tuhan Yang maha Esa/Ida
Sanghyang Widhi Wasa dengan suatu proses mendalam meliputi perenungan
kontempelasi, menenangkan pikiran meditasi dan yoga, ngulengan keneh, sebagai
penyatuan kekuatan nilai religius dan hal ini nampak tertuang dalam setiap karya seni
lukis I Gusti Nyoman Lempad. Pemahaman nilai religius Hindu yang dituangkan
menjadi karya seni patung, seni ukir,relief, bade, lembu Naga Banda sampai pada
pengaruh seni lukis Wayang Kamasan dan pengaruh teknik melukis modern dengan
ciri anatomi dan proporsi manusia telah melahirkan corak dengan style lempad
yang spesifik. Seperti apa yang dikutif dalam kata sambutan

Anak Agung Rai

sebagai pemilik Museum ARMA dalam buku Lempad for the World;

76

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

..Kegeniusan I Gusti Nyoman Lempad mengolah ilham ceritra epic


Hindu dan ceritra rakyat, yang mengalir dari jari jemarinya melalui kekhasan garis
tinta cina yang kuat sederhana terkesan kosong namun padat berernergi bak lontar
rerajahan. Beliau mengubah image wayang menurut selera pribadi sehingga
melahirkan style Lempad yang sangat personal, anggun, keramat dan berkarakter.
Kepiawaian olah rasa beliau sampai saat ini tak tertandingi. (Suteja,2014:5)

2.2.1 Faktor internal


Munculnya nilai religius Hindu dalam seni lukis I Gusti Nyoman Lempad
sebagai faktor internal tidak terlepas dari bawaan, minat dan bakat, yang dibawa sejak
lahir (karma wesana).Menurut kitab suci Hindu, Sarasamuscaya bait,7 menyebutkan:
Karmabhumiriya Brahman phalabhumirasau mata,
iha yat kurute karma tat paratropabhujyate.
(Sarasamuscaya,bait;7)
Apan iking janma mangke, pagawayan subasubhakarma juga ya, ikang ri pna
pabhuktyan karmaphala ika, kalinganya, ikang subhasubhakarma manke ri pna ika,
an kabukti phalanya, ri pegatni kabhuktyanya, mangjanma ta ya muwah, tumuta
wasana ning karmaphala, wasana ngaraning sangskara, turahning ambematra ya
tinutning paribasaca, swargacyuta narakacyuta, kunang ikang subhasubhakarma ri
pna, tan paphala ika, matangnyan mangke juga pngpnga subhasubhakarma.
Artinya: Sebab saat menjelma sekarang ini, adalah kesempatan untuk melakukan
perbuatan yang baik atau buruk, sedangkan di alam baka adalah tempat untuk
menerima hasil perbuatan kita. Artinya bahwa semua perbuatan yang baik ataupun
buruk, pahalanya akan diterima di alam baka, setelah selesai menerima hasilnya,
maka kembali menjelma dengan diikuti oleh wasana (bekas-bekas) dari hasil
perbuatannya, Wasana artinya sisa-sisa dari bau sesuaatu yang masih bekasbekasnya saja. Hal ini sesuai pula dengan istilah swargacyuta (kelahiran bekas sorga).
(Sudarta Rai Tjok,2009:6-7)
Sikap religius muncul bisa terbentuk kerena faktor keturunan, hal ini menjadi
pandangan nilai religius Hindu I Gusti Nyoman Lempad. Minat dan bakat seseorang
akan tidak jauh dari bidang keahlian orang tuanya atau leluhurnya. Max Weber
mengklasifikasikan jenis tindakan seseorang memperlihatkan perilaku
kebiasaan

tertentu

yang diperoleh dari nenek moyang tanpa refleksi yang sadar atau

77

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

perencanaan, jika ditanya akan memjawab hal itu hanya sekedar menuruti anjuran
dan kebiasaan orang tuanya (Narwoko,2004:18)
Berdasarkan teori diatas bahwa munculnya nilai religius yang ada pada karya
I Gusti Nyoman Lempad tidak terlepas dari faktor kelahiran Karma Wasana yang
membentuk minat dan bakat dan kemudian ditunjang oleh faktor, garis keturunan dan
lingkungan. Talenta/bakat yang sudah dibawa sejal lahir (karma wesana), melalui
garis keturunan dari ayahnya sebagai sangging, undagi dan balian sebagai faktor
genetik, dan adaptasi lingkungan di puri Ubud yang menyerap dan mendengar
aktivitas seni budaya membaca/mebebasan

yang dilakukan di Puri Ubud setiap

malam. Jika mengacu Menurut teori James W. Fowler, mengungkapkan keyakinan


agama

individu

berkembang

dalam

beberapa

(http://www.google.com/url?tugas-kelompok12.doc&ei=

tahapan-tahapan.
R48JU77L,d.bmk)

Dalam;
yang

diakses tanggal,6 September 2014 yang diantaranya:


Tahap 1: I Gusti Nyoman Lempad yaitu, pada fase kepercayaan IntuitifProyektif (Intuitive-Projective Faith.). Tahapan ini disebut tahapan intuitif proyektif.
(umur 3-7 tahun)

menandai perkembangan daya imajinasi dengan pengalaman

inderawi dan kesan-kesan emosional yang kuat dalam alam imajinasi. Intuisi itu
memungkinkannya menangkap nilai-nilai religius yang dipantulkan oleh para tokoh
kunci yakni ayah, ibu. Dalam hal ini peran yang dominan adalah ayahnya I Gusti
Nyoman Lempad yaitu I Gusti Mayukan.
Tahap 2: I Gusti Nyoman Lempad melalui tahap fase kepercayaan MitisHarfiah (Mithic-Literal Faith). Bentuk kepercayaan ini muncul umur 7-12 tahun.
Operasi-operasi logis itu mulai bersifat konkret, dan mengarah pada adanya kategori
sebab-akibat. Hal ini mulai membedakan antara perspektifnya sendiri dan perspektif
orang lain. Kemampuan untuk menguji dan memeriksa perspektifnya sudah mulai
tersusun baik, sikap dan proses penuntun batiniah yang dimilikinya sendiri/tahapan
mistis literal.
Tahap 3: Kepercayaan I Gusti Nyoman Lempad dalam fase SintetisKonvensional (Synthetic-Conventional Faith). umur 12-20 tahun. Di sini muncul

78

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

kemampuan kognitif baru, yaitu operasi-operasi formal, maka pada tingkat remaja
mulai mengambil alih pandangan pribadi orang lain menurut pola pengambilan
perspektif antar-pribadi secara timbal balik. Disini sudah ada kemampuan menyusun
gambaran

percaya,

termasuk

kepada

Tuhan

termasuk

nilai

riligius.

Tahap 4: I Gusti Nyoman Lempad dalam fase kepercayaan IndividuatifReflektif (Individuative-Reflective Faith). Tahap ini muncul pada umur 20 tahun ke
atas (awal masa dewasa). Pola ini ditandai oleh lahirnya refleksi kritis atas seluruh
pendapat, keyakinan, dan nilai (religius). Fase ini mengalami dirinya sebagai yang
khas, unik, aktif, kritis, kreatif penuh daya. Ada dua perubahan utama dalam tahap
ini: Individuasi dan refleksi kritis.
Tahap 5: Ketika pada usia dewasa I Gusti Nyoman Lempad dalam menyerap
nilai religius menurut teori James W. Fowler, dalam fase kepercayaan Eksistensial
Konjungtif (Conjunctive Faith). Kepercayaan eksistensial konjungtif timbul pada
masa usia pertengahan (sekitar umur 35 tahun ke atas). Tahap ini ditandai oleh suatu
keterbukaan dan perhatian baru terhadap adanya polaritas, ketegangan, paradoks, dan
ambiguitas dalam kodrat kebenaran diri dan hidupnya. Kebenaran hanya akan dicapai
melalui dialektika, karena sadar bahwa manusia memerlukan suatu tafsiran yang
majemuk. Di sini beragama dan kepercayaan juga dibayang-bayangi oleh simbol,
metafora, cerita, mitos, dan lain-lain yang memerlukan penafsiran kembali.
Tahap 6: I Gusti Nyoman Lempad dalam fase kepercayaan eksistensial yang
mengacu pada universal (Universalizing Faith). Kepercayaan ini berkembang pada
umur 45 tahun ke atas. Individu melampaui tingkatan paradoks dan polaritas, karena
gaya hidupnya langsung berakar pada kesatuan dengan Tuhan, yaitu pusat nilai,
kekuasaan yang terdalam, melepaskan diri (kenosis) dari egonya dan dari pandangan
bahwa ego adalah pusat, titik acuan, dan tolok ukur kehidupan yang mutlak, kesatuan
sejati berdasarkan semangat cinta universal ini secara antisipatif menjelmakan daya
dan dinamika Tuhan. Pada fase inilah I Gusti Nyoman Lempad mencapi puncaknya
sebagai seorang pelukis dan maestro seni lukis dengan nilai religius Hindu pada usia
berkisar 68 tahun sampai diusia 98 tahun.

79

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

Seni lukis I Gusti Nyoman Lempad dengan nilai religius dapat dikaitkan
dengan sejarah ide-ide, manusia sebagai Homo sapiens, ide adalah suatu yang halus
dan abstrak. Berpikir membedakan kita dari mahluk lain, berpikir adalah suatu bentuk
pekerjaan dan ide yang dimiliki manusia sepanjang zaman telah mengubah hidup
kita, ide merupakan alat yang sangat ampuh. (Kevin ODonnell, 2009:6-7). Dalam hal
ini I Gusti Nyoman Lempad selalu berpikir, mendengarkan bisikan hati nurani
melalui jalan merenungkan tentang nilai-nilai kebijaksanaan dan kebenaran yang
tertuang dalam nilai religius Hindu dalam falsafah Ramayana, Mahabharata, dan
Sutasoma, untuk menemukan ide-ide kreatifnya.

2.2.2 Faktor Eksternal


Diwaktu masa kecil di Desa Bedulu Gianyar I Gusti Nyoman Lempad sudah
tertarik terhadap hal-hal yang berhubungan dengan seni rupa yang bernuansa nilai
religius Hindu, terbukti dengan seringnya melihat-lihat ornamen seni ukir arsitektur
di pura Samuan Tiga di Bedulu, termasuk relief Yeh Pulu, termasuk pura Goa Gajah
sebagai tempat pertapaan Pendeta dari perkembangan agama Hindu Siwa Budha.
Pada zamannya Tjokorda Ngurah di puri Saren Kauh Ubud, setiap malam
diadakan aktivitas mabebasan,ceritra Sutasoma, termasuk ceritra Mahabharata,
Ramayana sering dibaca dan dibahas oleh para ahli-ahli sastra baik dari kerajaan
Ubud maupun maupun para ahli sastra yang berada di luar kerajaan Ubud.
Munculnya ide tema nilai religius Hindu dalam proses berkarya I Gusti Nyoman
Lempad karena memiliki pengalaman sejak kecil sudah diajak oleh orang tuanya
I Gusti Mayukan mengabdi di Puri Ubud sambil setiap malam mendengarkan orang
mebebasan atau mewirama di Puri sampai larut malam, sehingga sampai tertidur
mendengarkan orang mewirama. Dan hal itu hampir setiap malam mendengarnya
tiada henti, karena dorongannya sangat kuat dan terus mengendap dalam bawah
sadarnya yang menjadikan paham dan mengerti dengan tema-tema Ramayana,
Mahabharata, Sutasoma dan ceritra Tantri untuk memunculkan ide-ide karyanya

80

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

yang bernuansa nilai religius Hindu, walaupun I Gusti Nyoman Lempad tidak bisa
membaca hanya mendengar saja dan bisa meniru tulisan yang sudah ada termasuk
penulisan Nama pada karyanya.

Gambar 1 : Karya Lukisan I Gusti Nyoman Lempad,


tema Ramayana (1940), Mahabharata (1940),Sutasoma (1950).
(sumber: foto pribadi, koleksi Dewangga Galeri)

2.3 Apresiasi dan Estetika Seni Lukis


Apresiasi

menurut

Kamus

Praktis

Bahasa

Indonesia,

mengandung

pengetian; penghargaan terhadap sesuatu dengan perasaan, kesadaran terhadap nilainilai budaya dan seni (Syarifudin,2013:26). Menurut Michael Philip pengertian
apresiasi memiliki arti menimbang sesuatu nilai dan merasakan bahwa karya itu baik
serta memahaminya mengapa karya itu dikatakan baik, (appreciate is good to judge
the value of feel that a thing is good and understand is what is good).
(Anatara,1985:9). Pengertian lain dalam Iseklopedia Indonesia Apresiasi ;
Appreciatus (lat) adalah memberikan penilaian tepat menghargai berdasarkan
pengertian tepat tentang nilainya yang timbul dari pemahaman isi dan bentuknya
berupa unsur-unsur keindahan, oleh karena itu apresiasi menghendaki latihan tekun
bertahun-tahun. (Van Hoove,1984:252)
Estetika mempersoalkan hakikat keindahan alam dan karya seni, sedang
filsafat seni mempersoalkan hanya karya seni atau benda seni atau artefak yang
disebut seni. Sehingga dalam hal ini aspek-aspek bahasan estetika dan filsafat seni
yang terkait dengan seni lukis I Gusti Nyoman Lempad meliputi:

81

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

1. Persoalan sikap estetik : kemampuan mengaktualisasikan keindahan dalam


proses berkarya.
2. Persoalan bentuk formal seni : kemampuan mengolah bentuk atau icon
tertentu yang menjadi ciri kekuatan seni lukis.
3. Persoalan pengalaman estetik/seni : merupakan pengalaman tentang nilai
keindahan, dengan membaca, mendengarkan, melihat sehingga terwujud
suatu karya seni lukis.
4. Persoalan nilai-nilai dalam seni: termasuk nilai religius,nilai ertetika atau
keindahan
5. Persoalan pengetahuan dalam seni: yang meliputi pemahaman teori seni
lukis yang meliputi kemampuan penguasaan elemen visual termasuk, garis,
bentuk, warna

dan prinsip seni, meliputi komposisi, irama, dan

kesatuan/unity.
6. Persoalan

pencipta

seni:

kemampuan

Dalam;(http://lukman-punya.blogspot.com

individu

atau

pelukis.

/2012/03/pengantar

filsafat-

seni.html) diakses tanggal, 19 April 2013.

2.3.1 Apresiasi seni lukis I Gusti Nyoman Lempad


Mengapresiasi karya seni lukis I Gusti Nyoman Lempad melalui pendekatan
teori para ahli psikolog, filsuf, melihat dan memproses karya seni lukis melalui
pemahaman sensasi visual dan persepsi visual. Sensasi visual adalah data mentah
merupakan rangsangan dari dunia luar yang mengaktifkan sel-sel saraf dalam organ
indra pada manusia ketika mata menangkap simbol atau gambar dan warana suatu
lukisan, rangsangan visual mencapai otak, hal ini dapat menghasilkan arti dari semua
masukan sensual. Saraf otak menafsirkan bentuk gambar yang tertuang dalam lukisan
tersebut (estetika-denotatif). Sedangkan

persepsi visual adalah kesimpulan yang

dibuat dengan menggabungkan semua informasi yang dikumpulkan oleh organ


sensual. Persepsi visual adalah kesimpulan makna setelah rangsangan visual yang

82

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

diterima (estetika-konotatif). Berdasarkan teori Kurt Koffka, Max Wertheimer, dan


Wolfgang Kohler tentang Sensasi visual dan persepsi visual.Pada seni lukis yang lain
juga terungkap dalam mengapresiasi seni lukis

I Gusti Nyoman Lempad melalui

pendekatan sensasi dan persepsi visual.


Berikut dibawah ini diungkapkan karya seni lukis I Gusti Nyoman Lempad
yang menurut teori sensasi visual dan persepsi visual yang mampu mepengaruhi
penikmat dan pemerhati seni lukisnya yang bertema erotik dibawah ini.

Gambar 2 : Karya Lukisan I Gusti Nyoman Lempad,Tema Erotiktahun1950,


Sensasi Visual dan Persepsi Visual
(sumber; foto pribadi koleksi Dewangga Galeri)

2.3.2 Apresiasi Masyarakat


Menurut Anak Agung Rai sebagai pemilik Arma Galery memberikan
istilah dalam wawancara tanggal,9 juni 2015 mengatakan;
Proses kreatif seni lukis I Gusti Nyoman Lempad dengan istilah creative
meditation karena dalam proses berkaryanya melalui suatu tahap perenungan dan
meditasi yang mendalam dan dengan kekuatan lukisannya terletak pada misteri yang
memiliki makna/nilai mendalam terhadap pemahaman nilai religius Hindu terutama
tentang Ramayana, Mahabharata, Sutasoma, dan kehidupan religius pedesaan.
Sebagai penghargaan dari sejumlah tokoh pengamat seni lukis seperti Bali
atas jasanya I Gusti Nyoman Lempad maka di buatkan museum atau vaviliun yang
menyimpan karya-karya maestro seni lukis Bali I Gusti Nyoman Lempad, dapat

83

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

disebutkan seperti: (1) Musium Seni Lukis Ratna Warta Ubud,(2) Musium Seni Lukis
Suteja Neka, (3) Musium Arma, (4) Dewangga Galeri membuat vaviliun khusus
untuk karya I Gusti Nyoman lempad.
Penghargaan yang diberikan kepada I Gusti Nyoman Lempad atas karya
karyanya dan di koleksi dari berbagai kalangan baik pemerintah kolektor, pribadi
dalam dan luar negeri diantaranya :
1. Tahun 1970 mendapat Anugerah Seni dalam bidang seni lukis dari
Pemerintah Indonesia dan penghargaan Dharma Kusuma dari Pemda Bali
tahun 1982.
2. Dalam Tahun 1970 mendapat anugrah seni, dalam bidang seni dari
pemerintah Indonesia, dan penghargaan Dharma Kusuma dari Pemda Bali
tahun 1982.
3. Tahun 1988, karyanya dipamerkan di Honolulu, Hawai di East-West Centers
of Bali.Karyanya dikoleksi di Tropen Museum di Amsterdam, Rykmuseum
voor Volkenkunde di Leiden, Museum Voor Volkenkunde di Basel (Jerman).
Di Museum Puri Lukisan Ratna Warta, Museum Neka, Museum Arma,
Museum Rudana, Taman Budaya Denpasar.
4. Tahun 1975, Piagam Udayana, Wijaya Kesuma dan Dharma Kesuma.
5. Mendapatkan penghargaan dari pemerintah RI. pada HUT RI ke-25, berupa
medali emas dan uang Rp. 100.000,- yang berikan kepada cucunya untuk
membeli sepeda motor.
6. Hadiah dari Universitas Udayana (1975), dan penghargaan Dharma Kusuma
(1982).
7. Lempad beserta karya-karyanya juga didokumentasikan dalam film oleh
Lome Blair dan Yohanes Darling yang bekerja sama dengan televisi Australia.
Film Dokumenter Lempad itu menerima penghargaan sebagai film
dokumenter terbaik dalam festival film Asia yang ke-26 di Yogyakarta
(1980).

84

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

8. Pelukis Nyoman Gunarsa melalui Sanggar Dewata Indonesia, sebagai


apresiasi terhadap karya dan penghormatan kepada tokoh pelukis maestro Bali
I Gusti Nyoman Lempad dengan menamakan penghargaannnya Lempad
Prize, yang diberikan kepada seseorang yang concern atas kesenian Bali.

III. PENUTUP
Karya seni Lukis I Gusti Nyoman Lempad, sangat konsisten dalam memahami
nilai religius sebagai dasar proses penciptaan karya seni lukis, yang meliputi
wawasan pengetahuan estetik yang meliputi:
1. Persoalan sikap estetik dalam seni lukis I Gusti Nyoman Lempad selalu eksis
dalam menggali nilai nilai religius Hindu yang tertuang pada teologi Hindu
2. Seni lukis I Gusti Nyoman Lempad selalu menggali bentuk-bentuk formal
dalam gambar wayang, ornamen Bali, gambar rerajahan dan termasuk figur
gambar yang merupakan imajinasi hasil kreasi dan ciptaan sendiri, sehingga
menghasilkan bentuk atau pigur yang unik yang menjadi ciri

gaya

bentuk/style I Gusti Nyoman Lempad.


3. Seni lukis

I Gusti Nyoman Lempad dalam hal ini telah melalui suatu

pengalaman estetik, mulai dari masa kecil hingga dewasa yang terlibat dalam
aktivitas berkeseni rupaan dari ayahnya sebagai sorang sangging dan undagi
di puri Ubud.
4. Persoalan nilai-nilai dalam seni I Gusti Nyoman Lempad, menyangkut ukuran
dan kualitas karyanya yang tercermin dari kemampuan yang paling mendasar
dari kekuatan garis dan imajinasi bentuk yang unik dan berkarakter dari nilainilai religius Hindu.

85

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

Daftar Pustaka
Ghazali,Adeng Muchtar. 2011, Antropologi Agama. Bandung: Alfabeta.
Wijaya,Alit. 2012. Transpormasi Rerajahan pada Karya Seni Lukis. Progam Studi
Seni Murni Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
Artadi,I Ketut. 2011. Kebudayaan Spiritualitas. Denpasar: Pustaka Bali Post.
Bungin Burhan. 2008. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Budiarta. 2011. Estetika Seni Lukis Gaya Batuan
Perkembangan Seni Lukis Bali

Karya I Made Budi Dalam

Dalman. 2012. Menulis Karya Ilmiah. Jakarta: Rajawali Pers.


Dibia,I Wayan. 2012. Taksu. Denpasar: Bali Mangsi.
Liestyati,Diah Chitraria.dkk.2012. Menjadi Seniman Rupa.Solo:Metagraf.
Nugroho,Eko. 2008. Teori Warna. Yogyakarta: CV.Andi Offset.
Ritzer,George, Doglas J.Goodman. 2011. Teori Sosialogi Modern. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group
Ibrahim.Idi Subandy. 2011. Budaya Populer Sebagai Media Komunikasi.
Yogyakarta: Jalasutra Anggota IKAFI.
Bertens,K. 2013. Etika,Yogyakarta: Kanisius.
Budiman,Kris. 2011. Semiotika Visual,Konsep,Isu dan Ikonitas. Yogyakarta:
Jalasutra Anggota IKAFI.
Mardi, Kertonegoro Kanjeng.2009. Mengenal Figur Wayang Jawa dan Bali Para
Dewata. Ubud:Ndalem Daya Putih Foundation.
Nala,Ngurah.2006. Aksara Bali dalam Usada. Surabaya: Paramita.
Pastika,dkk. 2009. Kajian Seni Lukis Gaya Pita Maha. Fakultas Seni Rupa Dan
Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

86

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

EKSPRESI BARONG DALAM LUKISAN:


SEBAGAI PERSEPSI BUDAYA BALI SAAT INI

I Gusti Agung Bagus Ari Maruta


Jurusan Penciptaan Seni Rupa Murni
Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Abstrak
Sejak dibukanya Bali sebagai daerah tujuan wisata, kehidupan
masyarakatnya mulai mengalami perubahan. Era globalisasi menggeser budaya
tardisi menjadi moderen. Seperti halnya barong yang semula sebagai pertunjukan
sakral sekarang berkembang menjadi pertunjukan profan. Fenomena seperti ini
kadang menjadi kendala dalam adat istiadat di Bali. Namun dalam berkesenian hal
ini dapat menjadi sebuah ide yang dapat menimbulkan keindahan dengan berbagai
isu Bali saat ini.
Kata kunci: Barong, Berkembang, Indah
Abstract
Since the opening of Bali as a tourist destination, community life began to
change. The era of globalization shift tardisi into modern culture. As with the
original barong as sacred performances now developed into profane
performances. This phenomenon is sometimes an obstacle in customs in Bali. But
in art this may be an idea that could lead to the beauty of Bali with a wide range
of issues today.
Keywords: Barong, Developing, Beautiful
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Seni adalah segala kegiatan dan hasil karya manusia yang mengutarakan
pengalaman batinnya yang karena disajikan secara unik dan menarik
memungkinkan timbulnya pengalaman atau kegiatan batin pula pada diri orang
lain yang menghayatinya. (Soedarso SP, 2000: 2) Pola pikir seorang seniman
dapat dipengaruhi oleh lingkungan disekitar, baik isu maupun fenomena yang
terjadi dan begitu pula sebaliknya disekitarnya. Dari sini bisa di impulkan betapa
besar pengaruh linkungan terhadap proses kesenian seorang seniman. Jadi hal

87

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

yang paling mendasar dari kegiatan penulis dalam berkarya seni tidak lepas dari
pengalaman pribadai dan lingkungan.
Penulis lahir di daerah seni yaitu Ubud. Ubud adalah desa yang sangat
kental akan tradisi dan budaya, Ubud juga daerah pariwisata, ketertarikan para
wisatawan untuk mendatangi Ubud adalah karena alamnya dan areal persawahan.
selain itu ketertarikan wisatawan dengan Ubud adalah masih lekatnya masyarakat
Ubud dengan tradisi seperti upacara-upacara di pura dan kesenian tarinya yang
digemari para wisatawan. Salah satu Tarian yang dihadirkan adalah bagian dari
tarian yang sakral, namun diimitasi oleh masyarakat agar tidak terjadi suatu hal
yang tidak di inginkan. Salah satunya adalah tarian barong.

Barong sakral
Berdasarkan pengalaman yang penulis alami. Pertunjukan barong sangat
penulis gemari dari sejak kecil. Pada masa anak-anak sering mengikuti tradisi
ngelawang, ngelawang sendiri merupakan ritual penolak bala bagi masyarakat
Hindu di Bali, dilaksanakan setiap 6 bulan sekali (210 hari) di antara hari raya
Galungan dan Kuningan. Memainkan figure mistis barong dan membawa keliling
desa yang bertujuan untuk mengusir roh-roh jahat.
Pada dasarnya barong merupakan salah satu kesenian sakral yang dapat
dikaji dari dua aspek yakni seni rupa dan seni pertunjukan. Dari aspek seni rupa,
bentuk barong divisualisasikan lewat berbagai media, seperti patung, kriya, dan
seni media rekam. Visiualisasi bentuk barong menjadi lebih mantap dan hidup
ketika diperankan dalam berbagai genre seni pertunjukan Bali, seperti calonarang
(Wayan Dibia, 2011: 8).

Dalam pertunjukan barong yang sakral biasanya

dilakukan pada upacara dan hari-hari yang diyakini masyarakat Bali sebagai hari
baik kadang 6 bulan sekali sampai 5 tahun sekali. Barong bagi masyarakat Bali
dipercaya sebagai pelindung, juga diyakini sebagai simbol yang melambangkan
kebaikan spirit ritual keagamaan dan digunakan sebagai sarana penyucian alam
semesta.
Bagi umat Hindu di Bali barong merupakan figur mitologi atau figur suci
berbentuk binatang atau menyerupai manusia purba yang memiliki daya gaib yang

88

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

diyakini sebagai perwujudan Sang Hyang Widhi Wasa dalam berbagai


manifestasinya, dan juga bisa berfungsi sebagai kendaraan para dewata.
Penggunaan figure binatang suci tidak hanya berupa mitologi semata. Tetapi
mengandung makna simbolis dan filosofis sebagai suatu laksana atau ciri-ciri
yang menandakan kekuasaan dewa tertentu. (Wayan Dibia, 2011: 9).
Barong yang secara visual sudah memiliki kharisma yang mendebarkan,
baik itu hanya digantung atau diletakan pada posisi di mana sesaji dihaturkan.
Barong juga memiliki daya pikat bila hanya diusung keliling desa atau ketempat
lain ngelunggan. Terlebih lagi barong memiliki power dan penampilan yang
memukau saat ditarikan. Rangda adalah sebagai wujud demonic dari figur Hyang
Durga Bhecari sangat erat kaitannya dengan barong. Dalam pementasan drama
tari Calonarang, Rangda, dapat mempresentasikan seorang tokoh yang
mempraktekan ilmu hitam (black magic). Calonarang atau Walu Rateng Dirah,
berperang dengan Empu Bradah sebagai symbol dari gegelaran ilmu putih (white
magic) yang dilambangkan dengan barong. Barong dan Rangda merupakan
oposisi kekuatan magis rua bineda merupakan peregangan pergolakan hidup
tanpa akhir di dunia ini, yang mesti disinergikan. (I Nyoman Catra. 2007: 10-11).
Barong untuk pertunjukan profan
Sejak dibukanya Bali

sebagai daerah tujuan wisata, kehidupan

masyarakatnya mulai mengalami perubahan. Pendidikan yang diperoleh bagi


sebagian warga masyarakat Bali melalui sekolah-sekolah yang dibuka oleh
pemerintah tampaknya secara perlahan-lahan telah memperluas wawasan mereka
tentang berbagai hal terkait dengan kehidupan.
Di bidang kesenian telah terjadi transformasi nilai-nilai dari nilai
tradisional menjadi nilai kontemporer yang lebih mengedepankan ekonomi global.
Berbagai bentuk seni pertunjukan tradisional dikemas menjadi seni pertunjukan
pariwisata. Pengkemasan seni pertunjukan tradisonal menjadi seni pertunjukan
pariwisata merupakan bentuk nyata dari sebuah industri kreatif di Bali. Hal
tersebut kemudian juga membawa dampak pada kesenian barong di Bali.
Pertamakali Pertunjukan di ubud diadakan di Jaba Puri Agung Ubud sebenarnya

89

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

sudah dimulai pada tahun 1930, tetapi tidak rutin diadakan. Pertunjukan diadakan
hanya jika ada pesta dengan tamu-tamu puri (istana) atau turis mancanegara.
Pertunjukan rutin diadakan sejak tahun 1982. Hal ini diprakarsai oleh
Cokorda Putra Sukawati sebagai pemilik sanggar. Semenjak itu hadir barong
sekuler sebagai representasi pergeseran nilai tersebut. Barong sekuler merupakan
barong bersifat duniawi. Tujuan hadirnya barong sekuler adalah untuk
memberikan hiburan bagi masyarakat dan para wisatawan. Selain itu kehadiran
barong sekuler untuk memperkenalkan ke masyarakat luas mengenai apa itu
barong, seperti pada masyarakat Bali non Hindu, dan untuk menarik wisatawan
lokal dan asing agar berkunjung ke Bali. Meski demikian kemunculan barong
sekuler tidak berarti menghilangkan barong yang bersifat sakral. Karena kedua
barong tersebut (sakral dan sekuler) justru saling mendukung satu dengan yang
lain.
Sebagaimana dikatakan Piet (1933: 86-87), bahwa sejak datangnya
wisatawan ke daerah ini, orang Bali mulai berfikir tentang waktu adalah uang.
Itu artinya bahwa orang Bali ketika itu sudah mulai berfikir rasional.
Meningkatnya pendidikan kiranya telah dapat mengubah cara berfikir seseorang
dari irasional menjadi rasional, dan hal itu juga tampak pada kehidupan
masyarakat Bali dalam berkesenian. Mereka mulai mempunyai gagasan untuk
menyikapi peluang atas ramainya kunjungan
wisatawan datang ke Bali.
Ada beberapa jenis barong di Bali yaitu: barong ketet, barong bangkal (babi),
barong asu, barong macan, barong gajah, barong singa barong landung, barong
blabasan dan barong brutuk, dari berbagai jenis barong itu penulis memilih
barong ketet sebagai objek dari setiap karya karena barong ketet memiliki
perbendaharaan yang lengkap, dan barong ketet juga diberi kehormatan dan
gengsi yang lebih. Topeng barong ket selalu didentikan dalam setiap
penampilannya dan memiliki gaya yang serupa dengan topeng wayang wong.
Barong ketet juga mempunyai cerita tersendiri dalam mitologi Bali yaitu
calonarang yang pertunjukannya itu sering dipakai sebagai pertunjukan untuk

90

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

pariwisata. Barong ketet juga bisa kita jumpai di pasar seni. kepala dan juga badan
barong bisa dipakai untuk hiasan interior.
Keresahan dalam memandang pola tingkah masyarakat Bali saat ini
diwujudkan penulis melalui bahasa rupa lukisan dalam figur barong

Landasan Teori
Perkembangan barong ritual menjadi sekuler tidak lepas dari fenomena
budaya. Menurut Hurssel dan Wittgenstien kebudayan adalah fenomena
psikologis, suatu sifat dari pemikiran, kepribadian, struktur kognitif orang, atau
apa saja yang lain. (Clifford Geertz, 1992: 16 ) semulanya barong hanya sebagai
benda

yang

disakralkan

melalui

pemikiran-pemikiran

masyarakat

yang

berkembang karena pengaruh-pengaruh pariwisata maka barong itu berkembang


menjadi barong sekuler yang dipakai untuk pertunjukan pariwisata. Sejak
dibukanya Bali sebagai daerah tujuan wisata, kehidupan masyarakatnya mulai
mengalami perubahan. Pendidikan yang diperoleh bagi sebagian warga
masyarakat Bali melalui sekolah-sekolah yang dibuka oleh pemerintah kolonial
Belanda tampaknya secara perlahan-lahan telah memperluas wawasan mereka
tentang berbagai hal terkait dengan kehidupan. Dengan diberikannya peluang
untuk mengenyam pendidikan membuat sebagian warga masyarakat Bali ketika
itu mulai mengubah pola pikirnya, dari cara berfikir irasional menjadi rasional
(Gde Agung, 1989: 313).
Dalam pemaknaan dan estetis secara visual pemilihan dan pengolahan
sebuah objek dan juga dapat menjadi sebuah simbol atau pemaknaan menjadi
pertimbangan yang penting bagi penulis walaupun terkadang penulis juga
memaknai sebuah objek dengan pengalaman pribadi yang menjadi imajinasi
Untuk itu, peranan Ernst Cassirer dalam memaparkan teori-teori simbol menjadi
lebih penting.
Ernst Cassier adalah seorang filsuf kebudayaan yang terkenal dengan
karyanya Philosofy of Symbolic Form. Cassirer adalah seorang Yahudi yang
kemudian diangkat menjadi guru besar di Yale University. Cassirer berpendapat
bahwa dengan adanya simbol, manusia dapat menciptakan suatu dunia kultural

91

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

yang didalamnya terdapat bahasa, mitos, agama, kesenian, dan ilmu pengetahuan.
Manusia tidak bisa diartikan sebagai substansi, tetapi harus dimengerti melalui
gagasan-gagasannya yang amat fungsional.
Gagasan Cassier tentang bentuk simbolis (Ernst Cassirer,1987 :18) adalah
bahwa karya estetis bukanlah semata-mata reproduksi dari realitas yang selesai.
Seni merupakan salah satu jalan kearah pandangan objektif atas benda-benda dan
kehidupan manusia. Seni bukannya imitasi realitas, melainkan penyingkapan
realitas. Tentu saja, alam yang disingkapkan melalui seni tidak sama artinya
dengan kata alam sebagaimana digunakan oleh ilmuwan.
Untuk

menetukan

simbol-simbol

penulis

menggunakan

teori

brainstorming agar mendapatkan simbol yang tepat untuk menyampaikan tema


Bali saat ini.
Menurut M. Dwi Marianto (2006:4) braintstorming atau curahan pendapat
adalah salah satu kerja individual atau kelompok dengan mengaplikasikan asosiasi
bebas, keluasan berfikir guna menjaring ide baru dan segar untuk mencari solusi
atas suatu pemahaman.
Tujuan penggunaan metode brainstorming menurut M. Subana (2009:106)
ialah menguras habis segala sesuatu yang dipikirkan oleh siswa dalam
menanggapi masalah yang dilontarkan guru kepadanya. Agar tujuan dalam
penerapan metode brainstorming dapat tercapai maka perlu adanya aturan yang
diperhatikan. Hal ini dimaksudkan agar metode brainstorming dapat berjalan
dengan efektif dan efisien sehingga tujuan yang diharapkan dapat terealisasi.
Menurut Utami Munandar (1985:104) beberapa aturan yang harus diperhatikan
pada metode Brainstorming adalah:
a. Kebebasan dalam memberikan gagasan Anak tidak perlu merasa ragu-ragu
untuk mengeluarkan gagasan apa pun, yang aneh atau yang lain dari
yang lain. Ia pun tidak perlu merasa terikat pada apa yang sudah berlaku
sampai sekarang, pada kebiasaan-kebiasaan yang lama.
b. Penekanan pada kuantitas Pada teknik brainstorming diinginkan gagasangagasan sebanyak mungkin, karena dengan makin banyaknya gagasan

92

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

makin besar pula kemungkinan bahwa di antara gagasan-gagasan tersebut


ada yang sangat baik dan orisinil.
c. Kritik ditangguhkan Selama tahap pengungkapan gagasan, kritik baik oleh
anggota maupun oleh ketua tidak boleh dibenarkan. Kritik baru dapat
dikemukakan setelah tahap pencetusan gagasan selesai. Sesudah tahap ini
ada tahap penilaian gagasan, di mana semua gagasan yang telah dicatat
ditinjau satu per satu kemudian dipilih gagasan-gagasan yang terbaik.
d. Kombinasi dan peningkatan gagasan Siswa dapat menambahkan atau
meneruskan gagasan-gagasan yang sebelumnya telah diungkapkan oleh
siswa lain. Beberapa gagasan dapat digabung menjadi satu gagasan yang
lebih baik.
e. Mengulang gagasan yang tampaknya sama tidak menjadi soal, karena
dalam kenyataan mungkin gagasan-gagasan tersebut agak berbeda.
Teguran bahwa gagasan itu sudah disampaikan sebelumnya akan
menghambat spontanitas siswa dalam mengungkapkan gagasan. Lagi pula
apabila memang ada gagasan-gagasan yang sama, pada tahap penilaian
gagasan tersebut dapat dikeluarkan.
Brainstorming merupakan usaha untuk menemukan kesimpulan untuk
suatu masalah tertentu dengan mengumpulkan daftar ide spontan, proses berfikir
secara cepat atau spontant dengan menuliskan ide atau isi kepala. Sebelumnya
proses brainstorming yang penulis ketahui ialah menjabarkan hal-hal yang
dianggap menarik yang berhubungan dengan sebuah kata dan kemudian penulis
mendapat penjelasan tentang brainstorming, bahwa proses brainstorming ini ialah
proses pengeluaran semua isi kepala atau pengeluaran unek-unek tentang suatu
kata tanpa adanya sebuah sensor atau pemilihan dalam waktu yang singkat. Dalam
proses brainstorming seperti ini dapat membantu memunculkan ide-ide kreatif
yang berada diluar dugaan kita yang timbul secara spontan dan tentunya dapat
diolah lebih lanjut.

93

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

Tujuan Penelitian
Ide dasar penciptaan menurut A.A Djelantik diawali dengan timbulnya
suatu dorongan yang dialami oleh seorang seniman. Dorongan itu bisa datang dari
luar diri seniman karena melihat sesuatu, tetapi juga bisa timbul dari dalam hati
sanubari seniman. Dorongan yang spontan serta secara sadar timbul dalam diri
seniman disebut dengan motivasi, dan dorongan

yang tidak disadari

kemunculannya, hanya bisa merasakan desakan, dorongan keras, kegelisahan,


seolah-olah dipaksa untuk menciptakan sesuatu demikian disebut impuls. (A.A.M.
Djelantik,2001:64)
Sebuah penelitian tentu memiliki tujuan sebagai pijakan. Berikut ini akan
dipaparkan tujuan penelitian sebagai berikut;
1. Untuk mewujudkan ide penciptaan kebudayaan Bali saat ini yaitu dalam
bentuk barong Bali dalam seni lukis.
2. Untuk membuat idiom bentuk yang dapat menggambarkan kebudayaan
Bali saat ini.
3. Untuk memberikan bentuk penyajian yang baru tentang budaya Bali saat
ini dengan berbagai teknik melukis.

Ekspresi Barong dalam Lukisan: Sebagai Persepsi Budaya Bali Saat Ini.
Ekspresi

merupakan

pengungkapan

atau

proses

menyatakan,

memperlihatkan atau menyatakan maksud, gagasan, perasaan, dan sebagainya.


Pada dasarnya barong telah memiliki ekspresi yang sangat unik, yang bisa dilihat
dari topengnya ataupun gerak tubuhnya. Namun penulis melihat ekspresi yang
lain dari barong tersebut. Karena terkait dengan latar belakang sebelumnya
pergeseran barong sakral menjadi profan. Imajinasi menjadi peranan yang penting
untuk melahirkan karya seni. dengan kepekaan imajinasi penulis mencoba
melahirkan berbagai bentuk barong yang baru. Menurut penulis barong sangat
tepat untuk menyampaikaan budaya bali saat ini. karena pada awalnya barong
hanya sebagai pertunjukan sakral dan sakarang bergeser ke pertunjukan profan.
Sama kaitannya dengan budaya Bali saat ini yang telah terkena pengaruh
globalisasi.

94

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

Sekuler merupakan hal yang bersifat duniawi. Barong sekuler di sini


adalah sebagai pemenuhan hasrat masyarakat untuk memenuhi kebutuhan seharihatrinya dengan mempertunjukan untuk pariwisata. Untuk penulis sendiri barong
sekuler adalah berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan hasrat penulis untuk
mengejrar keindahan yang ingin ditampilkan.
Bergesernya masyarakat Bali ke arah moderen terkadang menimbulkan
permasalahan ketika masih kentalnya adat Bali disetiap banjar atau desa.
Masyarakat Bali memiliki corak sosial-budaya yang sangat kental dari segi
keagamaan. Corak keagamaan yang kental ini terlihat dari ritual-ritual keagamaan
dan berbagai upacara sakral lainnya yang menggunakan simbol-simbol khusus
umat Hindu, penggunaan berbagai jenis, bentuk dan ukuran upakara (bebanten)
dalam pelaksanaan berbagai upacara keagamaan.
Penulis rasa hal ini sangat menarik dimana sebuah problematika yang
kadang menjadi kendala dalam karya seni menjadi sebuah keindahan. Untuk
memantapkan imajinasi dengan melahirkan simbol-simbol baru tidak lepas dari
metode brainstorming. Sebelum itu penulis mempersiapkan satu lembar kerta hvs
dan pensil atau alat tulis lainnya setelah itu penulis memakai kata kunci Bali saat
ini ada beberapa cabang kata yang bisa ditemukan. Dan dari cabang tersebut juga
terlahir cabang berikutnya. Setelah kertas itu penuh dengan curahan dari isi dalam
kepala penulis tentang Bali saat ini penulis mencoba mengelompokkannya
dengan kata-kata yang masih berhubungan. Penulis menemukan beberapa kata
yang berhubungan dengan objek dan bahan.

95

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

Gb. 01 Proses pertama dalam braintstorming.


Sumber: dokumentasi I Gusti Agung Bagus Ari Maruta

Pada tahapan ini telah melahirkan beberapa cabang yang berkaitan dengan
bali saat ini.

Gb. 02 Proses selanjutnya dalam braintstorming


Sumber: dokumentasi I Gusti Agung Bagus Ari Maruta

96

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

Pada proses ini ialah mengelompokan beberapa kata yang berhubungan.


Seperti kata kain sebaga simbol industri, dan kertas penulis kelompokan sebagai
bahan. Garis, warna dan bidang penulis kelompokan dalam unsur-unsur seni lukis
dan reklamasi sebagia isu Bali saat ini.
Karya yang akan dihadirkan ini adalah upaya untuk memvisualkan ide-ide
yang lahir melalui proses perenungan dan pemahaman akan kegelisahankegelisahan yang dirasakan, yaitu dengan menggunakan barong sebagai objek
visual. Melalui berbagai tangkapan pada karakter barong kemudian diterapkan
kemBali pada bentuk-bentuk yang dihadirkan pada karya seni rupa, sesuai dengan
maksud dan tujuan yang ingin disampaikan yaitu sebagai representasi dari kondisi
diri maupun lingkungan sekitar atas permasalahan-permasalahan yang dirasakan
dan terjadi dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat sekitar.
Penulis akan mewujudkan barong sekuler ini dengan rangkaian kain perca.
karena kain merupakan produk industri penulis kira kain tepat sebagai simbol dari
sekuler. Penulis mencoba mengungkapkannya dengan kain perca agar terlihat
lebih artistic dan full color. Jadi secara keseluruhan Barong sekuler ini penulis
simbolkan sebagai persepsi penulis dengan keadaan masyarakat Bali saat ini.
Secara garis besar setiap karya yang dihadirkan adalah barong. Dengan
berbagai deformasi yang penulis terapkan agar dapat terlihat sebagai barong
sekuler yang penulis persepsikan dengan budaya Bali saat ini.

Penutup
Sesuai dengan apa yang telah diuraikan sebelumnya dapat disimpulkan
bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi perwujudan karya seni yaitu
faktor pengalaman pribadi, lingkungan atau kebudayaan. Serta segala kegelisahan
yang ada maupun interaksi diluar diri masing-masing.
Kedekatan terhadap barong melalui pengalaman-pengalaman dengan
barong sakral maupun sekuler menjadi perwujudan dalam persepsi budaya Bali
saat ini. Karya seni yang dihadirkan akan memberi kesan yang berbeda dari
persepsi penikmat terhadap budaya Bali saat ini dengan persepsi yang akan
disampaikan dalam karya. Sebuah kondisi problematika yang kadang menjadi

97

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

kendala. namun dalam karya seni menjadi sebuah keindahan dengan kekuatan
imajinasi dan melahirkan simbol-simbol yang menarik.

Daftar Rujukan
A. A. M. Djelantik. 1999. Estetika; Sebuah Pengantar. Bandung : Masyarakat Seni
Pertunjukan Indonesia.
Cassirer, Ernst. Manusia dann Kebudayaan, Sebuah Esesnsi Tentang Manusia. Jakarta :
Gramedia, 1987
Catra, I Nyoman. Perkembangan Seni Perorangan dan Seni Sakral di Bali. Bali:
Departemen Agama Kantor Wilayah Propinsi Bali. 2007.
Darmajat, Irma. Psikologi seni. Bandung: Istitut Teknologi Banadung, 2006
Dibia, I Wayan. Paruman Barong Di Puncak Padang Dawa Baturiti Tabanan.
Yogyakarta: BP ISI Yogyakarta: 2011
Gde Agung, Ide Anak Agung. 1989. Bali Pada Abad XIX, Perjuangan Rakyat dan Rajaraja Bali Menentang Kolonialisme Belanda 1808-1908. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Marianto, M. Dwi, (2006), Quantum Seni, Semarang: Dahara Prize.
Munandar, Utami. (1985). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah.
Jakarta: PT. Gramedia
Piet, Soe Lie. 1933. Pengoendjoekan Poelo Bali Atawa Gids Bali. Malang : The Tjwan
Khee.
Subana dan Sunarti. (2009). Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Bandung: CV
Pustaka Setia.
SP, Soedarso, (2000), Sejarah Perkembangan Seni Rupa Modern, CV. Studio Delapan
Puluh Interprise, Jakarta.

98

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

Lampiran Karya Seni

Gb. 3. Terpotong dalam Ikatan


30x30 cm (6 panel) akrilik pada kanfas, 2014

Gb. 4. Selembar Kain Tua


100 cm x 130 cm, akrilik pada kanvas, 2015

99

Stilistetika Tahun IV Volume 7, November 2015


ISSN 2089-8460

Gb. 5. Behind the Scenes


180 x 180 cm, akrilik pada kanvas, 2015

100

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

PERUBAHAN LINGKUNGAN: KESUBURAN DALAM KENANGAN


I Wayan Putra Eka Pratama
Minat Utama Seni Lukis
Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Jl. Suryodiningratan No. 8, Yogyakarta 55143
Tlp. (0274) 419791, 081999268768, E-mail: wayanakut@gmail.com
Abstrak
Kemajuan pariwisata yang terjadi di Kuta Bali memberikan peluang
lapangan pekerjaan untuk penduduknya dan pendatang yang marantau ke Bali.
Namun lambat laun kemajuan pariwisata yang kian pesat membuat semakin
banyaknya pembangunan. Pembangunan yang terus tumbuh tanpa henti membuat
berkurangnya lahan hijau. Kuta yang masih melekat dalam ingatan penulis
dipenuhi oleh pohon kelapa yang menjulang tinggi memenuhi tegal (kebun) yang
subur.
Dari pemikiran ide/gagasan tentang perubahan lingkungan akan
diwujudkan dengan simbol, karena simbol adalah alat komunikasi dengan
berbagai media, yang dengan sadar digunakan untuk menyampaikan sesuatu buah
pikiran atau konsep tertentu dengan maksud untuk dimengerti oleh orang lain.
Dari bentuk-bentuk alam yang menjadi simbol, kemudian disajikan dengan
surealistik yaitu wujud visual yang bersumber pada realitas superior.
Kata kunci: Kemajuan pariwisata, kenangan kesuburan, simbol, surealistik.
Abstract
Tourism improvement that occurred in Kuta Bali provide employment
opportunities for residents and newcomers who migrated to Bali. But gradually
the progress of tourism makes more and more development. Development
continues to grow relentlessly make the reduction of green land. Kuta that linger
in the memory of the writer filled with palm trees towering, in tegal (garden) is
fertile.
from idea/notion of environmental changes will be realized with the
symbol, the symbol is a communication tool with a variety of media, which
consciously used to convey certain ideas or concepts something, with the intent to
be understood by others. From natural forms that became a symbol, which is then
presented with a surrealistic visual form that originates in the superior reality.
Keywords: the advancement of tourism, memories fertility, symbol, surrealistic.

101

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

Pendahuluan
Kaya seni merupakan hasil dari pengamatan dan pengalaman yang dirasakan
oleh seniman, kemudian diolah lewat rasa dan diwujudkan berupa karya seni.
Karena Ilmu yang utama didapat melalui praktik pengalaman dan penghayatan
nyata. Belajar seni memang harus melalui proses mengamati, memahami, merasarasakan dan mempraktikkannya (Marianto, 2013: 8). Seorang perupa/ seniman
akan selalu berusaha melihat dengan sudut pandang dan parasaannya yang
menarik, agar penikmat karya merasakan keresahan yang dirasakan seniman,
Soedarso Sp menyebutkan bahwa :
Seni adalah hasil karya manusia yang mengkomunikasikan pengalamanpengalaman batinya, pengalaman batin tersebut disajikan secara indah atau
menarik sehingga merangsang timbulnya pengalaman batin pula pada manusia
lain yang menghayatinya. Kelahirannya tidak didorong oleh hasrat memenuhi
kebutuhan

yang

pokok,

melainkan

merupakan

usaha

melengkapi

dan

menyempurnakan derajat kemanusiaannya, memenuhi kebutuhan yang sifatnya


sepiritual (Sp, 1987: 5).
Hidup di daerah pariwisata memberikan kebahagian dalam diri penulis,
karena memberikan dampak positif untuk kesejahteraan kehidupan. Kemajuan
pariwisata yang terjadi di Kuta Bali memberikan peluang lapangan pekerjaan
untuk penduduknya dan pendatang yang merantau ke Bali. Kuta adalah desa yang
mengalami kemajuan pesat lewat pariwisata pantainya yang terkenal dengan
matahari terbenamnya (sunset). Jika dilihat Kuta berada di sisi selatan pulau Bali,
tepatnya di daerah kabupaten Badung. Kemajuan pariwisata yang terjadi di Kuta
Bali membuat semakin meningkatnya pembangunan seperti tempat penginapan
dan hotel. Ini adalah sebuah penanda yang sangat baik, jika dilihat dari sisi
pembangunan karena kesejahteraan penduduk terjamin. Namun lambat laun
kemajuan pariwisata yang kian pesat membuat semakin banyaknya pembangunan.
Pembangunan yang terus tumbuh tanpa henti membuat berkurangnya lahan hijau.
Kuta yang masih melekat dalam ingatan penulis dipenuhi oleh pohon kelapa yang
menjulang tinggi memenuhi tegal (kebun) yang subur. Selain pohon kelapa,
bangkuang dan kacang tanah adalah tumbuhan yang tumbuh subur memenuhi

102

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

kebun. Perubahan yang kian cepat tidak dapat dielakkan karena itu adalah sebuah
resiko dari kemajuan yang dialami. Melihat keadaan yang terjadi penulis merasa
takut kalau alam yang menjadi tujuan pariwisata menghilang oleh pembangunan.
Selain kenangan itu semasa kecil saat liburan sekolah penulis habiskan di
desa Tabanan Bali yang terkenal sebagai lumbung beras. Ini karena pada saat itu
penulis berlibur di rumah nenek yang sampai sekarang masih terus terkenang
dengan keindahan alamnya. Alam asri yang subur dan indah adalah ingatan yang
sangat sulit untuk dilupakan. Hamparan padi yang menguning, burung-burung
yang terbang bebas di atasnya seakan mencari celah untuk makan diantara lelakut
(orang-orang sawah) yang berdiri di tengah-tengahnya, merupakan pemandangan
yang menyenangkan. Selain itu sapi-sapi yang dibiarkan lepas bebas di atas
hijaunya rumput seakan menjadi objek pelengkap indahnya alam. Bunga-bunga
bermekaran dan kupu-kupu penuh warna seakan menggoda dan membawa larut
kedalam dunia imajinasi, memberikan ingatan dan menjadi kenangan yang sulit
untuk dilupakan, seakan ingin merasakannya lagi. Ini adalah kenangan- kenangan
saat liburan di desa tentang kesuburan yang dirasakan.
Kesubur memberikan ingatan dan kenangan dalam diri penulis yang tidak
akan pernah terlupakan. Sedangkan kemajuan pariwisata yang semakin maju
membuat penulis berada di dua sisi, di satu sisi kebahagiaan karena pendidikan
dan kebutuhan hidup terpenuhi dan di satu sisi ada ketakutan dalam diri kalau
kemajuan akan menghabiskan kehijauan alam. Ini adalah ketakutan yang terus
menghantui dalam ingatan, jikalau kehijauan alam habis oleh pembangunan, maka
hilanglah daya tariknya. Kemajuan pariwisata yang kian pesat tanpa diimbangi
dengan keseimbangan alam akan menjadi bumberang yang akan merugikan
pariwisata itu. Bali terkenal dengan keindahan alamnya dengan kemisteriusan
yang eksotik, ini adalah daya tarik yang harus terus dipertahankan untuk
kemajuan pariwisata. Inilah keresahan dalam diri penulis saat ini.
Melihat kenyataan yang terjadi saat ini, penulis merasakan sangat penting
menunjukkan kesuburan dan keasrian alam itu. Alam yang asri dan subur harus
ditunjukkan agar orang-orang tertarik dan mau untuk menjaga dan melestarikan
alam itu. Ini seperti mempromosikan sebuah produk yang sangat penting untuk

103

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

kelangsungan hidup dan pariwisata. Kesuburan dapat dilihat dari hasil-hasil yang
diperoleh dari tanaman yang ditanam di tanah, seperti buah-buahan, sayuran,
umbi-umbian dan lain-lain. Kesuburan dapat juga terlihat dari hijaunya tumbuhtumbuhan yang hidup di sana, ini sebagai sebuah penanda tanah itu subur. Selain
itu hewan-hewan yang mendiami tanah yang subur akan banyak, ini karena makan
yang tersedia berlimpah seperti buah dan biji-bijian, bunga-bunga yang penuh
warna dan kupu-kupu yang terbang bebas. Jika diamati objek-objek hasil dari
kesuburan itu sangat bermacam-macam dan menarik, sehingga ini yang akan
menjadi objek penting dalam setiap lukisan.
Sedangkan kemajuan yang terjadi selalu memberikan dampak positif dan
negatif yang terkadang sangat sulit untuk diseimbangkan karena salahsatu pasti
mendominasi. Pembangunan yang kian pesat semakin menyesakkan dan
memenuhi lahan-lahan yang kosong. Selain itu dampak yang terkadang tidak
disadari adalah semakin berkurangnya pohon-pohon yang menjadi tempat
bersarangnya burung-burung. Kemajuan memang menjadi sebuah tujuan yang
pasti namun keseimbangan alam juga haruslah diperhitungkan. Keresahan inilah
yang terkadang membingungkan penulis antara mempertahankan atau larut dalam
kemajuan karena semuanya penting. Duahal yang perlu diseimbangkan dan
terkadang sulit untuk disatukan.
Maka dari permasalahan perubahan lingkungan diatas akan diwujudkan
dengan media seni lukis. Dengan menggunakan objek-objek kesuburan seperti
bunga-bunga, daun-daun hijau, dan hewan-hewan yang bergantung hidup
padanya. Sedangkan perubahan lingkungan divisualkan dengan objek-objek
seperti bangunan dll.

Landasan Teori
Dengan demikian dalam bagian ini akan diuraikan beberapa teori yang
berkaitan dengan usaha untuk menampilkan ide atau gagasan yang telah ada, agar
karya seni yang tercipta sesuai dengan keinginan. Untuk lebih memudahkan akan

104

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

dijabarkan unsur-unsur dalam proses berkarya seperti: simbol, deformasi, bentuk,


garis, warna, bidang dan surealistik.
Dari pemikiran ide/gagasan akan diwujudkan dengan simbol karena simbol
adalah sebuah tanda untuk mewakili sesuatu yang lain agar mudah dimengerti dan
dipahami, FX. Pracoyo menyebutkan bahwa Simbol adalah alat komunikasi
dengan berbagai media baik berupa benda (benda alam maupun buatan manusia),
bahasa, gerak dan sebagainya, dalam media tersebut telah dimuati makna yang
lahir dari pikiran, perasaan dan interpretasi yang dengan secara sadar
mempergunakan benda tersebut sebagai alat/sarana komunikasi kepada orang lain
untuk menyampaikan sesuatu buah pikiran atau konsep tertentu dengan maksud
untuk dimengerti oleh orang lain. Dengan demikian, simbol adalah sarana
komunikasi yang mengandung nilai interpretatif dan setelah diterima oleh
penerima simbol diinterpretatifkan kembali oleh si penerima simbol tersebut
(simbol adalah interpretatif yang diinterpretatifkan) (Pracoyo, 2010: 29).
Maka dengan demikian simbol menjadi sangat penting digunakan agar mudah
dimengerti. Dari bentuk-bentuk alam yang menjadi simbol kemudian diolah
dengan deformasi yaitu perubahan susunan pada bentuk untuk menciptakan
bentuk-bentuk simbolik yang baru. Deformasi yaitu perubahan susunan bentuk
yang dilakukan dengan sengaja untuk kepentingan seni yang sering terkesan
sangat kuat/besar sehingga kadang-kadang tidak lagi berwujud figur semula atau
sebenarnya sehingga hal ini dapat memunculkan figur/karakter baru yang lain dari
sebelumnya. Deformasi diciptakan dengan cara: stilisasi (penggayaan), destruksi
(perusakan), simplifikasi (penyederhanaan), distorsi (pembiasan) (Susanto, 2011:
98).
Dengan adanya deformasi tersebut hal-hal yang dirasa tidak perlu dapat
dihilangkan, untuk mencapai tujuan-tujuan estetik sesuai yang diharapkan. Seperti
yang dikatakan oleh Herbert Read bahwa Distorsi bisa diartikan sebagai usaha
untuk meninggalkan harmoni geometris yang biasa, atau lebih umum lagi,
menunjukkan ketidak sesuaian dengan proporsi yang diberikan oleh alam ini.
Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa distorsi selalu ada pada semua hasil seni
dalam keadaannya yang kadang-kadang begitu wajar dan kadang-kadang pula

105

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

tidakjelas bahwa semua perubahan dari sekedar imitasi yang tepat itu selalu
mengandung sesuatu maksud. Mungkin disebabkan oleh keinginan seniman untuk
memperbaiki bentuk, untuk membuat imbangan atau kesatuan dari pola-polanya;
atau mungkin juga karena keinginannya untuk melambangkan sesuatu yang supra
riil, sesuatu yang spiritual sifatnya (Read dalam Soedarso, Sp, 2000: 8-9).
Selain itu, penggunaan garis pada karya ini memiliki peranan yang sangat
penting karena garis adalah sebuah eleman seni yang merupakan jejak dari sebuah
titik yang bergerak melalui ruang (Ragans, 2005: 70). Garis dalam perwujudan
karya seni

lukis sebagai elemen dasar penting yang berfungsi membentuk

karakter figur dan objek yang akan dilukiskan. Garis juga digunakan untuk
mempertegas objekobjek yang menjadi pokok permasalahan yang disampaikan
selain itu agar menampilkan kesan tempelan dengan menggunakan warna putih
dan hitam.
Selain garis dalam karya seni warna merupakan salah satu elemen yang
memiliki peran dominan, selain sebagai pendukung nilai estetis warna mampu
dikaitkan dengan upaya untuk menyatakan jarak, gerak, ruang, bentuk, ekspresi
ataupun makna-makna yang sifatnya simbolik. Dan maknanya untuk karya lukis
ini, untuk menunjukkan bahwa alam memiliki bermacam-macam manfaat untuk
makhluk hidup, diwujudkan dengan bermacam-macam warna yang cenderung
cerah, sejuk, dan dingin seperti warna tint jenis warna yang dikombinasikan
dengan warna putih (Susanto, 2011: 402) agar terasa nyaman.
Bidang juga merupakan unsur seni rupa yang berfungsi untuk menimbulkan
kesan dimensi ataupun keruangan dari objak-objek yang divisualkan. Bidang
dapat diartikan bentuk yang menempati ruang, dan bentuk bidang sebagai
ruangnya sendiri disebut ruang dwimatra (Sanyoto, 2009: 103). Dalam karya ini
bidang menjadi elemen pendukung objek utama agar mampu menunjukkan hewan
dan alam saling membutuhkan satu dengan yang lainnya artinya objek utama dan
latar belakang memiliki hubungan meskipun disajikan secara paradoks, dengan
penggunaan komposisi untuk mengatur letak objek latar belakang agar karya
nampak seimbang dan harmoni.

106

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

Jadi penggabungan bentuk-bentuk simbol yang diolah dengan deformasi


kemudian disajikan dengan Surealistik. Menurut Andre Breton, surealisme adalah
otomatis psikis yang murni dengan proses pemikiran yang sebenarnya untuk
diekspresikan secara verbal, tertulis ataupun cara lain (Kartika, 2007: 92). Pada
dasarnya gaya surealistik cenderung merealisasikan bentuk-bentuk yang
bersumber pada dunia fantasi dan imajinasi. Fantasi adalah daya yang
menghasilkan khayalan itu biasanya dikaitkan dengan gambaran objek yang tidak
mungkin dan memang tidak ada dalam kenyataan sedangkan imajinasi dipahami
sebagai daya yang menghasilkan gambaran objek yang mungkin (= dapat ada)
atau logis (Tedjoworo, 2001: 23).
Jadi pokok perbedaannya terletak pada penggambaran sesuatu yang benar
tidak ada dalam realitas, dan sesuatu yang mungkin saja ada dalam realitas. Maka
dengan simbol-simbol yang kemudian diolah dengan deformasi dan disajikan
dengan surealistik agar karya mampu menunjukkan keresahan dari penciptanya
dan juga mampu menampilkan esensi seni yang memiliki kreativitas dalam
melihat permasalahan yang ada secara unik dan khas.

Metode
Pada tahap metode penciptaan penulis lebih menggunakan peroses yang
dibuat oleh Lubart seperti, preparation (persiapan), incubation (inkubasi,
pengeraman, perenungan), illumination (iluminasi, penerangan), dan tahap
verification (verivikasi, memecahkan masalah) (Bandem, 2006: 5). Ini karena
rancangan yang ia buat sesuai dengan proses kreatif yang penulis lakukan, dalam
menciptakan karya seni.
1. Preparation (persiapan)
Persiapan pertama yang dilakukan adalah membeli spanram yang sudah jadi
dengan ukuran yang bervariasi tergantung ide atau bentuk seperti apa yang akan
dibuat, kemudian melapisi kanvas. Setelah semua selesai selanjutnya menyiapkan
cat akrilik, kuas, kain lap, dan air.

107

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

2. Incubation (inkubasi, pengeraman, perenungan)


Pada tahap ini diawali dengan memikirkan dan melihat referensi gambar dari
majalah dan buku katalog. Selain itu pada saat jalan-jalan pun bisa merangsang
ide, karena melihat alam di sekitar kontrakan yang masih banyak terdapat bungabunga, pohon, dan daun hijau yang menjadi inspirasi dari kesuburan.

Gb. 01 bunga-bunga
(Foto: dokumentasi I Wayan Putra Eka Pratama)

Gb. 02 pohon kelapa

108

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

(Foto: dokumentasi I Wayan Putra Eka Pratama)

Gb. 03 daun dan dahan pohon


(Foto: dokumentasi I Wayan Putra Eka Pratama)
3. Illumination (iluminasi, penerangan)
Pada tahapan ini ide-ide yang sudah didapat kemudian dibuat rancangan
terlebih dahulu seperti sketsa sebagai bayangan bentuk yang akan dibuat di atas
kanvas. Pada tahap pembuatan sketsa tidak perlu terlalu detail cukup globalnya
saja, karena improvisasi akan selalu muncul saat pembuatan karya.

109

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

Gb. 04 rancangan sketsa


(Foto: dokumentasi I Wayan Putra Eka Pratama)
4. Verification (verifikasi, memecahkan masalah)
Pada tahap ini semua rancangan yang sudah direncanakan diwujudkan
menjadi bentuk nyata. Dimulai dengan melihat dan merasakan ukuran kanvas
yang akan dilukis, mengkomposisikan objek utama dan latar belakang lewat
perbandingan, kesatuan dan keseimbangan. Setelah itu, tahap selanjutnya
membuat sketsa pada bidang kanvas dan sambil membayangkan warna-warna
yang akan digunakan. Objek utama yang menjadi pokok permasalahan ide digarap
dengan sedetail-detainya artinya mencari bentuk dan pencahayaan setepat
mungkin agar terlihat nyata. Ini berguna agar pengamat karya dapat langsung
melihat pokok permasalahan yang diangkat oleh senimannya. Sedangkan pada
latar belakang terdapat objek-objek yang memperkuat keberadaan objek utama.
Latar belakang bisa saja ojek-objek yang bertentangan makna dengan objek
utama, namun menjadi satu kesatuan makna dalam lukisan. Misalnya kesuburan

110

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

dengan kematiaan dan kesuburan dengan pembangunan, ini tergantung pada


gagasan yang ingin disampaikan. Sedangkan untuk penggarapan latar belakang
disesuaikan dengan objek utama agar tidak begitu mengganggu ketika diamati.
Misalnya latar belakangnya adalah pemandangan alam yang luas atau padang
rumput hijau diusahakan agar tidak menjadi sesak dan sumpek, namun masih
tetap mencari ritme atau irama alam agar ada gerak. Gerak-gerak dapat
diwujudkan dengan teknik-teknik yang digunakan pada lukisan. Karena
penciptaan pada setiap karya memiliki tujuan untuk menunjukkan kekuatan alam
itu sendiri lewat irama dan warna. Agar pengamat dapat merasakan energi dari
alam dan tertarik untuk mejaga dan terus melestarikan keindahan alam. Setelah
semua objek utama, latar belakang, warna dan irama sudah pas, tahap yang paling
akhir adalah memberikan sentuhan akhir. Setelah dirasa cukup lalu diberi tanda
tangan pada bagian pojok bawah lukisan tergantung komposisi karya, sebelah
kanan atau kiri. Selanjutya pemberian varnis akrilik untuk membuat lukisan
menjadi awet dan bersih.

Tujuan Penelitian
1.

Memvisualkan kesuburan alam dalam kenangan pada lingkungan saat


ini.

2.

Mencari idiom bentuk yang tepat untuk menggambarkan kesuburan


alam dalam kenangan pada lingkungan saat ini.

PEMBAHASAN
PERUBAHAN LINGKUNGAN: KESUBURAN DALAM KENANGAN
Menghisap Kehidupan
Terciptanya sebuah karya seni lukis tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh
yang ada di sekitar dan dalam diri, dari berbagai pengalaman yang telah teralami
nantinya akan menjadi kumpulan memori yang dapat merangsang timbulnya
gagasan/ide sebagai konsep dasar menciptakan sebuah karya seni. Keresahan
dalam diri penulis tentang perubahan yang terjadi menjadi obsesi dan merupakan
energi yang membuat muculnya ide. Kesuburan yang pernah dirasakan menjadi

111

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

kenangan dan merasuk kedalam ingatan terdalam. Alam yang penuh warna dan
burung-burung yang terbang bebas terus menerus membayang-bayangi penulis.
Subur adalah dapat tumbuh dengan baik (lekas besar) sedangkan kesuburan
adalah hal (keadaan) subur (KBBI, 2008: 1346). Artinya alam yang subur mampu
menumbuhkan tumbuhan dengan baik. Sepertihalnya di Kuta alam yang subur
menumbuhkan pohon-pohon yang mehijaukan dan menghidupkan manusia dan
hewan seperti burung-burung dan sapi.
Namun kesuburan yang menghidupkan pohon-pohon telah menjadi kenangan
dalam diri penulis. Kenangan adalah sesuatu yang membekas dalam ingatan,
kesan (KBBI, 2008: 666). Kenangan tentang kesuburan yang pernah dialami
memberikan kerinduan dalam diri penulis. Seperti kenangan ketika berteduh di
bawah pohon yang rindang dan menyejukkan pada siang hari. Kenangan dengan
pohon kelapa yang menjulang tinggi dan kenangan tantang burung-burung yang
hinggap dan bercengkrama di atas pohon.
Pesatnya pembangunan yang terjadi di Kuta membuat penulis di satu sisi
merasakan kebahagian dan di satu sisi merasakan ketakutan jika pembangunan
yang terus tumbuh akan menghilangkan pohon-pohon yang ada. Seperti pohon
sawo tua yang berada di dekat rumah penulis, ditebang karena menghalangi
bangunan hotel yang sedang dibangun. Pembangunan hotel itu telah menebang
dan menghilangkan kenangan-kenangan yang pernah terjadi di sana. Pohon sawo
itu adalah tempat berkumpul keluarga, saudara dan teman-teman untuk
berinteraksi. Namun kenyataanya kini telah hilang tergantikan dengan bangunan
kokoh hotel.

112

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

Gb. 05 Menghisap Kehidupan


Cat Akrilik pada Kanvas, 140 X 180 Cm, 2015
(Foto: Putu Sastra Wibawa)
Seperti karya ini, kenangan tentang kesuburan penulis simbolkan dengan
bunga-bunga yang penuh warna, pohon kelapa dan daun-daun hijau. Sedangkan
bangunan disimbolkan dengan bentuk-bentuk bidang geometri yang tumbuh.
Geometri adalah bidang teratur yang dibuat secara matematika (Sanyoto, 2009:
104). Tanpa disadari Pembangunan yang terukur terus tumbuh berlahan-lahan
menghisap kehidupan di alam dan mati, ini disimbolkan dengan tengkorak hewan
di bawahnya.

Penutup
Maka dari perubahan lingkungan yang terjadi di Kuta Bali membuat penulis
resah dengan kenyataan yang terjadi saat ini. Kesuburan yang pernah terjadi kini
hanya menjadi kenangan dalam diri, karena hilang oleh kemajuan pariwisata yang
kian pesat. Pembangunan hotel dan penginapan yang terus tumbuh membuat

113

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

berkurangnya lahan hijau. Maka dari permasalahan perubahan lingkungan ini


penulis visualkan lewat seni lukis, dengan menggunakan bentuk-bentuk simbol
yang terinspirasi dari objek kesuburan yang kemudian diolah dengan deformasi
dan disajika dengan surealistik. Pemilihan objek-objek kesuburan bertujuan agar
orang-orang tertarik akan keindahan alam dan mau menjaga dan melestarikannya.
Dengan terjaganya kelestarian alam penulis berharap agar pariwisata lebih maju
karena kealamian masih terjaga, sehingga ada daya tarik untuk wisatawan. Selain
itu dapak positifnya adalah kelangsungan hidup hewan seperti burung-burung
dapat dijaga sehingga tidak punah.

Daftar Rujukan
Bandem, I Made. (2006), Metode Penelitian Seni, Lembaga Penelitian Institut
Seni Indonesia Yogyakarta, Yogyakarta.
Kartika, Dharsono Sony. (2007), Struktur Seni: dalam Kritik Seni, Rekayasa
Sain, Bandung.
Marianto, M. Dwi. (2013), Virtual Territories, Museum Nasional, Yogyakarta.
Pracoyo, FX.. (2007) Mata Kuliah Sosiologi Seni, Diktat Kuliah pada Program
Studi Seni Rupa Murni, Jurusan Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa, Institut
Seni Indonesia Yogyakarta.
Read, Herbert. (1959), The Meaning of Art atau Seni: Arti dan Problematikanya,
terjemahan Soedarso SP. (2000), Duta Wacana University Press,
Yogyakarta.
Ragans, Rosalind. (2005), Art Talk, Edisi Keempat, Terj. M. Dwi Marianto,
Glencoe, Mc Graw-hill.
Sanyoto, Sadjiman Ebdi. (2009), Nirmana Elemen-elemen Seni dan Desain,
Jalasutra, Yogyakarta
Sp, Soedarso. (1987), Tinjauan Seni, Sebuah Pengantar untuk Apresiasi Seni,
Saku Dayar Sana, Yogyakarta.
Susanto, Mikke. (2011), Diksi Rupa: Kumpulan Istilah dan Gerakan Seni Rupa,
Dicti Art Lab, Yogyakarta.

114

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

Tedjoworo, H.. (2001), Imaji dan Imajinasi: Suatu Telaah Filsafat Postmodern,
Kanisius, Yogyakarta.
Tim Penyusun. (2008), Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa: Edisi
Keempat, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Lampiran Karya Seni


I Wayan Putra Eka Pratama

Gb. 06 Menjadi Cerita


Cat Akrilik pada Kanvas, 80 X 100 Cm, 2015
(Foto: Putu Sastra Wibawa)

Gb. 07 Nyayian Alam


Cat Akrilik pada Kanvas, 155 X 90 Cm, 2015
(Foto: Putu Sastra Wibawa)

115

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW


UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENARIKAN TARI
SEKAR JEPUN DALAM KEGIATAN EKSTRAKURIKULER TARI
SISWA SMP PANCASILA CANGGU, KUTA UTARA, BADUNG
TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Oleh
Ni Komang Orhitra Sari, NIM 2011.II.4.0004
Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik

Abstrak
Di SMP Pancasila Canggu, Kuta Utara, Badung memiliki ekstrakurikuler tari
yang mengajarkan tari Sekar Jepun sebagai materi umum. Dari observasi awal,
terlihat kemampuan siswa masih kurang. Untuk meningkatkan kemampuan siswa
dalam menarikan tari Sekar Jepun, penulis menggunakan pembelajaran kooperatif
tipe jigsaw.
Penelitian ini dilaksanakan di kelas ekstrakurikuler tari dengan dua kali
pertemuan, setiap pertemuan 2 x 45 menit dan setelah jam pertemuan tersebut, siswa
mendapatkan jam bebas untuk mereka latihan mandiri. Subjek dalam penelitian ini
berjumlah 49 orang siswa. Aspek penilaian yang digunakan adalah agem, tandang,
tangkep, dan kekompakan.
Hasil penelitian yang diperoleh pada siklus I menunjukkan siswa telah
mengalami peningkatan. Hal tersebut terlihat dari 75,51 % siswa telah mencapai nilai
KKM yaitu 37 dari 49 orang siswa telah mencapai skor standar 75 keatas dengan nilai
rata-rata 79,48. Dengan demikian penelitian ini berakhir pada siklus I.
Kata kunci: Tari Sekar Jepun, pembelajaran kooperatif, jigsaw

Abstract
Pancasila Junior High School Canggu, North Kuta, Badung has
extracurricular dance that teaches dance Sekar Jepun as a general matter. From
preliminary observations, it appears the ability of students is still lacking. To improve
students' skills in dance danced Sekar Jepun, the author uses cooperative learning
jigsaw.

116

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

This study was conducted in extracurricular dance class with two meetings,
each meeting of 2 x 45 minutes and after hours of the meeting, students get a free
hour for their independent practice. Subjects in this study amounted to 49 students.
Aspects of assessment used is agem, tandang, tangkep, and compactness.
The results obtained in the first cycle indicates the student has increased. It is
evident from the 75.51% of students have reached the KKM that 37 of 49 students
have achieved a standard score of 75 and above with an average value of 79.48. This
study therefore ends on cycle I.
Keywords: Tari Sekar Jepun, cooperative learning, jigsaw
PENDAHULUAN
Seorang guru harus mempunyai komitmen yang tinggi terhadap tugas-tugas
keguruan. Komitmen tinggi itu antara lain ditunjukkan oleh sikap yang selalu ingin
menjalankan tugas-tugas pembelajaran dengan baik dan maksimal demi keberhasilan
dan kesuksesan anak didik. Hanya dengan sikap yang demikianlah peranan dalam
dunia pendidikan akan nampak (Muslich,2011:1). Agar dapat melaksanakan
pembelajaran dengan baik, guru tentunya harus memilih metode yang mendukung
tujuan tersebut, maka sangat perlulah dilakukannya penelitian tindakan kelas.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat
reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki atau
meningkatkan

praktik-praktik

pembelajaran

di

kelas

secara

profesional

(Suyanto,1997).
PTK sebagai bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang
dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam
melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang
dilakukan (Tim PGSM ,1999).
Dalam dunia pendidikan, seni tari sebagai salah satu materi

kegiatan

ekstrakurikuler. Pendidikan seni tari berfungsi untuk melatih, mengembangkan


potensi bakat seni dan mendorong pertumbuhan kepribadian siswa, pengembangan
nilai-nilai berbudaya dan menjungjung persatuan. Pelajaran seni tari juga diharapkan
agar para siswa peduli dan akrab dengan lingkungannya sehingga dapat membantu

117

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

dirinya sendiri dan masyarakat sekitarnya. Dilihat dari sudut pandang yang lain,
pendidikan seni tari dapat juga digunakan sebagai media pendidikan yaitu sebagai
media berpikir kreatif, media untuk mengembangkan fisik atau tubuh, sosial, emosi
dan cinta. Direktorat Kesenian (1986:1) tari adalah salah satu pernyataan budaya,
sifat, gaya dan fungsi tari selalu tak dapat dilepaskan dari kebudayaan yang
dihasilkan.
Salah satu contoh tari yang menjadi materi ajar dalam kegiatan
ekstrakurikuler tari adalah tari Sekar Jepun. Tari Sekar Jepun adalah tari kreasi baru
dimana tari ini dijadikan maskot dari Kabupaten Badung. Melukiskan tentang jiwa
lembut, manis, tegas, menarik dan alep. Dilihat dari segi bentuk, warna, tahan lama
dan harum merupakan karakter dari Sekar Jepun, yang memberi makna semoga
Badung indah dan harum bagaikan keindahan dan keharuman Sekar Jepun. Selain
itu, ada keunikan lain dari tari Sekar Jepun yaitu pada lekukan-lekukan tubuh penari
serta kembang kuncup tangan penari, yang membuat tari Sekar Jepun berbeda
dengan tari lainnya. Sekar Jepun memiliki banyak fungsi, bunganya indah, tahan
lama dan harum, bisa digunakan untuk ritual dan dijual. Bentuk gerak dari pohon
sekar jepun sampai keujungnya merupakan lekukan-lekukan tubuh. Kuncup
kembangnya digambarkan oleh tangan penari yang jumlahnya lima orang penari
yang juga mengikuti jumlah dari kelopak Sekar Jepun. Berdasarkan ini pencipta
terinspirasi menciptakan tari Sekar Jepun yang merupakan tari kreasi baru di
ciptakan oleh Ida Ayu Wimba Ruspawati pada tahun 2007. Untuk membangun
Badung supaya indah dan harum bagaikan keindahan dan keharuman Sekar Jepun
(data pemerintahan Kabupaten Badung).
Di SMP Pancasila Canggu, Kuta Utara, Badung memiliki ekstrakurikuler tari
yang mengajarkan tari Sekar Jepun sebagai materi umum. Dari observasi awal,
didapat kemampuan siswa masih kurang. Guru tari disana hanya menggunakan
metode demonstrasi dengan mengajarkan langsung kelima posisi tari tersebut secara
praktik bersama seluruh siswa sehingga siswa kurang jelas dengan posisi yang akan

118

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

dibawakannya dan membutuhkan waktu yang lama untuk siswa memahami tari
Sekar Jepun ini. Oleh karena itu, siswa tidak dapat menampilkan tari ini dengan baik.
Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menarikan tari Sekar Jepun
ini, penulis menggunakan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Penulis menggunakan
pembelajaran kooperatif karena tari Sekar Jepun ini adalah tari yang dibawakan
secara kelompok dengan lima orang penari. Pembelajaran kooperatif adalah
rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok
tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan (Rusman,
2011:203).
Ada beberapa variasi tipe atau jenis model dalam pembelajaran kooperatif,
seperti: tipe Student Teams Achievement Division (STAD), investasi kelompok, make
a match, teams games tournaments, tipe struktural, dan tipe jigsaw. Pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw adalah sebuah model belajar kooperatif yang menitikberatkan
pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil. Dalam setiap kelompok,
anggota kelompok diberikan penugasan yang berbeda-beda kemudian anggota
kelompok yang mendapat penugasan yang sama dengan anggota kelompok yang lain
membentuk kelompok kecil lagi. Siswa-siswa ini bekerja sama untuk menyelesaikan
tugas kooperatif tersebut kemudian siswa ini kembali lagi ke kelompoknya semula
dan menjadi ahli dari tugas bagiannya (Rusman,2013:217).
Dalam pembelajaran estrakurikuler tari Sekar Jepun ini, siswa dibagi
menjadi beberapa kelompok yang dimana masing-masing kelompok terdiri dari 5
orang siswa. Pada kelompok pertama, siswa dibagikan subtopik yang berbeda,
kemudian membentuk kelompok kedua dengan subtopik yang sama dan menjadi ahli
dalam subtopiknya. Dalam pembelajaran teori subtopik ini berupa potongan dari
materi yang diberikan, namun dalam penelitian tari subtopik tersebut berupa
pemisahan antara bagian posisi tari satu dengan yang lainnya. Kemudian kembali ke
kelompok awal dan berlatih bersama sehingga membentuk tari Sekar Jepun. Jadi
guru tidak lagi menjelaskan tari itu berkali-kali dengan letak penari yang berbeda

119

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

posisi dan berbeda gerak dalam masing-masing posisi tersebut. Sehingga siswa akan
mampu lebih baik dalam menguasai tari Sekar Jepun.
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan sumbangan pikiran dalam dunia
pendidikan terutama dalam pengajaran seni tari Bali di tingkat SMP. Untuk
mengetahui efektivitas penggunaan strategi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan
untuk mengetahui peningkatan respon siswa terhadap model pembelajaran kooperatif
tipe jigsaw guna meningkatkan keterampilan menarikan tari Sekar Jepun dalam
kegiatan ekstrakurikuler tari oleh siswa SMP Pancasila Canggu, Kuta Utara, Badung
tahun pelajaran 2014/2015.

METODE
Metode penelitian sering juga disebut rancangan penelitian adalah rencana
dan struktur penyelidikan yang disusun sedemikian rupa sehingga peneliti akan
memperoleh jawaban untuk pertanyaan penelitiannya (Masnur, 2011:144).
Penelitian ini dilaksanakan di salah satu sekolah menengah pertama yang ada
di Badung yaitu SMP Pancasila Canggu. Sekolah ini terletak di jalan raya Canggu,
desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Penelitian ini dilaksanakan
di kelas ekstrakurikuler tari tepatnya di sebuah ruang kelas belajar dengan ukuran 8m
X 6m serta suasana kelas yang nyaman, siswa tidak merasa gerah saat belajar menari
karena udara yang sejuk dari taman yang ada di depan kelas. Siswa yang mengikuti
kelas ektrakurikuler tari ini semua senang belajar menari dan guru kompeten dalam
mengajar menari. Alat pembelajaran yang digunakan adalah sebuah tape dengan
kaset belajar menari Sekar Jepun
Penelitian ini dilaksanakan di kelas ekstrakurikuler tari SMP Pancasila
Canggu, Kuta Utara, Badung tahun pelajaran 2014/2015 dengan 2 kali pertemuan,
setiap pertemuan 2 x 45 menit dan setelah jam pertemuan tersebut siswa
mendapatkan jam bebas untuk mereka latihan mandiri dengan waktu kurang lebih 30
menit sampai 45 menit.Subjek dalam penelitian ini adalah siswa ekstrakurikuler tari

120

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

SMP Pancasila Canggu, Kuta Utara, Badung yang berjumlah 49 orang dan
seluruhnya siswa perempuan.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan yang dilakukan untuk
meningkatkan kemampuan siswa dalam menarikan tari Sekar Jepun. Proses
pelaksanaan tindakan dilaksanakan secara bertahap dengan beberapa siklus sampai
penelitian ini berhasil. Prosedur tindakan dimulai dari: (1) perencanaan tindakan, (2)
pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Dengan gambaran sebagai
berikut.
Teknik pengumpulan data adalah teknik yang digunakan untuk menjaring
data yang diperlukan sesuai dengan sampel yang telah ditentukan (Sutrisno,2012:34).
Adapun metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode tes dan
observasi.
Data hasil belajar siswa mengenai masing-masing siklus dikumpulkan dengan
menggunakan tes hasil belajar .Tes hasil belajar dalam penelitian ini menggunakan
tes tindakan. Adapun komponen-komponen yang dinilai dalam kerampilan siswa
menarikan tari Sekar Jepun adalah agem, tandang, tangkep, dan kekompakan.
Dalam penelitian kuantitatif, observasi lebih sering digunakan sebagai alat
pelengkap instrument lain. Mengamati keterampilan siswa dengan salah satu
pancaindra yaitu pengelihatan. . Ada lima aspek yang dinilai yaitu perhatian, praktik,
ketekunan, keaktifan, dan tanggapan.
Metode pengolahan data adalah metode yang digunakan untuk mengolah data
yang masih mentah. Data yang masih mentah diolah dengan metode tertentu yang
disebut dengan statistik deskriptif.
Gunartha (2009:66), skor yang diperoleh dari hasil tes tindakan masih berupa
skor mentah dan harus dibuat menjadi skor standar. Dalam mengubah skor mentah
menjadi skor standar, digunakan norma absolute skala seratus, yaitu suatu skala yang
bergerak antara nol sampai seratus. Untuk mengkonversikan skor mentah menjadi
skor standar dengan norma absolute skala seratus digunakan rumus sebagai berikut.

121

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

P=

X
x 100
SMI

Keterangan :
P

= Persentil

= Skor yang dicapai

SMI

= Skor Maksimal Ideal


(Gunartha, 2009:74)

Untuk mencari skor rata-rata keterampilan menari Tari Sekar Jepun dengan
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat dicari dengan rumus:
M=

Keterangan :
M

=Mean( nilai rata-rata)

= Jumlah Nilai
N

= Jumlah individu
(Burhan,2005:185)

HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan hasil pada siklus I dapat disimpulkan bahwa penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan keterampilan menarikan tari
Sekar Jepun siswa kelas ekstrakurikuler tari SMP Pancasila Canggu, Kuta Utara,
Badung tahun pelajaran 2014/2015. Hasil yang diperoleh dapat dilihat dari
perbandingan nilai-nilai yang diperoleh pada observasi awal dan siklus I. Hasil
tersebut disajikan pada table di bawah ini.
Tabel Perbandingan Hasil Belajar Siswa Pada Observasi Awal dengan Hasil Belajar
Siswa Siklus I dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
No

Nama Siswa

Observasi Awal

122

Siklus I

Keterangan

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.

Nama Siswa
Ayu Julianti Ni Made
Devi Oktaviani Ni Luh
Juni Dayanti Ni Luh
Mega Apriliani Dw Ayu Km
Pande Yuli Astini Ni Luh
Tika Devi Dewa Ayu
Vivi Indrayani Ni Kadek
Yessi Andani Ni Made
Ayu Anggarini Ni Kadek
Ayu Listya Dewi Ni Luh
Ayu Puspita Dewi Ni Kadek
Dinda Maharani Ni Kadek
Ema Diarti Kusinta Ni Kd
Okta Ariani Ni Made
Rai Dwipayanti Ni Made
Raka Suwarniti Ni Luh
Sri Ulandari Ni Luh
Widiani Sari Ni Komang
Yanti Indrayani Ni Komang
Ayu Sri Pratiwi Ni Komang
Ayu Sri Ulandari Ni Kadek
Dyana Dwi Hartati
Ditya Purnama Dewi Ni Luh
Dwi Jayanti Ni Kadek
Eka Apriani Ni Wayan
Elang Asri Ni Made
Elsa Murdani Dewi Ni Putu
Febrianti Ni Kadek
Lisya Febrianti Ni Luh
Rai Dwi Pratiwi I Gusti Ayu
Shinta Karmila Ni Made
Sista Dewi Ni Made
Yuliantari Ni Kadek
Rani Pradnyana Paramita
Luh
Devi Widyastuti Ni Luh Putu
Ayu Maharani Ni Nyoman
Evita Cahyatiningrum Ni Kd
Wiantari Ni Kadek
Erika Ni Luh
Laviola Pratiwi Ni Luh Putu
Ayu Purnama Sari Ni Kadek
Ira Sintyawati Ni Putu
Candra Dewi Cahyati Ni

Observasi Awal
57,5
55
60
80
65
75
62,5
55
60
65
77,5
62,5
72,5
67,5
77,5
62,5
70
77,5
67,5
60
65
52,5
65
57,5
57,5
65
60
55
57,5
60
65
57,5
80
77,5

Siklus I
72,5
65
75
92,5
80
85
77,5
70
75
80
90
77,5
85
82,5
87,5
77,5
85
87,5
82,5
72,5
77,5
70
82,5
67,5
70
80
75
70
75
77,5
82,5
75
92,5
92,5

Keterangan
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat

67,5
80
70
70
60
52,5
57,5
82,5
77,5

77,5
87,5
80
82,5
70
70
72,5
92,5
90

meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat

123

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

No
44.
45.
46.
47.
48.
49.

Nama Siswa
Putu
Lisa Kurniawati Ni Luh
Anik Ni Made
Gita Astini Made
Wina Ni Luh
Meilani Kumara Dewi Ni Pt
Devi Darmayanti Ni Made
Jumlah
Rata-rata

Observasi Awal

Siklus I

Keterangan

57,5
62,5
67,5
60
77,5
70
3217,5
65,66

75
80
85
72,5
87,5
85
3895
79,48

meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat
meningkat

Berdasarkan table di atas, terlihat adanya peningkatan nilai rata-rata siswa dari
penelitian awal ke siklus I sebesar 13,82. Dimana nilai rata-rata pada penelitian awal
sebesar 65,66 dan meningkat menjadi 79,48 pada siklus I yang dialami oleh semua
siswa yang berjumlah 49 orang siswa. Persentase keberhasilan menarikan tari Sekar
Jepun melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw secara klasikal
mengalami peningkatan sebesar 53,07%, dimana ketuntasan klasikal pada pra-siklus
hanya 22,44% dan meningkat menjadi 75,51% pada siklus I. Dengan demikian, maka
penelitian ini telah berhasil dan tidak perlu diadakan penelitian siklus II.

SIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
1.

Penerapan strategi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan


keterampilan menarikan tari Sekar Jepun dalam kegiatan ekstrakurikuler tari
siswa SMP Pancasila Canggu, Kuta Utara, Badung tahun pelajaran 2014/2015
dengan skor rata-rata pada prasiklus sebesar 65,66 meningkat menjadi 79,48
pada siklus I. Ketuntasan belajar klasikal pada prasiklus dari 49 siswa hanya
22,44% siswa yang tuntas, namun pada siklus I meningkat menjadi 75,51%
siswa yang tuntas. Ini disebabkan oleh siswa lebih mudah dan cepat
memahami materi yang diajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw. Metode pembelajaran ini, adalah metode yang

124

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

bertujuan untuk meningkatkan prestasi anak dari sisi kognitif tetapi hasil
penelitian ini dapat menunjukkan bahwa metode ini juga dapat digunakan
untuk meningkatkan prestasi anak dari motorik/praktik dalam pengajaran tari
berkelompok. Dalam penelitian ini, pengunaan metode pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw bukan hanya menunjuk peningkatan anak dibidang
prestasi tetapi juga mempercepat waktu pengajaran 50% dari metode awal 8 X
45 menit menjadi 4 X 45 menit.
2.

Penggunaan strategi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam upaya


meningkatkan keterampilan menarikan tari Sekar Jepun dalam kegiatan
ekstrakurikuler tari siswa SMP Pancasila Canggu, Kuta Utara, Badung
mampu menumbuhkan respon positif siswa terhadap pembelajaran. Hal ini
terbukti dari hasil persentase tingkat respon siswa yaitu 15 siswa dengan
respon sangat tinggi, 29 siswa dengan respon tinggi, dan 5 siswa dengan
respon sedang. Meningkatnya keterampilan dan respon siswa menjadi lebih
baik karena siswa lebih bersemangat dan guru lebih teliti dalam mengajarkan
siswa untuk memahami materi yang diajarkan.
Dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran seni tari khususnya

pembelajaran tari Sekar Jepun ditingkat SMP, penulis menyampaikan beberapa saran
sebagai berikut.
1.

Kepada siswa, diharapkan jangan cepat bosan dalam berlatih menari. Bagi
siswa yang telah dinyatakan tuntas agar tetap mempertahankan prestasinya
dan lebih ditingkatkan lagi untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Sedangkan siswa yang belum tuntas harus belajar lebih giat, jangan malu
bertanya pada guru dan teman untuk meningkatkan pemahaman dalam
menarikan tari Sekar Jepun.

2.

Bagi guru, dalam mengajar tari kelompok khususnya tari Sekar Jepun
diharapkan dapat menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw

125

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

untuk memudahkan siswa dalam memahami gerak-gerak tari dan posisi yang
harus dihafal sehingga siswa lebih cepat dapat membawakan tari yang telah
diajarkan. Guru diharapkan dapat selalu memotivasi siswa agar tidak cepat
bosan dan malas saat belajar menari, seperti mengajak mereka menonton
video tari agar mereka lebih tertarik untuk bisa membawakannya.
3.

Bagi pihak sekolah, hendaknya strategi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw


dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk diterapkan pada pelajaran lain
yang memang membutuhkan strategi tersebut dan dapat memfasilitasi
instrumen pendukung yang diperlukan.

Untuk pembelajaran tari, sekolah

diharapkan memperhatikan alat pendukung proses pembelajaran seperti alat


elektronik berupa tape dan kaset yang digunakan.

DAFTAR RUJUKAN
Badri, Sutrisno. 2012. Metode Statistika untuk Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta :
Penerbit Ombak.
Bungin, Burhan. 2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta : Kencana Prenada
Media Group.
Gunartha, I Wayan. 2009. Evaluasi Pembelajaran . Denpasar: FPBS IKIP PGRI
Bali.
Muslich, Masnur. 2011. Melaksanakan PTK Itu Mudah . Jakarta: PT Bumi Aksara.
Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran , Mengembangkan Profesionalisme
Guru . Jakarta : Rajawali Pers.
Rusman. 2013. Model-Model Pembelajaran , Mengembangkan Profesionalisme
Guru , Edisi Kedua . Jakarta : Rajawali Pers.

126

Stilistetika Tahun IV Volume 7, Mei 2015


ISSN 2089-8460

ANALISIS KESALAHAN PEMAKAIAN BAHASA INDONESIA


TATARAN SINTAKSIS PADA KARANGAN SISWA
KELAS V SD NEGERI 10 SUMERTA
KECAMATAN DENPASAR TIMUR
TAHUN PELAJARAN 2013/2014
oleh
Ni Nyoman Prassini, NIM 2010.II.1.0005
Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah
Bidang Ilmu Pendidikan dan Sastra Indonesia
Abstrak
Mengarang adalah menyampaikan gagasan dengan bahasa tulis, dalam
mengarang seseorang harus mampu menyampaikan informasi dengan bahasa yang
benar. Akan tetapi, masih banyak ditemui kesalahan penggunaan bahasa yang
tidak sesuai dengan kaidah bahasa dalam menulis karangan.
Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang diteliti adalah (1)
kesalahan apa sajakah yang terdapat pada pemakaian bahasa Indonesia tataran
sintaksis dalam karangan siswa kelas V SD Negeri 10 Sumerta kecamatan
Denpasar Timur tahun pelajaran 2013/2014? (2) faktor-faktor apa sajakah yang
menyebabkan terjadinya kesalahan pemakaian bahasa Indonesia pada karangan
siswa? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesalahan pemakaian
bahasa Indonesia tataran sintaksis pada karangan dan mengetahui faktor-faktor
yang menyebabkan terjadinya kesalahan pemakaian bahasa Indonesia pada
karangan siswa kelas V SD Negeri 10 tahun pelajaran 2013/2014.
Penelitian ini menggunakan empat metode, yaitu (1) metode penentuan
subjek penelitian dengan menggunakan populasi penelitian yaitu sebanyak 62
orang, (2) metode pendekatan subjek penelitian menggunakan metode empiris, (3)
metode pengumpulan data menggunakan metode tes serta wawancara, dan (4)
metode pengolahan data menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif.
Dari hasil analisis diperoleh kesimpulan bahwa tingkat kesalahan
pemakaian bahasa Indonesia sebanyak 89 buah, meliputi kesalahan dalam bidang
frasa sebanyak 46 buah (51,7%), bidang kalimat sebanyak 43 buah (48,3%), dan
faktor yang menyebabkan terjadinya kesalahan pemakaian bahasa Indonesia
pada karangan siswa yaitu kurangnya pelatihan pemakaian bahasa Indonesia baku
sehingga menyebabkan siswa belum menguasai penggunaan bahasa Indonesia
yang baik dan benar dalam menulis.
Kata kunci: analisis kesalahan, pemakaian bahasa, sintaksis
Abstract
Fabricate is to convey ideas with written language, in composing a person
must be able to convey the information to the correct language. However, there
are still many errors encountered use language that does not comply with the
rules of language in writing essays.

127

Based on the above background, the problems studied are (1) what are
the errors found in the use of Indonesian in the syntactic level essay elementary
school fifth grade students of 10 districts of east denpasar sumerta academic year
2013/2014? (2) what are the factors that cause errors in the use of Indonesian
student essay? the purpose of this study is to investigate the use of error
Indonesian syntactic level in essay and determine the factors that lead to user
errors Indonesian in class V student essay elementary school 10 school year
2013/2014.
This study uses four methods, namely (1) the method of determining the
subject of research by using the study population as many as 62 people, (2) the
subject of research approach using empirical methods, (3) the method of data
collection using the test methods as well as interviews, and (4) data processing
method using qualitative descriptive analysis method.
From the analysis we concluded that the rate of error as much as 89
Indonesian consumption of fruit, including errors in the field phrase as many as
46 units (51.7%), fields as many as 43 pieces sentences (48.3%), and the factors
that cause language usage errors Indonesian students in the essay is the lack of
training of Indonesian raw usage causing the student has not mastered the use of
Indonesian is good and true in writing.
Keywords: error analysis, use of language, syntax
I.

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Pada

dasarnya

tujuan

mata

pelajaran

bahasa

Indonesia

adalah

berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, untuk
meningkatkan kemampuan intelektual serta kematangan emosional dan sosial.
Suryaman (1996 : 2) menyatakan penggunaan bahasa Indonesia tidak
hanya terikat oleh kaidah atau norma bahasa, juga bergantung pada lingkungan
atau situasi tempat pembicara dan orang yang diajak berbicara. Untuk itu,
kemampuan menyampaikan informasi secara tepat dengan bahasa yang benar
perlu dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar pesan yang disampaikan dapat
dipahami dengan baik. Pesan yang disampaikan bisa berupa bahasa lisan dan
bahasa tulis, bahasa lisan digunakan pada komunikasi yang bersifat langsung
sedangkan melalui bahasa tulis, seseorang dapat mengemukakan ekspresinya
salah satunya melalui sebuah karangan.
Mengarang pada hakikatnya adalah mengungkapkan atau menyampaikan
gagasan dengan bahasa tulis. (Suparno, 2007 : 1). Jadi dapat dikatakan dalam
128

mengarang seseorang harus mampu menyampaikan informasi secara tepat dengan


bahasa yang benar. Namun pada kenyataannya masih banyak ditemui kesalahan
penggunaan bahasa yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa dalam menulis
karangan.
Kesalahan berbahasa Indonesia adalah penggunaan bahasa Indonesia,
secara lisan maupun tertulis, yang berada di luar atau menyimpang dari faktorfaktor komunikasi dan kaidah kebahasaan dalam bahasa Indonesia. Dalam
pengajaran bahasa, kesalahan berbahasa disebabkan oleh beberapa faktor,
diantaranya: guru, kurikulum, pendekatan pemilihan bahan ajar, pengajaran
bahasa yang kurang tepat, serta terpengaruhnya siswa dengan bahasa asing atau
bahasa daerah (Indihadi, 2010 : 7). Kesalahan tersebut dapat berlangsung lama
apabila tidak diperbaiki. Perbaikan biasanya dilakukan oleh guru, misalnya
melalui pengajaran remedial, latihan dan praktek. Hal ini dapat tercapai apabila
seluk-beluk kesalahan berbahasa dikaji secara mendalam melalui analisis
kesalahan. Dengan analisis kesalahan berbahasa, kesulitan dan kesalahan siswa
dalam berbahasa Indonesia dapat diketahui, kemudian hasilnya dapat digunakan
untuk memperbaiki pengajaran bahasa tersebut (Indihadi, 2010 : 17)
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti pada siswa kelas V SD Negeri 10
Sumerta kecamatan Denpasar Timur dalam menulis karangan, peneliti
menemukan beberapa kesalahan siswa dalam menulis yang tidak mengikuti
kaidah bahasa Indonesia. Mengingat masih banyak hal yang mempengaruhi
pemakaian bahasa Indonesia, maka perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk
menganalisis kesalahan pemakaian bahasa. Oleh karena itu, peneliti akan
menganalisis kesalahan pemakaian bahasa Indonesia tataran sintaksis pada
karangan siswa kelas V SD Negeri 10 Sumerta kecamatan Denpasar Timur tahun
pelajaran 2013/2014.

1.2

Landasan Teori
Dalam penelitian ini akan dikemukakan beberapa teori yang berkaitan.

Oleh karena itu, sebagai pedoman untuk melangkah lebih lanjut. Adapun teori

129

yang digunakan sebagai landasan adalah (1) analisis kesalahan berbahasa, (2)
bahasa baku, dan (3) sintaksis.
1 Analisis Kesalahan Berbahasa
Indihadi (2010 : 5) menyatakan kesalahan berbahasa adalah penggunaan
bahasa, secara lisan maupun tertulis, yang berada di luar atau menyimpang dari
faktor-faktor komunikasi dan kaidah kebahasaan dalam bahasa Indonesia. Dalam
analisis kesalahan berbahasa, ada tiga istilah untuk membatasi kesalahan
berbahasa yaitu, lapses, error, dan mistake. Analisis kesalahan berbahasa dapat
dijadikan sebagai umpan balik bagi pengajaran bahasa Indonesia. (Indihadi, 2010
: 23) menyatakan ruang lingkup kesalahan dapat dijelaskan dalam tataran
linguistik, seperti tataran fonologi. morfologi, sintaksis, wacana, dan semantik.
2 Bahasa Baku
Waridah (2008 : 186) menyatakan bahasa baku adalah ragam bahasa yang
cara pengucapan dan penulisannya sesuai dengan kaidah-kaidah standar, yang
berupa pedoman EYD, tata bahasa baku, dan kamus umum. Putrayasa (2007 : 85)
menyatakan bahasa Indonesia baku mempunyai ciri- cirri yaitu, memakai ucapan
baku, memakai ejaan resmi, terbatasnya unsur-unsur bahasa daerah, baik leksikal
maupun gramatikal dan penggunaan kalimat efektif.
3 Sintaksis
Sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk
frasa, klausa, dan kalimat, dengan satuan terkecilnya berupa kata (Sukini, 2010 :
2). Kata merupakan suatu unsur yang dibicarakan dalam morfologi, sebaliknya
frasa dan klausa berdasarkan strukturnya termasuk dalam sintaksis. Frasa adalah
suatu konstruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk suatu
kesatuan. Sedangkan klausa adalah satuan gramatik yang di dalamnya terdapat
beberapa kata yang mengandung hubungan fungsional, yang dikenal dengan
subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan. Struktur sintaksis itu masih
juga tunduk pada apa yang disebut alat-alat sintaksis, yakni (1) urutan kata, (2)
bentuk kata, (3) intonasi, dan (4) konektor.
130

1.3

Tujuan Penelitian
Secara umum, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk untuk

mengetahui kesalahan siswa dalam pemakaian bahasa Indonesia pada karangan,


serta memberikan masukan berupa buah pikiran kepada lembaga, guru, dan siswa
dalam meningkatkan kualitas penggunaan bahasa Indonesia yang sesuai dengan
tata bahasa baku dalam menulis, khususnya menulis karangan.

II. METODE
Pada kegiatan penelitian, terdapat metode atau prosedur yang harus
digunakan untuk melaksanakannya.
1)

Metode Penentuan Subjek Penelitian


Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian ini adalah siswa kelas

V SD Negeri 10 Sumerta kecamatan Denpasar Timur tahun pelajaran 2013/2014.


Pada penelitian ini jumlah subjek penelitian kurang dari 100, oleh sebab itu
peneliti akan menggunakan populasi sebagai subjek penelitian. Dalam penelitian
ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa kelas V SD negeri 10 Sumerta
kecamatan Denpasar Timur tahun pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 62 orang.
2)

Metode Pendekatan Subjek Penelitian


Metode pendekatan subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian

adalah metode empiris. Metode ini dipilih karena gejala yang diteliti sudah ada
secara wajar. Gejala wajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah siswa kelas
V SD Negeri 10 Sumerta kecamatan Denpasar Timur tahun pelajaran 2013/2014
telah memiliki kemampuan di dalam menulis karangan karena telah diajarkan
sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
3)

Metode Pengumpulan Data


Dalam mengumpulkan data penelitian ini, peneliti menggunakan dua

metode yakni metode tes dan metode wawancara. Metode tes dalam bentuk
penugasan pada penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan tugas menulis
berupa karangan kepada siswa kelas V SD Negeri 10 Sumerta tahun pelajaran
131

2012/2013. Metode wawancara dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data


tambahan tentang faktor penyebab terjadinya kesalahan pemakaian bahasa
Indonesia dalam karangan siswa. Tes wawancara dilakukan dengan cara
menunjuk beberapa siswa untuk diwawancarai pada masing-masing kelas.

4)

Metode Pengolahan Data


Proses pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis

deskriptif kualitatif, yakni mendeskripsikan dengan kata-kata. Adapun urutan


analisis data yang dilakukan secara kualitatif dalam penelitian ini adalah (1)
identifikasi data, (2) klasifikasi data, (3) analisis data, dan (4) menarik
kesimpulan.
III. HASIL
Hasil penelitian ini disajikan berdasarkan data yang diperoleh dari
penugasan.

3.1 Identifikasi Data


Tabel

Jumlah Kesalahan Pemakaian Bahasa Indonesia Tataran Sintaksis


pada Karangan Siswa Kelas V SD Negeri 10 Sumerta Tahun
Pelajaran 2013/2014
Jumlah
Kode
Ragam Kesalahan
Kesalahan dalam
Kesalahan
Karangan
Kesalahan dalam bidang frasa
A
46

Kesalahan dalam bidang kalimat

No

Jumlah Total
Tabel

No
1
2

43
89

Kesalahan Pemakaian Bahasa Indonesia Tataran Sintaksis pada


Karangan Siswa Kelas V SD Negeri 10 Sumerta Tahun Pelajaran
2013/2014
Kode
Data Kesalahan
Kesalahan
Lingkungan di desa Tabanan sangat asri sekali.
A
Di desa begitu tenang dan sejuk berbeda dengan di kota yang
A
sudah tercemar oleh banyak sampah-sampah yang berserakan.
132

No

Data Kesalahan

Selesai beristirahat saya pulang dari lapangan Renon yang


sangat menyenangkan sekali.
Di pedesaan pemandangan begitu indah, suasananya sangat
sejuk karena masih banyak pohon-pohonan.
Di saat pagi hari suara ayam membangunkan kita.
Sepede montor banyak yang berlalu lalang di jalan raya.
Hal tersebut menyebabkan banyaknya andus yang
membahayakan kesehatan manusia.
Oleh sebab itu, kita sebagai masyarakat harus mengurangi
polusi udara seperti misalnya tidak membakar sampah.
Tidak membakar sampah namun sebaiknya di tanem.
Contohnya selokan-selokan yang mampet bisa menyebabkan
banjir.
Ternyata sampah banyak menyumbat selokan.
Mengingat aku ini seseorang yang sangat malas sekali
membuang sampah pada tempatnya.
Aku sangat senang sekali ketika aku terpilih menjadi ketua
pecinta lingkungan di sekolah.
Aku menjadi murid yang sangat terkenal sekali di kota.
Menjaga kebersihan lingkungan adalah merupakan kewajiban
masyarakat.
Di hari ini saya melakukan kerja bakti bersama keluarga.
Kami saling tolong-menolong membersihkan lingkungan.
Apabila semua sudah dilakukan maka lingkungan akan bersih
demi untuk kepentingan bersama.
Saya masuk jam 07.30.
Saya membaca pelang Dilarang membuang sampah ke
sungai denda Rp 500.000.
Saya membawa lap kemudian mengelap kaca dan mengambil
korsi.
Halaman rumah saya sangat bersih sekali, karena saya sudah
bekerja bakti bersama keluarga.
Kerusakan lingkungan sebenarnya sudah banyak terjadi di
hampir seluruh wilayah dunia.
Hari ini para murid-murid SD Negeri 10 Sumerta mendapat
tugas untuk membersihkan sekolah.
Agar supaya sekolah cepat bersih kami melakukan kerja bakti
dengan penuh semangat.
Saya mendapatkan tugas untuk membersihkan kelas dan
merapikan buku-buku pada meja guru.
Para warga-warga kota Denpasar ikut gotong royong.
Ada yang menyapu dan ada juga yang menyabut rumput.
Setiap minggu warga desa adat Sumerte melakukan kerja

4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29

133

Kode
Kesalahan
A
A

A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A

No
30
31
32
33
34
35
36
37
38

39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51

Data Kesalahan
bakti.
Hal ini disebabkan karena para siswa-siswa tidak mau
menjaga dan merawat lingkungan sekolah.
Kami semua saling tolong menolong agar kegiatan ini cepat
selesai.
Apabila lingkungan kita sudah bersih maka kita akan tidak
mudah terserang penyakit.
Jika kita melihat sampah sedikitpun kita harus memungutnya
dan membuangnya di tempat sampah.
Pas dia mau buang sampah.
Semua murid masuk harus membersihkan sekolah, terutama
saya.
Karena kalau hujan bisa menyebabkan got itu mampet.
Sekolah saya sangat bersih sekali, karena para siswa rajin
membersihkan sekolah setiap hari.
Setelah selesai kerja bakti para siswa-siswa berkumpul di
lapangan untuk mendengarkan pengumuman dari kepala
sekolah.
Apabila ada sampah dedaunan sebaiknya diolah agar supaya
dapat dijadikan pupuk organik.
Pertama-tama jagalah kebersihan diri dengan cara mandi
minimal dua kali sehari, berkeramas dan memotong kuku.
Setelah selesai, saya membikin tanaman hias untuk di pajang
di depan banjar.
Sesampainya di rumah, saya langsung tidur karena sangat
lelah sekali.
Walaupun lelah, namun ini hari akan menjadi pengalaman
yang berkesan.
Kami siswa SD Negeri 10 Sumerta bangga sekolah disana
karena keindahan sekolahnya indah.
Gigi gosok setiap habis makan.
Anak-anak yang bermain bersama tenang kelihatan dan
sangat akrab.
Lingkungan di desa Tabanan sangat asri. Karena banyak
terdapat sawah dan pepohonan.
Setelah itu aku beristirahat, selesai beristirahat aku pulang di
lapangan Renon.
Dari hari senin akan mengadakan bersih-bersih di sekitar
lingkungan sekolah.
Kami berbaris lalu mendengarkan pembagian tugas, kelas IV
membersihkan kelas dan kelas V membersihkan kaca.
Kita juga harus melestarikan lingkungan hutan agar hewan
tidak menganggu penduduk karena habitatnya hilang oleh
134

Kode
Kesalahan
A
A
A
A
A
A
A
A
A

A
A
A
A
A
A
A
A
B
B
B
B
B

No
52
53

54
55

56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72

73

Data Kesalahan
ulah manusia.
Lingkungan adalah tempat makhluk hidup. Seperti manusia
hewan dan tumbuhan.
Lingkungan tempat kita hidup harus kita jaga sebaik-baiknya
sebagaimana lingkungan harus kita jaga supaya tetap bersih
dan sehat supaya kita tidak terkena penyakit.
Sekarang banyak terjadi bencana alam. Seperti banjir dan
tanah longsor.
Apabila lingkungan kotor dan tidak sehat maka lingkungan
tidak akan terlihat bersih dan kita akan mudah terserang
penyakit dan kita tidak nyaman tinggal di lingkungan tersebut.
Semua warga murid di sekolah, masing-masing sudah dibagi
untuk tugas piket.
Pada hari minggu yang lalu. Aku dan keluarga pergi ke rumah
nenek dan kakek.
Keesokan harinya aku pergi melihat pagi di desa.
Suasana di perkotaan penuh dengan polusi udara. Karena
banyak asap kendaraan bermotor dan asap pabrik.
Meskipun di perkotaan sekarang sudah banyak polusi udara,
tetapi masih banyak orang yang senang tinggal disana.
Di Denpasar sudah mengadakan kegiatan Car Free Day yaitu
hari bebas kendaraan bermotor.
Lalu ranting-rantingnya dikumpulkan dan di bakar setelah
pukul 11.00 saya disuruh ibu membersihkan rumah.
Bahkan Walikota juga turun untuk membersihkan lingkungan.
Pemerintah kota juga mengadakan penghijauan lingkungan.
Yaitu penghijauan di kampung-kampung.
Sekolah saya sangat bersih. Karena para siswa rajin
membersihkannya setiap hari.
Saat ini lingkungan alam kita sangat memprihatinkan akibat
ulah manusia dimana membuang sampah sembarangan.
Ketika dia sampai di gerbang dimana aku menunggunya.
Pada hari sabtu saya dan sekolah sedang membersihkan
sekolah untuk persiapan kakak kelas UN.
Kita harus pintar memilah sampah. Karena jika tidak bisa
maka kita akan rugi.
Sesudah saya minum bel istirahat berbunyi.
Saya yang betugas menyapu halaman, adik menyiram
tanaman. Dan bapak memotong rumput.
Saya bertugas untuk mengepel kelas nomor 1-15
membersihkan kelas nomor 16 25 membersihkan kaca dan
nomor 26 33 mengepel kelas.
Warga mengambil kain dan plastik rumah tangga yang
135

Kode
Kesalahan
B
B

B
B

B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B

No
74
75
76
77
78
79

80
81
82
83

84

85

86

87
88
89

Data Kesalahan
menyumbat warga kota Denpasar juga membersihkan jalan.
Semua warga Sekolah Dasar akan melalukan kehijauan dalam
rangka Adiwiyata.
Kami menjadi siswa yang ditanamkan oleh guru kami.
Ada yang membersihkan sungai, mencabut rumput yang liar
dan aku membantu membersihkan selokan.
Kepada semua warga Sekolah Dasar Negeri 10 Sumerta akan
melakukan Clean And Green dalam rangka Adiwiyata.
Kepada semua warga Sekolah Dasar Negeri 10 Sumerta akan
melakukan kebersihan dalam kegiatan Adiwiyata.
Kita juga harus menjaga kebersihan lingkungan di sekolah,
rumah maupun tempat umum. Seperti menyapu, menyiram
tanaman, dll.
Kita juga harus menanami pepohonan agar terlihat hijau dan
indah.
Mereka mengungsi sampai banjir sudah selesai.
Kepada semua warga Sekolah Dasar Negeri 10 Sumerta akan
melakukan keasrian dalam Adiwiyata.
Pada hari minggu saya dan keluarga saya membersihkan
rumah saya, saya bangun pukul 07.00, saya langsung
membantu keluarga saya.
Ayah saya memotong rumput liar, ibu saya menyapu, kakak
saya menyiram tanaman, adik saya membantu saya, saya
tidak lupa juga membersihkan ruang tamu.
Setelah saya mandi, saya melihat rumah saya yang sangat
bersih dari sebelumnya dari sebelumnya dan keluarga saya
merasa bangga karena rumah saya tidak ada kotoran atau
kuman.
Kami sangat bangga menjadi murid SD Negeri 10 Sumerta
karena SD kami mendapat juara dalam kebersihannya dan
mendapat juara Adiwiyata dan SD Negeri 10 Sumerta sudah
mendapat juara 1 Adiwiyata tingkat kota.
SD Negeri 10 Sumerta akan membersihkan lingkungan SD
Negeri 10 Sumerta.
Karena kalau hujan bisa menyebabkan got itu mampet lalu
kebanjiran.
Kesehatan itu sangat sehat bagi semua orang.

136

Kode
Kesalahan
B
B
B
B
B
B

B
B
B
B

B
B
B

3.2 Klasifikasi Data


Tabel Persentase Kesalahan Pemakaian Bahasa Indonesia Tataran Sintaksis pada
Karangan Siswa Kelas V SD Negeri 10 Sumerta Tahun Pelajaran
2013/2014
No Peringkat Kode Kesalahan Jenis Kesalahan
Jumlah
Persentase
Kesalahan
Kesalahan
1
I
A
Kesalahan dalam
46
51,7%
bidang frasa
2
II
B
Kesalahan dalam
43
48,3%
bidang kalimat
Jumlah Total
89
100%
3.3. Analisis Data
Dalam hal ini analisis dilakukan untuk mengetahui kesalahan pemakaian
bahasa Indonesia tataran sintaksis pada karangan siswa kelas V SD Negeri 10
Sumerta tahun pelajaran 2013/2014.
Kesalahan dalam Bidang Frasa
Kalimat nomor (6), (7), dan (9) merupakan kesalahan pengaruh bahasa daerah.
Dalam ragam tulis tidak dibenarkan menggunakan kata-kata atau struktur dialek
daerah tertentu karena pembaca dari daerah lain tidak dapat memahami kalimat
yang di tulis. Berdasarkan analisis di atas, perbaikan kesalahan pengaruh bahasa
daerah adalah sebagai berikut.
(6) Sepeda motor banyak yang berlalu lalang di jalan raya.
(7) Hal tersebut menyebabkan banyaknya asap yang membahayakan kesehatan
manusia.
(9) Tidak membakar sampah namun sebaiknya di tanam.
Kesalahan dalam Bidang Kalimat
Kalimat nomor (47), (52), (54), (57), (59), (64), (65), (69), (71) dan (79)
merupakan kalimat tidak bersubjek dan tidak berpredikat. Biasanya susunan
kalimat semacam ini adalah kalimat yang dipenggal-penggal seperti terdapat
dalam bahasa lisan. Berdasarkan analisis di atas, perbaikan kesalahan kalimat
tidak bersubjek dan tidak berpredikat adalah sebagai berikut.
137

(47) Lingkungan di desa Tabanan sangat asri karena banyak terdapat sawah dan
pepohonan.
(52) Lingkungan adalah tempat makhluk hidup seperti, manusia hewan dan
tumbuhan.
(54) Sekarang banyak terjadi bencana alam seperti, banjir dan tanah longsor.

3.4 Data Hasil Wawancara


Adapun hal-hal yang merupakan faktor penyebab terjadinya kesalahan
pemakaian bahasa Indonesia pada karangan siswa kelas V SD Negeri 10 Sumerta
tahun pelajaran 2013/2014 adalah sebagai berikut.
1. Faktor siswa
a) Siswa jarang berlatih menulis khususnya menulis karangan.
b) Siswa kurang diberikan contoh menulis karangan dengan menggunakan
bahasa Indonesia yang baik dan benar.
2. Faktor guru
a) Guru jarang menyuruh siswa untuk berlatih menulis khususnya
karangan.
b) Guru hanya memberikan beberapa contoh karangan menggunakan
bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga menyebabkan siswa
kurang paham.

IV BAHASAN
Dari 62 hasil karangan ditemukan jumlah kesalahan sebanyak 89 buah.
Kesalahan pemakaian bahasa Indonesia dalam karangan siswa ditinjau dari bahasa
Indonesia baku terdapat dalam tataran sintaksis bidang frasa 46 buah (51,7%) dan
dalam bidang kalimat ditemukan sebanyak 43 buah (48,3%). Faktor penyebab
terjadinya kesalahan pemakaian bahasa dalam karangan siswa adalah kurangnya
pelatihan pemakaian bahasa Indonesia baku sehingga menyebabkan siswa belum
menguasai kaidah penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

138

V. SIMPULAN DAN SARAN


5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil pembahasan pada bab IV, maka dapat disimpulkan bahwa
tingkat kesalahan pemakaian bahasa Indonesia tataran sintaksis pada karangan
siswa kelas V SD Negeri 10 Sumerta tahun pelajaran 2013/2014 sebanyak 89
buah, meliputi kesalahan bidang frasa sebanyak 46 buah (51,7%), dan kesalahan
dalam bidang kalimat sebanyak 43 buah (48,3%).
Faktor-faktor penyebab terjadinya kesalahan pemakaian bahasa dalam
karangan siswa adalah kurangnya pelatihan pemakaian bahasa Indonesia baku
dalam menulis karangan sehingga menyebabkan siswa belum menguasai kaidah
penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

5.2 Saran
1. Siswa harus dilatih menulis dalam memilih kata, membuat kalimat yang baik
dan benar sehingga kesalahan pemakaian bahasa Indonesia siswa dapat
dikurangi maupun dihilangkan.
2. Guru hendaknya memberikan contoh terkait dengan pemakaian bahasa
Indonesia yang baik dan benar secara lisan maupun tertulis.
3. Guru hendaknya melakukan diskusi bersama siswa untuk peninjauan ulang
terhadap hasil kualitas tulisan (tata bahasa) sehingga siswa dapat dapat
memperbaiki kesalahan pemakaian bahasa.

DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.
Arnawa, Nengah. 2008. Wawasan Linguistik dan Pengajaran Bahasa. Denpasar:
Putri Praptama Offset Printing.

139

Chaer, Abdul. 2009. Sintaksis Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta:


Rineka Cipta.
Finoza, Lammudin. 2009. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi Insan
Mulia.
Indihadi, Dian. 2010. Sumber Bahan Ajar: Analisis Kesalahan Berbahasa.
Narbuko dan Achmadi. 2012. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.
Nurkancana, Wayan dan PPN. Sunartana.1990. Evaluas Hasil Belajar. Surabaya:
Usaha Nasional.
Putrayasa, Ida Bagus. 2007. Kalimat Efektif. Singaraja: Refika Aditama.
Rahardi, Kunjana. 2009. Penyuntingan Bahasa Indonesia untuk Karang
Mengarang. Jakarta: Erlangga.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Sukini. 2010. Sintaksis Sebuah Panduan Praktis. Surakarta: Yuma Pustaka.
Suparno dan Yunus, Mohamad. 2007. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Suryaman, Ukun. 1996. Dasar-Dasar Bahasa Indonesia Baku. Bandung: Alumni..
Waridah, Ernawati. 2008. EYD & Seputar Kebahasa-Indonesiaan. Jakarta
Selatan: Kawan Pustaka.

140