Anda di halaman 1dari 5

VISIONER

Dr Albert Hasibuan, SH

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden

KUAT KE BAWAH TAPI LEMAH KE ATAS,


ITULAH SESAT PIKIR DALAM
PENEGAKAN HUKUM
Hukum sering dimaknai sebagai preskripsi terbatas hanya berdasarkan
kerangka legal perundang-undangan. Maka, hukum selalu dipisahkan dari
faktor-faktor sosial-politik kemasyarakatan. Akibatnya, keadilan menurut
hukum dimaknai sekadar telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
INTEGRITAS - Juli 2013

43

VISIONER

eorang aparat penegak hukum


dikatakan telah bertindak
adil bilamana tindakan atau
putusan yang diambilnya telah
didasarkan atas peraturan perundangundangan, sekalipun putusan itu luput
dari pertimbangan kemanusiaan dan
keadilan.
Itulah sesat pikir dalam penegakan
hukum, kata Dr Albert Hasibuan, SH,
anggota Dewan Pertimbangan Presiden
Bidang Hukum & HAM kepada Majalah
INTEGRITAS di kantornya. Akibatnya,
tidak aneh jika publik kemudian
membuat simpulan bahwa penegakan
hukum cenderung kuat ke bawah tapi
lemah ke atas.
Banyak hukuman yang dijatuhkan
kepada kelompok rentan, kecil, dan
marginal,
dengan kesalahan yang
cenderung lebih besar disebabkan
faktor sosial ekonomi. Nenek Minah
di Banyumas, Jawa Tengah, ditahan
akibat mencuri tiga butir kakao senilai
30 ribu rupiah. Pengadilan memvonis
Nenek Minah dengan hukuman 1 bulan
15 hari dengan percobaan tiga bulan.
Dalam kasus yang lain, enam anak yang
mencuri enam biji jagung di Magetan,
Jawa Timur, diancam dengan Pasal 363
(1) ke-4 KUHP. Selain harus menjalani
penahanan, mereka juga dijatuhi 56
hari penjara.

indikator.
Albert yang meraih gelar doktor ilmu
hukum dari Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta (1992), menjelaskan, dalam
kerangka reformasi substansi hukum,
peraturan perundang-undangan, salah
satu capaian utama dalam reformasi
hukum di Indonesia adalah dilakukannya
perubahan terhadap UUD 1945 dalam
empat kali amandemen. Perubahan
konstitusi yang dilakukan oleh MPR
hasil pemilu pertama dalam era
reformasi (1999) , merupakan jawaban
MPR atas kuatnya desakan masyarakat
yang menghendaki perubahan yang
sifatnya mendasar dan menyeluruh
terhadap kehidupan bernegara dalam
masa reformasi.
Supremasi hukum menjadi tuntutan
nyata atas keinginan besar untuk
mengubah karakter hukum yang
sebelumnya
mengabdi
pada
kepentingan penguasa menuju hukum
yang mengabdi kepada kepentingan
rakyat. Dengan kata lain, pembaruan
hukum dilakukan untuk mengubah
karakter hukum birokrasi dalam
suasana pemerintah otoriter menjadi
hukum responsif dalam suasana
pemerintahan
demokratis.
Oleh
karena itu, penataan kelembagaan

penegak hukum pun diarahkan untuk


mewujudkan pergeseran pandangan
tersebut.
Dalam
upaya
mewujudkannya,
kebijakan yang diambil pada awal
reformasi
menggariskan
bahwa
perwujudan
supremasi
hukum
tidak hanya merupakan lingkup dan
dilaksanakan dalam bidang hukum
saja, tetapi juga merupakan tanggung
jawab bersama dengan bidangbidang pembangunan lainnya. Untuk
itu dilakukan penyempurnaan dan
pembaharuan peraturan perundangundangan,
pengembangan budaya
hukum, dan pemberdayaan lembaga
peradilan dan lembaga penegak hukum
lainnya.
Yang tidak kalah penting adalah
peningkatan etika dan komitmen para
penyelenggara negara dalam mematuhi
berbagai aturan hukum, pembentukan
budaya taat hukum serta peningkatan
kualitas sumberdaya manusia, tambah
Ketua Forum Papua ini.
Dalam konteks sekarang, menyikapi
banyaknya tindakan pemidanaan
terhadap masyarakat kecil dan marginal,
yang berakibat serius dalam penegakan

Di Denpasar, Bali, seorang kasir sebuah


pusat perbelanjaan, yang dituduh
mencuri uang sebesar 20 ribu rupiah,
terpaksa ditahan, serta oleh hakim
diputus bersalah melanggar Pasal 362
KUHP dan divonis tiga bulan penjara.
Hukum seperti diciptakan untuk
menekan mereka yang lemah, guna
membela kepentingan yang kuat.
Sederhananya, kekuasaan sering kali
justru terkait hukum, kata Albert,
yang pada 2003 menjabat Wakil Ketua
Komisi Konstitusi MPR.
Ia berpendapat, untuk melacak sejauh
mana capaian dalam reformasi hukum,
khususnya penegakan hukum, sebagai
salah satu bagian penting dari mandat
reformasi 1998, bisa dilakukan dengan
memerhatikan capaian dalam sejumlah

44

INTEGRITAS - Juli 2013

Menerima delegasi Forum Umat Beragama

Menjadi pembicara bersama sejumlah tokoh, antara lain Hary Tjan Silalahi.

hukum di Indonesia, Mahkamah Agung


mengeluarkan Peraturan MA No. 2
Tahun 2012 tentang Penyesuaian
Batasan Tindak Pindana Ringan dan
Jumlah Denda Dalam KUHP. Nilai
pidana, dari yang semula dua ratus
lima puluh rupiah, menjadi dua juta
lima ratus ribu rupiah.
Artinya, hanya tindak pidana yang nilai
kerugiannya di atas Rp. 2.500.000,00
yang dapat dikenakan ancaman
pidana. Namun, secara normatif
peraturan tersebut tidak cukup untuk
menggantikan cakupan dan ruang
lingkup dari KUHP.
Perma cakupan dan ruang lingkupnya
hanya menjangkau para pelaku
kekuasaan kehakiman di lingkungan
MA, jelas suami dari Louise
Walewangko ini.

Memajukan Keadaban Kemanusiaan


Masa reformasi
selama lebih
dari sepuluh tahun terakhir telah
mengantarkan
Indonesia
pada
berbagai perubahan dan pembaharuan
mendasar terkait dengan banyak
aspek-aspek penting dalam kehidupan
berbangsa,
bermasyarakat
dan
bernegara. Namun, tidak diingkari
juga, beriringan dengan proses itu yang
menghasilkan
kemajuan-kemajuan
tertentu dalam berbagai bidang,
Indonesia masa reformasi banyak
menghadapi masalah dan tantangan,
terutama dalam mewujudkan citacita kemerdekaan dan kebangsaannya
seperti tertuang dalam Pembukaan
dan keseluruhan isi batang tubuh UUD
1945.
Di
antara
berbagai
kemajuan
fundamental yang telah dicapai itu
adalah penegasan secara konstitusional
atas penghormatan dan penghargaan

HAM sebagai hak-hak dasar warga


negara yang harus diutamakan dalam
hubungan antarwarga negara maupun
antara warga negara dan negara.
Ini jelas merupakan satu peletakan
dasar yang amat fundamental yang
membedakan
negara
Indonesia
prareformasi dengan negara Indonesia
pascareformasi, kata Albert.
Menurut dia,
Indonesia pasca
reformasi
merupakan
Indonesia
yang
menumpukan
keberadaan
dan
keberlangsungannya
pada
pengutamaan nilai-nilai kemanusian
warga negaranya. Indonesia masa
depan
adalah
Indonesia
yang
mengutamakan
dan
memajukan
keadaban kemanusiaan.
Tentu saja merealisasi keadaban
Indonesia seperti yang dicita-citakan
kemerdekaan Indonesia enampuluhan
tahun lalu, dan yang ditegaskan

INTEGRITAS - Juli 2013

45

Saya sangat mendukung penegasan


Presiden ini. Karena itu, menjadi
kewajiban kita bersama untuk
menyelesiakan masalah ini secara arif
dan demi persatuan untuk kemajuan
keadaban masyarakat bangsa Indonesia
di masa-masa mendatang, katanya.
Mengapa penyelesaian pelanggaran
HAM berat masa lalu penting dan perlu
segera diselesaikan?

kembali masa reformasi dewasi ini,


tidak semudah
membalik telapak
tangan. Ini bukan hanya memerlukan
proses yang konsisten dan konsekuen
dalam langkah-langkahnya, tetapi juga
yang harus didahului dengan komitmen
yang sama di antara kita, di antara para
pemangku kepentingan masa depan.
Satu di antara sejumlah aspek penting
dari komitmen bersama itu adalah
penyelesaian masalah pelanggaran
HAM masa lalu dan tentu juga masa
kini maupun masa mendatang.
Pengakuan
konstitusional
atas
penghormatan dan penghargaan
terhadap HAM pada dasarnya
merupakan
substansi
komitmen
bersama
masyarakat
bangsa
Indonesia yang menegaskan, pertama,
pelanggaran HAM harus tidak boleh
terjadi sejak komitmen itu ditegaskan.
Kedua, kalaupun pelanggaran HAM
terjadi, harus diselesaikan melalui
proses peradilan yang terbuka, adil
dan bertanggung jawab sesuai dengan
amanat konstitusi.
Kita semua patut berusaha untuk
memenuhi kedua
komitmen ini,
meskipun kita juga menyadari belum
sepenuhnya
mampu
merealisasi
komitmen itu secara konsisten,
konsekuen dan bertanggung jawab,
tambahnya.

46

INTEGRITAS - Juli 2013

Memang,
penyelesaian
masalah
pelanggaran masa lalu menjadi
persoalan bersama bangsa ini. Kita
harus mengakui bahwa kita belum
berhasil dalam merumuskan komitmen
bersama untuk mengatasinya. Bukan
saja karena persoalannya yang sudah
lewat pada masa lalu, tetapi juga
perkembangan
masalahnya
yang
ternyata semakin kompleks atau rumit
yang mengkaitkan banyak aspek di
dalamnya menyangkut kepentingan
individual maupun kolektif.
Meski begitu, seperti diakui oleh banyak
pemangku kepentingan, penyelesaian
pelanggaran HAM masa lalu tidak
bisa semata-mata hanya, atau bahkan
tidak bisa sama sekali, ditumpukan
pada proses pro-yustisia, tetapi juga
terutama pada proses non-yustisia
yang mencakup bukan hanya proses
politik tetapi juga proses sosial maupun
budaya. Di sinilah, proses rekonsiliasi
untuk penyelesaian pelanggaran HAM
masa lalu mempunyai relevansi dan
signifikansinya, kata Albert.
Albert menggambarkan rumitnya
masalah pelanggaran HAM masa lalu.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
bahkan pernah menegaskan bahwa
masalah ini telah menjadi beban
sejarah yang dapat menghambat laju
keadaban bangsa Indonesia di masamasa mendatang.

Penyelesaian
pelanggaran
HAM
Berat Masa Lalu merupakan utang
reformasi yang harus dilunasi.
Komitmen ini tertuang dalam TAP MPR
V/MPR/2000 tentang Pemantapan
Persatuan dan Kesatuan Nasional yang
memandatkan pembentukan suatu
komisi kebenaran dengan tujuan:
melaksanakan
rekonsiliasi
dalam
perspektif kepentingan bersama;
menegakkan persatuan dan kesatuan;
dan, memerhatikan rasa keadilan
masyarakat.
Negara telah menancapkan niat untuk
menyelesaikannya, sesuai dengan
norma-norma dan prinsip HAM serta
konstitusi. Negara hendak melaksanakan
kewajiban untuk mengingat, kewajiban
untuk menghukum setiap bentuk
kejahatan pelanggaran HAM, dan
kewajiban
untuk
menghadirkan
keadilan bagi korban, yang meliputi hak
atas kebenaran, hak atas keadilan, dan
hak atas pemulihan.
Apa saja yang termasuk dalam kategori
pelanggaran HAM berat masa lalu?
Sebagaimana yang dimaksud dalam
penjelasan dalam Undang-Undang
Hak Asasi Manusia, Pasal 104 Ayat (1),
Yang dimaksud dengan pelanggaran
hak asasi manusia yang berat adalah
pembunuhan
massal
(genocide),
pembunuhan sewenang-wenang atau
di luar putusan pengadilan (arbitrary/
extra judicial killing), penyiksaan,
penghilangan orang secara paksa,
perbudakan, atau diskriminasi yang
dilakukan secara sistematis (systematic
diserimination).
Dalam Statuta Roma (Art. 5) juga
dijelaskan mengenai definisi dari

pelanggaran HAM berat, yakni the


crime of genocide, crimes against
humanity, war crimes, dan \Tthe crime
of aggression.
Dalam Undang-Undang Pengadilan
HAM juga disebutkan mengenai jenisjenis dari pelanggaran HAM berat
sebagaimana dituangkan dalam Pasal
7 sampai dengan Pasal 9. Misalnya, di
Pasal 7 disebutkan, pelanggaran hak
asasi manusia yang berat meliputi
kejahatan genosida dan kejahatan
terhadap kemanusiaan.
Dan Pasal 8 menyebutkan, kejahatan
genosida sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 7 Huruf a adalah setiap
perbuatan yang dilakukan dengan
maksud untuk menghancurkan atau
memusnahkan seluruh atau sebagian
kelompok bangsa, ras, kelompok
etnis, kelompok agama, dengan
cara membunuh anggota kelompok,
mengakibatkan penderitaan fisik dan
mental yang berat terhadap anggotaanggota
kelompok,
menciptakan
kondisi kehidupan kelompok yang akan
mengakibatkan kemusnahan secara
fisik baik seluruh atau sebagiannya.

Berbagai regulasi tersebut bermuara


pada
dua
jalan
penyelesaian,
melalui akuntabilitas hukum dengan
pembentukan Pengadilan HAM ad hoc,
dan pengungkapan kebenaran melalui
pembentukan Komisi Kebenaran dan
Rekonsiliasi (KKR).
Penyelesaian dengan pembentukan
pengadilan HAM ad hoc, telah
dilakukan untuk kasus pelanggaran
HAM yang berat di Timor Timur 1999
dan Pelanggaran HAM di Tanjung Priok
1984. Kehadiran Pengadilan HAM ad
hoc merupakan satu contoh ketika
mekanisme keadilan distributive
diharapkan tegak, dengan menuntut
pertanggungjawaban individual atas
rangkaian pelanggaran HAM, yang
dilakukan oleh aparatus negara di masa
lalu, baik sebagai pelaku langsung
maupun pendukung.
Pembentukan KKR dimaksudkan untuk
menghadapi kejahatan pelanggaran
HAM yang memiliki karakteristik
khusus. Kekhususan ini dilihat dari sifat
kejahatannya yang masif, yang justru
sebagian besar dilakukan oleh negara
sendiri terhadap rakyatnya.

Apa yang sudah dilakukan negara


selama masa reformasi terkait dengan
penyelesaian pelanggaran HAM berat
masa lalu?

Kejahatan bukan dilakukan atas intensi


personal mereka yang menjadi aparat
negara, melainkan oleh keseluruhan
struktur rezim yang ada pada masa itu.

Di Indonesia, Presiden Habibie dan


Presiden Abdurrahman Wahid juga
pernah secara resmi meminta maaf
atas terjadinya pelanggaran HAM di
Aceh dan Papua.

Inisiatif ini telah berjalan dengan


adanya Undang-Undang tentang KKR,
meski kemudian dibatalkan oleh MK
pada 2006. Sampai hari ini, upaya
pembentukan kembali UU KKR belum
berhasil dilakukan.

Namun, permohonan maaf ini


bukanlah jalan tunggal karena
pertanggungjawaban
dari
aspek
penegakan hukum, aspek administrasi,
pengungkapan kebenaran, maupun
langkah-langkah lainnya, harus tetap
dilakukan.
Penyelesaian masa lalu menjadi salah
satu mandat penting reformasi, yang
kemudian terimplementasi melalui
pembentukan
sejumlah
undangundang, hingga regulasi yang berifat
teknis.

Praktis,
saat
ini
pembentukan
Pengadilan HAM ad hoc menjadi satusatunya mekanisme penyelesaian yang
tersedia. Namun, jalur pengadilan
pun mandeg, dengan tiadanya tindak
lanjut hasil penyelidikan Komnas HAM
oleh Jaksa Agung, dengan melakukan
penyidikan, penuntutan dan kemudian
pemeriksaan di Pengadilan HAM ad
hoc. Sedangkan alternatif kebijakan
lainnya hingga kini belum terbentuk.
Dalam deretan kemandekan tersebut,
apresiasi patut diberikan kepada

Komnas HAM. Pada 2012 Komnas HAM


telah menyelesaikan dua penyelidikan
kasus dugaan pelanggaran HAM yang
berat, untuk peristiwa 1965-1966
dan peristiwa pembunuhan misterius
(Petrus) tahun 1982-1985.
Inisiatif yang lain datang dari Lembaga
Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).
Berbekal mandat yang dimilikinya,
LPSK telah memberikan bantuan medis
dan rehabilitasi psikososial kepada
sejumlah korban pelanggaran HAM
berat. Program ini setidaknya telah
berjalan dalam setahun terakhir ini.
Tapi, upaya LSPK ini masih terkendala
prosedural
karena
mensyaratkan
para korban pelanggaran HAM berat
mendapatkan surat rekomendasi dari
Komnas HAM terlebih dahulu.
Sebagai anggota Dewan Pertimbangan
Presiden bidang Hukum dan Ham
tentunya diminta atau tidak diminta
memberikan masukan kepada presiden,
berbagai
komitmen
pemerintah
untuk menyusun langkah-langkah
penyelesaian pelanggaran HAM masa
lalu, yang dinyatakan oleh Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono sejak tahun
2011.
Presiden telah memerintahkan Menko
Polhukam untuk mencari format
penyelesaian pelanggaran HAM masa
lalu, yang melibatkan sejumlah lembaga
negara lainnya, tetapi hingga kini format
tersebut belum dapat wujudnya karena
memang diperlukan waktu karena tidak
bisa secara singkat dan cepat walaupun
korban pelanggaran HAM berat masa
lalu menghendakinya, antara lain,
karena faktor usia.

Hendrik

Anak-anak bisa menikmati masa kini


karena mereka belum punya masa lalu
dan tidak memikirkan masa depan.
Lean de la Bruyere (1645 -- 1696)

INTEGRITAS - Juli 2013

47