Anda di halaman 1dari 4

Nama

: dr. MEIRONI WAIMIR

NIP

: 19860511 201101 1 001

INSTANSI

: PUSKESMAS DESA GEDANG KOTA SUNGAI PENUH

RINGKASAN PERMENKES NO 15 TAHUN 2016
TENTANG ISTITHAAH KESEHATAN JAMAAH HAJI

Permenkes No 15 Tahun 2016 terdiri dari 7 (tujuh) BAB yaitu :
1. BAB I Ketentuan Umum
2. BAB II Pemeriksaan kesehatan dalam rangka istithaah kesehatan jemaah haji
3. BAB III Pembinaan dalam rangka istithaah kesehatan jemaah haji
4. BAB IV Ketentuan lain-lain
5. BAB V Pencatatan dan pelaporan
6. BAB VI Koordinasi, jejaring kerja, dan kemitraan
7. BAB VII Pembinaan dan pengawasan
Istithaah adalah kemampuan jemaah haji secara jasmaniah, rohaniah, pembekalan dan
keamanan untuk menunaikan ibadah haji tanpa menelantarkan kewajiban terhadap keluarga.
Sedangkan Istithaah Kesehatan Jemaah Haji adalah kemampuan jemaah haji dari aspek
kesehatan yang meliputi fisik dan mental yang terukur dengan pemeriksaan yang dapat
dipertanggungjawabkan sehingga jemaah haji dapat menjalankan ibadahnya sesuai dengan
tuntunan agama islam.
Pengaturan istithaah kesehatan haji bertujuan untuk terselenggaranya pemeriksaan
kesehatan dan pembinaan kesehatan jemaah haji agar dapat menunaikan ibadahnya sesuai
dengan ketentuan ajaran agama islam. Pemeriksaan kesehatan jemaah haji meliputi 3 tahap
yaitu :

dan/atau orang lain dengan tingkat kebugaran jasmani setidaknya dengan kategori cukup. Berusia 60 tahun atau lebih. meliputi : a. . Berdasarkan pemeriksaan kesehatan tahap pertama ditetapkan status kesehatan jemaah haji risiko tinggi atau tidak risiko tinggi. Penetapan status kesehatan jemaah haji risiko tinggi dituangkan dalam surat keterangan hasil pemeriksaan kesehatan jemaah haji yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh dokter pemeriksa kesehatan haji. Bedasarkan pemeriksaan kesehatan tahap kedua ditetapkan istithaah kesehatan jemaah haji . dan/atau b).Tahap Pertama : dilaksanakan oleh tim Penyelenggara Kesehatan Haji di Kabupaten/Kota di Puskesmas dan/atau di Rumah sakit pada saat jemaah haji melakukan pendaftaran untuk mendapatkan nomor porsi Tahap Kedua : dilaksanakan oleh tim Penyelenggara Kesehatan Haji di Kabupaten/Kota di Puskesmas dan/atau di Rumah sakit pada saat pemerintah telah menentukan kepastian keberangkatan jemaah haji pada tahun berjalan. b. merupakan jemaah haji yang memiliki kemampuan mengikuti proses ibadah haji tanpa bantuan obat. Memenuhi syarat istithaah kesehatan jemaah haji. alat. Jemaah haji ini wajib berperan aktif dalam kegiatan promotif dan preventif. Berusia 60 tahun atau lebih. Tahap Ketiga : dilaksanakan oleh PPIH Embarkasi bidang kesehatan di Embarkasi pada saat jemaah haji menjelang keberangkatan. dan/atau b. Memenuhi syarat istithaah kesehatan haji dengan pendampingan. Status kesehatan jemaah haji risiko tinggi ditetapkan dengan kriteria : a. merupakan jemaah haji dengan kriteria : a). Menderita penyakit tertentu yang tidak termasuk dalam kriteria tidak memenuhi syarat istithaah sementara dan/atau tidak memenuhi syarat istithaah. Memiliki faktor risiko kesehatan dan gangguan kesehatan yang potensial menyebabkan keterbatasan dalam melaksanakan ibadah haji.

gagal jantung stadium IV. DM tidak terkontrol. Hamil yang diprediksi usia kehamilannya pada saat keberangkatan kurang dari 14 minggu atau lebih dari 26 minggu. Fraktur tungkai yang membutuhkan immobilisasi. f). CKD stadium IV dengan peritonial dialysis/hemodialisis reguler. Jemaah dengan penyakit yang sulit diharapkan kesembuhannya. Penetapan status jemaah haji tidak laik terbang dituangkan dalam . c). AIDS stadium IV dengan infeksi oportunistik. merupakan jemaah haji dengan kriteria : a). TBC totaly drugs resistance (TDR).c. stroke akut. e). perdarahan saluran cerna. tidak memenuhi syarat istithaah kesehatan haji untuk sementara. Penetapan istithaah kesehatan jemaah haji dituangkan dalam berita acara penetapan istithaah kese hatan jemaah haji yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh ketua tim penyelenggara kesehatan haji. sirosis atau hepatoma decompensata. Psikosis akut. tidak memenuhi syarat istithaah kesehatan haji. d. Tidak memiliki sertifikat vaksinasi internasional (ICV) yang sah. dimensia berat. Menderita penyakit tertentu yang berpeluang sembuh. anemia gravis. antara lain keganasan stadium akhir. stroke haemorhagic luas. Hipertiroid. c). TBC MDR. merupakan jemaah haji dengan kriteria : a). antara lain Tuberculosis sputum BTA Positif. b). antara lain PPOK derajat IV. Kondisi klinis yang dapat mengancam jiwa. d). b). g). Gangguan jiwa berat antara lain skizofrenia berat. dan retardasi mental berat. Suspek dan/atau konfirm penyakit menular yang berpotensi wabah. HIV-AIDS dengan diare kronik. Pemeriksaan tahap ketiga dilakukan untuk menetapkan status kesehatan jemaah haji laik atau tidak laik terbang. Fraktur tulang belakang tanpa kompilkasi neurologis.

pencatatan. Peningkatan dan pengembangan kapasitas teknis dan manajemen sumber daya manusis. Keberhasilan pelaksanaan pemeriksaan kesehatan dan pembinaan kesehatan jemaah haji. dan pelaporan masalah kesehatan terkait istithaah kesehatan jemaah haji. dan manasik kesehatan. Identifikasi. Pembinaan kesehatan dalam rangka istithaah kesehatan jemaah haji meliputi kegiatan penyuluhan. pemanfaatan media massa. b. Koordinasi. baik di pusat. . jejaring kerja. latihan kebugaran. Pemeriksaan kesehatan dan pembinaan kesehatan dalam rangka istithaah kesehatan haji dilaksanakan sesuai standar teknis pemeriksaan kesehatan dan pembinaan kesehatan haji yang ditetapkan oleh mentri. penyebarluasan informasi. dan c. pemanfaatan pos pembinaan terpadu (Posbindu). konseling.berita acara kelaikan terbang yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh ketua PPIH Embarkasi Bidang Kesehatan. maupun kabupaten/kota. Dalam rangka penyelenggaraan istithaah kesehatan jemaah haji dibangun dan dikembangkan koordinasi jejaring kerja. serta kemitraan antara instansi pemerintah dan pemangku kepentingan. kunjungan rumah. dan kemitraan diarahkan untuk : a. Permenkes No 15 Tahun 2016 mulai berlaku pada tanggal diundangkan ( 11 April 2016). provinsi.