Anda di halaman 1dari 15
BAB III LANDASAN TEORI III.1. Sistem Panasbumi Panasbumi merupakan energi panas alami yang bersumber dari bawah permukaan bumi, yang salah satu sumber panas utamanya berasal dari magma. Magma merupakan batuan bawah permukaan yang telah meleleh (Wilson, 1989). Suhu magma yang belum mendingin mencapai ± 6300 oC (Jeanloz, 2000). Magma yang telah mendingin membentuk intrusi panas yang memiliki suhu 600 - 1400 o C (Gupta, 1980). Magma tersebut memanaskan material yang berada disekitarnya (Jeanloz, 2000). Sirkulasi air tanah dalam intrusi magma membawa energi panas lebih dekat ke permukaan (Rybach dan Muffler, 1981). Adanya celah berupa struktur sesar dan kekar membawa fluida panas ke permukaan yang menjadikannya sebagai manifestasi. Manifestasi panasbumi yang biasa ditemukan berupa mata air panas, lumpur panas, batuan terubahkan dan sebagainya (Hochstein dan Browne, 2000). Peranan utama sistem panasbumi pada umumnya berasosiasi dengan tektonik lempeng dan aktivitas vulkanisme (Dickson dan Fanelli, 2004).Secara tektonik dan kaitannya dengan vulkanisme panasbumi di Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi sistem panasbumi vulkanik dan sistem panasbumi nonvulkanik. Sistem panasbumi yang telah dikembangkan sebagian besar merupakan sistem panasbumi vulkanik (Hochstein dan Sudarman, 2008). Contoh model konseptual sistem panasbumi vulkanik tampak pada gambar III.1. Sistem ini terdiri dari intrusi magmatik sebagai sumber panas, batuan reservoar, batuan 23 penutup, sistem patahan dan manifestasi panasbumi berupa fumarol dan mata air panas dan air hujan sebagai air pengisi. Tubuh intrusi magmatik memanaskan air dingin didalam batuan reservoar yang dibatasi oleh batuan atau patahan impermeabel.Kemudian, air menuju permukaan melalui patahan permeabel akibat suhu dan tekanan yang tinggi di bawah permukaan. Gambar III.1. Contoh Sistem Panasbumi Vulkanik dengan Komponennya (dimodifikasi dari Goff dan Janik, 2000; William et al., 2011) Menurut (Nannini, 1986) menggambarkanmodel konseptual sistem panasbumi yang terbentuk di area non-vulkanik lebih sulit dibandingkan dengan membuat model pada sistem panasbumi vulkanik. Contoh model konseptual sistem panasbumi non-vulkanik di Jepang ditunjukkan pada gambar III.2. Menurut Tamayu dan Sakaguchi, (2003)Sistem non-vulkanik di Tohoku Jepang dapat berkembang pada dua area. Pertama, pada area pegunungan atau topografi tinggi yang berasosiasi dengan air tanah dalam di sepanjang sesar atau tubuh 24 intrusi. Kedua, pada area cekungan sedimen dengan sumber air panas berasal dari air laut dalam. Gambar III.2. Contoh Model Konseptual Panasbumi non-vulkanik pada Tohoku Jepang (Tamayu dan Sakaguchi, 2003) Sistem panasbumi yang umum di Indonesia memiki komponen sebagai berikut (Suharno, 2003): 1. Memiliki sumber panas (heat source) berupa batuan plutonik, magma yang telah mendingin. 2. Memiliki batuan berongga (porous rock) atau reservoar tempat air panas atau uap panas terjebak didalamnya. 3. Terdapat struktur geologi (patahan perlipatan, collapse, rekahan atau ketidakselarasan), yang merupaka sistem lolos air (permeable) 4. Memiliki lapisan tertutup (cap rock), berupa batuan kedap air (Impermeable), biasanya terdiri dari batuan lempung 25 5. Terdapat daerah resapan air (recharge area) dan siklus hidrologi, aliran air dibawah permukaan yang cukup untuk pengisian cadangan air reservoar. Sedangkan menurut Goff dan Janik (2000) secara global sistem panasbumi terbagi menjadi tiga elemen utama, yaitu sumber panas, batuan reservoar yang permeable, dan air yang membawa panas dari dalam bumi ke permukaan. Sehingga secara garis besar dapat di jelaskan sebagai berikut. III.1.1. Sumber Panas Sumber panas merupakan magma yang membeku di bawah permukaan bumi. Magma yang telah membeku dikenal dengan istilah batuan beku. Batuan beku hasil pembekuan magma ini memiliki karakteristik resistivitas tinggi karena tidak mengandung fluida baik secara kimia maupun fisika. Batuan ini mengalirkan panas secara konduktif melalui kontak dengan batuan disekitarnya. Panas yang merambat pada batuan samping memanaskan fluida yang mengalir ke reservoar (Hoover dan Long, 1979). Hochstein dan Browne (2000) menyebutkan bahwa sumber panas dapat mencapai temperatur yang sangat tinggi (>600°C). Hal ini disebabkan oleh intrusi magmatik pada kedalaman yang relatif dangkal (5-10 km). Dapat pula disebabkan karena sistem temperatur rendah-sedang atau temperatur normal bumi yang mengalami peningkatan temperatur akibat gradien geotermal. Menurut Hochstein dan Browne (2000) sumber panas dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu: • Magma yang berada di dalam kerak • Intracrustal nonmagmatic • Aliran panas konduktif di dalam kerak bagian atas 26 Sumber panaspada sistem panasbumi non-vulkanik dapat berupa intrusi granit tua, gradien panasbumi pada batuan sedimen, atau sirkulasi air panas dalam (Niasari, 2015). Contoh sumber panas yang berasal dari sirkulasiair panas dalam adalah di Tohoku Jepang dengan manifestasi mata air panas Izura (Tamayu dan Sakaguchi, 2003). III.1.2. Sirkulasi Air Fluida dari panasbumi pada umumnya merupakan air meteorik, pada kasus tertentu, dapat berupa cairan maupun fase uap bergantung dari temperatur dan tekanannya. Air meteorik biasanya bersikulasi dengan membawa unsur kimia dan gas seperti CO2, H2S, dan lainnya. Menurut Ellis dan Mahon (1977) tipe-tipe air pada sistem panasbumi ada beberapa macam diantaranya yaitu: a. Air Juvenile atau air muda yaitu air “baru” yang diperoleh dari batuan utama magma, dan bukan merupakan bagian dari hidrosfer. b. Air Magmatik yaitu air yang berasal dari magma, tetapi tidak seperti air juvenile, merupakan magma yang disertai dengan air meteorik bersikulasi jauh ke dalam atau air yang berasal dari material sedimen. c. Air Meteorik yaitu air yang terlibat dalam sirkulasi atmosfer (air hujan). d. Air Connate atau air pembawa yaitu air “fosil” yang sudah tidak berhubungan dengan atmosfer dalam waktu geologi yang cukup lama. Air tersebut terdapat pada formasi batuan yang dalam. Pada cekungan sedimen, air connate seperti air asin pada lapangan minyak bumi yang biasanya berasal dari air laut tetapi sudah terubah oleh proses kimia dan fisika. 27 e. Air Metamorfik yaitu modifikasi spesial dari air connate, berasal dari mineral hydrous pada saat mengkristal kembali untuk mengurangi mineral hydrous selama proses metamorfisme. III.1.3. Batuan Reservoar Reservoar panasbumi merupakan suatu volume dari batuan permeable yang panas dimana tempat air bersirkulasi dan mengekstrak air menjadi panas. Reservoar panasbumi biasanya ditutupi oleh batuan impermeabelatau biasa dikenal sebagai cap rock dan berhubungan dengan daerah recharge dimana air meteorik dapat menggantikan fluida yang keluar dari reservoar sebagai mata air (Gupta, 1980). Reservoar yang produktif harus memiliki porositas yang besar, permeabilitas yang besar, ukuran yang cukup besar, temperatur tinggi, dan kehadiran fluida. Permeabilitas dan porositas terbentuk oleh karakteristik stratigrafi (porositas intergranular pada batupasir, breksi, dan lapisan pada lava) dan akibat elemen struktur (sesar, kekar, dan rekahan). III.1.4. Batuan Penutup (Cap Rock) Batuan penutup yang bersifat impermeabel di atas reservoar panasbumi diperlukan untuk menghindari lepasnya panas dari fluida panasbumi melalui arus konveksi. Energi panas yang hilang melalui konduksi tidak bisa dicegah dengan adanya batuan penutup, namun energi panas yang hilang melalui konduksi tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan panas yang hilang melalui konveksi (Gupta, 1980). Batuan penutup yang ideal adalah batuan penutup yang tidak bercelah (unfissured), namun kenyataan di lapangan sangat sulit untuk menemukan batuan 28 penutup yang tanpa celah/retakan. Hal ini disebabkan oleh proses vulkanisme yang berasosiasi dengan pergerakan tektonik dan mengakibatkan timbulnya celahcelah atau retakan pada batuan penutup. Celah-celah ini dapat ditutupi oleh proses geokimia yang berasosiasi dengan lapangan panasbumi, seperti alterasi hidrotermal pada batuan dan mineral (Gupta, 1980). Tipikal contoh batuan penutupyang dilindungi oleh proses geokimia dan deposisi ditemukan pada lapangan panasbumi The Geyser (Amerika Serikat) dan Otake (Jepang). Lapangan panasbumi The Geyser memiliki batuan penutupyang celah-celahnya diisi oleh kalsit dan material silika setebal satu inci dan umumnya dapat dilihat dengan mata telanjang (Gupta, 1980). III.1.5. Struktur Geologi Jenis struktur yang sering dijumpai di daerah panasbumi adalah kekar dan sesar. Struktur tersebut dapat mengontrol permeabilitas pada sistem panasbumi khususnya pada batuan reservoar. Batuan tersebut harus memiliki permeabilitas yang tinggi untuk mengalirkan atau menyimpan fluida. Struktur Kekar Kekar merupakan rekahan pada batuan yang belum mengalami pergeseran. Secara umum, kekar dapat dibagi menjadi 2, yaitu kekar tektonik dan kekar non-tektonik (Endarto, 2005). Kekar tektonik yang banyak terdapat di daerah panasbumi. Hal tersebut disebabkan karena daerah panasbumi biasanya berada di batas lempeng aktif yang berasosiasi dengan aktivitas vulkanisme dan deformasi lower crust yang menghasilkan kekar tersebut. Kelompok kekar tersebut sangat berpengaruh dalam mengontrol permeabilitas batuan reservoar pada sistem panasbumi. 29 Struktur Sesar Menurut Billings (1982)sesar adalah rekahan yang blok sebelah-menyebelah dari bidang rekahannya saling bergerak satu sama lainnya. Secara genetik, sesar dapat diklasifikasikan berdasarkan arah pergerakan relatif sepanjang bidang sesar. Berdasarkan klasifikasi genetik ini, sesar dapat dibagi menjadi: a. Sesar naik (thrust fault) yaitu sesar dengan pergerakan hanging wall bergeser relatif naik terhadap foot wall. Jenis sesar ini mengindikasikan adanya proses shortening. b. Sesar turun (gravity fault atau normal fault) yaitu sesar dengan pergerakan hanging wall bergeser relatif turun terhadap foot wall. Jenis sesar ini mengindikasikan adanya proses lengthening. c. Sesar geser mendatar (strike-slip fault) yaitu sesar dengan pergerakan antar bloknya relatif pararel terhadap strike dari bidang sesarnya. Sesar jenis ini ada dua jenis yaitu mengiri (sinistral) dan menganan (dextral). Struktur yang sering berkembang di daerah panasbumi adalah sesar yang pergerakannya relatif vertikal atau diagonal. Hal tersebut disebabkan karena sesar dengan pergerakan vertikal atau diagonal akan memudahkan terbentuknya manifestasi panasbumi yang ada di permukaan (sesar membuat zona rekahan sebagai jalur keluarnya fluida panas dari reservoar ke permukaan). III.3.Manifestasi Panasbumi Hochstein dan Browne (2000) mendefinisikan manifestasi panas bumi sebagai ciri – ciri atau kenampakan di permukaan. Secara umum fluida keluar sebagai fase tunggal fluida contohnya mata air panas, kolam air panas, dan 30 fumarol atau akibat dari interaksi antara batuan dengan fluida dan deposisi mineral hidrotermal. Hal ini bergantung pada kenampakan panas yang aktif maupun yang tidak aktif. Manifestasi di permukaan merupakan ekspresi dari sistem panasbumi yang memiliki kenampakan yang variatif. Hal ini dapat mencerminkan tipe reservoar panasbumi dari segi fluida output. Manifestasi permukaan juga dapat digunakan sebagai faktor pengontrol dari temperatur reservoar, tipe fluida dari reservoar, tipe batuan reservoar, dan sumber panas alami. Manifestasi yang muncul tidak di pengaruhi vulkanisme secara langsung di pulau Jawa, yaitu mata air panas Cisolok dan Cisukarame yang terpanaskan oleh limestone (Suryantini dkk., 2005 dalam Setijadji, 2010). Terdapat pula manifestasi berupa lumpur panas di daerah Kuwu, jaraknya sekitar 60 km di timur laut Gunung Ungaran (Setijadji, 2010). Contoh manifestasi panasbumi non-vulkanik di luar Jawa salah satunya adalah mata air panas travertin tipe klorida di Barasanga, Sulawesi Tenggara. Memiliki suhu 48oC dengan pH 7,85. Secara fisik air berwarna jernih, berbau belerang dan berasa asin (Umar, 2015). a. b. Gambar III.3. a. Lubang keluarnya manifestasi mata air panas di Baranga 31 b. Kenampakan travertin yang berkembang secara lateral dan berbentuk lingkaran (Umar, 2015) III.4. Metode Magnetotelurik Metode magnetotelurik (MT)merupakan metode sounding yang mengukur medan elektromagnetik (EM) alam yang terinduksi dari arus magnetosperik atau ionosperik (Cagniard, 1953). Metode MT memanfaatkan sumber gelombang elektromagnetik di alam dengan frekuensi antara 10-4Hz hingga 104Hz (Vozoff, 1990). Pada metode magnetotelurik, medan elektromagnetik alam digunakan untuk menginvestigasi struktur konduktivitas dibawah permukaan bumi (Cagniard, 1953). Frekuensi di atas 1 Hz secara umum berasal dari medan yang ditimbulkan oleh petir dan memiliki jangkauan radiasi medan yang luas(Berktold, 1983; Vozoff, 1990). Penggunaan frekuensi ini dikenal sebagai AudioMagnetotelurik (AMT). Sedangkan untuk frekuensi dibawah 1 Hz umumnya berasal dari arus pada magnetosfer akibat dari aktivitas matahari atau solar wind(Cagniard, 1953; Hoover dan Long, 1979). Semakin kecil frekuensi yang digunakan, maka informasi kedalaman yang diperoleh semakin dalam, bahkan dapat mencapai kedalaman hingga ribuan meter (misal, Berdichevsky, 2008; Niasari, 2015). Informasi mengenai konduktivitas medium dalam data MT diperoleh dari penyelesaian persamaan Maxwell. Penyelesaian ini menjadi dasar metode MT dan telah dikaji secara terpisah oleh Rikitake (1946), Tikhonov (1950), Price (1950), Kato dan Kikuchi (1950), Cagniard (1953) dan Wait (1954). Berdasarkan Tikhonov (1950) dan Cagniard (1953), pengukuran variasi medan listrik (E) dan medan magnet (H) yang saling tegak lurus akan 32 menghasilkan impedansi (perbandingan E dan H). Impedansi menggambarkan sifat kelistrikan bawah permukaan bumi (Tikhonov 1950; Cagniard, 1953), dirumuskan sebagai berikut: Z xy= Ex =√ i ω μo ρ Hy (3.1) Z yx = Ey =−√ i ω μ o ρ Hx (3.2) dimana, Z merupakan impedansi, sedangkan x dan y arah secara respektif. Impedansi dapat pula dinyatakan sebagai besaran resistivitas ρ dan fasa φ , dapat dituliskan sebagai berikut: (3.3) 2 |Z ij| ρ= ω μo φij =tan−1 Dimana, ℑ [ Zij ] (3.4) ℜ [ Z ij ] ω=2 πf dan μo merupakan permitivitas magnetik. Dalam memperkirakan kedalaman penetrasi atau kedalaman investigasi gelombang EM menggunakan besaran skin depth δ . Dapat dirumuskan sebagai berikut: √ 2ρ δ= ω μo (3.5) Model 1-D direpresentasikan darinilai resistivitas terhadap kedalaman. Model yang digunakan terdiri dari beberapa lapisan yang memiliki resistivitas konstan atau homogen dan isotropis (Tikhonov,1950; Cagniard, 1953). Parameter model 33 berupa resistivitas tiap lapisan dengan lapisan terakhir medium homogen (Vozoff, 1990). Pada medium homogen (1-D) komponen-komponen diagonal dari tensor impendasi bernilai nol Z xx =Z yy =0 dan Z xy =−Z yx=Z . Sehingga impedansi pada model 1-D dapat dituliskan: [ ][ ][ ] Ex 0 Z1D H x = E y −Z 1 D 0 H y (3.6) Gambar III.4. Model 1-dimensi yang terdiri dari n-lapisan. Parameter model adalah resistivitas ρ dan ketebalan h tiap lapisan. Lapisan terakhir di asumsikan memiliki (modifikasi dari Vozoff, 1990) ketebalan tak terhingga III.5. Konduktivitas Listrik pada Batuan Konduktivitas (σ) atau resistivitas (ρ= 1/σ) merupakan kemampuan suatu medium untuk dilalui muatan listrik. Aliran arus listrik di dalam batuan dan mineral dapat di golongkan menjadi tiga macam, yaitu konduksi secara elektronik, konduksi secara elektrolitik, dan konduksi secara dielektrik (Caldwell dkk., 1986). 34 Konduksi secara elektronik terjadi jika batuan atau mineral memiliki elektron bebas dalam jumlah besar sehingga arus listrik di alirkan dalam batuan atau mineral oleh elektron-elektron bebas tersebut. Aliran listrik ini juga di pengaruhi oleh karakteristik masing-masing batuan yang di lewatinya. Salah satu karakteristik batuan tersebut adalah resistivitas. Semakin besar nilai resistivitas suatu bahan maka semakin sulit bahan tersebut menghantarkan arus listrik, begitu pula sebaliknya. Resistivitas memiliki pengertian yang berbeda dengan resistansi (hambatan), dimana resistansi tidak hanya bergantung pada bahan tetapi juga bergantung pada faktor geometri atau bentuk bahan tersebut, sedangkan resistivitas tidak bergantung pada faktorgeometri (Caldwell dkk., 1986). Sebagian besar batuan merupakan konduktor yang buruk dan memiliki resistivitas yang sangat tinggi. Namun pada kenyataannya batuan biasanya bersifat porous dan memiliki pori-pori yang terisi oleh fluida, terutama air. Seperti pada umumnya daerah panasbumi. Akibatnya batuan-batuan tersebut menjadi konduktor elektrolitik, dimana konduksi arus listrik dibawa oleh ion-ion elektrolitik dalam air. Konduktivitas dan resistivitas batuan porous bergantung pada volume dan susunan pori-porinya. Konduktivitas akan semakin besar jika kandungan air dalam batuan bertambah banyak, dan sebaliknya resistivitas akan semakin besar jika kandungan air dalam batuan berkurang (Caldwell dkk., 1986). Menurutrumus Archie (1942): ρ=a ρw ϕ−m S−n w (3.7) 35 dimana ρ adalah resistivitas batuan, ϕ adalah porositas, S adalah fraksi pori- pori yang berisi air, dan ρw adalah resistivitas air. Sedangkan a, m, dan n adalah konstanta. m disebut juga faktor sementasi. Konduksi secara dielektrik terjadi jika batuan atau mineral bersifat dielektrik terhadap aliran arus listrik, artinya batuan atau mineral tersebut mempunyai elektron bebas sedikit, bahkan tidak samasekali. Elektron dalam batuan berpindah dan berkumpul terpisah dalam inti karena adanya pengaruh medan listrik di luar, sehingga terjadi polarisasi. Peristiwa ini tergantung pada konduksi dielektrik batuan yang bersangkutan (Caldwell dkk., 1986). Gambar III.5. Batuan permeabel pada daerah panas bumi, pori-pori yang diisi oleh fluida salin (biru). Mekanisme konduksi ionik dapat disebabkan pori konduksi fluida, konduksi permukaan, atau konduksi mineral (dimodifikasi dari Hersir and Arnason, 2012) Menurut Caldwell dkk., (1986) dalam lingkungan panasbumi variabel yang mempengaruhi konduktivitas batuan selain porositas batuan, resistivitas dan 36 saturasi fluida yang terkandung, juga suhu, salinitas dan mineral alterasi (jika ada). Ussher dkk., (2000) menambahkan bahwa zona konduktiv pada sistem panasbumi terbukti memiliki korelasi kuat dengan suhu antara 70 oC hingga 200oC. Hal ini disebabkan suhu dan kelimpahan clay konduktiv (smektit) yang merupakan produk alterasi pada suhu tersebut. Meskipun demikian, konduktivitas batuan tidak hanya bergantung pada permeabilitas dari pori-pori yang terisi fluida panas, tetapi juga bergantung pada permeabilitas yang dikontrol oleh rekahan, retakan dan urat. Sedangkan dalam memetakan distribusi rekahan, retakan dan urat secara detail menggunakan metode geofisika masih sulit (Berktold, 1983).