Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Dasar Teori
II.1.1. Proses Perpindahan Panas
Panas adalah salah satu bentuk energi yang dapat dipindahkan dari suatu tempat ke
tempat lain, tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan sama sekali. Dalam suatu
proses, panas dapat mengakibatkan terjadinya kenaikan suhu suatu zat atau perubahan
tekanan, reaksi kimia dan kelistrikan (Purba, 2013).
Proses terjadinya perpindahan panas dapat dilakukan secara langsung dan tidak
langsung. Proses perpindahan panas secara langsung terjadi ketika fluida yang panas akan
bercampur secara langsung dengan fluida dingin tanpa terjadi pemisah. Sedangkan dalam
proses perpindahan panas secara tidak langsung terjadi ketika fluida panas dan fluida
dingin tidak berhubungan langsung tetapi dipisahkan oleh sekat-sekat pemisah (Purba,
2013). Pada umumnya perpindahan panas dapat berlangsung melalui 3 cara yaitu :

1. Konduksi
Konduksi merupakan proses perpindahan panas antara molekul-molekul yang saling
berdekatan antar yang satu dengan yang lainnya dan tidak diikuti oleh perpindahan
molekul-molekul tersebut secara fisik. Panas dipindahkan sebagai energi kinetik dari
suatu molekul ke molekul lainnya, tanpa molekul tersebut berpindah tempat. Cara ini
nyata sekali pada zat padat (Purba, 2013).
Daya hantar panas konduksi (k) tiap zat berbeda-beda. Daya hantar yang tinggi disebut
dengan penghantar panas (konduktor), sedangkan daya hantar yang rendah disebut
penyekat panas (isolator) (Purba, 2013).
Menurut Kern (1983), proses perpindahan panas yang mengikuti aliran ini dapat
dituliskan persamaannya sebagai berikut :
qx
dT
 K
A
dx

Keterangan :
qx = Laju Perpindahan Panas ke Arah x (watt)
A = Luas Perpindahan Panas (Luas Tegak Lurus Arah Perpindahan Panas)
k = Thermal Conductivity Bahan (W/m oK)
2. Konveksi

II-1

maka bentuk pengangkutan kalor ini hanya terdapat pada zat cair dan gas. Karena konveksi hanya dapat terjadi melalui zat yang mengalir. Jadi dalam proses ini struktur bagian dalam bahan kurang penting. Keadaan permukaan dan keadaan sekelilingnya serta kedudukan permukaan itu adalah yang utama. Suatu energi dapat dihantarkan dari suatu tempat ke tempat lainnya (dari benda panas ke benda yang dingin) dengan pancaran gelombang elektromagnetik dimana tenaga elektromagnetik ini akan berubah menjadi panas jika terserap oleh benda yang lain. Panas dipancarkan Laboratorium Proses Pemisahan dengan II Perpindahan Massa Program Studi D3 Teknik Kimia FTI . karena massa yang akan dipanaskan tidak sekaligus dibawa ke suhu yang sama tinggi. Oleh karena itu bagian yang paling banyak atau yang pertama dipanaskan memperoleh massa jenis yang lebih kecil daripada bagian massa yang lebih dingin. Menurut Kern (1983). keadaan kesetimbangan termodinamika di dalam bahan akibat proses konduksi. Perpindahan kalor dengan jalan konveksi dalam industri kimia merupakan cara pengangkutan kalor yang paling banyak dipakai. Pada pemanasan zat ini terjadi aliran. 2011). Perpindahan panas secara konveksi dapat dinyatakan dengan persamaan berikut : q = h A (Tw-Tf) Keterangan : h = Koefisien perpindahan panas konveksi (W/m2.  Forced convection. Lazimnya.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II-2 Konveksi adalah proses perpindahan panas dengan gerak dari zat yang dipanaskan. perpindahan panas secara konveksi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu:  Natural atau free convection. Dalam hal ini terdapat keadaan suhu tidak setimbang diantara bahan dengan sekelilingnya (Handy. dimana pergerakan medium disebabkan oleh adanya perbedaan densitas atau temperatur dari medium tersebut. Proses konveksi hanya terjadi di permukaan bahan. dimana pergerakan medium disebabkan oleh adanya bantuan tenaga dari luar misalnya pengadukan. 2011).ITS . Sebagai akibatnya terjadi sirkulasi. sehingga kalor akhimya tersebar pada seluruh zat (Handy. 0K) Tw = Suhu Dinding yang Berkontak dengan Fluida (0K) Tf = Suhu Fluida Rata-Rata (0K) A = Luas Area atau Dinding (m2) 3. Radiasi Radiasi adalah proses perpindahan panas tanpa melalui media. suhu permukaan bahan akan berbeda dari suhu sekelilingnya.

Cooler Alat penukar kalor ini digunakan untuk mendinginkan cairan atau gas dengan mempergunakan air sebagai media pendingin. Media pendingin yang dipakai biasanya air atau udara. Temperatur fluida hasil pendinginan didalam chiller yang lebih rendah bila dibandingkan dengan fluida pendinginan yang dilakukan dengan pendingin air. 2013). 2.2. Laboratorium Proses Pemisahan dengan II Perpindahan Massa Program Studi D3 Teknik Kimia FTI . Jenis-Jenis Alat Penukar Kalor Berdasarkan fungsinya. Untuk chiller ini media pendingin biasanya digunakan amonia atau freon (Anonim. sehingga berubah fasa menjadi cairan. lalu diembunkan menjadi kondensat (Anonim. Perpindahan seperti ini tidak memerlukan zat antara atau media (Purba.0K4) ε = Emissivity (bernilai 1 untuk benda hitam) A = Luas Permukaan Benda (Geankoplis.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II-3 dalam bentuk gelombang elektromagnetik. 2013). 2013). Uap atau campuran uap akan melepaskan panas atent kepada pendingin.676 x 10-8 W/m2. 3. Adapun langkah-langkah perpindahan panas secara radiasi adalah sebagai berikut :  Energi panas dari sumber (misal T1) diubah menjadi gelombang radiasi elektromagnetik. misalnya pada pembangkit listrik tenaga uap yang mempergunakan condensor turbin. 2003) II.1. Chiller Alat penukar kalor ini digunakan untuk mendinginkan fluida sampai pada temperatur yang rendah.  Gelombang elektromagnetik bergerak melalui ruangan dalam garis lurus dan mengenai benda dingin atau receiver (misal T2). alat penukar kalor dapat digolongkan sebagai berikut : 1. maka uap bekas dari turbin akan dimasukkan kedalam kondensor. Perpindahan panas secara radiasi dapat dinyatakan dalam persamaan berikut : Keterangan : = Konstanta Boltzman (5.ITS .  Gelombang elektromagnetik diserap oleh benda kedua dan diubah kembali menjadi energi panas. Disini tidak terjadi perubahan fasa. Kondensor Alat penukar kalor ini digunakan untuk mendinginkan uap atau campuran uap.

Dimana pada alat ini menjadi proses evaporasi (penguapan) suatu zat dari fasa cair menjadi uap.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II-4 dengan perkembangan teknologi dewasa ini maka pendingin cooler mempergunakan media pendingin berupa udara dengan bantuan fan (Anonim. 2011). 6.ITS . 2013). 2013). Reboiler Alat penukar kalor ini berfungsi mendidihkan kembali (reboil) serta menguapkan sebagian cairan yang diproses. biasanya bahan permukaan pemisah dipilih dari bahan-bahan yang memiliki konduktivitas termal yang tinggi seperti tembaga dan aluminium. Contohnya adalah clinker cooler dimana antara clinker yang panas dengan udara pendingin berkontak langsung. Tipe Kontak Langsung Tipe kontak langsung adalah tipe alat penukar kalor dimana antara dua zat yang dipertukarkan energinya dicampur atau dikontakkan secara langsung. Yang dimanfaatkan alat ini adalah panas laten dan zat yang digunakan adalah air atau refrigerant cair (Anonim. Dengan demikian ciri khas dari penukar kalor seperti ini (kontak langsung) adalah bahwa kedua zat yang dipertukarkan energinya saling berkontak secara langsung (bercampur) dan biasanya kapasitas energi yang dipertukarkan relatif kecil (Handy. Untuk meningkatkan efektivitas pertukaran energi. Adapun media pemanas yang sering digunakan adalah uap atau zat panas yang sedang diproses itu sendiri (Anonim. Tipe Tidak Kontak Langsung Tipe tidak kontak langsung adalah tipe alat penukar kalor dimana antara kedua zat yang dipertukarkan energinya dipisahkan oleh permukaan bidang padatan seperti dinding pipa. Evaporator Alat penukar kalor ini digunakan untuk penguapan cairan menjadi uap. 2013). 2013). Bedanya dengan yang kontak langsung adalah masalah luas Laboratorium Proses Pemisahan dengan II Perpindahan Massa Program Studi D3 Teknik Kimia FTI . alat penukar kalor terdiri atas : 1. Suhu yang masuk dan keluar kedua jenis fluida diatur sesuai dengan kebutuhannya (Anonim. Heat Exchanger Alat penukar kalor ini bertujuan untuk memanfaatkan panas suatu aliran fluida yang lain. 2. Maka akan terjadi dua fungsi sekaligus yaitu memanaskan fluida dan mendinginkan fluida yang panas. 5. Dengan demikian mekanisme perpindahan kalor dimulai dari zat yang lebih tinggi temperaturnya mula-mula mentransfer energinya ke permukaan pemisah untuk kemudian diteruskan ke zat yang berfungsi sebagai pendingin atau penerima energi. 4. pelat. Sedangkan berdasarkan proses perpindahan panas yang terjadi. dan lain sebagainya sehingga antara kedua zat tidak tercampur.

Kelas R yaitu untuk peralatan yang bekerja dengan kondisi berat. Double pipe heat exchanger merupakan penukar panas yang digunakan ketika tingkat aliran dari cairan dan tugas panas kecil (Monaliza. mengalir dengan arah yang sama. dimana satu fluida mengalir lewat pipa dalam sedangkan fluida yang satu lagi mengalir lewat anulus antara pipa dalam dan pipa luar.3. kedua fluida (dingin dan panas) masuk pada sisi heat exchanger yang sama. Berdasarkan arah alirannya dalam double pipe heat exchanger. Pada jenis kontak langsung luas permukaan perpindahan kalor sangat tergantung pada luas kontak antara kedua zat. t1 T1 T1 T2 T2 t2 Laboratorium Proses Pemisahan dengan II Perpindahan Massa Program Studi D3 Teknik Kimia FTI . 2012).ITS . temperatur fluida dingin yang keluar dari heat exchanger tidak dapat melebihi temperatur fluida panas yang keluar. II. Kalor mengalir dari fluida yang bertemperatur tinggi ke fluida bertemperatur rendah. Sedangkan berdasarkan konstruksinya. sedangkan fluida dengan suhu tinggi mengalir pada pipa yang lebih besar (pipa anulus). sehingga diperlukan media pendingin atau media pemanas yang banyak (Fahrudin. 2013). dengan didasarkan pada segi ekonomis dan ukuran kecil. digunakan untuk proses-proses umum industri (Anonim. 2011). Double Pipe Heat Exchanger Double pipe heat exchanger merupakan bentuk heat exchanger yang paling sederhana yang tersusun atas dua pipa konsentris. Karakter heat exchanger jenis ini. Perpindahan kalor yang terjadi pada fluida adalah proses konveksi. Kelas C yaitu yang dibuat untuk general purpose. Fluida yang memiliki suhu lebih rendah (fluida pendingin) mengalir melalui pipa kecil. misalnya untuk industri minyak dan kimia berat.1. terdapat dua macam kelas heat exchanger. yaitu : 1. heat exchanger terdiri atas : 1. dan keluar pada sisi yang sama. Jenis-Jenis Heat Exchanger Didalam standar mekanik TEMA. 2010). sedangkan pada tipe tidak kontak langsung luas permukaan sama dengan luas permukaan yang memisahkan kedua zat (Handy. sedangkan proses konduksi terjadi pada dinding pipa. Penukar kalor terdiri dari beberapa lintasan yang disusun vertikal. 2.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II-5 permukaan transfer energi. jenisnya terdiri atas :  Aliran Searah (Co-Current atau Parallel Flow) Pertukaran panas jenis ini.

walaupun shell dengan jumlah shell-side pass yang lebih dari dua jarang digunakan. Kepingan tube dilas ke shell.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II-6 Gambar II. Fungsi baffle adalah untuk memperluas dan memperlama kontak antara fluida sisi shell dan tube sehingga kontak lebih efektif transfer panasnya. Clearance antara tube paling luar dan shell adalah kepentingan minimum dalam fabrikasi.ITS . dimana operasinya di bawah kondisi vakum. Konstruksi ini memiliki ciri shell dan tube sheet materialnya harus bisa dilas satu sama lain. maka ditambahkan sebuah blind gasket. Aliran Fluida dalam Double Pipe Heat Exchanger Co-Current  Aliran Berlawanan (Counter Current) Heat exchanger jenis ini memiliki karakteristik yaitu kedua fluida (panas dan dingin) masuk ke heat exchanger dengan arah berlawanan. Sedangkan fluida dari tube yang dipasang paralel (Very.2. Ketika pengelasan tidak memungkinkan. Tube biasa mengisi dengan sempurna shell dari heat exchanger. Shell and tube heat exchanger dibagi atas beberapa tipe yaitu :  Fixed Tube Sheet Heat Exchanger Merupakan tipe yang paling sering digunakan. 2013). Blind gasket ini tidak dibolehkan untuk perawatan atau menggantikan unit yang telah dibangun. Aliran fluida dari shell masuk ke sisi luar tube dengan arah yang silang dan turbulen karena adanya baffle (penghalang). Tidak ada batasan untuk jumlah tube-side pass. 2010). mengalir dengan arah berlawanan dan keluar heat exchanger pada sisi yang berlawanan (Fahrudin. Laboratorium Proses Pemisahan dengan II Perpindahan Massa Program Studi D3 Teknik Kimia FTI . Aliran Fluida dalam Double Pipe Heat 1Exchanger Counter Current 2. 2012). Shell and tube Heat Exchanger Shell and tube heat exchanger adalah penukar panas yang terdiri dari bagian luar (shell) dan bagian dalam (tube).1. beberapa clearance tambahan diperlukan sehingga baffles bisa meluncur ke dalam shell (Ridwan. Antara bagian dalam shell dan baffles. t1 T1 T1 t2 T2 t2 T2 t Gambar II. Tube-side pass boleh satu atau lebih. Konstruksi ini digunakan untuk condenser permukaan steam.

Sebuah saluran tunggal dikerjakan dengan pemisahan agar fluida tube dapat masuk atau keluar dari saluran yang sama. Gambar II. ketika kedua passes. bagian luar tube tidak mudah dicapai untuk pemeriksaan atau pembersihan mekanis. dimana aliran fluida shell melewati bagian luar tube. Ini dapat dikelilingi.4. Fixed Tube Heat Exchanger with Integral Chanel  Fixed Tube 1-2 Exchanger Exchanger jenis ini beroperasi dalam counter flow. Ilustrasi floating head mengurangi masalah perluasan diferensial dalam kebanyakan kasus dan Laboratorium Proses Pemisahan dengan II Perpindahan Massa Program Studi D3 Teknik Kimia FTI .ITS . Floating head cover adalah baut untuk tube sheet dan seluruh bundle dapat ditarik dari ujung saluran.3. sangat sulit mendapatkan kecepatan tinggi ketika satu fluida mengalir melalui seluruh tube dalam single pass. Masalah ekspansi dalam 1-2 fixed tube sheet exchanger sangat kritis. Shell ditutup dengan shell bonet. akan tetapi dengan modifikasi design fluida tube dibawa melalui fraksi dari tube yang berurutan. 2013). Bagian dalam tube dapat dibersihkan hanya dengan memindahkan satu saluran tertutup dan menggunakan pembersih rotary atau sikat kawat. Sama dengan semua fixed tube sheet exchanger. sama baiknya dengan shell itu sendiri menyebabkan perbedaan perluasan dan juga menyebabkan stress pada stationary tube sheet (Ridwan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II-7 Gambar II. Fixed 1-2 Exchanger  Removable Bundle Exchanger Terdiri dari stationary tube sheet yang diharuskan berada diantara ujung saluran tunggal dan ujung shell. Dalam prakteknya. 1-2 exchanger adalah exchanger dimana fluida bagian shell mengalir dalam satu shell pass dan fluida tube mengalir dalam dua atau lebih pass.

Heat Balance Berdasarkan Kern (1983).ITS .4. (t1 – t2) Keterangan : Q = Panas yang dilepas oleh fluida panas (kJ/s) q = Panas yang dilepas oleh fluida dingin (kJ/s) W = Laju alir fluida panas (kg/s) w = Laju alir fluida dingin (kg/s) CP = Kapasitas panas untuk fluida panas (kJ/kg 0K) cP = Kapasitas panas fluida dingin (kJ/kg 0K) II. Log Mean Temperature Difference (LMTD) 1. Pabrik-pabrik yang berbeda mempunyai modifikasi design yang berbeda yang bertujuan untuk menyediakan peningkatan permukaan diseluruh pull through floating head dalam ukuran shell yang sama (Ridwan.1. 1983. Aliran Counter Current Berdasarkan Kern.1. Pembautan tidak hanya mengurangi angka tube yang mungkin diletakkan dalam tube bundle tapi juga menyediakan aliran antara bundle dan shell. Log Mean Temperature Difference (LMTD) untuk aliran cocurrent dinyatakan dalam persamaan berikut ini : LMTD  (T1  t 1 )  (T2  t 2 ) (T  t ) ln 1 1 (T2  t 2 ) 2.5. menyatakan persamaan neraca panas sebagai berikut : Qh = Qc W CP (T1 – T2) = w cP. Kerugian penggunaan pull through floating head adalah geometri sederhana. Aliran Co-Current Berdasarkan Kern. 1983. Log Mean Temperature Difference (LMTD) untuk aliran counter current dinyatakan dalam persamaan berikut ini : LMTD  (T1  t 2 )  (T2  t 1 ) (T  t ) ln 1 2 (T2  t 1 ) Laboratorium Proses Pemisahan dengan II Perpindahan Massa Program Studi D3 Teknik Kimia FTI . Untuk mengamankan floating head cover dibutuhkan baut untuk tube sheet.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II-8 disebut pull through floating head. II. 2013).

1.  Tidak ada perubahan fase dalam temperatur. yaitu Nusselt number merupakan suatu fungsi dari Reynold number dan Prandtl number. Reynold Number (NRe) NRe = GxD μ 2.  Panas spesifik dalah konstan pada keseluruhan proses. menurut penemuan empirik Sieder dan Tate.  Laju alir massa adalah konstan karena aliran dianggap steady state. Untuk mecari besarnya individual heat transfer biasanya dipergunakan analisa dimensional dari bilangan-bilangan tak berdimensi. II.ITS . meyatakan bahwa penurunan dari perbedaan temperatur antara kedua fluida pada aliran berlawanan berlaku asumsi-asumsi di bawah ini :  Koefisien perpindahan panas total (U) adalah konstan pada keseluruhan proses. Nusselt Number ( NNu ) NNu = hD k 3. antara lain : 1.  Kehilangan panas diabaikan.86  k   DG   cμ   D           μ   k   L  1 3 μ  μw   0. Persamaan Sieder dan Tate untuk Nre < 2100 yaitu :  hiD  1. Individual Heat Transfer Coeffisient Menurut Geankoplis (2003). yaitu penguapan dan kondensasi.14    Laboratorium Proses Pemisahan dengan II Perpindahan Massa Program Studi D3 Teknik Kimia FTI . Prandtl Number (NPr) c NPr = k Pada aliran turbulen.6.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II-9 Berdasarkan Kern (1983). individual heat transfer koefisien adalah koefisien perpindahan panas untuk menyatakan besarnya perpindahan panas antara fluida yang mengalir dalam suatu permukaan dengan permukaan tersebut. Penurunan itu dapat dipakai pada perubahan panas temperatur dan pada saat penguapan atau kondensasi adalah isothermal pada keseluruhan proses. sedangkan aliran laminer dipergunakan faktor koreksi yang sama.

7.8  cμ     k  1 3 0. scale. Velocity air di atas 1 m/s digunakan membantu mereduksi fouling. maka individual heat transfer coeficient aliran dalam pipa harus diubah dengan menggunakan persamaan : Di hio = hi D o Harga OHTC bersih dapat dihitung secara teoritis dari data-data variabel proses yang diketahui dan dari neraca panas sepanjang heat exchanger. II.1. Untuk mencegah atau mengurangi ini fouling masalah inhibitor kimia sering ditambahkan untuk meminimalkan korosi.ITS .s) µw = Viskositas pada saat Temperatur Dinding (Pa. dan deposit lain terbentuk pada salah satu atau kedua sisi tube-tube exchanger serta pada heat-transfer surface lainnya. deposisi garam. Deposit-deposit ini akan resistansi pada aliran dan mereduksi koefisien heat-transfer overall U. kotoran.14  μ  μw     (Kern.027 k  μ  0. 1983) Keterangan : hi = Koefisien Perpindahan Panas Inside Tube (W/m2 0K) G = Kecepatan Massa (Kg/s) D = Diameter Pipa (m) L = Panjang Pipa (m) µb = Viskositas Fluida Pada saat Rata-Rata Temperatur Bulk (Pa.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II-10 Sedangkan untuk Nre > 2100 maka persamaan Sieder dan Tate menjadi : hiD  DG    0.s) cp = Kapasitas Panas (J/kg 0K) k = Konduktivitas Thermal (W/m 0K) NNu = Bilangan Nusselt NRe = Bilangan Reynold NPr = Bilangan Prandtl Karena untuk perhitungan OHTC harus dipergunakan satu harga luas perpindahan panas yang biasanya adalah permukaan luar pipa. Fouling Factor Dalam prakteknya heat transfer surface tidak bersih. Perbedaan temperatur Laboratorium Proses Pemisahan dengan II Perpindahan Massa Program Studi D3 Teknik Kimia FTI . dan pertumbuhan algae.

1983. 1983. ho Uc  hio  ho Gambar II.ITS . C. menyatakan bahwa timbulnya kerak atau kotoran yang menempel pada pipa sehingga perpindahan panas tidak lagi efektif adalah sebagai masalah dalam pengoperasian pada double pipe heat exchanger. Lalu U = Q/A Δt.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II-11 yang tinggi bisa memungkinkan untuk mencegah deposisi solid pada surface (Geankoplis. 2003).J. maka tahanan terhadap proses perpindahan panas makin besar sehingga koefisien perpindahan panas menjadi kecil. Untuk menyatakan hal tersebut maka secara matematis dapat ditulis : 1 1 1   Uc hio ho hio . Abaikan resistensi dinding pipa : 1 1 1  R io  R o   U h io h o U h ho io h  ho io Berdasarkan Kern. Berdasarkan Kern. persamaan Fourier yang menyatakan hubungan antara dua koefisien overall UC dan UD adalah sebagai berikut : 1 1  R d Ud Uc Rd = Rdi + Rdo Keterangan : Pipa dalam hi Laboratorium Proses Pemisahan dengan RII Pipa luar do Rdi Perpindahan Massa hio ho Program Studi D3 Teknik Kimia FTI . 1983. koefisien overall dari perpindahan panas diperlukan untuk memperoleh kondisi proses dapat diperoleh dari persamaan Fourier bila luas permukaan A diketahui dan Q dan Δt dihitung dari proses. Makin tebal kerak tersebut. Lokasi Fouling Factor dan Koefisien Perpindahan Panas Berdasarkan Kern.5.

Agar ΔP yang terjadi tidak berlebihan (Kern. Debit Fluida yang mempunyai debit lebih besar masuk ke pipa yang luas penampangnya lebih besar. atau dapat didefinisikan sebagai berikut : η w c (T1  T2 ) (T1  t1 ) x 100% Rumus tersebut berlaku untuk semua jenis heat exchanger. 1983). maka fluida tersebut sebaiknya masuk ke pipa yang dalam. Laboratorium Proses Pemisahan dengan II Perpindahan Massa Program Studi D3 Teknik Kimia FTI . Jika fluida mempunyai tekanan yang besar. 1983). Dikarenakan untuk faktor ekonomis (Kern. 3. 1965). efisiensi dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara panas yang diberikan dengan panas yang seharusnya dapat diberikan secara maksimum. Jika fluida mempunyai sifat korosif.1.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II-12 UC = Overall Heat Transfer Coefficient dalam Keadaan Bersih (kJ/s m2 0K) UD = Overall Heat Transfer Coefficient dalam Keadaan Kotor (kJ/s m2 oK) Rd = Faktor Kekotoran Gabungan (m2 oK/kJ) Hal-hal yang mempengaruhi letak fluida dalam heat exchanger antara lain : 1. 4. Efisiensi Heat Exchanger Menurut Dodge.ITS . 2. II. 1983). Untuk fluida yang viskositasnya besar masuk ke pipa yang luas penampangnya lebih besar agar ΔP yang terjadi kecil (Kern.8. Dikarenakan untuk faktor ekonomis (Kern. Viskositas Jika nilai NRe suatu fluida tinggi maka viskositas fluida tersebut juga besar. maka fluida tersebut sebaiknya masuk ke pipa yang dalam.

dan sebagainya secara luas digunakan untuk memindahkan panas dari sistem mekanikal. dan sebagainya. propylene glycol. Perpindahan panas pada fluida secara konvensional seperti air. Bagaimanapun. Transfer Electron Microscope (TEM) dan sebagainya. Peneliti mencoba untuk mensintesis bahan dalam ukuran nanometer. Fluida jenis khusus ini disebut “Nano Fluids”. para peneliti menunjukkan perhatian untuk mengembangkan jenis fluida perpindahan panas yang baru untuk memperbesar efisiensi sistem. ethylen glycol. Setelah penemuan mikroskop dengan akurasi yang tinggi seperti Scanning Electron Microscope (SEM). propylane glycol. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengukur Laboratorium Proses Pemisahan dengan II Perpindahan Massa Program Studi D3 Teknik Kimia FTI . Karena mempunyai karakteristik perpindahan panas yang kurang baik. Vijayakumar 2013 II. Pendahuluan Tren moderen dalam miniatur peralatan dan proses intensifikasi mempunyai hasil untuk mengembangkan alternatif dan metode efektivitas panas dari mikro elektronik sistem dan package.ITS . minyak.1.2. Senthilraja dan KCK.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II-13 II. Berbagai peneliti telah meneliti perbedaan teknik perpindahan panas untuk menambah efisiensi sistem perpindahan panas.2. Metode perpindahan panas konvensional telah lebih dahulu ditemukan tidaklah cukup menggunakan intesitas heat flux. Aplikasi Industri Analisa Koefisien Perpindahan Panas dari CuO dan Water Nanofluid Menggunakan Double Pipe Heat Exchanger S. fluida konvensional mempunyai sifat perpindahan panas yang tidak baik. etilen glikol. Nano Fluids merupakan jenis fluida baru yang mengandung suspensi partikel dalam ukuran nano dari fluida dasarnya seperti air.

4.ITS .13 mm dengan panjang 1. Perbandingan antara Nusselt number pada fluida nano. Dari hasil penelitian sebelumnya. bahwa semakin tinggi Nusselt number maka reynold number juga semakin tinggi.2.3.2. Hasil percobaan menunjukkan bahwa koefisien perpindahan panas secara konveksi dan Nusselt number dari fluida nano Laboratorium Proses Pemisahan dengan II Perpindahan Massa Program Studi D3 Teknik Kimia FTI . Pemanas dengan daya 2 kW dipasang dalam tangki A untuk memanaskan air. Untuk mengurangi kehilangan panas dari sistem tahap percobaan menggunakan insulasi dengan rockwool.8 mm dengan panjang heat exchanger 1 m. Pipa luar pada tahap percobaan terbuat dari besi galvanisasi dengan diameter luar 33.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II-14 konduktivitas termal dari berbagai fluida nano.2 mm dan diameter dalam 27.2. Dua pompa sentrifugal digunakan untuk mensirkulasikan air pada tahap percobaan. II. Fluida nano disiapkan dengan mendispersikan partikel CuO (27 nm) dalam air deionisasi. Hasil Percobaan Dari hasil percobaan menunjukkan hubungan antara koefisien perpindahan panas secara konveksi dengan Reynold number dimana semakin tinggi koefisien perpindahan panas secara konveksi maka Reynold number juga semakin meningkat. Koefisien perpindahan panas yang paling tinggi mengandung 0. Satu pompa digunakan untuk mensirkulasikan air dingin pada luar pipa dan pompa yang lain digunakan untuk mensirkulasikan air panas pada pipa dalam.53 mm dan diamter dalam 8.3 % volume CuO/ fluida nano air. II. Tipe K thermocouple digunakan untuk mengukur suhu pada temperatur yang masuk dan yang keluar pada sisi pipa.5 m. Metode Penelitian Pengaturan percobaan terdiri atas dua tangki yaitu tangki A dan B dengan kapasitas 10 liter yang digunakan untuk menyimpan air.1. Kesimpulan Koefisien perpindahan panas dari CuO/ fluida nano air yang mengalir pada double pipe parallel flow heat exchanger telah diteliti. fluida nano mempunyai kontrol untuk memperbesar konduktivitas termal dibandingkan dengan fluida dasar. II. Koefisien perpindahan panas pada CuO/ fluida nano air lebih tinggi dibandingkan dengan air yang diberikan pada Reynold number. Bagian pipa dalam terbuat dari copper halus dengan diameter luar 9.

Aplikasi Industri Analisa Koefisien Perpindahan Panas dari CuO dan Water Nanofluid Menggunakan Double Pipe Heat Exchanger S. propylene glycol. Perpindahan panas pada fluida secara konvensional seperti air.1. Department of Mechanical Engineering Kavery College of engineering Mechery. Berbagai peneliti telah meneliti perbedaan teknik perpindahan panas untuk menambah efisiensi sistem perpindahan panas. Senthilraja dan KCK. para peneliti menunjukkan perhatian untuk mengembangkan jenis fluida perpindahan panas yang baru untuk memperbesar efisiensi sistem. Setelah penemuan mikroskop dengan akurasi yang tinggi seperti Scanning Electron Microscope (SEM). etilen glikol. Fluida jenis khusus ini disebut Laboratorium Proses Pemisahan dengan II Perpindahan Massa Program Studi D3 Teknik Kimia FTI . Pendahuluan Tren moderen dalam miniatur peralatan dan proses intensifikasi mempunyai hasil untuk mengembangkan alternatif dan metode efektivitas panas dari mikro elektronik sistem dan package.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II-15 bertambah dibandingkan dengan air. fluida konvensional mempunyai sifat perpindahan panas yang tidak baik. Bagaimanapun. Vijayakumar Faculty.ITS . Metode perpindahan panas konvensional telah lebih dahulu ditemukan tidaklah cukup menggunakan intesitas heat flux.2. India 2013 II. Karena mempunyai karakteristik perpindahan panas yang kurang baik. Transfer Electron Microscope (TEM) dan sebagainya. II.2. dan sebagainya secara luas digunakan untuk memindahkan panas dari sistem mekanikal. Peneliti mencoba untuk mensintesis bahan dalam ukuran nanometer. Pertambahan dari fluida nano secara langsung berdampak pada volume konsentrasi partikel.

II. II. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengukur konduktivitas termal dari berbagai fluida nano. dan sebagainya. Tipe K thermocouple digunakan untuk mengukur suhu pada temperatur yang masuk dan yang keluar pada sisi pipa. ethylen glycol. Hasil Percobaan Dari hasil percobaan menunjukkan hubungan antara koefisien perpindahan panas secara konveksi dengan Reynold number dimana semakin tinggi koefisien perpindahan panas secara konveksi maka Reynold number juga semakin meningkat. minyak.3. Bagian pipa dalam terbuat dari copper halus dengan diameter luar 9.13 mm dengan panjang 1. Dari hasil penelitian sebelumnya. Perbandingan antara Nusselt number pada fluida nano.4.5 m. Untuk mengurangi kehilangan panas dari sistem tahap percobaan menggunakan insulasi dengan rockwool.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II-16 “Nano Fluids”.1.2.2 mm dan diameter dalam 27. Dua pompa sentrifugal digunakan untuk mensirkulasikan air pada tahap percobaan.ITS . Satu pompa digunakan untuk mensirkulasikan air dingin pada luar pipa dan pompa yang lain digunakan untuk mensirkulasikan air panas pada pipa dalam.2.53 mm dan diamter dalam 8. Nano Fluids merupakan jenis fluida baru yang mengandung suspensi partikel dalam ukuran nano dari fluida dasarnya seperti air. bahwa semakin tinggi Nusselt number maka reynold number juga semakin tinggi. II. Koefisien perpindahan panas pada CuO/ fluida nano air lebih tinggi dibandingkan dengan air yang diberikan pada Reynold number.8 mm dengan panjang heat exchanger 1 m.2. Pemanas dengan daya 2 kW dipasang dalam tangki A untuk memanaskan air. Kesimpulan Koefisien perpindahan panas dari CuO/ fluida nano air yang mengalir pada double pipe parallel flow heat exchanger telah diteliti. Metode Penelitian Pengaturan percobaan terdiri atas dua tangki yaitu tangki A dan B dengan kapasitas 10 liter yang digunakan untuk menyimpan air. Pipa luar pada tahap percobaan terbuat dari besi galvanisasi dengan diameter luar 33. propylane glycol. Fluida nano disiapkan dengan Laboratorium Proses Pemisahan dengan II Perpindahan Massa Program Studi D3 Teknik Kimia FTI . Koefisien perpindahan panas yang paling tinggi mengandung 0.3 % volume CuO/ fluida nano air. fluida nano mempunyai kontrol untuk memperbesar konduktivitas termal dibandingkan dengan fluida dasar.

ITS . Hasil percobaan menunjukkan bahwa koefisien perpindahan panas secara konveksi dan Nusselt number dari fluida nano bertambah dibandingkan dengan air. Pertambahan dari fluida nano secara langsung berdampak pada volume konsentrasi partikel. Laboratorium Proses Pemisahan dengan II Perpindahan Massa Program Studi D3 Teknik Kimia FTI .BAB II TINJAUAN PUSTAKA II-17 mendispersikan partikel CuO (27 nm) dalam air deionisasi.