Anda di halaman 1dari 18

1

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan mata kuliah Manajemen Kota yang
berjudul Urban Heritage Management.
Selama proses penulisan laporan ini banyak mendapatkan bantuan dari pihak-pihak lain
sehingga laporan ini dapat terselesaikan dengan optimal. Pada Kesempatan ini penulis
menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan tugas ini yaitu:
-

Dr. Ing. Ir. Haryo Sulistyarso Sebagai dosen mata kuliah Manajemen Kota yang telah
membimbing kami dalam menyelesaikan laporan ini serta memberikan ilmu dan
saran yang sangat bermanfaat;

Putu Gde Ariastita, ST., MT, Sebagai dosen mata kuliah Manajemen Kota yang telah
membantu kami dan memberikan banyak masukan dan saran yang bermanfaat
dalam menyelesaikan tugas ini;

Serta semua pihak yang telah membantu dalam kelancaran penyelesaian tugas ini yang
tidak dapat disebutkan satu per satu.
Penulis berharap laporan ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan pembaca.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Akhir kata kami ucapkan
terimakasih.

Surabaya, 29 Februari 2016

Tim Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................................................................................................... 2
DAFTAR ISI ............................................................................................................................................................................................. 3
1

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................................................................... 5


1.1

Latar Belakang .............................................................................................................................................................. 5

1.2

Tujuan Penulisan ......................................................................................................................................................... 5

1.3

Sistematika Pembahasan ..................................................................................................................................... 5

BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................................................................................... 7


2.1

Cagar Budaya / Urban Heritage .................................................................................................................... 7

2.1.1

Definisi Cagar Budaya........................................................................................................................................ 7

2.1.2

Kebijakan Cagar Budaya di Indonesia .................................................................................................. 7

2.1.3

Jenis-jenis Cagar Budaya ............................................................................................................................... 7

2.2

Pengelolaan Cagar Budaya / Urban Heritage Management .................................................8

2.2.1

Definisi Urban Heritage Management ..................................................................................................8

2.2.2

Upaya Urban Heritage Management ....................................................................................................8

2.2.3

Peran dalam Urban Heritage Management ................................................................................. 10

2.2.4

Masalah dalam Urban Heritage Management ........................................................................... 10

2.3

Pengelolaan Cagar Budaya di Kota Surabaya .................................................................................. 11

2.3.1

Cagar Budaya di Kota Surabaya.............................................................................................................. 11

2.3.2

Tahapan Pelestarian Cagar Budaya di Kota Surabaya.......................................................... 12

2.3.3

Kriteria Cagar Budaya di Kota Surabaya ........................................................................................... 12

2.3.4

Penggolongan Cagar Budaya di Kota Surabaya .......................................................................14

2.4

Studi Kasus.....................................................................................................................................................................15

BAB III DISKUSI ......................................................................................................................................................................17

BAB IV PENUTUP ............................................................................................................................................................... 18


4.1

Kesimpulan ................................................................................................................................................................... 18

4.2

Rekomendasi............................................................................................................................................................... 18

1 BAB I PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Cagar Budaya merupakan kekayaan bangsa yang penting artinya bagi pemahaman dan
pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, sehingga perlu di lindungi
dan di lestarikan demi pemupukan kesadaran jati diri bangsa, daerah dan kepentingan
nasional. Pentingnya perlindungan dan pelestarian warisan budaya dan sejarah ini juga
menjadi kebutuhan dan tuntutan masyarakat internasional. Pelestarian dalam konteks ini
tidak

hanya

sebatas

memberikan

perlindungan

saja

tetapi

juga

melakukan

pengembangan dan pemanfaatan yang pada akhirnya dapat memberikan peranan dalam
memperkuat pengamalan Pancasila, memperkuat kepribadian bangsa, daerah dan
kebanggaan nasional, memperkukuh persatuan bangsa, meningkatkan kualitas hidup
serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai arah kehidupan bangsa. Usaha ini
tidaklah cukup apabila tidak disertai dengan kerja sama berbagai pihak. Oleh sebab itu
keterlibatan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah serta peran masyarakat sangat penting
dalam pelestarian cagar budaya. Selain itu untuk mewujudkan pelestarian warisan budaya
perlu diterapkan sistem pengelolaan yang efisien dan mampu meningkatkan potensi
serta menjadi solusi dari permasalahan cagar budaya yang sekarang ini banyak ditemui.
Maka dari itu, pada makalah ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai seperti apa sistem
pengelolaan cagar budaya ditinjau dari kebijakan yang ada, jenis-jenis upaya yang
mungkin dilakukan, serta penerapannya di Indonesia.

1.2 Tujuan Penulisan


-

Memahami konsepsi pengelolaan cagar budaya dan mengenal kasus-kasus terkait


urban heritage management.

Mahasiswa memahami berbagai strategi penanganan permasalahan cagar budaya

Mahasiswa dapat menyusun usulan penanganan permasalahan cagar budaya

1.3 Sistematika Pembahasan


BAB I PENDAHULUAN: Pada bab ini akan dijelaskan latar belakang, tujuan, manfaat, dan
sistematika penulisan makalah.
BAB II PEMBAHASAN: Pada bab ini akan dijelaskan mengenai pengelolaan cagar budaya
/ urban heritage management dimulai dari penjelasan cagar budaya, pengelolaan cagar
budaya, praktik pengelolaan di Kota Surabaya, dan studi kasus.

BAB III DISKUSI: Pada bab ini akan dijelaskan mengenai proses diskusi mengenai urban
heritage management selama presentasi dilakukan.
BAB IV: PENUTUP: Pada bab ini akan dijelaskan kesimpulan dan rekomendasi dari
pembahasan urban heritage management secara keseluruhan.

2 BAB II PEMBAHASAN
2.1 Cagar Budaya / Urban Heritage
2.1.1

Definisi Cagar Budaya

Menurut UU No 11 Tahun 2010, cagar budaya adalah warisan budaya berupa benda cagar
budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan
cagar budaya baik di darat maupun di dalam air cagar budaya perlu di lestarikan
keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan,
agama, dan atau kebudayaan melalui proses penetapan.
Menurut UNESCO, cagar budaya adalah sekelompok bangunan yang berhubungan
maupun terpisah, baik secara arsitektural, homogenitas, atau lokasinya yang memiliki nilai
lebih dilihat dari sudut pandang sejarah, seni, maupun budaya.
2.1.2

Kebijakan Cagar Budaya di Indonesia

Pada awalnya peraturan mengenai pelestarian warisan/cagar budaya diatur dalam UU


No. 5 Tahun 1992 Tentang Cagar Budaya. Namun seiring berjalannya waktu kebijakan
tersebut dinilai sudah tidak bisa lagi memenuhi tuntutan pelestarian warisan budaya yang
terus terancam oleh pembangunan yang tidak lagi memperhatikan nilai budaya dan dapat
menghilangkan jati diri bangsa dan daerah. Sehingga pada tanggal 24 November 2010
lahirlah undang-undang baru yaitu UU No. 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya untuk
menciptakan tatanan yang baru dalam usaha pemerintah untuk melestarikan warisan
budaya bangsa ini. Dengan disahkannya undang-undang tersebut dapat terlihat
bagaimana keseriusan pemerintah dalam melestarikan warisan budaya dengan
membentuk payung hukum yang jelas dan pasti.
Adapun selain undang-undang tersebut, masing-masing daerah juga memiliki ketentuan
dan peraturan terkait cagar budayanya masing-masing. Hal ini dikarenakan masingmasing cagar budaya di setiap daerah memiliki ciri dan karakteristik yang berbeda
sehingga cara penanganan dan pengelolaannya pun tidak bisa diseragamkan.
2.1.3

Jenis-jenis Cagar Budaya

Cagar budaya memiliki bentuk dan jenis yang beragam. Adapun dibawah ini adalah
beragam jenis-jenis cagar budaya:

Benda cagar budaya adalah benda alam dan/atau benda buatan manusia, baik
bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan kelompok, atau bagianbagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan
dan sejarah perkembangan manusia.

Bangunan cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau
benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau
tidak berdinding, dan beratap.

Struktur cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam
dan/atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yang
menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk menampung kebutuhan
manusia.

Situs cagar budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang
mengandung benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, dan/atau struktur
cagar budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu.

Kawasan / lingkungan cagar budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki
dua situs cagar budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau
memperlihatkan ciri tata runag yang khas.

2.2 Pengelolaan Cagar Budaya / Urban Heritage Management


2.2.1

Definisi Urban Heritage Management

Pengelolaan

adalah

upaya

terpadu

untuk

melindungi,

mengembangkan,

dan

memanfaatkan Cagar Budaya melalui kebijakan pengaturan perencanaan, pelaksanaan,


dan pengawasan untuk sebesarbesarnya kesejahteraan rakyat.
Adapun tujuan dari pelestarian cagar budaya yaitu:
-

melestarikan warisan budaya bangsa dan warisan umat manusia;

meningkatkan harkat dan martabat bangsa melalui cagar budaya;

memperkuat kepribadian bangsa;

meningkatkan kesejahteraan rakyat

mempromosikan warisan budaya bangsa kepada masyarakat internasional.

2.2.2

Upaya Urban Heritage Management

Pengelolaan cagar budaya dilakukan melalui beberapa upaya diantaranya adalah:


pelestarian, pemanfaatan, perbanyakan, perlindungan dan pengembangan.
-

Pelestarian

Pengelolaan adalah upaya terpadu untuk melindungi, mengembangkan, dan


memanfaatkan Cagar Budaya melalui kebijakan pengaturan perencanaan,
pelaksanaan, dan pengawasan untuk sebesarbesarnya kesejahteraan rakyat.
-

Pemanfaatan
Pemanfaatan adalah pendayagunaan cagar budaya untuk kepentingan sebesarbesarnya kesejahteraan rakyat dengan tetap mempertahankan kelestariannya

Perbanyakan
Perbanyakan adalah kegiatan duplikasi terhadap benda cagar budaya, bangunan
cagar budaya, atau struktur cagar budaya, baik seluruh maupun bagian
bagiannya, untuk menunjang publikasi benda cagar budaya, bangunan cagar
budaya, atau struktur cagar budaya, keluar daerah

Perlindungan
Pelindungan adalah upaya mencegah dan menanggulangi dari kerusakan,
kehancuran, atau kemusnahan dengan cara Penyelamatan, Pengamanan, Zonasi,
Pemeliharaan, dan Pemugaran Cagar Budaya.
Beberapa hal yang dilakukan untuk upaya perlindungan di antara lain:
Penyelamatan adalah upaya menghindarkan dan/atau menanggulangi Cagar
Budaya dari kerusakan, kehancuran, atau kemusnahan.
Pengamatan adalah upaya menjaga dan mencegah Cagar Budaya dari ancaman
dan/atau gangguan.
Zonasi adalah penentuan batas-batas keruangan Situs Cagar Budaya dan Kawasan
Cagar Budaya sesuai dengan kebutuhan.
Pemeliharaan adalah upaya menjaga dan merawat agar kondisi fisik Cagar Budaya
tetap lestari.
Pemugaran adalah upaya pengembalian kondisi fisik Benda Cagar Budaya,
Bangunan Cagar Budaya, dan Struktur Cagar Budaya yang rusak sesuai dengan
keaslian

bahan,

bentuk,

tata

letak,

dan/atau

teknik

pengerjaan

untuk

memperpanjang usianya.
-

Pengembangan
Pengembangan adalah peningkatan potensi nilai, informasi, dan promosi Cagar
Budaya serta pemanfaatannya melalui Penelitian, Revitalisasi, dan Adaptasi secara
berkelanjutan serta tidak bertentangan dengan tujuan pelestarian.
Penelitian adalah kegiatan ilmiah yang dilakukan menurut kaidah dan metode yang
sistematis untuk memperoleh informasi, data, dan keterangan bagi kepentingan
Pelestarian Cagar Budaya, ilmu pengetahuan, dan pengembangan kebudayaan.

Revitalisasi adalah kegiatan pengembangan yang ditujukan untuk menumbuhkan


kembali nilai-nilai penting Cagar Budaya dengan penyesuaian fungsi ruang baru
yang tidak bertentangan dengan prinsip pelestarian dan nilai budaya masyarakat.
Adaptasi adalah upaya pengembangan Cagar Budaya untuk kegiatan yang lebih
sesuai dengan kebutuhan masa kini dengan melakukan perubahan terbatas yang
tidak akan mengakibatkan kemerosotan nilai pentingnya atau kerusakan pada
bagian yang mempunyai nilai penting.
2.2.3

Peran dalam Urban Heritage Management

Adapun dalam pelaksanaan urban heritage management tidak terlepas dari peran-peran
beberapa pihak diantaranya: pemerintah dan masyarakat pemilik cagar budaya.
Adapun peran pemerintah dalam urban heritage management yaitu:
-

Cagar budaya yang ditelantarkan pemiliknya dapat dikuasai oleh negara

Melakukan perlindungan pengembangan dan pemanfaatan cagar budaya

Menyediakan dana cadangan penyelamatan cagar budaya dalam keadaan darurat

Bertanggungjawab terhadap pengawasan pelestarian cagar budaya

Memfasilitasi pengelolaan kawasan cagar budaya

Mengalokasikan pendanaan pelestarian cagar budaya

Adapun peran masyarakat pemilik cagar budaya yaitu:


-

Wajib menjaga dan merawat cagar budaya dari pencurian, pelapukan, atau
kerusakan baru

Wajib melakukan pengamanan

Wajib memelihara cagar budaya yang dimiliki dan dikuasainya

2.2.4

Masalah dalam Urban Heritage Management

Dalam pelaksanaannya, tentunya masih ditemukan masalah dalam urban heritage


management. Adapun masalah-masalah yang sering muncul dalam pelestarian cagar
budaya yaitu:
-

Konsep pelestarian kawasan cagar budaya belum dipahami masyarakat luas

Penggusuran bangunan cagar budaya di perkotaan

Pembangunan selalu dikatakan menggantikan yang lama

Alih fungsi yang tidak sesuai

Penegakan dan perlindungan hukum masih lemah

10

Masih terdapat beberapa wilayah yang belum memiliki regulasi pengelolaan


kawasan cagar budaya

Belum ada pengelolaan yang terpadu antar stakeholders

Sebagai kawasan lindung tidak masuk dalam RTRW

Belum ada valuasi dan evaluasi untuk pengembangan dan pemanfaatan

2.3 Pengelolaan Cagar Budaya di Kota Surabaya


2.3.1

Cagar Budaya di Kota Surabaya

Cagar budaya pada masing-masing daerah memiliki karakteristik dan jenis yang beragam.
Maka dari itu, karena keberagamannya pengelolaan cagar budaya yang dilakukan pada
tiap daerah tentu berbeda. Setiap pemerintah daerah memberlakukan kebijakannya
masing-masing dalam pengelolaan cagar budaya pada daerahnya.
Di Kota Surabaya sendiri pengelolaan cagar budaya diatur di dalam Peraturan Daerah No
5 Tahun 2005 Tentang Pelestarian Bangunan dan/atau Lingkungan Cagar Budaya. Pada
peraturan ini diatur mengenai cagar budaya berupa bangunan dan/atau lingkungan yang
terdapat

di

Kota

Surabaya.

Peraturan

hanya

dibatasi

pada

pelestarian

bangunan/lingkungan cagar budaya saja dikarenakan di Kota Surabaya hanya terdapat


kedua jenis cagar budaya tersebut.
Adapun pelestarian bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya bertujuan untuk:
-

mempertahankan keaslian bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya yang


mengandung nilai sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan;

melindungi dan memelihara bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya dari


kerusakan yang disebabkan oleh tindakan manusia maupun proses alam;

memanfaatkan bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya sebagai kekayaan


budaya untuk dikelola sebaik-baiknya demi kepentingan dan citra kota serta tujuan
wisata.

Adapun sasaran pelestarian bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya adalah:


-

meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemilik akan pentingnya pelestarian,


perlindungan, dan pemeliharaan bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya;

memberikan dorongan dan dukungan kepada masyarakat untuk berperan serta


dalam upaya pelestarian, perlindungan, pemeliharaan dan pemanfaatan terhadap
potensi bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya untuk kepentingan sejarah,
pengetahuan, kebudayaan, sosial, dan ekonomi.

11

2.3.2

Tahapan Pelestarian Cagar Budaya di Kota Surabaya

Adapun tahapan pelestarian dan pengelolaan cagar budaya di Kota Surabaya secara
administratif adalah sebagai berikut:
a. Tahap Inventarisasi
Inventarisasi dilakukan pada bangunan dan/atau lingkungan yang ditetapkan
dalam rapat kerja di awal tahun. Bangunan cagar budaya yang akan diinventaris
tersebut berdasarkan laporan dari masyarakat yang peduli atau tokoh-tokoh
masyarakat yang memiliki perhatian lebih pada pelestarian cagar budaya.
b. Tahap Penelitian
Setelah proses inventarisasi status bangunan/lingkungan cagar budaya tersebut
status bangunan akan menjadi diduga. Status tersebut akan berlaku sampai
dilakukan penelitian lebih lanjut oleh Tim Cagar Budaya dan BP3 (Balai Pelestarian
Peninggalan Purbakala) tingkat daerah menurut kritertia tertentu cagar budaya.
Setelah penelitian tersebut statusnya akan menjadi Bangunan atau Lingkungan
Cagar Budaya jika pemilik bangunan tersebut setuju, jika tidak maka status
bangunan akan tetap pada status diduga cagar budaya dan proses akan berhenti
sampai disitu.
c. Tahap Pendaftaran
Bangunan/lingkungan cagar budaya yang sudah mendapatkan status selanjutnya
akan dilakukan pendaftaran sebagai bangunan/lingkungan cagar budaya.
d. Tahap Penggolongan
Setelah dilakukan pendaftaran, maka akan dilakukan penelitian lanjutan untuk
menggolongan masing-masing bangunan/lingkungan cagar budaya ke dalam
golongan berdasarkan pertimbangan atau kriteria tertentu. Penggolongan ini
bertujuan

agar

bangunan/lingkungan

mempermudah
cagar

budaya

penanganan
sesuai

kondisi

dan

pengelolaan

eksistingnya

secara

berkelompok.
2.3.3

Kriteria Cagar Budaya di Kota Surabaya

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa cagar budaya di Kota Surabaya hanya
terdapat dua jenis yaitu: bangunan dan lingkungan/kawasan. Adapun kriteria penentuan
masing-masing bangunan maupun lingkungan cagar budaya berbeda.
Penentuan bangunan cagar budaya ditetapkan berdasarkan kriteria: umur, estetika,
kejamakan, kelangkaan, nilai sejarah, memperkuat kawasan, keaslian, keistimewaan,
dan/atau tengeran.

12

Adapun tolak ukur dari kriteria bangunan cagar budaya sebagaimana yang dimaksud
dalam kriteria diatas adalah:
-

umur berkenaan dengan batas usia bangunan cagar budaya sekurang-kurangnya


50 (lima puluh) tahun;

estetika berkenaan dengan aspek rancangan arsitektur yang menggambarkan


suatu zaman dan gaya/langgam tertentu;

kejamakan berkenaan dengan bangunan-bangunan, atau bagian dari kota yang


dilestarikan karena mewakili kelas atau jenis khusus bangunan yang cukup
berperan;

kelangkaan berkenaan dengan jumlah yang terbatas dari jenis atau fungsinya, atau
hanya satu-satunya di lingkungan atau wilayah tertentu;

nilai sejarah berkenaan dengan peristiwa dan/atau perkembangan kota Surabaya,


nilai-nilai kepahlawanan, peristiwa kejuangan bangsa Indonesia, ketokohan, politik,
sosial, budaya, serta nilai arsitektural yang menjadi simbol nilai kesejarahan pada
tingkat nasional dan/atau daerah;

memperkuat kawasan berkenaan dengan bangunan-bangunan dan/atau bagian


kota yang karena potensi dan/atau keberadaannya dapat mempengaruhi serta
sangat bermakna untuk meningkatkan kualitas dan citra lingkungan di sekitarnya;

keaslian berkenaan dengan tingkat perubahan dari bangunan cagar budaya baik
dari aspek struktur, material, tampang bangunan maupun sarana dan prasarana
lingkungannya.

Penentuan lingkungan cagar budaya ditetapkan berdasarkan kriteria: umur, keaslian, nilai
sejarah, kelangkaan, dan/atau ilmu pengetahuan.
Adapun tolak ukur dari kriteria lingkungan cagar budaya sebagaimana yang dimaksud
dalam kriteria diatas adalah:
-

umur berkenaan dengan usia lingkungan terbangun, paling sedikit seusia


bangunan yang telah ditetapkan atau diduga sebagai bangunan cagar budaya;

keaslian adalah keberadaan lingkungan cagar budaya yang masih asli, baik
lengkap maupun tidak lengkap;

nilai sejarah berkenaan dengan peristiwa perubahan dan/atau perkembangan


kota Surabaya, nilai-nilai kepahlawanan, peristiwa kejuangan bangsa Indonesia,
ketokohan, politik, sosial, budaya yang menjadi simbol nilai kesejahteraan pada
tingkat nasional dan/atau daerah untuk memperkuat jati diri bangsa;

13

kelangkaan berkenaan dengan tatanan tapak atau lingkungan yang jarang


ditemukan;

ilmu pengetahuan, berkenaan dengan ilmu dan pengetahuan yang berkaitan


dengan lingkungan cagar budaya.

2.3.4

Penggolongan Cagar Budaya di Kota Surabaya

Berdasarkan kriteria dan tolak ukur yang telah dijelaskan sebelumnya, bangunan dan
lingkungan cagar budaya di Kota Surabaya diklasifikasikan ke dalam beberapa golongan.
Adapun penggolongan tersebut dilakukan untuk mempermudah penanganan dan
pengelolaan cagar budaya di Kota Surabaya.
Adapun bangunan cagar budaya diklasifikasikan ke dalam 4 (empat) golongan yaitu:
-

Bangunan cagar budaya Golongan A adalah bangunan cagar budaya yang harus
dipertahankan dengan cara preservasi.
Preservasi adalah pelestarian suatu bangunan atau lingkungan cagar budaya
dengan cara mempertahankan keadaan aslinya tanpa ada perubahan, termasuk
upaya mencegah penghancuran.
Adapun contoh bangunan cagar budaya Golongan A di Kota Surabaya diantaranya:
bangunan Balai Kota Surabaya, Fakultas Kedokteran UNAIR, Gedung Grahadi,
Hotel Majapahit, dan Rumah Sakit Darmo.

Bangunan cagar budaya Golongan B adalah bangunan cagar budaya yang dapat
dilakukan pemugaran dengan cara restorasi/rehabilitasi atau rekonstruksi.
Restorasi/rehabilitasi adalah upaya mengembalikan ke dalam keadaan semula
dengan menghilangkan tambahan tambahan dan memasang komponen semula
tanpa menggunakan bahan baru.
Sedangkan rekonstruksi adalah upaya mengembalikan suatu tempat semirip
dengan keadaan semula, dengan menggunakan bahan lama atau baru, sesuai
informasi kesejarahan yang diketahui .
Adapun contoh bangunan cagar budaya Golongan B di Kota Surabaya adalah Bank
BNI, Gedung Cerutu, Rumah sakit Dr. Soetomo, SMA Kompleks, dan Jembatan
Petekan.

Bangunan cagar budaya Golongan C adalah bangunan cagar budaya yang dapat
dilakukan pemugaran dengan cara revitalisasi/adaptasi.
Revitalisasi/adapatasi adalah upaya mengubah cagar budaya agar dapat
dimanfaatkan untuk fungsi yang lebih sesuai tanpa menuntut perubahan drastis.

14

Adapun contoh bangunan cagar budaya Golongan C di Kota Surabaya adalah


Gedung Notaris, Yayasan Al-Irsyad, Penjara Kloben, Gereja GKI Pregolan, dan
Masjid Kemayoran.
-

Bangunan cagar budaya Golongan D adalah bangunan cagar budaya yang


keberadaannya dianggap dapat membahayakan keselamatan pengguna maupun
lingkungan sekitarnya sehingga dapat dibongkar dan dapat dibangun kembali
sesuai dengan aslinya dengan cara demolisi

Adapun lingkungan cagar budaya diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga) golongan yaitu:


-

Lingkungan cagar budaya golongan I yaitu lingkungan cagar budaya yang secara
fisik masih lengkap serta memenuhi kriteria

Lingkungan cagar budaya golongan II yaitu lingkungan cagar budaya yang secara
fisik tidak lengkap serta minimal memenuhi kriteria umur, keaslian, dan nilai sejarah

Lingkungan cagar budaya golongan III yaitu lingkungan cagar budaya yang secara
fisik tidak lengkap serta minimal memenuhi kriteria umur dan keaslian.

2.4 Studi Kasus


Implementasi Perda nomor 5 tahun 2005 oleh Dinas pada UPTD Tugu pahlawan dapat
dikatakan maksimal. Hal tersebut dikarenakan UPTD merupakan kepanjangan tangan dari
Dinas dan memiliki kewenangan tersendiri untuk mengatur pengelolaan di Tugu
Pahlawan seperti yang tertuang dalam SK Walikota mengenai Tugas dan Fungsi UPTD.
Adanya UPTD ini membuat kawasan Tugu Pahlawan menjadi lebih terstruktur dan terarah
pengelolaan, perawatan dan pengawasannya karena ada pertanggung-jawaban dari
UPTD kepada Dinas. Tiap bulan UPTD ini memberikan laporan kepada Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata Kota Surabaya mengenai perkembangan, perawatan dan pengelolaan
Cagar Budaya Tugu Pahlawan. Tugas Dinas di sini hanya sebagai pengawas. Keluhan dari
UPTD sendiri adalah anggaran dana yang masih minim untuk pengelolaan Cagar Budaya.
Dana yang diperoleh sekita 2M untuk 2013, dana tersebut sudah termasuk untuk
pengadaaan fasilitas seperti lift yang hampir menghabiskan dana sekitar 1,5M. Sisa dana
tersebut dapat dikatakan minim jika digunakan untuk pengelolaan dan perawatan serta
pengadaan barang-barang bersejarah untuk museum. Selain itu target PAD (Pajak Asli
Daerah) yang ditetapkan oleh DPRD setiap tahunnya semakin besar agar dapat
memperoleh dana untuk pengelolaan Tugu Pahlawan. Jika implementasi Perda pada
Tugu Pahlawan sudah dikatakan maksimal maka tidak dengan implementasi Perda pada
rumah HOS Tjokroaminoto yang masih belum maksimal. Pengelola dan pengawas (Ketua
RT dan Ketua RW Peneleh VII) yang ditunjuk melalui SK Walikota kurang dilibatkan dalam

15

pelestarian Cagar Budaya. Kurang dilibatkan disini lebih kepada tidak ada komunikasi
antara pihak Dinas dan pihak Ketua RT setempat sebagai pengelola Cagar Budaya rumah
HOS Tjkroaminoto. Ketua RT lebih banyak berperan sebagai juru kunci dan perawat rumah
dari pada sebagai pengelola seperti yang disebutkan di SK Walikota. Dinas memang
menjalankan proses pelestarian rumah HOS Tjokroaminoto, tapi setiap kebijakan yang
dilakukan bersifat satu arah dari Dinas saja tanpa meminta masukan ketua RT selaku orang
yang lebih mengetahui kondisi Rumah HOS Tjokro secara dekat.
Tampak juga tindakan pengecatan yang dilakukan oleh ketua RT tanpa sepengetahuan
Dinas, hal tersebut tentunya menyalahi aturan yang ada. Seharuskan dikonsultasikan
dengan Tim Cagar Budaya terlebih dahulu. Dari sana tampak bahwa belum dilakukan
sosialisasi mengenai pem-bagian ranah kerja dan aturan pelestarian Cagar Budaya dari
Dinas kepada Pengelola Cagar Budaya. Selain itu masalah anggaran dan rumitnya
birokrasi juga menjadi kendala pengelolaan Rumah HOS Tjokroaminoto. Ketua RT dan
Ketua RW hanya diberi uang insentif sebesar 250 ribu rupiah dan tidak ada anggaran yang
dikhususkan untuk perawatan rumah tersebut. Tiap bulan memang ada pengadaan alatalat kebersihan dari Dinas tapi tidak ada anggaran untuk perawatan yang lain, seperti
genting bocor, gembok rusak dan lain sebagainya. Jika ingin melakukan perbaikan dan
diajukan ke Dinas akan memerlukan waktu yang lama, bisa ber-bulan-bulan sampai
bertahun-tahun dan belum tentu direalisasikan. Kurangnya komunikasi yang dilakukan
Dinas pada masyarakat setempat juga terjadi, terlihat dari warga masyarakat sekitar yang
baru mengetahui bahwa rumah tersebut merupakan bangunan bersejarah pada tahun
2011 saat ada kuliah terbuka dari dosen Unair.

16

3 BAB III DISKUSI


Berikut ini adalah lampiran proses berjalannya diskusi pada saat dilakukan presentasi
pada hari Senin, 29 Febuari 2016 yang lalu.
-

Elizaria Febe Gomez (3613100703)


Pada penjelasan terkait upaya Urban Heritage Management, disebutkan bahwa
salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan perbanyakan / duplikasi.
Bisakah dijelaskan secara jelas seperti apa contoh nyata dari upaya tersebut?
Dalam kegiatan duplikasi / perbanyakan, cagar budaya yang ada dapat ditiru
dengan tingkat kemiripan yang beragam dengan perizinan dari pemerintah.
Kegiatan duplikasi ini dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas dari cagar
budaya itu sendiri.
Pada contohnya, pada salah satu bangunan cagar budaya ingin dilakukan
penambahan bangunan untuk mendukung kegiatan yang terdapat di cagar
budaya itu sendiri. Kemudian dilakukan pembangunan gedung baru dekat dengan
bangunan cagar budaya tersebut dengan struktur, bentuk, dan arsitektural yang
sama dengan bangunan cagar budaya tersebut. Kegiatan duplikasi tersebut sah
dilakukan asal pembangun sudah mengantongi izin dari pihak-pihak berwajib.
Selain itu kegiatan duplikasi ini dapat dilakukan sehingga pembangunan gedung
baru tersebut dapat dilakukan untuk mendukung fungsi bangunan cagar budaya
tersebut. Dan kemudian apabila tidak dilakukan duplikasi dalam pembangunan
tersebut maka akan mengurangi nilai estetika bangunan cagar budaya itu sendiri.

17

4 BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Cagar budaya adalah warisan budaya yang perlu dilindungi dan dilestarikan
keberadaannya karena memiliki nilai-nilai tertentu yang berbeda dengan bangunan
lainnya. Pengelolaan cagar budaya adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam
melestarikan cagar budaya tersebut. Dalam pengelolaan cagar budaya, secara umum
terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan yaitu pelestarian, pemanfaatan,
perbanyakan, perlindungan dan pengembangan. Sedangkan dalam pengelolaan cagar
budaya di tiap wilayah memiliki penanganan yang berbeda sehingga upaya-upaya
tersebut diperdetail lagi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi cagar budaya yang ada di
wilayah tersebut.

4.2 Rekomendasi
Dalam pengelolaannya, cagar budaya di Indonesia sudah cukup baik. Hal ini dikarenakan
pengelolaannya sudah dilindungi oleh payung hukum yang pasti dan setiap tindakannya
sudah diatur dengan rinci. Namun dalam pelaksanaannya, pengelolaan cagar budaya
perlu dimaksimalkan lagi. Hal ini dikarenakan meskipun pelestarian cagar budaya sudah
diatur dalam undang-undang, namun masih banyak cagar budaya yang diabaikan tanpa
perawatan serta pelestarian yang sudah seharusnya dilakukan baik oleh pemerintah
maupun masyarakat pemilik cagar budaya tersebut.

18