Anda di halaman 1dari 14

Bab I

Pendahuluan
Natrium diklofenak merupakan suatu anti radang non steroid (non steroid antiinflammatory drugs, NSAIDs) yang merupakan suatu turunan asam fenil asetat.
Natrium diklofenak digunakan pada pengobatan osteoarthritis dan rheumatoid
arthritis. Diklofenak dapat terakumulasi pada cairan sinovia sehinga efek terapi
pada persendiaan menjadi lebih panjang (Wilmana, 1995). Penggunaan gel
natrium diklofenak 1% melalui jalur topical dapat memberikan efek pada
persendiaan dengan hanya melalui jalur sistemik yang terbatas. Data klinik
menunjukkan bahwa sediaan gel natrium diklofenak memberikan efek analgesic
yang bermakna pada pasien dengan efek samping yang rendah (Aitman and
Barkin, 2009).
Absorbsi sediaan topical dilakukan melalui dermis yang memiliki ketersediaan
sistemik yang rendah (Banning, 2006). Untuk meningkatkan fluks obat yang
melewati melewati membrane kulit, dapat digunakan senyawa-senyawa
peningkat penetrasi. Fluks obat yang melewati membrane dipengaruhi oleh
koefisien difusi obat melewati stratum corneum, konsentrasi efektif obat yang
terlarut dalam pembawa, koefisien partisi antara obat dan stratum corneum dan
tebal lapisan membrane. Peningkat penetrasi yang efektif dapat meningkatkan
koefisien difusi obat ke dalam stratum corneum dengan cara mengganggu sifat
penghilangan dari stratum corneum (Williams dan Barry, 2004). Peningkat
penetrasi dapat bekerja melalui tiga mekanisme yaitu dengan cara
mempengaruhi struktur stratum corneum, berinteraksi dengan protein
interseluler dan memperbaiki partisi obat, coenhancer atau cosolvent ke dalam
stratum corneum (Swarbrick dan Boylan, 1995).

Bab II
Pembahasan
Pengertian Emulsi
Menurut FI ed IV
Emulsi adalah sistem dua fase dimana salah satu cairannya terdispersi dalam
cairan yang lain dalam bentuk tetesan-tetesan kecil.

KOMPONEN EMULSI Digolongkan menjadi 2 macam yaitu : Komponen Dasar Yaitu bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat didalam emulsi. asam sorbat. Antioksidant yang digunakan antara lain : asam askorbat. Emulsi jenis ini dapat diencerkan atau bercampur dengan minyak. propil gallat dan asam gallat. TIPE EMULSI Pada umumnya dikenal dua tipe emulsi yaitu : a) Tipe A/M (Air/Minyak) atau W/O (Water/Oil) Emulsi ini mengandung air yang merupakan fase internalnya dan minyak merupakan fase luarnya. Emulgator. Fase kontinyu / fase eksternal / fase luar Yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi tersebut. Pada fase ini bersifat non polar maka molekul–molekul emulsifier tersebut akan teradsorbsi lebih kuat oleh minyak dibandingkan oleh air. b) Tipe M/A (Minyak/Air) atau O/W (Oil/Water) Merupakan suatu jenis emulsi yang fase terdispersinya berupa minyak yang terdistribusi dalam bentuk butiran-butiran kecil didalam fase kontinyu yang berupa air. dll. kresol. Yaitu zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil kedalam zat cair lain. asam benzoat. biasanya terdiri dari : Fase dispers / fase internal / fase diskontinyu. fenil merkuri asetat. Komponen Tambahan Bahan tambahan adalah bahan yang sering ditambahkan pada emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. benzalkonium klorida. Emulsi tipe A/M umumnya mengandung kadar air yang kurang dari 10 – 25% dan mengandung sebagian besar fase minyak. asam sitrat. Misalnya : corrigen saporis. antoksidant. Preservatif yang biasa digunakan adalah : metil dan propil paraben. dan klorbutanol. fenol. Adalah bagian Berupa zat yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi.tocoperol. L. Emulsi tipe ini umumnya mengandung kadar air yang lebih dari 31 – . colouris. Akibatnya tegangan permukaan minyak menjadi lebih rendah sehingga mudah menyebar menjadi fase kontinu. akan tetapi sangat sulit bercampur/dicuci dengan air. preservatif (pengawet).odoris.

Pemisahan dengan cara creaming bersifat refelsibel. Pada fase ini bersifat polar maka molekul – molekul emulsifier tersebut akan teradsorbsi lebih kuat oleh air dibandingkan minyak. Viskositas . bila ion menyala tipe emulsi O/W demikian sebaliknya. Konductifitas. Sifat-sifat fisik emulsi Penampakan Penampakan emulasi ini pada dasarnya dipengaruhi oleh ukuran pertikel emusi dan perbedaan indeksbias antara fase terdispersidan medium terdispersi. Pada prinsipnya emulsi yang tampak jernih hanya mungkin terbentuk bila indeks bias kedua fasenya sama atau ukuran partikel terdispersinya lebih kecil dari panjang gelombang cahaya sehingga terjadi refraksi.41% sehingga emulsi M/A dapat diencerkan atau bercampur dengan air dan sangat mudah dicuci. Akibatnya tegangan permukaan air menjadi lebih rendah sehingga mudah menyebar menjadi fase kontinue. TUJUAN PEMAKAIAN EMULSI Emulsi dibuat untuk diperoleh suatu preparat yang stabil dan rata dari campuran dua cairan yang saling tidak bisa bercampur. Tipe O/W dapat diwarnai dengan amaranth/metilen blue. creaming merupakan peristiwa memisahkan emulsi karena fase internal dari emulsi tersebut melakukan pemisahan sehingga tdk tersebar dlm emulsimis : air susu setelah dipanaskan akan terlihat lapisan yang tebal pada permukaan. Cara Pengecatan. dimana elektroda dicelup didalam cairan emulsi. Tipe W/O dapat diwarmai dengan sudan III. Tujuan pemakaian emulsi adalah : Dipergunakan sebagai obat dalam / peroal. Umumnya emulsi tipe O/W. Cara creaming test. Bisa tipe O/W maupun W/O tergantung banyak faktor misalnya sifat zat atau jenis efek terapi yang dikehendaki. Tipe O/W dapat diencerkan dengan air. Dipergunakan sebagai obat luar. Tipe W/O dapat diencerkan dengan minyak. Cara membedakan tipe emulsi Dengan Pengenceran.

tipe dan konsentrasi emulsifier yang digunakan serta lama penyimpanan. sebaliknya bila medium dispersinya lemak. Teori Orientasi Bentuk Baji (Oriented Wedge) . Didalam teori ini dikatakan bahwa penambahan emulgator akan menurunkan dan menghilangkan tegangan permukaan yang terjadi pada bidang batas sehingga antara kedua zat cair tersebut akan mudah bercampur. sehingga pada permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseimbangan daya kohesi. tetapi akan berkurang dengan penambahan senyawa organik tetentu antara lain sabun. ukuran partikel fase terdispersi dan jenis serta konsentrasi emulsifier/stabilizer yang digunakan. Selain itu molekul juga memiliki daya tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis yang disebut dengan daya adhesi. persentase volume medium dispersi. Dengan cara yang sama dapat dijelaskan terjadinya perbedaan tegangan bidang batas dua cairan yang tidak dapat bercampur. Tegangan yang terjadi pada air akan bertambah dengan penambahan garam-garam anorganik atau senyawa-senyawa elektrolit. maka emulsinya dapat diencerkan dengan air. Tegangan yang terjadi antara dua cairan tersebut dinamakan tegangan bidang batas. Ukuran Partkel Emulsi Ukuran partikel emulsi tergantung pada peralatan mekanis dan total energy yang diperlukan pada waktu pembuatannya. perbedaan vikositas antara fase terdispersi dan medium disperse. Tegangan yang terjadi pada permukaan tersebut dinamakan tegangan permukaan. yang melihat proses terjadinya emulsi dari sudut pandang yang berbeda-beda. Daya kohesi suatu zat selalu sama. Teori Tegangan Permukaan (Surface Tension) Molekul memiliki daya tarik menarik antara molekul yang sejenis yang disebut dengan daya kohesi. Semakin tinggi perbedaan tegangan yang terjadi pada bidang mengakibatkan antara kedua zat cair itu semakin susah untuk bercampur. maka emulsinya dapat dilarutkan dengan minyak.Faktor – faktor yang mempengaruhi viskositas suatu emulsi adalah viskositas medium dispersi. Bila medium dispersinya air. Dispersibilitas dan Daya Emulsi Dispersibilitas atay daya larut suatu emulsi ditentukan oleh medium dispersinya. maka makin tinggi viskositas emulsi. Demikian juga semakin kecil ukuran partiker suatu emulsi. Semakin tinggi viskositas dan persentase medium disperse. Teori Terjadinya Emulsi Proses terbentuknya emulsi dikenal 4 macam teori. maka semakin tinggi viskositasnya dan makian tinggi konsentrasi emulsifier/stabilizer yang digunakan.

Teori Electric Double Layer (lapisan listrik ganda) Jika minyak terdispersi kedalam air. Dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan dapat menutup semua permukaan partikel dengan segera. Terjadinya muatan listrik disebabkan oleh salah satu dari ketiga cara dibawah ini.Setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua kelompok yakni :Kelompok hidrofilik. sedangkan lapisan berikutnya akan bermuatan yang berlawanan dengan lapisan didepannya. Jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan partikel fase dispers. Dengan kata lain fase dispers menjadi stabil. dapat digolongkan menjadi tiga golongan : Emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan . Teori Interparsial Film Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dan minyak. syarat emulgator yang dipakai adalah : Dapat membentuk lapisan film yang kuat tapi lunak. Terjadinya ionisasi dari molekul pada permukaan partikel. Kelompok lipofilik. satu lapis air yang langsung berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis. yakni bagian yang suka pada minyak. Dengan demikian seolah-olah tiap partikel minyak dilindungi oleh dua benteng lapisan listrik yang saling berlawanan. Karena susunan listrik yang menyelubungisesama partikel akan tolak menolak dan stabilitas emulsi akan bertambah. sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase dispers. Emulgator (Bahan Pengemulsi) Emulgator alam Yaitu Emulgator yang diperoleh dari alam tanpa proses yang rumit. Terjadinya absorpsi ion oleh partikel dari cairan disekitarnya. Untuk memberikan stabilitas maksimum pada emulsi. Terjadinya gesekan partikel dengan cairan disekitarnya. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha dari partikel minyak yang akan menggandakan penggabungan menjadi satu molekul besar. Dengan terbungkusnya partikel tersebut maka usaha antara partikel yang sejenis untuk bergabung menjadi terhalang. yakni bagian dari emulgator yang suka pada air.

Gom arab Sangat baik untuk emulgator tipe O/W dan untuk obat minum. Minyak lemak : PGA ½ kali berat minyak. Bahan obat cair BJ tinggi seperti cloroform dan bromoform. Emulgator alam dari tanah mineral Zat padat yang terbagi halus. Balsam-balsam. kondrus dan pectin. kerugian gelatin sebagai suatu zat pengemulsi adalah sediaan menjadi terlalu cair dan menjadi lebih cair pada pendiaman. Oleum lecoris aseli Tragacanth Agar-agar Chondrus Emulgator lain: Pektin. agar. Kestabilan emulsi yang dibuat dengan gom arab berdasarkan 2 faktor yaitu : Kerja gom sebagai koloid pelindung Terbentuknya cairan yang cukup kental sehingga laju pengendapan cukup kecil sedangkan masa mudah dituang (tiksotropi). seperti : tanah liat koloid termasuk bentonit. Bahan-bahan ini membentuk koloid hidrofilik bila ditambahkan kedalam air dan umumnya menghasilkan emulsi m/a. Minyak lemak + minyak atsiri + Zat padat larut dalam minyak lemak. Emulgator alam dari hewan Zat-zat protein seperti : gelatin. suatu zat seperti bentonit sanggup . CMC 1-2 %.Bahan-bahan karbohidrat . tragakan. bahan-bahan alami seperti akasia (gom). metil selulosa. Umumnya membentuk emulsi tipe m/a bila bahan padat ditambahkan ke fase air jika jumlah volume air lebih besar dari minyak. Lemak-lemak padat : PGA sama banyak dengan lemak padat. magnesium hidroksida dan aluminium hidroksida. dan adeps lanae. Bahanbahan ini menghasilkan emulsi tipe m/a. Jika serbuk bahan padat ditambahkan dalam inyak dan volume fase minyak lebih banyak dari air. kuning telur. Minyak atsiri : PGA sama banyak dengan minyak atsiri. kasein.

Sehingga diperoleh perbandingan 4 bagian minyak. dan menggunakan perbandingan 4. 80 Span 20. 40. 2 bagian air dan 1 bagian emulgator. Metode ini merrupakan variasi dari metode gom kering atau metode gom basah. dapat diencerkan dengan air sampai volume yang tepat. 1 bagian gom ditambahkan 2 bagian air lalu diaduk. 80 Cara Pembuatan Emulsi Dikenal 3 metode dalam pembuatan emulsi yaitu : Metode gom kering Disebut pula metode continental dan metode 4.1.1 sama seperti metode gom kering. Metode Penyabunan In Situ Sabun Kalsium . Dalam botol kering. Emulgator buatan Sabun Tween 20. Emulsi dibuat dengan jumlah komposisi minyak dengan ½ jumlah volume air dan ¼ jumlah emulgator. Pertama-tama gom didispersikan kedalam minyak. Metode inii digunakan untuk emulsi dari bahanbahan menguap dan minyak-minyak dengan kekentalan yang rendah. dan minyak ditambahkan sedikit demi sedikit Metode botol Disebut pula metode Forbes.membentuk suatu emulsi a/m.2. 40. Ditambahkan dua bagian air lalu dikocok kuat-kuat. setelah emulsi utama terbentuk. Metode ini dipilih jika emulgator yang digunakan harus dilarutkan/didispersikan terlebuh dahulu kedalam air misalnya metilselulosa. 60. lalu ditambahkan air sekaligus dan diaduk /digerus dengan cepat dan searah hingga terbentuk korpus emulsi. suatu volume air yang sama banyak dengan minyak ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus dikocok. emulgator yang digunakan ¼ dari jumlah minyak. Metode gom basah Disebut pula sebagai metode Inggris. Emulsi terutama dibuat dengan pengocokan kuat dan kemudian diencerkan dengan fase luar. cocok untuk penyiapan emulsi dengan musilago atau melarutkan gum sebagai emulgator. Selain itu juga terdapat Veegum / Magnesium Aluminium Silikat 4.2.

Emulsi a/m yang terdiri dari campuran minyak sayur dan air jeruk. 2009). R. komponen tersebut dapat dipisahkan dalam dua gelas beker dan dipanaskan hingga meleleh.yang dibuat dengan sederhana yaitu mencampurkan minyak dan air dalam jumlah yang sama dan dikocok kuat-kuat.yang memberikan harapan yang besar bagi masa depan kosmetik. Yashwant & Deepak Thassu. Nanoemulsi adalah sekelompok partikel yang terdispersi. terutama kalsium oleat. Sabun Lunak Metode ini. Pengemulsi Sintetik Alat yang digunakan dalam pembuatan emulsi. blender Homogenizer Colloid mill Nanoemulsi Nanoemulsi adalah sebuah sistem emulsi dengan ukuran tetesan antara 1 nm sampai 100 nm. yang sangat membantu dan berguna dalam bidang farmasi dan biomedis. untuk pembuatan emulsi yang baik. 2012). . Nanoemulsi terbuat dari surfaktan dan zat kimia yang aman untuk konsumsi manusia yang umumnya sudah “Secara Umum Diakui Aman “(GRAS) oleh FDA (Sharma. salah satu teknik ini menggunakan homogenizer atau piston bertekanan tinggi. dalam sebuah proses mekanik Homogenasi bertekanan tinggi. Homogenizer dapat menghasilkan ukuran partikel nanoemulsi yang sangat rendah hingga 1nm (Sharma. Ukuran droplet nanoemulsi yang kecil membuat nanoemulsi stabil secara kinetik sehingga mencegah terjadinya sedimentasi dan kriming selama penyimpanan. 2012). maka bahan dapat dilelehkan. dibentuk secara in situ disiapkan dari minyak sayur alami yang mengandung asam lemak bebas. Jika perlu. Emulsi ini mudah diproduksi dalam jumlah besar dengan mencampur fase air yang bercampur minyak yang sangat kecil di campurkan kedalam fase cair dengan tekanan tinggi. Pada penggunaan topikal nanoemulsi dapat lebih mudah menembus lapisan kulit dengan mempengaruhi permeabilitas obat ke dalam kulit (Basker. Mortar dan stamper Botol Mixer. maka fase eksternal ditambahkan kedalam fase internal dengan pengadukan. jika kedua fase telah mencapai temperature yang sama. 2010). Bahan pengemulsi. basis di larutkan dalam fase air dan asam lemak dalam fase minyak. ditandai dengan cairan transparan yang tergantung pada ukuran partikel (Pathak.

Keuntungan nanoemulsi Nanoemulsi memiliki luas permukaan yang jauh lebih tinggi dan bebas energi dari pada mikroemulsi. 2012). (Suplemen I FI IV. Martindale. Sebagai tambahan. atau beberapa NSAIA lainnya. Natrium Diklofenak Nama Obat dan Sinonim Natrium diklofenak mempunyai sinonim diclofenacum natricum. hal. Nanoemulsi tidak menunjukkan masalah creaming. maka dapat dengan mudah diterapkan pada kulit dan membran mukosa.905. maka cocok untuk manusia dan hewan untuk tujuan terapi (Sharma. Secara kimia termasuk golongan turunan asam fenil asetat. cairan dan semprotan. Mekanisme Kerja Obat Diklofenak mempunyai aktivitas analgesik. diklofenak terlihat/dapat mereduksi konsentrasi intraselular dari AA bebas dalam leukosit. yang umumnya terjadi pada sediaan mikroemulsi. yang telah diijinkan untuk dikonsumsi oleh manusia (GRAS) dan dapat digunakan melalui rute enteric Nanoemulsi tidak merusak sel-sel manusia yang sehat dan sel-sel hewan.3588) Bentuk Senyawa Aktif Bentuk senyawa aktif yang akan digunakan dalam sediaan gel natrium diklofenak adalah bentuk garamnya. dan sedimentasi.35.38) Nama kimia natrium diklofenak adalah Natrium[o-(2.2081 dan 3588). hal.hal.11. sehingga membuat sistem transport/pengangkutan menjadi efektif.1405) Secara farmakologi termasuk golongan: NSAIA (Nonsteroidal Anti-Inflamatory Agent) yang juga termasuk golongan analgesik dan antipiretik. yang kemungkinan dengan merubah pelepasan atau pengambilannya.6-dikloroanilino)fenil]asetat. hal. Nanoemulsi dapat diformulasikan kedalam berbagai formula seperti busa/foam. Diklofenak mempunyai kemampuan melawan COX-2 lebih baik dibandingkan dengan indometasin. (Clarke. diklofenaakkinatrium. naproxen. (AHFS 2010. (AHFS 2010. diclofenak sodium. antipiretik dan antiinflamasi. Nanoemulsi tidak beracun dan tidak mengiritasi. Nanoemulsi diformulasikan dengan surfaktan. hal 698) . flokulasi. krim. hal. (GG Ed. koalesensi.

Pemaparan sistemik 16 g atau 48 g sehari adalah sebanyak 6 atau 20% jika dibandingkan dengan administrasi oral dosis 50 mg 3x sehari. siklooksigenase-1 (COX-1) dan siklooksigenase-2 (COX-2) (juga tertuju ke sebagai prostaglandin G/H sintase-1 [PGHS-1] dan -2 [PGHS-2]). Absorpsi Diklofenak pemberian topikal terabsorpsi ke dalam sirkulasi sistemik. hal. diklofenak tidak mengalami distribusi. Pemberian 4 g Natrium diklofenak secara topikal (gel 1%) 4x sehari pada satu lutut. Diklofenak pemberian topikal tidak mengalami distribusi. GG Ed. (AHFS 2010.8% pada albumin.11. diklofenak terikat 99-99. konsentrasi mean peak plasma sebanyak 15 ng/ml terjadi setelah 14 jam. Diklofenak terikat secara kuat dan reversibel pada protein plasma. 2. terutama albumin.15-105 mcg/ml. Namun.2087. amida taurin. NSAIA berfungsi sebagai antiinflamasi. Distribusi (AHFS 2010.698) Metabolisme diklofenak secara jelas belum diketahui. Metabolisme (AHFS 2010. hal. namun dimetabolisme secara cepat di hati. diikuti konjugasi dengan asam glukoronat.2086).Pada konsentrasi plasma 0.8 ng/ml terjadi setelah 10 jam. Konjugasi dariunchanged drug juga terjadi. diklofenak terdistribusi ke cairan sinovial. Diklofenak mengalami hidroksilasi.Mekanisme kerja farmakologi secara pasti belum jelas. Pada pemberian gel ke kedua lutut dan kedua tangan 4x sehari (48 g gel sehari).2087) Untuk sediaan topikal. menginhibisi COX-1 kemungkinan terhadap obat yang tidak dihendaki (drug’s unwanted) pada mukosa GI dan agregasi platelet. Diklofenak menginhibisi sintesis prostaglandin di dalam jaringan tubuh dengan menginhibisi siklooksigenase. Hidroksilasi dari cincin aromatik diklorofenil menghasilkan 4′-hidroksidiklofenak dan 3′-hidroksidiklofenak. sedikitnya 2 isoenzim. asam sulfat dan ligan biogenik lain. namun banyak aksi/aktivitas pada dasarnya adalah menginhibisi sintesis prostaglandin. tetapi konsentrasi plasmanya sangat rendah jika dibandingkan dengan pemberian oral. Walaupun mekanisme pastinya belum jelas.hal. seperti gel. analgesik dan antipiretik yang pada dasarnya menginhibisi isoenzim COX-2. Konjugasi dengan asam glukoronat dan taurin biasanya terjadi pada gugus karboksil dari cincin . Penggunaan heat patch selama 15 menit sebelum pemakaian gel tidak berpengaruh terhadap absorpsi sistemik. Mencapai puncak 60-70% yang terdapat pada plasma. Sediaan oral. Nasib Obat dalam Tubuh 1. konsentrasimean peak plasma sebanyak 53. konsentrasi diklofenak dan metabolitnya pada cairan sinovial melebihi konsentrasi dalam plasma setelah 3-6 jam. telah diidentifikasikan dengan mengkatalis/memecah formasi/bentuk dari prostaglandin di dalam jalur asam arakidonat. 3. hal.

Gel digunakan pada tulang sendi untuk terapi topikal (contoh: tangan dan kaki).fenil asetat dan konjugasi dengan asam sulfat terjadi pada gugus 4′ hidroksil dari cincin aromatik diklorofenil. Diklofenak juga dikontraindikasikan pada pasien yang mengalami serangan asma. hal. Rheumatoid arthritis dan osteoarthritis akut dan kronis b. Diklofenak pemberian topikal tidak mengalami metabolisme. Dosis dan Perhitungan Dewasa Nyeri sendi bagian bawah (lutut.391).2081. 4. 3′ dan/atau 4′-hidroksi diklofenak dapat melalui 4′-0. pergelangan tangan. Berdasarkan data indikasi tersebut di atas. sediaan gel natrium diklofenak yang akan dibuat diindikasikan untuk osteoarthritis berupa nyeri sendi pada tangan dan kaki. Ankylosing spondylitis Sodium diklofenak gel 1% digunakan secara topikal untuk osteoarthritis dan nyeri tulang sendi. hal. atau reaksi sensitivitas lain yang disebabkan oleh asam asetilsalisilat atau NSAIA lain. hal. urtikaria.hal. tangan) karena osteoartritis = 2 g gel 4x sehari. sementara metabolit terhidroksilasi dieksresi melalui urin. Pemilihan indikasi tersebut didasarkan pada kesesuaian pada pustaka (AHFS 2010. kaki) karena osteoarthritis = 4 g gel 4x sehari. Kontraindikasi dan Alasannya (AHFS 2010.698) Diklofenak dieksresikan melalui urin dan feses dengan jumlah minimal yang dieksresikan dalam bentuk tidak berubah (unchanged).2081) Natrium diklofenak dalam bentuk gel diindikasikan untuk: a. pergelangan kaki. hal. Indikasi dan Dasar Pemilihan (AHFS 2010.11. karena terdapat potensial terjadi sensitivitas silang antara NSAIA dan asam asetil salisilat yang dapat menyebabkan reaksi anafilaktik parah. Metilasi membentuk 3′-hidroksi-4′-metoksi diklofenak. hal. . Eksresi melalui feses melalui eliminasi biliari. Konjugat dari diklofenak yang tidak berubah dieksresikan melalui empedu (bile). IONI hal 705 dan USPDI 2007. panggul atau bahu. Eliminasi (AHFS 2010.2087 dan GG Ed. Nyeri sendi bagian atas (siku. Gel tidak dievaluasi untuk digunakan pada sendi pada punggung (tulang belakang). 2085) Penggunaan Na-diklofenak dikontraindikasikan pada pasien dengan hipersensitivitas terhadap diklofenak.

Tween 80. . cawan petri. Minyak Adas. masker. batang pengaduk. dan minyak adas. magnetic stirrer. kertas timbang. pipet. propylen glycol. Aquabides. sarung tangan. Alat Alat . Metode Penelitian Penyiapan Bahan Bahan-bahan yang digunakan dan dipersiapkan pada percobaan ini yaitu Na Diklofenak. tween 80. gelas beaker. Brookfield. aquabides.Anak-anak Bahan-bahan dalam formulasi Minyak Adas Bab III Metodologi Bahan Bahan – bahan yang digunakan dalam pembuatan nanoemulsi topikal natrium diklofenak antara lain yaitu natrium diklofenak.yang digunakan adalah bahan yang didapatkan dari Laboratorium Teknologi Farmasi. Kertas Timbang. stirrer. sendok tanduk. Etanol.alat yang digunakan untuk menunjang pembuatanadalah buret. timbangan analitik. etanol. Propylen Glycol.

Dicampurkan propylene glycol. minyak adas dalam gelas beaker. Propylene Glycol. dimasukkan Na Diklofenak yang telah dilarutkan dengan etanol ke dalam beaker yang sedang di stirrer.75 gram 3. Pengukuran pH Sediaan Pengukuran pH masing-masing sediaan dilakukan dengan menggunakan pH meter.85 gram 150 gram FORMULA 3 0.Rancangan Pembuatan Sediaan Formula BAHAN Na Diklofenak Minyak Adas Tween 80 Propylene Glycol Etanol Aquabides JUMLAH Tabel 1 JUMLAH FORMULA 1 0. . Dititrasi larutan tersebut sampai airnya habis secara perlahan. Dilarutkan Na Diklofenak dengan menggunakan etanol. Penentuan Karakteristik Sediaan Pengujian karakter dari sediaan tersebut meliputi pemeriksaan organoleptis dan juga dilihat dari pH sediaan nanoemulsi natrium diklofenak.5 gram 33. dan 3 Ditimbang serbuk Na Diklofenak.75 gram 3 gram 56. Etanol. dan bentuk. Pengujian Viskositas Pengujian Viskositas sediaan nanoemulsi Natrium Diklofenak dilakukan dengan menggunakan alat Brookfield. bau.15 gram 22.15 gram 15 gram 33. Dimasukkan aquades ke dalam buret (sebelum stirrer 20 menit). Aquabides sesuai masing – masing formula (Tabel 1) dengan bobot total 150 g yang dibuat dalam bentuk 1 sediaan nanoemulsi. 2. Minyak Adas. diaduk dengan menggunakan stirrer selama 20 menit dengan kecepatan 4000 rpm.75 gram 33. Pemeriksaan Organoleptis Sediaan Gel Natrium Diklofenak Pemeriksaan organoleptis sediaan nanoemulsi natrium diklofenak dilakukan secara visual meliputi warna.75 gram 33.5 gram 33. Diaduk dengan menggunakan stirrer selama 20 menit dengan kecepatan 4000 rpm.75 gram 63.75 gram 3 gram 71. Tween 80. tween 80.60 gram 150 gram FORMULA 2 0.85 gram 150 gram Pembuatan Sediaan Nanoemulsi Formula 1.75 gram 33.15 gram 7.

formula II sebesar 6.96. Formula I memiliki pH lebih rendah dibandingkan dengan formula II dan III. dikarenakan pada formula II kemampuan mempertahankan pHnya lebih besar dibandingkan dengan formula I pada saat pengenceran dengan aquabides. dan formula III. Hal tersebut berarti ada perbedaan yang bermakna pada pH sediaan pada formula I.87. . formula II. formula III sebesar 7.HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengukuran pH Sediaan Gel Natrium Diklofenak Hasil pengukuran pH sediaan gel natrium diklofenak dapat dilihat pada Tabel 2. Pengukuran pH sediaan gel natrium diklofenak didapatkan pH rata-rata formula I sebesar 6.14.