Anda di halaman 1dari 7

1.

Variabel yang mempengaruhi transportasi cutting pada pemboran berarah
(directional drilling) :
a. Laju Alir Lumpur (Mud Flow Rate)
Laju alir lumpur memiliki efek positif yang signifikan pada transportasi cutting.
Meningkatkan kecepatan anular dengan meningkatkan laju alir akan menurunkan
ketinggian lapisan cutting secara signifikan.
b. Reologi Lumpur (Mud Rheology)
Besarnya efek reologi lumpur (efek negatif atau positif) bergantung pada ukuran
cutting, rotasi pipa, inklinasi lubang, dan esentrisitas anular. Dengan meningkatkan
yield point hingga rasio viskositas plastis akan menaikkan kapasitas pengangkatan
dalam concentric annuli. Menaikkan apparent viscosity, yield point dan gel strength
inisial meningkatkan kapasitas pengangkatan pada kecepatan anular rendah dan
menengah pada concentric annuli. Gulungan cutting pada lumpur viskositas rendah
lebih keras dibandingkan pada lumpur viskositas tinggi. Fluida Newtonian
menghasilkan transportasi cutting yang lebih baik dibandingkan fluida lain dengan
apparent viscosity yang sama. Semakin tinggi nilai “n” menyebabkan gaya angkat
semakin besar. Semakin tinggi nilai “k” pada sistem lumpur membantu menjaga
partikel dalam suspensi untuk periode waktu yang lebih lama. Lumpur dengan
viskositas rendah lebih effective dalam transportasi cutting dibandingkan lumpur
dengan viskositas tinggi pada laju alir yang sama.
c. Sudut Lubang (Hole Angle)
Sudut lubang memiliki dampak negatif dengan naiknya sudut inklinasi. Dengan
meningkatkan sudut lubang dari arah vertikal ke horizontal

akan meningkatkan

hydraulic requirement untuk hole cleaning yang cukup. Peningkatan ini mencapai
kondisi plateau pada sudut sekitar 65° dan sedikit menurun sekitar 70° terhadap arah
horizontal. Inklinasi sudut sebesar 35° atau lebih tinggi menyebabkan formasi lapisan
cutting bergantung pada beberapa kondisi. Pada inklinasi sekitar 35 – 50°,
kecenderungan cutting bed untuk meluncur turun semakin besar terjadi.
d. Berat Lumpur (Mud Weight)
Berat lumpur memiliki efek positif yang kecil pada transportasi cutting. Sedikit
peningkatan pada densitas mud akan menurunkan ketinggian lapisan cutting.
Meningkatkan densitas lumpur dengan sifat reologi yang sama memiliki efek yang
kecil atau tidak berefek sama sekali pada hole cleaning.
e. Tipe Lumpur (Mud Type)
Variabel ini memiliki efek positif yang kecil hingga menengah. Peluncuran lapisan
cutting pada rentang inklinasi 40 - 60° lebih umum pada oil based mud dibandingkan

ROP yang rendah dan cutting kecil merupakan kondisi yang paling diinginkan. j. efek rotasi lebih dominan dibandingkan pada anulus yang besar. Pada anulus kecil. g. f. Lapisan cutting (cutting bed) mengakibatkan beberapa masalah dalam pemboran yaitu :  Peningkatan torsi dan drag. ukuran lubang memiliki efek yang kecil sampai tidak ada efek. rotasi meningkatkan penangkatan cutting dari bagian sempit sumur esentris. Pada kasus anulus berukuran besar. . h. Esentrisitas (Eccentricity) Eksentrisitas memiliki efek signifikan yang negatif terhadap cutting transport. karena adanya transisi cepat dari suspensi cutting ke stagnasi ketika ada sedikit penurunan flow rate. i. Laju Penetrasi (Penetration Rate) Peningkatan ROP juga meningkatkan kebutuhan hidraulik untuk untuk pembersihan lubang yang efektif. Kecepatan rendah dibutuhkan untuk menghilangkan cutting dari lubang dengan ukuran yang kecil. Oil based mud dan water based mud yang memiliki reologi yang hampir sama biasanya menunjukkan kinerja yang sama pada hole cleaning. Kecepatan Putar Drilling Bit (Rotation Speed) Kecepatan putar drilling bit memiliki efek positif yang signifikan. Eksentrisitas annular yang mana merupakan hasil dari inklinasi. Dekat sumur pemboran horizontal. berat bit. namun bagaimanapun hubungan baik rotasi dan inklinasi tidak dipresentasikan. Ukuran Lubang (Hole Size) Pada kecepatan anular yang sama. Lapisan cutting akan meningkatkan beban drag dan   torque karena daya yang diperlukan untuk memutar drill string semakin berat. Transportasi yang paling baik terjadi ketika pipa concentric. Kecepatan putar lebih efektif pada sumur inklinasi dibandingkan sumur vertikal.50°. water based mud menunjukkan kinerja sedikit lebih baik dibandingkan oil based mud pada pembersihan lubang bor. 2. Akan tetapi. hal ini memberikan dampak negatif.water based mud. sering tidak dimungkinkan untuk menginisiasi gulungan cutting. dll mempengaruhi transportasi cutting. Maka. Batasan mencapai target Pipe sticking Lapisan cutting yang tidak terangkat dapat menimbulkan pipe sticking yaitu terjepitnya pipa pemboran dikarenakan tumpukan cutting yang mengendap. Ukuran Cutting (Cutting Size) Semakin kecil cutting semakin sulit untuk dibersihkan. hasil validitas pada seksi ini bergantung pada sifat kebasahan formasi (wettability). Pada rentang inklinasi 40 . laju penetrasi memiliki efek negatif.

Larsen. Peningkatan biaya sumur  3. dilakukan prosedur sebagai berikut : a) Menentukan apparent viscosity Friction factor pada korelasi ini dihitung berdasarkan dari apparent newtonian viscosity dengan menggunakan persamaan : d h−dp V min ¿ ¿ K μa= ¿ 144 Dimana : μa=apparent viscosity . ppg ρf = densitas lumpu. Kecepatan slip untuk sumur vertikal dihitung dengan menggunakan persamaan : √ V slip =f d cut ( ρs−ρf ) ρf Dimana : Vsl = kecepatan slip. Konsep transportasi cutting menurut Moore. dan Rudi-Sindhu :  Moore Metode Moore digunakan untuk menghitung kecepatan slip pada sumur vertikal. ppg dcut = diameter cutting. cp K=Indeks konsistensi =510 ( θ300 ¿ /511 n . Kesulitan dalam sementasi dan logging Cutting yang tidak terangkat akan mempersulit penyemanan dalam lubang bor. ft/detik ρs = densitas cutting. in Untuk menghitung kecepatan slip. selain itu akan pula mempersulit logging.

 ROP = rate of penetration Metode Larsen Metode Larsen digunakan untuk menghitung kecepatan slip pada sumur horizontal dan vertikal. ft /s b) Menentukan Reynold number Apparent viscosity digunakan untuk menentukan bilangan Reynold dibawah ini : N ℜ=928 ρV sl d cut /μ a Dimana : N ℜ= partik el Reynol d ' s number ρ=densitas fluida .∈¿ dp=diameter pipa. in C cont =konsentrasi cutting . Diperoleh persamaan sebagai berikut : C conc=0. ft /hr . Untuk sumur directional. sudut inklinasinya sebesar 55-90 0.505 Dimana : C conc=konsentrasi cutting . ROP=rate of penetration . in μa=apparent velocity . ft / s d cut = diameter cutting.01778 ROP+ 0. ppg V sl =kecepatan slip . cp c) Menetukan kecepatan cutting Kecepatan cutting dapat ditentukan dengan persamaan : ROP V cut = dp 36 [1− ]C cont dh V cut =kecepatan cutting .n=indeks kelakuanaliran=3.32 log θ600 θ300 d h=diameter lubang . ft /sec dp = diameter pipa.∈¿ V min =kecepatan minimum . in dh = diameter lubang.

. sudut inklinasi.28 V slip=0. Pada penelitian ini.16 [1− ](0.00516 μ a +3. dan RPM merupakan faktor utama yang mempengaruhi mekanisme transportasi cutting. Rudi-Shindu menyatakan bahwa berat lumpur. Rudi-Sindhu mengekspresikan laju minimum limpur sebagai jumlah dari kecepatan slip (slip velocity) dan kecepatan dari cutting yang jatuh. koreksi faktor untuk RPM yang didasarkan pada studi Peden diperkenalkan. tetap diperlukan faktor koreksi yang merupakan parameter penting dalam model RudiSindhu. Rudi-Sindhu memperkenalkan kecepatan slip dan faktor koreksi untuk berat lumpur dan sudut inklinasi dengan analisis regresi menggunakan faktor koreksi Larsen dan data eksperimen dari Larsen dan Peden. Kecepatan cutting bergantung pada geometri sumur dan besarnya ROP. Rudi-sindhu memodifikasi kecepatan slip Moore yang dapat diaplikasikan untuk sumur vertikal yang juga masih mungkin digunakan untuk sumur horizontal.Rudi-Sindhu menghasilkan persamaan baru untuk menentukan laju minimum lumpur yang dibutuhkan untuk mengangkat cutting pada sumur berarah hingga horizontal.64 + ) d h ole ROP  V slip =0. Hal tersebut serupa dengan metode Larsen.006 μa <53 cp μ (¿¿ a−53)+ 3.02554 ¿ μa >53 cp Rudi-Sindhu Rudi Sindhu menyatakan bahwa masalah pembersihan lubang dapat diatasi dengan mendefiniskan laju minimum lumpur yang memiliki kapabilitas untuk membersihkan dinding pemboran.Dengan memasukkan faktor koreksi maka didapatkan persamaan baru untuk sumur directional sebagai berikut : 1 V cut = 2 dpip e 18. Lebih lanjut. Namun.

02554 ( μa +53 ) + 3. .28untuk μ a >53 cp Untuk inklinasi dibawah 450.Kecepatan cutting ( Vcut) dapat diekspresikan dengan : d pipe 2 1−( ) dh ole ¿ 1 V cut = ¿ Kecepatan slip dihitung menggunakan apparent viscosity.006 untuk μa <53 cp V slip =0. koreksi dihitung dengan persamaan : Cinc =3 Koreksi densitas lumpur dapat dihitung dengan persamaan berikut : 3+ ρm C dens= 15 Dan untuk koreksi kelajuan rotasi dapat diekspresikan dengan persamaan sebagai berikut : C RPM =(1− RPM ) 600 Model Rudi-Sindhu diaplikasikan untuk sudut inklinasi diantara 0 0 sampai 900.00516 μ a +3. model Rudi Shindu berkorespondensi dengan model Moore untuk sumur vertikal. Pada sudut 00. Kecepatan laju minimum yang didefinisikan oleh Rudi Shindu menunjukkan kenaikan bertahap pada interval inklinasi diantara 00 sampai 450. koreksi dihitung dengan persamaan dibawah ini : Cinc =(1+ 2θ ) 45 Sedangkan untuk inklinasi diatas 450. Dari hasil eksperimen didapat : V slip =0.