Anda di halaman 1dari 11

1. BAB IPENDAHULUANKata kasta sudah sering kita dengar di kalangan masyarakat
Hindu. Kasta bukan warna. Kastaitu identik dengan pelapisan sosial di masyarakat. Dari
turun temurun masyarakat percayadan masih menggunakan sistem kasta tersebut.
Kasta mulai digunakan saat pemerintahankolonial Belanda. Pemerintah kolonial ini
membagi Bali menjadi delapan wilayahpemerintahan tahun 1929. Oleh penjajah
Belanda, para raja diwajibkan menggunakan gelarsekaligus nama yang diberikan
Belanda. Misal, I Goesti Alit Ngoerah di Badung dan DewaAgong Tjokorda Oka Geg
Peonggawa di Klungkung. Inilah yang disebut kebijakanBaliseering, semacam purifikasi
Bali untuk gerakan Ajeg Bali saat itu. Penjajah Belanda,selama 350 tahun menguatkan
sistem kasta karena ini sesuai dengan politik divide et impera-nya(politik adu domba).
Belanda mempertahankan kuasa melalui tangan-tangan penguasa,terutama Brahmana
dan Ksatria, dua tingkat tertinggi dalam kasta. Kebijakan kastamemberikan dampak
negatif yaitu perselisihan bertahun-tahun bahkan hingga sekarang.Contoh perselisihan
tersebut ialah terjadi di Mengwi dan Gianyar. Di dua tempat ini, wargaklan Pande
melawan kalangan Brahmana yang melarang mereka melakukan upacara tanpadipimpin
pihak Brahmana. Selama 17 tahun melawan, dari 1911 hingga 1928, akhirnyawarga
Pande diperbolehkan melaksanakan upacara dipimpin seorang empu, bukan
pedanda.Kasta, dalam Dictionary of American English disebut: Caste is a group resulting
fromthe division of society based on class differences of wealth, rank, rights, profession,
orjob.Uraian lebih luas ditemukan pada Encyclopedia Americana Volume 5 halaman 775;
asalkatanya adalah “Casta” bahasa Portugis yang berarti kelas, ras
keturunan, golongan.Bangsa Portugis yang dikenal sebagai penjelajah lautan adalah
pemerhati danpenemupertama corak tatanan masyarakat di India yang berjenjang dan
berkelompok; merekamenamakan tatanan itu sebagai casta. Tatanan itu kemudian
berkembang di Eropa terutamadi Inggris, Perancis, Rusia, Spanyol, dan Portugis.
Sosialisasi casta di Eropa tumbuh suburkarena didukung oleh bentuk pemerintahan
monarki (kerajaan) dan kehidupan agraris.

 2. BAB IIPEMBAHASANPara elit ketika itu adalah the king (raja), the prince (kaum
bangsawan), dan the landlord (tuan/ pemilik tanah pertanian); rakyat jelata kebanyakan buruh
tani misalnya di Rusiadisebut sebagai kaum proletar adalah kelompok mayoritas yang hina,
hidup susah, dansenantiasa menjadi korban pemerasan kaum elit. Lama kelamaan tatanan ini
berubah karenatiga hal utama, yaitu:1. Revolusi Perancis dan Bholshevik (Rusia) yang
menghapuskan monarki dan the land lord2. Industrialisasi yang mengurangi peran sektor
agraris3. Pengembangan Agama Kristen yang menonjolkan segi kasih sayang di antara umat
manusiaWalaupun demikian casta tidak hilang sama sekali. Ia berubah wujud sebagai
“ClassSystem” yang didefinisikan sebagai: A differentiation among men
according to suchcategories as wealth, position, and power (perbedaan manusia menurut
kekayaan,posisi/status dan kekuasaan). Class System ini dianalisis secara ilmiah oleh
berbagai tokohmasyarakat; yang terkemuka adalah Karl Marx dengan teorinya: The relations
of production.Inilah embrio pemahaman sosialis komunis yang ingin meniadakan perbedaan
kelasmasyarakat, di mana pemerintah menguasai sumber-sumber kehidupan dan
mengupayakanperimbangan income yang wajar di antara rakyatnya.Peredaran zaman menuju
ke abad 20 membawa Class Theory yang klasik sepertipemikiran Karl Marx berubah menuju
era baru seperti apa yang disebut sebagai ClassMobility, yaitu pengelompokan sosial karena
kepentingan profesi. Kini kita biasa mendengarkelompok-kelompok: usahawan, birokrat,
intelektual, militer, dan rohaniawan; merekakemudian mengikat diri lebih khusus ke dalam

E. dll. penganutKristen berkelompok pada: Chaldean Syrians. Kshatriya (prajurit dan pemerintah). yaitu Brahmana. Titel bagi para Raja di Bali dikukuhkan/dianugrahkan oleh Pemerintah Hindia Belandasetelah terwujudnya Pemerintahan Swapraja. Raka Santeri:19). sehingga kelanggenganpemerintahan Samprangan dapat berlanjut terus. Pengelompokan ini di India tidak hanya ditemukan padamasyarakat yang beragama Hindu saja.Pengambilan sumpah jabatan para Raja itu dilaksanakan di Pura Besakih pada tanggal 29Juni 1938 bertepatan dengan hari raya Galungan oleh Residen Bali dan Lombok: J. Suku bangsa Arya di India menganggap suku Dravida lebihrendah harkat dan martabatnya. maka Majapahit menundukkan Kerajaan Bali Dwipa pada abad ke-13. Para &#x201C.organisasi-organisasi seperti: IKADIN. Sheikh. sebenarnyamempunyai sekitar 3000 kelompok sosial masyarakat. Gajahmada UniversityPress. ICHI. MUI.India yang disebut dalam berbagai sumber sebagai asal Kasta Stelsel. Pathan.Penerapan kasta stelsel di India menimbulkan pengkotak-kotakan masyarakat sehinggamereka saling bertikai. penganut Budha berkelompok pada: Mahayana. Untuk memastikan sejak kapan kasta muncul di India memang menjadi persoalan yangamat sulit dibuktikan. Ida Anak Agung Gde Agung.Agama Hindu kemudian menyebar ke Indonesia lengkap dengan tatanan masyarakatmenurut Warna masing-masing. Hinayana.  4. Latin Catholics.1989).Istilah pertama yang digunakan di India sesungguhnya bukanlah kasta tetapi &#x201C.ICMI. hak-hak kebangsawanan mereka dengansendirinya hilang. ditemukan dalam Rg Veda sekitar 3000 tahunsebelum Masehi yaitu Brahman (pendeta).Sementara itu. IDI. Menurut hypotesa Prof. yang sebenarnya sudah sangatmenyimpang dari ajaran suci Weda. berlaku efektif sejak tanggal 1 Juli 1938. Percampuran bangsa Arya dan Dravida inilah mendatangkan pelapisan sosial yangdisebut kasta (Ketut Wiana &amp. Tetapi lama-kelamaan prajuritprajuritArya kesulitan mendapatkan istri. membawa serta kaum elit yang memimpin kerajaanSamprangan. Kedatangan suku Arya yang pada awalnya tidak sukakawin dengan orang-orang pribumi yang kulitnya hitam. Warna yang diabadikan bahkan diwariskan turun temurun terjadi diIndia sebagai usaha kelompok elit mempertahankan status quo. dan Momin.dwij&#x201D. Mula-mula di Jawa tatanan masyarakat masih murnimenurut Weda yaitu tatanan menurut profesi atau Warna.kemudian Indonesia menjadi negara Republik.penjajah Majapahit&#x201D.  3. dikelompokkan sebagai Wangsa Sudra.Bahasa Sanskerta yang artinya Warna (colour).casta&#x201D. dan Waisya. Gejala mengabadikan Warna inilah yang dilihat olehorang-orang Portugis sehingga timbullah istilah &#x201C. Setelah kerajaan-kerajaan di Bali runtuh. PHDI. Tiga kelompok pertama disebut &#x201C. seperti yang diuraikan di atas. Vaishya(pedagang/ pengusaha). tetapi juga pada masyarakat yang beragama lainmisalnya penganut Islam berkelompok pada: Sayid.Mol(sumber: Bali pada abad XIX. Ksatria. namun pada umumnya dapatdibedakan menjadi empat. Yang menjadi persoalan sekarang adalah kaburnya pengertian .Varnas&#x201D. Kaum elit itu dinamakan Triwangsa. Yacobite Syrians. Keadaan ini menyebabkan terjadinya percampurandarah antar suku bangsa Arya yang kulitnya putih dengan suku bangsa Dravida yang kulitnyahitam. Ketika Majapahit hendakmeluaskan kerajaan dengan cita-cita menyatukan Nusantara yang terkenal dengan SumpahPalapa-nya Gajahmada.Giles suku Arya yang ada di Indiasekarang berasal dari Eropa Tengah. Tujuanpolitik Gajahmada adalah agar kaum Bali-asli tidak bisa eksis.A Gait mengemukakan pendapatnya bahwa mula-mula bangsa Aryatak suka perkawinan antar suku. dan Sudra (pelayan). Kebijaksanaan ini menjadi panutanbagi sebagian golongan Triwangsa lainnya.Semua penduduk Bali asli yang dijajah. Keadaan ini didasarkan pada latar belakang sejarahkedatangan bangsa Arya ke India.Sejak masa itulah Warna di Bali berubah menjadi Wangsa atau Kasta karena hak-hakkebangsawanan diturunkan kepada generasi seterusnya. danTheravadi. danMarthomite Syrians. Dalam kondisi seperti ini jiwa nasionalisme pudar sehingga Indiamudah dipecah belah dan akhirnya dijajah Inggris. karenakelahirannya diupacarai dengan prosesi penyucian.

Perubahan menurut desa. Orang yang berbakat. Kesatria. berkualitas. danswabawa-Nya ia aktif dengan segala ciptaanNya.ajaran Hindu. Warna seseorang tidak selamanya tetapapalagi turun temurun. karena itu ia disebut Saguna Brahman. tetapi jika .Seorang Guru Besar Ilmu Filsafat dalam bukunya Pembimbing Ke Arah Filsafatmenuliskan sebagai berikut : adapun seluruh masyarakat Hindu dapat dibagi 4 tingkatanKasta yaitu Brahmana. dan bekerja di bidang ke-Tuhanan disebut Brahmana. dan juga dapat dirangkapoleh satu orang. Brahmana yang paling tinggi. Dalam keadaan begini ia diberigelar Sadasiwa. masyarakat Bali yang notabene sebagaian besarberagama Hindu masih rancu atau adanya kesalahpahaman mengenai sistem kasta dan warna.Kedua para ahli tersebut. Contohnya saja seorang keturunan raja diberi gelarseperti raja padahal ia tidak menjabat sebagai raja. Ksatria.ketika bertugas sebagai pesuruh dia berwarna Sudra. dan bekerja di bidang perekonomian disebut Waisya. Ia memiliki kekuatan untuk memenuhisegala kehendaknya yang disimpulkansebagai bunga teratai (padma) yang merupakan stana-Nya. berkualitas. patra sudah terjadi sejak dahulu. Dengan sakti. menguraikanpengertian catur warna sebagai berikut : Jumlah waran ada 4 yaitu Brahmana. berkualitas. kitab suci dan ajaran&#x2013.Keempat kelompok profesi ini diperlukan dalam tatanan kehidupan manusia. guna. misalnya seorang petani (berwarna Sudra) karena ketekunannyaberhasil menyekolahkan anaknya dan di kemudian hari menjadi bupati maka anaknya sudahmenjadi Warna Ksatriya.Raka Santeri:31). Demikian dua contoh pandangan para ahli sejarah dan filsafat yang non-Hindu yangtidak meneliti pengertian warna dari sumber-sumber kitab suci agama Hindu (Ketut Wiana &amp. Tidaklah dapat dibayangkan bagaimana bentuk kehidupan ini jika semua manusiapersis sama: bakat. Pengertian warna ini sama dengan kasta. dan swabhawa yangmerupakan hukum kemahakuasaan Sanghyang Widhi Wasa. Perubahan status padaseseorang bahkan dapat terjadi setiap saat menurut bidang tugasnya. kualitas. dan bekerja di bidang pemerintahan disebut Kesatria. misalnya seorangpesuruh di suatu kantor yang merangkap menjadi Pemangku di Pura/Sanggah Pamerajan. Orang yang berbakat. Dari keempat kelompok tersebut. berkualitas. tak dapat ia beralih dari satu kasta ke kastalainnya. Pengelompokannya menurut bakat/ kualitasmanusia dan kerjanya:1.Hal ini disebabkan karena masih rendahnya pendidikan dan belum banyak membaca kitab 5. dan kerjanya. demikian sebaliknya seorang keturunan Brahmana yang tidak lagiberprofesi sebagai Wiku tidak dapat disebut sebagai Warna Brahmana.2.Pembagian golongan ini didasarkan pada kelahiran. Orang yang berbakat. misalnya diabad ke 13 M ketika Danghyang Kresna Kepakisan (Warna Brahmana) dinobatkan sebagaiRaja Bali Dwipa oleh Sri Ratu Tribuwanattunggadewi (Raja Majapahit) gelarnya diubahmenjadi Sri Kresna Kepakisan (Warna Kesatria). Orang yang berbakat. mungkin terbatas mendapatkan kitab-kitab suci Hindu. kala.Dalam menciptakan manusia ia tidak membedabedakan derajat manusia. ketika itu ia mulai terpengaruh oleh sakti. dan bekerja di bidang pelayanan disebut Sudra. Raka Santeri:23). guna. padahal keturunannya itu bukanseorang rohaniawan (Ketut Wiana &amp. Wesya. Keempat tingkatan ini ditentukan olehkelahiran sehingga bagaimanapun orang berusaha.Tetapi jangankan kedua para ahli tersebut.Warna seseorang dapat berubah menurut desa. Waisya dan Sudra. kala. olehkarena itu Sang Hyang Widhi Wasa menciptakan manusia-manusia yang berbeda.Terjadi perkembangan sedemikian rupa dalam masyarakat khususnya masyarakatnon-Hindu yang menggunjingkan tentang sitem warna ini yang dikaburkan atau dicampuradukan dengan sistem kasta (Ketut Wiana &amp.3. patra.4. tidak samasemuanya. dan Sudra. Ksatria. Raka Santeri:30).antara kastadan warna dalam Hindu karena pendidikan yang rendah dan kurang tersebarnya kitab-kitabsuci Weda. sehingga para rohaniawan yang memang Brahmana sesuai konsep catur warna.misalnya sampai keturunananya pun ikut disebut Brahmana. Catur Warnaadalah: Brahmana.Dalam Lontar Wrhaspati Tattwa dijelaskan: Paramasiwa kesadarannya mulaitersentuh oleh Maya.Waisya dan Sudra.Sebuah buku yang ditulis oleh seorang pengajar perbandingan agama.

Kasta artinyatingkatan derajat (Cast) yang membedakan dengan tingkatan atau derajat (Cast) yang lain. Ksatria. dan Warna menjadi wangsa.Kesimpulannya adalah Warna itu realistis dan idealnya semua profesional berbuatsebaik-baiknya untuk kepentingan bersama dan kesejahteraan umat manusia.arwah si gadis sudah sah &#x201C. termasuk para leluhurnya. Kalau ini juga terjadipenyimpangan dharma agama akan makin melebar. Mula-mula di Bali dan Jawa tatanan masyarakat masih murni menurut Weda. BAB IIIKESIMPULANPengaruh Kasta di Bali pada mulanya berasal dari India saat penyebaran AgamaHindu. Anak yang namanya diganti bukan atas kehendakorang tuanya akan menemui kesialan dalam hidup selanjutnya. di Sanggah Pamerajan laki-laki. tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebihrendah. Ini tampaknya kurang bijaksana. Yang terakhir.Nama diberikan ketika upacara tiga bulanan. wangsa sering dikaitkan dengan istilah Kasta. sistem kasta ini terus dilanjutkandengan tujuan memecah belah persatuan.maka atribut/ titel itupun diwariskan turun temurun. sehingga nanti bila meninggal dunia lalu di-aben.Banyak yang berdalih bahwa mewariskan wangsa kepada keturunan adalah sebagai wujudpenghormatan kepada leluhur. Karena bangsa berkonotasi dengan etnis. demikian sebaliknya. upaya yang dilakukan untuk memudarkan kasta yaituperlakukan orang-orang berkasta itu biasa-biasa saja. Kasta Kesatria.Kesalahpahaman antara kasta dan warna terjadi pada orang-orang non Hindu karenamereka tidak meneliti dengan berpedoman pada .  8. Kemudian ketika pemerintahan Hindia Belanda. KetikaMajapahit hendak meluaskan kerajaan dengan patihnya Gajah Mada. perlu dipahami bahwa upacara Mepamit tidakberarti mohon diri kepada Ida Bethara di Sanggah Pamerajan. Oleh karena pembauran Warna dengan wangsa/ kasta. karena pola pikir seperti itutelah menyimpang dari Weda.  7. Misalnya anak pasangan suami/istri berbangsa Cina tidak mungkin mengaku anakorang berbangsa Negro.Wangsa adalah bangsa. Ia menundukan Balidengan mengelompokan penduduk menjadi tiga kelompok yaitu Brahmana. maka sifatnya turuntemurun. danWaisya. Inihanyalah tradisi gugon tuwon yang berbau feodal. Warna itu status dan derajatnya sama. Satu lagiyang sebaiknya diterapkan di masyarakat Hindu : bila seorang gadis dinikahi oleh seorangdari kaum Triwangsa sebaiknya namanya tidak usah diganti misalnya ketika gadis bernamaMade Arini. Lontar Dharma Kauripan mengatakanbahwa yang berhak memberi nama atau merubah nama seorang anak hanyalah ayah dan ibukandungnya (Guru Rupaka).nyumbah&#x201D. perjuangan. dengan atribut/ titelyang tidak berdasarkan kitab suci. tetapi jugawajib menghormati dan menyayangi keluarga si gadis. yaitu registrasi di Sanggah Pamerajan gadis dicoret kemudianterdaftar di Sanggah Pamerajan laki-laki.Lama kelamaan wangsa menjadi kasta. tetapi berarti pemindahanregistrasi (secara niskala).Menurut Bhagawan Dwija. dan kekuasaan. Kejanggalan tidak sedikit terjadi. karena terkena kutukanprasangga pada Guru Rupaka. karena wujudnya adalah professionalisme. leluhur si gadis.Secara umum konotasi kewangsa-an berkaitan dengan politik. Ngaturangbakti di sanggah pamerajan pihak wanita tidak selamanya berarti &#x201C. Hormati mereka berdasarkan inteligensidan pengabdiannya kepada masyarakat. karena itu ada unsur sakralnya. lalu karena menikah dengan Ida Bagus/Anak Agung/I Gusti namanya digantimenjadi Jero Jempiring. Ke-empat  6. tetapi (dalam upacara Pawiwahan) lebih bermakna sebagai permakluman dan perkenalan dirikepada para leluhur si gadis.mepaingkup&#x201D.bertugas nganteb piodalan diPura dia berwarna Brahmana. sehingga sekarangditemukan: Kasta Brahmana. disaksikan oleh Ida Bethara Hyang Guru(Kemulan). Karena tidak ada aturan tentang hal tersebut dalam sastra Agama. Dan mudah-mudahan juga ketika natab banten pekala-kalaansi Jero Jempiring tidak natab bersama keris sebagai ganti sang suami. Kasta Sudra. Seorang lelaki yang menikahi seoranggadis yang berbeda wangsa tidak hanya mencintai dan menyayangi gadis itu saja. Bukan karena titel kebangsawanannya. Di Bali. Kasta Wesya.misalnya seorang wangsa Brahmana berprofesi sebagai Warna Sudra.

Dalam kitab-kitab suci Agama Hindu seperti Bhagawan Gita.1993. Sateri Raka. Riwayat Kasta di Bali. Denpasar:&#xF0D8. Wiana Ketut &amp.Upaya yang dilakukan untuk memudarkan sistem kasta adalah menghormati merekaberdasarkan inteligensi dan pengabdiannya kepada masyarakat. diakses pada tanggal 12 Desember2013)&#xF0D8. Wirawan Afdila. sebagain umat Hindu yang pendidikannya masih rendah dan belum banyak membacakitab-kitab suci dan ajaran Hindu masih terjadi kesalahpahaman dalam mengartikan antarakasta dan warna. Bhawagan. bukan karena titelkebangsawanannya.Made.diakses pada tanggal 12 Desember 2013)&#xF0D8. dan Yajur Weda menyebutkan tidak adanya istilah yang menyinggung kasta yang adahanya warna yang membagi masyarakat berdasarkan guna dan karmanya dan tidakditentukan karena kelahirannya. Kerepun Kembar.org/riwayat-kasta-diBali/ . (Online)(http://sosbud. makalahsistem kasta di baliDISUSUN OLEH :NAMA : MARTINIKELAS : XISMA NEGERI 1 RAHA2014 makalah sistem kasta di bali . Sementaraitu. Kasta sikap Diskrimitif Orang Bali. Dwija. Manawa DharmaSastra.Denpasar :Yayasan Dharma Naradha&#xF0D8. I Kade. DAFTAR RUJUKAN&#xF0D8.kitab-kitab suci Agama Hindu. (Online)(http://stitidharma.Mengurai Benang Kusut Kasta.kompasiana. 2012.com/2012/07/20/kasta-sikapdiskriminatif-orang-bali/ . 2012.  9. PT Empat Warna Komunikasi  10.Kasta dalam Hindu: Kesalahpahaman Berabad-abad.2007.

Kasta mulai digunakan saat pemerintahan kolonial Belanda. ras keturunan. Kasta. Kasta itu identik dengan pelapisan sosial di masyarakat. Perancis. dan Portugis. I Goesti Alit Ngoerah di Badung dan Dewa Agong Tjokorda Oka Geg Peonggawa di Klungkung.Uraian lebih luas ditemukan pada Encyclopedia Americana Volume 5 halaman 775. Di dua tempat ini. Sosialisasi casta di Eropa tumbuh subur karena didukung oleh bentuk pemerintahan monarki (kerajaan) dan kehidupan agraris. Bangsa Portugis yang dikenal sebagai penjelajah lautan adalah pemerhati dan penemupertama corak tatanan masyarakat di India yang berjenjang dan berkelompok. Inilah yang disebut kebijakan Baliseering. rights. golongan. asal katanya adalah “Casta” bahasa Portugis yang berarti kelas. Belanda mempertahankan kuasa melalui tangan-tangan penguasa. warga klan Pande melawan kalangan Brahmana yang melarang mereka melakukan upacara tanpa dipimpin pihak Brahmana. akhirnya warga Pande diperbolehkan melaksanakan upacara dipimpin seorang empu. Dari turun temurun masyarakat percaya dan masih menggunakan sistem kasta tersebut. rank. dalam Dictionary of American English disebut: Caste is a group resulting from the division of society based on class differences of wealth. para raja diwajibkan menggunakan gelar sekaligus nama yang diberikan Belanda. Rusia. dari 1911 hingga 1928. profession. Contoh perselisihan tersebut ialah terjadi di Mengwi dan Gianyar. Selama 17 tahun melawan. Penjajah Belanda. Oleh penjajah Belanda. Tatanan itu kemudian berkembang di Eropa terutama di Inggris. Misal. BAB II PEMBAHASAN .BAB I PENDAHULUAN Kata kasta sudah sering kita dengar di kalangan masyarakat Hindu. dua tingkat tertinggi dalam kasta. or job. Pemerintah kolonial ini membagi Bali menjadi delapan wilayah pemerintahan tahun 1929. semacam purifikasi Bali untuk gerakan Ajeg Bali saat itu. Kebijakan kasta memberikan dampak negatif yaitu perselisihan bertahun-tahun bahkan hingga sekarang. terutama Brahmana dan Ksatria. selama 350 tahun menguatkan sistem kasta karena ini sesuai dengan politik divide et impera-nya (politik adu domba). Spanyol. bukan pedanda. Kasta bukan warna. mereka menamakan tatanan itu sebagai casta.

Peredaran zaman menuju ke abad 20 membawa Class Theory yang klasik sepertipemikiran Karl Marx berubah menuju era baru seperti apa yang disebut sebagai Class Mobility. dan senantiasa menjadi korban pemerasan kaum elit. IDI.posisi/status dan kekuasaan). Sheikh. Suku bangsa Arya di India menganggap suku Dravida lebih rendah harkat dan martabatnya. ICHI. Keadaan ini didasarkan pada latar belakang sejarah kedatangan bangsa Arya ke India.Giles suku Arya yang ada di India sekarang berasal dari Eropa Tengah. India yang disebut dalam berbagai sumber sebagai asal Kasta Stelsel. namun pada umumnya dapat dibedakan menjadi empat. dan the land lord (tuan/ pemilik tanah pertanian). yaitu: Revolusi Perancis dan Bholshevik (Rusia) yang menghapuskan monarki dan the land lord Industrialisasi yang mengurangi peran sektor agraris Pengembangan Agama Kristen yang menonjolkan segi kasih sayang di antara umat manusia Walaupun demikian casta tidak hilang sama sekali. birokrat. dan Theravadi. Tetapi lama-kelamaan prajuritprajurit Arya kesulitan mendapatkan istri. 2. sebenarnya mempunyai sekitar 3000 kelompok sosial masyarakat. yaitu pengelompokan sosial karena kepentingan profesi. Hinayana. MUI. Ia berubah wujud sebagai “Class System” yang didefinisikan sebagai: A differentiation among men according to such categories as wealth. Lama kelamaan tatanan ini berubah karena tiga hal utama. Inilah embrio pemahaman sosialis komunis yang ingin meniadakan perbedaan kelas masyarakat. the prince (kaum bangsawan). position. Latin Catholics. Class System ini dianalisis secara ilmiah oleh berbagai tokoh masyarakat. militer. yang terkemuka adalah Karl Marx dengan teorinya: The relations of production. hidup susah. Para elit ketika itu adalah the king (raja). Yacobite Syrians. dan rohaniawan.1. intelektual. E. mereka kemudian mengikat diri lebih khusus ke dalam organisasi-organisasi seperti: IKADIN. dan Momin. penganut Kristen berkelompok pada: Chaldean Syrians. ICMI. rakyat jelata kebanyakan buruh tani misalnya di Rusia disebut sebagai kaum proletar adalah kelompok mayoritas yang hina. 3. Keadaan ini menyebabkan terjadinya percampuran darah antar suku bangsa Arya yang kulitnya putih dengan suku bangsa Dravida yang kulitnya . and power (perbedaan manusia menurut kekayaan. Pengelompokan ini di India tidak hanya ditemukan pada masyarakat yang beragama Hindu saja. Menurut hypotesa Prof. Kini kita biasa mendengar kelompok-kelompok: usahawan.A Gait mengemukakan pendapatnya bahwa mula-mula bangsa Arya tak suka perkawinan antar suku. Untuk memastikan sejak kapan kasta muncul di India memang menjadi persoalan yang amat sulit dibuktikan. PHDI. tetapi juga pada masyarakat yang beragama lain misalnya penganut Islam berkelompok pada: Sayid. dan Marthomite Syrians. penganut Budha berkelompok pada: Mahayana. Pathan. di mana pemerintah menguasai sumber-sumber kehidupan dan mengupayakan perimbangan income yang wajar di antara rakyatnya. dll. Kedatangan suku Arya yang pada awalnya tidak suka kawin dengan orang-orang pribumi yang kulitnya hitam.

Ketika Majapahit hendak meluaskan kerajaan dengan cita-cita menyatukan Nusantara yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya Gajahmada. dikelompokkan sebagai Wangsa Sudra. Gejala mengabadikan Warna inilah yang dilihat oleh orang-orang Portugis sehingga timbullah istilah “casta” seperti yang diuraikan di atas.1989). padahal keturunannya itu bukan seorang rohaniawan (Ketut Wiana & Raka Santeri:23). Agama Hindu kemudian menyebar ke Indonesia lengkap dengan tatanan masyarakat menurut Warna masing-masing. Setelah kerajaan-kerajaan di Bali runtuh. Istilah pertama yang digunakan di India sesungguhnya bukanlah kasta tetapi “Varnas” Bahasa Sanskerta yang artinya Warna (colour). Warna yang diabadikan bahkan diwariskan turun temurun terjadi di India sebagai usaha kelompok elit mempertahankan status quo. Tujuan politik Gajahmada adalah agar kaum Bali-asli tidak bisa eksis. Ida Anak Agung Gde Agung. sehingga kelanggengan pemerintahan Samprangan dapat berlanjut terus.hitam. kemudian Indonesia menjadi negara Republik. Mula-mula di Jawa tatanan masyarakat masih murni menurut Weda yaitu tatanan menurut profesi atau Warna. Ksatria. misalnya sampai keturunananya pun ikut disebut Brahmana. Gajahmada University Press. Kebijaksanaan ini menjadi panutan bagi sebagian golongan Triwangsa lainnya. Penerapan kasta stelsel di India menimbulkan pengkotak-kotakan masyarakat sehingga mereka saling bertikai. hak-hak kebangsawanan mereka dengan sendirinya hilang. ditemukan dalam Rg Veda sekitar 3000 tahun sebelum Masehi yaitu Brahman (pendeta). Semua penduduk Bali asli yang dijajah. Tiga kelompok pertama disebut “dwij” karena kelahirannya diupacarai dengan prosesi penyucian. Dalam kondisi seperti ini jiwa nasionalisme pudar sehingga India mudah dipecah belah dan akhirnya dijajah Inggris. Percampuran bangsa Arya dan Dravida inilah mendatangkan pelapisan sosial yang disebut kasta (Ketut Wiana & Raka Santeri:19). Sementara itu. yang sebenarnya sudah sangat menyimpang dari ajaran suci Weda. dan Waisya. Pengambilan sumpah jabatan para Raja itu dilaksanakan di Pura Besakih pada tanggal 29 Juni 1938 bertepatan dengan hari raya Galungan oleh Residen Bali dan Lombok: J. Titel bagi para Raja di Bali dikukuhkan/dianugrahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda setelah terwujudnya Pemerintahan Swapraja. Sejak masa itulah Warna di Bali berubah menjadi Wangsa atau Kasta karena hak-hak kebangsawanan diturunkan kepada generasi seterusnya. dan Sudra (pelayan). . Mol(sumber: Bali pada abad XIX. Vaishya (pedagang/ pengusaha). sehingga para rohaniawan yang memang Brahmana sesuai konsep catur warna. Kshatriya (prajurit dan pemerintah). Kaum elit itu dinamakan Triwangsa. Yang menjadi persoalan sekarang adalah kaburnya pengertian antara kasta dan warna dalam Hindu karena pendidikan yang rendah dan kurang tersebarnya kitab-kitab suci Weda. yaitu Brahmana. berlaku efektif sejak tanggal 1 Juli 1938. maka Majapahit menundukkan Kerajaan Bali Dwipa pada abad ke-13. Para “penjajah Majapahit” membawa serta kaum elit yang memimpin kerajaan Samprangan.

1. Sebuah buku yang ditulis oleh seorang pengajar perbandingan agama. dan swabawa-Nya ia aktif dengan segala ciptaan-Nya. berkualitas. Warna seseorang dapat berubah menurut desa. dan bekerja di bidang pemerintahan disebut Kesatria. dan kerjanya. oleh karena itu Sang Hyang Widhi Wasa menciptakan manusia-manusia yang berbeda. patra sudah terjadi sejak dahulu. Waisya dan Sudra. Kesatria. berkualitas. guna. Orang yang berbakat. Dalam Lontar Wrhaspati Tattwa dijelaskan: Paramasiwa kesadarannya mulai tersentuh oleh Maya. misalnya di abad ke 13 M ketika Danghyang Kresna Kepakisan (Warna Brahmana) dinobatkan sebagai . kala. Dalam menciptakan manusia ia tidak membedabedakan derajat manusia. Hal ini disebabkan karena masih rendahnya pendidikan dan belum banyak membaca kitabkitab suci dan ajaran–ajaran Hindu. tak dapat ia beralih dari satu kasta ke kasta lainnya. ketika itu ia mulai terpengaruh oleh sakti. Perubahan menurut desa. guna. berkualitas. berkualitas. 2. Terjadi perkembangan sedemikian rupa dalam masyarakat khususnya masyarakat non-Hindu yang menggunjingkan tentang sitem warna ini yang dikaburkan atau dicampur adukan dengan sistem kasta (Ketut Wiana & Raka Santeri:30). Waisya dan Sudra. karena itu ia disebut Saguna Brahman. Kedua para ahli tersebut. 3. Demikian dua contoh pandangan para ahli sejarah dan filsafat yang non-Hindu yang tidak meneliti pengertian warna dari sumber-sumber kitab suci agama Hindu (Ketut Wiana & Raka Santeri:31). menguraikan pengertian catur warna sebagai berikut : Jumlah waran ada 4 yaitu Brahmana. 4. dan bekerja di bidang pelayanan disebut Sudra. Dengan sakti. Orang yang berbakat. Ia memiliki kekuatan untuk memenuhisegala kehendaknya yang disimpulkan sebagai bunga teratai (padma) yang merupakan stana-Nya. Keempat tingkatan ini ditentukan oleh kelahiran sehingga bagaimanapun orang berusaha. dan bekerja di bidang ke-Tuhanan disebut Brahmana. dan juga dapat dirangkap oleh satu orang. kala. dan bekerja di bidang perekonomian disebut Waisya. Pengelompokannya menurut bakat/ kualitas manusia dan kerjanya: Orang yang berbakat. mungkin terbatas mendapatkan kitab-kitab suci Hindu. Contohnya saja seorang keturunan raja diberi gelar seperti raja padahal ia tidak menjabat sebagai raja. kualitas. Catur Warna adalah: Brahmana. Pembagian golongan ini didasarkan pada kelahiran. Pengertian warna ini sama dengan kasta. dan swabhawa yang merupakan hukum kemahakuasaan Sanghyang Widhi Wasa. Dalam keadaan begini ia diberi gelar Sadasiwa. Keempat kelompok profesi ini diperlukan dalam tatanan kehidupan manusia. tidak sama semuanya. dan Sudra. Ksatria. Wesya. Brahmana yang paling tinggi. patra. Ksatria. Seorang Guru Besar Ilmu Filsafat dalam bukunya Pembimbing Ke Arah Filsafat menuliskan sebagai berikut : adapun seluruh masyarakat Hindu dapat dibagi 4 tingkatan Kasta yaitu Brahmana. Tidaklah dapat dibayangkan bagaimana bentuk kehidupan ini jika semua manusia persis sama: bakat. Tetapi jangankan kedua para ahli tersebut. Dari keempat kelompok tersebut. Orang yang berbakat. masyarakat Bali yang notabene sebagaian besar beragama Hindu masih rancu atau adanya kesalahpahaman mengenai sistem kasta dan warna.

maka atribut/ titel itupun diwariskan turun temurun. karena pola pikir seperti itu telah menyimpang dari Weda. Oleh karena pembauran Warna dengan wangsa/ kasta. Misalnya anak pasangan suami/istri berbangsa Cina tidak mungkin mengaku anak orang berbangsa Negro. Satu lagi yang sebaiknya diterapkan di masyarakat Hindu : bila seorang gadis dinikahi oleh seorang dari kaum Triwangsa sebaiknya namanya tidak usah diganti misalnya ketika gadis bernama Made Arini. Warna seseorang tidak selamanya tetap apalagi turun temurun. wangsa sering dikaitkan dengan istilah Kasta. Lontar Dharma Kauripan mengatakan bahwa yang berhak memberi nama atau merubah nama seorang anak hanyalah ayah dan ibu kandungnya (Guru Rupaka). sehingga sekarang ditemukan: Kasta Brahmana. Ini tampaknya kurang bijaksana. dan Warna menjadi wangsa. karena itu ada unsur sakralnya. disaksikan oleh Ida Bethara Hyang Guru (Kemulan). demikian sebaliknya. lalu karena menikah dengan Ida Bagus/Anak Agung/I Gusti namanya diganti menjadi Jero Jempiring. misalnya seorang petani (berwarna Sudra) karena ketekunannya berhasil menyekolahkan anaknya dan di kemudian hari menjadi bupati maka anaknya sudah menjadi Warna Ksatriya. Nama diberikan ketika upacara tiga bulanan. perjuangan. Secara umum konotasi ke-wangsa-an berkaitan dengan politik.Raja Bali Dwipa oleh Sri Ratu Tribuwanattunggadewi (Raja Majapahit) gelarnya diubah menjadi Sri Kresna Kepakisan (Warna Kesatria). Ini hanyalah tradisi gugon tuwonyang berbau feodal. Ke-empat Warna itu status dan derajatnya sama. misalnya seorang wangsa Brahmana berprofesi sebagai Warna Sudra. Bukan karena titel kebangsawanannya. Hormati mereka berdasarkan inteligensi dan pengabdiannya kepada masyarakat. Di Bali. karena terkena . Lama kelamaan wangsa menjadi kasta. Kasta Kesatria. dan kekuasaan. Karena bangsa berkonotasi dengan etnis. dengan atribut/ titel yang tidak berdasarkan kitab suci. Kasta Sudra. karena wujudnya adalah professionalisme. Wangsa adalah bangsa. tetapi jika bertugas nganteb piodalan di Pura dia berwarna Brahmana. ketika bertugas sebagai pesuruh dia berwarna Sudra. Kasta Wesya. maka sifatnya turun temurun. Menurut Bhagawan Dwija. Perubahan status pada seseorang bahkan dapat terjadi setiap saat menurut bidang tugasnya. demikian sebaliknya seorang keturunan Brahmana yang tidak lagi berprofesi sebagai Wiku tidak dapat disebut sebagai Warna Brahmana. Anak yang namanya diganti bukan atas kehendak orang tuanya akan menemui kesialan dalam hidup selanjutnya. upaya yang dilakukan untuk memudarkan kasta yaitu perlakukan orang-orang berkasta itu biasa-biasa saja. Karena tidak ada aturan tentang hal tersebut dalam sastra Agama. misalnya seorang pesuruh di suatu kantor yang merangkap menjadi Pemangku di Pura/Sanggah Pamerajan. Kesimpulannya adalah Warna itu realistis dan idealnya semua profesional berbuat sebaik-baiknya untuk kepentingan bersama dan kesejahteraan umat manusia. tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah. Kasta artinya tingkatan derajat (Cast) yang membedakan dengan tingkatan atau derajat (Cast) yang lain. Banyak yang berdalih bahwa mewariskan wangsa kepada keturunan adalah sebagai wujud penghormatan kepada leluhur. Kejanggalan tidak sedikit terjadi.

Yang terakhir. Seorang lelaki yang menikahi seorang gadis yang berbeda wangsa tidak hanya mencintai dan menyayangi gadis itu saja. tetapi juga wajib menghormati dan menyayangi keluarga si gadis. tetapi (dalam upacara Pawiwahan) lebih bermakna sebagai permakluman dan perkenalan diri kepada para leluhur si gadis. perlu dipahami bahwa upacara Mepamit tidak berarti mohon diri kepada Ida Bethara di Sanggah Pamerajan. Kalau ini juga terjadi penyimpangan dharma agama akan makin melebar. Dan mudah-mudahan juga ketika natab banten pekala-kalaan si Jero Jempiring tidak natab bersama keris sebagai ganti sang suami. tetapi berarti pemindahan registrasi (secara niskala).kutukan prasangga pada Guru Rupaka. Ngaturang bakti di sanggah pamerajan pihak wanita tidak selamanya berarti “nyumbah” leluhur si gadis. sehingga nanti bila meninggal dunia lalu di-aben. arwah si gadis sudah sah “mepaingkup” di Sanggah Pamerajan laki-laki. . termasuk para leluhurnya. yaitu registrasi di Sanggah Pamerajan gadis dicoret kemudian terdaftar di Sanggah Pamerajan laki-laki.