Anda di halaman 1dari 15

Dampak Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit oleh PT Riau Makmur

Sentosa
Ditinjau dari Isi Perjanjian No / PT.RMS-SPK/ III/ 2009
Tahun 2005 PT Riau Makmur Sentosa telah melaksanakan pembangunan perkebunan
kelapa sawit melalui kemitraan dengan Koperasi Bukit Batu Darul.
Pasal 22 Undang undang No 18 tahun 2004 tentang perkebunan dijelaskan perusahan
perkebunan melakukan kemitraan yang saling menguntungkan, saling menghargai, saling
bertanggungjawab, saling memperkuat dan saling ketergantungan dengan pekebun,
karyawan, dan Masyarakat di sekitar kebun.
Kemudian pasal 1 (13) Undang undang No 25 tahun 1992 tentang perKoperasian dijelaskan
bahwa Kemitraan adalah kerjasama dalam keterkaitan usaha, baik langsung maupun tidak
langsung, atas dasar prinsip saling memerlukan, mempercayai, memperkuat, dan
menguntungkan yang melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dengan Usaha
Besar.
Berdasarkan kedua undang undang diatas dapat disimpulkan kewajiban kemitraan dalam
upaya pemberdayaan Koperasi atas dasar prinsip saling memerlukan, mempercayai,
memperkuat dan menguntungkan pelaku usaha Koperasi dan milik swasta yang
melaksanakan kegiatan ini.
Dalam pelaksanaannya dilapangan, kegiatan ini menimbulkana gejolah diMasyarakat baik
dari aspek lingkungan hidup oleh Lembaga Swadaya Masyarakat Front Peduli Riau dan
Masyarakat di areal pengelolaan perkebunan maupun aspek sosial Masyarakat.
Dari aspek lingkungan hidup data yang terkumpul berdasarkan investigasi
LSM- FPR dan Masyarakat yang terkena dampak, dapat disimpulkan bahwa
rencana pembangunan perkebunan kelapa sawit tidak efektif dan berdampak
buruk bagi lingkungan hidup.
Selain itu 3 point penting yang mesti dipertimbangkan dalam pelaksanaan kembali kegiatan
ini yaitu :

Luas areal rencana perkebunan 8. 200. Ha

Kedalaman gambut pada areal rencana kegiatan 5- 9 meter

Saluran Drainase yang terlalu besar yang berakibat pada pengurangan volume air

Penyerobotan lahan perkebunan bahkan pemukiman Masyarakat.

Laporan keluhan yang disampaikan Masyarakat kepada LSM- Front Peduli Riau, ditampung
dan kemudian di fasilitasi dan diperjuangkan bersama Masyarakat hingga sampai kepada
tahap sebagai mana mestinya, Keluhan Masyarakat mendapat tanggapan positif dari DPRD

Kabupaten Bengkalis sehingga perpanjangan izin pemanfaatan kayu atas nama PT Riau
Makmur Sentosa ditinjau ulang dan ditunda terbitnya.
Proses leand clearing (pembersihan lahan dengan memanfaatkan hasil hutan berupa kayu
alam) Lahan rencana perkebunan kelapa sawit PT Riau Makmur Sentosa di kecamatan bukit
batu pada waktu itu telah selesai dilakukan seluas + 3 Ha. seiring dengan habisnya masa
berlaku izin pemanfaatan kayu tersebut, lahan rencana perkebunan kelapa sawit ini
dibiarkan dan di telantarkan begitu saja oleh PT Riau Makmur Sentosa tanpa melanjutkan
proses perkebunan kelapa sawit.
Koperasi Bukit Batu Darul Makmur sebagai Koperasi kemitraan dan mewakili seluruh
Masyarakat dan segenap komponen di 5 Desa dan 1 Kelurahan di kecamatan bukit batu tidak
dapat berbuat apa apa dan tidak ada upaya sedikitpun terhadap perbaikan kerusakan
lingkungan yang terjadi. Dampak kegiatan pemanfaatan hasil hutan tersebut masih tetap
dirasakan oleh Masyarakat di areal pengelolaan hutan seperti

Penurunan premukaan tanah

Tingginya Suhu udara/ perubahan iklim

Banjir

Kekeringan

Hilangnya tempat tinggal habitat alami Flora/ Fauna

Dll

Pada tahun 2009 PT Riau Makmur sentosa kembali ingin menguasai lahan hutan dengan
memanfaatkan proses izin pemanfaatan kayu untuk pengolahan hasil hutan untuk mengeruk
keuntungan yang sebesar besarnya bersamaan dengan terbitnya izin pemanfaatan kayu atas
nama PT Riau makmur Sentosa dengan luas lebih dari 4000 Ha.
Keinginan PT Riau Makmur Sentosa untuk mengelola kembali lahan rencana perkebunan
kelapa sawit di sambut baik oleh Koperasi Bukit Batu Darul Makmur dengan di sepakatinya
perjanjian kerjasama dengan nomor :./ PT. RMS-SPK/ III/ 2009.
Surat perjanjian ini terdapat berbagai kejanggalan yang sifatnya sangat merugikan
Masyarakat di areal rencana perkebunan khususnya Masyarakat di 5 Desa dan 1 Kelurahan,
Kecamatan Bukit Batu.
Upaya demi upaya telah dilakukan oleh Masyarakat untuk mencegah kegiatan ini dengan
menyampaikan aspirasi tentang penyimpangan peraturan perundang undangan yang
berakibat buruk terhadap kelansungan lingkungan hidup dan kerugian yang diderita oleh
Masyarakat yang lahan kebunnya sengaja di serobot oleh PT Riau Makmur Sentosa melalui
media masa, media electronik, bahkan demonstrasi dan dengar pendapat dengan DPRD
Propinsi Riau maupun DPRD Kabupaten Bengkalis maupun Rapat dengan pihak

Pemerintah Kabupaten Bengkalis, namun hingga saat ini DPRD Kabupaten Bengkalis
sepertinya kehilangan peran dalam membela hak hak Masyarakat.
Inti permasalahan yang timbul akibat realisasi rencana perkebunan kelapa sawit oleh PT
Riau Makmur Sentosa di Kecamatan Bukit Batu ini adalah kebijakan pengurus Koperasi
Bukit Batu Darul Makmur terhadap kesepakatan Kemitraan.
Pola kemitraan usaha pertanian yang telah direkomendasikan oleh menteri pertanian adalah
sebagai berikut :

Pola inti plasma.

Pola sub kontrak

Pola dagang umum dan

Pola kerjasama operasional.

Dalam pelaksanaan dilapangan pola kemitraan yang dilakukan oleh Koperasi Bukit Batu
Darul Makmur dan PT Riau Makmur Senrosa adalah pola inti plasma.
Adalah hubungan kemitraan antara kelompok mitra dengan perusahaan mitra dimana
kelompok mitra bertindak sebagai plasma
Kejanggalan isi surat perjanjian No/ PT. RMS-SPK/ III/ 2009 antara lain
1.

No Surat yang tidak jelas.

2.

Keterwaakilan seluruh Masyarakat dan segenap komponen 5 Desa & 1 Kelurahan

Dalam perjanjian dijelaskan bahwa Koperasi Bukit Batu Darul Makmur mewakili Seluruh
Masyarakat dan Segenap Komponen Masyarakat di 5 Desa dan 1 Kelurahan di Kecamatan
Bukit Batu antara lain

Desa Buruk Bakul

Desa Sungai Selari

Kelurahan Sungai Pakning

Desa Sejangat

Desa Dompas

Desa Pangkalan Jambi.

Tidak profesionalnya Pengurus Koperasi dalam menganalisa isi perjanjian kemitraan


maupun menjalankan organisasi terbukti dari kejanggalan isi perjanjian dan terkesan tidak
memihak kepada kepentingan Koperasi yang dalam hal ini mewakili seluruh Masyarakat di 5
Desa dan 1 Kelurahan berdampak pada kerugian yang bakal diterima Koperasi Bukit Batu
Darul Makmur dalam kemitraan pembangunan perkebunan dengan PT Riau Makmur
Sentosa,

Disamping itu dalam pengelolaan organisasi, Koperasi tidak pernah melibatkan Seluruh

Masyarakat dan Segenap Komponen yang ada di 5 Desa 1 Kelurahan.


Seluruh Masyarakat artinya keterwakilan Masyarakat terhadap kemitraan Koperasi Bukit
Batu Darul Makmur dan PT Riau Makmur Sentosa dalam realisasi rencana perkebunan
kelapa sawit ini secara personal, tidak bisa diwakili oleh siapapun.
Sedangkan segenap komponen Desa/ Kelurahan artinya keterlibatan semua komponen
antara lain Pemerintah Desa, BPD, LKMD, dan lembaga Desa lain kalau ada
Kedudukan dan keterwakilan seluruh Masyarakat dan segenap komponen Desa/ Kelurahan
dalam struktur organisasi Koperasi tidak jelas,apakah sebagai anggota maupun
pengurus Koperasi jika seluruh Masyarakat dan segenap komponen Desa adalah anggota
Koperasi tentunya kartu anggota sudah direalisasikan oleh Koperasi Bukit Batu Darul
Makmur.
Berdasarkan pasal 20 (2) undang undangno 25 tahun1992 tentang perKoperasian dijelaskan
bahwa setiap anggota berhak :

menghadiri ,menyatakan pendapat ,dan memberikan suara dalam Rapat Anggota

memilihdan/atau dipilih menjadi aggota Pengurus atau Pengawas

meminta diadakan Rapat Anggota menurut ketentuan dalam Anggaran Dasar

mengemukakan pendapat atau saran kepada pengurus diluar Rapat Anggota baik
diminta maupun tidak diminta.

memanfaatkan Koperasi dan mendapat pelayanan yang antara sesama aggota.

mendapatkan keterangan mengenai perkembangan Koperasi menurut ketentuan


dalam Anggaran Dasar .

Hak tersebut diatas tetap tidak pernah bisa digunakan oleh seluruh Masyarakat dan segenap
komponen Desa/ Kelurahan yang di wakili oleh Koperasi karena memang belum pernah ada
itikat baik dari pengurus.
Tidak transparannya Koperasi dalam keanggotaan Koperasi telah mengindikasikan kegiatan
Koperasi ini sarat dengan kepentingan sesaat sekelompok orang bertentangan dengan
undang undang 25 tahun 1992 sebagaimana di jelaskan pada pasal 5 (1) yaitu

Keanggotaan bersifat suka rela dan terbuka

Pengelolaan dilaksanakan secara demokratis

Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa
usaha masing-masing anggota.

Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal.

Kemandirian.

Bertentangan dengan pasal 5 Undang undang No 25 tahun 1992


1.

Hak Guna Usaha

Pada pasal 2 dijelaskan bahwa pihak pertama ( PT Riau Makmur Sentosa) melakukan
pengurusan legalitas kebun plasma atas nama pihak kedua (Koperasi Bukit Batu Darul
Makmur) sampai dengan terbitnya Hak Guna Usaha serta pihak kedua membantu
kelancaran pengurusan izin dimaksud dengan biaya yang telah ditetapkan dan menjadi
komponen kredit yang ditanggung oleh pihak kedua.
Namun dalam addendum pertama surat perjanjian kerjasama pembangunan kebun plasma
kelapa sawit pola kemitraan dengan nomor 001/ PT.RMS-SPK/ III/ 2009 diubah menjadi:

Para pihak sepakat ahwa lahan plasma yang menjadi hak pihak kedua seluas 25 %
dari total luasan riil lahan akan digabungkan dalam sertifikat HGU phak pertama atas
nama PT Riau Makmur Sentosa.
1.

Pihak pertama akan melakukanpengurusan legalitas tanah sampai dengan terbitnya


sertifikat Hak Guna Usaha atas nama pihak pertama dengan biaya yang ditanggung oleh
para pihak secara proposional, yaitu
:

Pihak pertama sebesar 75 %

Pihak kedua sebesar 25 %

Dan biaya yang menjadi kewajiban pihak kedua tersebut akan dihitung kemudian serta
menjadi komponen kredit yang wajib ditanggung oleh pihak kedua
1.

Selanjutnya setelah terbit sertifikat HGU Piak pertama makapara pihak tetap setuju
dan sepakat untuk membagi total riil luasan lahan sebagai berikut :

2.1. Lahan inti seluas 75%.


2.2. Lahan plasma seluas 25% .
Dari total luas lahan 6.869.80 Ha lahan pekebunan, Koperasi Bukit Batu Darul Makmur
mendapat bagian seluas 1. 717. 40 Ha yang dokumen kepemilikan kebun tersebut atas nama
PT. Riau Makmur Sentosa.
Laporan keluhan Masyarakat yang lahan perkebunannya telah diserobot oleh kegiatan
realisasi rencana perkenbunan kelapa sawit PT Riau Makmur Sentosa mencapai + 2300 Ha,
jadi sangat tidak mungkin jika ada anggapan yang mengatakan lahan perkebunan
Masyarakat yang diserobot dan melakukan kerjasama pembangunan perkebunan akan
kembali lagi kepada Masyarakat.

Bertentangan dengan ketetapan keempat keputusan menteri kehutanan


no SK.377/ Menhut- II/ 2007 tentang pelepasan kawasan hutan produksi yang
dapat di konversi seluas 6. 869.80 Ha yang terletak di kelompok hutan siak
kecil, kabupaten Bengkalis, propinsi Riau untuk usaha budidaya perkebunan
kelapa sawit atas nama PT Riau Makmur Sentosa

Bertentangan dengan pasal 21 Undang undang No 18 tahun 2004 tentang


Perkebunan
Setiap orang dilarang melakukan pengamanan usaha kerusakan kebun dan/atau
asset

lainnya, penggunaan tanah perkebunan tanpa izin dan/atau tindakan lainnya


yang mengakibatkan terganggunya usah perkebunan.

Pelanggaran pasal 47 Undang undang No 18 tahun 2004 tentang


Perkebunan
Setiap orang yang dengan sengaja melanggar larangan melakukan tindakan
yang berakibat pada kerusakan kabun dan/atau aset lainnya, penggunaan lahan
perkebunan tanpa izin dan/atau tindakan lainnya yang mengakibatkan
terganggunya usaha perkebunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21,
diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling
banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
1.

Pembiayaan

Pada pasal 3 dijelaskan biaya untuk pembangunan dan biaya pemeliharaan masa TBM
(Tanaman Belum Menghasilkan) kebun kelapa sawit pihak kedua diperoleh melalui fasilitas
pinjaman dari pihak bank yang diusahakan oleh pihak pertama dimana perhitungan
besarnya hutang pihak kedua dilakukan secara bersama sama oleh para pihak dan konsultan
dari bank dan selanjutnya dibebankan kepada pihak kedua sebagai kredit investasi kebun
dan pihak pertama segera memulai pelaksanaan proyek setelah ada kejelasan pembiayaan
proyek dari pihak bank.

Kesepakatan ini menyimpang dari Pasal 27 Undang undang No 20 tentang


UMKM

Dijelaskan Pelaksanaan kemitraan dengan pola inti-plasma, Usaha Besar sebagai inti
membina dan mengembangkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, yang menjadi
plasmanya dalam:

penyediaan dan penyiapan lahan

penyediaan sarana produksi

pemberian bimbingan teknis produksi dan manajemen usaha perolehan,


penguasaan, dan peningkatan teknologi yang diperlukan

pembiayaan

pemasaran

penjaminan

pemberian informasi

1.

pemberian bantuan lain yang diperlukan bagi peningkatan efisiensi dan


produktivitas dan wawasan usaha.
Hak Dan Kewajiban Pihak Kedua/ Koperasi Bukit Batu Darul Makmur

kewajiban pihak kedua dijelaskan pada pasal 5 :


1.

Selama Tanaman Belum Menghasilkan :


Memberikan kuasa kepada pihak PT RMS untuk mengurus permohonan dan
pencairan kredit kepada Bank Pelaksana.

Memberikan kuasa dan wewenang pengelolaan dana kredit kepada pihak PT RMS
untuk kepentingan perkebunan Koperasi Bukit Batu Darul Makmur.

Menanggung management fee yang dibebankan sebesar 5 % dari biaya


infestasi.dengan kata lain pinjaman yang dicairkan dari bank atas nama Koperasi harus
memberikan fee kepada PT RMS sebesar 5 %.

Memberikan kuasa kepada Bank untuk memindahbukukan seluruh dana dana


pinjaman dan pencairan kredit atas nama kopersai ke rekening PT RMS untuk
membiayai pembangunan perkebunan.

memberi kuasa kepada pihak pertama untuk melaksanakan pemeliharaan,


pemanenan serta pemasaran produksi tbs pihak kedua dan pihak kedua dapat terlibat
dalam pengawasan pemanenan

memberi kuasa kepada bank untuk memindahbukukan seluruh dana pinjaman dan
pencairan kredit yang oleh bank telah dibukukan dari rekening pihak pihak kedua ke
rekening pihak pertama untuk membiayai pembangunan kebun kelapa sawit Pihak
Kedua.

1.

Kewajiban Koperasi setelah tanaman menghasilkan :


Memberikan kuasa kepada PT RMS untuk melaksanakan kegiatan pemeliharaan,
pemanenan serta pemasaran produksi milik Koperasi
Menjual seluruh produksi hanya kepada pihak PT. RMS

Memberikan kuasa kepada pihak PT RMS untuk melakukan pembayaran kredit serta
bunganya kepada Bank dengan kata lain hasil panen kebun Koperasi akan dipotong
lansdung oleh PT RMS untuk pembayaran Kredit.

Memberikan operational fee sebesar 2,5 % dari hasil penjualan hasil produksi setiap
bulan kepada PT RMS.

Pembayaran kredit pembangunan kebun dari hasil panen sebesar 30 % di tambah


lagi biaya pemeliharaan, panen, dan transportasi

Dari penjelasan pasal 5 diatas dapat disimpulkan bahwa

pembiayaan pembangunan perkebunan kelapa sawit atas pola kemitraan tidak


dilakukan oleh PT Riau Makmur Sentosa, selain merugikan Koperasi dalam kewajiban
membayar fee sebesar 5 % dari biaya investasi kepada PT Riau Makmur Sentosa.

Koperasi juga wajib memberikan kuasa dan wewenang pengelolaan dana kredit
kepada PT Riau Makmur Sentosa.

Tidak adanya jaminan terhadap Koperasi jika suatu saat PT Riau Makmur sentosa
mentelantarkan lahan perkebunan seperti yang terjadi pada tahun 2005.

Memberikan fee 2.5 % dari hasil panen kepada PT Riau Makmur Sentosa setelah
tanaman menghasilkan.

Pembayaran kredit sebesar 30 % + 2.5 % fee + (biaya pemeliharaan) + (biaya


Pemanenan) + (biaya Transportasi) sampai dengan 1 (satu) Siklus tanaman atau + 25
tahun.

catatan :

Kredit pinjaman dari bank akan dibayarkan Koperasi melalui potongan lansung yang
dilakukan oleh PT Riau Makmur Sentosa pada setiap kali panen, dengan ansuran kredit

sebesar 30% per panen,diperkirakan tunggakan pinjaman akan berakhir selama 10


tahun masa produksi.namun potongan langsung ini akan dilakukan + 25 tahun sebagai
kewajiban Koperasi.
menjual seluruh hasil produksi kepada pihak pertama akan memberikan ruang
kepada pihak pertama untuk melakukan kecurangan dalam penentuan harga hasil
panen.
fee 2. 5 % tidak jelas peruntukannya bagi kemitraan Koperasi.

Bertentangan dengan Pasal 27 Undang undang No 20 tentang UMKM mengenai


pebiayaan dan jaminan.
https://mahenraz.wordpress.com/2010/06/23/dampak-rencana-pembangunankelapa-sawit-pt-rms-di-kec-bukit-batu/
http://perundangan.pertanian.go.id/admin/file/Permentan-14-09.pdf

PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP

1. Hukum Lingkungan Hidup


Peraturan perundang-undangan yang menyangkut pelestarian lingkungan hidup telah cukup
banyak yang dilahirkan seperti :
Undang-undang RI No 4 tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan pokok Pengelolaan
Lingkungan Hidup disertai dengan Peraturan Pemerintah RI No 29 tahun 1986 tentang
Analisa Dampak Lingkungan(Amdal) yang disempurnakan dengan Peraturan Pemerintah
No 51tahun 1993 tentang Amdal. UU No 4 tahun 1982 ini telah digantikan oleh UU RI No 23
tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah No 12 tahun
1995 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah RI No 19 tahun 1994 tentang
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan beracun.
Peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh Pemerintah Indonesia yang mengacu pada
pasal 33 ayat 3 UUD 1945 bahwa Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya dikuasasi oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran
rakyat, semuanya menunjang kebijakan dalam rangka pelestarian lingkungan hidup, seperti
UU no 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA), UU No 5 tahun
1967 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan yang diperbaharui dengan UU No 41
tahun 1991 tentang Kehutanan, UU No. 9 tahun 1985 yang diperbaharui dengan UU No 31
tahun 2004 tentang perikanan, UU No 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam
hayati dan ekosystemnya, UU No 5 tahun 1992, UU No 5 tahun 1994 tentang ratifikasi PBB
mengenai keaneka-ragaman hayati (United Nations Convension on Biological Diversity)
Pemerintah Indonesia telah mengambil kebijasanaan Pembangunan Lima Tahun
Lingkungan Hidup, Undang-Undang Propenas 2000-2004.yaitu Pembangunan Lingkungan
Hidup yang diarahkan untuk menjaga dan meningkatkan kelestarian fungsi dan mutu
lingkungan hidup agar kegiatan social ekonomi masyarakat dan pembangunan nasional,
serta usaha pemanfaatan sumber daya alam termasuk air, tanah, dan udara berlangsung
secara berkelanjutan melalui peningkatan kesadaran akan lingkungan hidup.
Di samping itu, di luar negeri timbul deklarasi-deklarasi hukum lingkungan global seperti
Deklarasi Stockholm, Deklarasi Nairobi, Deklarasi Tokyo, Deklarasi Rio de Jenairo dan
Deklarasi Johanesburg dan lain-lainnya
2. Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Oleh Korporasi
Hutan-hutan ditebang oleh manusia untuk dijadikan bahan bangunan, kayu bakar. Hutanhutan dibakar dan dibabat habis untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit, kebon

coklat, lahan pertanian, perumahan-perumahan oleh rakyat sekelilingnya. Yang lebih para
lagi masuknya perusahan-perusahaan besar (korporasi) dengan menggunakan peralatan
canggih seperti chainsaw menebang kayu-kayu di hutan dan dipegunungan (logging) untuk
dijadikan komoditi ekspor dan kebutuhan dalam negeri berupa bahan bangunan rumahrumah, baik di kota-kota besar maupun di daerah-daerah.
Tindakan korporasi ini menyebabkan penggundulan gunung dan hutan-hutan yang pada
akhirnya terjadilah banjir dimana-mana. Di samping itu di Austraslia terjadi kerusakan
lingkungan berupa terbakarnya hutan yang dilakukan oleh para penderita gejala kekalutan
kepribadian yang dengan sengaja membakar semak belukar hutan di Australia.
Walaupun penegak hukum menyadari bahaya yang ditimbulkan oleh pencemaran dan
perusakan lingkungan dan mengetahui undang-undang yang mengaturnya tetapi hampirhampir tidak pernah melakukan tindakan nyata sesuai yang dinginkan oleh hukum, sebagai
contoh penulis mengangkat suatu kasus impor pupuk beracun yang dilakukan oleh PT. Apel
dari Singapur teronggok di Pulau Galang Batam Kepulauan Riau. Dari hasil uji laboratorium
diketahui bahwa pupuk beracun itu mengandung logam berat mematikan. Materialnya
seperti Arsen, Kadmium, tembaga dan seng dengan kadar melebihi ambang batas. Hasil uji
laboratorium BATAN lebih mengejutkan bahwa material pupuk beracun itu dipastikan
mengandung tiga jenis radioaktif yaitu Thorium 228, Radium 226, dan Radium 228 dengan
kadar 100 kali di atas normal (Singgih, 2005 : 49) . Kegiatan ini melibatkan petinggi negeri
ini, tapi sampai saat ini tidak ada tindak lanjut atas kasus ini.
Demikian juga pada tgl 18 Februari 2005 PT. Kertas Indonesia mengimpor sembilanbelas
kontiner berisi limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) dari Inggeris. Sampah dan bekas
kemasan bahan berbahaya yang diaktegorikan mudah meledak dan menimbulkan iritasi
serta pestisida diimpor dengan memalsukan dokumen (Singgih, 2005 : 54). Limbah ini
hanya diminta untuk dikembalikan ke negara asalnya, apakah betul dikembalikan atau cuma
dibuang di laut bebas wallahu alam Tuhan Yang Maha Tahu.
Di luar negeri yang dikenal penegak hukumnya cukup disiplin, namun dalam hal
menyangkut lingkungan hidup tampaknya tidaklah seperti apa yang kita bayangkan pada
bidang lainnya, sebagai contoh Perusahaan Norilsk Mining Company telah mencemari
lingkungan hidup 1/7 dari semua polusi pabrik Rusia berupa 2 juta ton gas buangan dan 85
juta meter kubik air kotor setiap tahunnya. Dampaknya dirasakan sampai di Kanada dan
Norwigia yang mempunyai harapan hidup rata-rata 10 tahun dibawah rata-rata orang
Rusia Perusahaan Exxon corporation telah menumpah minyak valdez pada tahun 1991
yang menimbulkan kerusakan langsung pada rimba belantara di Alaska dan perikanan...
Pada tahun 1949 beberapa perusahaan di AS termasuk general motors, standard oil of
California dan Firestone Tire and Rubber dinyatakan bersalah karena telah menghancurkan
system transit kereta api dalam kota yang ramah eko-system pada lebih 100 kota di Amerika
Serikat. (Singgih, 2005 : 58).
Timbul pertanyaan bagaimana nasibnya deklarasi yang telah diselenggarakan diberbagai
Negara seperti deklarasi Stockholm, Nairobi, Tokyo, Rio de Jenairo, deklarasi Johannesburg
yang telah disebutkan diatas, apakah hanya slogan saja.
Mereka semuanya baik sebagai individu maupun korporasi tidak memperdulikan deklarasideklarasi internasional dan peraturan perundang-undangan dalam negeri mereka, seperti
yang diatur dalam pasal 7 (`1) Undang-undang no 4 tahun 1982 tentang ketentuan pokok
pengelolaan lingkungan hidup, dan apa yang tercantum dalam surat izin perusahaan mereka
yang berbunyi bahwa setiap orang yang menjalankan suatu bidang usaha wajib memelihara
kelestarian, kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang
pembangunan yang berkesinambungan. Ayat (2) berbunyi bahwa kewajiban sebagaimana
tersebut dalam ayat (1) pasal ini dicantumkan dalam setiap izin yang dikeluarkan oleh
instansi yang berwenang. Pasal 20 (1) Undang-Undang No 4 tahun 1982 mengatur

tentang pencemaran lingkungan hidup yang berbunyi bahwa barang siapa yang
merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup memikul tanggung jawab
dengan kewajiban membayar ganti kerugian kepada penderita yang telah
dilanggar haknya atau lingkungan hidup yang baik dan sehat.
3.Dampak Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup
Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan mahluk
hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan
perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya.(UU No 4 tahun 1982
pasal 1 ayat 1).
Pencemaran lingkungan hidup diartikan sebagai masuknya atau dimasukkannya mahluk
hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan dan atau berubahnya
tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas
lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang
atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (UU No. 4 tahun 1982 pasal 1
ayat 7).
Menurut Siswanto Sunarso, bahwa komponen lingkungan yang sangat mudah mengalami
pencemaran adalah air, udara, tanah dan lahan tanaman pertanian (2005 : 8). Selanjutnya
Siswanto Sunarso menyatakan bahwa fungsi hutan di samping sebagai area peresapan air,
endapan CO2 dan mengatur hidrologi, juga sebagai sumber pendapatan yang paling mudah
didapat. Kerusakan hutan yang paling parah adalah karena pembakaran hutan yang dapat
menimbulkan BBF (Bahan Bakar Fosil) yang berdampak menambah rusaknya ozon (2005 :
12) Pencemaran udara yang berasal dari pembakaran BBF mengakibatkan terbentuknya
asam sulfat dan asam nitrat. Asam ini diendapkan pada hutan, tanaman pertanian, danau
yang mengakibatkan kematian organisme hidupEmisi Gas Rumah Kaca (GRK) mengubah
iklim dibumi semakin panas. Efek rumah kaca sebenarnya diperlukan, agar suhu bumi tidak
terlalu rendah sehingga nyaman rasanya, tetapi apabila Emisi Gas Rumah Kaca terlalu besar,
bumi semakin panas, volume air laut akan naik yang berakibat kenaikan permukaan air laut,
karena kenaikan 1,5-4,5 derajat Celcius menyebabkan kenaikan permukaan air laut 25-140
CM Pembakaran bahan bakar pabrik, kendaraan menghasilkan beberapa jenis oksida
belerang dan nitrogen. Oksida ini di udara mengalami proses kimia dan berubah menjadi
asam dan turun ke bumi bersama hujan (hujan asam). Hujan asam ini menyebabkan banyak
kematian organisme air di sungai dan danau, merusak hasil tanaman dan hutan. (2005 : 13)
Pencemaran laut dan pesisir terjadi karena industri-industri besar leluasa membuang
limbah ke sungai, yang pada gilirannya sungai-sungai menumpahkan limbah tersebut ke
laut. Laut dan pesisir yang berfungsi sebagi obyek parawisata suram karena tercemar.
Pencemaran ini juga menyebabkan matinya hutan bakau yang berada di pesisir yang
berfungsi sebagai pelindung pantai terhadap gelombang laut, penahan angin, penahan
kecepatan erosi pantai oleh kikisan arus. Hutan bakau ini juga merupakan tempat bertelur
dan berkembang biak biota laut seperti udang, kepiting, nener dan berbagai jenis satwa
lainnya.
Pencemaran udara pada umumnya mencakup daerah yang sangat luas tidak jelas batasbatasnya dan merupakan masalah yang kompleks. Pencemaran udara lebih cepat
berkembang dari pada pencemaran air dan tanah serta lahan pertanian. Bahan atau zat
pencemar udara biasanya terdiri dari partikel atau debu dan gas (CO, NO2,CO2, Oksida dan
hidrokarbon). Pada konsentrasi yang berlebihan zaat-zat tersebut akan membahayakan
kesehatan manusia maupun hewan, menyebabkan kerusakan tanaman serta gangguan
lainnya seperti berkurangnya daya penglihatan, bau, penyakit dan lain-lain.
Pencemaran yang berasal dari partikel antara lain berasal dari pabrik semen yang telah
menimbulkan pencemaran udara yang cukup berat, di samping itu pencemaran juga berasal

dari transportasi atau kendaraan. Pencemaran udara oleh gas buang industri dan
transportasi yang menggunakan bahan bakar minyak atau batu bara mengakibatkan hujan
asam
Pencemaran tanah dan lahan pertanian, pada umumnya disebabkan oleh limbah industri
berupa limbah padat (sampah organic, bekas kemasan seperti kaleng, botol, kantong
plastic), limbah cair berupa bekas minyak pelumas, cairan-cairan kimiawi, cairan yang
mengandung logam berat dan lain-lain, Limbah gas dan partikel perusak tanaman (Siswanto
sunarso, 2005 : 11)
Menurut Hardiana Ibrahim bahwa pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup yang
berdampak pada pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim secara global dan
kenaikan permukaan air laut. Diperkirakan curah hujan antara berbagai daerah berlainan
sebagai akibat pemanasan global yang terjadi didaerah-daerah tersebut. Frekwensi dan
intensitas badai dan topan semakin meningkat akan mengancam system pertanian,
sedangkan problem iklim menyebabkan kepunahan banyak jenis mahluk hidup ( 2005 : 20).
Pencemaan udara yang berasal dari bahan bakar terutama BBF (bahan bakar fosil)
mengakibatkan terbentuknya asam sulfat dan asam nitrat. Kerusakan yang lebih parah
dengan terbentuknya ozon yang beracun dari zat pencemaran nox melalui reaksi foto kimia
(Hardiana Ibrahim, 2005 : 21). Pada lapisan stratosfer terdapat ozon yang berfungsi
melindungi kehidupan di bumi dari penyinaran ultraviolet bergelombang pendek yang
berenergi tinggi. Penurunan kadar uzon yang lebih derastis menurut para ahli terjadi di
benua Antartika. Dikhawatirkan lubang ozon akan menaikan jumlah penderita penyakit
kanker kulit dan penyakit mata katarak, menurunkan daya imunitas serta menurunkan
produksi pertanian dan perikanan. Penyebab utama lubang ozon adalah sekelompok zak
kimia yang disebut cloro fluoro carbon (CFC) merupakan zat buatan manusia yang
digunakan bagi kehidupan sehari-hari antara lain , Air Condition (AC), kulkas, mesin
pembeku (Hardiana Ibrahim :2005, 22)
Walaupun telah diketahui betapa besar dampak yang ditimbulkan pencemaran terhadap
kerusakan lingkungan, namun beberapa perusahaan raksasa (korporasi) bertarap
internasional tetap melakukan kegiatan yang hanya menguntungkan dirinya, seperti
Perusahaan industri aditif hitam atau timbal di luar negeri, sejak tahun 1920 telah
menyembunyikan informasi mengenai dampak toksil atau racun dari timbal. Meskipun
berbahaya minyak bensin yang mengandung timbal tetap di ekspor ke Eropa Timur dan
Negara-negara lainnya seperti Afrika yang diperkirakan mencapai dewasa ini 94 persen
bensin yang dijual kepada umum mengandung timbal.(Singgih, 2005 : 58)
Penyakit deman berdarah, muntah berak, penyakit kulit merupakan akibat sampah-sampah
rumah tangga, seperti plastic, kaleng-keleng bekas, dan lainnya yang dibuang sembarangan
menjadi tempat bersarangnya nyamuk dan tempat tumbuh suburnya baktri-baktri berbagai
penyakit. Limbah beracun dan sampah-sampah dari berbagai macam perusahaan-perusahan
atau korporasi yang mencemari lingkungan dan lautan lebih dahsat dampaknya terhadap
kehidupan manusia, kehidupan ikan-ikan, kehidupan tumbuh-tumbuhan dan hewan serta
jasad renik. Limbah-limbah tersebut mnimal mengganggu bahkan menjadikan kepunahan
mahluk hidup.
Di kota besar seperti DKI Jakarta benacana banjir sudah menjadi langganan setiap akhir dan
awal tahun (sampai bulan Februari). Bahaya banjir ini di samping merusak harta benda
penduduk yang dilanda banjir juga mendatangkan berbagai macam penyakit pasca banjir
seperti penyakit muntah berak, gatal-gatal, demam berdarah dan sebagainya. Bahaya banjir
terjadi pada musim penghujan dan setelah berakhir musim hujan bahaya kekeringan datang
mengancam, penduduk kesulitan air bersih, seakan-akan tidak ada lagi penahan air hujan
yang tertumpah dari langit lagsung kelaut melalui sungai dengan derasnya sehingga dapat

melanda daerah-daerah yang dilaluinya.


Banjir di Jakarta ini disebabkan karena meluapnya air sungai yang bermuara ke laut Jakarta
yang melalui kota Jakarta. Peggundulan hutan dan gunung-gunung sebagai akibat
pembukaan lahan pertanian, penebangan kayu sebagai bahan komoditi menyebabkan air
hujan tidak tertahankan lagi pada musim hujan atau langsung mengalir ke sungai-sungai.
Sementara di lain waktu pada saat berakhirnya musim hujan langsung kekurangan air.
Di berbagai daerah pedalaman bencana tanah longsor, bahaya Suname, bahaya kekeringan,
Lumpur Lapindo yang tidak kunjung selesai permasalahannya, pemadaman listrik secara
bergantian karena debit air tidak cukup kuat untuk menggerakkan turbin pembangkit tenaga
listrik. Gagal panen diberbagai daerah karena kekeringan dimusim kemarau, sementara
dimusin hujan banjir adalah akibat kerusakan ekosistem yang disebabkan ulah manusia
sendiri. yakni pengrusakan linkungan hidup.
Apakah mereka tidak menyadari bahwa kerusakan dan pencemaan lingkungan juga
berdampak pada pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim secara global dan
kenaikan permukaan air laut. Diperkirakan curah hujan antara berbagai daerah berlainan
sebagai akibat pemanasan global yang terjadi didaerah-daerah tersebut. Frekwensi dan
intensitas badai dan topan semakin meningkat akan mengancam system pertanian,
sedangkan problem iklim menyebabkan kepunahan banyak jenis mahluk hidup (Hardiana
Ibrahim, 2005 : 20).
Beberapa tahun terakhir ini bencana alam terjadi di mana-mana, baik diluar negeri maupun
di dalam negeri. Di kota-kota besar dan di daerah-daerah yang dahulunya mendapatkan
kedamaian hidup, jarang mengalami bencana alam, kini sudah banyak yang berubah
menjadi ajang pertempuran hidup dan mati terhadap alam. Alam sudah tidak bersahabat
lagi seperti halnya bencana alam Suname di Banda Aceh, tanah longsor di berbagai daerah di
Indonesia, Lumpur Lapindo, Bencana banjir, bencana kekeringan, kebakaran hutan, adalah
akibat kerusakan ekosistem.
Kerusakan eko system erat kaitannya dengan pencemaran limbah pabrik, pencemaran
minyak dilepas pantai, pencemaran radiasi nuklir. Hal itu terjadi sebagai akibat keserakahan
korporasi demi keuntungan pribadinya (perusahaannya) menimbulkan kerusakan eko
system yang berdampak membawa malapetaka bagi sebagian besar kehidupan ekosistem
termasuk kehidupan manusia.
Untuk meminimalisir bahaya-bahaya yang ditimbulkan seperti disebutkan diatas sebagai
akibat pencemaran dan pengrusakan lingkungan hidup, diperlukan pelestarian lingkungan
hidup dengan menjaga keseimbangan ekosistem berupa keseimbangan antara ekologi
manusia, ekologi tumbuhan, ekologi hewan dan ekologi jasad renik. Hal ini dapat terwujud
bilamana kita mentaati aturan main yang sudah dibuat, baik yang bersifat global atau
internasional maupun yang bersifat intern dalam negeri yang disebut Hukum Lingkungan
Hidup yaitu suatu hukum yang mengatur hubungan timbal-balik antara manusia dengan
lingkungan hidupnya atau mahluk hidup lainnya, dan apabila dilanggar dapat dikenakan
sanksi. Hukum Lingkungan Hidup tersebut harus mengacu pada prinsip keutuhan,
pertumbuhan dan keseimbangan serta tata cara pengelolaan lingkungan hidup dalam arti
upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijakan
penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharan, pengawasan dan pengendalian
lingkungan hidup.
4. Usaha Pemulihan Ekosistem
Kerusakan eko system erat kaitannya dengan pencemaran limbah pabrik, pencemaran
minyak dilepas pantai, pencemaran radiasi nuklir. Hal itu terjadi sebagai akibat keserakahan
korporasi demi keuntungan pribadinya (perusahaannya) menimbulkan kerusakan eko
system yang berdampak membawa malapetaka bagi sebagian besar kehidupan ekosistem
termasuk kehidupan manusia.

Untuk meminimalisir bahaya-bahaya yang ditimbulkan seperti disebutkan diatas sebagai


akibat pencemaran dan pengrusakan lingkungan hidup, diperlukan pelestarian lingkungan
hidup dengan menjaga keseimbangan ekosistem berupa keseimbangan antara ekologi
manusia, ekologi tumbuhan, ekologi hewan dan ekologi jasad renik. Hal ini dapat terwujud
bilamana kita mentaati aturan main yang sudah dibuat, baik yang bersifat global atau
internasional maupun yang bersifat intern dalam negeri yang disebut Hukum Lingkungan
Hidup yaitu suatu hukum yang mengatur hubungan timbal-balik antara manusia dengan
lingkungan hidupnya atau mahluk hidup lainnya, dan apabila dilanggar dapat dikenakan
sanksi. Hukum Lingkungan Hidup tersebut harus mengacu pada prinsip keutuhan,
pertumbuhan dan keseimbangan serta tata cara pengelolaan lingkungan hidup dalam arti
upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijakan
penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharan, pengawasan dan pengendalian
lingkungan hidup.
Dalam kenyataan sehari-hari kerusakan lingkungan hidup akibat pencemaran dan
pengrusakan lingkungan oleh manusia secara langsung tetap berjalan seakan-akan
peraturan perundang-undangan yang begitu banyak tersebut di atas dianggap seperti angin
lalu saja oleh oknum yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa memperhitungkan
dampak tindakannya pada lingkungan sekitarnya dan generasi yang akan datang.
Penegak hukum duduk terpaku menonton penjualan kayu-kayu illegal diberbagai daerah,
sampah-sampah palstik bertebaran di mana-mana baik di kota-kota besar maupun di
daerah-daerah, penebangan hutan-hutan untuk dijadikan lahan perkebunan coklat, kelapa
sawit, dan lain-lainnya, impor limbah pupuk beracun dari Singapura di Pulau Galang Batam
Kepulauan Riau yang melibatkan petinggi negeri ini, Lumpur Lapindo di Sidoarjo, seakanakan penegak hukum tidak mengetahui apa-apa tentang kerusakan yang ditimbulkannya
Sampah plastik, zat kimia atau bahan kimia impor beracun. Polusi udara dari bahan bakar
yang mengandung timbal yang cukup berat, semuanya itu bentuk pencemaran lingkungan
yang dibuat baik oleh manusia individu maupun oleh manusia yang terorganisir dalam
bentuk korporasi yang membawa kerusakan lingkungan hidup
Konsep pemulihan dengan hanya menggunakan pendekatan yuridis formal tiadalah cukup
sebagaimana selama ini terjadi yang boleh dikatakan bahwa berbagai macam peraturan
perundang-undangan telah dilahirkan, tetapi kerusakan lingkungan hidup juga masih terjadi
di mana-mana.. Menurut William Chang diperlukan suatu pendekatan kesadaran moral
lingkungan Hidup dengan mengemukakan empat teori, yaitu
1). Human centered ethic (antroposentrisme) beranggapan bahwa kedudukan dan peran
moral lingkungan hidup terpusat pada manusia. Rangkaian kebijakan mengenai lingkungan
hidup dinilai hanya berdasarkan pengaruh kebijakan itu terhadap kehidupan manusia.
Manusia menjadi jantung perhatian dalam bahasan lingkungan hidup yang titik beratnya
terletak pada peningkatan kesejahteraan dan kebahagiaan manusia di dalam alam semesta
2). Animal centered ethic .(animalsentrisme) beranggapan bahwa bukan hanya manusia
yang pantas mendapat pertimbangan moral, melainkan juga dunia hewan.sebagai contoh
penebangan hutan secara liar dan tidak bertanggung jawab dengan sendirinya ikut
mempengaruhi kehidupan mahluk lainnya. Kekayaan alam bukan hanya diperuntukkan
untuk manusia tetapi juga untuk hewan-hewan.
3). Life Centered ethic (Biosentrisme) menganggap bahwa mahluk hidup bukan hanya
manusia dan hewan, melainkan juga mencakup tumbuh-tumbuhan, ganggang, organisme
bersel tunggal. Pandangan ini berpendapat bahwa setiap mahluk hidup dipertimbangkan
secara moral walaupun mereka tidak memiliki makna moral yang sama

4). Teori nilai intrinsic menyatakan bahwa nilai adalah sesuatu yang baik dan terkait dengan
pribadi manusia yang mampu mendukung penyempurnan diri manusia, sebab pada
umumnya nilai menunjuk pada kesempurnaan atau kebaikan. Paul Taylor menekankan
bahwa secara moral manusia terikat untuk melindungi dan meningkatkan kesejahteraan
mahluk hidup lain yang non manusia. Dia mengingatkan bahwa tanaman dan hewan liar
pun termasuk bagian komunitas hidup dalam jagad raya.(2001 :42-45).
Menurut Sumantoro bahwa UU No 4 tahun 1982 tentang ketentuan pokok pengelolaan
lingkungan hidup dalam definisi-definisinya yang tercantum dalam pasal 1, memberikan
indikator-indikator tertentu, yang masih harus dijabarkan lagi dalam peraturan-peraturan
lain. Misalnya pasal 1 ayat 7 disebutkan ukuran atau indicator adanya pencemaran
lingkungan. Indikator-indikator semacam ini diperlukan untuk perumusan aturan-aturan
pelaksanaan. Jika indicator-indikator itu nampak, maka hal ini merupakan kegiatan dini,
agar dapat diambil tindakan preventif dan represif Indikator-indikator ini dirumuskan
dalam bentuk ancaman hukuman. Jika gejala-gejala tertentu tampak, seperti halnya dalam
undang-undang lingkungan hidup, maka harus sudah diambil tindakan, sebelum kejadian
yang terlalu parah terjadi. Jika sudah melebihi batas tertentu misalnya dari pencemaran
lingkungan hidup menjadi pengrusakan, maka tentu saja hukumnya harus diperberat. ( 1986
: 278)
Sadu Wasistiono, (dalam studi kasus Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Bandung)
mengemukakan bahwa model dan bentuk kegiatan merupakan model sinergitas multi
stackeholder (Pemerintah, Provinsi, Desa dan Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli
lingkungan) dalam kegiatan pengelolaan lingkungan nyata langsung di lapangan dengan
rincian kegiatan :
1). Sosialisasi aspek lingkungan hidup sumber daya air sungai dan
lingkungannya kepada masyarakat setempat (Sungai Citarum) akan
merupakan core atau tulang punggung program kegiatan
2). Bimbingan teknis kepada para tokoh/aparat dan masyarakat desa
sekitar sungai citarum.
3). Pemulihan dan penataan kawasan sekitar sungai citarum
4). Gerakan kebersihan sungai citarum
5). Teknologi tepat guna
- daur Ulang Sampah
- Peragaan dan pelatihan daur ulang sampah/memilah sampah
- Penyediaan mesin pencacah sampah
- Budidaya composting (2006 : 77-78)
Di samping itu, perlu dikemukakan disini bahwa Pemerintah orde baru juga mengambil
berbagai kebijakan pelestarian lingkungan hidup namun sering disalah gunakan oleh
oknom, seperti kasus penghijauan hutan dengan dana APBN (Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara). Progam ini dijalankan oleh salah satu perusahaan korporasi yang memiliki
HPH (Hak Penguasaan Hutan), tapi perusahaan Korporasi tidak melaksanakan dengan baik
tugas yang dibebankan kepadanya dengan mengkrupsi dana reboisasi, sebaimana telah
diberitakan pada berbagai media massa bahwa salah seorang pengusaha besar dan mantan
menteri jaman orde baru di Nusakabangankan karena menyalah gunakan dan mark up dana
reboisasi.
Beberapa perusahaan besar yang berkantor Pusat di Jakarta beberapa tahun yang lalu
dengan leluasa mengekspor kayu gelondongan (Logging) ke luar negeri dan perusahaan
besar yang mengolah kayu menjadi triplek atau teakwood tidak dibebani kewajiban untuk
reboisasi. IHH (Iuran Hasil Hutan) pun entah kemana larinya, sehingga hutan-hutan yang
sudah digunduli tidak pernah diperhatikan lagi, sehingga terjadilah kerusakan lingkungan.
Seharusnya pemerintah lebih tegas terhadap perusahaan besar pengolah kayu dengan
memberikan kewajiban kepada mereka untuk melakukan penghijauan kembali, bukan hanya

bisa menebang tetapi harus bisa menanam kembali.


5. Kesimpulan dan Saran
Kerusakan lingkungan hidup disebabkan oleh tangan-tangan manusia sendiri, baik oleh
rakyat setempat, maupun oleh perusahaan besar (korporasi) yang dapat dikategorikan
sebagai kejahatan korporasi di bidang lingkungan hidup. Rakyat setempat merusak
lingkungannya sendiri dengan menggunakan cara manual untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya sehar-hari, karena kesulitan mendapatkan sumber penghidupan, sehingga mereka
menebang pohon-pohon kayu untuk diperjual belikan dikota-kota, kayu-kayu dijadikan
sebagai bahan komoditi ekspor dan kebutuhan dalam negeri. Selain itu hutan dibabat untuk
dijadikan lahan pertanian yang semakin sempit karena pertambahan penduduk. Rakyat
mencemari lingkungannya sendiri seperti membuang sampah sembarangan yang
berdampak pada diri mereka sendiri berupa datangnya berbagai penyakit karena kurangnya
penyuluhan dari pemerintah dan tiada tersedianya tempat pembuangan sampah yang cukup
memadai.
Sedangkan perusahaan besar korporasi merusak lingkungan dan mencemarinya adalah
karena keserakahan untuk mendapatkan keuntungan besar dengan tidak memperdulikan
nasib orang lain, terutama generasi yang akan datang. Deklarasi-deklarasi yang diadakan
diluar negeri, peraturan perundang-undangan baik di dalam maupun di luar negeri tidak
digubris akibat keserakahan. Penegakan hukum di luar negeri yang terkenal begitu ketat
penegakkan hukumnya, ternyata juga masih kecolongan pelanggaran dalam hal hukum
lingkungan hidup.
Kiranya tiadalah cukup kalau pemerintah hanya melahirkan undang-undang yang tidak
disertai dengan tindakan nyata dan sosialisasi tentang moral lingkungan hidup, baik berupa
penjabaran normative undang-undang dalam bentuk yang lebih operasional maupun
tindakan nyata bagi penegak hukum. Rakyat sudah bosan menerima alasan klasik, bahwa
terjadinya pelanggaran karena aparat mudah di suap terutama dalam perdagangan kayu dari
Kalimantan dan daerah lainnya serta impor sampah beracun dari negeri tetangga oleh
perusahaan besar yang melibatkan petinggi negeri ini.
http://tadjuddin.blogspot.co.id/2010/07/pelestarian-lingkungan-hidup_19.html
uud