Anda di halaman 1dari 19
SCREENING DAN ESTIMASI HERITABILITAS SPESIES STROBERI HUTAN (Fragaria vesca) SEBAGAI SUMBER KERAGAMAN DALAM UPAYA PERAKITAN TANAMAN STROBERI TAHAN KEKERINGAN PROPOSAL PENELITIAN Oleh: SANU DWI ORLIMAO 135040200111021 UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN MALANG 2016 SCREENING DAN ESTIMASI HERITABILITAS SPESIES STROBERI HUTAN (Fragaria vesca) SEBAGAI SUMBER KERAGAMAN DALAM UPAYA PERAKITAN TANAMAN STROBERI TAHAN KEKERINGAN PROPOSAL PENELITIAN Oleh : Sanu Dwi Orlimao 135040200111021 MINAT BUDIDAYA PERTANIAN PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Strata Satu (S-1) UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN MALANG 2016 1. PENDAHULUAN 1.1 latar Belakang Stroberi merupakan salah satu buah sub tropis yang telah dikembangkan di Indonesia. Selain memiliki rasa yang manis serta penambilannya yang menarik, menurut Direktorat Gizi Depkes RI (1981) menyatakan bahwa tanaman ini kaya akan nutrisi seperti protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, niasin, serta vitamin C. Dalam pengembangan tanaman stroberi di Indonesia masih terbatas pada dataran tinggi yaitu sekitar 1000-1500 mdpl yang cenderung memiliki suhu yang sejuk serta kelembaban udara yang tinggi. Secara umum tanaman stroberi memerlukan kebutuhan air yang cukup tinggi untuk dapat menghasilkan buah dengan kualitas dan kuantitas yang tinggi. Sehingga dapat dikatakan bahwa tanaman stroberi sangat peka terhadap ketersediaan air. Didalam kondisi yang kekurangan air tanaman stroberi tidak akan dapat berproduksi dengan baik, menurut Klamkowski (2006) bahwa pada kondisi kekurangan air tanaman akan mengakibatkan jumlah stomata pada daun tanaman berkurang dan hal tersebut akan mengakibatkan tanaman tidak dapat berfotosintesis dengan optimal sehingga asimilat yang dihasilkan sedikit dan berdampak langsung terhadap pertumbuhan serta hasil dari tanaman itu sendiri. Menurut Lisa (2011) bahwa secara umum untuk dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pada tanaman dapat dilakukan dengan meningkatkan fotosintesis, serta merubah translokasi asimilat kebuah. Dengan demikian akan sangat penting untuk menghasilkan tanaman stroberi yang tahan terhadap kekeringan sehingga dapat dihindari kehilangan hasil akibat proses fotosintesis yang tidak maksimal serta diharapkan dapat menghasilkan tanaman stroberi yang mampu beradaptasi pada lingkungan yang ketersediaan airnya rendah. Untuk menuju kearah perakitan tanaman stroberi tahan kering maka perlu digali keragaman sifat pada spesies stroberi (Fragaria spp.) sehingga dapat diperoleh sumber genetik yang memiliki sifat toleran terhadap kondisi kekeringan. Dalam hal ini penulis menilai bahwa tanaman stroberi hutan (Fragaria vesca) adalah salah satu spesies yang cocok untuk menggali sifat toleran tersebut karena spesies stroberi tersebut merupakan stroberi hutan liar yang dapat tumbuh dengan baik pada kondisi yang hanya memanfaatkan air hujan sebagai sumber pengairan. Proses screening sendiri merupakan suatu proses penyeleksian dengan karakter tertentu serta menggunakan perlakuan yang sesuai. Dalam perakitan tanaman stroberi tahan kekeringan ini sendiri akan digunakan screening dengan perlakuan cekaman pada beberapa taraf sehingga diharapkan dapat didapatkan sampel yang dapat digunakan untuk melakukan estimasi heratibilitas pada tanaman stroberi hutan tersebut sehingga dapat ditentukan metode seleksi yang tepat untuk tahap pemuliaan selanjutnya dalam perakitan tanaman stroberi tahan kekeringan. 1.2 Tujuan 1. Untuk mendapatkan tanaman stroberi yang memiliki potensi genetik dengan sifat toleran terhadap kekeringan. 2. Untuk mengestimasi Heritabilitas sifat tahan kering pada tanaman stroberi hutan. 1.3 Rumusan Masalah 1. Apa saja pengaruh kekeringan terhadap tanaman stroberi? 2. Sampai batas mana tanaman stroberi hutan dapat mentoleransi kekeringan? 3. Bagaimana pewarisan sifat ketahanan terhadap kekeringan pada tanaman stroberi? 1.3 Hipotesis H1: Perlakuan cekaman kekeringan pada taraf yang berbeda akan dapat memunculakan potensi genetik sifat toleran terhadap kekeringan yang optimal sehingga dapat diperoleh sampel dengan potensi genetic terbaik yang dapat digunakan untuk melakukan estimasi heritabilitas pada tanaman stroberi hutan (Fragaria vesca) 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Stroberi Hutan Tanaman stroberi berasal dari benua Amerika. Nikolai Ivanovisch Vavilov, seorang ahli botani yang berasal dari Uni Soviet, pada tahun 1887-1942 telah melakukan ekspedisi ke Asia, Afrika, Eropa dan Amerika, beliau berkesimpulan bahwa tanaman stroberi berasal dari daerah Chili. Jenis atau spesies stroberi yang pertama kali ditemukan di Chili adalah Fragraria Chilonensis (L.) Duchesne atau disebut stroberi Chili (Rukmana, 1998). Tanaman stroberi berbatang pendek sekali, seolah-olah tidak berbatang, bersifat merayap dan dapat hidup sampai bertahun-tahun namun kadang-kadang hanya ditumbuhkan sebaga tanaman semusim. Beberapa jenis selalu berdaun, namun ada juga yang meranggas, tergantung pada lingkungan tempat tanaman itu dibudidayakan. Daunnya trifoliata, tumbuh dekat tanah dan sebagai pelindung buah. Dari batangnya tumbuh sulur. Sulur itu berakar dan berbunga pada dasar daun. Buahnya berukuran 2,5-5 cm berwarna agak merah hingga merah gelap. Buah tersebut merupakan buah agregat yang terdiri dari beberapa achene (biji). Masing-masing achene berisi satu biji. Apabila achene tersebut tidak terserbuki, buah tidak akan terbentuk. Ukuran dan berat buahnya berkorelasi dengan banyaknya achene yang terserbuki (Ashari, 1995). Dari segi ciri khusus lahiriahnya, stroberi adalah tumbuhan keluarga rumput yang memiliki dahan dua jenis, jenis rebah dan tegak. Ketinggian jenis tegak mencapai 8 sampai 15 centimeter dan ujungnya berakhir dengan bunga. Daunnya terdiri dari tiga daun kecil bergerigi dengan ekor panjang dan berwarna hijau cerah. Bunga-bunganya teratur, berwarna putih, dan berkumpul dalam jumlah dua sampai lima atau bahkan lebih. Kelopak bunganya terdiri dari lima bagian dengan warna hijau, dengan diselimuti lima lembar tampuk bunga. Kelopak dan tampuk bunga stroberi akan tetap bertahan sekalipun buahnya sudah tumbuh. Stroberi yang pertama kali didatangkan (diintroduksikan) ke Indonesia pada zaman kolonialisasi Belanda adalah stroberi jenis Fragraria vesca L. Jenis stroberi yang telah lama beradaptasi di Indonesia disebut varietas lokal (Rukmana, 1998). Berdasarkan hasil identifikasi tumbuhan, tanaman stroberi (Fragraria vesca L.) dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Famili : Rosaceae Genus : Fragraria Spesies : Fragraria vesca L.- (Rukmana, 1998) Gambar 1. Fragraria vesca Sifat dan ketahanan buah stroberi untuk masing-masing varietas berbedabeda. Kondisi ini mengakibatkan buah stroberi yang dipanen, baik waktu maupun tingkat kesegaran dan kekerasan buahnya tidak sama. Oleh karena itu perlakuan yang diberikan untuk setiap varietas dapat berbeda. Secara umum, berdasarkan musim berbuahnya, stroberi dibagi menjadi tiga jenis yaitu ever-bearers yang berbuah sepanjang tahun, april-bearers (berbuah hanya pada bulan April), dan june-bearers yang hanya berproduksi sekali (pada bulan Juni). Di negara empat musim, june-bearers berbuah pada akhir musim semi menjelang musim panas. Ever-bearers dapat berbunga pada penyinaran yang panjang maupun pendek, sedangkan pembungaan june-bearers hanya pada hari pendek dengan suhu yang sejuk. Pembungaan april-bearers hanya sekali dalam setahun yaitu pada bulan April. Hingga saat ini banyak metode yang diterapkan petani agar tanaman stroberi dapat berproduksi optimal. Beberapa cara yang dilakukan adalah dengan menerapkan teknik budi daya yang tepat, penentuan musim tanam, dan program pemupukan tepat (Budiman, 2010). Teknik budi daya yang diterapkan petani stroberi bermacam-macam. Ada petani yang menanam stroberi di lahan terbuka seperti di bedengan atau menggunakan karung. Namun, seiring berkembangnya teknologi hidroponik, kini sudah banyak petani yang menanam stroberi di dalam green house. Penerapan budi dayanya berbeda-beda. Ada yang menanam di pot/polibag dengan rak kayu atau talang bertingkat dan ada pula yang menanam stroberi di bantalan polibag. Cara penanaman yang bermacam-macam tersebut pada prinsipnya sama. Hanya saja, wadah yang digunakan berbeda-beda dan dimodifikasi. 2.1.2. Sifat-Sifat Botani Tanaman Stroberi Dari segi ciri khusus lahiriahnya, stroberi adalah tumbuhan keluarga rumput yang memiliki dahan dua jenis, jens rebah dan tegak. Ketinggian jenis tegak mencapai 8-15 sentimeter dan ujungnya berakhir dengan bunga. Daunnya terdiri dari tiga daun bergigi dengan ekor panjang dan berwarna hijau cerah. Bunga-bunganya teratur, berwarna putih, dan berkumpul dalam jumlah dua sampai lima atau bahkan lebih. Kelopak bunganya terdiri dari lima bagian dengan warna hijau, dengan diselimuti lima lembar tampuk bunga. Kelopak dan tampuk bunga stroberi akan tetap bertahan sekalipun buahnya sudah tumbuh. Buah stroberi sangat lezat dan memiliki khasiat penguat, penambah nafsu makan, penenang, dan kaya vitamin. Pertumbuhan dan pengembangbiakan stroberi bukan hanya melalui benih, melainkan juga melalui akar tumbuhan. Akar yang keluar dari dahan tumbuhannya, tertanam ke dalam tanah pada jarak yang agak jauh, dan tak lama kemudian, tumbuhan baru akan tumbuh. Organ kimia stroberi tergantung kepada genetiknya yang berbeda, dan juga masa panen, tempat pemeliharaan serta apakah buahnya sudah benar-benar masak atau relatif masak. Secara umum, stroberi memiliki 81-87% air, 3-13% glukosa dan lulez, bahan lemak, asid-asid bebas (dalam bentuk molik, asam sitrat, asam winik, dan asam laktat) vitamin C yang banyak dan sedikit B, A, E, dan K. Selain itu, stroberi memiliki kandungan zat besi, sodium, dan fosfor, meniziyum, belerang, kalsium, silis, yodium, dan banyak lagi kandungan zat lainnya. 2.1.3 Morfologi Tanaman Stroberi Susunan tubuh tanaman stroberi terdiri dari akar, batang, stolon, daun, bunga, buah, dan biji. Sifat morfologis tanaman stroberi adalah sebagai berikut. a. Akar (Radix) Struktur akar tanaman stroberi terdiri atas pangkal akar (collum), batang akar (corpus), ujung akar (apex), bulu akar (pilus radicalis), serta tudung akar (calyptra). Tanaman stroberi berakar tunggang (radix primaria) terus tumbuh memanjang dan berukuran besar. Panjang akar mencapai 100 cm, akan tetapi biasanya akar tanaman stroberi tersebut hanya menembus lapisan tanah atas sedalam15-45cm, tergantung jenis dan kesuburan tanahnya. Akar tanaman menyebar ke semua arah. Akar-akar primer tanaman dapat bertahan sampai satu tahun atau lebih, kemudian kering dan mati, selanjutnya digantikan oleh akar-akar primer baru yang tumbuh pada ruas paling dekat dengan akar primer yang telah kering tersebut. b. Batang (Caulis) Batang tanaman stroberi beruas-ruas pendek dan berbukubuku. Batang tanaman banyak mengandung air (herbaceous), tertutupi oleh pelepah daun, sehingga seolah-olah tampak seperti rumpun tanpa batang. Buku-buku batang yang tertutup oleh sisi daun mempunyai kuncup (gemma). Kuncup ketiak dapat tumbuh menjadi anakan atau stolon. Stolon biasanya tumbuh memanjang dan menghasilkan beberapa calon tanaman baru. c. Cabang Merayap (Stolon) Stolon adalah cabang kecil yang tumbuh mendatar atau menjalar di atas permukaan tanah. Penampakan stolon secara visual mirip dengan sulur. Tunas dan akar stolon tumbuh membentuk generasi (tanaman) baru. Stolon yang tumbuh mandiri dapat segera dipotong atau dipisahkan dari rumpun induk sebagai bahan tanaman (bibit). Bibit yang berasal dari stolon disebut geragih atau runners. Masa pertumbuhan vegetatif membentuk daun-daun baru setiap 8-12 hari dan bertahan 1-3 bulan kemudian kering. Daun stroberi dengan tepi bergerigi merupakan daun trifoliata. Pada setiap daun terdapat 300-400 stomata (mulut daun). d. Daun (Folium) Daun tanaman stroberi tersusun pada tangkai yang berukuran agak panjang. Tangkai daun tanaman berbentuk bulat serta seluruh permukaannya ditumbuhi oleh bulu-bulu halus. Helai daun bersusun tiga (trifoliata), bagian tepi daun bergerigi, berwarna hijau, berstruktur tipis, daun dapat bertahan hidup selama 1-3 bulan, dan kemudian daun akan kering dan mati. e. Bunga (Flos) Tanaman stroberi berbunga sempurna (hermaphrodite). Struktur bunga tediri atas 5 kelopak bunga (sepal), 5 daun mahkota (petal), 20-35 benang sari (stamen), dan ratusan putik (pistil). Bunga tersusun dalam malai yang berukuran panjang, terletak pada ujung tanaman. Setiap malai bercabang, mempunyai empat macam bunga, yaitu satu bunga primer, dua bunga sekunder, empat bunga tersier, serta delapan bunga kuartener. Bunga primer adalah bunga yang pertama kali mekar pada setiap malai, kemudian disusul oleh bunga-bunga lainnya. Penyerbukan bunga dibantu oleh serangga (lebah) dan angin. Setiap malai bunga dapat menghasilkan lebih dari satu buah. f. Buah (Fructus) Buah stroberi umumnya berbentuk kerucut hingga bulat. Namun, buah yang nampak secara visual disebut buah semu, karena berasal dari dasar bunga (receptaculum) yang berubah bentuk menjadi gumpalan daging buah. Buah muda berwarna hijau, namun setelah tua (matang) berubah menjadi berwarna merah atau kuning kemerah-merahan mengkilap. g. Biji (Semen) Biji stroberi berukuran kecil, pada setiap buah menghasilkan banyak biji. Biji berukuran kecil terletak diantara daging buah. Biji stroberi hasil pemuliaan biasanya merupakan benih bagi tanaman stroberi varietas baru. Potensi biji pada setiap buah stroberi dapat menghasilkan 200-300 butir biji. (Rukmana, 1998). 2.1.4 Manfaat Tanaman Stroberi Selain mengandung berbagai vitamin dan mineral, buah stroberi terutama biji dan daunnya diketahui mengandung ellagic acid. Senyawa ini ternyata berperan sebagai antikarsinogen dan antimutagen yang berarti penting untuk kesehatan manusia. Ellagic acid adalah suatu persenyawaan fenol yang berpotensi sebagai penghambat kanker akibat dari persenyawaan-persenyawaan kimia berbahaya. Tanaman stroberi, selain buahnya dapat dimakan, ternyata daun dan akarnya juga dapat dimanfaatkan. Berikut ini manfaat dari masing-masing bagian tanaman. a. Buah Buah stroberi dapat dimanfaatkan sebagai makanan dalam keadaan segar atau olahannya. Produk makanan yang terbuat dari stroberi telah banyak dikenal, misalnya, sirop, selai, dodol, dan jus stroberi. Stroberi memiliki aktivitas antioksidan tinggi karena mengandung quercetin, ellagic acid, antosianin, dan kaemprefol. Antioksidan berperan sebaga pelindung tubuh dari radikal bebas, termasuk diantaranya terbentuknya senyawa sel kanker. Zat karsinogen, tersebut mencegah menghambat proses karsinogenesis, dan menekan pertumbuhan tumor. Buah stroberi berguna membantu penyerapan zat besi dari sayuran yang dikonsumsi. Selain itu, buah stroberi dapat membantu proses diet karena mengandung mengandung zat antikarsinogen. antianaemic dan Buah reconstituent stroberi sehingga membuatnya bermanfaat untuk pertumbuhan anak. Buah yang hanya sedikit mengandung gula ini juga sesuai untuk diet bagi penderita diabetes. Buah stroberi dapat dimanfaatkan kecantikan diantaranya obat jerawat, mempercantik untuk kulit, menjadikan gigi putih, serta meningkatkan kekuatan otak dan penglihatan. Selain itu buah stroberi mempunyai kandungan nutrisi (gizi) yang tinggi dan komposisi gizi yang cukup lengkap, seperti disajikan pada tabel 2.1 berikut. b. Daun Daun stroberi juga bisa dimanfaatkan. Daunnya berperan sebagai diuretic dan antirematik. Menurut Botanical Online, daun stroberi (Fragraria vesca L.) mempunyai khasiat medis. Selain mengandung ellagic acid, daun stroberi juga memiliki zat antringent. Dengan meminum 3-4 cangkir air hasil rebusan daun stroberi per hari, bisa terbebas dari diare. Lumatan daun stroberi yang dilumurkan di wajah juga sangat bermanfaat untuk mencegah pengeriputan kulit. c. Akar Akar stroberi mengandung zat antiradang. Dengan meminum air rebusan akar tersebut bisa memulihkan pembengkakan akibat nyeri sendi dan asam urat. Caranya, rebus akar dan daun stroberi. Minum larutan tersebut sebanyak 3-4 cangkir sehari. Akar dan daun stroberi ternyata juga bermanfaat sebagai obat diabetes (Budiman, 2010). 2.1.5 Syarat-Syarat Tumbuh Tanaman stroberi dapat tumbuh pada beberapa jenis tanah, mulai dari tanah berpasir hingga tanah berliat. Bila tanah mempunyai pH terlalu rendah perlu pemberian kapur untuk menetralisasi asam. Tanaman ini menghendaki suhu sejuk dan dingin, sehingga di Indonesia ditanam pada lahan dataran tinggi, seperti di pegunungan. Fotoperiodisitas (panjang penyinaran) sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Suhu tinggi dengan lama penyinaran panjang mendorong pembentukan stolon. Sebaliknya pada hari pendek dan suhu rendah akan membantu pembungaan (Ashari, 1995). a. Jenis Tanah Stroberi dapat ditanam pada berbagai jenis tanah, asalkan tanahnya subur, sedikit asam sampai netral pada pH 5,5-6,5. Walaupun demikian, tanaman ini kurang cocok jika ditanam pada tanah yang mempunyai kadar liat tinggi atau tanah yang terlalu banyak mengandung pasir. Tanah dengan kadar 1iat tinggi berwarna coklat kemerahan, keputih-putihan atau kebiru-biruan. Tanah liat sedikit sekali mengandung bahan organik, namun kaya akan unsur mikro, mengikat air dan sulit ditembus akar tanaman. Sebaliknya tanah berpasir dapat menahan air cukup lama walaupun mengandung sedikit hara (Soemadi, 1997). b. Ketinggian Tempat Stroberi adalah tanaman subtopis yang dapat beradaptasi dengan baik di dataran tinggi tropis. Ketinggian tempat yang memenuhi syarat iklim tersebut adalah 1000-1500 meter dpl. Jika membicarakan ketinggian tempat suatu daerah tidak lepas dari suhu udara yang ada di daerah tersebut. Hal ini tentu hanya berlaku pada dataran rendah yang mempunyai suhu tidak terlampau terik, yaitu dengan cara rumah kaca atau rumah plastik dengan cara membuat kondisi lingkungan di dalamnya sesuai dengan kebutuhan stroberi (Budiman, 2010). c. Suhu Suhu berpengaruh besar terhadap pertumbuhan tanaman dan kekerasan (firmness) buah stroberi yang dihasilkan. Suhu yang terlalu rendah mengakibatkan batang dan daun tanaman menjadi rusak; bunga, tunas bunga dan buah yang masih muda menjadi lemah; dan buah tumbuh tidak sempurna (abnormal). Sebaliknya jika suhu terlalu tinggi maka bunga sulit terbentuk, namun terbentuk banyak anakan dan pertambahan tangkai daun (Soemadi, 1997). Stroberi menyukai suhu udara relatif dingin dengan sinar matahari tidak terlalu kuat. Tanaman dari daerah beriklim subtropis ini akan tumbuh baik di daerah yang memiliki suhu sekitar 22 -28 C. 0 0 2.2 Screening Menurut Mercuriani, I. S. (2006) screening dapat diartikan sebagai pengisolasian gen-gen pembawa sifat tertentu sebagai upaya untuk mendapatkan genotipe tanaman dengan sifat yang diinginkan. 1. Penanaman tanaman yang gennya akan diisolasi. Penanaman dilakukan dengan dua perlakuan, yaitu: penanaman pada kondisi cekaman tertentu (misalnya: bila gen yang akan diisolasi merupakan gen yang berperan dalam mekanisme resistensi/toleransi tanaman terhadap cekaman kekeringan maka tanaman harus ditanam pada kondisi kritis air) dan penanaman tanpa cekaman sebagai kontrol. Pada prinsipnya, gen yang menjadi sasaran harus diinduksi untuk berekspresi. Penentuan kadar cekaman didasarkan pada pemberian cekaman yang menunjukkan adanya gejala hambatan fisiologis. 2. RNA total yang dihasilkan dari proses ekspresi gen diisolasi dari tanaman, baik yang diberi cekaman maupun yang tidak. Isolasi RNA dilakukan terhadap jaringan tanaman yang menunjukkan respon fisiologis tanaman terhadap cekaman (misalnya: pada kondisi kekeringan; tanaman akan diinduksi untuk melakukan pemanjangan akar sebagai bentuk toleransinya, dengan demikian isolasi RNA dilakukan terhadap akar tanaman). 3. Pemurnian mRNA dari RNA total. Di dalam sel tanaman terdapat 3 macam RNA, yaitu: mRNA, rRNA, dan tRNA. Diantara ketiga jenis RNA tersebut hanya mRNA yang digunakan sebagai cetakan dalam pembentukan protein. Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mengisolasi mRNA dari RNA total adalah dengan menggunakan “Oligo(dT) Cellulose Column Chromatography” dari Pharmacia (Anwar, 1999:25). Dengan teknik tersebut, mRNA (pada sebagian besar mRNA eukaryot membawa segmen DNA poli A) akan ditangkap oleh oligo (dT). Seperti dalam aturan pasangan basa, maka basa Adenin (A) akan berikatan dengan Timin (T). mRNA yang berhasil ditangkap tersebut kemudian dimurnikan lagi dari molekul-molekul lain yang masih tercampur selama proses isolasi dengan menggunakan teknik pengendapan. mRNA yang dihasilkan merupakan kumpulan berbagai jenis mRNA hasil transkripsi dari seluruh gen yang terekspresi pada saat isolasi dilakukan. 4. Sintesis cDNA dengan menggunakan cetakan mRNA yang sudah murni (transkripsi balik) dapat dilakukan dengan teknik RT-PCR (Riverse TranscriptasePolymerase Chain Reaction). Prinsip kerja dari teknik tersebut mirip dengan proses transkripsi balik pada daur hidup virus RNA. Isolasi Gen-gen Pada Tanaman… Biologi B - 65 5. Pembuatan pustaka cDNA. Kegiatan ini diawali dengan menyisipkan cDNA yang dihasilkan ke dalam vektor kloning, misalnya: plasmid. Sampai dengan tahap ini, pustaka cDNA yang berupa kumpulan plasmid rekombinan terdiri dari dua kelompok, yaitu pustaka cDNA dari tanaman yang diberi cekaman (pustaka cDNA A) dan pustaka cDNA dari tanaman yang tidak diberi cekaman (pustaka cDNA B). 6. Kedua kelompok pustaka cDNA kemudian ditransformasikan ke dalam sel bakteri dengan reaksi terpisah. 7. Hasil transformasi bakteri (bakteri rekombinan) kemudian ditanam pada media seleksi padat. Setelah bakteri rekombinan tumbuh, maka dibuat dua buah replika. Dengan menggunakan teknik hibridisasi southern, replika pertama dilacak dengan menggunakan pelacak cDNA A dan replika kedua dilacak menggunakan pelacak cDNA B. 8. Hasil hibridisasi kemudian ‘diekspose’ pada suatu film X-ray dan dideteksi. Bakteri rekombinan yang menghasilkan sinyal positif pada pelacakan dengan menggunakan pelacak DNA A tetapi menghasilkan sinyal negatif pada pelacakan dengan menggunakan pelacak cDNA B merupakan bakteri yang membawa kandidat klon gen yang berperan dalam mekanisme resistensi/toleransi tanaman. Istilah kandidat gen digunakan karena belum tentu semua gen yang ekspresinya diinduksi oleh cekaman lingkungan merupakan gen-gen yang berperan dalam mekanisme resistensi/ toleransi tanaman, sehingga diperlukan analisis lebih lanjut untuk membuktikannya. 2.3 Heritabilitas Nilai heritabilitas merupakan pernyataan kuantitatif peran faktor genetik dibanding faktor lingkungan dalam memberikan keragaan akhir atau fenotipe suatu karakter (Allard, 1960). Heritabilitas dari suatu populasi bersegregasi penting diketahui untuk memahami besarnya ragam genetik yang mempengaruhi suatu fenotipe tanaman. Nilai duga heritabilitas yang akurat juga perlu untuk membangun sistem seleksi dan evaluasi yang optimum (Weaver, 1982). Nilai duga heritabilitas yang diperoleh sangat beragam tergantung dari populasi, generasi dan metode pendugaannya (Sjamsudin, 1990). 9 Untuk menduga nilai heritabilitas diperlukan beberapa populasi yaitu populasi homogen dan populasi heterogen (populasi bersegregasi). Populasi homogen dapat berupa populasi tetuanya atau populasi tanaman hibrida dan populasi heterogen dapat berupa populasi tanaman bersegregasi. Bila ragam genetik untuk setiap generasinya semakin besar maka nilai heritabilitas akan meningkat dan dikatakan bahwa karakter tersebut sebagian besar disebabkan oleh faktor genetik. Menurut Tillman (1996) heritabilitas dapat digunakan sebagai strategi untuk menyeleksi genotipegenotipe dalam populasi. Setelah dilaporkan adanya faktor menurun pengendalian sifat oleh Mendel, orang-orang beranggapan bahwa pertumbuhan tanaman semata mata diatur oleh gen-gen dalam kromosom, sedangkan lingkungan hanya meningkatkan potensi sifatnya. Namun, setelah diketahui bahwa tanamantanaman tidak berkembang secara teratur menurut perubahan lingkungan maka orang mulai menyadari adanya interaksi antara genotipe dan lingkungan. Untuk mengetahui seberapa jauh peranan lingkungan pada suatu sifat tanaman maka didekati dengan usaha untuk memisahkan antar pengaruh genotipe dan lingkungan serta interaksinya (Poespodarsono, 1988). Variabilitas genetik menunjukkan kriteria keanekaragaman genetik. Seleksi merupakan suatu proses pemuliaan tanaman dan merupakan dasar dari seluruh perbaikan tanaman untuk mendapatkan kultivar unggul baru. Variabilitas genetik yang luas merupakan salah satu syarat efektifnya program seleksi, dan seleksi suatu karakter yang diinginkan akan lebih berarti apabila karakter tersebut mudah diwariskan (Wahyuni, 2004). Evaluasi variasi genetik akan mendapatkan perbaikan-perbaikan sifat disamping juga diperolehnya keleluasaan dalam pemilihan suatu genotipe unggul (Bari et al., 1982) 3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Waktu pelaksanaan dimulai dari September 2016 sampai dengan Desember 2016. Percobaan ini akan dilaksanakan di rumah kaca fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang. Penanaman pada dataran rendah dengan ketinggian 440 mdpl. 3.1.1 Alat dan Bahan Bahan yang digunakan adalah spesies stoberi hutan (Fragaria vesca). Bahan lain yang digunakan antara lain media tanam berupa campuran tanah dan sekam, polybag, pupuk dan pestisida. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat ukur, alat tulis, kamera, dan alat pengolah data. 3.1.2 Metode Penelitian Percobaan pada masing-masing lokasi menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan hanya menggunakan 1 genotip yaitu stoberi hutan (Fragaria vesca) dan perlakuan cekaman kekeringan dengan pemberian air pada 4 taraf dan diulang sebanyak 4 kali. Analisa perlakuan dilakukan sampai dua generasi. 3.2 Pelaksanaan Penelitian 3.2.1 Persiapan Media Media yang akan digunakan adalah campuran tanah dan sekam dengan perbandingan 1:1. Kedua media tersebut dicampur secara merata dan ditempatkan di polybag dengan ukuran 5 kg. Media yang sudah siap digunakan diberi pupuk kompos 20 - 30 ton/ha satu minggu sebelum tanam. Polibag ditata sesuai perlakuan dan ulangan pada lokasi penelitian. 3.2.2 Penanaman Sebelum melakukan penanaman, bibit sroberi perlu disiapkan. Bibit yang digunakan dipilih bibit yang sehat dan baik. Penanaman dilakukan pada sore hari. Penanaman dilakukan pada polybag dengan media yang telah disiapkan yaitu berupa campuran tanah dan arang sekam. 3.2.3 Pemeliharaan Pemeliharaan tanaman stroberi meliputi kegiatan penyulaman, pemupukan, penyiangan gulma, penyiraman, dan pengendalian hama penyakit (bila diperlukan). Dalam penyiraman sendiri akan dilakukan sesuai dengan perlakuan yang akan digunakan yaitu 4 taraf pemberian air (100% KL, 75% KL, 50% KL dan 25% KL). Penyulaman hanya dilakukan jika ada tanaman yang tidak tumbuh atau mati, setelah 7 hst. Penyiangan gulma dilakukan apabila tumbuh gulma yang dapat berkompetisi dengan tanaman dalam persaingan unsur hara dan tempat tumbuh sehingga gulma perlu disiangi. Tindakan pengendalian hama penyakit dilakukan bila terjadi serangan hama atau penyakit dan penanganannya akan sesuai dengan jenis yang menyerang. Dalam penerapan perlakuan cekaman dilakukan setelah 14 HST. Pada siklus tanam pertama setelah diidentifikasi tingkat ketahan tanaman (screening) tanaman yang memiliki tingkat ketahan terhadap kekeringan baik pada taraf 25%, 50% dan 75% kapasitas lapang akan di diseleksi dan kemudian dilakukan variasi persilangan antar tanaman dengan tingkat toleransi yang sama. kemudian benih yang dihasilkan dari tanaman terpilih akan digunakan untuk penanaman pada siklus kedua. Pada siklus kedua tanaman F1 dari hasil sebelumnya ditanam dan lakukan perawatan seperti pada siklus pertama. Pada silus kedua ini tanaman juga di Screening untuk mengetahui apakah ada perubahan tingkat ketahanan tanaman tersebut terhadap kekeringan. Tanaman F1 juga disilangan dengan taraf toleransi yang sama. 3.3 Parameter Pengamatan Paramater pengamatan yang digunakan adalah beberapa komponen hasil karena perlakuan yang dilakukan dalam literatur juga menyebutkan akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas hasil, selain itu parameter yang berkaitan dengan pertumbuhan tanaman juga perlu diamati untuk menunjang data dan mempermudah analisis. Parameter yang digunakan meliputi jumlah bunga per tanaman, jumlah buah pertanaman, ukuran buah, rasa buah, jumlah daun dan panjang sulur. 3.4 Analisis Data Data komponen hasil yang diperoleh akan digunakan untuk mengestimasikan nilai heritabilitas pada sifat toleransi tanaman stroberi terhadap kekeringan dengan menggunakan metode estimasi lingkungan. Sedangkan data jumlah daun dan panjang sulur akan digunakan untuk melihat pengaruh cekaman kekeringan terhadap bagian vegetative tanaman. DAFTAR PUSTAKA Allard, R.W. 1960. Priciples Of Plant Breeding. John Wileyand Sons, Inc. New York, London, Sydney. 485 p. Ashari, Semeru. 1995. Holtikultura Aspek Budidaya. Universitas Indonesia Press (UI-Press). Jakarta Bari, A. S. Musa, dan E. Sjamsudin .1982. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Institut Pertanian Bogor. Bogor Budiman, Supriyatin, dan Desi Saraswati. 2010. Berkebun Stroberi Secara Komersial. Jakarta: Penebar Swadaya Menurut Mercuriani, I. S. 2006. ISOLASI GEN-GEN PADA TANAMAN YANG EKSPRESINYA DIINDUKSI OLEH CEKAMAN LINGKUNGAN. SEMINAR NASIONAL MIPA 2006. FakultasMatematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNY, Yogyakarta pada tanggal 1 Agustus 2006. Poespodarsono, S., 1998. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman. IPB Press, Bogor. Rukmana, R., 1998. Stroberi, Budidaya dan Pascapanen. Kanisius. Yogayakarta. Sjamsudin, E.1990. Pendugaan Heritabilitas HasiL Kacang Tanah (Arachis hypogea L.)Tipe Virginia di Queensland Australia Bull. Agronomi 19 (1):1-7 Soemadi W, 1997. Stroberi Di Pot dan Kebun. Aneka. Yogyakarta Wahyuni, T. S., R. Setiamihardja, N. Hermiati, K. H. Hendroatmodjo. 2004. Variabilitas Genetik, Heritabilitas, dan Hubungan Antara Hasil Umbi dengan Beberapa Karakter Kuantitatif dari 52 Genotip Ubi Jalar di Kendalpayak, Malang. Zuriat. 15(2): 109-117. Weaver, D.B., and J.R. Wilcox. 1982. Heritabilities, gains from selection, and genetic correlation for characteristic of soybeans grow in two row spacing. Crop Sci 22: 625-628