Anda di halaman 1dari 4

Definisi Retensio Sisa Plasenta

Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga atau
melebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir.
Retensio sisa plasenta adalah sisa plasenta dan selaput ketuban yang masih
tertinggal dalam rongga rahim yang dapat menyebabkan perdarahan postpartum
dini dan perdarahan postpartum lambat
Tertinggalnya sebagian plasenta sewaktu suatu bagian dari plasenta (satu atau
lebih lobus) tertinggal, maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif dan
keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan. Tetapi mungkin saja pada beberapa
keadaan tidak ada perdarahan dengan sisa plasenta.
Klasifikasi Perdarahan Postpartum
Perdarahan postpartum primer
Ialah perdarahan lebih dari 500 cc yang terjadi dalam 24 jam pertama setelah
anak lahir.
Perdarahan postpartum sekunder
Ialah perdarahan lebih dari 500 cc yang terjadi setelah 24 jam pertama setelah
anak lahir, biasanya antara hari ke 5 sampai 15 hari postpartum.
Perdarahan postaprtum merupakan penyebab perdarahan bidang obstetrik yang
paling sering. Sebagai penyebab langsung kematian maternal, perdarahan
psotpartum merupakan ¼ penyebab kematian akibat perdarahan.
Jenis-jenis retensio plasenta
Plasenta Adhesiva
Adalah Plasenta yang belum lahir dan masih melekat di dinding rahim karena
kontraksi rahim yang kurang kuat untuk melepaskan palasenta. Hal ini terjadi
karena implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga menyebabkan
kegagalan mekanisme separasi fisiologis.
Plasenta Akreta

kecuali apabila penolong persalinan memeriksa kelengkapan plasenta setelah plasenta lahir. yaitu perdarahan yang berulang atau berlangsung terus dan berasal dari rongga rahim. Plasenta Perkreta Implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus. Apabila kelahiran plasenta dilakukan oleh orang lain atau terdapat keraguan akan sisa plasenta. disebabkan oleh konstruksi ostiumuteri. Pada perdarahan postpartum lambat gejalanya sama dengan subinvolusi rahim.Istilah plasenta akkreta digunakan untuk menyatakan setiap implantasi plasenta dengan perlekatan plasenta yang kuat dan abnormal pada dinding uterus. Perdarahan akibat sisa plasenta jarang menimbulkan syok. kuret atau alat bantu diagnostik yaitu ultrasonografi. Etiologi perdarahan postpartum lambat karena sisa plasenta : Sisa plasenta dan ketuban yang masih tertinggal dalam rongga rahim dapat menimbulkan perdarahan postpartum dini atau perdarahan pospartum lambat (biasanya terjadi dalam 6 – 10 hari pasca persalinan). Pada umumnya perdarahan dari rongga rahim setelah plasenta lahir dan kontraksi rahim baik dianggap sebagai akibat sisa plasenta yang tertinggal dalam rongga rahim . maka untuk memastikan adanya sisa plasenta ditentukan dengan eksplorasi dengan tangan. Etiologi 1. Sebagai akibat dari infusiensi parsial atau total desidua basalis dan pertumbuhan fibrinosid yang tidak sempurna (lapisan Nitabuch) vili korialis akan melekat pada miometrium. Plasenta Inkarserata Tertahannya plasenta di dalam kavum uteri. Penilaian klinis sulit untuk memastikan adanya sisa plasenta. Pada perdarahan postpartum dini akibat sisa plasenta ditandai dengan perdarahan dari rongga rahim setelah plasenta lahir dan kontraksi rahim baik. Plasenta Inkreta Implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai/memasuki miometrium.

Tanda dan Gejala Retensio Sisa Plasenta Tanda dan gejala yang selalu ada: . Perdarahan pasca persalinan meningkat kembali setelah usia 30-35tahun. sedangkan pada usia diatas 35 tahun fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami penurunan dibandingkan fungsi reproduksi normal sehingga kemungkinan untuk terjadinya komplikasi pasca persalinan terutama perdarahan akan lebih besar. Perdarahan pasca persalinan dan paritas Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut perdarahan pasca persalinan yang dapat mengakibatkan kematian maternal.Faktor Predisposisi Faktor-faktor yang mempengaruhi perdarahan pascapersalinan : Perdarahan pascapersalinan dan usia ibu Wanita yang melahirkan anak pada usia dibawah 20 tahun atau lebih dari 35 tahun merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan pascapersalinan yang dapat mengakibatkan kematian maternal. Hal ini dikarenakan pada multigravida. ketidaksiapan ibu dalam menghadapi persalinan yang pertama merupakan faktor penyebab ketidakmampuan ibu hamil dalam menangani komplikasi yang terjadi selama kehamilan. Hal ini dikarenakan pada usia dibawatahun fungsi reproduksi seorang wanita belum berkembang dengan sempurna. Perdarahan pasca persalinan yang mengakibatkan kematian maternal pada wanita hamil yang melahirkan pada usia dibawah 20 tahun 2-5 kali lebih tinggi daripada perdarahan pasca persalinan yang terjadi pada usia 20-29 tahun. Perdarahan pascapersalinan dan gravida Ibu-ibu yang dengan kehamilan lebih dari 1 kali atau yang termasuk multigravida mempunyai risiko lebih tinggi terhadap terjadinya perdarahan pasca persalinan dibandingkan dengan ibu-ibu yang termasuk golongan primigravida (hamil pertama kali). persalinan dan nifas. Pada paritas yang rendah (paritas satu). fungsi reproduksi 4 mengalami penurunan sehingga kemungkinan terjadinya perdarahan pasca persalinan menjadi lebih besar. Paritas satu dan paritas tinggi (lebih dari tiga) mempunyai angka kejadian perdarahan pasca persalinan lebih tinggi.

Plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak lengkap Perdarahan segera Tanda dan gejala kadang-kadang ada: Uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang Perdarahan pasca persalinan perdarahan dari rongga rahim setelah plasenta lahir. Penatalaksanaan Medis Pada umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase. Hitung darah lengkap Untuk menetukan tingkat hemoglobin ( Hb ) dan hematokrit ( Hct ). Pemerikasaan Penunjang (Wijknsastro. Antibiotika dalam dosis pencegahan sebaiknya diberikan. serta jumlah leukosit. Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus. Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta. sisa plasenta dapat dikeluarkan secara manual. Ini penting untuk menyingkirkan garis spons desidua. pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral. melihat adanya trombositopenia. 2002). dilanjutkan dengan . Pada keadaan yang disertai dengan infeksi. Menentukan adanya gangguan kongulasi Dengan hitung Protombrin Time ( PT ) dan activated Partial Tromboplastin Time ( aPTT ) atau yang sederhana dengan Clotting Time ( CT ) atau Bleeding Time ( BT ). Dalam kondisi tertentu apabila memungkinkan.