Anda di halaman 1dari 14

TUGAS

MAKALAH
MONITORING KUALITAS UDARA

oleh :
RIZAL YULISTIO AJI
115090801111002

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

Menurut Soedomo. METODE PENGUKURAN Dalam pengukuran polusi udara. CO. transportasi darat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap setengah dari total emisi SPM10.dkk. HC. dan untuk beberapa lokasi dilakukan semi kontinyu dengan menggunakan larutan kimia (Absorbant).POLUSI UDARA AKIBAT AKTIVITAS KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN PERKOTAAN PULAU JAWA DAN BALI Aktivitas transportasi khususnya kendaraan bermotor merupakan sumber utama pencemaran udara di daerah perkotaan. dimana tingkat pencemaran udara sudah dan/atau hampir melampaui standar kualitas udara ambient. Sebagai berikut : Tabel 1. Adapun frekuensi pengamatan adalah sebagai berikut : Pengamatan dilakukan secara kontinyu selama 24 jam. dengan menggunakan mobil unit Laboratorium Polusi Udara seperti yang diperlihatkan pada Gambar 1. Pusat Litbang Jalan dan Jembatan. 1990. dan NOx di daerah perkotaan. Metoda pengukuran yang dilakukan diperlihatkan secara jelas pada Tabel 1. melakukan pengukuran langsung dibeberapa ruas jalan kota-kota besar dengan harapan tingkat polusi udara yang terjadi benar-benar berasal dari kendaraan. dengan konsentrasi utama terdapat di daerah lalu lintas yang padat. Metoda Pengukuran Polusi Udara . untuk sebagian besar timbal.

dengan membuka atap alat TSP. High Volume Air Sampler (HVS) High Volume Air Sampler (HVS) adalah alat untuk mengambil sampel SPM (Suspended Particel Matter). Prinsip kerja High Volume Air Sampler (HVS) Udara yang mengandung partikel debu dihisap mengalir melalui kertas filter dengan menggunakan motor putaran kecepatan tinggi. Fungsi alat ini untuk pemantauan debu total di udara luar (out door) dengan ukuran 10 µm. dengan neraca analitik pada suhu 105ºC dengan menggunakan vinset (hati-hati jangan sampai banyak tersentuh tangan). . Debu akan menempel pada kertas filter yang nantinya akan diukur konsentrasinya dengan cara kertas filter tersebut ditimbang sebelum dan sesudah sampling. Pasangkan pada alat TSP. Panaskan kertas saring pada suhu 105ºC selama 30 menit. Timbang kertas saring. Kemudian dipasangkan kembali atapnya. 2. Di samping itu dicatat flowrate dan waktu lamanya sampling sehingga didapat konsentrasi debu tersebut.Gambar. 3. 4. Cara penggunaan High Volume Air Sampler (HVS) 1. Simpan alat HVS tersebut pada tempat yang sudah ditentukan sebelumnya.

Standar Baku Mutu Udara Ambient HASIL PENGUKURAN PENCEMARAN UDARA Dari hasil pengukuran terlihat adanya perbedaan yang mencolok khususnya untuk parameter NOx. Tabel 2. 7. 8. Gambar 1. 41 tahun 1999 tentang standar kualitas udara ambien adalah seperti ditunjukkan pada Tabel 2. Hitung kadar TSP nya sebagai mg/Nm³. menghidupkan (pada posisi ON) pompa hisap dan mencatat angka flow ratenya (laju aliran udaranya). mengacu pada peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. Mobil Polusi Udara dan Kebisingan Sedangkan untuk standar kualitas udara. CO. 6. Timbang kertas saringnya.5. Matikan alat sampai batas waktu yang telah ditetapkan. Hal ini dapat dipastikan bahwa kendaraan . Operasikan alat dengan cara. panaskan pada oven listrik pada suhu 105ºC. Ambil kertasnya. SPM10 dan hidrokarbon.

Dari tabel tersebut terlihat bahwa konsentrasi maksimum untuk polutan HC. pemilik kendaraan dan masyarakat adalah polutan SPM10 karena dampak partikel debu terhadap kesehatan(hasil uji toksikologi) menunjukan bahwa partikel debu dengan ukuran di bawah 10 μm akan terisap langsung ke dalam paruparu dan mengendap di alveoli. NOx. CO. dan hidrokarbon. sehingga dapat membahayakan sistem pernapasan. baik pemerintah. dan pada tanaman dapat menyebabkan kekeringan pada daun yang pada akhirnya akan menyebabkan tanaman tersebut mati. Dari ketiga polutan tersebut diatas yang perlu mendapat perhatian dari semua pihak.Sementara partikel debu yang mengandung Pb akan merusak otak. sedangkan untuk parameter partikel (SPM) disamping dari emisi kendaraan. Sementara itu hasil pengukuran di tujuh kota besar Pulau Jawa dan Bali terlihat pada Tabel 4. dan SPM10 sudah melebihi standar kualitas udara ambien. Tabel 4 Interval Tingkat Pencemaran Udara di Ruas Jalan Kota Kota Besar . juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang kotor dan kecepatan angin.bermotor merupakan sumber utama untuk parameter NOx.

Oksidan dapat merusak sel tubuh melalui sel parenkim paru. Prinsip kerja alat adalah udara dihisap melaui penyaring dengan kecepatan aliran 1. baik sel-sel alveolus maupun matriksnya. Penemuan terbaru menyatakan pajanan debu jangka pendek berhubungan dengan dampak kesehatan walaupun dalam konsentrasi yang rendah ≤100 µg/m3. lamanya terpajanan. Efek terhadap kesehatan yang ditimbulkan tentunya dipengaruhi oleh intensitas. Pengukuran kadar debu (PM10) dilakukan selama 1 jam saat proses produksi. dapat merugikan kesehatan pernapasan salah satunya ISPA. dimana data dikumpulkan secara bersamaan.5 µm–5µm).13–1. pajanan debu jangka pendek. yaitu antara konsentrasi PM10 pada industri mebel dan penderita ISPA pada pekerja. PM10 merupakan salah satu oksidan pencemar yang dapat dihisap oleh saluran pernapasan. Berat PM10 (µg/m3) per jam dihitung dengan rumus: berat debu tertangkap (gr) x 10 volume udara (m3) Hubungan konsentrasi PM10 dengan ISPA Konsentrasi PM10 yang tinggi berhubungan dengan kejadian ISPA. walaupun dengan konsentrasi rendah.Dalam kondisi ini. PM10 ditemukan pada proses pengerjaan industri mebel ataupun dapat juga ditemukan pada pemakaian bahan bakar di rumah. dan status kesehatan pekerja atau penduduk terpajan. Akan tetapi. dengan menggunakan high volume dust sampler. Patogen tersebut melayang bebas dan dapat berpindah tempat di udara. kelompok berisiko rentan terpajan. mencakup semua ukuran virus (0. .60 µg/m3 mengakibatkan ISPA pada pekerja industri mebel. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa rata-rata konsentrasi PM10 sebesar 70. Partikel PM10 terdiri dari partikel kompleks berukuran 0. Oksidan adalah bahan kimia elektrofilik yang dapat memindahkan elektron dari berbagai molekul dan menghasilkan oksidasi dari molekul-molekul tersebut. Pekerja industri yang terpajan PM 10 dapat terkena gangguan kesehatan pernapasan.1 µm–1 µm) dan bakteri (0.1µm–10µm.7 m3/menit atau 40-60 ft 3/menit.PM10 DAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT PADA PEKERJA INDUSTRI MEBEL PM10 dapat ditimbulkan oleh industri mebel. Metode dan Alat Penelitian Desain penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional. PM10 adalah pekerja.

Distribusi ISPA dan Karakteristik Pekerja Mebel di Desa Cilebut Barat dan Cilebut Timur 2009 Kesimpulan Kehadiran PM10 sebagai hasil buangan proses produksi dan aktivitas industri berhubungan dengan kejadian ISPA.Tabel. Hal tersebut didukung dengan kondisi lingkungan kerja yang tidak sesuai dengan syarat kesehatan dan kebiasaan pekerja. Distribusi Lingkungan Fisik Ruang Kerja dan Masa Kerja di Industri Mebel di Desa Cilebut Barat dan Cilebut Timur 2009 Tabel. .

.Dampak Perubahan Musim Terhadap Kadar Debu PM10 Lokasi Transportasi. industri dan permukiman dalam rangka perbaikan pencemaran udara di Indonesia. Prinsip kerjanya yaitu: udara yang mengandung partikel debu dihisap mengalir melalui kertas filter dengan menggunakan motor putaran kecepatan tinggi. Metode dan Alat Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cross-sectional yang dilakukan di lokasi transportasi indutri dan permukiman. Debu akan menempel pada kertas filter yang nantinya akan diukur konsentrasinya dengan cara kertas filter tersebut ditimbang sebelum dan sesudah sampling di samping itu dicatat flowrate dan waktu lamanya sampling sehingga didapat konsentrasi debu tersebut. serta hari libur (minggu). Hari kerja diawali hari senin dan kamis. Pengambilan sampel dilakukan pada hari kerja dan hari libur. Setiap pengambilan sampel (hari) dilakukan selama 24 jam non stop menggunakan alat High Volume Sampler (HVS-2000) PM10. Fungsinya untuk mengambil sampel SPM (Suspended Particle Matter). dan hari kerja kondisi khusus (jumat dan sabtu). Waktu penelitian adalah musim kemarau dan hujan tahun 2005. Industri dan Pemukiman Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui pengaruh musim terhadap penurunan kualitas debu PM10 pada lokasi transportasi. Pengambilan sampling nya dilakukan dalam waktu 24 jam secara digital.

4% pada hari Senin dan maksimum 45. Sedangkan pengaruh musim terhadap penurunan kadar PM10 rata-rata adalah 29.9% pada hari Kamis. 2003. Departemen Kesehatan. Pada musim hujan kadar PM10 rata-rata 82. Pagano.2µg/m 3. dengan kadar minimum 85µg/m3 pada hari Minggu dan maksimum 170µg/m3 di hari kamis. Selanjutnya data dimasukkan dengan excel dan dianalisis (Permana. Hasil pengukuran musim kemarau menunjukkan bahwa kadar PM10 rata-rata 117. dengan kadar minimum 54µg/m3 pada hari Minggu dan maksimum 131µg/m3 pada hari Kamis. 1992) Hasil Penelitian Hasil pengukuran kualitas udara ambien lokasi transportasi musim kemarau dan hujan pada tabel 1.9% dengan penurunan minimum 8. dengan kadar minimum 54µg/m3. Pusat Penelitian dan Pengembangan Ekologi dan Status Kesehatan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. .2 µg/m3 .Hasil pengambilan sampel selanjutnya di analisis dengan metode gravimetri di Laboratorium Kesehatan Lingkungan.

disusul kemudian di lokasi industri dan terakhir lokasi permukiman. . Terbukti bahwa musim berpengaruh terhadap penurunan kadar PM10 secara signifikan.Secara keseluruhan trend penurunan ketiga lokasi transportasi (padat kendaraan).

Data untuk jejak gas dan parameter meteorologi yang tersedia sebagai ratarata per jam. NO. Karena hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa korelasi jumlah partikel dan NO2 tergantung pada proses pencampuran di atmosfer. Sistem DMPS terdiri dari tiga bagian utama: charger bipolar. NO2 dan nomor partikel Konsentrasi: validitas kontrol kualitas udara Hubungan antara konsentrasi nomor partikel dan indikator kualitas udara yang telah ditetapkan seperti PM10 dan NO2 merupakan hal yang sangat penting. Teknik mobilitas Diferensial mampu mengukur partikel yang lebih kecil. kelembaban relatif. Untuk data penelitian ini dari 9 Juni 2006 pukul 00:00 2 Juli 2006 sampai dengan 23:00 yang dipertimbangkan. Sebuah EC (Electrostatic Classifier) didasari dengan DMA.00 2 Juli 2006 pukul 23:00. Hal ini dipengaruhi oleh kecepatan angin dan curah hujan yang kuat dalam korelasi NO2 dan jumlah partikel. Teknik optik terbatas dalam tidak mampu mendeteksi partikel lebih kecil dari 50-100nm. Parameter meteorologi yang diukur adalah suhu. NO2. Diferensial partikel mobilitas sizing adalah sebuah alternatif untuk teknik sizing optik untuk pengukuran distribusi ukuran aerosol submikron. DMPS ditempatkan di lokasi atas atap di Femman. O3. Alat Penelitian Data konsentrasi jumlah partikel yang tersedia dari pengukuran ukuran partikel distribusi. dilakukan dengan Sizer partikel mobilitas diferensial TSI-3932 (DMPS). dan juga sensitif terhadap variasi dalam bentuk partikel.Hubungan antara PM10. . curah hujan. Untuk studi ini. seperti pembentukan lapisan batas dan lapisan pencampuran. Interpretasi Data Data yang digunakan untuk penelitian ini konsentrasi partikel nomor yang tersedia sebagai 5menit rata-rata. ke 2.5nm dan tidak sensitif terhadap perbedaan indeks bias. dan juga rentan terhadap ukuran kesalahan yang dihasilkan dari variasi dalam bentuk partikel dan indeks bias. Stasiun pengukuran juga dilengkapi dengan berbagai instrumen pemantauan udara on-line untuk mengukur CO. tekanan udara. SO2 dan PM10 dan dicatat sebagai resolusi waktu 1 menit. kecepatan dan arah angin. tetapi tidak mampu mencapai resolusi temporal yang sama sebagai instrumen optik. Dari 9 Juni 2006 pukul 00. partikel dalam kisaran diameter 10-368 nm diukur dan hanya konsentrasi total jumlah partikel yang digunakan untuk analisis. sebuah DMA (berbeda Mobility Analyzer) dan BPK (Kondensasi Partikel Counter).

Pada Gambar 3. sedangkan konsentrasi jumlah partikel tetap konstan. Perbedaan ini mungkin disebabkan sumber yang berbeda dan kehidupan kali PM10 dan jumlah partikel.2 Juli tahun 2006. Partikel submicrometer lebih sering dipancarkan langsung dari lalu lintas. Benar-benar. Mengingat seluruh yang kumpulan data. . Kemudian rata-rata diurnal PM10. Hal ini karena pembentukan batas nokturnal yang lebih rendah layer dan pencampuran menurun pada malam hari. NO2 dan konsentrasi jumlah partikel dihitung untuk periode 9 Juni . Jumlah partikel juga agak konstan konsentrasi selama bagian awal malam. sedangkan PM10 bisa berasal dari berbagai sumber. Sebagian besar partikel diangkut dalam konsep partikel ultra-halus.5-menit rata-rata data untuk konsentrasi partikel nomor diubah menjadi rata-rata per jam. Gambar 3: variasi per jam rata-rata dari konsentrasi PM10 dan jumlah partikel Korelasi untuk seluruh set data Koefisien korelasi antara jumlah yang dipilih dihitung untuk seluruh set data dan disajikan dalam Tabel 1 Ternyata bahwa korelasi jumlah partikel dan NO2 lebih tinggi dari dengan jumlah partikel dan NO. Setelah itu konsentrasi rata-rata per jam dari PM10 penurunan. konsentrasi rata-rata per jam dari PM10 juga menunjukkan sejenis variasi sebagai jumlah partikel sampai 15:00 sore. 576 titik data yang dipertimbangkan untuk analisis. korelasi antara PM10 dan NO2 sangat lemah.

Korelasi antara jumlah partikel. PM10 dan rasio NO menjadi NO2 Kesimpulan Dari hasil penelitian ini. PM10 dan NO2 bervariasi sepanjang waktu hari. sedangkan korelasi antara NO2 dan jumlah partikel dipengaruhi oleh kecepatan angin dan curah hujan. yang dalam hal dipancarkan. Korelasi antara PM10 dan jumlah partikel hanya dipengaruhi oleh kecepatan angin. Korelasi dan regresi kemiringan konsentrasi jumlah partikel PM10 dan juga mengungkapkan bahwa PM10 adalah lemah indikator jumlah partikel. . diharuskan mengevaluasi strategi pengendalian yang sesuai untuk konsentrasi partikel nomor. NO2. Kemiringan regresi per jam rata-rata juga menunjukkan variasi yang besar dengan waktu yang menunjukkan bahwa hubungan antara jumlah partikel dan NO2 tidak kuat. NO. sedangkan korelasi mereka jelas lemah di sore hari. Konsentrasi massa. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pedoman kualitas udara ini.Tabel 1: Koefisien korelasi konsentrasi jumlah partikel. Korelasi konsentrasi jumlah partikel dengan NO2 kuat hanya di malam hari dan di pagi hari terburu-buru jam. jelas bahwa PM10 dan NO2 konsentrasi bukan merupakan indikator yang tepat nomor partikel konsentrasi.

2010. 2010. hal 25-30 . 2008. Gunawan. Procedia Environmental Sciences Kusminingrum. 2006. Vol 14. PM10 Dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Pekerja Industri Mebel. Relationship between PM10. Mohammad. Nanny dan G. Polusi Udara Akibat Aktivitas Kendaraan Bermotor Di Jalan Perkotaan Pulau Jawa dan Bali.DAFTAR PUSTAKA Aurangojeb. Jurnal Kesehatan. NO2 and particle number concentration: validity of air quality controls. Pusat Litbang Jalan dan Jembatan Sukar. Jurnal Ekologi Kesehatan Vol 5 No 2. hal 432-437 Yusnabeti. Dampak Perubahan Musim Terhadap Kadar Debu PM 10 Lokasi Transportasi. Industri dan Pemukiman.