Anda di halaman 1dari 11

Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Penegakan Hukum Terhadap...

(Endrawati) 41-51

PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA KEKERASAN


DALAM RUMAH TANGGA DI BIDANG EKONOMI

Oleh: Endrawati
Dosen Fakultas Hukum Universitas PGRI Palangka Raya
e-mail: endra_kapos@yahoo.com

Abstrak: Penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana kekerasan dalam rumah
tangga di bidang ekonomi masih belum maksimal. Sanksi terhadap Kekerasan ekonomi
dalam rumah tangga tercantum dalam Pasal 49 UU PKDRT. Pasal tersebut menyebutkan
bahwa:Dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun atau denda paling banyak
Rp. 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah), setiap orang yang: Menelantarkan orang lain
dalam lingkup rumah tangganya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1);
Menelantarkan orang lain sebagaimana dimaksud Pasal 9 ayat (2). Namun sampai
sekarang, kasus kekerasan dalam rumah tangga di bidang ekonomi jarang sekali
dilaporkan dan dikenakan sanksi pidana bagi pelakunya. Melihat fenomena seperti ini,
tujuan utama penegakan hukum terhadap tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga
di bidang ekonomi merupakan hal yang sangat penting.

Kata Kunci: Penegakan Hukum, Kekerasan Dalam Rumah Tangga Bidang


Ekonomi.

PENDAHULUAN anggota keluarga merasa bahagia yang


ditandai dengan tidak adanya konflik,
Keluarga adalah unit sosial terkecil ketegangan, kekecewaan dan kepuasan
dalam masyarakat yang berperan dan terhadap keadaan (fisik, mental, emosi dan
berpengaruh sangat besar terhadap sosial) seluruh anggota keluarga.
perkembangan sosial dan perkembangan Ketegangan maupun konflik antara suami
kepribadian setiap anggota keluarga. dan istri maupun orang tua dengan anak
Keluarga memerlukan organisasi tersendiri merupakan hal yang wajar dalam sebuah
dan perlu kepala rumah tangga sebagai keluarga atau rumah tangga. Tidak ada
tokoh penting yang memimpin keluarga rumah tangga yang berjalan tanpa konflik
disamping beberapa anggota keluarga namun konflik dalam rumah tangga
lainnya. Anggota keluarga terdiri dari bukanlah sesuatu yang menakutkan.
Ayah, ibu, dan anak merupakan sebuah Hampir semua keluarga pernah
satu kesatuan yang memiliki hubungan mengalaminya. Yang menjadi berbeda
yang sangat baik. Hubungan baik ini adalah bagaimana cara mengatasi dan
ditandai dengan adanya keserasian dalam menyelesaikan hal tersebut. Pasal 1 UU
hubungan timbal balik antar semua Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
anggota/individu dalam keluarga. Sebuah (selanjutnya ditulis UU Perkawinan)
keluarga disebut harmonis apabila seluruh menyebutkan bahwa :

ISSN : 2085-4757 41
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Penegakan Hukum Terhadap...(Endrawati) 41-51

Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara terganggu jika kualitas dan pengendalian
seorang pria dan seorang perempuan diri tidak dapat dikontrol, yang pada
sebagai suami sitri dengan tujuan akhirnya dapat terjadi kekerasan dalam
membentuk keluarga (rumah tangga) yang rumah tangga sehingga timbul ketidak
bahagia dan kekal, berdasarkan Ketuhanan amanan dan ketidak adilan terhadap orang
Yang Maha Esa. yang berada dalam lingkup rumah tangga
Selanjutnya dalam Pasal 3 UU Perkawinan tersebut. Untuk mencegah, melindungi
disebutkan bahwa : korban, dan menindak pelaku kekerasan
Suami istri wajib saling mencintai, dalam rumah tangga, negara dan
hormat menghormati, setia dan memberi masyarakat wajib melaksanakan
bantuan lahir batin yang satu kepada yang pencegahan, perlindungan, dan penindakan
lain. pelaku sesuai dengan falsafah Pancasila
Dari ketentuan dalam Pasal 1 dan dan UUD 1945. Negara berpandangan
Pasal 3 UU Perkawinan terlihat bahwa bahwa segala bentuk kekerasan, terutama
tujuan perkawinan adalah membentuk kekerasan dalam rumah tangga, adalah
keluarga yang bahagia dan menciptakan pelanggaran hak asasi manusia dan
ketenangan, kenyamanan bagi suami sitri kejahatan terhadap martabat kemanusiaan
serta anggota keluarga. Oleh karenanya serta bentuk diskriminasi. Pandangan
tindakan kekerasan dalam rumah tangga negara tersebut didasarkan pada Pasal 28
tidak sesuai dengan tujuan perkawinan.1 UUD 1945, beserta perubahannya. Pasal
Keutuhan dan kerukunan rumah 28 G ayat (1) UUD 1945 menentukan
tangga yang bahagia, aman, tenteram, dan bahwa :
damai merupakan dambaan setiap orang Setiap orang berhak atas
dalam rumah tangga. Negara Republik perlindungan diri pribadi, keluarga,
Indonesia adalah negara yang berdasarkan kehormatan, martabat, dan harta
Ketuhanan Yang Maha Esa dijamin oleh benda yang di bawah kekuasaannya,
Pasal 29 Undang-Undang Dasar RI Tahun serta berhak atas rasa aman dan
1945 (selanjutnya ditulis UUD 1945). perlindungan dari ancaman ketakutan
Dengan demikian, setiap orang dalam untuk berbuat atau tidak berbuat
lingkup rumah tangga dalam melaksanakan sesuatu yang merupakan hak asasi.
hak dan kewajibannya harus didasari oleh Pasal 28 H ayat (2) menyatakan bahwa :
agama. Hal ini perlu terus ditumbuh Setiap orang berhak mendapat
kembangkan dalam rangka membangun kemudahan dan perlakuan khusus
keutuhan rumah tangga. Untuk untuk memperoleh kesempatan dan
mewujudkan keutuhan dan kerukunan manfaat yang sama guna mencapai
tersebut, sangat tergantung pada setiap persamaan dan keadilan.
orang dalam lingkup rumah tangga, Atas dasar tersebut, maka untuk
terutama kadar kualitas perilaku dan mengimplementasikan keberadaan Pasal
pengendalian diri setiap orang dalam 28 G ayat (1) dan Pasal 28 H ayat 92)
lingkup rumah tangga tersebut. Keutuhan UUD 194, maka oleh pemerintah
dan kerukunan rumah tangga dapat Indonesia dibentuklah Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2004 Tentang
Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah
1
Ihromi, Penghapusan Diskriminasi Terhadap Tangga (selanjutnya ditulis UU
Wanita, Penerbit Alumni, Bandung, 2006, Hal. 34

ISSN : 2085-4757 42
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Penegakan Hukum Terhadap...(Endrawati) 41-51

Penghapusan KDRT). Hal ini didasarkan Kekerasan ekonomi dapat berupa


pada perkembangan dewasa ini yang kekerasan ekonomi berat dan kekerasan
menunjukkan bahwa tindak kekerasan ekonomi ringan. Kekerasan ekonomi berat,
secara fisik, psikis, seksual, dan yakni tindakan eksploitasi, manipulasi dan
penelantaran rumah tangga pada pengendalian lewat sarana ekonomi
kenyataannya terjadi sehingga dibutuhkan berupa: 2
perangkat hukum yang memadai untuk 1. Memaksa korban bekerja dengan cara
menghapus kekerasan dalam rumah eksploitatif termasuk pelacuran.
tangga. 2. Melarang korban bekerja tetapi
Pasal 1 UU Penghapusan KDRT menelantarkannya.
memberikan definisi mengenai Kekerasan 3. Mengambil tanpa sepengetahuan dan
Dalam Rumah Tangga yaitu : tanpa persetujuan korban, merampas
Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan atau memanipulasi harta benda
adalah setiap perbuatan terhadap korban.
seseorang terutama perempuan yang Kekerasan ekonomi ringan, berupa
berakibat timbulnya kesengsaraan melakukan upaya-upaya sengaja yang
atau penderitaan secara fisik, menjadikan korban tergantung atau tidak
seksual, psikologis, dan/atau berdaya secara ekonomi atau tidak
penelantaran rumah tangga termasuk terpenuhi kebutuhan dasarnya. Setiap
ancaman untuk melakukan orang dilarang menelantarkan orang dalam
perbuatan, pemaksaan, atau lingkup rumah tangganya, padahal
perampasan kemerdekaan secara menurut hukum yang berlaku baginya atau
melawan hukum dalam lingkup karena persetujuan atau perjanjian ia wajib
rumah tangga. memberikan kehidupan, perawatan atau
pemeliharaan kepada orang tersebut.
Salah satu bentuk dari kekerasan Contoh dari kekerasan jenis ini adalah
dalam rumah tangga adalah kekerasan tidak memberi nafkah istri, bahkan
ekonomi. Pasal 9 UU KDRT menyebutkan menghabiskan uang istri.3
bahwa :
(1) Setiap orang dilarang menelantarkan Penegakan Hukum Terhadap Pelaku
orang dalam lingkup rumah tangganya, Tindak Pidana Kekerasan Dalam
padahal menurut hukum yang berlaku Rumah Tangga Di Bidang Ekonomi
baginya atau karena peretujuan atau
perjanjian ia wajib memberikan Hukum berperan sebagai pelindung
kehidupan, prawatan, atau kepentingan manusia, agar kepentingan
pemeliharaan kepada orang terebut. manusia terlindungi, hukum harus
(2) Penelantaran sebagaimana dimaksud dilaksanakan, dimana pelaksanaan hukum
ayat (1) juga berlaku bagi setiap orang
yang mengakibatkan ketergantungan 2
https://id.wikipedia.org/wiki/Kekerasan
ekonomi dengan cara membatasi
_dalam_rumah_tangga diakses tanggal 20
dan/atau melarang untuk bekerja yang November 2015
layak di dalam atau di luar rumah 3
Didib, Kekerasan Dalam Rumah Tangga,
sehingga korban berada di bawah http://d2bnuhatama.blogspot.co.id/2011/08/makala
kendali orang tersebut. h-pancasila-kekerasan-dalam-rumah.html diakses
tanggal 21 November 2015

ISSN : 2085-4757 43
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Penegakan Hukum Terhadap...(Endrawati) 41-51

dapat berjalan secara normal, damai tetapi Pound menyebutnya sebagai perbedaan
dapat juga karena adanya pelanggaran antara law on books dan law in action. 5
hukum. Dalam hal ini hukum yang Bertitik tolak dari pengertian
dilanggar harus ditegakkan. Melalui penegakan hukum secara konsepsional
penegakan hukum inilah hukum menjadi seebagaimana dikemukakan Soerjono
kenyataan. Perlindungan mempunyai Soekanto, yang pada intinya terletak pada
makna adanya larangan bagi siapa saja kegiatan menyerasikan hubungan nilai
untuk mengambil atau menguasai hak yang dijabarkan dalam kaidah-kaidah yang
orang lain tanpa atas hak yang sah. mantap dan sikap tindak sebagai rangkaian
Soerjono Soekanto memberikan arti dari penjabaran nilai tahap akhir, untuk
penegakan hukum adalah dilihat dari menciptakan, memelihara dan
kegiatan penyerasian hubungan nilai-nilai mempertahankan kedamaian pergaulan
yang terjabarkan di dalam kaidah-kaidah hidup. 6
yang mantap dan sikap tindak sebagai Dalam proses reformasi, penegakan
rangkaian penjabaran nilai tahap akhir, hukum menjadi agenda utama, namun
untuk menciptakan, memelihara, dan kenyataannya penegakan hukum sampai
mempertahankan kedamaian pergaulan saaat ini masih lemah. Lemahnya
hidup.4 penegakan hukum menurut Khudzaifah
Salah satu tujuan yang akan dicapai Dimyati disebabkan oleh : (1) Karena
dalam penegakan hukum adalah kepastian hukum dipahami secara sempit yang pada
hukum. Kepastian hukum merupakan gilirannya cenderung formalistik, lambat
perlindungan hukum terhadap tindakan dan kekurangan kapasitas untuk
sewenang-wenang yang berarti bahwa beradaptasi dan mengantisipasi
seseorang akan dapat memperoleh suatu perkembangan aspek kehidupan
yang diharapkan dalam keadaan tertentu. masyarakat yang kompleks dan agresif; (2)
Masyarakat mengharapkan adanya proses penerapan hukum yang menganut
kepastian hukum dalam penegakan hukum, paham hukum positif telah
karena dengan adanya kepastian hukum mengesampingkan rasa keadilan
masyarakat akan lebih tertib. Namun yang masyarakat. 7
lebih penting lagi selain mencapai Perceraian sangat identik dengan
kepastian hukum adalah memberikan rasa penelantaran, namun tidak berarti keluarga
keadilan. Masalah penegakan hukum pada yang masih utuh tidak bisa melakukan
dasarnya merupakan kesenjangan antara penelantaran, banyak kasus di masyarakat
hukum secara normatif (das sollen) dan terjadi penelantaran dalam keluarga yang
hukum secara sosiologi (das sein) atau utuh akibat orang tua tidak bertanggung
kesenjangan antara perilaku hukum jawab. Desember tahun 2009 terungkap
masyarakat yang seharusnya dengan kasus penelantaran anak di Tangerang.
perilaku masyarakat yang senyatanya.
5
Satjipto Rahardjo, Hukum dan Perubahan
Sosial, Penerbit Angkasa Bandung, 1998, Hal. 71
6
Soerjono Sokanto, Op.Cit., Hal. 3
7
Khudzaifah Dimyati, Teorisasi Hukum Studi
4
Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor Yang Tentang Pemikiran Hukum di Indonesia 1945-
Mempengaruhi Penegakan Hukum, PT. Rajawali 1990, Universitas Muhamadyah, Surakarta, 2004,
Pers, Jakarta, 1993, Hal. 4 Hal. 95

ISSN : 2085-4757 44
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Penegakan Hukum Terhadap...(Endrawati) 41-51

latar belakang kasusnya hampir sama, sebagai kekerasan ekonomi. Undang-


persoalan ekonomi.8 Undang Penghapusan Kekerasan Dalam
Penelantaran juga dapat terjadi bila Rumah Tangga (KDRT) tidak menyebut
orang tua tidak bertanggung jawab kepada kekerasan ekonomi namun Penelantaran
keluarga karena menjadi pemabok, penjudi Ekonomi. Menurut Pasal 9 UU No 23
dan mempunyai wanita lain, sehingga anak tahun 2004 tentang Penghapusan
dan isterinya ditelantarkan, padahal Kekerasan dalam Rumah Tangga
sebagai ayah dia berkewajiban menafkahi (PKDRT). Penelantaran ekonomi yaitu
keluarga. Menelantarkan rumah tangga perbuatan seseorang yang menurut hukum
termasuk tindakan yang tidak baik dan atau karena persetujuan atau perjanjian ia
tercela, dalam pandangan masyarakat wajib memberikan kehidupan, perawatan,
umum orang menelantarkan keluarga atau pemeliharaan kepada orang tersebut
dinilai telah melakukan tindakan tidak mengakibatkan ketergantungan ekonomi
terpuji dan secara sosial akan mendapatkan dengan cara membatasi dan/atau melarang
sanksi berupa cap tercela pada pelaku untuk bekerja yang layak di dalam atau di
penelantaran. Dalam hukum positif, luar rumah sehingga korban berada di
penelantaran dalam rumah tangga dapat bawah kendali orang tersebut. Sebenarnya,
digolongkan sebagai tindakan kekerasan kekerasan ekonomi tidak hanya terbatas
dalam rumah tangga (domestic violence) pada penelantaran ekonomi semata.
dan merupakan strafbaar feit dengan Kekerasan ekonomi bisa terbagi dalam
pengertian perbuatan yang dilarang oleh kekerasan ekonomi berat dan ringan.
peraturan hukum pidana dan tentu saja Kekerasan ekonomi berat pada dasarnya
dikenakan sanksi pidana bagi siapa saja adalah tindakan yang mengekploitasi
yang melanggarnya. Berdasarkan hukum secara ekonomi, memanipulasi dan
positif, kategori peristiwa pidana ada yang mengendalikan korban lewat sarana
disebut komisionis, omisionis dan ekonomi. Beberapa bentuk kekerasan
komisionis peromisionim. Komisionis ekonomi adalah memaksa korban bekerja;
adalah terjadinya delik karena melanggar melarang korban bekerja namun tidak
larangan sedangkan omisionis adalah memenuhi haknya dan menelantarkannya;
terjadinya delik karena seseorang mengambil tanpa sepengetahuan dan tanpa
melalaikan suruhan/tidak berbuat, persetujuan korban, merampas dan atau
sedangkan komisionis peromisionim yaitu memanipulasi harta benda korban.
tindak pidana yang pada umumnya Kekerasan Ekonomi yang dikategorikan
dilaksanakan dengan perbuatan, namun ringan, yaitu tindakan yang berupa upaya-
mungkin terjadi tindakan tidak berbuat.9 upaya sengaja yang menjadikan korban
Selain kekerasan fisik, seksual, dan tergantung atau tidak berdaya secara
psikologis, persoalan penelantaran ekonomi atau tidak terpenuhi kebutuhan
ekonomi dalam rumah tangga telah diakui dasarnya. Dalam kehidupan masyarakat
seringkali kita jumpai perempuan yang
8 bekerja ketika menikah keluar dari
Kamal Muhtar, Asas-Asas Hukum Islam
Tentang Perkawinan, Bulan Bintang, Jakarta, 1993, pekerjaannya. Perempuan diharapkan lebih
Hal. 9 fokus mengurusi urusan rumah tangga,
9
Sr Sianturi, Tindak Pidana KUHP Berikut mempersiapkan kehamilan, kelahiran,
Uraiannya, PTHAM, Jakarta, 1983, Hal. 571 memberikan ASI hingga 2 tahun, dan

ISSN : 2085-4757 45
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Penegakan Hukum Terhadap...(Endrawati) 41-51

pengasuhan pertama bagi anak-anak. Ibu B terpaksa kerja serabutan untuk


Karena kondisi inilah, maka menjadi menutup kebutuhan rumah tangga. 11
alasan penting mengapa laki-laki Kasus ibu C tidak jauh berbeda
bertanggung jawab terhadap kehidupan dengan ibu A. Ibu C menikah dengan
dan keberlangsungan ekonomi keluarga. suami yang mempunyai pekerjaan baik
Banyak sekali perempuan yang dengan gaji cukup. Ibu C selalu mendapat
meninggalkan pekerjaan publiknya dan jatah uang bulanan dari suami. Namun
menyerahkan dirinya untuk keluarga. seiring berjalannya waktu ternyata jatah
Namun, ada banyak kasus suami yang uang bulanan berkurang bahkan akhirnya
seharusnya menjalankan tanggung sering tidak diberikan. Suami malah
jawabnya untuk memenuhi seluruh mempunyai WIL (wanita idaman lain) dan
kebutuhan keluarga, ternyata tidak tidak peduli terhadap anak dan istrinya.
dilakukan. Beberapa contoh kasus Terpaksa ibu C pontang panting memenuhi
misalnya Ibu A menikah dengan seorang kebutuhan sehari-hari, bahkan anak-
pejabat desa, tetapi untuk kebutuhan anaknya juga terpaksa putus sekolah dan
sehari-hari diberi uang yang sangat membantu mencari nafkah. Harta benda
terbatas. Pernah mengatakan kurang dan juga banyak diambil suami dan dijual
meminta tambahan untuk bisa membeli tanpa sepengetahuan ibu C, termasuk
kebutuhan sehari-hari namun malah barang-barang yang dibeli sendiri dari
dimarahi. Sejak saat itu ibu A tidak pernah hasil kerja keras ibu C. Suamipun pergi
meminta nafkah, hanya menerima bila meninggalkan keluarga, padahal ibu C
diberi. Meski istri pejabat desa namun ibu masih harus menutup pinjaman bank yang
A merasa tertekan karena benar-benar digunakan oleh suami karena
12
sangat tergantung secara ekonomi pada menggunakan namanya.
suami, sementara suami hanya Persoalan seperti ini banyak sekali
memberikan uang dengan sangat terbatas terjadi. Biasanya suami mempunyai uang
bahkan sebenarnya tidak cukup untuk namun hanya sebagian kecil yang
kebutuhan sehari-hari. 10 diberikan pada istri untuk menutup semua
Ibu B diberi semua sisa penghasilan kebutuhan keluarga. Sebagian masyarakat
suami yang setiap beberapa bulan pulang mengenal istilah duwit lanang, duwit
dari bekerja di luar kota, setelah dikurangi wedhok (uang laki-laki, uang perempuan)
dengan biaya hidup suami saat merantau. artinya uang yang diperuntukkan bagi
Namun, setiap akan kembali ke tempat dia suami dan uang bagian istri. Biasanya,
merantau, suami selalu meminta uang uang untuk suami adalah untuk pemenuhan
kepada istri dengan jumlah yang tidak jauh kebutuhan sekunder dan tertier, sedangkan
besarnya dengan saat memberikan. uang bagian istri untuk pemenuhan
Sementara ibu B harus menyediakan kebutuhan sehari-hari. Uang yang
semua kebutuhan suami yang bila dinilai diberikan kepada istri dengan jumlah
dengan uang jumlahnya juga tidak sedikit. terbatas memaksa istri untuk mengatur
dengan sangat cermat pengeluaran
10
Solider, Panduan Hukum: Memahami keluarga, dan seringkali mengorbankan
Kekerasan dan Penelantaran Ekonomi,
http://solider.or.id/2014/07/14/panduan-hukum-
11
memahami-kekerasan-dan-penelantaran-ekonomi Ibid.
12
diakses tanggal 18 Februari 2016 Ibid.

ISSN : 2085-4757 46
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Penegakan Hukum Terhadap...(Endrawati) 41-51

kebutuhan-kebutuhan pribadi. Hal PKDRT. Pasal tersebut menyebutkan


semacam ini biasanya tidak dianggap bahwa:
sebagai persoalan bila tidak dibarengi Dipidana dengan pidana penjara
dengan persoalan-persoalan lain seperti paling lama 3 tahun atau denda paling
perselingkuhan, kekerasan fisik atau banyak Rp. 15.000.000,00 (lima belas
berbagai bentuk kekerasan lainnya. juta rupiah), setiap orang yang:
Kasus lainnya, adalah suami yang 1. Menelantarkan orang lain dalam
tega menjual istrinya demi meraup rupiah. lingkup rumah tangganya sebagaimana
Seperti kisah ibu D dimana martabatnya dimaksud dalam pasal 9 ayat (1);
sebagai perempuan, istri, dan seorang ibu 2. Menelantarkan orang lain sebagaimana
ditukar televisi dan beberapa barang lain dimaksud pasal 9 ayat (2).
oleh suaminya. Ibu D yang tinggal di Namun sampai sekarang, kasus
sebuah desa pernah kaget bukan kepalang. penelantaran keluarga jarang sekali
Karena suami yang selama ini dipercaya dilaporkan dan dikenakan sanksi pidana
ternyata tega membawa ibu D kepada bagi pelakunya. Melihat fenomena seperti
mandor suaminya untuk disetubuhi. ini, tujuan utama penegakan hukum
Awalnya ibu D tidak tahu bahwa terhadap tindakan penelantaran yang
perkosaan yang dilakukan mandor terjadi dalam rumah tangga merupakan hal
suaminya tersebut atas rencana suami yang sangat penting. Upaya hukum secara
dengan perjanjian akan mendapatkan perdata dan pidana dapat dilakukan terkait
sejumlah uang. Ibu D hanya tahu suami dengan tindak penelantaran ini, secara
membeli beberapa perabot baru seperti perdata karena ada hak-hak keperdataan
televisi. Ternyata uang untuk membeli yang dilanggar, secara pidana karena telah
perabot tersebut dari si Mandor.13 terjadi tindak pidana berupa tindakan
Anak-anak juga tidak luput menjadi kekerasan dalam rumah tangga dalam
korban kekerasan ekonomi dari orang- wujud penelantaran. Dalam kasus
orang yang seharusnya bertanggung jawab kekerasan rumah tangga seperti tindakan
atas dirinya. Kasus penelantaran anak, penelantaran, memang yang paling rentan
pemaksaan anak-anak untuk bekerja, untuk menjadi korban adalah wanita/isteri
bahkan menjual anak dan menjual dan anak. Salah satu penyebabnya karena
kegadisan anak untuk mendapatkan berbagai keterbatasan natural yang dimiliki
sejumlah uang tertentu pernah terjadi. wanita/isteri serta anak dibandingkan kaum
Kekerasan ekonomi juga banyak terjadi pria, baik secara fisik maupun psikis. Hal
pada difabel. Banyak kasus difabel yang ini terbukti banyaknya gugatan perceraian
digunakan sebagai alat mencari belas yang diajukan kepada Pengadilan karena
kasihan. Difabel juga rentan mengalami faktor penelantaran oleh suami tersebut.
penelantaran ekonomi, tidak dirawat Artinya banyaknya kasus penelantaran
dengan baik sehingga asupan makannya yang dilakukan suami terhadap rumah
terbatas, bahkan ada yang dibiarkan saja tangganya. Adapun penelantaran yang
oleh keluarganya saat mengalami sakit. biasa dilakukan oleh suami terhadap rumah
Kekerasan ekonomi dalam rumah tangganya adalah suami pergi
tangga tercantum dalam pasal 49 UU meninggalkan isteri lebih dari dua tahun
berturut-turut tanpa kabar dan
13
pemberitahuan terlebih dahulu dan tidak
Ibid.

ISSN : 2085-4757 47
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Penegakan Hukum Terhadap...(Endrawati) 41-51

diketahui keberadaannya sehingga dengan setiap orang dilarang menelantarkan


kabur suaminya tersebut, perekonomian orang dalam lingkup rumah
rumah tangga menjadi goyang sehingga tangganya, padahal menurut hukum
isteri dan anak menjadi korbannya, apalagi yang berlaku baginya atau karena
kalau si isteri tersebut tidak bekerja. persetujuan atau perjanjian ia wajib
Kemudian penelantaran mengenai nafkah. memberikan kehidupan, perawatan,
Suami tidak mau memberikan nafkah lahir atau pemeliharan kepada orang
dan bathin terhadap isterinya baik karena tersebut.
faktor ekonomi maupun sang suami Berdasarkan bunyi pasal tersebut
memiliki tabiat yang burkt seperti suami jelas, bahwa yang dimaksud dengan
berselingkuh dengan wanita lain, pemabuk, penelantaran adalah setiap bentuk pelalaian
penjudi sehingga isteri dan anaknya kewajiban dan tanggung jawab seseorang
menjadi terlantar. Beberapa korban yang dalam rumah tangga yang menurut hukum
mengalami penelantaran dalam rumah seseorang itu telah ditetapkan sebagai
tangga ini kerap kali takut untuk pemegang tanggung jawab terhadap
melaporkan kejadian yang dialaminya, kehidupan orang yang berada dalam
terlebih wanita yang dikarenakan lingkungan keluarganya. Jadi konkretnya
mendapat tekanan atau ancaman dari pihak penelantaran rumah tangga yang dimaksud
laki-laki, namun sekarang bukanlah disini adalah penelantaran yang dilakukan
saatnya wanita harus diam setiap misalnya oleh orang tua terhadap anak.
mengalami penelantaran dalam rumah namun penelantaran yang dimaksudkan
tangga. Kondisi tersebut diperburuk oleh pasal tersebut tidak hanya sebatas
dengan persepsi sebagian masyarakat. keluarga inti, berdasarkan pasal 2 di atas,
Bahwa peristiwa kekerasan dalam rumah juga dapat disebut melakukan penelantaran
tangga, baik kekerasan fisik maupun bila menelantarkan keluarga lain yang
penelantaran masih dianggap persoalan tinggal bersamanya dan menggantungkan
dalam ranah domestik, yang tidak perlu kehidupannya kepada kepala rumah
orang luar mengetahui dan tangga.14
penyelesaiannya cukup diselesaikan secara Sebutan tindakan penelantaran tidak
internal kekeluargaan. Dengan keluarnya hanya berlaku saat masih menjadi
Undang-Undang No 23 Tahun 2002 pasangan utuh dalam rumah tangga,
tentang Perlindungan Anak, Undang- penelantaran pun dapat terjadi pada
Undang No 23 Tahun 2004 tentang pasangan suami isteri yang telah bercerai,
Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah ayah sebagaimana dalam Undang-Undang
Tangga, bukan lagi persoalan pribadi, ditunjuk sebagai yang menanggung biaya
internal keluarga, yang penyelesaiaannya anak bila mampu. Dikatakan melakukan
cukup secara kekeluargaan, namun
domestic violence telah merangkap ranah
pidana. 14
Ahmad Syahrus, Kasus Penelantaran Dalam
Penelantaran yang dimaksud di sini Rumah Tangga Perspektif Kriminologi,
adalah penelantaran menurut pasal 9 ayat Http://Ahmadsyahrussikti.Blogspot.Co.Id/2011/11/
(1) UU No 23 Tahun 2004 tentang Aspek-Kriminologi-Terhadap-Kasus_30.Html
Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah diakses tanggal 17 Februari 2016
Tangga yang berbunyi

ISSN : 2085-4757 48
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Penegakan Hukum Terhadap...(Endrawati) 41-51

tindakan penelantaran bila anak yang isteri itu hidup rukun, harmonis dan tidak
masih di bawah tanggung jawabnya tidak merugikan satu dengan yang lainnya16
diperhatikan hak-hak dan kepentingannya. Bahwa suatu perbuatan penelantaran
Tindak pidana penelantaran dalam rumah keluarga dapat dikategorikan sebuah tindak
tangga bila dikaitkan dengan ketiga pidana (delik) jika memang terbukti
kategori di atas, berdasarkan sifatnya, memenuhi unsur-unsur perbuatan pidana
penelantaran dapat digolongkan pada tersebut. Untuk meminimalisir kasus
kategori omisionis, karena memberikan penelantaran kelurarga perlu adanya upaya
kehidupan kepada orang-orang yang konkrit para penegak hukum dalam
berada di bawah kendalinya adalah menghadapi kasus yang berdampak
merupakan perintah Undang-Undang, sistemik ini yang memberikan efek negatif
sehingga bila ia tidak memberikan sumber kepada kondisi sosial masyarakat. Salah
kehidupan tersebut kepada orang-orang satu upaya yang harus dilakukan adalah
yang menjadi tanggungannya berarti ia merevisi ulang substansi dari sebuah
telah melalaikan suruhan. Mengingat hukum yang berlaku baik dalam bentuk
terjadinya tindakan penelantaran keluarga peraturan perundang-undangan atau yang
khususnya anak dalam masyarakat, maka lainnya, yang pada dasarnya memberikan
fenomena tersebut perlu mendapatkan efek jera terhadap para pelanggar tersebut.
perhatian serius dari pihak terkait yang Selain itu, dibutuhkan para penegak
memerlukan peningkatan dalam penegakan hukum yakni polisi, jaksa, hakim dalam
hukum. Para pihak yang dirugikan dapat menyelesaikan kasus penelantaran
melaporkan tindakan penelantaran ini keluarga, serta adanya pembinaaan dan
kepada pihak kepolisian. dari beberapa bimbingan terhadap pola perilaku
pasal dalam Undang-Undang No 23 Tahun masyarakat yang harus diberitahukan
2004 yang memberikan ancaman pidana tentang hukum positif itu sendiri.
hanya beberapa saja yang merupakan delik
aduan, sementara kebanyakan yang lainnya KESIMPULAN
adalah delik biasa, disini kemudian
dituntut peran aktif dari penegak hukum, Penegakan hukum terhadap perlaku
khususnya aparat kepolisian untuk proaktif tindak pidana kekerasan dalam rumah
dalam menangani kasus kekerasan dalam tangga di bidang ekonomi masih belum
rumah tangga ini.15 maksimal. Sanksi terhadap Kekerasan
Tujuan lahirnya Undang-Undang No ekonomi dalam rumah tangga tercantum
23 tahun 2004 adalah untuk mengatur dalam Pasal 49 UU PKDRT. Pasal tersebut
tindakantindakan kekerasan dalam rumah menyebutkan bahwa:Dipidana dengan
tangga sehingga dapat diminimalisir pidana penjara paling lama 3 tahun atau
dengan cara diberikan sanksi bagi pihak denda paling banyak Rp. 15.000.000,00
yang melakukannya. Undang-Undang (lima belas juta rupiah), setiap orang yang:
tersebut mengatur agar pasangan suami Menelantarkan orang lain dalam lingkup
rumah tangganya sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 ayat (1); Menelantarkan
16
Bernard L Tanya, Teori Hukum Strategi
Tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi, Genta,
15
Ibid. Yogyakarta, 1983, Hal. 171

ISSN : 2085-4757 49
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Penegakan Hukum Terhadap...(Endrawati) 41-51

orang lain sebagaimana dimaksud Pasal 9 DAFTAR RUJUKAN


ayat (2). Namun sampai sekarang, kasus
kekerasan dalam rumah tangga di bidang Badriyah Khaleed, Penyelesaian Hukum
ekonomi jarang sekali dilaporkan dan KDRT Penghapusan Kekerasan
dikenakan sanksi pidana bagi pelakunya. Dalam Rumah Tangga dan Upaya
Melihat fenomena seperti ini, tujuan utama Pemulihan, Pustaka Yustisia,
penegakan hukum terhadap tindak pidana Yogyakarta, 2015
kekerasan dalam rumah tangga di bidang
ekonomi merupakan hal yang sangat Bernard L Tanya, Teori Hukum Strategi
penting. Perlindungan hukum terhadap Tertib Manusia Lintas Ruang dan
korban tindak pidana kekerasan dalam Generasi, Genta Publishing,
rumah tangga di bidang ekonomi masih Yogyakarta, 1983
perlu ditingkatkan. Dalam kasus kekerasan
rumah tangga seperti tindakan Hamidah Abdurrachman, Perlindungan
penelantaran, memang yang paling rentan Hukum Terhadap Korban
untuk menjadi korban adalah wanita/isteri Kekerasan Dalam Rumah Tangga
dan anak. Salah satu penyebabnya karena Dalam Putusan Pengadilan Negeri
berbagai keterbatasan natural yang dimiliki Sebagai Implementasi Hak-Hak
wanita/isteri serta anak dibandingkan kaum Korban, Jurnal Hukum Volume 17
pria, baik secara fisik maupun psikis. No. 3 Juli 2000
Beberapa korban yang mengalami
penelantaran dalam rumah tangga ini kerap Ihromi, Penghapusan Diskriminasi
kali takut untuk melaporkan kejadian yang Terhadap Wanita, Penerbit
dialaminya, terlebih wanita yang Alumni, Bandung, 2006
dikarenakan mendapat tekanan atau
Mitra Perempuan, Catatan Kekerasan
ancaman dari pihak laki-laki. Kondisi
Terhadap Perempuan dan Layanan
tersebut diperburuk dengan persepsi
Womens Crisis Centre: Laporan
sebagian masyarakat. Bahwa peristiwa
2007, Penerbit Mitra perempuan
kekerasan dalam rumah tangga, baik
dan Layanan Womens Crisis
kekerasan fisik maupun penelantaran
Cebtre, Jakarta, 2007.
masih dianggap persoalan dalam ranah
domestik, yang tidak perlu orang luar Moerti Hadiati Soeroso, Kekerasan Dalam
mengetahui dan penyelesaiannya cukup Rumah Tangga Dalam perspektif
diselesaikan secara internal kekeluargaan. Yuridis-Viktimologis, Sinar Gra-
Perlindungan hukum terhadap korban fika, Jakarta, 2010.
dilakukan oleh pihak kepolisian, pihak
avokat, perlindungan dengan penetapan Sianturi, Sr, Tindak Pidana KUHP berikut
pengadilan dikeluarkan dalam bentuk uraiannya,: PTHAM, Jakarta, 1983
perintah perlindungan yang diberikan
selama 1 tahun dan dapat diperpanjang. Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Penegakan Hukum,
PT. Rajawali Pers, Jakarta, 1993.

ISSN : 2085-4757 50
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Penegakan Hukum Terhadap...(Endrawati) 41-51

Peraturan Perundang-undangan

Undang-Undang Dasar Negara Republik


Indonesia Tahun 1945.

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Kitab Undang-Undang Hukum Acara


Pidana.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004


Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam
Rumah Tangga

Internet

Ahmad Syahrus, Kasus Penelantaran


Dalam Rumah Tangga Perspektif
Kriminologi,
Http://Ahmadsyahrussikti.Blogspot.Co.Id/
2011/11/Aspek-Kriminologi-Terhadap-
Kasus_30.Html diakses tanggal 17
Februari 2016

https://id.wikipedia.org/wiki/Kekerasan_da
lam_rumah_tangga diakses tanggal 20
November 2015

Didib, Kekerasan Dalam Rumah Tangga,


http://d2bnuhatama.blogspot.co.id/2011/08
/makalah-pancasila-kekerasan-dalam-
rumah.html diakses tanggal 21 November
2015

Solider, Panduan Hukum: Memahami


Kekerasan dan Penelantaran Ekonomi,
http://solider.or.id/2014/07/14/panduan-
hukum-memahami-kekerasan-dan-
penelantaran-ekonomi diakses tanggal 18
Februari 2016

ISSN : 2085-4757 51