Anda di halaman 1dari 7

Permasalahan

Viktimologi Dewasa ini


Oleh :
I Wayan Puspa

6/6/16

Latar Belakang
Masalah
:
Viktimologi (victima : korban,

logos :
ilmu). Suatu studi yang mempelajari
tentang korban, penyebab timbulnya
korban, akibat-akibat penimbulan korban
yang
merupakan
masalah
manusia
sebagai suatu kenyataan sosial.
Korban dalam lingkup viktimologi :
individu yang secara nyata menderita
kerugian; kelompok; korporasi, swasta,
maupun pemerintah).
Akibat
penimbulan
korban
:
korban dan/atau
pihak
6/6/16 sikap/tindakan
2

Perlindungan saksi dan korban merupakan


komitmen dari Lembaga Perlindungan Saksi dan
Korban (LPSK), yang bertujuan melindungi warga
negara Indonesia dari tekanan fisik maupun
psikis dari pelaku kejahatan maupun
para
penyalahguna kekuasaan negara.
Perlindungan saksi dan korban merupakan salah
satu subsistem Sistem Hukum Pidana.
Penanganan masalah pidana menurut sistem
hukum pidana sesuai KUHAP meliputi subsistem
penyidikan,
penuntutan,
dan
subsistem
pengadilan.
Substansi suatu peristiwa pidana secara materiil
lebih banyak ditentukan oleh peranan saksi dan
dalam hal pembuktian suatu
tindak
6/6/16korban,
3
pidana.

Perlindungan terhadap saksi dan korban


meliputi perlindungan secara fisik dan psikis.
Norma perlindungan terhadap saksi dan
korban diukur dari tingkat ancaman selain
terhadap para pihak pelapor juga kepada
pejabat penegak hukum. Maupun para
wartawan media cetak maupun elektronik.
Terhadap jenis tindak pidana yang bersifat
ordinary crime memang pantas diberikan
perlindungan,
namun
tidak
menutup
kemungkinan terhadap jenis-jenis tindak
pidana lainnya, kadang-kadang ada unsur
tekanan fisik maupun psikis.
6/6/16
4

Sistem peradilan pidana dianggap terlalu


banyak memberikan perhatian kepada
permasalahan dan peranan
pelaku
kejahatan, hanya beberapa pasal di dalam
KUHAP yang mencerminkan perlindungan
terhadap korban ( Pasal 80, 108 ayat (1),
Pasal 133 ayat (1), Pasal 134 ayat (1), Pasal
ayat (1b), Pasal 98 ayat (1), Pasal 99 ayat
(1), ayat (2) dan ayat (3); Pasal 100 ayat
(1), ayat (2) ; Pasal 101 KUHAP.
Pasal 98-101 KUHAP adalah pasal-pasal
yang berkaitan dengan hak korban dalam
menuntut ganti kerugian.
6/6/16
5
Prinsip dasar tentang perlindungan
korban,

Selanjutnya prinsip dasar tentang korban


kejahatan dan penyalahgunaan kekuasaan
diadopsi oleh PBB
pada tanggal 11
Desember 1985 dalam suatu deklarasi yang
dinamakan Declaration of Basic Principles of
Justice for Victim of Crime and Abuse of
Power.
LPSK sebagai lembaga negara dibentuk
berdasarkan UU Nomor 13 Tahun 2006
tentang Perlindungan Saksi dan Korban,
selanjutnya dengan PP Nomor 44 Tahun
2008
tentang
Pemberian
Kompensasi,
Restitusi dan Bantuan kepada6 Saksi dan
6/6/16
Korban.

Keberadaan UU Nomor 13 Tahun 2006


tidak terlepas dari keinginan untuk
melengkapi pranata prosedural dalam
proses peradilan pidana agar dalam sistem
peridadilan pidana terdapat mekanisme
perlindungan terhadap saksi dan korban,
sehingga diharapkan Sistem Peradilan
Pidana di Indonesia menjadi sebuah sistem
yang tidak saja berorientasi kepada pelaku
tetapi juga berorientasi kepada pihak saksi
dan korban.
6/6/16