Anda di halaman 1dari 10

Kepemimpinan

Dalam
Pandangan
Melayu

Kepemimpinan
Dalam Pandangan
Melayu
kepemimpinan dalam pandangan

budaya melayu dan peradaban melayu dapat


dilihat dari berbagai segi sumber,
diantaranya :
Sumber
Tertulis

Sumber
Lisan
Sumber
Aktual

sebelum datangnya pengaruh agama terhadap


perkembangan budaya melayu diantaranya:
Hindu
Budha
Islam
Nasrani

kebudayaan melayu memiliki pandangan tersendiri


terhadap pemimpin, dimana mengandung makna
mitologis dan kosmologis. Artinya pemimpin adalah
orang besar dan agung yang turun ke bumi untuk
melaksanakan tugasnya yakni memimpin penduduk
yang di temuinya.

Kepemimpinan melayu
ketika menganut konsep
agama

1) Konsep Hindu

Masyarakat harus tunduk kepada para


dewa
Dewa merupakan lambang kekuasaan
Masyarakat di bedakan atas kasta.
Kasta Brahmana
Kasta Ksatria
Kasta Waisya
Kasta Sudra
Menganut konsep kepemimpinan berajaraja (aristokrasi)

2) Konsep Budha
Masyarakat tidak mengenal kasta
Status seseorang ditentukan oleh
kemampuannya melaksanakan ajaran dan
menghentikan minimal 5 larangan:

Membunuh
Mencuri
Mempermainkan perempuan
Meminum minuman keras
Berjudi

Keputusan mengenai suatu hal atau


permasalahan akan di ambil atas dasar
kesepakatan bersama

3) Konsep Islam
Al-Quran menyatakan bahwa manusia di utus untuk
dijadikan khalifah (pemimpin)
Ketentuan dan keputusan didasarkan pada ajaran
Islam
Hukum yang dianut yaitu hukum syarak. adat
bersendi
syarak, syarak bersendi kitabullah
Masyarakat melayu memiliki pandangan bahwa
manusia adalah makhluk Allah (ciptaan Allah)
Hal tersebut dimuat dalam gurindam XII karangan
Raja Ali Haji diantaranya dikatakan:
Barang siapa mengenal yang empat
Maka dia itulah orang yang makrifat

Barang siapa mengenal yang empat


Maka dia itulah orang yang makrifat
Yang empat dimaksud dalam kalimat ini adalah:
1)Allah 2)Diri 3)Dunia
4) akhirat
Menurut ketentuan melayu yang bersendikan syarak
itu dikenal ungkapan:

Adat berwaris
pada Nabi
Berkhalifah
kepada Adam
Adat berinduk ke
Ulama
Adat tersurat
dalam kertas
Adat tersirat
dalam sunnah
Adat di kungkung
kitabullah

Pandangan melayu
terhadap kepemimpinan
Pandangan melayu mengenai
kepemimpinan dikenal dengan kepemimpinan
kolektif seperti adanya filsafat, Tali Tiga
Sepilin atau Tali Berpilin Tiga. Maksudnya
bahwa detelah negeri ini tidak beraja, maka
masyarakatnya mengandalkan kepada peranan
tiga komponen pemimpin, yaitu ulama, umara,
dan pemangku adat. Dimana keputusan di ambil
berdasarkan hasil musyawarah untuk mufakat.

Peranan ketiga komponen pemimpin


tersebut hanya sebagai pemimpin informal
dimana tidak dapat mengambil keputusan
secara sepihak. Sejak reformasi hingga
sekarang dan ditetapkannya UU tentang
pemerintahan daerah (otonomi) barulah
disinggung mengenai peranan pemuka adat.
Hubungan antara pemimpin dengan
umatnya di ibaratkan bagaikan, aur dengan
tebing, kuku dengan isi, dan mata putih
dengan mata hitam

Dalam kebudayaan melayu, pemimpin ialah,


Yang diberikan
kepercayaan
Yang diberikan
kekuasaan
Yang diberikan beban
berat
Yang diberikan
tanggung jawab
Yang diikat janji dan
sumpah
Yang disimpai petuah
amanah