Anda di halaman 1dari 33

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3388/1/penydalam-umar4.

pdf

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3388/1/penydalam-umar4.pdf

Jenis-jenis diare dan tandatandanya yaitu:


Diare cair akut: diare lebih dari 3 kali perhari
dan berlangsung kurang dari 14 hari.
Kolera: diare dimana tinja yang keluar seperti
air cucian beras, jumlah banyak dan sering
serta cepat menimbulkan dehidrasi berat.
Disentri: diare disertai darah dan atau lendir.
Diare persisten: diare yang berlangsung lebih
dari 14 hari.
Diare dengan gizi buruk: diare jenis apapun
yang disertaikeadaan gizi buruk.
Diare terkait antibiotik: diare yang
berhubungan/disebabkan oleh pemberian
antibiotik oral spektrum luas.

dr. Awi Muliadi Wijaya, MKM Penanganan Diare pada Bayi dan Anak Balita di
Tingkat Rumah Tangga 2009 by infodokterku.com

Bencana adalah terjemahan dari kata disaster


(dsastre).
Disaster (dsastre) punya arti : Peredaran bintang
yang sedang tidak beres. Ini berakibat bencana di
bumi.

Gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, badai, konflik, adalah


contoh kejadian yang menjadi sumber bahaya (hazard), yang
memungkinkan timbulnya kerugian.
Kelemahan (Vulnerability) adalah kondisi-kondisi akibat faktor
fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan yang meningkatkan kepekaan
suatu masyarakat untuk mengalami efek buruk dari bahaya.
Risiko (risk) adalah besar kemungkinan konsekuensi buruk
(kesehatan dan ekonomi) akibat interaksi antara bahaya dan
kelemahan
Risk = (Hazards x Vulnerability)/Capacity
Bencana (disaster) adalah tiap kejadian bahaya yang
mengakibatkan kerusakan, gangguan ekonomi, kematian atau
penurunan kondisi kesehatan dan pelayanan kesehatan sedemikian
rupa hingga memerlukan tanggapan luarbiasa dari pihak di luar
wilayah atau penduduk yang sedang manyandangnya (WHO).
Kegawatdaruratan (emergency) adalah kejadian tak terduga
atau memerlukan tindakan segera. Bencana acap menimbulkan
situasi kegawatdaruratan ini.
Bencana adalah interaksi antara bahaya dan penduduk.

APA AKIBAT BENCANA?


Fungsi normal dan kehidupan masyarakat terganggu
Bencana melampaui kemampuan mekanisme masyarakat
untuk mengatasinya
Gangguan yang diakibatkan bencana menyebabkan
pulihnya kemampuan
untuk berfungsi normal memerlukan perbantuan dari luar.

Kematian dan kecacatan (akibat langsung maupun tak langsung)


Kerugian infrastruktur dan bekalan (akibat langsung)
Kerugian atau terganggunya penyampaian pelayanan
kesehatan baik
rehabilitatif, kuratif, penemuan kasus, protektif maupun
promotif (akibat
tak langsung)

Sistem Penanggulangan Gawa


Darurat Terpadu
Tujuan :
Tercapainya pelayanan kesehatan
yang optimal, terarah dan terpadu
bagi setiap anggota masyarakat
yang berada dalam keadaan gawat
darurat.

Latar Belakang perlunya SPGDT


TRANSISI EPIDEMIOLOGI TRIPLE
BURDEN MASALAH KESEHATAN :
a. Old problem : Infeksi, gizi.
b. Re-emerging problem : malaria,
tbc, diare.
c. Emerging problem : jantungpembuluh, kanker, degeneratif,
keracunan, kecelakaan, napza,
HIV/AIDS, dll.

PENANGGULANGAN PENDERITA GAWAT DARURAT


(PPGD).
Tujuan :
1.Mencegah kematian dan cacad, hingga dapat hidup
dan berfungsi kembali dalam masyarakat
sebagaimana mestinya.
2.Merujuk melalui sistem rujukan untuk memperoleh
penanganan yang lebih memadai.
3.Menanggulangi korban bencana.
Prinsip mencegah kematian dan kecacadan :
1. Kecepatan menemukan penderita.
2. Kecepatan meminta pertolongan.
3. Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan :
a. Ditempat kejadian.
b. Dalam perjalanan kepuskesmas atau rumah-sakit.
c. Pertolongan dipuskesmas atau rumah-sakit.

Komponen Utama SPGDT


1.
2.
3.
4.
5.

SDM terlatih
Sistem komunikasi
Sistem transp/ambuln
Sistem pendanaan
Sistem kerjasama :
Masyarakat / Polri
PMK / DLLAJR, dll

1.
2.
3.
4.

SDM TERLATIH :
Minimal pelatihan
penanggulangan pasien
GD
PPGD awam umum
PPGD awam khusus
PPGD Perawat
PPGD dokter umum

INDONESIA SEHAT 2010


1. Paradigma sehat : Dilaksanakan
seluruh lapisan secara serentak dan
bertanggung-jawab.
2.Profesionalisme : Bermutu, merata
dan terjangkau.
3.Jaminan pemeliharaan Kesmas :
Peran serta masyarakat.
4.Desentralisasi : Pendelegasian
wewenang pada Pemda.

1. Penanggulangan ditempat kejadian.


2. Transportasi kesarana kesehatan yang
lebih memadai.
3. Penyediaan sarana komunikasi.
4. Rujukan ilmu, pasien dan tenaga ahli.
5. Upaya PPGD di tempat rujukan (UGD dan
ICU).
6. Upaya pembiayaan penderita.

PENANGGULANGAN
PENDERITA GAWAT DARURAT.

Komponen Pra Rumah Sakit (luar RS) :


1. Sub sistem ketenagaan (upaya
peningkatan pengetahuan dan
keterampilan orang awam dan
petugas kesehatan) :
a. Awam (biasa dan khusus).
b. Perawat / paramedis.
c. Medis / dokter umum.

2. Sub sistem transportasi (upaya pelayanan


transportasi penderita gawat darurat) :
a. Tujuan : memindahkan PGD dengan aman
tanpa memperbarat keadaan penderita
kesarana kesehatan yang memadai.
b.
Sarana
transportasi
:
kendaraan,
peralatan, SDM, obat dll.
c. Persaratan untuk transportasi : sebelum
diangkat, selama diperjalanan.
d. Jenis kendaraan pengangkut.
e. Jenis ambulans.

3. Sub sistem komunikasi (upaya


pelayanan komunikasi medik untuk
penanggulangan PGD) :
a. Komunikasi kesehatan.
b. Komunikasi medis.

4. Jenis komunikasi :
a. Tradisional.
b. Modern.

5. Sarana komunikasi :
a. Sentral komunikasi.
b. Jaringan komunikasi.

Komponen Intra Rumah Sakit


(dalam RS) :
gawat darurat (upaya
1. Sub sistem pelayanan
pelayanan PGD di UGD Rumah Sakit) :
Misi UGD : Secara pasti memberikan
perawatan yang berkualitas terhadap pasien
dengan cara penggunaan sistem yang
efektif serta menyeluruh dan terkoordinasi
dalam :
a. Perawatan pasien gawat darurat.
b. Pencegahan cedera.
c. Kesiagaan menghadapi bencana.

Menanggulangi pasien dengan cara aman dan


terpercaya:
a. Evaluasi pasien secara cepat dan tepat.
b. Resusitasi dan stabilisasi sesuai prioritas.
c. Menentukan apakah kebutuhan penderita
melebihi kemampuan fasilitas.
d. Mengatur sebaik mungkin rujukan antar RS
(apa,siapa, kapan, bagaimana).
e. Menjamin penanggulangan maksimum sudah
diberikan sesuai kebutuhan pasien.

Petugas medis harus mengetahui :


a. Konsep dan prinsip penilaian awal
serta penilaian setelah resusitasi.
b. Menentukan prioritas pengelolaan
penderita.
c. Memulai tindakan dalam periode
emas.
d. Pengelolaan ABCDE.

Unit Pelayanan Intensif :

Filosofi : Intensive Medical Care (IMC) mendapatkan


legitimasi bukan karena kompleksitas peralatan dan
pemantauan pasien, tapi karena pasien sakit kritis
selalu berakhir pada suatu final common pathway dari
kegagalan sistem organ, sehingga dibutuhkan bantuan
terhadap
organ
vital
baik
tersendiri
mauun
terkombinasi.
Aplikasi tidak terkoordinasi dari multi disipliner tidak
hanya merugikan pasien, tetapi personil perawat dan
tenaga profesi medis lainnya juga akan merasa sangat
sulit untuk bekerja dengan baik dalam suatu unit yang
tidak mempunyai arah dan filosofi yang tegas.

Komponen Pembiayaan (sub


sistem pembiayaan)
Sumber bisa berasal dari pemerintah
atau masyarakat :
a. Pemerintah pusat / daerah.
b. Jasa marga, askes, jasa raharja, astek.
c. DUKM.
d. Perusahaan berisiko terjadinya
kecelakaan.
Sanin, Syaiful. 2004. SPGDT Depkes R.I. Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu. BSB Sumbar.

Deferensial diagnosis
muntah
Pada dasarnya penyebab muntah
sangat banyak.
Klasifikasi muntah biasanya didasarkan
pada
1) lokus anatomi,
2) umur penderita,
3) Adanya gejala dan tanda asosiasi yang
lain.

Komplikasi Muntah
Komplikasi metabolik :
dehidrasi, alkalosis, kekacauan elektrolit, deplesi kalium,
natrium.
Dehidrasi terjadi sebagai akibat dari hilangnya cairan lewat
muntah atau masukan yang kurang oleh karena selalu
muntah.
Alkalosis sebagai akibat dari hilangnya asam lambung, hal ini
diperberat oleh masuknya ion hidrogen kedalam sel karena
defisiensi kalium dan berkurangnya natrium ekstraseluler.
Kalium dapat hilang bersama bahan muntahan dan
keluarnya lewat ginjal. Karena alkalosis kalium bersamasama bikarbonat keluar lewat ginjal.
Demikian juga natrium dapat hilang lewat muntah dan urine.
Dalam keadaan alkalosis yang berat PH urine dapat 7 atau 8,
kadar natrium dan kalium urine tinggi walaupun terjadi
deplesi Natrium dan Kalium.

Komplikasi nutrisi
Penurunan berat badan dan gangguan
pertumbuhan sebagai akibat dari muntah kronik,
hal ini perlu diperhatikan pada saat melakukan
terapi.
Mallory Weiss syndrome
Adalah laserasi linier pada mukosa perbatasan
esofagus dan lambung. Hal ini biasanya terjadi
pada muntah hebat berlangsung lama. Pada
pemeriksaan endoskopi akan ditemukan
kemerahan pada mukosa esofagus bagian bawah
daerah LES. Dalam waktu singkat akan sembuh.
Bila anemia terjadi oleh karena perdarahan yang
hebat perlu dilakukan transfusi darah.

Peptic esophagitis
Akibat refluk yang berkepanjangan
pada mutah kronik menyebabkan
iritasi mujkosa esofagus oleh asam
lambung, antasida atau histamin
receptor blocker dapat
menyembuhkan2,3,4.

Pengobatan
Pengobatan muntah ditujukan pada penyebab
spesifik muntah yang dapat diidentifikasi.
Penggunaan antiemetik pada bayi dan anak tanpa
mengetahui penyebab yang jelas tidak dianjurkan.
Kontraindikasi pada bayi dan anak dengan
gastroenteritis sekunder atau kelainan anatomis
gastrointestinal tract yang merupakan kasus
bedah misalnya, hiperthrophic pyoric stenosis
(HPS), appendiciyis, batu ginjal, obstruksi usus,
tekanan intrakranial yang meningkat.

Hanya pada keadaan tertentu antiemetik


dapat digunakan dan mungkin efektif,
misalnya pada mabuk (motion sickness),
nausea dan mutah pasca operasi,
khemoterapi kanker, cyclic vomiting,
gastroparesis, dan gangguan motilitas
gastrointestinal.
Obat-obatan antiemetik termasuk prokinetik,
metoklopramide, domperidome, cisapride,
dan bethanechol. Metoklopramide cukup
efektif, cisapride sebagai prokinetik
memberikan hasil yang baik, sebenarnya
komplikasi jarang terjadi.

Sudarmo, Subijanto Marto. Management of vomiting in infant and children


Divisi Gastroenterologi Laboratotrium Ilmu Kesehatan Anak .RSUD Dr.Soetomo/FK Unair

Mencegah dan
menanggulangi Dehidrasi
Adapun tujuan dari pada pemberian
cairan adalah :
1. Memperbaiki dinamika sirkulasi ( bila
ada syok ).
2. Mengganti defisit yang terjadi.
3. Rumatan ( maintenance ) untuk
mengganti kehilangan cairan dan
elektrolit yang sedang berlangsung
( ongoing losses ).

TERAPI
Langkah-langkah umum
Penilaian awal yang cepat diikuti dengan
pemeriksaan fisik yang lebih rinci.
Jalan napas, pernapasan, sirkulasi dan tulang
belakang dinilai dan distabilkan kalau perlu.
Oksigen dipasang pada semua pasien syok, dan
slang intravena (IV) berkaliber besar dipasang
(kecuali pada syok kardiogenik yang sangat
berbahaya bila diberi ekspansi volume besar).
Kateter urine dipasang dan keluaran urine
dipertahankan di atas 50 ml/jam pada orang
dewasa, 1 ml/kg/jam pada anak-anak, dan 2
ml/kg/jam pada bayidi bawah 1 tahun.

Modalitas terapi
Ekspansi volume (syok hipovolemik dan
distributif) (kadangkala digunakan dengan
sangat hati-hati pada syok kardiogenik
untuk meningkatkan preload. Sangat
membantu pada MI ventirkel kanan).
Vasokontriktor adrenergik- (syok
distributif)
Inotrop adrenergic-1 (syok kardiogenik)

Langkah-langkah khusus
Kendalikan perdarahan (syok hipovolemik)
Bidai fraktur (syok hipovolemik)
Dekompresi pneumothoraks dan tamponade
pericardium (syok obstruktif)
Heparin, activator plasminogen jaringan (t-PA),
dan pengangkatan embolus paru dengan
kateter atau pembedahan (syok obstruktif)
Langkah-langkah antialergi, difehidramin 50 mg
IV; epinefrin 0,3 mg subkutan (SK) atau IV
lambat syok distriburif anafilaktif
Antibiotic (syok distributive septic)