Anda di halaman 1dari 27

UTILITAS

PENYEDIAAN STEAM DALAM INDUSTRI KIMIA

Disusun Oleh:
Deta Annisa Lisnandar
Intadaroh Rahila Praptyana
Irma Meiditya
Prana Mahisa
Muhamad Wildan
Satria Mahardika Suryo P.

21030113130165
21030113130136
21030113130140
21030113120008
21030112130088

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
2015

PRAKATA
Dipanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
segala rahmat dan karunia-Nya sehingga tugas mata kuliah utilitas dengan judul Penyediaan
Steam Dalam Industri Kimia ini berhasil diselesaikan.
Dalam penyusunan tugas ini tidak terlepas dari bantuan pihak-pihak lain. Oleh
karena itu, dalam kesempatan ini diucapkan terima kasih kepada : Ir. Slamet Priyanto, M.S.
selaku dosen pengampu mata kuliah utilitas, Orang tua dan keluarga kami yang selalu
memberikan dukungan kepada kami, serta semua pihak yang telah membantu penyelesaian
tugas ini.
Akhirnya, disadari bahwa tugas ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu
diharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi sempurnanya tugas ini. Semoga
tugas ini dapat memberikan manfaat bagi peneliti dan para pembaca dalam pengembangan
ilmu pengetahuan.

Semarang, 12 November 2015

Penulis

ii

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Steam adalah bahasa teknis dari uap air, yaitu fase gas dari air yang
terbentuk ketika air mendidih. Untuk mengubah air dari fase liquid (cair)
menjadi fase gas (steam) diperlukan energi panas untuk menaikan temperature
air yang biasa disebut sebagai Sensible Heat. Pada tekanan atmosphere titik
didih air adalah 1000C (2120F) sedangkan apabila tekanan pada sistem dinaikan
maka energi panas yang diperlukan juga ikut naik. Sedangkan apabila ditinjau
secara molekuler adalah H2O yang mengalami pemanasan hingga titik didihnya
sehingga mengalami perubahan fase. Dengan meningkatnya suhu dan air mendekati
kondisi didihnya, beberapa molekul mendapatkan energi kinetik yang cukup untuk
mencapai kecepatan yang membuatnya sewaktu-waktu lepas dari cairan ke ruang
diatas permukaan, sebelum jatuh kembali ke cairan. Pemanasan lebih lanjut
menyebabkan eksitasi lebih besar dan sejumlah molekul dengan energi cukup untuk
meninggalkan cairan jadi meningkat. Dengan mempertimbangkan struktur molekul
cairan dan uap, masuk akal bahwa densitas steam lebih kecil dari air, sebab molekul
steam terpisah jauh satu dengan yang lainnya. Ruang yang secara tiba-tiba terjadi
diatas permukaan air menjadi terisi dengan molekul steam yang kurang padat
(UNEP, 2006).
Air memiliki panas kondensasi yang besar sekali sehingga sangat
menguntungkan jika digunakan sebagai media pemanas, tidak mudah terbakar, dan
tidak beracun. Steam dapat mengakibatkan luka bakar yang parah terutama bila
seluruh panas kondensasi dibebaskan di atas kulit. Oleh karena itu, saluran-saluran
yang dialiri steam tidak boleh dimanipulasi sebelum saluran dibebaskan dari
tekanan dan didinginkan.
Steam yang umum dijumpai dalam industri kimia dibedakan menjadi 2 jenis.
Yang pertama adalah saturated steam yang terbentuk ketika air diberi panas sensible
hingga mencapai titik didih. Ketika titik didih air tercapai, suhu air akan terus
meningkat dan mencapai titik konstan hingga semua air berubah fase menjadi uap.
Selama masih terdapat air dalam fase cair dalam sistem, suhu steam akan sama
dengan suhu air dalam fase cair tersebut. Yang kedua adalah superheated steam,
dimana ketika seluruh air berubah fase menjadi uap, terdapat penambahan kalor
3

yang dapat meningkatkan suhu steam tersebut. Dengan kata lain, steam yang
dipanaskan melebihi tingkatan saturated steam disebut dengan superheated steam.
Saturated steam lebih banyak digunakan dalam industri sebagai media pemanas,
memasak, pengeringan, dan lain sebagainya. Sedangkan superheated steam hanya
digunakan sebagai penggerak turbin.
Steam dihasilkan oleh pembangkit steam di dalam ketel uap/steam dengan
mengunakan bahan bakar batu bara, minyak pemanas, atau listrik. Steam ini dibuat
dari air yang telah dihilangkan seluruh garam- garam dan gasnya (air umpan ketel).
Di sini terbentuk steam pada temperatur yang sesuai dengan tekanan di dalam ketel.
Steam yang terbentuk dipanaskan kembali oleh gas buang sehingga kehilangan
panas pada saat transportasi ke tempat pemakaian tidak segera menyebabkan
terjadinya kondensasi. Setelah tekanan tinggi direduksi di dalam turbin uap, dan air
diinjeksikan ke dalam steam berkalor lebih, steam tersebut kemudian dialirkan ke
konsumen melalui saluran-saluran yang terisolasi dengan baik. Di tempat
pemakaian, yang dibutuhkan terutama ialah panas kondensasinya. Karena steam
tidak dapat disimpan, maka kelebihan steam akan diubah menjadi air panas atau air
hangat.
Media pemanas berupa steam sering digunakan dikarenakan dapat diatur
dengan mudah. Pemanasan dapat dilakukan dengan mengalirkan steam langsung ke
bahan yang akan dipanaskan. Temperatur pemanasan maksimal yang dapat dicapai
pada peralatan yang menggunakan ventilasi adalah 100 oC. Cara ini hanya dapat
digunakan bila air maupun penambahan volume tidak mengganggu sistem.
Panggunaan steam dapat dilakukan secara tidak langsung, misalnya dalam alat
penukar panas. Temperatur yang dapat dicapai secara teoritis sama dengan
temperatur kondensasi steam.
Menurut United National Environment 2006, steam memberikan suatu cara
pemindahan sejumlah energi yang terkendali dari suatu pusat, ruang boiler yang
otomatis, dimana energi dapat dihasilkan secara efisien dan ekonomis, sampai ke
titik penggunaan. Steam yang bergerak mengelilingi pabrik dianggap sama dengan
transportasi dan penyediaan energi. Untuk beberapa alasan, steam merupakan
komoditas yang paling banyak digunakan untuk membawa energi panas.
Penggunaannya terkenal diseluruh industri untuk pekerjaan yang luas dari produksi
daya mekanis sampai penggunaan proses dan pemanasan ruangan. Alasan dari
penggunaan steam adalah: (UNEP, 2006)
4

A. Steam efisien dan ekonomis untuk dihasilkan


B. Steam dapat dengan mudah dan murah untuk didistribusikan ke
titik penggunaan
C. Steam mudah dikendalikan
D. Energinya mudah ditransfer ke proses
E. Plant steam yang modern mudah untuk dikendalikan
F. Steam bersifat fleksibel
I.2. Rumusan Masalah

Bagaimana proses pembentukan steam

Apa saja faktor faktor yang mempengaruhi kualitas steam

Apa saja kegunaan steam dalam pabrik

Bagaimana merancang steam dalam industri

I.3. Tujuan

Mengetahui proses pembetukan steam

Mengetahui factor factor yang mempengaruhi kualitas steam

Mengetahui kegunaan dan manfaat steam dalam pabrik

Mempelajari proses perancangan steam

BAB II
PERMASALAHAN

II.1. Steam
Steam berbahan dasar air (H2O) yang molekulnya tersusun dari hidrogen dan
oksigen. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan steam ialah suhu dan tekanan
dimana pada tekanan atmosfir suhu jenuhnya adalah 100C. Tetapi, jika tekanannya
bertambah, maka akan ada penambahan lebih banyak panas yang peningkatan suhu
tanpa perubahan fase. Oleh karena itu, kenaikan tekanan secara efektif akan
meningkatkan entalpi air dan suhu jenuh. Hubungan antara suhu jenuh dan tekanan
dikenal sebagai kurva steam jenuh (Gambar 1).

Gambar 2.1. Kurva Steam Jenuh (Sumber: UNEP, 2006)


Air dan steam dapat berada secara bersamaan pada berbagai tekanan pada kurva ini,
keduanya akan berada pada suhu jenuh. Steam pada kondisi diatas kurva jenuh dikenal
dengan superheated steam/ steam lewat jenuh:
Suhu diatas suhu jenuh disebut derajat steam lewat jenuh
Air pada kondisi dibawah kurva disebut air sub- jenuh.
Perubahan fase air menjadi steam ditunjukkan dalam diagram fase berikut ini:

Gambar 2.2. Diagram Fase Entalpi Suhu (Sumber: UNEP, 2006)

Ketika air dipanaskan dari 0C sampai suhu jenuhnya, kondisinya mengikuti


garis cair jenuh sampai menerima seluruh entalpi cairannya, hf, (A - B). Jika panas
ditambahkan lebih lanjut, maka akan merubah fase ke steam jenuh dan berlanjut
meningkakan entalpi sambil tetap pada suhu jenuhnya, hfg, (B - C). Jika campuran
steam/air meningkat kekeringannya, kondisinya bergerak dari garis cair jenuh ke garis
uap jenuh. Oleh karena itu pada titik tepat setengah diantara kedua keadaan tersebut,
fraksi kekeringan (x) nya sebesar 0,5. Hal yang sama, pada garis uap jenuh steamnya
100 persen kering. Begitu menerima seluruh entalpi penguapannya maka akan
mencapai garis uap jenuh. Jika pemanas dilanjutkan setelah titik ini, suhu steam akan
mulai naik mencapai lewat jenuh (C - D).
Garis-garis cairan jenuh dan uap jenuh menutup wilayah dimana terdapat
campuran steam/air steam basah. Dalam daerah sebelah kiri garis cair jenuh, hanya
terdapat air, dan pada daerah sebelah kanan garis uap jenuh hanya terdapat steam
lewat jenuh. Titik dimana garis cairan jenuh dan uap jenuh bertemu dikenal dengan
titik kritis. Jika tekanan naik menuju titik kritis maka entalpi penguapannya
berkurang, sampai menjadi nol pada titik kritisnya. Hal ini menunjukkan bahwa air
berubah langsung menjadi steam jenuh pada titik kritisnya. Di atas titik kritis hanya
gas yang mungkin ada. Keadaan gas merupakan keadaan yang paling terdifusi dimana
molekulnya hampir memiliki gerakan yang tidak dibatasi, dan volumnya meningkat
tanpa batas ketika tekanannya berkurang. Titik kritis merupakan suhu tertinggi dimana
bahan berada dalam bentuk cairan. Pemberian tekanan pada suhu konstan dibawah
titik kritis tidak akan mngakibatkan perubahan fase. Walau begitu, pemberian tekanan
pada suhu konstan dibawah titik kritis, akan mengakibatkan pencairan uap begitu
melintas dari daerah lewat jenuh/superheated ke daerah steam basah. Titik kritis
terjadi pada suhu
374,15C dan tekanan steam 221,2 bar. Diatas tekanan ini steam disebut superkritis
dan tidak ada titik didih yang dapat diterapkan.
II.2. Masalah-Masalah pada Boiler
Suatu boiler atau pembangkit uap yang dioperasikan tanpa kondisi air yang
baik, cepat atau lambat akan menimbulkan masalah-masalah yang berkaitan dengan
kinerja dan kualitas dari sistem pembangkit uap. Banyak masalah-masalah yang
ditimbulkan akibat dari kurangnya penanganan dan perhatian khusus terhadap
penggunaan air umpan boiler.

Akibat dari kurangnya penanganan terhadap air umpan boiler akan


menimbulkan masalah-masalah sebagai berikut:
1. Pembentukan Kerak
Terbentuk kerak pada dinding boiler terjadi akibat adanya
mineral-mineral pembentukan kerak, misalnya ion-ion kesadahan
seperti Ca2+ dan Mg2+ dan akibat pengaruh gas penguapan. Diamping
itu pula dapat disebabkan oleh mekanisme pemekatan didalam boiler
karena adanya pemanasan. Jenis-jenis kerak yang umum dalam boiler
adalah kalsium sulfat, senyawa silikat dan karbonat. Zat-zat dapat
membentuk kerak yang keras dan padat sehingga bila lama
penanganannya akan sulit sekali untuk dihilangkan. Silika diendapkan
bersama dengan kalsium dan magnesium sehingga membuat kerak
semakin keras dan semakin sulit untuk dihilangkan.
Kerak yang menyelimuti permukaan boiler berpengaruh
terhadap perpindahan panas permukaan dan menunjukkan dua akibat
utama yaitu berkurangnya panas yang dipindahkan dari dapur ke air
yang mengakibatkan meningkatkan temperatur disekitar dapur, dan
menurunnya efisiensi boiler
2. Peristiwa Korosi
Korosi dapat disebabkan oleh oksigen dan karbon dioksida yang
terdapat dalam uap yang terkondensasi. Korosi merupakan peristiwa
logam kembali kebentuk asalnya di alam misalnya besi menjadi oksida
besi, alumunium dan lain-lain. Peristiwa korosi dapat terjadi
disebabkan oleh:
- Gas-gas yang bersifat korosif seperti O2, CO2, H2S
- Kerak dan deposit
- Perbedaan logam (korosi galvanis)
- pH yang terlalu rendah dan lain-lain
Jenis korosi yang dijumpai pada boiler dan sistem uap adalah
general corrosion, pitting (terbentuknya lubang) dan embrittlement
(peretakan baja). Adanya gas yang terlarut, oksigen dan karbon
dioksida pada air umpan boiler adalah penyebab utama general
corrosion dan pitting corrosion (tipe oksigen elektro kimia dan
diffrensial). Kelarutan gas-gas ini di dalam air umpan boiler menurun

jika suhu naik. Kebanyakan oksigen akan memisah pada ruang uap,
tetapi sejumlah kecil residu akan tertinggal dalam larutan atau
terperangkap pada kantong-kantong atau dibawah deposit, hal ini
dapat menyebabkan korosi pada logam-logam boiler. Karena itu
pentinguntuk melakukan proses deoksigenasi air boiler.
Jumlah rata-rata korosi atau serangan elektrokimia akan naik
jika nilai pH air menurun. Selain itu air umpan boiler akan
dikondisikan secara kimia mencapai nilai pH yang relatif tinggi.
Bentuk korosi yang tidak umum tetapi berbahaya adalah bentuk korosi
embrittlement atau keretakan inter kristalin pada baja yang terjadi jika
berada pada tekanan yang tinggi dan lingkungan kimia yang tidak
sesuai. Caustic embrittlement atau keratakan inter kristalin pada baja
yang terjadi jika berada pada tekanan yang tinggi dan lingkungan
kimia yang tidak sesuai. Caustic embrittlement terjadi pada sambungan
penyumbat

dan

memungkinkan

meluas

pada

perkembangan

ujung
suatu

tabung

lingkungan

dimana

celah

caustic

yang

terkonsentrasi.
3. Pembentukan Deposit
Deposit merupakan peristiwa penggumpalan zat dalam air
umpan boiler yang disebabkan oleh adanya zat padat tersuspensi
misalnya oksida besi, oksida tembaga dan lain-lain. Peristiwa ini dapat
juga disebabkan oleh kontaminsi uap dari produk hasil proses
produksi. Sumber deposit didalam air seperti garam-garam yang
terlarut dan zat- zat yang tersuspensi didalam air umpan boiler.
Pemanasan dan dengan adanya zat tersuspensi dalam air pada boiler
menyebabkan mengendapnya sejumlah muatan yang menurunkan daya
kelarutan, jika temperaturnya dinaikkan. Hal ini menjelaskan mengapa
kerak dan sludge (lumpur) terbentuk. Kerak merupakan bentuk
deposit-deposit yang tetap berada pada permukaan boiler sedangkan
sludge merupakan bentuk deposit-deposit yang tidak menetap atau
deposit lunak.
4. Terbawanya Uap (Steam Carryover)
Ketika air boiler mengandung garam terlarut dan zat tersuspensi
dengan konsentrasi yang tinggi, ada kecendrungan baginya untuk
7

membentuk busa secara berlebihan sehingga dapat menyebabkan


steam carryover zat-zat padat dan cairan pengotor kedalam uap.
Steam

carryover terjadi jika mineral-mineral dari boiler ikut keluar bersama


dengan uap ke alat-alat seperti superheater, turbin, dan lain-lain.
Kontaminasi-kontaminasi ini dapat diendapkan kembali pada sistem
uap atau zat-zat itu akan mengontaminasi proses atau material-material
yang diperlukan steam.

BAB III
PEMBAHASAN MASALAH

III.1. Boiler
Boiler merupakan bejana tertutup dimana panas pembakaran dialirkan ke air
sampai terbentuk air proses atau steam. Air adalah media yang berguna dan murah
untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Boiler mengubah energi-energi kimia
menjadi bentuk energi yang lain untuk menghasilkan kerja. Boiler dirancang untuk
melakukan atau memindahkan kalor dari suatu sumber pembakaran, yang biasanya
berupa pembakaran bahanbakar. Faktor yang mendasari pemilihan jenis boiler
adalah sebagai berikut:
a. Kapasitas yang digunakan
b. Kondisi uap yang dibutuhkan
c. Bahan bakar yang dibutuhkan
d. Konstruksi yang sederhana
III.1.1. Sumber Penyediaan Air Umpan Boiler
Air yang digunakan pada air umpan boiler diperoleh dari air sungai,
air waduk, sumur bor dan sumber mata air lainnya. Kualitas air tersebut
tidak sama walaupun menggunakan sumber air sejenis, hal ini dipengaruhi
oleh lingkungan asal air tersebut. Oleh karena itu untuk dapat digunakan
sebagai air umpan boiler maka air baku dari sumber air harus dilakukan
pengolahan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menghilangkan unsurunsur atau padatan yang terkandung didalam air baik dalam bentuk
tersuspensi, terlarut, ataupun koloid yang dapat menyebabkan terjadinya
kerak, korosi dan pembusaan dalam boiler. Disamping itu senyawa organik
dapat menyebabkan berbagai masalah dalam operasi boiler. Kualitas air
umpan boiler juga dipengaruhi oleh kondisi operasi boiler, dimana semakin
tinggi tekanan dan temperature operasi maka semakin murni kualitas air
umpan yang diperlukan. Batasan terhadap nilai parameter-parameter penting
untuk air umpan boiler, sering ditentukan oleh pihak pembuat alat, atau

dapat mengacu pada criteria dari badan-badan International seperti ASME


dan ABMA.

III.1.2. Uap (Steam)


Uap air adalah sejenis fluida yang merupakan fase gas dari air, bila
mengalami pemanasan sampai temperatur didih dibawah tekanan tertentu.
Uap air tidak berwarna, bahkan tidak terlihat bila dalam keadaan murni
kering. Uap air dipakai pertama sekali sebagai fluida kerja adalah oleh
James Watt yang terkenal sebagai penemu Mesin Uap Torak.
Uap air tidak mengikuti hukum-hukum gas sempurna, sampai dia
benar-benar kering (kadar uap 100%). Bila uap adi kering dipanaskan lebih
lanjut maka dia menjadi uap adi panas (panas lanjut) dan selanjutnya dapat
dianggap sebagai gas sempurna.
Uap air terbentuk dalam tiga jenis, yaitu:
1. Uap saturasi basah (X < 1)
2. Uap saturasi kering (X = 1)
3. Uap adi panas
Sebagaimana kita ketahui bahwa pada pemanasan air dan penguapan
berlangsung pada tekanan tetap. Begitu pula pada pemanasan lanjut uap
berlangsung pada tekanan tetap. Entropi uap pada tekanan tetap, terdiri dari:
1. Kenaikan entropi air selama pemanasannya dari titik lebur sampai ke
titik didih dibawah tekanan tertentu
2. Kenaikan entropi selama peristiwa penguapan
3. Kenaikan entropi selama pemanasan lanjut
Diagram entropi-temperatur (diagram T-S) sangat berguna untuk
menyelesaikan soal-soal ekspansi secara adiabatis. Absis dari diagram
menunjukkan entropi dari fluida (air atau uap), di atas titik air, sedang
ordinatnya menyatakan temperatur fluida. Dalam gambar grafik ABCD
menggambarkan pemanasan 1 kg air dari titik cair (0OC) sampai suhu adi
panas (tsup OC) pada tekanan tetap (constant). Grafik AB menggambarkan
pemanasan air sampai temperatur saturasi (tsup OC). Kenaikan entropi : Sw
kkal/kgOC diukur sepanjang garis AB(Effendi, 2013).

Gambar 3.1. Diagram Suhu-Entropi untuk Air dan Uap (Sumber:


Effendi, 2013)
III. 2. Proses Kerja Boiler
Prinsip kerja dari boiler (Saturated steam) bisa dilihat pada gambar di bawah ini.

Berikut adalah penjelasan kerja boiler ditiap bagiannya :

Economizer
Air Umpan setelah melalui proses pretreatment di softener atau air condensate
dipompakan ke economizer. Di economizer terjadi pemanasan awal secara
perlahan sebelum mencapai sistem berikutnya yang memanfaatkan panas buang di
chimney. Pemanasan awal dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi dari boiler.
Steam drum
Dari economizer, air kemudian disupply ke steam drum melalui pipa. Diawal
proses, saat steam (uap air) belum mencapai saturated steam, maka separator

(pemisah) didalam steam drum akan melakukan bypass dan membiarkan air turun
ke tahap selanjutnya.
Downcomer
Downcomer yang berbentuk pipa mengalirkan air ke bagian terbawah dari sistem
selanjutnya melalui lower connecting pipes.
Furnace
Selanjutnya air dari downcomer akan masuk ke furnace bagian paling bawah dan
ditampung didalam bottom header yang kemudian karena sistem pembakaran batu
bara, oil dan limestone didalam furnace, perlahan-lahan akan berubah bentuk
menjadi uap basah. Sesuai dengan sifatnya, uap akan merambat keatas dengan
sendirinya didalam tube (karena proses pemanasan yang konstan didalam boiler).
Uap air tersebut ditampung didalam upper header (outlet header) pada bagian atas
furnace. Disinilah terjadinya sistem konversi energy. Setelah itu uap akan kembali
disupply ke steam drum melalui upper connecting pipes, dan, kembali oleh
separatornya, uap tersebut disupply kembali dari steam drum menuju sistem
berikutnya.
Superheater
Disini terdapat beberapa kali backpass (umpan balik) steam dari low temperature
superheater ke medium temperature superheater lalu disupply ke steam drum, lalu
kembali ke high temperature superheater / final superheater. Di high / final
termperature superheater inilah proses terakhir steam setelah melalui pemanasan
berulang-ulang kali di dalam low dan medium superheater.
Main Steam Pipe
Inilah pipa terpenting dalam proses power plant, dikarenakan pipa ini yang
nantinya akan mensuplai superheated steam ke turbin. Material, kawat las dan test
nya pun (Non Destructive Test) tergolong istimewa karena membutuhkan
perlakuan khusus dan tim khusus untuk mengerjakannya. Disinilah temperatur
dan pressure tertinggi di boiler berada.

Selain itu boilerpun memilik 3 sistem, yaitu :

Sistem Air umpan


Air umpan adalah air yang disuplai ke boiler untuk dirubah menjadi steam.
Sedangkan sistem air umpan adalah sistem penyediaan air secara otomatis untuk
boiler sesuai dengan kebutuhan steam. Ada dua sumber Air umpan, yaitu:
o Kondensat : steam yang telah berubah fasa menjadi air (mengembun)
o Air make up : air baku yang sudah diolah
Untuk meningkatkan efisiensi boiler air umpan sebelum di suplai ke boiler
dipanaskan terlebih dahulu menggunakan limbah panas dari chimney.

Sistem Steam
Sistem steam adalah proses pengontrolan produksi steam dalam boiler,
seperti: kapasitas, pressure, dsb. Selanjutnya steam didistribusikan ke pengguna
melalui jalur perpipaan.

Sistem Bahan bakar

Sistem bahan bakar adalah semua equipment atau peralatan yang digunakan
untuk menyediakan bahan bakar boiler. Peralatan yang digunakan tergantung pada
jenis bahan bakar yang digunakan boiler. (Aryandriadi,2013)
III.3. Baku Mutu Air Boiler
Uap atau steam merupakan gas yang dihasilkan dari proses yang disebut
penguapan. Bahan baku yangdigunakan untuk menghasilkan steam adalah air. Secara
umum air yang akan digunakan sebagai air umpan boiler adalah air yang tidak
mengandung unsur yang dapat menyebabkan terjadinya endapan yang dapat
membentuk kerak pada boiler, air yang tidak mengandung unsur yang dapat
menyebabkan korosi terhadap boiler. Dengan demikian airini di treatment hingga
memenuhi standar karakteristik air umpan boiler. Berikut ini merupakan persyaratan
baku mutu air umpan boiler:
Tabel 1.1 Baku Mutu Air Umpan Boiler
Paramet
Satua
er
n
pH
Conducti
vity

unit
mhos
/cm

TDS
PAlkalinit
y
MAlkalinit
y
OAlkalinit
y
T
Hardness

ppm

Ukuran
10,511,5
5000,
max
3500,
max

ppm

Silika
Besi
Phospat
residual
Sulfite
residual
pH
condensa
te

ppm
ppm

ppm
ppm
ppm

800,
max
2,5
x
SiO2,
min
150,
max
2,max

ppm
ppm

20-50

unit

8,0-9,0

Di dalam industri kimia, steam merupakan suatu komponen penunjang yang sangat
penting. Penggunaan steam dalam industri kimia misalkan sebagai pembangkit

tenaga, pemanas, fluida pada jet ejector, dan lain sebagainya. Steam ini dihasilkan
dari suatu alat yang dinamakan boiler.
Parameter-parameter yang mempengaruhi kualitas air umpan boiler antara lain :
1.Oksigen terlarut; Dalam jumlah yang tinggi dapat menyebabkan korosi pada
peralatan boiler.
2.Kekeruhan; Dapat mengendap pada perpipaan dan peralatan proses serta
mengganggu proses.
3.pH; Bila tidak sesuai dengan standart kualitas air umpan boiler dapat menyebabkan
korosi pada peralatan.
4.Kesadahan; Merupakan kandungan ion Ca dan Mg yang dapat menyebabkan kerak
pada peralatan dan perpipaan boiler sehingga menimbulkan local overheating.
5.Fe; Fe dapat menyebabkan air berwarna dan mengendap di saluran air dan boiler
bila teroksidasi oleh oksigen.
6.Asiditas; Kadar asiditas yang tinggi dapat menyebabkan korosi
Pada proses penguapan dalam ketel uap, air menjadi uap. Uap yang
dihasilkan adalah air murni dalam fasa uap (H2O) dimana ion-ion yang terkandung
dalam air boilernya tidak turut menguap. Sebagai akibatnya, konsentrasi ion-ion
yang berada dalam fasa cairnya (air boiler) semakin lama akan semakin tinggi
dimana apabila hal ini tidak dikendalikan kenaikan konsentrasi ion-ion tersebut akan
menuju bilangan tak terhingga, sehingga konsekuensinya pengerakan pada pipa-pipa
boiler tidak akan bisa dihindarkan. Pengendalian ion-ion dalam air boiler tersebut
pada sistim boiler dilakukan dengan membuang sebagian dari air boiler secara
kontinyu dan disebut sebagai blow-down.Tujuan blow-down adalah untuk menjaga
agar ion-ion yang ada dalam air boiler tidak melebihi batasan-batasan yang telah
ditentukan. (Anonim,2013)
III.4. Pengendalian Mutu Air Umpan Boiler

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Air umpan boiler memiliki standarbaku mutu tertentu. Namun, sumber air
baku untuk umpan boiler belum memenuhi standar yang telah ditentukan. Oleh
karena itu, dilakuka npengolahan secara eksternal untuk membuang padatan
tersuspensi, padatan terlarut (terutama ion kalsium dan magnesium yang merupakan
penyebab utama pembentukan kerak) dan gas-gas terlarut (oksigen dan
karbondioksida). Proses pengolahan eksternal dilakukan melalui beberapa tahapan
sebagai berikut:
Koagulasi dan Flokulasi
Sedimentasi
Filtrasi
Demineralisasi
Softening
Deaerasi

Gambar 3.3. Diagram Pengolahan Air Umpan Boiler (Sumber: UNEP, 2006)
III.5. Kualitas steam
1.
2.
3.
4.
5.

Steam harus tersedia pada titik penggunaan:


Dalam jumlah yang benar untuk menjamin bahwa aliran panas yang memadai
tersedia
untuk perpindahan panas
Pada suhu dan tekanan yang benar, atau akan mempengaruhi kinerja
Bebas dari udara dan gas yang dapat mengembun yang dapat menghambat
perpindahan
panas
Bersih, karena kerak (misal karat atau endapan karbonat) atau kotoran dapat
meningkatkan laju erosi pada lengkungan pipa dan orifice kecil dari steam traps dan
kran
Kering, dengan adanya tetesan air dalam steam akan menurunkan entalpi penguapan
aktual, dan juga akan mengakibatkan pembentukan kerak pada dinding pipa dan
permukaan perpindahan panas.(UNEP,2006)

III.6 Pemanfaatan kembali kondensat


Bila satu kilogram steam mengembun seluruhnya, maka akan terbentuk satu
kilogram kondensat pada suhu dan tekanan yang sama. Sistim steam yang efisien
akan mengguna ulang kondensat ini. Kegagalan dalam memperoleh kembali dan
mengguna ulang kondensat membuat tidak adanya keuntungan secara finansial,
teknis atau lingkungan. Steam jenuh yang digunakan untuk pemanasan menyerahkan
panas latennya (entalpi penguapan), yang merupakan proporsi yang besar dari panas
total yang terkandung didalamnya. Panas tersisa dalam steam tertahan dalam
kondensat sebagai panas sensibel (entalpi air) sebagaimana ditunjukkan dalam
Gambar 33.

Seperti halnya dengan kandungan pana s, kondensat pada dasarnya


merupakan air suling, yang ideal untuk penggunaan air umpan boiler. Suatu sistim
steam yan efisien akan mengumpulkan kondesat ini dan mengembalikannya ke
deaerator, tangki umpan boiler, atau menggunakannya dalam proses lain. Hanya jika
benar-benar terdapat resiko pencemaran maka kondensat tidak boleh dikembalikan
ke boiler. Bahkan, memungkinkan untuk mengumpulkan kondensat dan
menggunakannya sebagai air proses panas atau melewatkannya melalui sebuah alat
penukar panas dimana kandungan panasnya dapat dimanfaatkan kembali sebelum air
dibuang. Kondensat dibuang dari plant dan peralatan steam melalui steam traps dari
tekanan yang lebih tinggi ke tekanan yang lebih rendah. Sebagai akibat dari turunnya
tekanan, beberapa kondensat akan menguap kembali menjadi flash steam. Bagian
steam yang akan flash offdengan cara ini ditentukan oleh sejumlah panas yang
dapat ditahan dalam steam dan kondensat. Biasanya jumlah flash steam sekitar 10%
sampai15%, tetapi dapat juga lebih dari itu. Kondensat pada tekanan 7 bar g akan
kehilangan massanya sekitar 13% bila flashing ke tekanan atmosfir, namun steam
yang dihasilkan akan memerlukan ruang 200 kali lebih besar daripada kondensat
darimana bahan ini dibentuk. Kondensat ini berpengaruh terhadap penghambatan
jalur pembuangan trap yang berukuran lebih kecil dari yang semestinya, dan harus
diperhitungkan ketika menghitung ukuran jalur tersebut.

Alasan-alasan untuk pemanfaatan kembali kondensat adalah:


Alasan Keuangan: Kondensat merupakan sumber daya yang be rharga dan bahkan
pemanfaatan kembali dalam jumlah kecilpun seringkali secara ekonomis dapat
dibenarkan. Pembuangan dari sebuah steam trap tunggal seringkali merupakan
pemanfaatan kembali yang berharga. Kondensat yang tidak termanfaatkan kembali
harus diganti dalam ruang boiler oleh air make-up dingin dengan biaya tambahan
untuk pengolahan air dan bahan bakar untuk memanaskan air dari suhu yang lebih
rendah.
Biaya air: Kondensat yang tidak dikembalikan perlu diganti dengan air make-up,
sehingga perlu membayar air untuk keperluan.
Larangan terhadap Effluent: di Inggris contohnya, air bersuhu diatas 43C
berdasarkan
hukum yang berlaku tidak boleh dikembalikan ke saluran air kotor, sebab
membahayakan
bagi lingkungan dan dapat merusak pipa-pipa yang terbuat dari tanah. Kondensat
diatas suhu ini harus didinginkan terlebih dahulu sebelum dibuang, dapat
mendatangkan biaya energy ekstra. Larangan serupa diterapkan hampir diseluruh

negeri, dan dapat dikenakan biaya dan denda oleh pemasok air bagi yang tidak
mentaatinya.
Memaksimalkan keluaran boiler: Air umpan boiler yang lebih dingin akan
menurunkan laju pembangkitan steam pada boiler. Semakin rendah suhu air umpan,
semakin banyak panas dan bahan baker yang dibutuhkan untuk memanaskan air.
Kualitas air umpan boiler: Kondensat merupakan air suling yang hampir tidak
mengandung total padatan terlarut (TDS). Boiler perlu di-blowdown untuk
mengurangi konsentrasi padatan terlarut dalam air boiler. Mengembalikan lebih
banyak kondensat ke tangki umpan akan menurunkan kebutuhan bagi blowdown dan
dengan begitu mengurangi hilangnya energy dari boiler. ( UNEP,2006)

III.7. Utilitas Pengguna Steam


Berikut beberapa utilitas yang umum dijumpai dalam industri kimia dan
menggunakan steam:
Boiler
Boiler merupakan alat pembuat steam yang umum dijumpai dalam industri
kimia, yang berfungsi untuk menyuplai steam menuju alat penukar panas,
evaporator, dan reaktor. Boiler terdiri dari tiga sistem, yaitu: sistem air umpan,
berfungsi untuk mengontrol air yang disuplai ke dalam boiler untuk diubah menjadi
steam. Sistem steam, berfungsi untuk mengontrol produksi steam dalam boiler yang
bekerja dengan cara mengalirkan steam melalui sistem perpipaan ke titik pengguna.
Sistem bahan bakar, berfungsi untuk menyediakan bahan bakar yang berfungsi
sebagai energi penghasil panas yang dibutuhkan oleh boiler.
Heat Exchanger
Prinsip kerja pada alat penukar panas adalah terdapat dua fluida dengan suhu
yang berbeda, dialirkan melalui shell dan tube sehingga pada kedua fluida tersebut
terjadi perpindahan panas secara tidak langsung. Adapun steam yang digunakan pada
alat penukar panas umumnya berjenis saturated steam, meskipun tidak jarang
dijumpai heat exchanger dengan pemanas berupa superheated steam.

Evaporator
Evaporator merupakan alat yang berfungsi untuk memisahkan solvent dari
larutan solute berdasarkan perbedaan titik didih yang dimiliki keduanya, untuk
menghasilkan produk yang lebih pekat. Untuk proses pemisahan solvent dari larutan
solute, maka dibutuhkan panas (kalor) yang umumnya didapat dari boiler atau
furnace.
Terdapat beberapa komponen dasar dari sebuah evaporator, yaitu:
Heat exchanger, yang berfungsi untuk menukar panas dari medium pemanas (steam)
ke produk secara tidak langsung.
Vacuum, berfungsi untuk menjaga produk tetap pada suhu rendah yang berfungsi
untuk mencegah kerusakan kandungan-kandungan dalam produk.

Vapour separator, berfungsi untuk mengembalikan padatan dan uap air ke


condenser. Condenser, berfungsi untuk mengubah uap air menjadi air dalam fasa
liquid dalam heat exchanger.

III.8. Contoh Soal


Sebuah siklus Rankine sederhana ideal bekerja pada temperatur 400 oC dan tekanan
80 bar. Tekanan kondensor 0,1 bar. Aliran massa uap yang masuk ke turbin 100 kg/s.
Hitunglah kerja turbin, kerja pompa, kalor masuk, kalor keluar dan efisiensi siklus.
daya yang dihasilkan turbin dan daya netto siklus.
Jawab
Pertama-tama gambarkan skema siklus Rankine sederhana dan lengkapi dengan
data-data yang ada di dalam soal

Gambar 7 data dari soal


Ditanya : kerja turbin (W t); Kerja pompa (Wp), kalor masuk (Qin), kalor keluar (Qout),
efisiensi termodinamika (th), daya turbin (Pt) dan daya netto siklus (Pnett).
Dari tabel sifat-sifat uap panas lanjut di dapat :
Entalpi uap masuk ke turbin : h1 = 3139,4 kJ/kg
Entropi uap masuk ke turbin : s1 = 6,3658 kJ/kg.K
Entropi uap keluar turbin sama dengan entropi uap masul turbin (proses ideal atau
isentropis) sehingga s1 = s2 = 6,3658 kJ/kg.K
Dari tabel uap jenuh, pada tekanan 0,1 bar (10 kPa) didapat :

Entalpi fase uap (hg2) = 2583,9 kJ/kg


Entalpi fase cair (hf2) = 191,81 kJ/kg
Entalpi perubahan fase (hfg2) = 2392,1 kj/kg
Entropi fase uap (sg1) = 8,1488 kJ/kg.K
Entropi fase cair (sf2) = 0,6492 kJ/kg.K
Entropi perubahan fase (sfg2) = 7,4996 kJ/kg.K
Fraksi (kadar) uap (X) dapat dihitung :

Artinya kadar uap yang keluar dari turbin menuju kondensor adalah 76,22 % atau
fluida yang keluar dari turbin 76,22 % uap dan 23.78 % cair. Bagian yang cair ini
tidak perlu lagi diembunkan, tetapi 76,22 % uap ini yang harus dibuang kalornya
supaya fasenya berubah menjadi cair. Maka energi total yang terkandung di dalam
76,22% uap dapat dihitung :

Maka kerja turbin dapat dihitung yaitu :

Daya turbin adalah :

Kalor yang dibuang oleh kondensor :

h2 adalah entalpi uap yang masuk ke kondensor = 2015,07 kJ/kg

h3 adalah entalpi air yang keluar dari kondensor = 191,81 kJ/kg


maka kalor yang dibuang oleh kondensor adalah :

Daya kondensor yang dibutuhkan untuk membuang kalor tersebut adalah :

Kerja pompa dapat dihitung dengan rumus :

= volume jenis air pada tekanan 0,1 bar = 0,00101 m3/kg


p4 = tekanan air keluar pompa = tekanan boiler (proses ideal tidak ada rugi-rugi
tekanan) maka p4 = p1 = 80 bar = 8 Mpa.
p3 = tekanan air masuk pompa = tekanan air keluar kondensor, untuk proses ideal
tidak ada rugi-rugi tekanan sehingga p3 = 0,1 bar = 10 kPa
maka kerja pompa :

8.000-10

8,0699

Bila aliran massa air yang dipompa 100 kg/s maka daya yang diperlukan oleh pompa
adalah:

8,0699

806,99

Daya netto siklus :

806,99

111537,31 kW = 111,537 MW

Kalor yang masuk ke sistem (qin) dapat dihitung :

h1 = entalpi uap panas lanjut keluar dari boiler = 3139,4 kJ/kg


h4 = entalpi air keluar pompa yang besarnya = entalpi air masuk pompa + kerja
pompa, maka h4 = 191,81 + 8,0699 = 199,8799 kJ/kg
maka kalor yang masuk ke sistem adalah :

199,8

=2939,5

Daya yang dihasilkan Boiler : PB = 2939,5 kJ/kg x 100 kg/s = 293.950 kW = 293,95
MW
Efisiensi termodinamika siklus adalah :

8,0699
2939,5

Dari hasil perhitungan dapat dilihat hanya 37,37 % dari daya yang diberikan ke
dalam boiler yang dapat diubah menjadi energi mekanis, sisanya hilang atau dibuang
ke alam melalui kondensor dan ada sebagian kecil yang digunakan untuk
mengerakan pompa.

BAB IV
PENUTUP
IV.1. Kesimpulan
1. Boiler merupakan bejana tertutup di mana panas pembakaran dialirkan ke air
sampai terbentuk air proses atau steam. Media yang digunakan adalah air untuk
mengalirkan panas ke suatu proses karena murah.
2. Faktor yang mendasari pemilihan jenis boiler adalah sebagai berikut, kapasitas
yang digunakan, kondisi uap yang dibutuhkan, bahan bakar yang dibutuhkan, dan
konstruksi yang sederhana.
3. Uap air adalah sejenis fluida yang merupakan fase gas dari air, bila mengalami
pemanasan sampai temperatur didih dibawah tekanan tertentu. Uap air tidak
berwarna, bahkan tidak terlihat bila dalam keadaan murni kering. Uap air dipakai
pertama sekali sebagai fluida kerja adalah oleh James Watt yang terkenal sebagai
penemu Mesin Uap Torak.
5. Untuk memenuhi baku mutu air umpan boiler maka harus ada pengendaliaannya,
maka dilakukan pengolahan secara external yang meliputi diantaranya adalah,
koagulasi dan flokulasi; sedimentasi; filtrasi; demineralisasi; softening; dan deaerasi.
6. Berbagai permasalahan dapat terjadi pada boiler yang disebabkan oleh perlakuan
air umpan boiler yang tidak memenuhi persyaratan, untuk pemeliharaannya dapat
dilakukan dengan proses commisioning awal; operasi pada keadaan normal dan
emergency; pengawasan dan perawatan; dan ruangan ketel.
IV.2. Saran
1. Perlunya beberapa pertimbangan dalam pemilihan boiler.
2. Selain diadakan pengolahan eksternal, untuk menjaga agar boiler tidak cepat
rusak, serta tidak terbentuk fouling, scaling, dan sebagainya, maka diperlukan
pengolahan lebih lanjut; pengolahan internal.
3. Pada umumnya, diperlukan pembersihan secara rutin pada alat penukar panas
untuk mengoptimalkan proses perpindahan panas yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA
Aryandriadi,2013.Prinsip Kerja Boiler Ketel Uap. http://aryandriadi.com/2013/01/prinsipkerja-boiler-ketel-uap.html. diakses pada tanggal 11 November 2015
Anonim. 2013. Air Umpan Boiler. http://phantom-alchemist.com/2013/02/air-umpanboiler.html . diakses pada tanggal 11 November 2015
Djukarna.2015. Siklus Renkine. djukarna.wordpress.com/termodinamika/siklus-rankine.
Diakses pada 11 November 2015

United Nations Environment Programme (UNEP). 2006. Cleaner Production Energy


Efficiency Manual Guidelines for the integration of Cleaner Production and Energy
Efficiency. (distribusi steam dan penggunaanya) www.uneptie.org. Diakses pada tanggal
11 November 2015.