Anda di halaman 1dari 13

ACARA V

PETA FUNGSI KAWASAN

I.

TUJUAN
1. Agar mahasiswa mampu menentukan satuan lahan pada DAS Jlantah hulu
Desa Tlobo
2. Agar mahasiswa mampu menentukan fungsi kawasan pada daerah DAS
Jlantah hulu Desa Tlobo

II.

ALAT DAN BAHAN


Peta Kemiringan Lereng DAS Jlantah hulu Desa Tlobo
Peta Curah Hujan DAS Jlantah hulu Desa Tlobo
Peta Jenis Tanah DAS Jlantah hulu Desa Tlobo
Pensil warna
Komputer + Printer
Kalkulator
Penggaris
Alat tulis-menulis

III.

LANDASAN TEORI
Lahan adalah lingkungan fisik yang terdiri dari iklim, relief, tanah air dan
vegetasi serta benda yang ada diatasnya sepanjang pengaruhnya terhadap
penggunaan lahan

( Sugiyati, 2001 : 62 ). Lebih lanjut dijelaskan bahwa

Lahan merupakan bagian dari bentangalam (landscape) yang mencakup


pengertian lingkungan fisik termasuk iklim, topografi/relief, hidrologi bahkan
keadaan vegetasi alami (natural vegetation) yang semuanya secara potensial
akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan. (FAO dalam Djaenudin, dkk
1993: 3). Lebih lanjut dijelaskan bahwa lahan memiliki sifat atau karakteristik
yang spesifik. Sifat-sifat lahan (land characteristics) adalah atribut atau keadaan

unsur-unsur lahan yang dapat diukur atau diperkirakan, seperti tekstur tanah,
struktur tanah, kedalaman tanah, jumlah curah hujan, distribusi hujan,
temperatur, drainase tanah, jenis vegetasi dan sebagainya.
Pemanfaatan lahan pada dasarnya adalah merupakan semua jenis
penggunaan atas lahan oleh manusia yang meliputi penggunaan untuk pertanian
hingga lapangan olahraga, rumah mukim hingga rumah makan, rumah sakit
hingga kuburan (Lindgren dalam Kasmiarah, 1997 : 2).
UU RI No. 26 2007 menyebutkan bahwa Kawasan lindung adalah
kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian
lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan.
Fungsi utama kawasan lindung adalah sebagai perlindungan sistem penyangga
kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi,
mencegah intrusi air laut dan memelihara kesuburan tanah. (Nugraha, dkk 2006:
62). Fungsi kawasan lindung ini selain melindungi kawasan setempat juga
memberikan perlindungan kawasan di bawahnya. (Departemen Kehutanan,
1997: 233). Berdasarkan fungsinya tersebut maka penggunaan lahan yang
diperbolehkan adalah pengolahan lahan dengan tanpa pengolahan tanah (zero
tillage) dan dilarang melakukan penebangan vegetasi hutan. (Nugraha, dkk
2006: 69). Kawasan penyangga adalah kawasan yang ditetapkan untuk
menopang keberadaan kawasan lindung sehingga fungsi lindungnya tetap
terjaga.(Nugraha, dkk 2006: 62). Kawasan penyangga ini merupakan batas
antara kawasan lindung dan kawasan budidaya. Penggunaan lahan yang
diperbolehkan hutan tanaman rakyat atau kebun dengan sistem wanatani
(agroforestry) dengan pengolahan lahan sangat minim (minimum tillage).
Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk
dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya
manusia dan sumberdaya buatan. (Nugraha, dkk 2006: 62). Kawasan budidaya
dibedakan menjadi kawasan budidaya tanaman tahunan dan kawasan budidaya
tanaman semusim.

Arahan fungsi pemanfaatan lahan merupakan kajian potensi lahan yang


digunakan untuk suatu kegiatan dalam suatu kawasan tertentu berdasarkan
fungsi utamanya. Arahan fungsi pemanfaatan lahan zonasinya ditetapkan
berdasarkan hasil scoring dari variable curah hujan, kemiringan lereng dan jenis
tanah dengan menguunakan strategi tumpang susun atau overlay. Ketiga variable
diatas masing-masing memiliki nilai skor, jumlah skor tersebut akan
mencerminkan kemampuan lahan untuk masing-masing satuan lahan. Adapun
kriteria dan tata cara penetapan arahan fungsi pemanfaatan lahan untuk setiap
satuan lahan sebagai berikut :
I. Kawasan Fungsi Lindung
Kawasan fungsi lindung adalah suatu wilayah yang keadaan dan sifat
fisiknya mempunyai fungsi lindung untuk kelestarian sumberdaya alam,
flora dan fauna seperti hutan lindung, hutan suaka, hutan wisata, daerah
sekitar sumber mata air dan alur sungai, serta kawasanlindung lainnya.
Satuan lahan dengan jumlah skor ketiga karakteristik fisiknya sama
dengan atau lebih besar dari 175, atau memenuhi salah satu atau beberapa
kriteria sebagai berikut :
a. Mempunyai kemiringan lereng lebih > 45 %
b. Merupakan kawasan yang mempunyai jenis tanah sangat peka
terhadap

erosi

(regosol,

litosol,

organosol,dan

renzina)

dan

mempunyai kemiringan lereng > 15%


c. Merupakan jalur pengaman aliran sungai sekurang-kurangnya 100
meter di kanan kiri alur sungai
d. Merupakan pelindung mataair, yaitu 200 meter dari pusat mataair.
e. Berada pada ketinggian lebih atau sama dengan 2.000 meter diatas
permukaan laut.

f. Guna kepentingan khusus dan ditetapkan oleh pemerintah sebagai


kawasan lindung.

II. Kawasan Fungsi Penyangga


Kawasan fungsi penyangga adalah suatu wilayah yang berungsi
sebagai pelindung dan sebagai budidaya. Letaknya diantara kawasan
lindung dan kawasan budidaya seperti hutan produksi terbatas, perkebunan
tanaman keras, perkebunan campuran dan lain lainnya yang sejenis.
Satuan lahan dengan jumlah skor ketiga karakteristik fisiknya antara 125174 serta memenuhi kriteria umum sebagai berikut :
a. Keadaan fisik satuan lahan memungkinkan untuk dilakukan budidaya.
b. Lokasinya secara ekonomis mudah dikembangkan sebagai kawasan
penyangga.
c. Tidak merugikan segi-segi ekologi atau lingkungan hidup apabila
dikembangkan sebagai kawasan penyangga.
III. Kawasan Fungsi Budidaya Tanaman Tahunan
Kawasan budidaya tanaman tahunan adalah kawasan budidaya yang
diusahakan dengan tanaman tahunan seperti hutan produksi tetap,
perkebunan tanaman keras, tanaman buah, dan lainnya.
Satuan lahan dengan jumlah skor ketiga karakteristik fisiknya < 124
serta sesuai untuk dikembangkan usaha tani tanaman tahunan. Selain itu
areal tersebut harus memenuhi kriteria umum untuk kawasan penyangga.
IV. Kawasan Fungsi Budidaya Tanaman Semusim dan Permukiman
Kawasan fungsi budidaya tanaman semusim dan permukiman adalah
kawasan yang mempunyai fungsi budidaya dan diusahakan dengan
tanaman semusim dan permukiman, terutama tanaman pangan.

Satuan lahan dengan kriteria seperti dalam penetapan kawasan


budidaya tanaman tahunan serta terletak di tanah milik, tanah adat dan
tanah negara yang seharusnya dikembangkan usaha tani tanaman semusim.
Selain memenuhi kreteria tersebut diatas, untuk kawasan permukiman
harus berada pada lahan yang memiliki lereng mikro tidak lebih dari 8%.
Table klasifikasi dan skor fungsi kawasan sebagai berikut :
KELAS
I
II
III
IV

FUNGSI KAWASAN
Lindung
Penyangga
Produksi tanaman semusim
Produksi tanaman musiman dan permukiman

SKOR / NILAI
> 175
125 174
< 124 + lereng > 8%
< 124 + lereng < 8%

Adapun parameter arahan fungsi pemanfaatan lahan terdiri dari intensitas


curah hujan, kemiringan lerng dan jenis tanah. Uraian dari masing-masing
variable diatas dapat dilihat pada penjelasan berikut :
INTENSITAS CURAH HUJAN
Dalam menentukan intensitas curah hujan dapat ditentukan
dengan persamaan berikut:
Rata-rata tinggi hujan tahunan
Intensitas Curah Hujan harian = ---------------------------------------------Rata-rata hari hujan tahunan
Dari perhitungan ini diperoleh data intensitas curah hujan rata-rata harian,
sedangakn deliniasinya dilakukan dengan cara interpolasi linear, yaitu menarik
garis lurus antara dua stasiun hujan yang berdekatan dan membagi jaraknya secara
proporsional sesuai dengan perbedaan intensitas hujan kedua stasiun hujan
tersebut. Untuk klasifikasi intensitas hujan harian rata-rata mengacu pada
penyusunan pola rehabilitasi lahan dan konservasi tanah.
Tabel klasifikasi dan skor intensitas hujan harian rata-rata :
KELAS

INTENSITAS

HUJAN KETERANGAN

SKOR

( mm/hr )
I
0 13,6
Sangat rendah
10
II
> 13,6 - 20,7
Rendah
20
III
> 20,7 27,7
Sedang
30
IV
> 27,7 34
Tinggi
40
V
> 34
Sangat tinggi
50
Sumber : Pedoman Penyusunan Pola Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah,
1986.
KEMIRINGAN LERENG
Peta kelas lereng diperoleh melalui interpetasi pet rupa bumi Indonesia
( RBI ) dengan metode pembuatan peta lereng yang dikemukakan oleh
Wenthworth dengan rumus sebagai beriut :
(n-1) x ki
S = --------------------------------- x 100%
a x penyebut skala peta
Keterangan :
S = Besar sudut lereng
n = Jumlah kontur yang memotong tiap diagonal jaring
ki = kontur interval
a = panjang diagonal jarng dengan panjang rusuk 1 cm
Klasifikasi kemiringan lereng ini berpedoman pada penyusunan
rehabilitasi lahan dan konservasi tanah sebagai berkut :
Tabel kelas kemiringan lereng dan nilai skor kemiringan lereng
KELAS
I
II
III
IV
V
Sumber :
1986.

KEMIRINGAN ( % )
08
> 8 15
>15 25
> 25 45
> 45
Pedoman Penyusunan Pola Rehabilitasi

KLASIFIKASI
DATAR
LANDAI
AGAK CURAM
CURAM
SANGAT CURAM
Lahan dan Konservasi

SKOR
20
40
60
80
100
Tanah,

JENIS TANAH
Jenis tanah menurut kepekaannya terhadap erosi diolah dari peta
jenis tanah DAS Jlantah. Adapun klasifikasinya berdasarkan Pedoman
Penyusunan Pola Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah.
Table klasifikasi dan nilai skor jenis tanah menurut kepekaan terhadap
erosi
KELAS JENIS TANAH
KLASIFIKASI
SKOR
I
Aluvial glei, Planosol, Hidromorf kelabu
Tidak peka
15
II
Latosol
Kurang peka
30
III
Brown forest soil, mediteran
Agak peka
45
IV
Andosol, laterit, organosol, kezina
Peka
60
V
Regosol, litosol, organosol, renzina
Sangat peka
75
Sumber : Pedoman Penyusunan Pola Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah,
1986.
IV. LANGKAH KERJA
Dalam menentukan suatu fungsi dari kawasan hal yang harus dilakukan
adalah :
1. Menyiapkan dan menentukan kelas lereng.
2. Menyiapkan peta jenis tanah.
3. Menyiapkan peta curah hujan.
4. Melakukan overlay dari peta kelas lereng, peta curah hujan dan peta jenis
tanah.
5. Menentukan satuan lahan dari DAS yang dikaji Menentukan fungsi
kawasan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. HASIL
1. Peta Yang digunakan untuk praktikum adalan Peta curah hujan, Peta
Tanah, Peta Kemiringan Lereng dan peta satuan Lahan DAS Jlantah

2. Dari peta curah hujan, kemiringan lereng dan peta tanh di overlaykan
menjadi peta satuan lahan. Dari overlay tersebt diperoleh 21 satuan lahan
yaitu:
No

CH. Rata-rata

24,59

24,59

24,59

24,59

24,59

24,59

24,59

24,59

24,59

10

24,59

11

24,59

12

24,59

13

24,59

14

24,59

15

24,59

16

24,59

17

24,59

18

24,59

19

24,59

Jenis Tanah
Latosol Cokelat
Kemerahan
Latosol Cokelat
Kemerahan
Latosol Cokelat
Kemerahan
Latosol Cokelat
Kemerahan
Latosol Cokelat
Kemerahan
Latosol Cokelat
Kemerahan
Latosol Cokelat
Kemerahan
Latosol Cokelat
Kemerahan
Latosol Cokelat
Kemerahan
Latosol Cokelat
Kemerahan
Latosol Cokelat
Kemerahan
Latosol Cokelat
Kemerahan
Latosol Cokelat
Kemerahan
Latosol Cokelat
Kemerahan
Latosol Cokelat
Kemerahan
Latosol Cokelat
Kemerahan
Latosol Cokelat
Kemerahan
Latosol Cokelat
Kemerahan
Latosol Cokelat
Kemerahan

Lereng

Satuan Lahan

Lack-3-V

III

Lack-3-III

Lack-3-V

III

Lack-3-III

Lack-3-V

III

Lack-3-III

IV

Lack-3-IV

Lack-3-V

II

Lack-3-II

II

Lack-3-II

III

Lack-3-III

II

Lack-3-II

Lack-3-V

Lack-3-V

IV

Lack-3-IV

Lack-3-V

IV

Lack-3-IV

IV

Lack-3-IV

Lack-3-V

20

24,59

21

24,59

Latosol Cokelat
Kemerahan
Latosol Cokelat
Kemerahan

IV

Lack-3-IV

IV

Lack-3-IV

3. Dari 21 satuan lahan tersebut dilakukan scoring terhadap variable jenis


tanah,lereng dan curah hujan sehingga akan diperoleh fungsi kawasan
seperti berikut:
Skor
No

Satuan Lahan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

Lack-3-V
Lack-3-III
Lack-3-V
Lack-3-III
Lack-3-V
Lack-3-III
Lack-3-IV
Lack-3-V
Lack-3-II
Lack-3-II
Lack-3-III
Lack-3-II
Lack-3-V
Lack-3-V
Lack-3-IV
Lack-3-V
Lack-3-IV
Lack-3-IV
Lack-3-V
Lack-3-IV
Lack-3-IV

Jenis Tanah CH
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30

30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30

Leren
g
100
60
100
60
100
60
80
100
40
40
60
40
100
100
80
100
80
80
100
80
80

Skoor
Total

Fungsi
Kawasan

160
120
160
120
160
120
140
160
100
100
120
100
160
160
140
160
140
140
160
140
140

Penyangga
Budidaya
Penyangga
Budidaya
Penyangga
Budidaya
Penyangga
Penyangga
Budidaya
Budidaya
Budidaya
Budidaya
Penyangga
Penyangga
Penyangga
Penyangga
Penyangga
Penyangga
Penyangga
Penyangga
Penyangga

4. Melalui scoring diproleh 14 satuan lahan yang termasuk penyangga dan


7 satuan lahan yang termasuk budidaya

B. PEMBAHASAN
Dari overlay peta tanah, curah hujan dan peta kemiringan lereng
maka diperoleh 21 satuan lahan. Setelah diperoleh 21 satuan lahan maka
dilakukan scoring terhadap parameter penentu fungsi kawasan yaitu
kemiringan lereng, jenis tanah dan curah hujan. Stelah tahap tersebut sudah
dilalui maka diperoleh peta fungsi kawasan. DAS Jlantah bagian hulu desa
Tlobo terdapat 2 fungsi kawasan yaitu penyangga dan budidaya.
Fungsi kawasan penyangga di DAS Jlantah bagian hulu Desa Tlobo
mayoritas memiliki jenis tanah Latosol Coklat, curah hujan 24,55 dan
kemiringan lereng kelas V yaitu lebih dari 40 %. Kawasan penyangga ini
dapat berfungsi lindung dan berfungsi budidaya, letaknya diantara kawasan
fungsi lindung dan kawasan fungsi budidaya seperti hutan produksi terbatas,
perkebunan (tanaman keras), kebun campur dan lainnya yang sejenis.
Dalam menentukan kawasan penyangga harus memenuhi criteria berikut:
a. Keadaan fisik satuan lahan memungkinkan untuk dilakukan budidaya
secara ekonomis.
b. Lokasinya secara ekonomis mudah dikembangkan sebagai kawasan
penyangga.
c. Tidak merugikan dilihat dari segi ekologi/lingkungan hidup bila
dikembangkan sebagai kawasan penyangga
Fungsi kawasan budidaya di DAS Jlantah bagian hulu Desa Tlobo
mayoritas memiliki jenis tanah Latosol Coklat, curah hujan 24,55 dan
kemiringan lereng kelas lereng II dan III yaitu lebih dari 8 15% dan 15
25%. Kawasan budidaya yang digunakan sebagai lahan pertanian
hendaknya memberikan manfaat sebagai berikut:
a. Meningkatkan produksi pertanian dan mendayagunakan investasi
b. Meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub sektor
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

serta kegiatan ekonomi sekitarnya


Meningkatkan fungsi lindung
Meningkatkan upaya pelestarian kemampuan sumberdaya alam
Meningkatkan pendapatan masyarakat
Meningkatkan pendapatan nasional dan daerah;
Menciptakan kesempatan kerja;
Meningkatkan ekspor;
Meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sedangakn

kawasan

budidaya

yang

dimanfaatkan

sebagi

permukiman hendaknya dapat memberikan manfaat sebagi berikut:


a. Meningkatkan ketersediaan permukiman dan mendayagunakan
prasarana dan sarana permukiman
b. Meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub
c.
d.
e.
f.
g.
h.
VI.

sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya


Tidak mengganggu fungsi lindung
Tidak mengganggu upaya pelestarian sumberdaya alam
Meningkatkan pendapatan masyarakat
Meningkatkan pendapatan nasional dan daerah
Menyediakan kesempatan kerja
Meningkatkan kesejahteraan masyarakat

KESIMPULAN
Dari hasil dan pembahasan maka dapat diproleh berbagai kesimpulan
yaitu:
1. Fungsi kawasan diperoleh melalui metode pensekoran variable curah hujan
kelerengan dan jenis tanah
2. DAS Jlantah bagian Hulu Desa Tlobo memiliki dua fungsi kawasan yaitu,
kawasan penyangga dan kawasan budidaya
3. Kawasan penyangga memiliki jenis tanah Latosol Coklat, curah hujan
24,55 dan kemiringan lereng kelas V yaitu lebih dari 40 %
4. Kawasan budidaya memiliki jenis tanah Latosol Coklat, curah hujan 24,55
dan kemiringan lereng kelas lereng II dan III yaitu lebih dari 8 15% dan
15 25%.
DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Sitanala. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Bandung : Penerbit ITB.
Asdak, Chay. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai.Yogyakarta
: Gadjah Mada University Press.
Romadlon , Rohmat Wahid. Handout praktikum acara V Peta Fungsi Kawasan

http://setyanugrahageo.wordpress.com/2009/04/19/kesesuaian-fungsi-kawasandengan-pemanfaatan-lahan/

LAPORAN PRAKTIKUM GEOLOGI GEOMORFOLOGI


ACARA V
PETA FUNGSI KAWASAN
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Praktikum Geologi dan
Geomorfologi
Dosen Pengampu: Pipit Wijayanti, S.Si

OLEH :
Dony Purnomo
K5407015

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010