Anda di halaman 1dari 87

Perjanjian Kredit

Kelompok 2
Miranti
Novita Wardhani
Nurul Ulfah
Sylvia Fatrani Aisyah

Pengertian Kredit
Undang-Undang No. 7 Tahun 1992
Tentang Perbankan
Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang
dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan
persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam
antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan
pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah
jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga,
imbalan atau pembagian hasil keuntungan.

Pengertian Kredit

Pengertian Kredit
UU No. 10 Tahun 1998 (UU
kredit sebagaiPerbankan)
penyediaan uang atau
tagihan yang dapat dipersamakan dengan
itu,
berdasarkan
persetujuan
atau
kesepakatan pinjam meminjam antara
bank dengan pihak lain yang mewajibkan
pihak peminjam untuk melunasi utangnya
setelah jangka waktu tertentu dengan
pemberian bunga.

Jenis-jenis Kreditor

Perjanjian Kredit oleh Bank


Perjanjian
kredit
merupakan
perjanjian konsensuil antara Debitur
dengan Kreditur (dalam hal ini Bank)
yang melahirkan hubungan hutang
piutang,
dimana
Debitur
berkewajiban
membayar
kembali
pinjaman
yang
diberikan
oleh
Kreditur, dengan berdasarkan syarat
dan kondisi yang telah disepakati
oleh para pihak.

Perjanjian Kredit di
Perjanjian kredit yang dibuat oleh dan
Bawah
Tangan
antara para
pihak yang
terlibat dalam
perjanjian kredit tersebut tanpa
melibatkan
pihak
pejabat
yang
berwenang/Notaris.
Perjanjian Kredit Di bawah tangan
biasa;
Perjanjian Kredit Di bawah tangan
yang dicatatkan di Kantor Notaris
(Waarmerking);
Perjanjian Kredit Di bawah tangan
yang ditandatangani di hadapan

Perjanjian Kredit Notariil


Perjanjian
yang
dibuat
dan
ditandatangani oleh para pihak di
hadapan Notaris.
Perjanjian Notariil merupakan akta
yang bersifat otentik (dibuat oleh dan
di
hadapan
pejabat
yang
berwenang/Notaris).

Isi Perjanjian Kredit


Klausula Hukum (Legal Clauses)
Klausula
Hukumadalah
klausula
yang
berisikan
ketentuan-ketentuan hukum yang biasanya berlaku untuk
pemberian fasilitas kredit.Termasuk dalam klausula ini
antara lain seperti klausula perlindungan Bank, Debet
Rekening, Condition Precedent, Pernyataan daan Jaminan
(Representation and Warranties), Covenant dan lain-lain.

Isi Perjanjian Kredit


Klausula Komersial (Commercial
Clauses)
Klausula Komersial adalah klausula yang
berkaitan dengan aspek komersial dalam
pemberian fasilitas kredit, seperti jenis fasilitas
kredit, jumlah fasilitas kredit, jangka waktu kredit,
ketentuan pembayaran besarnya angsuran,
ketentuan tentang denda dan bunga, asuransi,
dan lain-lain.

Klausula Fasilitas Kredit


Jenis, jumlah, dan jangka waktu fasilitas.
Perubahan mata uang pinjaman (klausula ini digunakan
terutama untuk pinjaman non-Rupiah).
Penarikan fasilitas kredit, jangka waktu penarikan, cara
penarikan, bukti penarikan.
Pembuktian hutang antara lain berupa Promes/CAR/atau
PK tersebut.
Cara Pembayaran kembali (installment atau langsung)
Pembayaran kembali lebih cepat/awal (Voluntary or
Mandatory)
Bunga.
Komisi dan Fee.
Bunga denda (apabila terjadi keterlambatan pembayaran).
Pembukuan (lokasi dimana Bank akan membukukan
pinjaman tersebut).

Klausula Syarat Penarikan


Pinjaman(Drawdown Condition)
Sebelum penandatanganan perjanjian
kredit dan sebelum suatu kredit dapat
dicairkan Debitur biasanya disyaratkan
untuk menyerahkan beberapa dokumen
dokumen atau data yang dianggap
penting oleh Bank.
Debitur tidak sedang dalam keadaan lalai
berdasarkan ketentuan-ketentuan
yangtermaktub dalam Perjanjian ini atau
berdasarkan sebab lain sesuai
pertimbangan baik Bank.

Klausula Pernyataan Debitur


(Representations and Warranties)
Kewenangan bertindak
Kekuatan Perjanjian
Tidak ada tuntutan/sengketa dari pihak ketiga
terutama yang dapat berakibat secara materiil
Kebenaran data-data yang diberikan oleh
Debitur termasuk diantaranya Laporan Keuangan
Keabsahan Debitur untuk menjalankan usaha
yang dibuktikan dengan perijinan dari lembagalembaga yang berwenang
Tidak adanya tunggakan Pajak yang harus
dibayar
Debitur tidak dalam keadaan pailit atau digugat
pailit oleh Pihak ketiga.

KlausulaAffirmative
Covenant

Menggunakan Fasilitas Kredit seperti yang dipersyaratkan;

Mengasuransikan seluruh barang-barang yang dijadikan jaminan/agunan Fasilitas


Kredit;

Memberikan ijin kepada Bank atau petugas-petugas yang diberi kuasa oleh Bank
untuk: (a) melakukan pemeriksaan (audit) terhadap buku-buku, catatan-catatan dan
administrasi Debitur serta memeriksa keadaan barang-barang jaminan, dan (b)
melakukan peninjauan ke dalam proyek, bangunan-bangunan lain dan kantor-kantor
yang digunakan Debitur;

Memberikan segala informasi/keterangan/data-data (seperti, namun tidak terbatas


pada laporan keuangan Debitur): (a) segala sesuatu sehubungan dengan keuangan
dan usaha Debitur, (b) bilamana terjadi keadaan yang dapat mempengaruhi
keadaan usaha atau keuangan Debitur, setiap waktu, baik diminta maupun tidak
diminta oleh Bank;

Menyerahkan data yang diminta oleh Bank dalam rangka pengawasan pemberian
kredit yaitu, antara lain namun tidak terbatas pada Laporan keuangan, laporan
inventory, daftar tagihan dan lain-lain.

KlausulaNegative Covenant

Pelarangan untuk menjual /menyewakan asset;


Tidak menjaminkan asset pada pihak lain;
Pelarangan untuk menerima pinjaman lain;
Pelarangan untuk menjadi Penjamin/Penanggung, kecuali
melakukan endorsemen atas surat-surat yang dapat
diperdagangkan untuk keperluan pembayaran atau penagihan
transaksi-transaksi lain yang lazim dilakukan dalam menjalankan
usaha;
Pelarangan untuk memberikan pinjaman;
Pelarangan untuk mengumumkan dan membagikan deviden
saham Debitur;
Pelarangan untuk melakukan merger atau akuisisi;
Pelarangan untuk membayar atau membayar kembali pinjaman
pemegang saham;
Pelarangan untuk merubah sifat dan kegiatan usaha Debitur
seperti yang sedang dijalankan dewasa ini;

Klausula Perlindungan Terhadap


Penghasilan Bank

Biaya pihak ketiga

Biaya yang diwajibkan oleh Undang-undang

Klausula Jaminan
Untuk menjamin pembayaran dari pinjaman yang
diberikan, Debitur diminta untuk menyerahkan
jaminan kepada Bank dimana jaminan tersebut
akan diikat sebagaimana yang diatur dalam
peraturan perundang-undangan.

Klausula Kompensasi
Pasal mengenai Kompensasi ini diatur berkaitan
dengan adanya pasal 1425 sampai dengan 1429
KUH Perdata mengenai kompensasi hutang.
Klausula Kompensasi ini berisikan persetujuan
dari Debitur untuk melepaskan hak-haknya yang
diatur dalam pasal tersebut, sehingga Debitur
tidak dapat mengkompensasikan piutang piutang
dagang yang ia miliki kepada Bank (bila ada)
dengan hutangnya kepada Bank.

Pengalihan Hak
Maksud dari pencantuman klausula pengalihan
hak ini Debitur telah memberikan persetujuan
kepada Bank untuk mengalihkan pinjaman
kepada Pihak ketiga dengan tanpa merubah
kondisi yang telah disetujui sebelumnya.
Sedangkan Debitur tidak dapat mengalihkan
pinjamannya kepada pihak lain tanpa adanya
persetujuan dari Bank.

Klausula Kelalaian

Payment Default/ lalai membayar kembali kewajibannya;


Pelanggaran atas ketentuan Perjanjian;
Memberikan informasi yang tidak benar;
Keadaan keuangan, bonafiditas dan solvabilitas Debitur mundur sedemikian rupa
yang dapat mengakibatkan Debitur tidak dapat membayar hutangnya lagi;
Debitur dinyatakan dalam keadaan pailit atau meminta penundaan pembayaran
hutang (surseance van betaling);
Debitur dibubarkan atau mengambil keputusan untuk bubar;
Asset Debitur seluruhnya atau sebagian disita oleh instansi yang berwajib dan
dianggap menjadi berkurang sehingga dapat membahayakan Pengembalian Kredit;
Jaminan disita oleh instansi yang berwenang, atau rusak atau musnah karena sebab
apapun juga;
Debitur atau Penjamin lalai terhadap perjanjian lain terutama perjanjian yang dapat
meyebabkan Debitur wajib membayar jumlah tertentu;
Bilamana tidak dapat diperoleh salah satu atau beberapa atau seluruh ijin,
persetujuan atau wewenang, baru maupun perpanjangannya, yang dikeluarkan oleh
instansi yang berwajib dan yang disyaratkan;
Nilai asset/kekayaan milik Debitur menurut penilaian Bank menurun.

Tindakan-tindakan yang dapat diambil oleh


Bank apabila Debitur melakukan kelalaian

Menghentikan pemberian fasilitas kredit, apabila belum dicairkan

Meminta pengembalian kredit secara seketika berikut bunga dan


jumlah uang lainnya yang terhutang.

Melakukan eksekusi terhadap Jaminan apabila Debitur tidak dapat


mengembalikan pinjaman secara penuh.

Klausula Ketentuan Tambahan dan


Penutup

Pilihan Hukum (Choice Of Law)

Pilihan Forum Penyelesaian Sengketa (Choice Of Forum)

Hal Hal Lain Yang Perlu


Diperhatikan Dalam Perjanjian Kredit
Undang-undang No.8 tahun 1999 tertanggal 20 April 1999
tentang Perlindungan Konsumen (UUPK)
Pasal 18
menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan
yang berupa aturan baru, tambahan, lanjutan dan/atau
pengubahan lanjutan yang dibuat secara sepihak oleh
pelaku usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa
yang dibelinya.
menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada
pelaku usaha pembebanan hak tanggungan, hak gadai,
atau hak jaminan terhadap barang yang dibeli oleh
konsumen secara angsuran.

Jaminan
Adalah suatu yang diberikan kepada
kepada kreditur untuk menimbulkan
keyakinan
bahwa
debitur
akan
memenuhi kewajiban yang dapat
dinilai dengan uang yang timbul dari
suatu perikatan.

Asas-Asas Jaminan
Asas publicitet

Asas specialitet

Asas tak dapat dibagi bagi

Asas inbezittstelling

Asas horizontal

Jaminan Umum
Adalah jaminan dari pihak debitur yang terjadi atau timbul dari
undang-undang, yaitu bahwa setiap barang bergerak ataupun
tidak bergerak milik debitur menjadi tanggungan utangnya
kepada kreditur. Maka apabila debitur wanprestasi maka
kreditur dapat meminta pengadilan untuk menyita dan
melelang seluruh harta debitur

Jaminan Khusus
Jaminan khusus yaitu bahwa setiap jaminan utang yang
bersifat kontraktual, yaitu yang terbit dari perjanjian
tertentu, baik yang khusus ditujukan terhadap benda-benda
tertentu maupun orang tertentu.

Jaminan Perorangan
Penanggungan

Borgtocht

Jaminan
Immateriil

Definisi
Menurut Sri Soedewi M.S.
Jaminan yang menimbulkan hubungan langsung pada
perorangan tertentu, hanya dapat dipertahankan terhadap
debitur tertentu, terhadap harta kekayaan debitur umumnya
Menurut Soebekti
Suatu perjanjian antara seorang kreditur dengan orang
ketiga, yang menjamin dipenuhinya kewajiban si debitur. Ia
bahkan dapat diadakan di luar (tanpa) si berhutang (debitur)
tersebut
Menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata pasal 1820
Penanggungan ialah suatu persetujuan di mana pihak ketiga
demi kepentingan kreditur, mengikatkan diri untuk memenuhi
perikatan debitur, bila debitur itu tidak memenuhi
perikatannya

Sifat Jaminan Perorangan


Jaminan Bersifat
Perorangan
Adanya pihak ketiga (badan hukum) yang menjamin pemenuhan
prestasi manakala debiturnya wanprestasi

Bersifat Accesoir
Perjanjian yang mengikuti perjanjian pokoknya

Perjanjian dapat
dibatalkan
Perjanjian accesoirnya tidak ikut batal meskipun perjanjian pokoknya
dibatalkan, jika pembatalan tersebut sebagai akibat dari eksepsi yang
hanya menyangkut diri pribadi debitur.

Sifat Jaminan Perorangan


Bersifat sepihak
Penanggung yang harus melaksanakan kewajiban
Besarnya Penanggungan
Besarnya
penanggungan
tidak
akan
melebihi
besarnya
prestasi/perutangan pokoknya tetapi boleh lebih kecil. Jika penanggung
lebih besar maka yang dianggap sah hanya yang sebesar utang pokok
(Psl 1822 BW).

Bersifat Subsidair
Ditinjau dari sudut cara pemenuhan prestasi. Berdasarkan Ps.1820 BW
bahwa penanggung mengikatkan diri untuk memenuhi perutangan
debitur manakala debitur sendiri tidak memenuhinya

Sifat Jaminan Perorangan


Beban pembuktian
Beban pembuktian yang ditujukan ke si berutang dalam batas-batas
tertentu juga mengikat si penanggung.
Penanggungan yang
diberikan
Penanggungan diberikan untuk menjamin pemenuhan perutangan yang
timbul dari segala macam hubungan hukum baik yang bersifat perdata
maupun yang bersifat hukum publik, asalkan prestasi tersebut dapat
dinilai dalam bentuk uang.

Bentuk Perjanjian Penanggungan

Bentuk Perjanjian Penanggungan menurut


ketentuan Undang-Undang, adalah bebas tidak
terikat oleh suatu bentuk tertentu, bisa lisan
atau tertulis yang dituangkan dalam suatu akta

Fungsi dari Akta Penanggungan ini adalah :


Sebagai alat pembuktian ttg adanya penanggungan tsb oleh penanggung;
Memuat ketentuan-ketentuan ataupun janji yang mengatur perjanjian
penanggung tersebut.

Macam-macam Jaminan Perorangan

Penanggung Utama (hoofdborg) dan Penanggung Belakang


(achterborg)
Penanggung Utama
Penanggung Belakang
(hoofdborg)
(achterborg),
Berfungsi untuk menanggung
berfungsi untuk menanggung
Penanggung Utama memenuhi
debitur memenuhi
kewajibannya
kewajibannya

Macam-macam Jaminan Perorangan


Penanggung Pertama dan Penanggung Kedua
Penanggung Pertama dan Kedua bersama-sama mengikatkan diri
selaku penanggung dari suatu hutang, dimana untuk pemenuhan
prestasinya maka pihak kreditur harus menuntut pada Penanggung
Pertama terlebih dahulu. Jika Penanggung Pertama tidak mampu
memenuhi prestasi tersebut maka kreditur baru boleh menuntut
pada penanggung kedua.
Jika Penanggung Pertama telah memenuhi prestasi tersebut maka
ia hanya mempunyai hak regres pada debitur tidak pada
Penanggung Kedua. Demikian pula jika Penanggung Kedua telah
memenuhi prestasi tersebut maka ia mempunyai hak regres baik
pada debitur maupun pada Penanggung Pertama.

Macam-macam Jaminan Perorangan

Penanggung Solider
Penanggung solider adalah penanggung yang mengikatkan dirinya
bersama-sama dengan debitur untuk pemenuhan suatu prestasi
secara tanggung menanggung.
Kreditur dapat langsung menuntut pemenuhan prestasi pada
debitur maupun pada penanggung terlebih dulu dari debitur untuk
memenuhi prestasi tersebut. Jadi kedudukan penanggung dengan
debitur setara.

Macam-macam Jaminan Perorangan


Penanggung atas Pemecahan Pemenuhan Prestasi
Beberapa penanggung yang mengikatkan diri untuk bersamasama melakukan pemenuhan prestasi dari satu debitur yang
sama.
Meskipun
diatur
dalam
Ps.1836,
tetapi
masing-masing
penanggung berhak untuk menuntut agar kreditur membagi-bagi
terlebih dahulu piutangnya sehingga masing masing penanggung
hanya menanggung sebagian hutang debitur tersebut. Tuntutan
pemecahan hutang ini harus diajukan pada saat mereka digugat
untuk pertama kalinya dimuka Hakim dan sebelum melakukan
pembayaran, masing-masing penanggung berhak menuntut
kreditur untuk melakukan pemecahan piutangnya tersebut.
Jika tidak dilakukan hal ini maka ketentuan Ps. 1836 BW yang
berlaku. Jika ada satu penanggung yang telah membayar utang
tersebut maka ia dapat menuntut debitur untuk mengembalikan
pembayarannya (Hak Regres) sedangkan ia baru mempunyai hak
regres terhadap penanggung-penanggung lainnya jika ia

Penanggung Utang
Alasan perjanjian penanggungan utang
Si penanggung mempunyai persamaan kepentingan ekonomi dalam usaha
dari peminjam (ada hubungan kepentingan antara penjamin dan peminjam),

Disyaratkan dlm perjanjian pokok debitur

Disyaratkan dalam ketentuan atau undang-undang.

Penanggung Utang
Akibat-akibat penanggungan utang antara kreditur
dan penanggungnya
Pada prinsipnya, penganggung utang tidak wajib membayar utang debitur
pada kreditur, kecualidebitur lalaimembayar utangnya

Untuk membayar utang debitur tersebut, maka barang kepunyaan debitur


harus disita dan dijual terlebih dahulu untuk melunasi hutangnya (pasal 1831
KUHPerdata)

Penanggung Utang
Akibat-akibat penanggungan utang antara kreditur
dan penanggungnya
Penanggungan tidak dapat menuntut supaya barang milik debitur lebih
dahulu disita dan dijual untuk melunasi hutangnya, jika:
Dia (penanggung utang) telah melepaskan hak istimewanya untuk
menuntut barang-barang debitur lebihdahulu disita dan dijual;
Ia telah mengikatkan dirinya bersama-sama dengan debitur utama secara
tanggung menanggung, dalam hal itu akibat-akibat perikatannya diatur
menurut asas asas utang-utang tanggung-menanggung;
Debitur dapat mengajukan suatu eksepsi yang hanya mengenai dirinya
sendiri secara pribadi;
Debitur dalam keadaan pailit; dan
Dalam hal penanggungan yang diperintahkan hakim (pasal
1832KUHPerdata)

Penanggung Utang
Akibat-akibat penanggungan antara debitur dan
penanggung dan antara para penanggung
Hubungan hukum antara penanggung dengan debitur utama adalah erat
kaitannya dengan telah dilakukannya pembayaran debitur kepada kreditur.
Untuk itu, pihak penanggung menuntut kepada debitur supaya membayar
apa yang telah dilakukan oleh penanggung kepada kreditur. Disamping
penanggung utang juga berhak menuntut:
Pokok dan bunga
Penggantian biaya,kerugian,dan bunga.
Disamping itu, penanggung juga dapat menuntut debitur untuk diberikan ganti rugi
atau untuk dibebaskan dari suatu perikatannya bahkan sebelum ia membayar
utangnya:
Bila ia digugat dimuka hakim untuk membayar
Bila debitur berjanji untuk membebaskannya dari penanggungannya pada suatu
waktu tertentu
Bila utangnya sudah dapat ditagih karena lewatnya jangka waktu yang telah
ditetapkan untukpembayarannnya
Setelah lewat waktu 10 tahun, jika perikatan pokoktidak mengandung suatu jangka
waktu tertentu untuk pengakhirannya, kecuali bila perikatan pokok sedemikian
sifatnya, sehingga tidak dapat diakhiri sebelum lewat waktu tertentu.

Penanggung Utang
Hapusnya penanggungan
Hapusnya penanggungan hutang diatur dalam pasal 1845-1850 KUHPerdata.
Di dalam pasal 1845 KUHPerdata disebutkan bahwa perikatan yang timbul
karena penanggungan, hapus karena sebab-sebab yang sama dengan yang
menyebabkan berakhirnya perikatan lainnya, pasal ini menunjuk kepada
pasal 1381,1408, 1424, 1420, 1437, 1442, 1574, 1846, 1938, dan 1984
KUHPerdata.
Didalam pasal 1381,ditentukan 10 cara berakhirnya perjanjian
penanggungan utang yaitu pembayaran; penawaran pembayaran tunai,
diikuti dengan penyimpangan atau penitipan; pembaruan hutang;
kompensasi hutang; pencampuran hutang; pembebasan utang; musnahnya
barang terutang; kebatalan atau pembatalan; dan berlakunya syarat
pembatalan.

Hak-hak istimewa yang dimiliki oleh


Penjamin
Hak meminta agar pemenuhan utang debitur dilakukan dengan cara menyita
dan selanjutnya menjual harta debitur terlebih dahulu. Jika setelah dihitung
ternyata harta debitur masih kurang, kreditur baru meminta kepada
penjamin untuk membayar kekurangan utang yang belum terpenuhi (pasal
1831 KUHPerdata).
Melakukan perjumpaan utang sebagaimana dimaksud dalam pasal 1430
KUHPerdata. Penjamin berhak melakukan perjumpaan utang antara kreditur
dan debitur. Dengan demikian, bisa menyebabkan utang debitur kepada
kreditur lunas karena debitur punya piutang yang besarnya sama dengan
utangnya kepada kreditur.
Atas permintaan penjamin, kreditur tidak diwajibkan menjual ataupun
menyita harta debitur (pasal 1833 KUHPerdata).
Dalam hal yang bertindak sebagai penjamin terdiri dari beberapa orang atau
beberapa perusahaan, para penjamin tersebut berhak meminta pemecahaan
terhadap utang yang ditanggung secara bersama-sama, sesuai dengan
proporsinya masing-masing.Pemecahan kewajiban pemenuhan utang oleh
penjamin tersebut dapat dilakukan atas inisiatif dari kreditur (Pasal 18371838 KUHPerdata).

Hak-hak istimewa yang dimiliki oleh


Penjamin

Penjamin berhak meminta ganti rugi kepada debitur atau dibebaskan


Penjamin
berhak meminta ganti rugi kepada debitur atau dibebaskan dari
dari kewajibannya untuk memberikan jaminan perseorangan/perusahaan
kewajibannya untuk memberikan jaminan perseorangan/perusahaan kepada
kepada kreditur atas utang debitur yang bersangkutan.Hal tersebut
krediturberlaku
atas utang
jika: debitur yang bersangkutan.Hal tersebut berlaku jika:
Penjamin digugat di muka hakim untuk memenuhi pembayaran utang debitur.
Terdapat perjanjian antara debitur dan penjamin bahwa setelah lewat jangka
waktu tertentu, penjamin akan dibebaskan dari kewajibannya menjamin utang
debitur.
Dalam perjanjian kredit tidak ditetapkan lamanya penjamin harus menanggung
utang debitur kepada kreditur sehingga penjamin dapat meminta untuk berhenti
bertindak sebagai penjamin setelah lewat dari 10 tahun, kecuali untuk penjaminan
yang berhubungan dengan perwalian.
Bila uangnya sudah dapat ditagih karena lewatnya jangka waktu yang telah
ditetapkan untuk pembayarannya

Penjamin
Penjamin
berhakberhak
mengajukan
segala
bantahandapat
digunakan
mengajukan
segala
bantahandapat
digunakanoleh
oleh
kreditur.Bantahan
tersebut
tidak
boleh
hanya
berkaitan
debitur debitur
kepadakepada
kreditur.Bantahan
tersebut
tidak
boleh
hanya
berkaitan
KUHPerdata).
dengan dengan
pribadipribadi
debiturdebitur
(pasal(pasal
18471847
KUHPerdata).

Penjamin berhak menuntut debitur agar memenuhi kewajibannya


kepada
kreditur
atau menuntut
debitur
agar melepaskan
penjamin
dari
Penjamin
berhak
menuntut
debitur agar
memenuhi
kewajibannya
kepada
membayar
utang
debitur
kepada kreditur
(pasal
1850
krediturkewajiban
atau menuntut
debitur
agar
melepaskan
penjamin
dari
kewajiban
KUHPerdata).
membayar
utang debitur kepada kreditur (pasal 1850 KUHPerdata).

Jaminan kebendaan

Jaminan Kebendaan
Adalah jaminan yang berupa hak mutlak atas
suatu benda, mempunyai hubungan langsung
atas
benda
tertentu
debitur,
dapat
dipertahankan
terhadap
siapapun,
selalu
mengikuti bendanya (droit de suite) dan dapat di
peralihkan. Jaminan kebendaan kemudian dibagi
menjadi dua jenis yaitu :
Benda Bergerak, lembaga jaminannya adalah :
Gadai, Fidusia
Benda Tidak Bergerak, lembaga jaminannya :
Hypotik dan hak tanggungan

Gadai
Adalah suatu hak yang diperoleh kreditor (si
berpiutang) atas suatu barang bergerak, yang
diserahkan kepadanya oleh debitur (si berutang),
atau oleh seorang lain atas namanya, dan yang
memberikan kekuasaan kepada kreditor itu untuk
mengambil pelunasan dari barang tersebut secara
didahulukan daripada kreditur-kreditur lainnya,
dengan kekecualian biaya untuk melelang barang
tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untuk
menyelamatkannya setelah barang itu digadaikan,
biaya-biaya mana harus didahulukan. (Pasal 1150
KUHPerdata)

Hak Penerima Gadai


Menerima angsuran pokok pinjaman dan bunga sesuai dengan jangka waktu
yg ditentukan.

Menjual barang gadai, jika pemberi gadai tidak memenuhi kewajibannya


setelah lampau waktu atau setelah dilakukan peringatan untuk pemenuhan
janjinya.

Kewajiban Penerima Gadai


menjaga barang yang digadaikan sebaikbaiknya
tidak diperkenankan mengalihkan barang yang
digadaikan menjadi miliknya, walaupun pemberi
gadai wanprestasi (Pasal 1154 KUH Perd.)
memberitahukan kepada pemberi gadai tentang
pemindahan barangbarang gadai (Pasal 1156
KUH Perd.)
bertanggung jawab atas kerugian atau susutnya
barang gadai, sejauh hal itu terjadi akibat
kelalaiannya (Pasal 1157 KUH Perd.).

Hak Pemberi Gadai


menerima sisa hasil penjualan barang
gadai
setelah
dikurangi
biaya
pinjaman dan biaya-biaya lainnya.
mendapatkan kembali barang gadai,
setelah ia melunasi pinjaman.
menuntut
ganti
kerugian
dari
kerusakan dan hilangnya barang
gadai, apabila hal itu disebabkan
kelalaian penerima gadai.

Kewajiban Pemberi Gadai


menyerahkan barang gadai kepada
penerima gadai
membayar pokok dan bunga hutang
kepada penerima gadai
membayar biaya yang dikeluarkan
oleh
penerima
gadai
untuk
menyelamatkan
barangbarang
gadai (Pasal 1157 KUH Perd.)

Hapusnya Gadai
Hak gadai hapus apabila hutang telah dibayar oleh
si berutang.
Objek Gadai berada di tangan si berutang
Keluar dari kekuasaan penerima gadai atau
dilepaskan dari kekuasaan penerima gadai
Karena persetujuan gadai bersifat accessoir yang
jika perjanjian pokok berakhir maka dengan
sendirinya gadai pun berakhir
Barang gadai menjadi milik dari si pemegang gadai
atas kesepakatan atau persetujuan dari si pemberi
gadai (pengalihan hak milik atas kesepakatan).

Hak Tanggungan
Adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria,
berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang
merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk
pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan
yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap
kreditor- kreditor lainnya.

Sifat Hak Tanggungan


Memberikan kedudukan yang diutamakan
atau mendahului kepada pemegangnya
Selalu mengikuti objek yang dijaminkan di
tangan siapapun objek itu berada
Memenuhi asas spesialitas dan asas
publisitas, sehingga dapat mengikat pihak
ketiga dan memberikan kepastian hukum
kepada pihak yang berkepentingan
Hak tanggungan merupakan perjanjian
accesoir.

Objek Hak Tanggungan


Berdasarkan Pasal 4 UU No 4 Tahun 1996 tentang Hak
Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan
Dengan Tanah, yang menjadi Objek Hak Tanggungan adalah :
Hak milik
Hak guna usaha
Hak guna bangunan
Hak pakai atas tanah negara, yang menurut ketentuan
yang berlaku wajib didaftar dan menurut sifatnya dapat
dipindah tangankan dapat juga dibebani dengan hak
tanggungan.

Subjek Hak Tanggungan


1. Pemberi Hak Tanggungan
Adalah orang perseorangan atau badan hukum yang
mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum
terhadap objek hak tanggungan yang bersangkutan.
2. Pemegang Hak Tanggungan
Pemegang hak tanggungan adalah orang perseorangan atau
badan hukum yang berkedudukan sebagai pihak yang
berpiutang

Pembebanan Hak
Tanggungan
Proses pembebanan Hak Tanggungan dilaksanakan melalui
dua tahap kegiatan, yaitu:

tahap pemberian Hak Tanggungan, dengan dibuatnya Akta


Pemberian Hak Tanggungan oleh Pejabat Pembuat Akta
Tanah, untuk selanjutnya disebut PPAT, yang didahului
dengan perjanjian utang-piutang yang dijamin.
tahap pendaftarannya oleh Kantor Pertanahan, yang
merupakan
saat
lahirnya
Hak
Tanggungan
yang
dibebankan.

Peralihan Hak Tanggungan


Jika piutang yang dijamin dengan Hak Tanggungan beralih
karena cessie, subrogasi, pewarisan, atau sebab-sebab lain, Hak
Tanggungan tersebut ikut beralih karena hukum kepada kreditor
yang baru
Peralihan twajib didaftarkan oleh kreditor yang baru kepada
kantor pertanahan.
Kantor pertanahan mencatat pada buku tanah Hak Tanggungan
dan buku tanah hak atas tanah yang menjadi obyek Hak
Tanggungan serta menyalin catatan tersebut pada sertifikat Hak
Tanggungan dan sertifikat hak atas tanah yang bersangkutan
Tanggal pencatatannya adalah hari ke 7 setelah berkas-berkas
pendaftaran diterima secara lengkap dan beralihnya Hak
Tangguhan mulai berlaku bagi pihak ketiga pada hari
pencatatan tersebut.

Hapusnya Hak Tanggungan


Hapusnya/lunasnya hutang yang dijamin dengan
hak tanggungan.
Dilepaskannya hak tanggungan oleh pemegang
hak tanggungan.
Pembersihan hak tanggungan berdasarkan
penetapan peringkat oleh Ketua Pengadilan
Negeri.
Hapusnya hak atas tanah yang dibebani hak
tanggungan

Eksekusi Hak Tanggungan


Objek Hak Tanggungan dapat dijual melalui pelelangan
umum dan selanjutnya mengambil pelunasan piutangnya
dari hasil penjualan itu lebih dahulu daripada kreditorkreditor yang lain.
Atas kesepakatan pemberi dan pemegang Hak Tanggungan,
penjualan dapat dilaksanakan di bawah tangan.
Penjualan hanya dapat dilakukan setelah lewat waktu 1
bulan sejak diberitahukan secara tertulis oleh pemberi
dan/atau pemegang Hak Tanggungan dan diumumkan
sedikit-dikitnya dalam 2 (dua) surat kabar yang beredar di
daerah yang bersangkutan dan/atau media massa setempat,
serta tidak ada pihak yang menyatakan keberatan.
Eksekusi yang bertentangan dengan ketentuan tersebut
dianggap batal demi hukum

Pencoretan Hak Tanggungan


(Roya)
Setelah hak tanggungan hapus, selanjutnya kantor
pertanahan
akan
mencoret
catatan
Hak
Tanggungan ( Roya ) itu dalam buku tanah dan
sertipikatnya. Deangan hapusnya Hak Tanggungan,
sertipikat Hak Tanggungan akan ditarik oleh kantor
pertanahan dan bersama buku tanah hak
tanggungan dinyatakan tidak berlaku lagi.

Sanksi Administratif
Pejabat yang melanggar atau lalau dalam
memenuhi ketentuan sebagaimana diatur dalam UU
No 4 Tahun 1996 mengenai Hak Tanggungan maka
dapat dikenai sanksi administrative berupa
Teguran lisan
Teguran tertulis
Pemberhentian sementara dari jabatan
Pemberhentian dari jabatan

HIPOTEK

Menurut Pasal 1162 BW,


Hipotek adalah suatu hak kebendaan atas barang tak bergerak yang
dijadikan jaminan dalam pelunasan suatu perikatan. Hak itu pada hakikatnya
tidak dapat dibagi-bagi, dan diadakan atas semua barang tak bergerak yang
terikat secara keseluruhan, atas masing-masing dari barang-barang itu, dan
atas tiap bagian dari barang-barang itu. Barang-barang tersebut tetap
memikul beban itu meskipun barang-barang tersebut berpindah tangan
kepada siapa pun juga.

Selain itu, terdapat ketentuan bahwa kapal laut yang berukuran paling sedikit
20 m3 isi kotor ke atas dapat di-hipotik. Pasal 314 ayat 1 KUHD:
Kapal-kapal Indonesia yang ukurannya paling sedikit dua puluh meter kubik
isi kotor dapat didaftarkan di suatu daftar kapal sesuai dengan peraturanperaturan yang akan diberikan dengan ordonasi tersendiri.

Dan mengenai hipotiknya disebutkan di Pasal 314 ayat 3 KUHD:


Atas kapal-kapal yang terdaftar dalam daftar kapal, kapal-kapal yang
sedang dibuat dan bagian-bagian dalam kapal-kapal yang demikian itu,
dapat diadakan hipotik.

Sifat-Sifat Hipotik

Adapun sifat-sifat hipotik yaitu:


1. Hipotik merupakan perjanjian yang accessoir, artinya bahwa
perjanjian hipotik itu merupakan perjanjian tambahan terhadap
perjanjian pokoknya yaitu perjanjian pinjam mengganti (kredit),
sehingga perjanjian hipotik itu tidak dapat berdiri sendiri tanpa
adanya perjanjian pokok tersebut.
2. Hipotik ini tidak dapat dibagi-bagi, artinya bahwa hipotik itu
akan selalu melekat sebagai jaminan sampai hutang yang
bersangkutan seluruhnya dilunasi oleh debitur.
3. Hipotik bersifat zaaksgevolg (droit de suitei), artinya bahwa
hak hipotik akan selalu melekat pada benda yang dijaminkan
dimanapun atau pada siapapun benda tersebut berada.
4. Hipotik mempunyai sifat lebih didahulukan pemenuhannya dari
piutang lainnya.
.

Cara Mengadakan Hipotik

Menurut ketentuan pasal 1171 KUH Perdata, hipotik hanya dapat


diberikan dengan suatu akta otentik, kecuali dalam hal-hal yang
dengan tegas ditunjuk oleh undang-undang. Dari ketentuan Pasal
1171 KUH Perdata tersebut berarti .kalau seseorang akan memasang
hipotik, maka perjanjian pemasangan hipotik harus dibuat dalam
bentuk akta resmi. Seperti dalam hal hipotik atas tanah maka
perjanjian pemasangan atau pembebanannya harus dibuat oleh
Pejabat Pembuat Akte Tanah (PPAT) setempat. Sedang yang dapat
menjadi PPAT ialah:
Notaris yang telah ditunjuk oleh Menteri Dalam Negeri menjadi PPAT.
Mereka yang bukan notaris, tetapi yang telah ditunjuk oleh Menteri
Dalam Negeri menjadi PPAT.
Camat yang secara ex officio menjadi PPAT.

Cara Mengadakan Hipotik

Contoh lain ialah hal hipotik atas kapal, maka yang


berwenang membuat akte pemasangan hipotik ialah
Pejabat Pendaftaran dan Pencatatan
Balik Nama di
.
tempat kapal yang bersangkutan didaftarkan. Akte hipotik
itu harus didaftarkan di Kantor Pendaftaran Tanah
setempat dan di Kantor Pendaftaran

Isi Akta Hipotik


Isi yang bersifat wajib, yaitu berisi hal-hal yang wajib dimuat, misalnya
tanah itu harus disebutkan tentang letak tanah yang bersangkutan, luasnya
jenis dari tanah tersebut (sawah, tegalan, pekarangan dan sebagainya),
status tanah, subur atau tidaknya, daerah banjir atau bukan dan sebagainya.
Jika terkait bangunan, maka harus disebutkan tentang letak bangunan,
ukuran bangunan, model/jenis bangunan, konstruksi bangunan serta
keadaan/kondisi
bangunan
(Pasal
1174
KUH
Perdata).
Isi yang bersifat fakultatif, yaitu tentang hal-hal yang boleh dimuat atau
tidak dimuat di dalam akte tersebut. Dan ini biasanya berupa janjijanji/bedingen antara pemegang dan pemberi hipotik, seperti janji untuk
menjual benda atas kekuasaan sendiri, janji tentang sewa, janji tentang
asuransi dan sebagainya. Namun meskipun janji-janji/bedingen tersebut
merupakan isi akte hipotik yang bersifat fakultatif, pada umumnya selalu
dicantumkan pada akte hipotik tersebut. Hal ini dilakukan dengan maksud
agar bila di kemudian hari timbul hal-hal yang tidak diharapkan sudah jelas
pembuktiannya.

Janji - Janji (Bedingen) dalam Hipotik

Janji untuk menjual benda atas kekuasaannya sendiri apabila hutang


pokoknya
tidak
dilunasi
(pasal
1178
BW)
Pemegang hipotik yang pertama diberi kemungkinan untuk minta ditetapkan suatu jani
bahwa pemegang hipotik diberi kekuasaan yang tidak dapat dicabut kembali untuk
menjual benda yang dihipotikkan atas kekuasaan sendiri tanpa perantaraan
Pengadilan, manakala debitur tidak memenuhi kewajiban. Dengan syarat bahwa
penjualan benda itu setelah dikurangi dengan piutangnya dikembalikan kepada debitur.
Janji tentang sewa (pasal 1185 BW)
Pemberi hipotik dibatasi dalam kekuasaannya untuk menyewakan benda yang dibebani
tanpa ijin pemegang hipotik mengenai cara maupun waktunya.
Janji untuk tidak dibersihkan (pasal 1210 BW)
Janji ini diberikan kepada semua pemegang hipotik dengan syarat diadakan dalam
penjualan secara sukarela yang dikehendaki oleh pemilik bendanya. Janji untuk tidak
dibersihkan hanya dapat dilakukan oleh pemegang hipotik pertama

Janji - Janji (Bedingen) dalam Hipotik

Janji tentang Asuransi (pasal 297 KUHD)


Perjanjian bahwa terhadap benda objek hipotik yang diasuransikan jika kemudian
tertimpa kebakaran, banjir, dan sebagainya, maka uang asuransi harus diperhitungkan
untuk pembayaran piutang pemegang hipotik

Hapusnya Hipotek

Pasal 1209 BW menyebutkan bahwa hipotek dapat hapus:


1) karena hapusnya perikatan pokoknya
2) karena pelepasan hipotek itu oleh kreditur;
3) karena pengaturan urutan tingkat oleh Pengadilan, dan seterusnya.
Penetapan tingkat oleh hakim tersebut karena adanya pembersihan
tanahnya dari beban-beban hipotik.

JAMINAN FIDUSIA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK
INDONESIA
NOMOR 42 TAHUN 1999 TENTANG
JAMINAN FIDUSIA

Pengertian
Jaminan Fidusia adalah hak jaminan atas benda
bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak
berwujud dan benda tidak bergerak khususnya
bangunan yang tidak dapat dibebani hak
tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undangundang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak
Tanggungan
yang tetap berada dalam penguasaan Pemberi
Fidusia, sebagai agunan bagi pelunasan utang
tertentu, yang memberikan kedudukan yang
diutamakan kepada Penerima Fidusia terhadap
kreditor lainnya.

Pembebanan Jaminan
Fidusia
Pembebanan Benda dengan Jaminan
Fidusia dibuat dengan akta notaris
dalam bahasa Indonesia dan
merupakan akta Jaminan Fidusia.
Terhadap pembuatan akta Jaminan
Fidusia, dikenakan biaya yang
besarnya diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Pemerintah.

Pembebanan Jaminan
Fidusia

Pembebanan Jaminan
Fidusia

Pembebanan Jaminan
Fidusia
Jaminan Fidusia dapat diberikan
kepada lebih dari satu Penerima
Fidusia atau kepada kuasa atau wakil
dari Penerima Fidusia tersebut.
Kecuali diperjanjikan lain:
Jaminan Fidusia meliputi hasil dari
benda yang menjadi obyek jaminan
Fidusia.
Jaminan Fidusia meliputi klaim asuransi,
dalam hal benda yang menjadi obyek
Jaminan Fidusia diasuransikan.

Pendaftaran Jaminan Fidusia


Benda yang dibebani dengan Jaminan Fidusia
wajib didaftarkan
Pendaftaran Jaminan fidusia dilakukan pada
Kantor Pendaftaran Fidusia.
Kantor Pendaftaran Fidusia mencatat Jaminan
Fidusia dalam Buku Daftar Fidusia pada tanggal
yang sama dengan tanggal penerimaan
permohonan pendaftaran.
Jaminan Fidusia lahir pada tanggal yang sama
dengan tanggal dicatatnya jaminan Fidusia
dalam Buku Daftar Fidusia.

Pengalihan Jaminan Fidusia


Pengalihan hak atas piutang yang
dijamin dengan fidusia
mengakibatkan beralihnya demi
hukum segala hak dan kewajiban
Penerima Fidusia kepada kreditor
baru.

Pengalihan Jaminan Fidusia


Jaminan Fidusia tetap mengikuti
Benda yang menjadi obyek Jaminan
Fidusia dalam tangan siapapun
Benda tersebut berada, kecuali
pengalihan atas benda persediaan
yang menjadi obyek Jaminan Fidusia.

Hapusnya Jaminan Fidusia

Hak Mendahului
Penerima Fidusia memiliki hak yang
didahulukan terhadap kreditor
lainnya.
Apabila atas Benda yang sama
menjadi obyek Jaminan Fidusia lebih
dari 1 perjanjian Jaminan Fidusia,
maka hak yang didahulukan
diberikan kepada pihak yang lebih
dahulu mendaftarkannya pada
Kantor Pendaftaran Fidusia.

TERIMA KASIH