Anda di halaman 1dari 7

Nama Peserta : dr.

Egenia Birgita
Nama Wahana : RSAU dr. Esnawan Antariksa
TOPIK : Kasus Medikolegal
Tanggal (kasus) : 7 Oktober 2015
Nama Pasien
: Tn. EW
No. RM : 015795
Tanggal Presentasi : 4 November 2015
Pendamping : dr. Hambrah Sri Atriadewi
Tempat Presentasi : RSAU dr. Esnawan Antariksa
OBJEKTIF PRESENTASI
o Keilmuan
o Keterampilan
o Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
o Masalah
o Istimewa
o Neonatus
o Bayi
o Anak
o Remaja
Dewasa
o Lansia o Bumil
o Deskripsi :
Laki-laki 47th, sesak napas makin memberat 4 jam SMRS, riwayat cuci darah 11 kali karena
gagal ginjal kronik, minum berlebihan hari ini, menolak dirujuk untuk mendapatkan terapi lebih
lanjut.
o Tujuan:
1. Mengetahui etika kedokteran dan hokum kesehatan berkaitan dengan persetujuan dan
penolakan tindakana medic.
Bahan

Tinjauan o Riset
Kasus
o Audit
Bahasan
Pustaka
Cara Membahas o Diskusi

Presentasi o E-mail
o Pos
dan Diskusi
DATA PASIEN
Nama : Tn. EW
No Registrasi : 015795
Nama klinik : RSAU dr. Esnawan Telp : Terdaftar sejak : 7 Oktober
Antariksa
2015
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis : Penolakan Tindakan Medik pada Kegawatan CKD
2. Gambaran Klinis : Laki-laki 47th, sesak napas makin memberat 4 jam SMRS, oedem
ekstremitas inferior (+), riwayat cuci darah 11 kali karena gagal ginjal kronik, minum
berlebihan hari ini, menolak dirujuk untuk mendapatkan terapi lebih lanjut..
3. Riwayat Pengobatan : pasien sudah menjalani hemodialisa rutin 2x/minggu, sebanyak
total 11 kali sejak divonis menderita gagal ginjal kronis (CKD).
4. Riwayat Kesehatan/ Penyakit : pasien menderita hipertensi dan tidak minum obat secara
teratur. Pasien sering mengkonsumsi Hemaviton dan Kratingdaeng sebelum menderita
gagal ginjal.
5. Riwayat Keluarga :
Riwayat penyakit jantung/kencing manis/hipertensi : disangkal
6. Riwayat Pekerjaan : pasien sehari-hari bekerja sebagai pegawai swasta.
7. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik : Pasien tinggal dengan istrinyanya, memiliki 2
orang anak.
DAFTAR PUSTAKA:
0

1. Syahrul, M. 2012. Penegakan Hukum dan Perlindungan Hukum, Bagi Dokter yang
Diduga Melakukan Malpraktek. Bandung: Karya Putra Darwati.
2. Syarifuddin, Musakkir, Arie, M. 2013. Efektivitas Pelaksanaan Perjanjian Terapeutik
Kaitannya
dengan
Persetujuan
dan
Penolakan
Tindakan
Kedokteran.
http://pasca.unhas.ac.id/jurnal/files/af41115ea4cfb47c0ddb0585334f68e7.pdf.
(14 Januari 2014).
3. Yusuf, H. M. 2009. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan. Jakarta: EGC.
HASIL PEMBELAJARAN:
1. Pengertian Persetujuan Tindakan Medis (Informed consent/PTM)
2. Bentuk PTM
3. Persetujuan dan penolakan tindakan medic oleh pasien/keluarga
Rangkuman hasil pembelajaran Portofolio
1. SUBYEKTIF
a. Keluhan utama : sesak napas
b. Riwayat Penyakit Sekarang :
Anamnesis diperoleh melalui autoanamnesis terhadap pasien.
Pasien mengeluh sesak napas yang semakin memberat sejak 4 jam SMRS, sesak tidak
dipengaruhi oleh perubahan posisi, cuaca/ udara dingin, ataupun debu. Pasien mengaku
batuk-batuk jika posisi berbaring. Keringat dingin (+). Riwayat cuci darah 2x/minggu,
saat ini sudah menjalani total 11 kali cuci darah, dan terakhir cuci darah 2 hari yang lalu.
pasien direncanakan akan cuci darah besok pagi, dan hari ini pasien mengaku minum
terlalu berlebihan. BAK sedikit-sedikit dan BAB tidak ada keluhan. Pasien menolak
dirujuk karena tidak dapat dilakukan HD Cito dan hanya minta dipasang O2 saja sambil
menunggu esok cuci darah karena hendak berangkat sendiri.
c. Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat penyakit serupa (+) tanggal 24 Maret 2015
Riwayat darah tinggi (+) tidak rutin minum obat anti-hipertensi.
Riwayat kencing manis disangkal.
Riwayat penyakit jantung disangkal.
2. OBYEKTIF
a. Keadaan umum : Composmentis, GCS E4V5M6, tampak sesak napas.
b. Tanda vital :
TD : 180/100 mmHg
Nadi : 112x/menit
RR : 32x/menit
c. Berat badan : 65 kg
d. Kulit : Ikterik (-), turgor (+) normal, kulit kering (-), anemis (-), petechiae (-).
e. Kepala : Bentuk mesocephal, rambut warna hitam tidak mudah dicabut, luka (-).
f. Mata : Konjunctiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), perdarahan subkonjugtiva (-/-), pupil
isokor dengan diameter (3 mm / 3 mm), reflek cahaya (+/+), edema palpebra (-/-),
1

g.
h.

i.

j.

k.

strabismus (-/-), arcus senilis (-/-).


Thorax : Bentuk normochest, simetris, retraksi intercostal (+), spider nevi (-), sela iga
melebar (-), pembesaran KGB axilla (-/-).
Cor :
I : IC tidak tampak
P : IC tidak kuat angkat, IC teraba di SIC V 1 cm lateral LMCS
P : batas jantung kesan melebar caudolateral
A : HR = 112x/menit, BJ I-II murni, intensitas normal, reguler, gallop (+) di apex, bising
(-).
Pulmo :
I : Simetris, pengembangan dada kanan = kiri
P : fremitus raba kanan = kiri
P : sonor/sonor
A : SDV (+/+), RBH (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen :
I : dinding perut sejajar dinding dada
A : bising usus (+) normal
P : timpani
P : supel, nyeri tekan (-), hepar/lien tidak teraba.
Ekstremitas:
Akral dingin (-/-), oedem (+/+) ekstremitas inferior

3. ASSESMENT
Diagnosis kerja : Observasi dispneu pada CKD e/c suspek hipervolemia dd asidosis
metabolik
Masalah : Penolakan Tindakan Medik pada Kegawatan CKD

PERSETUJUAN DAN PENOLAKAN TINDAKAN KEDOKTERAN


Dalam ketentuan Pasal 45 No.29 Tahun 2004 tentang Praktik kedokteran. Ketentuan
mengenai tata cara persetujuan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri. Beberapa
alasan sehingga persetujuan tindakan kedokteran sangat penting dilakukan karena: Sebagai alat
bukti ketika terjadi kasus, Sebagai bentuk persetujuan pasien terhadap tindakan dokter, Sebagai
bukti pasien tahu akan tindakan medik yang telah diambil dan risiko dari tindakan tersebut,
Sebagai alat legalitas dari tindakan dokter, Bukti otentik dan adminstrasi sehingga mudah untuk
2

dicari, Mempermudah kinerja dokter, Sebagai bukti dari pelaksanaan kewajiban dokter, Sebagai
bukti hitam di atas putih atas risiko dan tindakan, dan Sebagai surat keterangan mengenai
penyakit pasien.
Hal ini berhubungan dengan Pasal 45 ayat (2), Undang-Undang No.29 Tahun 2004 tentang
praktik kedokteran yaitu : Persetujuan yang diberikan oleh pasien setelah mendapatkan
penjelasan secara lengkap dan diatur juga dengan Pasal 45 ayat (3) Nomor 29 Tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran, dimana pengertiannya bahwa persetujuan (untuk perawatan) tanpa
ada informasi mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan penyakitnya tidaklah sah
menurut hukum.
Sesuai dengan pasal 58 Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yaitu
ayat (1) Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang tenaga kesehatan dan/atau
penyelenggaraan kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam
pelayanan kesehatan yang diterimanya. (2) Tuntutan ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang melakukan tindakan penyelamatan nyawa atau
pencegahan kecacatan seseorang dalam keadaan darurat. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai
tatacara dan pengajuan tuntutan sebagaimana disebut dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
Perikatan atau perjanjian terapeutik antara dokter atau dokter gigi dengan pasien, maka
prestasi yang harus dipenuhi oleh dokter adalah kesungguhan, kecermatan, kehatihatian dengan
didasarkan pada keilmuan kedokterannya dan keterampilan serta pengalamannya sebagai dokter
dalam melakukan tindakan medis.
Tingkat pendidikan masyarakat yang rendah, sangat berpengaruh pada kemampuannya
untuk memahami suatu hukum yang mengatur hak dan kewajiban mereka sebagai anggota
masyarakat, termasuk dalam hal perjanjian terapeutik. Selain itu kualitas pendidikan yang
diberikan di sekolah dan perguruan tinggi juga lemah. Pada akhirnya hal ini berpengaruh pada
pemahamannya mengenai perjanjian terapeutik antara dokter dan pasien. Faktor sosial ekonomi
mempunyai hubungan erat dengan status pekerjaan. Dengan pekerjaan seseorang yang tidak
menentu, rasanya agak susah untuk membiayai kebutuhannya sehari-hari, apalagi jika seseorang
itu sudah berkeluarga atau berumah tangga. Pengaruh wilayah domisili dengan pelaksanaan
perjanjian terapeutik erat kaitannya. Masyarakat yang berdomisili diperkotaan secara umum telah
mengetahui aturan tentang perjanjian terapeutik, sedangkan masyarakat yang berdomisili di
3

pedesaan tidak terlalu mengetahui tentang perjanjian terapeutik.


Faktor utama sehingga masyarakat kurang paham terhadap perjanjian terapeutik karena
kurangnya sosialisasi tentang penting pengisian informed consent, dikemudian hari kalau sudah
bersentuhan dengan hukum. Masyarakat kurang paham tentang perjanjian tersebut karena cuma
berfikir bagaimana secepatnya keluarganya dapat ditolong dan tidak pernah terlintas dalam
fikirannya bahwa dokter bisa saja berbuat kesalahan atau kehilafan.
Derajat kepatuhan masyarakat dalam perjanjian terapeutik masih rendah. Seseorang
dikatakan sangat patuh terhadap perjanjian terapeutik apabila mengisi formulir informed consent
dengan tepat waktu dan melaksanakan segala aturan yang telah ditetapkan oleh dokter sedangkan
dikatakan patuh apabila melaksanakan aturannya tapi tidak tepat waktu dalam pengembalian
formulirnya, kurang patuh apabila tidak melaksanakan aturan yang telah ditetapkan dan tidak
patuh apabila tidak memberikan persetujuan atau tanda tangan dalam formulir persetujuan
maupun dalam formulir penolakan tindakan kedokteran.
1. Pengertian Persetujuan Tindakan Medis (PTM)
PTM adalah terjemahan yang dipakai untuk istilah informed consent. Yang dimaksud
informed atau memberi penjelasan disini adalah semua keadaan yang berhubungan dengan
penyakit pasien dan tindakan medis apa yang akan dilakukan dokter serta hal-hal lain yang
perlu dijelaskan dokter atas pertanyaan pasien atau keluarga. Menurut Permenkes No. 589
tahun 1989, yang dimaksud dengan PTM adalah persetujuan yang diberikan pasien atau
keluarga atas dasar penjelasan mengenai tindakan medic yang akan dilakukan terhadap
pasien tersebut.
Dalam pengertian demikian, PTM bisa dilihat dari dua sudut, yaitu pertama membicarakan
PTM dari pengertian umum dan khusus. Dalam pengertian umum, PTM adalah persetujuan
yang diperoleh dokter sebelum melakukan pemeriksaan, pengobatan, dan tindakan medic
apapun yang akan dilakukan. Dalam pengertian khusus, PTM dikaitkan dengan persetujuan
atau izin tertulis dari pasien/keluarga pada tindakan operatif atau tindakan invasive lain yang
beresiko.
2. Bentuk PTM
Ada 2 bentuk PTM, yaitu :
a. Tersirat atau dianggap telah diberikan (impied consent)
-

Keadaan normal
4

Keadaan darurat

b. Dinyatakan (expressed consent)


-

Lisan

Tulisan

3. Persetujuan
Inti dari persetujuan adalah persetujuan haruslah didapatkan sesudah pasien mendapat
informasi yang adekuat. Yang berhak memberikan persetujuan adalah pasien yang sudah
dewasa (diatas 21 tahun atau sudah menikah) dan dalam keadaan sehat mental.
Untuk pasien dibawah umur 21 tahun, dan pasien penderita gangguan jiwa yang
menandatangani adalah orang tua/wali/keluarga terdekat atau induk semang. Untuk pasien
dalam keadaan tidak sadar, atau pingsan serta tidak didampingi oleh keluarga terdekat dan
secara emdik berada dalam keadaan gawat darurat yang memerlukan tindakan medic segera,
maka tidak diperlukan persetujuan dari siapapun (pasal 11 Bab IV PERMENKES No. 585)
4. Penolakan
Tidak selamanya pasien atau keluarga setuju dengan tindakan medic yang akan dilakukan
dokter. Dalam situasi demikian, kalangan dokter maupun kalangan kesehatan lainnya harus
memahami bahwa pasien atau keluarga mempunyai hak untuk menolak usul tindakan yang
akan dilakukan. Ini disebut sebagai informed refusal.
Tidak ada hak dokter yang dapat memaksa pasien mengikuti anjurannya, walaupun
dokter manganggap penolakan bisa berakibat gawat atau kematian pada pasien.
Bila dokter gagal dalam meyakinkan pasien pada laternatif tindakan yang diperlukan,
maka untuk keamanan dikemudian hari, sebaiknya dokter atau rumah sakit meminta pasien
atau keluarga menandatangani surat penolakan terhadap anjuran tindakan medic yang
diperlukan.
Dalam kaitan transaksi terapeutik dekter dengan pasien, pernyataan penolakan pasien
atau keluarga ini dianggap sebagai pemutusan transaksi terapeutik. Dengan demikian, apa
yang terjadi dbelakang hari tidak menjadi tangunggjawab dokter atau rumah sakit lagi.
Jakarta, 4 November 2015
Peserta

Pembimbing

(dr. Egenia Birgita)

(dr. Hambrah Sri Atriadewi)

Anda mungkin juga menyukai