Anda di halaman 1dari 22

Diare Akut

Pembimbing:
dr.Kartika Putri Pertiwi

oleh:
dr. Ines Damayanti Octaviani
3121100115159539

DOKTER INTERNSIP
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT ANGKATAN UDARA
BERTUGAS DI PUSKESMAS TEBET
PERIODE 12 FEBRUARI 2015 12 JUNI 2015

I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diare masih merupakan salah satu penyebab utama morbilitas dan mortalitas anak di
negara yang sedang berkembang. Dalam berbagai hasil Survei kesehatan Rumah Tangga
diare menempati kisaran urutan ke-2 dan ke-3 berbagai penyebab kematian bayi di
Indonesia1. Sebagian besar diare akut disebabkan oleh infeksi. Banyak dampak yang terjadi
karena infeksi seluran cerna antara lain pengeluaran toksin yang dapat menimbulkan
gangguan sekresi dan reabsorpsi cairan dan elektrolit dengan akibat dehidrasi, gangguan
keseimbangan elektrolit dan keseimbangan asam basa. Invasi dan destruksi sel epitel,
penetrasi ke lamina propria serta kerusakan mikrovili dapat menimbulkan keadaan maldiges
dan malabsorpsi2. Bila tidak mendapatkan penanganan yang adekuat pada akhirnya dapat
mengalami invasi sistemik2.
Secara umum penanganan diare akut ditujukan untuk mencegah atau menanggulangi
dehidrasi serta gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa, kemungkinan terjadinya
intolerasi, mengobati kausa diare yang spesifik, mencegah dan menanggulangi gangguan gizi
serta mengobati penyakit penyerta. Untuk melaksanakan terapi diare secara komprehensif,
efisien dan efekstif harus dilakukan secara rasional. Pemakaian cairan rehidrasi oral secara
umum efektif dalam mengkoreksi dehidrasi. Pemberian cairan intravena diperlukan jika
terdapat kegagalan oleh karena tingginya frekuensi diare, muntah yang tak terkontrol dan
terganggunya masukan oral oleh karena infeksi. Beberapa cara pencegahan dengan vaksinasi
serta pemakaian probiotik telah banyak diungkap dan penanganan menggunakan antibiotika
yang spesifik dan antiparasit3.

I.1 Tujuan
makalah ini dibuat dengan tujuan meningkatkan pengetahuan tentang diare akut pada
anak mulai dari definisi, etiologi, diagnosis, gejala, penatalaksanaan hingga pencegahan.

II. LAPORAN KASUS

DOKTER INTERNSIP
STATUS POLI UMUM
PUSKESMAS KECAMATAN TEBET
JAKARTA SELATAN

Nama : dr. Ines Damayanti Octaviani


STR

Tanda Tangan

:3121100115159539

Dr. Pembimbing : dr.Kartika Putri Pertiwi


IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap:An. Fachri
Jenis kelamin : Laki - laki
Suku bangsa : Betawi
Tanggal lahir : 30 September 2013
Alamat : jl. E no.20 RT 003/007, Asam Baris,
Kebon Baru Jakarta Selatan
Agama : Islam
Nama Ayah: Tn. Hasan
A. ANAMNESIS
Diambil dari
Tanggal
Jam

Pekerjaan : Pendidikan : No. registrasi : 200/2015


Tanggal datang : 23 Februari 2015, 09.30
WIB
Dokter yang memeriksa : dr. Ines Damayanti
Octaviani
Status perkawinan : Belum menikah

:Alloanamnesis dengan ibu pasien


:23 Februari 2015
: 10.00 WIB

Keluhan utama :
Diare sejak 1 hari sebelum datang ke Puskesmas
Keluhan tambahan :
Muntah sejak 5 jam sebelum datang ke Puskesmas.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang di bawa oleh ibunya ke poli MTBS puskesmas kecamatan Tebet
dengan keluhan diare, diare dirasakan sejak 1 hari sebelum pasien datang ke puskesmas,
diare dirasakan setelah pasien minum es teh manis yang dibeli kakak pasien di warung.
OS juga mengalami muntah sejak 5 jam sebelum OS datang ke puskesmas. Tidak
terdapat demam, tidak terdapat kejang, tidak mengigau, tidak menggigil, dan tidak ada
tanda-tanda perdarahan. BAB kurang lebih 4-5x, konsistensi berupa cairan berwarna

kuning, tidak ada lendir maupun darah. BAK 3-4x perhari, warna kuning jernih, tidak
terlihat rewel saat ingin berkemih. Nafsu makan menurun. Ibu OS mengatakan tidak ada
orang di sekitar OS yang menderita keluhan serupa.
Riwayat Penyakit Dahulu
Os sudah beberapa kali mengalami keluhan serupa jika Os jajan makanan di warung
dekat rumahnya.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga pasien yang menderita keluhan seru

Riwayat Sosial Ekonomi


Ayah OS seorang penjual makanan keliling berpenghasilan Rp.700.000,- per bulan
dengan tanggungan 2 orang. Ibu OS tidak bekerja.
Kesan : riwayat ekonomi kurang
RIWAYAT PASIEN
Pasien adalah anak kedua dari 2 bersaudara.

A. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan Anak


Pertumbuhan:
Ibu tidak ingat berat lahir dan panjang badan lahir.
Berat badan sekarang 12 kg. Tinggi badan 85 cm. Lingkar kepala 49 cm.
Perkembangan:
senyum

: ibu lupa

miring

: ibu lupa

tengkurap

: ibu lupa

duduk

: ibu lupa

gigi keluar

: ibu lupa

berdiri

: 11 bulan

berjalan

: 13 bulan

Saat ini anak berusia 23 bulan. Tidak ada gangguan perkembangan dalam
mental dan emosi. Interaksi dengan orang sekitar baik.
Kesan: pertumbuhan anak dan perkembangan anak sesuai umur
B. Riwayat Makanan
-

Usia 0- 4 bulan : diberikan ASI semau bayi

Usia 4 bulan 8 bulan : Susu Formula + bubur susu 3 x sehari, kadang nasi
tim dan lauk pauk

Usia 8 bulan - 1 tahun: susu formula + bubur tim + lauk pauk+ roti susu 3 x
sehari. Kadang-kadang ayam, daging, telur.

1 tahun sekarang: Nasi + satur + lauk pauk+ susu formula kadang-kadang


ayam, daging, telur, ikan 3xsehari.

C. Riwayat Imunisasi
VAKSIN
DASAR (umur)
ULANGAN (umur)
BCG
1 bulan
DPT/ DT
2 bulan
4 bulan 6 bulan
POLIO
0 bulan
2 bulan 4 bulan 6 bulan
CAMPAK
10 bulan
HEPATITIS B
0 bulan
1 bulan 4 bulan 6 bulan
Kesan : Imunisasi dasar lengkap dan selalu mengikuti jadwal imunisasi yang tertera pada
KMS
D. Riwayat Keluarga
Corak Reproduksi
No

usia

Jenis

Hidup

Kelamin

Abortus

Mati

Keterangan

sehat

Mati

6 tahun

perempuan

Hidup

23 bulan

Laki - laki

Hidup

E. Silsilah Keluarga

Lahir

Sakit

Silsilah atau Ikhtisar Keturunan

Keterangan :
: laki-laki
: perempuan
: meninggal
: pasien
Kesan : tidak ada anggota keluarga yang menderita keluhan seperti pasien.

B. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan tanggal 23 Februari 2015 , pukul 10.00 WIB di poli
MTBS. anak laki - laki, usia 23 bulan, berat badan sekarang 12 kg, panjang badan 85 cm,
lingkar kepala 49 cm.
Kesan umum :
Compos mentis, tampak sakit sedang, tampak lemas, sesak(-), sianosis (-), anemis (-)
Tanda vital
Tekanan darah : Tidak dilakukan pemeriksaan
Laju jantung
: 100x/menit, reguler
Pernapasan
: 40x/menit
Suhu
: 36,7C (Axilla)

Status Generalis
Kepala
Normochepali, ukuran lingkar kepala 45 cm, rambut hitam terdistribusi merata,

tidak mudah dicabut, kulit kepala tidak ada kelainan.


Mata
Mata cekung (-/-), palpebra oedem (-/-), sklera ikterik (-/-), konjungtiva anemis
(-/-), katarak kongenital (-/-), glaukoma kongenital (-/-)
Hidung
Nafas cuping hidung (-/-), bentuk normal, sekret (-/-), septum deviasi (-)
Telinga
Normotia, discharge (-/-)
Mulut
Sianosis (-), trismus (-), stomatitis (-), bercak-bercak putih pada lidah dan mukosa

(-), bibir kering (-), labioschizis (-), palatoschizis (-)

Tenggorok
Faring tidak hiperemis, T1-T1, tonsil hiperemis (-), detritus (-), granulasi (-).
Leher
Pendek, pergerakan baik, tumor(-), tanda trauma (-), pembesaran KGB (-)
Thorax
Paru
Inspeksi
:simetris dalam keadaan statis maupun dinamis, retraksi suprasternal
Palpasi

(-), subcostal (-), intercostalis (-)


: stem fremitus tidak dilakukan, aerola mammae tidak teraba, papilla

Perkusi
Auskultasi

mammae (+/+).
: Sonor pada seluruh lapang paru kiri-kanan
: suara nafas dasar vesikuler, suara nafas tambahan (-/-), ronkhi (-/-),
wheezing (-/-), hantaran (-/-)

Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: pulsasi ictus cordis tidak tampak


: ictus cordis teraba di sela iga ke-4 lateral garis mid-clav kiri
: batas jantung sulit dinilai
: bunyi jantung I-II regular, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi

:distensi (+), venektasi (-), darm contour (-), darm stifung (-), massa

Auskultasi
Palpasi

(-)
:bising usus (+) 4x/menit
:Turgor kulit baik, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba

Perkusi

membesar.
:Thympani pada ke 4 kuadran abdomen, shifting dullnes (-)

Tulang Belakang
Tidak ada spina bifida, tidak ada meningocele
Genitalia
Laki - laki,testis menggantung, rugae kasar, OUE tidak hiperemis
Anorektal
Anus (+), tidak hiperemis
Anggota gerak
Keempat anggota gerak lengkap sempurna,
Ekstremitas
Superior

Inferior

Deformitas

- /-

- /-

Akral dingin

- /-

-/-

Akral sianosis

- /-

- /-

CRT

< 2 detik

< 2 detik

Tonus

Normotoni

Normotoni

oedem

-/-

-/-

Kulit
Sianotik (-), ikterik (-), anemis (-), turgor kulit abdomen kembali < 2 detik.
C. PEMERIKSAAN KHUSUS
A. Data Antopometri
Anak laki-laki usia

: 23 bulan

Berat badan

: 12 kg

Panjang badan

: 85 cm

Pemeriksaan Status Gizi


BB/U : 12/11 x 100% = 100% (berat badan ideal)
TB/U : 85/88 x 100% = 96,5% (tinggi ideal )
BB/TB : 12/11 x 100% = 100% (gizi baik)
Kesan : Berat badan ideal, tinggi ideal, gizi baik
D. DIAGNOSIS
Diagnosis kerja dan dasar diagnosis
Diagnosis kerja

Diare akut
Dasar diagnosis:
-

Anamnesis keluhan utama diare


Pemeriksaan fisik: distensi abdomen, bising usus meningkat

E. PEMERIKSAAN YANG DIANJURKAN


Feses rutin
F. PENGELOLAAN:
Non medikamentosa:
-

Rawat jalan
Medikamentosa:

Zinc 1x1
lactoB 1x1 sachet

G. PROGNOSIS :
Passage

: ad bonam

Passanger

: ad bonam

Power

: ad bonam

III.
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Diare akut menurut Cohen4 adalah keluarnya buang air besar sekali atau lebih yang berbentuk
cair dalam satu hari dan berlangsung kurang 14 hari. Menurut Noerasid 5 diare akut ialah diare
yang terjadi secara mendakak pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat. Sedangkan
American Academy of Pediatrics (AAP) mendefinisikan diare dengan karakteristik
peningkatan frekuensi dan/atau perubahan konsistensi, dapat disertai atau tanpa gejala dan
tanda seperti mual, muntah, demam atau sakit perut yang berlangsung selama 3 7 hari6.
Epidemiologi
Setiap tahun diperikirakan lebih dari satu milyar kasus diare di dunia dengan 3,3 juta kasus
kematian sebagai akibatnya7. Diperkirakan angka kejadian di negara berkembang berkisar 3,5
7 episode per anak pertahun dalam 2 tahun pertama kehidupan dan 2 5 episode per anak
per tahun dalam 5 tahun pertama kehidupan8. Hasil survei oleh Depkes. diperoleh angka
kesakitan diare tahun 2000 sebesar 301 per 1000 penduduk angka ini meningkat bila
dibanding survei pada tahun 1996 sebesar 280 per 1000 penduduk. Diare masih merupakan
penyebab utama kematian bayi dan balita. Hasil Surkesnas 2001 didapat proporsi kematian
bayi 9,4% dengan peringkat 3 dan proporsi kematian balita 13,2% dengan peringkat 29. Diare
pada anak merupakan penyakit yang mahal yang berhubungan secara langsung atau tidak
terdapat pembiayaan dalam masyarakat. Biaya untuk infeksi rotavirus ditaksir lebih dari 6,3
juta poundsterling setiap tahunya di Inggris dan 352 juta dollar di Amerika Serikat.
Klasifikasi
Diare secara garis besar dibagi atas radang dan non radang. Diare radang dibagi lagi atas
infeksi dan non infeksi. Diare non radang bisa karena hormonal, anatomis, obat-obatan dan

lain-lain. Penyebab infeksi bisa virus, bakteri, parasit dan jamur, sedangkan non infeksi
karena alergi, radiasi10.

Etiologi
Penyebab diare akut pada anak secara garis besar dapat disebabkan oleh gastroenteritis,
keracunan makanan karena antibiotika dan infeksi sistemik. Etiologi diare pada 25 tahun
yang lalu sebagian besar belum diketahui, akan tetapi kini, telah lebih dari 80% penyebabnya
diketahui. Pada saat ini telah dapat diidentifikasi tidak kurang dari 25 jenis mikroorganisme
yang dapat menyebabkan diare pada anak dan bayi7.
Penyebab utama oleh virus yang terutama ialah Rotavirus (40 60%) sedangkan virus lainya
ialah virus Norwalk, Astrovirus, Cacivirus, Coronavirus, Minirotavirus.
Bakteri yang dapat menyebabkan diare adalah Aeromonas hydrophilia, Bacillus cereus,
Compylobacter jejuni, Clostridium defficile,Clostridium perfringens, E coli, Pleisiomonas,
Shigelloides, Salmonella spp, staphylococus aureus, vibrio cholerae dan Yersinia
enterocolitica, Sedangkan penyebab diare oleh parasit adalah Balantidium coli, Capillaria
phiplippinensis, Cryptosporodium, Entamoba hystolitica, Giardia lambdia, Isospora billi,
Fasiolopsis buski, Sarcocystis suihominis, Strongiloides stercorlis, dan trichuris trichiura.
4,7,11,12

Patogenesis terjadinya diare yang disebabkan virus yaitu virus yang masuk melalui makanan
dan minuman sampai ke enterosit, akan menyebabkan infeksi dan kerusakan villi usus halus.
Enterosit yang rusak diganti dengan yang baru yang fungsinya belum matang, villi
mengalami atropi dan tidak dapat mengabsorpsi cairan dan makanan dengan baik, akan
meningkatkan tekanan koloid osmotik usus dan meningkatkan motilitasnya sehingga timbul
diare.4,7
Diare karena bakteri terjadi melalui salah satu mekanisme yang berhubungan dengan
pengaturan transpor ion dalam sel-sel usus cAMP,cGMP, dan Ca dependen. Patogenesis
terjadinya diare oleh salmonella, shigella, E coli agak berbeda dengan patogenesis diare oleh
virus, tetapi prinsipnya hampir sama. Bedanya bekteri ini dapat menembus (invasi) sel
mukosa usus halus sehingga depat menyebakan reaksi sistemik.Toksin shigella juga dapat
masuk ke dalam serabut saraf otak sehingga menimbulkan kejang. Diare oleh kedua bakteri
ini dapat menyebabkan adanya darah dalam tinja yang disebut disentri. 5,7

Sebuah studi tentang maslah diare akut yang terjadi karena infeksi pada anak di bawah 3
tahun di Cina, India, Meksiko, Myanmar, Burma dan Pakistan, hanya tiga agen infektif yang
secara konsisten atau secara pokok ditemukan meningkat pada anak penderita diare. Agen ini
adalah Rotavirus,Shigella spp dan E. Coli enterotoksigenik Rotavirus jelas merupakan
penyebab diare akut yang paling sering diidentifikasi pada anak dalam komunitas tropis dan
iklim sedang.13 Diare dapat disebabkan oleh alergi atau intoleransi makanan tertentu seperti
susu, produk susu, makanan asing terdapat individu tertentu yang pedas atau tidak sesuai
kondisi usus dapat pula disebabkan oleh keracunan makanan dan bahan-bahan kimia.
Beberapa macam obat, terutama antibiotika dapat juga menjadi penyebab diare. Antibiotika
akan menekan flora normal usus sehingga organisme yang tidak biasa atau yang kebal
antibiotika akan berkembang bebas.7,14 Di samping itu sifat farmakokinetik dari obat itu
sendiri juga memegang peranan penting. Diare juga berhubungan dengan penyakit lain
misalnya malaria, schistosomiasis, campak atau pada infeksi sistemik lainnya misalnya,
pneumonia, radang tenggorokan, dan otitis media.4,7
Patofisiologi
Menurut patofisiologinya diare dibedakan dalam beberapa kategori yaitu diare osmotik,
sekretorik dan diare karena gangguan motilitas usus. Diare osmotik terjadi karena terdapatnya
bahan yang tidak dapat diabsorpsi oleh usus akan difermentasi oleh bahteri usus sehingga
tekanan osmotik di lumen usus meningkat yang akan menarik cairan. Diare sekretorik terjadi
karena toxin dari bakteri akan menstimulasi c AMP dan cGMP yang akan menstimulasi
sekresi cairan dan elektrolit. Sedangkan diare karena gangguan motilitas usus terjadi akibat
adanya gangguan pada kontrol otonomik,misal pada diabetik neuropathi, post vagotomi, post
reseksi usus serta hipertiroid.7
Manifestasi kinis
Diare menyebabkan hilangnya sejumlah besar air dan elektrolit dan sering disertai dengan
asidosis metabolik karena kehilangan basa. Dehidrasi dapat diklasifikasikan berdasarkan
defisit air dan atau keseimbangan elektrolit. Dehidrasi ringan bila penurunan berat badan
kurang dari 5%,dehidrasi sedang bila penurunan berat badan antara 5%-10% dan dhidrasi
berat bila penurunan lebih dari 10%.7,15
Derajat Dehidrasi
Gejala

& Keadaan

Mata

Mulut/

Rasa Haus

Kulit

BB % Estimasi

Tanda
Tanpa
Dehidrasi
Dehidrasi
Ringan

Umum
Baik, Sadar

Normal

Gelisah Rewel Cekung

Basah

Kering

-Sedang
Dehidrasi
Berat

def.

Lidah

Letargik,

Sangat

Kesadaran

cekung dan

Menurun
kering
16
Sumber : Sandhu 2001

cairan
Minum Normal,

Turgor baik < 5

50 %

Tampak

Turgor

50100

Kehausan

lambat

Tidak Haus

Sangat

Sulit, tidak bisa

kering

minum

5 10

Turgor
sangat

>10

>100 %

lambat

Berdasarkan konsentrasi Natrium plasma tipe dehidrasi dibagi 3 yaitu : dehidrasi


hiponatremia ( < 130 mEg/L ), dehidrasi iso-natrema (130m 150 mEg/L) dan dehidrasi
hipernatremia ( > 150 mEg/L ). Pada umunya dehidrasi yang terjadi adalah tipe iso
natremia (80%) tanpa disertai gangguan osmolalitas cairan tubuh, sisanya 15 % adalah diare
hipernatremia dan 5% adalah diare hiponatremia.
Kehilangan bikarbonat bersama dengan diare dapat menimbulkan asidosis metabolik dengan
anion gap yang normal ( 8-16 mEg/L), biasanya disertai hiperkloremia. Selain penurunan
bikarbonat serum terdapat pula penurunan pH darah kenaikan pCO2. Hal ini akan
merangsang pusat pernapasan untuk meningkatkan kecepatan pernapasan sebagai upaya
meningkatkan eksresi CO2 melalui paru (pernapasan Kussmaul) Untuk pemenuhan
kebutuhan kalori terjadi pemecahan protein dan lemak yang mengakibatkan meningkatnya
produksi asam sehingga menyebabkan turunnya nafsu makan bayi. Keadaan dehidrasi berat
dengan hipoperfusi ginjal serta eksresi asam yang menurun dan akumulasi anion asam secara
bersamaan menyebabkan berlanjutnya keadaan asidosis.17
Kadar kalium plasma dipengaruhi oleh keseimbangan asam basa , sehingga pada keadaan
asidosis metebolik dapat terjadi hipokalemia. Kehilangan kalium juga melalui cairan tinja dan
perpindahan K+ ke dalam sel pada saat koreksi asidosis dapat pula menimbulkan
hipokalemia. Kelemahan otot merupakan manifestasi awal dari hipokalemia, pertama kali
pada otot anggota badan dan otot pernapasan. Dapat terjadi arefleks, paralisis dan kematian
karena kegagalan pernapasan. Disfungsi otot harus menimbulkan ileus paralitik, dan dilatasi
lambung. EKG mnunjukkan gelombang T yang mendatar atau menurun dengan munculnya
gelombang U. Pada ginjal kekurangan K+ mengakibatkan perubahan vakuola dan epitel
tubulus dan menimbulkan sklerosis ginjal yang berlanjut menjadi oliguria dan gagal ginjal.7

Penatalaksanaan
Pengantian cairan dan elektrolit merupakan elemen yang penting dalam terapi efektif diare
akut.6 Beratnya dehidrasi secara akurat dinilai berdasarkan berat badan yang hilang sebagai
persentasi kehilangan total berat badan dibandingkan berat badan sebelumnya sebagai baku
emas.18
Pemberian terapi cairan dapat dilakukan secara oral atau parateral. Pemberian secara oral
dapat dilakukan untuk dehidrasi ringan sampai sedang dapat menggunakan pipa nasogastrik,
walaupun pada dehidrasi ringan dan sedang. Bila diare profus dengan pengeluaran air tinja
yang banyak ( > 100 ml/kgBB/hari ) atau muntah hebat (severe vomiting) sehingga penderita
tak dapat minum sama sekali, atau kembung yang sangat hebat (violent meteorism) sehingga
upaya rehidrasi oral tetap akan terjadi defisit maka dapat dilakukan rehidrasi parenteral
walaupun sebenarnya rehidrasi parenteral dilakukan hanya untuk dehidrasi berat dengan
gangguan sirkulasi15. Keuntungan upaya terapi oral karena murah dan dapat diberikan
dimana-mana. AAP merekomendasikan cairan rehidrasi oral (ORS) untuk rehidrasi dengan
kadar natrium berkisar antara 75-90 mEq/L dan untuk pencegahan dan pemeliharaan dengan
natrium antara 40-60mEq/L

11

Anak yang diare dan tidak lagi dehidrasi harus dilanjutkan

segera pemberian makanannya sesuai umur6.


Dehidrasi Ringan Sedang
Rehidrasi pada dehidrasi ringan dan sedang dapat dilakukan dengan pemberian oral sesuai
dengan defisit yang terjadi namun jika gagal dapat diberikan secara intravena sebanyak : 75
ml/kg bb/3jam. Pemberian cairan oral dapat dilakukan setelah anak dapat minum sebanyak
5ml/kgbb/jam. Biasanya dapat dilakukan setelah 3-4 jam pada bayi dan 1-2 jam pada anak .
Penggantian cairan bila masih ada diare atau muntah dapat diberikan sebanyak 10ml/kgbb
setiap diare atau muntah.17
Secara ringkas kelompok Ahli gastroenterologi dunia memberikan 9 pilar yang perlu
diperhatikan dalam penatalaksanaan diare akut dehidrasi ringan sedang pada anak, yaitu12 :
1. Menggunakan CRO ( Cairan rehidrasi oral )
2. Cairan hipotonik
3. Rehidrasi oral cepat 3 4 jam
4. Realiminasi cepat dengan makanan normal
5. Tidak dibenarkan memberikan susu formula khusus
6. Tidak dibenarkan memberikan susu yang diencerkan

7. ASI diteruskan
8. Suplemen dnegan CRO ( CRO rumatan )
9. Anti diare tidak diperlukan
Dehidrasi Berat
Penderita dengan dehidrasi berat, yaitu dehidrasi lebih dari 10% untuk bayi dan anak dan
menunjukkan gangguan tanda-tanda vital tubuh ( somnolen-koma, pernafasan Kussmaul,
gangguan dinamik sirkulasi ) memerlukan pemberian cairan elektrolit parenteral. Penggantian
cairan parenteral menurut panduan WHO diberikan sebagai berikut 12,15,17 :
Usia <12 bln: 30ml/kgbb/1jam, selanjutnya 70ml/kgbb/5jam
Usia >12 bln: 30ml/kgbb/1/2-1jam, selanjutnya 70ml/kgbb/2-2 jam
Walaupun pada diare terapi cairan parenteral tidak cukup bagi kebutuhan penderita akan
kalori, namun hal ini tidaklah menjadi masalah besar karena hanya menyangkut waktu yang
pendek. Apabila penderita telah kembali diberikan diet sebagaimana biasanya . Segala
kekurangan tubuh akan karbohidrat, lemak dan protein akan segera dapat dipenuhi. Itulah
sebabnya mengapa pada pemberian terapi cairan diusahakan agar penderita bila
memungkinkan cepat mendapatkan makanan / minuman sebagai biasanya bahkan pada
dehidrasi ringan sedang yang tidak memerlukan terapi cairan parenteral makan dan minum
tetap dapat dilanjutkan.18
Pemilihan jenis cairan
Cairan Parenteral dibutuhkan terutama untuk dehidrasi berat dengan atau tanpa syok,
sehingga dapat mengembalikan dengan cepat volume darahnya, serta memperbaiki renjatan
hipovolemiknya. Cairan Ringer Laktat (RL) adalah cairan yang banyak diperdagangkan dan
mengandung konsentrasi natrium yang tepat serta cukup laktat yang akan dimetabolisme
menjadi bikarbonat. Namun demikian kosentrasi kaliumnya rendah dan tidak mengandung
glukosa untuk mencegah hipoglikemia. Cairan NaCL dengan atau tanpa dekstrosa dapat
dipakai, tetapi tidak mengandung elektrolit yang dibutuhkan dalam jumlah yang cukup. Jenis
cairan parenteral yang saat ini beredar dan dapat memenuhi kebutuhan sebagai cairan
pengganti diare dengan dehidrasi adalah Ka-EN 3B.16 Sejumlah cairan rehidrasi oral dengan
osmolaliti 210 268 mmol/1 dengan Na berkisar 50 75 mEg/L, memperlihatkan efikasi
pada diare anak dengan kolera atau tanpa kolera.19

Komposisi cairan Parenteral dan Oral :


Osmolalitas

Glukosa(g/L) Na+(mEq/L)

CI-(mEq/L)

K+(mEq/L) Basa(mEq/L)

154

154

428

50

77

77

253
+D5
Riger Laktat
273
Ka-En 3B
290
Ka-En 3B
264
Standard WHO311
ORS
Reduced

50

38,5

38,5

27
38

130
50
30

109
50
28

4
20
8

Laktat 28
Laktat 20
Laktat 10

111

90

80

20

Citrat 10

osmalarity

245

70

75

65

20

Citrat 10

213

60

60

70

20

Citrat 3

NaCl 0,9 %
NaCl 0,45
+D5
NaCl

(mOsm/L)
308
%

0,225%

WHO-ORS
EPSGAN
recommendation

Komposisi elektrolit pada diare akut :


Komposisi rata-rata elektrolit mmol/L

Macam
Diare

Na
Kolera

140
Dewasa
Diare Kolera Balita
101
Diare Non Kolera
56
Balita
Sumber : Ditjen PPM dan PLP,199920

Cl

HCO3

13

104

44

27

92

32

26

55

14

Mengobati kausa Diare


Tidak ada bukti klinis dari anti diare dan anti motilitis dari beberapa uji klinis. 18 Obat anti
diare hanya simtomatis bukan spesifik untuk mengobati kausa, tidak memperbaiki kehilangan
air dan elektrolit serta menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. Antibiotik yang
tidak diserap usus seperti streptomisin, neomisin, hidroksikuinolon dan sulfonamid dapat
memperberat yang resisten dan menyebabkan malabsorpsi.21 Sebagian besar kasus diare tidak
memerlukan pengobatan dengan antibiotika oleh karena pada umumnya sembuh sendiri (self
limiting).12 Antibiotik hanya diperlukan pada sebagian kecil penderita diare misalnya kholera
shigella, karena penyebab terbesar dari diare pada anak adalah virus (Rotavirus). Kecuali
pada bayi berusia di bawah 2 bulan karena potensi terjadinya sepsis oleh karena bakteri
mudah mengadakan translokasi kedalam sirkulasi, atau pada anak/bayi yang menunjukkan
secara klinis gajala yang berat serta berulang atau menunjukkan gejala diare dengan darah
dan lendir yang jelas atau segala sepsis15. Anti motilitis seperti difenosilat dan loperamid
dapat menimbulkan paralisis obstruksi sehingga terjadi bacterial overgrowth, gangguan
absorpsi dan sirkulasi.21
Beberapa antimikroba yang sering menjadi etiologi diare pada anak15,18
Kolera :
Tetrasiklin 50mg/kg/hari dibagi 4 dosis (2 hari)
Furasolidon 5mg/kg/hari dibagi 4 dosis (3 hari)
Shigella :
Trimetroprim 5-10mg/kg/hari
Sulfametoksasol 25mg/kg/hari Diabgi 2 dosis (5 hari)
Asam Nalidiksat : 55mg/kg/hari dibagi 4 (5 hari)
Amebiasis:

Metronidasol 30mg/kg/hari dibari 4 dosis 9 5-10 hari)


Untuk kasus berat : Dehidro emetin hidrokhlorida 1-1,5 mg/kg (maks 90mg) (im) s/d 5 hari
tergantung reaksi (untuk semua umur)
Giardiasis :
Metronidasol 15mg.kg/hari dibagi 4 dosis ( 5 hari )
Antisekretorik - Antidiare
Salazerlindo E dkk22 dari Department of Pedittrics, Hospital Nacional Cayetano Heredia,
Lima,Peru, melaporkan bahwa pemakaian Racecadotril (acetorphan) yang merupakan
enkephalinace inhibitor dengan efek anti sekretorik serta anti diare ternyata cukup efektif dan
aman bila diberikan pada anak dengan diare akut oleh karena tidak mengganggu motilitas
usus sehingga penderita tidak kembung .Bila diberikan bersamaan dengan cairan rehidrasi
oral akan memberikan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan hanya memberikan
cairan rehidrasi oral saja .Hasil yang sama juga didapatkan oleh Cojocaru dkk dan cejard
dkk.untuk pemakaian yang lebih luas masih memerlukan penelitian lebih lanjut yang bersifat
multi senter dan melibatkan sampel yang lebih besar.23
Probiotik
Probiotik merupakan bakteri hidup yang mempunyai efek yang menguntungkan pada host
dengan cara meningkatkan kolonisasi bakteri probiotik didalam lumen saluran cerna sehingga
seluruh epitel mukosa usus telah diduduki oleh bakteri probiotik melalui reseptor dalam sel
epitel usus. Dengan mencermati penomena tersebut bakteri probiotik dapat dipakai dengan
cara untuk pencegahan dan pengobatn diare baik yang disebabkan oleh Rotavirus maupun
mikroorganisme lain, speudomembran colitis maupun diare yang disebabkan oleh karena
pemakaian antibiotika yang tidak rasional rasional (antibiotik asociatek diarrhea ) dan
travellers,s diarrhea. 14,15,24
Terdapat banyak laporan tentang penggunaan probiotik dalam tatalaksana diare akut pada
anak. Hasil meta analisa Van Niel dkk

25

menyatakan lactobacillus aman dan efektif dalam

pengobatan diare akut infeksi pada anak, menurunkan lamanya diare kira-kira 2/3 lamanya
diare, dan menurunkan frekuensi diare pada hari ke dua pemberian sebanyak 1 2 kali.
Kemungkinan mekanisme efekprobiotik dalam pengobatan diare adalah : Perubahan
lingkungan mikro lumen usus, produksi bahan anti mikroba terhadap beberapa patogen,
kompetisi nutrien, mencegah adhesi patogen pada anterosit, modifikasi toksin atau reseptor
toksin, efektrofik pada mukosa usus dan imunno modulasi.14,24
Mikronutrien

Dasar pemikiran pengunaan mikronutrien dalam pengobatan diare akut didasarkan kepada
efeknya terhadap fungsi imun atau terhadap struktur dan fungsi saluran cerna dan terhadap
proses perbaikan epitel seluran cerna selama diare. Seng telah dikenali berperan di dalam
metallo enzymes, polyribosomes , selaput sel, dan fungsi sel, juga berperan penting di
dalam pertumbuhan sel dan fungsi kekebalan .19 Sazawal S dkk

26

melaporkan pada bayi dan

anak lebih kecil dengan diare akut, suplementasi seng secara klinis penting dalam
menurunkan lama dan beratnya diare. Strand

27

Menyatakan efek pemberian seng tidak

dipengaruhi atau meningkat bila diberikan bersama dengan vit A. Pengobatan diare akut
dengan vitamin A tidak memperlihatkan perbaikan baik terhadap lamanya diare maupun
frekuensi diare.

19

Bhandari dkk

28

mendapatkan pemberian vitamin A 60mg dibanding

dengan plasebo selama diare akut dapat menurunkan beratnya episode dan risiko menjadi
diare persisten pada anak yang tidak mendapatkan ASI tapi tidak demikian pada yang
mendapat ASI.
Mencegah / Menanggulangi Gangguan Gizi
Amatlah penting untuk tetap memberikan nutrisi yang cukup selama diare, terutama pada
anak dengan gizi yang kurang. Minuman dan makanan jangan dihentikan lebih dari 24 jam,
karena pulihnya mukosa usus tergantung dari nutrisi yang cukup.Bila tidak makalah ini akan
merupakan faktor yang memudahkan terjadinya diare kronik29 Pemberian kembali makanan
atau minuman (refeeding) secara cepat sangatlah penting bagi anak dengan gizi kurang yang
mengalami diare akut dan hal ini akan mencegah berkurangnya berat badan lebih lanjut dan
mempercepat kesembuhan. Air susu ibu dan susu formula serta makanan pada umumnya
harus dilanjutkan pemberiannya selama diare penelitian yang dilakukan oleh Lama more RA
dkk30 menunjukkan bahwa suplemen nukleotida pada susu formula secara signifikan
mengurangi lama dan beratnya diare pada anak oleh karena nucleotide adalah bahan yang
sangat diperlukan untuk replikasi sel termasuk sel epitel usus dan sel imunokompeten. Pada
anak lebih besar makanan yang direkomendasikan meliputi tajin ( beras, kentang, mi, dan
pisang) dan gandum ( beras, gandum, dan cereal). Makanan yang harus dihindarkan adalah
makanan dengan kandungan tinggi, gula sederhana yang dapat memperburuk diare seperti
minuman kaleng dan sari buah apel. Juga makanan tinggi lemak yang sulit ditoleransi karena
karena menyebabkan lambatnya pengosongan lambung.31
Pemberian susu rendah laktosa atau bebas laktosa diberikan pada penderita yang
menunjukkan gejala klinik dan laboratorium intoleransi laktosa. Intoleransi laktosa
berspektrum dari yang ringan sampai yang berat dan kebanyakan adalah tipe yang ringan

sehingga cukup memberikan formula susu biasanya diminum dengan pengenceran oleh
karena intoleransi laktosa ringan bersifat sementara dan dalam waktu 2 3 hari akan sembuh
terutama pada anak gizi yang baik. Namun bila terdapat intoleransi laktosa yang berat dan
berkepanjangan tetap diperlukan susu formula bebas laktosa untuk waktu yang lebih lama.
Untuk intoleransi laktosa ringan dan sedang sebaiknya diberikan formula susu rendah laktosa.
Sabagaimana halnya intoleransi laktosa, maka intoleransi lemak pada diare akut sifatnya
sementara dan biasanya tidak terlalu berat sehingga tidak memerlukan formula khusus.Pada
situasi yang memerlukan banyak energi seperti pada fase penyembuhan diare, diet rendah
lemak justru dapat memperburuk keadaan malnutrisi dan dapat menimbulkan diare kronik 32
Menanggulangi Penyakit Penyerta
Anak yang menderita diare mungkin juga disertai dengan penyakit lain. Sehingga dalam
menangani diarenya juga perlu diperhatikan penyakit penyerta yang ada. Beberapa penyakit
penyerta yang sering terjadi bersamaan dengan diare antara lain : infeksi saluran nafas,
infeksi susunan saraf pusat, infeksi saluran kemih, infeksi sistemik lain (sepsis,campak ),
kurang gizi, penyakit jantung dan penyakit ginjal 33.

DAFTAR PUSTAKA
1. Kandun NI. Upaya pencegahan diare ditinjau dari aspek kesehatan masyarakat dalam
kumpulan makalah Kongres nasional II BKGAI juli 2003 hal 29
2. Barkin RM Fluid and Electrolyte Problems. Problem Oriented Pediatric Diagnosis
Little Brown and Company 1990;20 23.
3. Booth IW, CuttingWAM. Current Concept in The Managemnt of Acute in Children
Postgraad Doct Asia 1984 : Dec : 268 274
4. Coken MB Evaluation of the child with acute diarrhea dalam:Rudolp AM,Hofman
JIE,Ed Rudolp?s pediatrics: edisi ke 20 USA 1994 : prstice Hall international,inc hal
1034-36
5. Irwanto,Roim A, Sudarmo SM.Diare akut anak dalam ilmu penyakit anak diagnosa
dan penatalaksanaan ,Ed Soegijanto S : edisi ke 1 jakarta 2002 : Salemba Medika hal
73-103
6. Barnes GL,Uren E, stevens KB dan Bishop RS Etiologi of acute Gastroenteritis in
Hospitalized Children in Melbourne, Australia,from April 1980 to March 1993
Journal of clinical microbiology, Jan 1998,p,133-138
7. Departemen kesehatan RI Profil Kesehatan Indonesia 2001. Jakarta 2002
8. Lung E. Acute diarrheal Diseases dalam Current diagnosis abd treatment in
gastroenterology.Ed.Friedman S ; edisi ke 2 New Tork 2003 :McGraw Hill,hal 131-49
9. Firmansyah A. Terapi probiotik dan prebiotik pada penyakit saluran cerna. dalam Sari
pediatric Vol 2,No. 4 maret 2001
10. Subijanto MS,Ranuh R, Djupri Lm, Soeparto P. Managemen disre pada bayi dan
anak. Dikutip dari URL : http://www.pediatrik.com/
11. Dwipoerwantoro PG.Pengembangan rehidrasi perenteral pada tatalaksana diare akut
dalam kumpulan makalah Kongres Nasional II BKGAI Juli 2003
12. Ditjen PPM dan PLP, 1999, Tatalaksana Kasus Diare Departemen Kesehatan RI hal
24-25
13. Sinuhaji AB Peranan obat antidiare pada tatalaksana diare akut dalam kumpulan
makalah Kongres Nasional II BKGAI juli 2003
14. Rohim A, Soebijanto MS. Probiotik dan flora normal usus dalam Ilmu penyakit anak
diagnosa dan penatalaksanaan . Ed Soegijanto S. Edisi ke 1 Jakarta 2002 Selemba
Medika hal 93-103

15. Suharyono.Terapi nutrisi diare kronik Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan ilmu


Kesehatan Anak ke XXXI, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1994
16. Ditjen PPM&PLP Depkes RI.Tatalaksana Kasus Diare Bermaslah. Depkes RI 1999 ;
31