Anda di halaman 1dari 10

Buletin Teknologi Mineral UPNVY

APLIKASI MODEL PENGENDAPAN BATUBARA


Bambang Kuncoro Prasongko
Staf pengajar Jurusan Teknik Geologi UPNVY

SARI kunci keberhasilan usaha pengembangan tambang batubara antara lain


tersedianya cadangan yang memadai dan kualitas batubara yang ekonomis. Kedua
syarat tersebut berhubungan dengan permasalahan geometri lapisan batubara dan
kualitas batubara serta proses-proses geologi yang mengendalikannya. Untuk
mengatasinya dapat melalui pendekatan model pengendapan batubara.
Model pengendapan batubara penting untuk tujuan keilmuan dan keekonomian.
Evaluasi ekonomi harus didasarkan pada evaluasi dan analisis keilmuan, yaitu untuk
membantu program eksplorasi sesuai perumusan sasaran untuk mendapatkan
endapan batubara ekonomis dan perencanaan penambangannya. Akhirnya dapat
meminimalkan risiko eksplorasi dan menekan biaya.
ABSTRACT - The key requirements for the successful development of a mine among
other things are sufficient reserves and quality of economic coal seams. Both of
requirement are related geometry of coal seams and quality of coal with control of
geological processes. Coal depositional model approach is being used for solution
this problems.
Coal depositional models is important for both scientific and economic purpose. The
economic evaluation must be based on a sound foundation of scientific evaluation
and analysis to assist exploration program according to formulation objective for
found the economic coal seams and mine planning. Finally for minimize exploration
risk and cost.

PENDAHULUAN
Pada akhir-akhir ini terlihat adanya peningkatan interaksi antara mahasiswa Jurusan
Teknik Geologi UPNVY dan pihak industri, khususnya dengan perusahaan tambang
batubara. Fenomena ini merupakan hal menarik dalam pengertian bahwa strategi
dan metode yang diperlukan serta sudah diterapkan oleh praktisi dari lingkungan
industri pertambangan batubara seringkali belum diketahui oleh para mahasiswa di
lingkungan akademik. Sebaliknya konsep, pemikiran dan metode yang telah dipelajari
atau dikembangkan oleh mahasiswa (akademisi) sering pula kurang diketahui oleh
para praktisi.
Tanggap atas kedua situasi tersebut, maka interaksi industri ini menjadi penting
karena sekaligus memperkenalkan pemikiran akademisi yang diharapkan bermanfaat
untuk kelancaran program eksplorasi maupun rangkaian kegiatan pada industri
pertambangan batubara. Salah satu pemikiran yang dapat dikembangkan oleh
mahasiswa yang terlibat interaksi industri dengan perusahaan pertambangan
batubara adalah membangun model pengendapan batubara.

PERMASALAHAN
kuncoro, aplikasi model pengendapan batubara - 1

Buletin Teknologi Mineral UPNVY


Menurut Jackson (1995) ada sembilan syarat yang diperlukan untuk berhasilnya
usaha pengembangan tambang batubara, dua syarat yang pertama dan mendasar
adalah tersedianya cadangan yang memadai dan adanya kualitas batubara yang
ekonomis. Cadangan dan kualitas batubara dapat diketahui apabila geometri lapisan
batubara dan karakteristik kualitas secara vertikal maupun lateral berikut prosesproses geologi yang mengendalikannya dapat dipahami secara baik dan benar.
Permasalahan geometri lapisan batubara
Geometri lapisan batubara merupakan aspek dimensi atau ukuran dari suatu lapisan
batubara yang meliputi parameter ketebalan, kemiringan, kemenerusan, keteraturan,
sebaran, bentuk, kondisi roof (lapisan atap) dan floor (lapisan alas), cleat (kekar pada
batubara) dan pelapukan (Kuncoro, 2000).
Lapisan batubara hadir dengan ketebalan yang bervariasi, dapat terjadi penebalan,
penipisan maupun splitting. Kemenerusan dan pola sebaran lapisan batubara dapat
dijumpai dalam berbagai macam ukuran dan bentuk. Demikian pula roof dan floornya dapat bervariasi. Kondisi geometri lapisan batubara yang demikian apabila tidak
dipahami secara baik dan benar, maka dapat menimbulkan masalah pada tahap
pemilihan metode dan perhitungan cadangan. Selanjutnya akan berpengaruh
terhadap perencanaan tambang, penambangan dan bahkan pemasarannya.
Untuk mempelajari geometri lapisan batubara, maka proses-proses geologi yang
berlangsung sebelum, bersamaan atau setelah lapisan batubara terbentuk perlu
diketahui karena merupakan pengendali utama geometri lapisan batubara. Prosesproses geologi tersebut antara lain dicerminkan oleh lingkungan pengendapan
sebelum, bersamaan dan setelah endapan batubara terbentuk, perbedaan kecepatan
sedimentasi serta bentuk morfologi dasar cekungan (Kuncoro, 1998). Oleh karena itu,
pemahaman geometri lapisan batubara akan diperoleh antara lain, jika diketahui
hubungan antara batubara dan lapisan batuan yang berasosiasi atau lingkungan
pengendapannya.
Permasalahan kualitas batubara

kuncoro, aplikasi model pengendapan batubara - 2

Buletin Teknologi Mineral UPNVY


3 Pengertian kualitas batubara adalah keseluruhan karakteristik batubara, baik
komposisi kimia maupun sifat fisik yang dimilikinya yang sesuai serta memenuhi
persyaratan pembeli atau pengguna. Di alam kondisi kualitas batubara dijumpai
sangat bervariasi, baik secara vertikal maupun lateral, antara lain bervariasinya
kandungan sulfur dan sodium, kondisi roof dan floor, kehadiran parting dan pengotor
di dalam lapisan batubara seperti hadirnya batuan selain batubara.
4
5 Kondisi di atas antara lain dipengaruhi oleh proses pembentukan batubara yang
kompleks, lingkungan pengendapan yang khas sebagai tempat terbentuknya
batubara dan proses-proses geologi yang berlangsung bersamaan atau setelah
batubara terbentuk (Kuncoro, 1998). Apabila faktor-faktor pengendali kualitas
batubara tersebut dapat diketahui, maka akan membantu memberikan petunjuk untuk
penemuan endapan batubara ekonomis dan besarnya cadangan batubara sesuai
kualitasnya. Selanjutnya akan menunjang perencanaan tambang dan dapat
memberikan arahan pemasarannya.
6
Berdasarkan penjelasan di atas, maka diperlukan pemahaman yang baik mengenai
konsepsi proses-proses geologi yang bekerja pada suatu endapan batubara. Salah
satu caranya adalah dengan pendekatan lingkungan pengendapan.

PENDEKATAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN


Pertama-tama harus dipahami bahwa pembentukan batubara merupakan proses
yang kompleks yang harus dipandang dan dipelajari dari berbagai segi. Prosesproses tersebut saling berbeda tetapi bertanggungjawab atas terbentuknya endapan
batubara pada suatu cekungan. Schlatters (1973) menyebutkan ada sepuluh proses
yang saling mempengaruhi dan saling bergantung satu dengan lainnya (Gb. 1).
Menurut Diessel (1992), ada enam parameter yang mengendalikan pembentukan
endapan batubara, yaitu (1) adanya sumber vegetasi, (2) posisi muka air tanah, (3)
penurunan yang terjadi bersamaan dengan pengendapan, (4) penurunan yang terjadi
setelah pengendapan, (5) kendali lingkungan geotektonik endapan batubara dan (6)
lingkungan pengendapan terbentuknya batubara.

kuncoro, aplikasi model pengendapan batubara - 3

Buletin Teknologi Mineral UPNVY

Gambar 1

Hubungan faktor-faktor pembentuk batubara (Schlatters, 1973).

Atas dasar tersebut, maka akumulasi batubara hanya dapat terjadi bila terdapat
keseimbangan yang tepat dari faktor-faktor yang banyak itu. Pembentukan endapan
batubara merupakan proses perubahan fisik dan kimia dari tumbuhan yang mati,
kemudian secara berangsur-angsur menjadi bentuk lain yang susunannya lebih
kompleks, umumnya terjadi dalam kondisi tanpa oksigen.
Masih menurut Diessel (1992) ada lima lingkungan pengendapan utama berikut sublingkungannya yang menghasilkan endapan batubara. Lingkungan pengendapan
utama tersebut adalah (1) braid plain, (2) alluvial valley and upper delta plain, (3)
lower delta plain, (4) barrier beach/strand-plain systems dan (5) estuary.
Menurut Blaine & Medlin (1987) pendekatan modern untuk memahami model
pengendapan batubara adalah dengan melakukan analisis cekungan batubara yang
berdasarkan pada dua pendekatan, yaitu (1) pendekatan skala mikroskopis:
berdasarkan maceral dan microlithotypes dan (2) pendekatan skala megaskopis:
berdasarkan lingkungan cekungan sedimentasi batubara. Selanjutnya kondisi yang
menyebabkan terbentuknya batubara dan proses genesa batubara, kini ditempatkan
pada keadaan sedimentasi yang lebih luas, yaitu lingkungan pengendapan.
Adanya proses pembentukan batubara yang kompleks dan lingkungan pengendapan
yang khas sebagai tempat terbentuknya batubara, tentunya perlu dipahami secara
baik dengan membangun model pengendapan batubara.
MODEL PENGENDAPAN BATUBARA
Model pengendapan batubara akan menjelaskan hubungan antara mulajadi batubara
dan batuan sekitarnya berikut konfigurasi geometri lapisan batubara dan sebaran
kualitas batubara secara vertikal maupun lateral berikut faktor-faktor pengendalinya
pada suatu cekungan pengendapan batubara dalam kurun waktu tertentu.
J.C. Horne et al (1978) telah membangun model pengendapan batubara di daerah
Appalachian berdasarkan kajian lingkungan pengendapan yang didukung data dari
tambang batubara, pemboran dan singkapan. Hasilnya ditunjukkan dalam bentuk
penampang yang menunjukkan hubungan ketebalan dan konfigurasi lapisan
batubara serta kehadiran batupasir dan serpih pada lingkungan barrier, back barier,
lower delta plain, transitional lower delta plain dan upper delta plain-fluvial (Gb. 2).

kuncoro, aplikasi model pengendapan batubara - 4

Buletin Teknologi Mineral UPNVY

Gambar 2 Model lingkungan pengendapan batubara di daerah pantai yang


memperlihatkan ketebalan, kemenerusan serta hubungannya dengan
batupasir dan serpih pada lingkungan yang berbeda-beda (Horne, 1978).
Juga dalam bentuk model sekuen vertikal lingkungan lower delta plain (Gb. 3), sekuen
vertikal dan keruangan lingkungan transitional lower delta plain (Gb. 4) dan rekonstruksi
penampang lingkungan upper delta plain (Gb. 5). Meskipun lingkungan barrier tidak
dijumpai batubara tetapi mempunyai peran penting menutup pengaruh oksidasi dari air
laut dan mendukung pembentukan batubara di bagian daratan (Gb. 6).
Berdasarkan karakteristik masing-masing lingkungan, maka dapat diketahui bahwa:
1. Lingkungan back barrier: batubaranya tipis, pola sebarannya memanjang sejajar
sistem penghalang atau sejajar jurus perlapisan, bentuk lapisan melembar karena
dipengaruhi tidal channel setelah pengendapan atau besamaan dengan proses
pengendapan dan kandungan sulfurnya tinggi.
2. Lingkungan lower delta plain: batubaranya tipis, pola sebarannya umumnya
sepanjang channel atau jurus pengendapan, bentuk lapisan ditandai oleh
hadirnya splitting oleh endapan crevasse splay dan kandungan sulfurnya agak
tinggi.
3. Lingkungan transitional lower delta plain: batubaranya tebal dapat lebih dari 10 m,
tersebar meluas cenderung memanjang sejajar jurus pengendapan, tetapi
kemenerusan secara lateral sering terpotong channel, bentuk lapisan batubara
ditandai hadirnya splitting akibat channel kontemporer dan washout oleh channel
subsekuen dan kandungan sulfurnya agak rendah.
4. Lingkungan upper delta plain-fluvial: batubaranya tebal dapat mencapai lebih dari 10
m, sebarannya meluas cenderung memanjang sejajar jurus pengendapan, tetapi
kemenerusan secara lateral sering terpotong channel, bentuk lapisan batubara
ditandai hadirnya splitting akibat channel kontemporer dan washout oleh channel
subsekuen dan kandungan sulfurnya rendah.
Dapat disimpulkan bahwa model pengendapan batubara dapat dipergunakan untuk
mengetahui dan memahami (1) variasi geometri lapisan batubara, antara lain

kuncoro, aplikasi model pengendapan batubara - 5

Buletin Teknologi Mineral UPNVY


ketebalan, pola sebaran, kemenerusan, bentuk, kondisi roof-floor dan (2) variasi
kualitas batubara, antara lain kandungan sulfur dan abu.

Gambar 3 (A) Model sekuen vertikal endapan lower delta plain yang memperlihatkan
sekuen mengkasar keatas dan (B) sekuen yang sama tetapi dipotong
oleh splay deposit (Baganz, 1975 dalam Horne, 1978).

kuncoro, aplikasi model pengendapan batubara - 6

Buletin Teknologi Mineral UPNVY

Gambar 4 (A) Model sekuen vertikal endapan transitional lower delta plain dan (B)
rekonstruksi lingkungan transitional lower delta plain (Horne & Ferm,
1978).

kuncoro, aplikasi model pengendapan batubara - 7

Buletin Teknologi Mineral UPNVY

Gambar 5 Rekonstruksi penampang lingkungan upper delta plain-fluvial (Horne,


1978).

kuncoro, aplikasi model pengendapan batubara - 8

Buletin Teknologi Mineral UPNVY

Gambar 6 Model barrier yang memperlihatkan gabungan lingkungan shoreface,


barrier dan back barrier (Ferm et al, 1972 dalam Horne, 1978).

APLIKASI MODEL LINGKUNGAN PENGENDAPAN


Model pengendapan batubara dapat untuk tujuan keilmuan maupun tujuan
keekonomian. Tujuan keilmuan adalah sebagai alat untuk menentukan secara lebih
sempurna konsep: (1) batubara sebagai batuan sedimen, (2) batubara sebagai
sistem geokimia, (3) batubara sebagai asosiasi endapan organik dengan batuan
sekitarnya serta (4) genesa batubara dan sebarannya berdasarkan ruang dan waktu.
Tujuan keekonomian harus didasarkan dari hasil analisis keilmuan agar dapat
dipergunakan untuk evaluasi: (1) karakteristik geometri lapisan batubara: ketebalan,
bentuk, kemenerusan, pola sebaran, kondisi roof dan floor, (2) karakteristik
kandungan sulfur dan abu serta variasi kualitas batubara secara lateral maupun
vertikal serta (3) evaluasi cadangan dan kualitas batubara.
Atas dasar tersebut di atas, maka genesa batubara dan lingkungan pengendapan
batubara harus dikaitkan dengan tujuan keilmuan dan keekonomian sebagai upaya
untuk mengembangkan pemikiran para akademisi dan memberikan manfaat bagi
para praktisi untuk mendapatkan endapan batubara ekonomis. Sehingga pendekatan
model lingkungan pengendapan dapat dipakai sebagai:
1. Petunjuk penemuan sumberdaya atau cadangan batubara ekonomis untuk
pengembangan daerah tambang maupun untuk daerah baru dengan kendali
geologi yang sama.
2. Penentuan target endapan batubara yang bernilai ekonomis, yaitu melalui
parameter aspek geometri lapisan batubara dan kualitas batubara.
3. Arahan untuk penambangan, terutama yang berkaitan dengan kondisi roof dan
floor serta karakteristik parting.
Selanjutnya hubungan antara dibangunnya model pengendapan batubara dan
kegiatan eksplorasi adalah agar: (1) penentuan program eksplorasi berjalan sesuai
perumusan sasaran (Levey, 1983), (2) pelaksanaan eksplorasi dapat lebih terarah
untuk mendapatkan endapan batubara yang ekonomis (Rahmani & Flores, 1984) dan
(3) dapat memberikan arahan di dalam perencanaan penambangannya (Horne,
1978).
Oleh karena itu, pemahaman konsepsi proses-proses geologi yang bekerja pada
endapan batubara adalah penting sebagai petunjuk bagi ahli eksplorasi batubara
untuk menentukan strategi eksplorasi dan pemilihan metode tepat-guna berdasarkan
model pengendapan batubara yang telah dibangun (Koesoemadinata, 1998,
komunikasi lisan). Sehingga pada akhirnya dapat sebagai alat untuk meminimalkan
risiko dan menekan biaya.

kuncoro, aplikasi model pengendapan batubara - 9

Buletin Teknologi Mineral UPNVY


KESIMPULAN
Pihak akademisi sangat berpeluang untuk mengembangkan pemikirannya
berdasarkan pada konsepsi proses-proses pengendapan batubara yang diwujudkan
dengan membangun model pengendapan batubara beserta faktor-faktor
pengendalinya.
Model pengendapan batubara akan sangat membantu di dalam penentuan program
eksplorasi, perhitungan cadangan batubara, arahan perencanaan penambangannya,
bahkan sampai pada tahap penambangan maupun pemasarannya, sehingga
bermanfaat bagi industri pertambangan batubara.

DAFTAR PUSTAKA
1. Cecil B., & Medlin J.H., 1987, Coal basin analysis and synthesis, ESCAP Series
on Coal, vol 5, United Nation, p. 33-36.
2. Diessel C.F.K., 1992, Coal bearing depositional systems, Springer-Verlag Berlin
Heidelberg, 721 p.
3. Horne J.C. et al., 1978, Depositional models in coal exploration and mining
planning in Appalachian Region: AAPG Bull., vol. 62, p. 2379-2411.
4. Jackson R.J, 1995, Coal mine planning and development, UNDP/Pace-E
Workshop on Coal Technology and The Environment, Jakarta.
5. Kuncoro Prasongko, B., 1988, Kendali geologi terhadap aspek geometri dan
kualitas batubara untuk menentukan model eksplorasi di Cekungan Bengkulu,
Tesis, ITB, Bandung, 98 h.
6. Kuncoro Prasongko, B., 2000, Geometri lapisan batubara, Prosiding Seminar
dan Musyawarah Nasional I Ikatan Alumni Tambang, Jurusan Teknik
Pertambangan UPNVY, Yogyakarta, 8 h.
7. Levey R.A., 1983, Depositional model for understanding geometry of Cretaceous
Coal: Major coal seam Rock Springs Formation, Green River Basin, Wyoming:
AAPG Bull., p.1359-1380.
8. Rahmani R.A., & Flores R.M. (editor), 1984, Sedimentology of coal and coalbearing sequences: Spec. Publ., Vol. 7, Blackwell Sci. Publs., London.
9. Schlatters L.E., 1976, Coal exploration and mining manual, Part 1 Introduction to
Coal Geology, Shell Internationale Petroleum Maatchappij B.V., The Hague.

kuncoro, aplikasi model pengendapan batubara -10