Anda di halaman 1dari 29

Hukum Keuangan Negara

Pertemuan 7 D-III STAN, Juni 2013

Ketentuan Mengenai Pidana,

Sanksi Administratif dan

Aspek Pidana pada Pengelolaan Keuangan

Ganti Rugi

Negara Pengenaan Pidana berdasarkan Paket Undang-Undang Keuangan Negara Pengenaan Pidana berdasarkan KUHP Pengenaan Pidana berdasarkan UU TIPIKOR

HUKUM PIDANA SIFAT DAN TEMPAT HUKUM PIDANA

Hukum Pidana adalah hukum sanksi istimewa.

Sebagian besar sarjana hukum melihat hukum Pidana sebagai hukum publik yaitu mengatur hubungan antara negara dan perseorangan atau mengatur kepentingan umum.

Hukum Pidana ialah bagian dari pada keseluruhan hukum yang berlaku di suatu negara, yang mengadakan dasar-dasar atau aturan-aturan untuk :

1.Menentukan perbuatan-perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan, yang dilarang, dengan disertai ancaman atau saksi yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa melanggar larangan tersebut.

2.Menentukan kapan dan dalam hal-hal apa kepada mereka yang telah melanggar larangan-larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhi pidana sebagaimana yang telah diancamkan.

3.Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah melanggar larangan tersebut.

Macam Hukum Pidana

Hukum pidana biasa (umum)(commune strafrecht) seperti yang tercantum dalam antara lain KUHPidana dan yang berlaku bagi semua orang yang ada di wilayah Indonesia (terkecuali mereka yang mempunyai hak diplomat asing).

Hukum pidana khusus (bijzondere strafrecht):

  • - dibuat untuk beberapa subyek khusus atau untuk beberapa peristiwa pidana tertentu.

  • - memuat ketentuan-ketentuan dan azas-azas yang menyimpang dari ketentuan-ketetuan dan azas-azas yang tercantum dalam peraturan-peraturan hukum pidana umum.

    • 1. Hukum Pidana Fiskal : Kententuan-ketentuan pidana yang tercantum dalam UU mengenai urusan pajak negara ternasuk peraturan-peraturan yang mengatur keuangan negara.

  • 2. Hukum Pidana Militer

    • a. Berlakunya hukum pidana militer disinggung dalam pasal 102 UUDS.

membedakan antara hukum pidana sipil dan hukum

pidana militer.

Ketentuan ini

  • b. Ketentuan-ketentuan dan azas-azas yang menyimpang dari ketentuan dalam hukum pidana

umum.

  • c. Wetboek van Militer Strafrecht voor Indonesie, LNHB 1934 Nr 167 dan LNHB 1934 r 168

yang mengatur hukum disiplin tentara.

  • d. UU No. 3/PNPS/1965 tentang Memperlakukan Hukum Tentara, Hukum Acara Pidana Tentara.

  • 3. Hukum Pidana Ekonomi. Berhubungan dengan perkembangan negara dan dunia ke arah yang lebih sosialistis, maka turut serta pemerintah dalam lapangan perekonomian makin lama makin bertambah.

    • - Penyelengaraan peraturan per-UU-an berkaitan dengan ekonomi

penghidupan ekonomi rakyat (UU o. 7/Drt/1955).

  • - Azas-azas dalam delik ekonomi berbeda dengan azas-azas pidana

dapat menggangu

umum.

  • - Hukum pidana ekonomi terdapat perbedaan dengan pidana umum.

  • 4. Hukum Pidana Politik. Kejahatan-kejahatan yang sangat dapat membahayakan penghidupan rakyat seluruhnya.

    • - Menghianati rahasia negara kepada luar negeri,

mempersiapkan dan mengusahakan

yang sah, merencanakan,

merencanakan,

pemberontakan terhadap

pemerintah

mempersiapkan dan

menjalankan sabotage dll.

  • - Delik-delik politik disinggung oleh hukum titel I - V Buku II (pasal 104 –

181).

  • - Diperlukan ukuran-ukuran yang lebih berat dari pada ukuran biasa dalam

mempertimbangkan dijatuhkan hukuman ) lebih

berat), seperti :

  • - Penpres No. 11/1963 jo UU No. 1/PNPS/1963 tetang Kegiatan Subversi.

Pemberantasan

  • - Perpu No. 2 Tahun 2002 tentang Pemberlakuan Perpu No. 1 Tahun 2002

tentang Pemberantasan tindak bom Bali.

pidana Terorisme pada peristiwa peledakan

Hukum Pidana Komunal (daerah)

  • - Dibuat oleh Pemerintah Daerah TK I dan TK II adalah akibat logis dari kekuasaan membuat peraturan umum untuk mengurus sendiri rumah tangganya.

  • - Hukum pidana yang dibuat hanya dipakai sanksi atas pelanggaran peraturan-peraturan yang dibuat oleh Pemda sendiri.

  • - Termasuk hukum pidana sipil, namun hanya dihadapkan dengan masalah-masalah tersendiri yang ditimbulkan dalam masyarakat daerah.

  • - Bukan hukum pidana khusus walaupun dihadapkan dengan masalah- masalah sendiri dan tidak mengandung azas-azas pidana yang menyimpang dari azas-azas pidana umum.

  • - Terikat oleh ketentuan dalam pasal 103 KUHP.

  • - Hukuman atas pelanggaran peraturan pemda hanya bersifat pelanggaran saja.

Hukum Pidana dapat dibagi :

  • 1. Hukum Pidana Obyektif (Ius Punale) ialah semua peraturan yang mengandung keharusan dan larangan,terhadap pelanggaran mana diancam dengan hukuman yang bersifat memaksa.

a.

Hukum Pidana Materiil ialah peraturan-peraturan yang

menegaskan :

1).

Perbuatan-perbuatan apa yang dapat dihukum.

2).

Siapa yang dapat dihukum.

3).

Dengan hukum apa menghukum seseorang.

b.

Hukum Pidana Formil (Hukum Acara Pidana).

  • 2. Hukum Pidana Subyektif (Ius Puniendi) ialah hak negara atau alat-alat untuk menghukum berdasarkan hukum pidana obyektif yang berarti bahwa tiap orang dilarang untuk mengambil tindakan sendiri dalam menyelesaikan tindak pidana (perbuatan hukum delik).

  • 3. Hukum Pidana Umum ialah hukum pidana yang berlaku terhadap setiap orang kecuali anggota ketentaraan,

  • 4. Hukum Pidana Khusus ialah hukum pidana yang berlaku khusus untuk orang-orang tertentu.

Aspek Pidana pada PKN

Aspek Pidana pada PKN

Pengenaan Pidana berdasarkan UU KN

1. Menteri/Pimpinan lembaga/Gubernur/Bupati/Walikota yang terbukti melakukan penyimpangan kebijakan yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN/Peraturan Daerah tentang APBD diancam dengan pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan undang-undang.(Pasal 34 ayat 1 UU 17/2003)

Pengenaan Pidana berdasarkan UU KN

2. Pimpinan Unit Organisasi Kementerian Negara/Lembaga/ Satuan Kerja Perangkat Daerah yang terbukti melakukan penyimpangan kegiatan anggaran yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN/Peraturan Daerah tentang APBD diancam dengan pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan undang- undang. (Pasal 34 ayat 2 UU 17/2003)

Pengenaan Pidana berdasarkan UU KN

3. Apabila dalam pemeriksaan kerugian negara/daerah sebagaimana dimaksud pada uraian:

“Pengenaan ganti kerugian negara/daerah terhadap bendahara ditetapkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan”, ditemukan unsur pidana, Badan Pemeriksa Keuangan menindaklanjutinya sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.Putusan pidana tidak membebaskan dari tuntutan ganti rugi.

Pengenaan Pidana berdasarkan UU KN

4. Bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, dan pejabat lain yang telah ditetapkan untuk mengganti kerugian negara/daerah dapat dikenai sanksi administratif dan/atau sanksi pidana.

Pengenaan Pidana berdasarkan KUHP

Pasal-pasal pemidanaan dalam KUHP adalah: 209, 210, 387, 388, 415, 416,417, 418, 419, 420, 423, dan 435 KUHP; dan tentang gratifikasi yakni pada pasal 418, 419 dan 420 K.U.H.P.

Pengenaan Pidana berdasarkan KUHP

Pasal 209

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah:

1. barang siapa memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seorang pejabat dengan maksud menggerakkannya untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya;

2. barang siapa memberi sesuatu kepada seorang pejabat karena atau berhubung dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya.

Pengenaan Pidana berdasarkan KUHP

Pasal 210

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun:

1. barang siapa memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seorang hakim dengan maksud untuk mempengaruhi putusan tentang perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili;

2. barang siapa memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seorang yang menurut ketentuan undang-undang ditentukan menjadi penasihat atau adviseur untuk menghadiri sidang atau pengadilan, dengan maksud untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan diberikan berhubung dengan perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk diadili.

(2) Jika pemberian atau janji dilakukan dengan maksud supaya dalam perkara pidana dijatuhkan pemidanaan, maka yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

Pengenaan Pidana berdasarkan KUHP

Pasal 415

Seorang pejabat atau orang lain yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum terus-menerus atau untuk sementara waktu,Yang dengan sengaja menggelapkan uang atau surat berharga yang disimpan karena jabatannya, atau membiarkan uang atau surat berharga itu diambil atau digelapkan oleh orang lain, atau menolong sebagai pembantu dalam melakukan perbuatan tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

*)Selanjutnya Pasal-pasal dalam KUHP tersebut:

Pengenaan Pidana berdasarkan KUHP

Pasal 387

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun seorang pemborong atau ahli bangunan atau penjual bahan-bahan bangunan, yang pada waktu membuat bangunan atau pada waktu menyerahkan bahan-bahan bangunan, melakukan sesuatu perhuatan curang yang dapat membahayakan amanan orang atau barang, atau keselamatan negara dalam keadaan perang.

(2) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa yang bertugas mengawasi pemhangunan atau penyerahan barang-barang itu, sengaja membiarkan perbuatan yang curang itu.

Pengenaan Pidana berdasarkan KUHP

Pasal 388

(1) Barang siapa pada waktu menyerahkan barang keperluan Angkatan Laut atau Angkatan Darat melakukan perbuat.an curang yang dapat membahayakan kesempatan negara dalam keadaan perang diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

(2) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa yang bertugas mengawasi penyerahan barang-barang itu, dengan sengaja membiarkan perbuatan yang curang itu.

Pengenaan Pidana berdasarkan KUHP

Pasal 416

Seorang pejabat atau orang lain yang diheri tugas menjalankan suatu jabatan umum terus- menerus atau untuk sementara waktu, yang sengaja membuat secara palsu atau memalsu buku buku-buku daftar-daftar yang khusus untuk pemeriksaan administrasi, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

Pengenaan Pidana berdasarkan KUHP

Pasal 417

Seorang pejabat atau orang lain yang diberi tugas menjalankan suatu jabatan umum terus-menerus atau untuk sementara waktu yang sengaja menggelapkan, menghancurkan. merusakkan atau membikin tak dapat dipakai barang-barang yang diperuntukkan guna meyakinkan atau membuktikan dimuka penguasa yang berwenang, akta-akta, surat- surat atau daftar-daftar yang dikuasai nya karena jabatannya, atau memhiarkan orang lain menghilangkan, menghancurkan, merusakkan atau memhikin tak dapat di pakai barang-barang itu, atau menolong sebagai pembantu dalam melakukan perbuatan itu, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.

Pengenaan Pidana berdasarkan KUHP

Pasal 418

Seorang pejabat yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau sepatutnya harus diduganya., hahwa hadiah atau janji itu diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya, atau yang menurut pikiran orang yang memberi hadiah atau janji itu ada hubungan dengan jabatannya diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Pengenaan Pidana berdasarkan KUHP

Pasal 419

Diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun seorang pejabat:

1. yang menerima hadiah atau janji padahal diketahuinya bahwa hadiah atau janji itu diberikan untuk menggerakkannya supaya melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya;

2. yang menerinia hadiah mengetahui bahwa hadiah itu diberikan sebagai akibat. Atau oleh karena si penerima telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya.

Pengenaan Pidana berdasarkan KUHP

Pasal 420

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun:

  • 1. seorang hakim yang menerima hadiah atau janji. padahal diketahui bahwa

hadiah atau janji itu diberikan untuk mempengaruhi putusan perkara yang

menjadi tugasnya;

  • 2. barang siapa menurut ket.entuan undang-undang ditunjuk menjadi

penasihat untuk menghadiri sidang pengadilan, menerima hadiah atau janji, padahal diketahui bahwa hadiah atau janji itu diberikan untuk mempengaruhi nasihat tentang perkara yang harus diputus oleh pengadilan itu.

(2) Jika hadiah atau janji itu diterima dengan sadar bahwa hadiah atau janji itu diberikan supaya dipidana dalam suatu perkara pidana, maka yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

Pengenaan Pidana berdasarkan KUHP

Pasal 421

Seorang pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan memaksa seseorang untuk melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan.

Pasal 422

Seorang pejabat yang dalam suatu perkara pidana menggunakan barana paksaan, baik untuk memeras pengakuan, maupun untuk mendapatkan keterangan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

Pengenaan Pidana berdasarkan KUHP

Pasal 423

Seorang pejabat dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan menyalahgunakan kekuasaannya, memaksa seseorang untuk memberikan sesuatu, untuk membayar atau menerima pembayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri, diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun.

Pasal 435

Seorang pejabat yang dengan langsung maupun tidak langsung sengaja turut serta dalam pemborongan, penyerahan atau persewaan, yang pada saat dilakukan perbuatan, untuk seluruh atau sebagian, dia ditugaskan mengurus atau mengawasinya, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak delapan belas ribu rupiah.

Pengenaan Pidana berdasarkan UU TIPIKOR

1. barangsiapa dengan melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain, atau suatu korporasi, yang secara langsung atau tidak langsung merugikan keuangan negara dan atau perekonomian negara, atau diketahui atau patut disangka olehnya bahwa perbuatan tersebut merugikan keuangan negara atau perekonomian negara; dipidana penjara dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) (Pasal 2 ayat 1 UU No.31/1999)

Pengenaan Pidana berdasarkan UU TIPIKOR

2. barang siapa dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan, yang secara langsung atau tidak langsung dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian Negara; dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah). (Pasal 3 UU No.31/1999)

Pengenaan Pidana berdasarkan UU TIPIKOR

3. Pengembalian kerugian keuangan negara atau perekonomian negara tidak menghapuskan dipidananya pelaku tindak pidana