Anda di halaman 1dari 22

BAB II

TELAAH AKADEMIK
A. Kajian Filosofis Pesantren
Secara etimologis, pesantren berasal dari kata dasar santri yang mendapat
awalan pe dan akhiran an yang berarti menunjukkan makna tempat. Dengan demikian,
maka Pesantren adalah tempat santri. Sementara terdapat sejumlah teori yang
menjelaskan asal-usul kata santri.Pertama, berasal dari kata sastri, bahasa sanskerta
yang artinya melek huruf. Kedua, berasal dari cantrik, yang berarti seseorang yang
selalu mengikuti guru ke mana guru pergi menetap.( Yasmadi, Jakarta: 2002). Ketiga,
berasal dari bahasa India yang bermakna orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu
atau ilmu pengetahuan. (Zamakhsyari Dhofier, Jakarta : 1994). Sedangkan kata pondok
berasal dari bahasa Arab funduk yang berarti asrama, rumah, hotel atau tempat tinggal
sederhana.(Hasbullah, Jakarta : 1996).
Secara umum, sebagian besar teori yang menjelaskan tentang pesantren selalu
bersifat physical oriented. Teori-teori tersebut umumnya menyebut 5 elemen pokok
pesantren. Yaitu (1) Kyai (2) Santri (3) Masjid (4) Pondok dan (5) Pengajaran kitabkitab Islam klasik. Padahal, secara faktual, sesungguhnya kehidupan pesantren memiliki
keragaman dan dinamika yang sangat variatif sejalan dengan setting sosial budaya
masyarakat tempat pesantren berada. Di sebagian besar tempat, bisa jadi kelima unsur
pesantren itu terpenuhi, namun di sebagaian daerah bisa jadi salah-satu atau dua unsur
tersebut tidak terpenuhi. Apakah dengan demikian tempat ini tidak layak disebut
pesantren?.
Jika menelusuri kondisi pesantren dengan sekian banyak dan kompleks varian
dan dinamikanya, baik secara fisik, kultur, pendidikan, maupun kelembagaannya, maka
pesantren secara isthilahysesungguhnya tidaklah sesederhana seperti yang teridentifikasi
dengan adanya kyai, santri, maupun masjid. Karena konsepsi dasar dari kategori kyai
dan santri saja sampai sejauh ini masih bersifat multi-interpretable. Selain itu
kategorisasi yang tidak didasarkan pada hakikat intrinsik dari suatu objek merupakan
tindakan simplifikatif, reduktif bahkan distortif. Maka Pesantren sesungguhnya adalah
suatu lembaga atau institusi pendidikan yang berorientasi pada pembentukan manusia
yang memiliki tingkat moralitas keagamaan Islam dan sosial yang tinggi yang
diaktualisasikan dalam sistem pendidikan dan pengajarannya. Dengan demikian, maka
orientasi gerak dan pengajaran ilmu-ilmu agama, sosial maupun eksak di pesantren
adalah tidak lebih dari sebuah proses pembentukan karakter (character building) yang
Islami.
Selanjutnya membicarakan pesantren dalam konteks ke-Indonesian sarat
dengan ilmu, pengalaman, tradisi, sehingga dapat memunculkan khazanah yang
beragam seluas orang memandang Institusi Pendidikan Islam tertua Ini. Hal ini harap
maklum, karena membicarakan pesantren otomatis akan berimplikasi kepada tiga
Institusi sosial sekaligus. Yakni Islam, Pesantren, dan Indonesia. Ketiga domain wilayah
sosial itu, suatu saat dapat berdiri sendiri, tetapi pada saat yang lain menjadi satu

kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Untuk itu mengkaji pesantren dalam konteks keIndonesiaan merupakan hal yang menarik dan unik dengan banyaknya khazanah yang
akan kita dapatkan.
Sejalan dengan muqadimah di atas, kita dapat menyitir surat al-Taubah: 122,
yang artinya:
Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke
medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka
beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk
memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya
mereka itu dapat menjaga dirinya.
Ayat ini biasanya dijadikan landasan teologis bagi seorang santri dan pesantren
dalam menjalankan fungsinya untuk tafaqquh fi al-din (memperdalam agama). Tetapi
yang lebih penting dari itu, terdapat hal-hal filosofis yang terkandung dalam ayat itu
sebagai penjabaran tentang tugas dan fungsi dari pesantren dan santri.
Di antara nilai-nilai filosofis yang dapat dijadikan pijakan oleh pesantren
adalah sebagai berikut:
Pesantren sebagai bagian komponen masyarakat sebagai fasilitator bagi
santri li yatafaqqahu fi al-dini (memperdalam pengetahuan agama). Yang perlu digaris
bawahi di ayat ini adalah disebutkannya redaksi yatafaqqahu fi al-dini, memperdalam
pengetahuan agama dalam bentuk fiil mudhari. Dalam tata bahasa arab fiil
mudhari adalah kata kerja yang menunjukkan masa kini dan masa yang akan datang.
Jika dikembalikan kepada makna tafaqquh fi din di atas, maka dapat dipahami bahwa
pesantren atau santri dalam melaksanakan pendalaman agama harus berorientasi
kekinian dan visioner untuk masa-masa yang akan datang.
Pesantren adalah lembaga yang berperan dalam pembentukan karakter dan
moralitas generasi bangsa. Kematangan nilai nilai spritual ditambah dengan kualitas
intelektual maka generasi bangsa menjadi shaleh yang akrom. Berarti berperan
membentuk identitas kesalehan generasi bangsa.
Pesantren benteng pertahanan NKRI yang dalam sejarah tercatat sebagai basis
perjuangan dalam meraih kemerdekaan bangsa Indonesia
Dari sinilah akan muncul bahwa pesantren itu harus dinamis, berubah,
berkembang untuk tetap menjaga relevansinya dengan situasi dan kondisi yang
melingkupinya. Perkembangan pesantren dapat menyangkut kurikulum-materinya,
institusi-kelembagaannya, manajemen-kepemimpinannya ataupun relasi pesantren
dengan masyarakat sekitarnya. Dari dinamika pesantren inilah studi tentang pesantren
mengalami perkembangan pula, sejak penyebaran Islam masuk Indonesia sampai masamasa yang akan datang.
Mungkin kita telah mengenal beberapa pengkaji pesantren dalam dunia
akademis, di antaranya: Zamakhsari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang
Pandanagan Hidup Kyai, Azyumardi Azra,Pendidikan Islam: Tradisi Dan Modernisasi
Menuju Milenium Baru, juga tentang Jaringan Ulama Nusantara, Nurcholis
Madjid, Bilik-Bilik Pesantren: Sebuah Proses Perjalanan, Mastuhu, Dinamika Sistem

Pendidikan Pesantren Suatu kajian Tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan
Pesantren, Mastuhu, Kyai Tanpa Pesantren: KH. Ali Yafie dalam Peta Kekuatan Sosial
Islam Indonesia, dalam Jamal D. Rahman et al. (eds.), Wacana Baru Fiqh Sosial 70
Tahun KH. Ali Yafie, Yasmadi, Modernisasi Pesantren: Kritik Nurcholis Madjid
Terhadap Pendidikan Islam Tradisional, Abdurrahman Wahid, Bunga Rampai
Pesantren. Mujamil Qomar, menulis Pesantren dari Tarnsformasi Metodologi Menuju
Demokratisasi Institusi, Abdul Munir Mulkhan, Runtuhnya Mitos Politik Santri, dan
seabrek penelitian lain baik dari peneliti dalam negeri atau luar ngeri.
Buku yang didiskusikan dalam rangka ngaji ramadhan di kantor NU ini
merupakan hasil dari kreativitas dan dinamika studi tentang pesantren. Kita patut untuk
memberikan apresiasi kepada Ust. Ahmad Baso yang selama 6 tahun atau lebih telah
menghasilkan maha karya yang monumental dalam khazanah tulisan tentang pesantren.
Semoga dapat bermanfaat untuk para peminat studi Pendidikan Islam secara umum,
karena buku tentang Pesantren Studies ini sarat dengan ilmu-ilmu yang tidak banyak
diungkap oleh para peneliti sebelumnya. Misalnya referensi yang dipakai merupakan
sumber otoritatif di bidang pesantren, yang mungkin tidak banyak orang yang dapat
mendapatkan sumber-sumber sejarah semacam itu. Belum lagi kalau di lihat dari aspek
subtansi isi, metodologi, atau perspektif historis sosiologis. Tetapi tidak patut kiranya
kita memberikan penilaian dari karya tersebut, yang lebih pantas mungkin adalah
menggali ilmu-ilmu yang terkandung dalam buku pesantren studies itu, sebagai media
untuk memperteguh kembali institusi pesantren dalam memperjuangkan Islam ala Ahl
Sunnah wa al-Jamaah al-Nahdliyah di Nusantara. Yang pada akhirnya pesantren dapat
lebih berperan lagi dalam membangun bangsa ini, baik dalam sisi kaderisasi pejuangpejuang bangsa, sebagai sumber inspirasi moral, pelaku pembangunan, sampai kepada
membangun peradaban (hadlarah) bangsa Indonesia.
Religiusitas sebagai Orientasi Pesantren
Rasa keberagamaan bukanlah Agama. Agama lebih bersifat formal-komunal
tetapi keberagamaan lebih bersifat personal. Rasa keberagamaan merupakan core dari
agama itu sendiri. Tidak setiap pakar agama memiliki rasa keagamaan. Sebaliknya tidak
setiap orang yang memiliki rasa keberagamaan memiliki pengetahuan tentang Agama
sebanding dengan pengalamannya. Rasa dan semangat keberagamaan tersebut menurut
Nurcholish Madjid termanifestasi dalam tasawuf. Celakanya, justru aspek yang
merupakan inti dari kurikulum keagamaan inilah yang kadang terabaikan dan hanya
dikaji sambil lalu oleh lembaga-lembaga pendidikan (Nurcholish Madjid, Jakarta:
1997).
Religiusitas bisa diperoleh melalui dua cara. Pertama, pengkajian yang serius
terhadap tasawuf.Kedua, pembentukan miliu/lingkungan yang representatif bagi
pengembangan potensi rasa keberagamaan. Pengkajian dan penghayatan terhadap
dimensi spiritualitas inilah yang kelak akan menghasilkan generasi-generasi yang peka
terhadap aspek moralitas. Dari sini Pesantren nampaknya perlu memberikan kesadaran
baru bagi para santrinya bahwa keberagamaan merupakan proses yang tidak pernah
berakhir. Seperti yang dipraktekkan oleh kyai-kyai dulu ketika mengajarkan ilmu-ilmu

kepada para santrinya, tidak dibatasi oleh sekat kurikulum, tempat belajar yang tidak
begitu representative, tidak seperti kelas-kelas sekarang yang kadang bertaraf hotel,
seorang guru atau kyai pun juga tidak mendapatkan tunjangan, hanya berbasic
keikhlasan yang menjadi motivasi amaliyah talimnya. Di sinilah prinsip talim wa
taallum pesantren adalah pendidikan seumur hidup.
Agama adalah produk yang sudah jadi, di sisi lain tentang agama dan
keberagamaan di dunia pesantren dimaknai secara integrated. Rasa keberagamaan tidak
dapat direduksi pada sebatas pengkajian terhadap ilmu agama an sich. Dimensi
rasionalitas, spiritualitas dan bahkan penghayatan akan nilai-nilai agama itu sendiri
harus menjadi aksentuasi(penekanan) dalam transformasi ilmu-ilmu di pesantren.
Misalnya nilai-nilai akhlaq yang menjadi kurikulum di pesantren, dengan kitabnya ihya
ulum al-din, bidayat al-hidayah, minhaj al-abidin, al-hikam, siraj al-thalibin, diberikan
dengan harapan santri-santri memang benar-benar memahami ajaran Islam tidak hanya
dari sisi lahiriyah saja, tetapi akhlaq tersebut menjadi kepribadian yang menyatu dengan
seorang santri. Sehingga tamatan pesantren memang seorang kader yang berperilaku
luhur, berkepribadian atau berkarakter kuat nilai-nilai ke-Islaman ala kitab yang
dikajinya.
Kalau misi mencetak kader yang berkepribadian dan berakhlaq tadi terabaikan,
yang di tekankan hanya dari sisi intelektualitas, Akibatnya lahir generasi-generasi yang
kaya akan khazanah ilmu Agama tanpa rasa keagamaan, kaya ilmu pengetahuan tanpa
sikap keilmuan, generasi dengan predikat santri tanpa mental kesantrian. Lebih lanjut,
dalam kehidupan praktis, pesantren hampir tidak memiliki konstribusi dan peran yang
aktif dalam melakukan perubahan sosial menuju ke kehidupan yang lebih beradab dan
berbudaya.
Cobalah kita beri contoh lagi, bagamaimana para santri pesantren dituntut
untuk belajar kitab kuning, diajari jamiyah (organisasi) keagamaan pada hari malam
jumat, tetapi juga disuruh untuk menjalani lelaku riyadlah (tirakat) bathiniyah untuk
menyempurnakan ilmu-ilmu yang telah diterima di pesantren. Praktek-praktek semacam
ini merupakan ajaran-ajaran para sufi sebagai metode (thariqah) untuk mendekatkan diri
kepada Allah. Kemudian dipraktekkan di dunia pesantren untuk membekali para santri
agar dia mempunyai kekuatan bathiniyah (al-qalb). Karena inti dari ajaran tarbiyah
Islamiyah (pendidikan Islam) adalah pendidikan hati, sebagai pusat aktivitas kehidupan
manusia. Ketika hati seseorang itu baik, maka seluruh amaliyahnya juga akan baik.
Sebagaimana Hadits Rasul, sesungguhnya dalam diri manusia itu ada segumpal darah,
jika dia baik maka seluruh anggota badannya juga baik, tetapi seandainya ia buruk,
maka seluruhnya juga akan rusak. Segumpal darah itu adalah hati.
Konsep pendidikan lahir dan batin oleh pesantren, juga tercermin dari
hubungan guru (kyai) dan murid (santri). Seorang santri ketika sudah nyantri kepada
seorang kyai, maka relasi keduanya lebih dari sekedar hubungan guru dan siswanya,
lebih dari hubungan orang tua dan anaknya. Tetapi hubungan mereka berbentuk
lahiriyah dan bathiniyah. Sebuah interaksi di mana seorang santri, di satu sisi
diposisikan sebagai murid dari seorang guru yang berperan sebagai mursyid atau guru

spiritual. Pada posisi ini seorang murid mendapatkan pendidikan ilmu-ilmu beribadah,
cara-cara munajat kepada Allah Swt. Pada saat yang sama seorang santri juga menjadi
anak dari seorang guru yang berperan sebagai orang tua mereka dengan menjaganya
dari aspek jasmaniyah (biologis). Di lain pihak hubungan kyai dan santri juga berpola
antara siswa dengan gurunya dalam rangka melakukan aktivitas transmisi intelektual.
Seorang guru menyampaikan ilmu-ilmunya kepada santri-santri, dalam berbagai disiplin
ilmu. Maka dari itu melihat relasi antara santri dan kyai itu, peran seorang kyai adalah
multi fungsi, yakni sebagai muallim, muadib, musyrif, ustadh, dan murabbi.
Mengembangkan Pergerakan Pesantren
Mengambil itibar pada filosofi tindakan Allah memberikan mujizat kepada
Rasul-Nya yang relevan dan up to date dengan permasalahan kemanusiaan pada
masanya (khotib al-nasa bi qadri uqulihim). Pesantren juga membekali dirinya dalam
proses pengembangannya, dengan melakukan perubahan dan dinamika kehidupan sosial
di mana dia berada. Yang menjadi perhatian pesantren adalah perubahan-perubahan
yang diakibatkan oleh kemajuan spektakuler di bidang teknologi kecerdasan buatan
(intellegencia artificial) itu ternyata juga berakibat pada perubahan tata nilai keagamaan
dan sosial. Secara rinci, Kehidupan global saat ini ditandai oleh 4 hal : 1. kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi 2. Perdagangan bebas 3. Kerjasama regional dan
internasional yang mengikis sekat-sekat ideologis 4. Meningkatnya kesadaran HAM
Maka untuk mengantisipasi perubahan tata nilai baru dalam era global tersebut,
UNESCO, misalnya, telah mencanangkan 4 pilar belajar, yaitu learning to think,
learning to do, learning to be, dan learning to live together.
Lebih jauh bila melihat masa depan masyarakat dunia, yang
menurut futurolog Amerika, John Naisbitt dan Patricia Aburdene disebut masyarakat
global. Menurut keduanya masa yang akan datang ada sepuluh trend yang akan
menaungi dan mempengaruhi kehidupan manusia, yaitu: 1). Boom (meledaknya)
ekonomi global tahun 1990-an, 2). Renaisans (kebangkitan) dalam seni, 3). Munculnya
sosialisme pasar bebas, 4). Gaya hidup global dan nasionalisme kultural, 5).
Penswastaan negara kesejahteraan, 6). Kebangkitan tepi pasifik, 7). Dasawarsa wanita
dalam kepemimpinan, 8). Abad biologi, 9). Kebangkitan agama milenium baru, 10).
Kejayaan individu. (John Naisbitt dan Patricia Aburdene. Jakarta: 1990, 3). Jika apa
yang diprediksikan oleh dua futurolog itu benar, maka nilai-nilai yang ada dalam
masyarakat niscaya akan berubah. Masalah dalam lapangan perekonomian yang
dibicarakan oleh para ilmuwan satu abad yang lalu, mungkin sudah jauh tertinggal dari
pada apa yang dipermasalahkan dewasa ini, apalagi untuk dasawarsa yang akan datang.
Dalam menghadapi problem demikian, diperlukan strategi, motivasi, materi yang
dilandasi oleh prinsip-prinsip yang luwes dan mantap.
Itulah kondisi makro yang sekarang ini sedang menghimpit dunia Pesantren.
Pesantren sekarang sudah berfikir tentang apa yang bisa diperbuat di tengah atmosfir
kehidupan global seperti itu serta konstribusi yang bisa disumbangkan untuk turut andil
dalam membentuk kepribadian bangsa, seperti yang diberikan oleh para ulama-ulama
pesantren tempo dulu. Atau bahkan pesantren bisa bertahan di tengah hegemoni produk-

produk pemikiran dan tata nilai hidup globalisasi. Jika Nabi Ibrahim harus membekali
diri dengan kekuatan argumentasi pemikiran, hal itu dimaksudkan untuk melayani dan
mengimbangi masyarakatnya yang memiliki tradisi berfikir yang kuat, Nabi Musa
dengan kemampuan magic karena kaumnya gemar dalam perdukunan, Nabi Isa dengan
keahlian pengobatan karena kecenderungan umatnya pada dunia pengobatan, dan Nabi
Muhammad Saw. dengan kemampuan sastra karena orang Arab punya kelebihan dalam
tata bahasa, maka Pesantren juga akan tetap menggunakan mujizat yang pernah
digunakan oleh para ulama-ulama masa lalu, dalam menghadapi dan menyelesaikan
problematika masyarakat di abad 21.
Pesantren sekarang ini juga telah melakukan reorientasi pada visi dan misi
pendidikannya sehingga pergerakan pesantren akan lebih membumi. Di era penjajahan,
pesantren di berbagai daerah menjadi basis pergerakan melawan kolonialisme
(sebagaimana diungkap oleh buku Pesantren Studies). Para kyai/ulama seperti Imam
Bonjol, Pangeran Diponegoro mempelopori perlawanan terhadap pemerintah kolonial.
Namun ketika perlawanan fisik ini dirasa gagal, mereka mengalihkan perlawanan
tersebut ke bidang pendidikan dengan membuat sistem pendidikan sendiri.( Karel A.
Steenbrink, Jakarta: 1994). Lalu, pesantren saat ini telah memiliki peran signifikan
seperti yang pernah dimilikinya pada era penjajahan dan era 60-70-an? Hanya persoalan
krusial yang dihadapi masyarakat saat ini adalah lemahnya integritas moral, baik di
tingkat masyarakat kelas menengah-atas maupun di kalangan grassroot. Indikator dari
problem ini terlihat dari budaya korupsi yang seolah sudah menjadi bagian integral
dari kehidupan sosial, maraknya tayangan pornografi di televisi, majalah, koran dan
media cetak lainnya. Ada yang menyebut bahwa Indonesia saat ini merupakan surga
pornografi kedua setelah Rusia. Sementara diketahui secara umum bahwa Indonesia
merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Dalam situasi kenyataan
seperti ini, apa yang seharusnya bisa diperbuat pesantren sangat banyak.
Saat ini, kadangkala pesantren juga terjebak dalam perjuangan kepentingan
yang bersifat pragmatis-oportunis, terlebih lagi pada era pasca Orde Baru, terutama
sekali pada saat-saat menjelang Pemilu. Pesantren dalam banyak kesempatan justru
menjadi ajang pertarungan kepentingan perebutan kekuasaan atas nama Agama.
Generasi masa lalu menjadikan politik sebagai media memperjuangkan kepentingan
Agama, saat ini kadangkala Agama dijadikan tunggangan kepentingan politik. Ini bisa
terjadi seandainya visi dan misi Pesantren kurang jelas dalam konstalasi perubahan
sosial yang sedang berlangsung. Untuk itu Pesantren saat ini ibarat sebuah kapal yang
berlayar di tengah gelombang laut harus jelas dengan tujuan yang akan dicapainya. Ia
akan berlayar menuju ke tempat yang diinginkan oleh nahkodanya.
Di tengah arus perubahan tata nilai sosial-budaya seperti itu, jika Pesantren
tampak minim memiliki sense of crisis sama sekali. Maka tidak mengherankan saat-saat
tertentu fungsi pesantren secara faktual kadang tergantikan oleh lembaga/institusi yang
lain. Misalnya Gerakan dakwah kampus dalam banyak kasus justru lebih efektif dalam
melakukan perubahan sosial. Atas dasar itulah maka pesantren perlu melakukan
reorientasi gerak pengajaran dan pendidikan, serta perlu mulai mengkaji pendekatan

baru dalam sistem pendidikannya. Sebagaimana dilakukan oleh para kyai-kyai


pesantren tempo dulu yang begitu brilian dalam ide dan gerakannya untuk
memperjuangkan Islam dan bangsa Indonesia. Seperti para Wali Songo, Kyai Kholil
Bangkalan Madura, Kyai Hasyim Asyari, Kyai Wahid hasyim, Kyai Abdurrohman
Wahid, KH Wahab Hasbullah Jombang, Kyai Abdul Karim, KH Mahrus Ali Kediri,
Kyai Mustain Romli Rejoso Jombang, KH Thohir Widjaya Blitar, KH Bisri Mustofa
Rembang, KH Ahmad Shidiq Jember, Kyai Asad Samsul Arifin Situbondo, Kyai
Zarkasyi Ponorogo dan lain sebagainya.
Para kyai di atas sebagaian murni pengasuh pesantren yang sehari-hari bergelut
dalam rutinitas kesantrian, ada yang mubaligh keliling, mursyid thariqah, politisi,
pendidik sekolah formal, pendiri pondok pesantren, baik salaf maupun modern. Ini
mencerminkan tentang adanya figur yangvisioner dari para ulama dalam bidangnya
masing-masing, untuk memperjuangkan Islam li Ilai kalimatillahi hiya al-ulya.
B. Kajian Yuridis Pesantren
Landasan Yuridis, disebut juga landasan hukum atau dasar hukum atau legalitas
adalah landasan dasar yang terdapat dalam ketentuan-ketentuan hukum yang lebih
tinggi derajatnya. Landasan yuridis dibagi menjadi 2 (dua), yaitu:
1. Landasan yuridis yang beraspek formal yaitu ketentuan-ketentuan hukum
yang memberi kewenangan kepada badan pembentuknya.
2. Landasan yuridis yang beraspek material adalah ketentuan-ketentuan
hukum tentang masalah atau persoalan apa yang harus diatur.
Berdasarkan pendapat Rosjidi Ranggawidjaja dan Amiroedin Sjarif di atas,
terdapat persamaan dalam memaparkan mengenai landasan dalam peraturan perundangundangan. Baik menurut Rosjidi Ranggawidjaja maupun menurut Amiroedin Sjarif
peraturan perundang-undangan harus berlandaskan pada: landasan filosofis, landasan
sosiologis dan landasan yuridis.
Kajian yuridis normatif atau penelitian hukum normatif disebut juga penelitian
doktrinal. Pada penelitian hukum jenis ini hukum dikonsepkan sebagai apa yang tertulis
dalam peraturan perundang-undangan (law in books) atau hukum dikonsepkan sebagai
kaidah atau norma yang merupakan patokan berperilaku manusia yang dianggap pantas.
Sebab itu, dasar yuridis normatif keberadaan pondok pesantren tercantum data
skunder berikut, yaitu:
Pancasila, sebagai dasar negara dan filsafah hidup bangsa Indonesia khususnya
pada Sila I yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha esa. Ini berarti agama dan institusiinsitusi agama dapat hidup dan diakhui di Indonesia.
1. UUD 1945, sebagai landasan hukum negara Republik Indonesia pada Pasal
33 tentang hak setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan yang
layak.
2. UUD 1954, ayat 1-2 (BPKNIP) yang menyatakan bahwa pendidikan
agama merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional.
3. UU No. 22 Tahun 1989 yang disempurnakan dengan Undang-Undang No

4.

20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memuat pada pasal 30


ayat 1 sampai 4 memuat bahwa pondok pesantren termasuk pendidikan
keagamaan dan merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional.
Undang-undang ini amat signifikan dalam menentukan arah dan kebijakan
dalam penanganan pendidikan pondok pesantren dimasa yang akan datang.
Peraturan Menteri Agama No. 3 Tahun 1979. Keputusan Menteri Agama
No. 18 tahun 1975 di Ubah dengan Keputusan Menteri Agama No. 1
Tahun 2001, tentang penambahan direktorat pendidikan keagamaan dan
pondok pesantren departemen agama sehingga pondok pesantren
mendapatkan perhatian khusus dari Kementerian Departemen Agama.

Penjabaran atas landasan hukum di atas yaitu bahwa negara dalam hal ini
pemerintah pusat ataupun daerah berkewajiban membina dan membangun Pondok
Pesantren di Nusantara. Sebab, keberadaan dan ejawantah dari Sila Pertama sudah
dibuktikan oleh pesantren sebagai lembaga yang pendidikan dan pembinaan moral
generasi Bangsa. Menjadikan masyarakat yang agamis dan berakhlakul karimah serta
membentuk karakter dan identitas suatu negara. Selain itu, pesantren terbukti istiqomah
sebagai lembaga terdepan yang mengajarkan nilai nilai luhur agama dan bangsa.
Apalagi dalam pembukaan UUD 1945 pasal 33 sudah jelas dinyatakan bahwa setiap
warga negara berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Kemudian, hal ini juga diatur dalam UUD 1954, ayat 1-2 (BPKNIP) yang
menyatakan bahwa pendidikan agama merupakan bagian dari sistem pendidikan
nasional. Di tambah dengan UU No. 22 Tahun 1989 yang disempurnakan dengan
Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memuat pada
pasal 30 ayat 1 sampai 4 memuat bahwa pondok pesantren termasuk pendidikan
keagamaan dan merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional. Undang-undang ini
amat signifikan dalam menentukan arah dan kebijakan dalam penanganan pendidikan
pondok pesantren dimasa yang akan datang. Maka, sudah selayaknya dan patut
pemerintah daerah membuat peraturan yang mengayomi keberadaan pondok pesantren
sebagai bagian dari khazanah dan identitas pendidikan asli produk Indonesia.
Selain itu, adanya Peraturan Menteri Agama No. 3 Tahun 1979. Keputusan
Menteri Agama No. 18 tahun 1975 di Ubah dengan Keputusan Menteri Agama No. 1
Tahun 2001, tentang penambahan direktorat pendidikan keagamaan dan pondok
pesantren departemen agama sehingga pondok pesantren mendapatkan perhatian khusus
dari Kementerian Agama. Peranturan Menteri Agama dimaksud tidak berarti sempit,
akan tetapi luas. Dalam artian pesantren hanyalah domain Kementerian Agama akan
tetapi juga domain pemerintah daerah yang tentunya wajib bertanggungjawab
melestarikan lembaga-lembaga pesantren.
C. Kajian Politis Pesantren
Kajian politis pesantren diuraikan dalam kebijaksanaan politik yang menjadi
dasar kebijakan-kebijakan dan pengarahan ketatalaksanaan pemerintahan. Oleh sebab

itu, pada kajian ini maka harus dinilai sebagai berikut:


1. Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di nusantara harusnya
dilestarikan sebagai khazanah kearifan lokal guna tidak tergerus hilang
oleh perkembangan zaman dan program pemerintah (dalam hal ini daerah)
banyak yang tidak memikirkan nasib pesantren kecuali dibutuhkan pada
saat seremonial politik menjelang pemilu.
2. Kyai, Pesantren dan masyarakat memiliki hubungan erat dan yang tidak
terpisahkan sebab kyai pada tataran peran dan fungsinya tidak hanya
mendidik para santri di pesantren terkait nilai dan ajaran agama, akan
tetapi juga mendidik masyarakat untuk taat kepada ajaran agama, dan
hukum perundang-undangan yang berlaku. Sebab, selama ini Kyai dan
pesantren hanya dijadikan tameng penyelesaian sosial di masyarakat,
seperti diminta memberikan penyuluhan keagamaan, sementara
pemerintah hanya bisa mengatur tanpa memberikan penghargaan lebih
bagi pesantren. Contoh, kyai dijadikan rujukan jawaban setiap
permasalahan sosial keagamaan di masyarakat, termasuk di dalamnya
ketika terjadi gesekan sosial.
3. Secara politis, kaitannya dengan dunia pendidikan pesantren dikatagorikan
sebagai pendidikan non formal yang hanya bernaung dengan Kementerian
Agama; atau domain Kemenag, buat domain intansi lain. Pandangan dan
cara berpikir seperti itu banyak digandrungi oleh Kepala Kepala Daerah
sehingga dalam program pembangunan pendidikan pesantren tidak
menjadi prioritas; atau secara nyata tidak ada program pemerintah yang
secara tegas membantu pesantren, kecuali melalui dinas sosial. Maka dari
itu, secara politis pesantren terkesan adanya diskriminasi pembinaan dan
pemberdayaan terhadap pesantren dengan alasan stigma domain pesantren
adalah Kementerian Agama.
4. Politis Historis, pesantren memiliki sejarah panjang sebagai lembaga
pendidikan, bahkan pada era modern sekarang ini banyak sekolah beralih
dengan sistem pesantren seperti boarding school. Padahal jauh sebelum
itu pesantren sudah menerapkan sistem boarding school sebagai bagian
dari media pembelajaran atau sistem pembelajaran.
5. Tertindasnya pesantren yang istiqomah dengan sistem salafiyah non
sekolah. Artinya, banyak pondok pesantren yang habis ditelan zaman
karena tidak berapliasi dengan sekolah atau madrasah. Kasus terdegradasinya pesantren salafiyah non apiliasi dengan lembaga formal harus menjadi
perhatian serius secara politis, sebab model pesantren ala bale rombeng
tersebut adalah bagian khazanah keislaman di Indonesia, lebih khusus
bagian dari khazanah pendidikan Islam di Kabupaten Tangerang. Maka
dari itu, model pesantren bale rombeng harus dijadikan sebagai khazanah
budaya keislaman dan kearifan lokal asli di Kabupaten Tangerang karena
pesantren-pesantren yang modelnya seperti itu semakin langka, dan harus

dilestarikan keberadaanya.
Atas dasar persoalan diatas maka sudah sepatutnya pemerintah daerah
membuat peraturan daerah yang mengayomi keberadaan pondok pesantren sebagai
lembaga pendidikan Islam tertua di nusantara. Kemudian, sudah sepantasnya
pemerintah daerah melestarikan pesantren bale rombeng sebagai bagian dari khazanah
keislaman di Kabupaten Tangerang; atau pusat informasi pendidikan masa klasik di
Kabupaten Tangerang.

D. Kajian Sosiologis Pesantren


Dalam bagian ini diuraikan realitas masyarakat yang meliputi kebutuhan
hukum masyarakat, kondisi masyarakat dan nilai-nilai yang hidup dan berkembang
(rasa keadilan masyarakat). Maka dari itu akan diuraikan landasan sosiologi pesantren
untuk dijadikan sebagai rujukan adanya peraturan daerah tentang Pondok Pesantren di
Kabupaten Tangerang.
1. Historis Sosiologis
Secara historis-sosiologi baha pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua
di negara ini, diakui ataupun tidak pesantren telah mendokumentasikan berbagai
peristiwa sejarah bangsa Indonesia. Sejak awal penyebaran agama Islam di Indonesia,
pesantren merupakan saksi utama dan ikut andil sebagai sarana Islamisasi.
Perkembangan dan kemajuan masyarakat Islam Nusantara, tidak mungkin terpisahkan
dari peranan pesantren. Pesantren dengan bermacam historisnya telah dianggap sebagai
lembaga pendidikan yang mengakar kuat dari budaya asli bangsa Indonesia. Kehadiran
pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam, kini semakin diminati oleh banyak
kalangan, termasuk masyarakat kelas menengah atas. Hal ini membuktikan lembaga ini
mampu memberikan solusi terhadap kebutuhan pendidikan anak-anak mereka. Tetapi
banyak kalangan yang beranggapan bahwa pesantren adalah pendidikan yang kuno, anti
akan perubahan, atau hanya sebatas tempat rehabilitas anak-anak nakal. Tetapi hal itu
merupakan suatu tantangan bagi pesantren dalam era Modern.
Pendidikan Pesantren memang menyimpan karakter yang cukup khas, tidak
hanya dalam sistemnya, tetapi juga dalam perannya. Tujuan Utama Pendidikan Nasional
menitik beratkan pada peningkatan ketaqwaan kepada Tuhan YME, mempertinggi budi
pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta
tanah air, hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan Islam baik secara sosiologis maupun
filosofis. Namun tujuan utama dari pendidikan nasional itu masih terbentur tembok
besar bernama fakta dan realita yang menunjukkan kualitas lulusan lembaga pendidikan
masih belum mencapai tujuan utama dari Pendidikan Nasional. Oleh karena itu banyak
orang berpikir bahwa "sekolah saja" tidak mungkin dapat diandalkan untuk mendidik
manusia secara utuh.
Banyak yang mengeluh bahwa akhlak dan prilaku pelajar dewasa ini cenderung
merosot dengan berbagai bentuk tindakannya yang merisaukan banyak pihak. Karena
itu, patut dipikirkan kemungkinan "pesantren masuk sekolah".

Disinilah pendidikan Pesantren pasti akan diuji eksistensinya seputar ihwal apakah
mampu menjadi alternatif dari kebuntuan tersebut. Serta akan semakin mengukuhkan
kemampuan pesantren dalam mewujudkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya.
2. Problematika Sosial Pendidikan Pesantren
Peranan pendidikan pesantren dalam pelaksanaan pendidikan nasional dapat
dilihat dalam kegiatannya sebagai sub-sistem pendidikan nasional. Pesantren
merupakan lembaga pendiikan Islam yang berfungsi melaksanakan pendidikan berdasar
arah dan tujuan yang telah ditentukan. Dengan fungsi yang dibawa oleh sistem
pendidikan pesantren dan dan sistem pendidikan umum di sisi lain, pendidikan nasional
akan menunjukkan dinamikanya secara mantap. Untuk kepentingan ini, integrasi
pendidikan pesantren dan pendidikan jalur luar sekolah, baik secara fungsional maupun
institusional, senantiasa diusahakan. Sebab, jika keduanya berjalan kurang terpadu,
maka sasaran pendidikan akan terhambat.
Namun usaha tersebut sepertinya tidaklah mudah, karena Hal demikian juga
ditunjukan oleh sejarah di mana penjajah memaksakan secara mutlak berlakunya sistem
pendidikan sekolah saja dengan "menekan" (diskriminatif) perkembangan pendidikan
pribumi, yakni pendidikan pesantren. Dan parahnya doktrin penjajah ini terkdang masih
terlihat di beberapa kalangan. Hal ini terlihat pada persoalan dikotomis dalam sistem
pendidikannya. Pendidikan Islam (pesantren) bahkan diamati dan disimpulkan
terkukung dalam kemunduran, kekalahan, keterbelakangan, ketidakberdayaan,
perpecahan, dan kemiskinan, sebagaimana pula yang dialami oleh sebagian besar negara
dan masyarakat Islam dibandingkan dengan mereka yang non Islam. Bahkan,
pendidikan yang apabila diberi embel-embel Islam, juga dianggap berkonotasi
kemunduran dan keterbelakangan, meskipun sekarang secara berangsur-angsur banyak
diantara lembaga pendidikan Islam berbasis pesantren yang telah menunjukkan
kemajuan.
Pandangan ini sangat berpengaruh terhadap sistem pendidikan Islam, yang
akhirnya dipandang selalu berada pada posisi deretan kedua dalam konstelasi sistem
pendidikan di Indonesia, walaupun dalam undang-undang sistem pendidikan nasional
menyebutkan pendidikan Islam merupakan subsistem pendidikan nasional. Tetapi
predikat keterbelakangan masih melekat padanya bahkan pendidikan Islam tidak jarang
hanya dipruntukan bagi orang-orang yang tidak mampu atau miskin.
Dalam hal ini, maka pendidikan Islam (pesantren) dewasa ini memberi kesan
yang tidak menggembirakan. Meskipun, kata Muchtar Buchori, tidak dapat dipandang
sebagai evidensi yang kongklusif dalam penglihatannya ialah kenyataan, bahwa setiap
kali ada murid-murid dari suatu lembaga pendidikan Islam yang turut serta dalam
lembaga cerdas tangkas atau lomba cepat-tepat di TVRI, maka biasanya kelompok ini
mendapatkan nilai terenda. Evidensi kedua ialah bahwa partisipasi siswa-siswi dari
dunia pendidikan Islam dalam kegiatan nasional seperti lomba Karya Ilmiah Remaja
menurut kesan saya sangat rendah, dan sepanjang pengetahuan saya belum pernah ada
juara lomba ini yang berasal dari lembaga pendidikan Islam. Hal ini, merupakan suatu

kenyataan yang selama ini dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam di Indonesia
termasuk juga pesantren.
Fakta dan realita yang ada bahwa pendidikan Islam pada umumnya memang
diakui mengalami kemunduran dan keterbelakangan, namun akhir-akhir ini secara
berangsur-angsur lembaga pendidikan Islam mulai menjawab dengan kemajuaannya.
Tidak mengherankan bila banyak lembaga pendidikan pesantren modern baik yang
masih menggunakan nama Mahad ataupun menggunakan nama lain seperti MBS
ataupun model lainya. Tidak hanya cukup sampai disitu pendidikan pesantren saat
inipun memiliki kurikulum yang tidak berbeda dengan kurikulum sekolah umum.
Tetapi tantangan yang dihadapi tetap sangat kompleks, sehingga menuntut
inovasi pendidikan Islam itu sendiri dan ini tentu merupakan pekerjaan yang besar dan
sulit. Beberapa kalangan memproyeksikan bahwa kelemahan-kelemahan pendidikan
Islam berbasis pesantren dewasa ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti, kelemahan
dalam penguasaan sistem dan metode serta menejemen kelembagaan, bahasa sebagai
alat untuk memperkaya persepsi, dan ketajaman interpretasi, dan kelemahan dalam hal
kelembagaan [organisasi], ilmu dan teknologi. Maka dari itu, pesantren didesak untuk
melakukan inovasi tidak hanya yang bersangkutan dengan kurikulum dan perangkat
manajemen, tetapi juga strategi dan taktik operasionalnya. Strategi dan taktik itu,
bahkan sampai menuntut perombakan model-model sampai dengan institusi-institusinya
sehingga lebih efektif dan efisien,
Rekonstruksi Pesantren
Kalau kita telaah literatur dalam pendidikan Islam, maka diketahui bahwa fungsi
dan tujuan pendidikan Islam diletakan jauh lebih berat tanggungjawabnya bila
dibandingkan dengan fungsi pendidikan pada umumnya. Sebab, fungsi pendidikan
Islam harus memberdayakan atau berusaha menolong manusia untuk mencapai
kebahagian dunia dan akhirat dan bertujuan terbentuknya orang yang berkepribadian
muslim. Oleh karenanya, maka konsep dasarnya bertujuan untuk melahirkan manusiamanusia yang bermutu yang akan mengelola dan memanfaatkan bumi ini dengan ilmu
pengetahuan untuk kebahagiannya, yang dilandasai pada konsep spritual untuk
mencapai kebahagian akhiratnya.
Sebagaimana dikatakan para ahli, bahwa pendidikan Islam berupaya untuk
mengembangkan semua aspek dalam kehidupan manusia yang meliputi spritual,
intelektual, imajinasi, keilmiyahan; baik individu maupun kelompok, dan memberi
dorongan bagi dinamika aspek-aspek di atas menuju kebaikan dan pencapaian
kesempurnaan hidup baik dalam hubungannya dengan al-Khaliq, sesama manusia,
maupun dengan alam. Akan tetapi pada dataran operasional, rumusan-rumusan ideal
yang dikemukakan di atas belum terjawab, sedangkan lembaga pendidikan Islam seperti
pesantren cukup variatif dalam berusaha menyelaraskan konsep-konsep tersebut, namun
belum berdaya dan posisi pendidikan Islam sendiri masih terlihat begitu lemah.
Melihat kenyataan ini, maka inovasi atau penataan fungsi pendidikan Islam
berbasis pesantren harus diupayakan secara terus menerus, berkesinambungan, dan
berkelanjutan. Di samping inovasi pada sisi kelembagaan, factor tenaga pendidikan juga

harus ditingkatkan aspek etos kerja dan profesionalismenya, perbaikan materi


(kurikulum) yang pendekatan metodologi masih berorientasi pada sistem tradisional,
dan perbaikan manajemen pendidikan itu sendiri. Untuk itu, maka usaha untuk
melakukan inovasi tidak hanya sekedar tambal sulam, tetapi harus secara mendasar dan
menyeluruh, mulai dari fungsi dan tujuan, metode, materi, lembaga pendidikan, dan
pengelolaannya. Penataan pada fungsi pendidikan Islam, tentu dengan memperhatikan
pula dunia kerja. Sebab, dunia kerja mempunyai andil dan rentang waktu yang cukup
besar dalam jangka kehidupan pribadi dan kolektif. Pembenahan pendidikan Islam
dapat memilih sasaran model pendidikan bagi kelompok masyarakat yang kurang
beruntung di kalangan orang dewasa. Perbaikan wawasan, sikap, pengetahuan,
keterampilan, diharapkan akan memperbaiki kehidupan sosio-kultural dan ekonomi
mereka. Pilihan sasaran berikutnya dapat ditujukan bagi pendidikan terhadap anak.
Konsumsi pendidikan dan hiburan untuk kelompok ini, belum tanpak sangat
berkembang, kecuali usaha-usaha yang secara naluriah telah diwariskan dari waktu ke
waktu.
Pondok pesantren, seharusnya memperluas pelayanan pendidikan kepada
masyarakat secara wajar dan sistematis, sehingga apa yang disajikan kepada
masyarakat, akan tetap terasa bermuara pada pandangan serta sikap Islami, dan terasa
manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari. Begitu juga mengenai aktivitas masjidnya.
Pondok Pesantren dan Masjid perlu menggalang kerjasama dengan para ulama dan para
cendekiawan Muslim yang tergabung dalam Perguruan Tinggi yang ada di sekitarnya.
Sebab itu dapat dirumuskan alasan sosiologi pentingnya keberadaan peraturan
daerah tentang pondok pesantren, di antaranya:
1. Kepincangan-kepincangan pendidikan Islam dan pendidikan umum yang
dikemukakan di atas, semestinya tidak kita bicarakan berlarut-larut.
Sehingga terkesan adanya diskriminasi kebijakan pemerintah terhadap
pendidikan Islam, dalam hal ini pesantren;
2. Pemisahan konsep pendidkan antara pendidikan Islam dengan pendidikan
umum dalam konfigurasi pendidikan nasional menjadi batu sandungan
pemerintah di daerah dalam memberikan kegiatan pembinaan dan
pengakuan terhadap eksistensi pesantren dalam sebuah program.
3. Konsep industrialisasi wacana kependidikan; atau lulusan menjadi
penyebab melemahnya peran pesantren dalam berkontribusi langsung
dalam membangun kesejahteraan. Sebab, pemerintah tidak memanfaatkan
pesantren sebagai basis pendidikan pengembangan skil dan sumberdaya
manusia. Alumni pesantren hanya menjadi kontributor bertambahnya
pengangguran di Indonesia. Padahal, jika pesantren diberdayakan maka
hasilnya akan jauh lebih maksimal dan berkarakter serta bermanfaat untuk
masyarakat kelas bawah. Sistem pendidikan ala pesantren (boarding)
sejatinya akan lebih mudah membentuk jiwa jiwa yang sumberdaya
manusia.

Pendidikan Islam akan kembali solid dalam memberdayakan umat Islam di


Indonesia yang sedang menuju pada masyarakat industrial dengan berbagai
tantangan etos kerja, profesionalisme, dan moralitas di naungi dan
diberdayakan secara nyata oleh pemerintah
Maka dari itu, pentingnya adanya peraturan daerah yang menaungi keberadaan
pesantren di Kabupaten Tangerang sebagai usaha bagian dari peningkatan kualitas
kesejahteraan masyarakat. Apalagi pesantren diberikan pembinaan sebagai pusat
perekonomian masyarakat area pesantren. Sebut saja, Pondok Pesantren Al-Hasaniyah
menjadi ladang perekonomian masyarakat sekitar? Dengan adanya para santri yang
jumlahnya ribuan, maka pasti membutuhkan jajanan dan kebutuhan lainnya untuk para
santri. Maka tukang dagang, tukang Es, dan lain sebagainya mendapat keberkahan
pendapatan yang melimpah dari keberadaan pesantren. Jika hal ini diberdayakan oleh
pemerintah daerah maka pesantren bisa dijadikan sebagai patnership pengembangan
perekonomian masyarakat, khususnya di area pesantren.
4.

E. Kajian Teoritis Pesantren


1. Pengertian Pesantren
Istilah pesantren berasal dari kata pe-santri-an, di mana kata "santri" berarti
murid dalam Bahasa Jawa. Istilah pondok berasal dari Bahasa Arab funduuq ()
yang berarti penginapan. Khusus di Aceh, pesantren disebut juga dengan nama dayah.
Biasanya pesantren dipimpin oleh seorang Kyai. Untuk mengatur kehidupan pondok
pesantren, kyai menunjuk seorang santri senior untuk mengatur adik-adik kelasnya,
mereka biasanya disebut lurah pondok. Tujuan para santri dipisahkan dari orang tua dan
keluarga mereka adalah agar mereka belajar hidup mandiri dan sekaligus dapat
meningkatkan hubungan dengan kyai dan juga Tuhan.
Pendapat lainnya, pesantren berasal dari kata santri yang dapat diartikan tempat
santri. Kata santri berasal dari kata Cantrik (bahasa Sansakerta, atau mungkin Jawa)
yang berarti orang yang selalu mengikuti guru, yang kemudian dikembangkan oleh
Perguruan Taman Siswa dalam sistem asrama yang disebut Pawiyatan. Istilah santri
juga dalam ada dalam bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji, sedang C. C
Berg berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari istilah shastri, yang dalam bahasa
India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu atau seorang sarjana ahli
kitab suci agama Hindu. Terkadang juga dianggap sebagai gabungan kata saint (manusia
baik) dengan suku kata tra (suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti
tempat pendidikan manusia baik-baik.1
Pesantren adalah sebuah pendidikan tradisional yang para siswanya tinggal
bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan
sebutan kiai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri. Santri tersebut
berada dalam kompleks yang juga menyediakan masjid untuk beribadah, ruang untuk
belajar, dan kegiatan keagamaan lainnya. Kompleks ini biasanya dikelilingi oleh
1 Rohadi Abdul, Taufik dkk, Rekontruksi Pesantren Masa Depan, (Jakarta Utara: PT. Listafariska Putra,
2005), hal. 11

tembok untuk dapat mengawasi keluar masuknya para santri sesuai dengan peraturan
yang berlaku.2
Pondok Pesantren merupakan dua istilah yang menunjukkan satu pengertian.
Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri, sedangkan
pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana terbuat dari bambu. Di samping itu,
kata pondok mungkin berasal dari Bahasa Arab Funduq yang berarti asrama atau hotel.
Di Jawa termasuk Sunda dan Madura umumnya digunakan istilah pondok dan
pesantren, sedang di Aceh dikenal dengan Istilah dayah atau rangkang atau menuasa,
sedangkan di Minangkabau disebut surau.3
Pesantren juga dapat dipahami sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran
agama, umumnya dengan cara nonklasikal, di mana seorang kiai mengajarkan ilmu
agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa
Arab oleh Ulama Abad pertengahan, dan para santrinya biasanya tinggal di pondok
(asrama) dalam pesantren tersebut.4
2. Dinamika Keilmuan dan Pendidikan
Pada awalnya berdirinya, pesantren merupakan media pembelajaran yang
sangat simple. Tidak ada klasifikasi kelas, tidak ada kurikulum, juga tidak ada aturan
yang baku di dalamnya. Sebagai media pembelajaran keagamaan, tidak pernah ada
kontrak atau permintaan santri kepada kiai untuk mengkajikan sebuah kitab, apalagi
mengatur secara terperinci materi-materi yang hendak diajarkan. Semuanya bergantung
pada kiai sebagai poros sistem pembelajaran pesantren. Mulai dari jadwal, metode,
bahkan kitab yang hendak diajarkan, semua merupakan wewenang seorang kiai secara
penuh.
Tidak seperti lembaga pendidikan lain yang melakukanperekrutan siswa pada
waktu-waktu tertentu, pesantren selalu membuka pintu lebar-lebar untuk paa calon
santri kapan pun juga. Tak hanya itu, pondok pesantren juga tidak pernah menentukan
batas usia untuk siswanya. Siapapun dan dalam waktu kapanpun yang berkeinginan
unuk memasuki pesantren, maka kiai akan selalu welcome saja.
Dua model pembelajaran yang terkenal pada awal mula berdirinya pesantren
adalah model sistem pembelajaran wetonan non klasikal dan sistem sorogan. Sistem
wetonan/bandongan adalah pengajian yang dilakukan oleh seorang kiai yang diikuti
oleh santrinya dengan tidak ada batas umur atau ukuran tingkat kecerdasan. Sistem
pembelajaran model ini, kabarnya merupakan metode yang diambil dari pola
pembelajaran ulama Arab. Sebuah kebiasaan pengajian yang dilakukan di lingkungan
Masjid al-Haram. Dalam sistem ini, seorang kiai membacakan kitab, sementara para
santri masing-masing memegang kitab sendiri dengan mendengarkan keterangan guru
untuk mengesahi atau memaknai Kitab Kuning.
Lain dengan pengajian wetonan, pengajian sorogan dilakukan satu persatu,
2 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, LP3S, Jakarta, 1983,
hlm.18.
3 Nurcholis Madjid, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan, (Jakarta: Paramadina, 1997), hal. 5
4 Sudjono Prasodjo, Profil Pesantren, (Jakarta: LP3S, 1982), hlm. 6.

dimana seorang santri maju satu persatu membaca kitab dihadapan kiai untuk dikoreksi
kebenaannya. Pada pembelajaran sorogan ini, seorang santri memungkinkan untuk
berdialo dengan kiai mengenai masalah-masalah yang diajarkan. Sayangnya banyak
menguras waktu dan tidak efesien sehingga diajarkan pada santri-santri senior saja.
Pada dasarnya , dalam pesantren tradisional, tinggi rendahnya ilmu yang
diajarkan lbih banyak tergantung pada keilmuan kiai, daya terima santri dan jenis kitab
yang digunakan. Kelemahan dari sistem ini adalah tidak adanya perjenjangan yang jelas
dan tahapan yang harus diikui oleh santri. Juga tidak ada pemisahan antara santri
pemula dan santri lama. Bahkan seorang kiai hanya mengulang satu kitab saja untuk
diajarkan pada santrinya.
Pada abad ke tujuh belasan, materi pembelajaran pesantren didominasi
olehmateri-materi ketahuidan. Memang pada waktu itu ajaran ketauhidan dan
ketasaufan menduduki urutan yang paling dominant. Belakangan, sejalan dengan
banyaknya para ulama yang berguru ketanah suci, materi yang diajarkannya pun
bervariasi.
Baru pada awal abad kedua puluhan ini, unsur baru berupa sistem pendidikan
klasikal mulai memasuki pesantren. Sejalan dengan perkembangan dan perubahan
bentuk pesantren, Menteri Agama RI. Mengeluarkan peraturan nomor 3 tahun 1979,
yang mengklasifikasikan pondok pesantren sebagai berikut:
1. Pondok Pesantren tipe A, yaitu dimana para santri belajar dan bertempat
tinggal di Asrama lingkungan pondok pesantren dengan pengajaran yang
berlangsung secara tradisional (sistem wetonan atau sorogan). Pondok
Pesantren tipe B, yaitu yang menyelenggarakan pengajaran secara klasikal
dan pengajaran oleh kyai bersifat aplikasi, diberikan pada waktu-waktu
tertentu. Santri tinggal di asrama lingkungan pondok pesantren.
2. Pondok Pesantren tipe C, yaitu pondok pesantren hanya merupakan asrama
sedangkan para santrinya belajar di luar (di madrasah atau sekolah umum
lainnya), kyai hanya mengawas dan sebagai pembina para santri tersebut.
3. Pondok Pesantren tipe D, yaitu yang menyelenggarakan sistem pondok
pesantren dan sekaligus sistem sekolah atau madrasah.
Peraturan Pemerintah, dalam hal ini Menteri Agama yang mengelompokkan
pesantren menjadi empat tipe tersebut, bukan suatu keharusan bagi pondok pesantren
tersebut. Namun, pemerintah menyikapi dan menghargai perkembangan serta perubahan
yang terjadi pada pondok pesantren itu sendiri, walaupun perubahan dan perkembangan
pondok pesantren tidak hanya terbatas pada empat tipe saja, namu akan lebih beragam
lagi. Dari tipe yang sama akan terdapat perbedaan-perbedaan tertentu yang menjadikan
satu sama lain akan berbeda. Dari sekian banyak tipe pondok pesantren, dalam
menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran bagai para santrinya, secara garis besar
dapat dikelompokkan ke dalam dua bentuk pondok pesantren:
1. Pondok Pesantren Salafiyah, yaitu yang menyelenggarakan pengajaran
Alquran dan ilmu-ilmu agama Islam, serta kegiatan pendidikan dan
pengajarannya
sebagaimana
yang
berlangsung
sejak
awal

pertumbuhannya.
2. Pondok Pesantren Khalafiyah, yaitu pondok pesantren yang selain
menyelenggarakan
kegiatan
pendidikan
kepesantrenan,
juga
menyelenggarakan kegiatan pendidikan formal (sekolah atau madrasah).
Populasi pondok pesantren ini semakin bertambah dari tahun ke tahun, baik
pondok pesantren tipe salafiyah maupun khalafiyah yang kini tersebar di penjuru tanah
air. Pesatnya pertumbuhan pesantren ini akan sekan mendorong pemerintah untuk
melembagakannya secara khusus. Sehingga keluarlah surat keputusan Menteri Agama
Republik Indonesia nomor 18 tahun 1975 tentang susunan organisasi dan tata kerja
Departemen agama yang kemudian diubah dan disempurnakan dengan keputusan
Menteri Agama RI nomor 1 tahun 2001.
Dengan keluarnya surat keputusan tersebut, maka pendidikan pesantren dewasa
ini telah mendapatkan perhatian yang sama dari pemerintah terutama Departemen
Agama. Saat ini telah menjadi direktorat tersendiri yaitu direktorat pendidikan
keagamaan dan pondok pesantren yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan
pondok pesantren secara optimal terhadap masyarakat.
Data yang diperoleh dari kantor Dinas Pendidikan, Departemen Agama serta
Pemerintahan Daerah, sebagaian besar anak putus sekolah, tamatan sekolah dasar dan
madrasah ibtidaiyah, mereka tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,
namun mereka tersebar di pondok pesantren dalam jumlah yang relatif banyak. Kondisi
pondok pesantren yang demikian akhirnya direspon oleh pemerintah. Sehingga lahirlah
kesepakatan bersama antara departemen Agama dan departemen Pendidikan dengan
nomor 1/U/KB/2000 dan MA/86/2000 tentang pedoman pelaksanaan pondok pesantren
salafiyah sebagai pola pendidikan dasar.
Secara eskplisit, untuk operasionalnya, setahun kemudian keluar surat
keputusan Direktur Jendral Kelembagaan Agama Islam, nomor E/239/2001 tentang
panduan teknis penyelenggaraan program wajib belajar pendidikan dasar pada pondok
pesantren salafiyah. Lahirnya UU nomor 02 tahun 1989, yang disempurnakan menjadi
UU nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 30 ayat 1
sampai ayat 4 disebutkan pendidikan keagamaan, pondok pesantren termasuk bagian
dari sistem pendidikan nasional. Merupakan dokumen yang amat penting untuk
menetukan arah dan kebijakan dalam penanganan pendidikan pada pondok pesantren di
masa yang akan datang.
Pada mulanya kiai merupakan fungsionaris tunggal dalam pesantren. Semenjak
berdirinya madrasah dalam lungkkungan pesantren inilah, diperlukan sejumlah guruguru untuk mengajarkan berbagai macam jenis pelajaran baru yang tidak semuanya
dikuasai oleh kiai. Sehingga peran guru menjadi penting karena kemampuan yang
dimilikinya dari pendidikan diluar pesantren. Dan sejak saat itu kiai tidak menjadi
fungsionaris tunggal dalam pesantren. Mengikuti perkembangan zaman, beberapa
pesantren mulai memasukkan pelajaran keterampilan sbagai salah satu materi yang
diajarkan. Ada keterampilan berternak, bercocok tanam, menjahit berdagang dan lain
sebagainya. Disisi lain ada juga pesantren yang cenderung mengimbangi dengan

pengetahuan umum. Seperti tercermin dalam madrasah yang disebut dengan modern
dengan menghapuskan pola pembelajaran wtonan, sorogan dan pembacaan kitab-kitab
tradisional. Dengan mengadopsi kurikulum modern, pesantren yang terakhir ini lebih
mengutamakan penguasaan aspek bahasa.
Pada awal berdirinya pondok pesantren, pendidikan yang berada didalamnya
umumnya berakhir hingga ke jenjang setingkat sekolah menengah Umum / Aliyah.
Namun karena mengikuti kemajuan zaman dan arus pesatnya informasi, pondok
Pesantren mulai menyediakan pendidikan setingkat perguruan tinggi, khususnya yang
berbasis agama seperti fakultas Dakwah, Tarbiyah dan Syariah. Ini seperti yang
terdapat pada pondok pesantren Modern Gontor yang telah memiliki perguruan tinggi
sebagai wadah bagi santrinya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang setingkat
perguruan tinggi.

2. Tujuan Pondok Pesnatren


Keberadaan sebuah institusi di Indonesia harus memiliki dasar hukum yang
jelas, dan tidak keluar dari perundang-undangan yang berlaku. Seperti institusi lain,
pondok pesantren (lembaga pendidikan) memiliki landasan yuridis formal yaitu
Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003, khususnya bab II pasal 2 dan
3:
Pendidikan Nasional berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pendidikan Nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.5
Landasan yang disebutkan di atas memuat prinsip-prinsip umum pendidikan
dan hak setiap warga negara dalam memperoleh dan memajukan pendidikan.
Memperoleh pendidikan bisa didapati melalui lembaga pendidikan yang disediakan oleh
pemerintah dan swasta. Sedangkan memajukan pendidikan dapat diwujudkan dalam
bentuk menyediakan institusi pendidikan yang dikelola oleh pihak swasta.
Pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan swasta yang didirikan oleh
perseorangan (kyai) sebagai figur central yang berdaulat menetapkan tujuan pendidikan
pondoknya adalah mempunyai tujuan tidak tertulis yang berbeda-beda. Sikap filosofis
para kyai secara individual tidak sama, ada yang luas ada yang sempit. Tujuan tersebut
dapat diasumsikan sebagai berikut:
1. Tujuan khusus : mempersiapkan para santri untuk menjadi orang yang
alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kyai yang bersangkutan serta
mengamalkannya dalam masyarakat.
5 Menteri Pendidikan Nasional, Undang-Undang RI No 20 Tahun 2003, tentang SISDIKNAS, (Jakarta :
Sinar Grafika, 2003), h. 5-6

2.

Tujuan umum : membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang


berkepribadian Islam yang sanggup dengan ilmu agamanya menjadi
mubaligh Islam dalam masyarakat melalui ilmu dan amalnya.6

Menurut Muzayyin Arifin tujuan pondok pesantren dapat dikelompokkan pada


dua kategori, yaitu :
1. Tujuan umum
Adapun tujuan umum pesantren di Indonesia secara umum untuk menciptakan
generasu muballigh atau pendakwah berjiwa Islam yang pancasialis yang bertakwa,
yang mampu baik rohaniah maupun jasmaniah mengamalkan ajaran agama Islam bagi
kepentingan kebahagiaan hidup diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa, serta
negara Indonesia.
2. Tujuan khusus/Intermediair
a. Membina suasana hidup keagamaan dalam pondok pesantren sebaik
mungkin sehingga terkesan pada jiwa anak didiknya (santri)
b. Memberikan pengertian keagamaan melalui pengajaran ilmu agama Islam
c. Mengembangkan sikap beragama melalui praktik-praktik ibadah
d. Mewujudkan ukhuwah Islamiah dalam pondok pesantren dan sekitarnya.
e. Memberikan pendidikan keterampilan, civic dan kesehatan, serta olah raga
kepada anak didik
f. Mengusahakan terwujudnya segala fasilitas dalam pondok pesantren yang
memungkinkan pencapaian tujuan umum tersebut.7
Pendidikan dan pembinaan pada setiap pondok pesantren memiliki tujuan
sendiri-sendiri yang menjadi ciri khasnya. Namun menurut Nurcholish Madjid,
ketidaktegasan pondok pesantren dalam merumuskan tujuan dan langkah pembinaan
yang menjadikan pesantren sering tertinggal bila dibandingkan dengan pendidikan
umum. Faktor yang dianggap mempengaruhi kaburnya tujuan pendidikan pondok
pesantren sering dipengaruhi semangat pendiri pondok pesantren.8
Menurut Nurcholish Madjid, tujuan pembinaan santri pada pondok pesantren
adalah membentuk manusia yang memiliki kesadaran tinggi bahwa ajaran Islam
merupakan nilai-nlai yang bersifat menyeluruh. Selain itu produk pesantren diharapkan
memiliki kemampuan tinggi untuk mengadakan respons terhadap tantangan-tantangan
dan tuntutan-tuntutan hidup dalam konteks ruang dan waktu.9
Jika mengikuti tujuan yang dikemukakan oleh Nurcholish, tergambar bahwa
semua pondok pesantren telah mampu menjadikan manusia memiliki kesadaran Islam
adalah nilai yang mencakup seluruh kehidupan. Tetapi bila dilihat dari kesiapan pondok
pesantren dalam melakukan pembinaan dan pendidikan untuk menjawab tantangan
6 M. Arifin, Kafita Selekta Pendidikan islam (Islam dan Umum), (Jakarta, Bumi Aksara, 1995), h. 248
7 Ibid, h. 249-250
8 Nurcholish Madjid, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan, ( Jakarta : Paramadina, 1997), h. 6
9 Ibid, h. 6

zaman, tidak seluruh pondok pesantren mampu. Hal ini disebabkan oleh orientasi dan
motivasi pondok pesantren tersebut.
Oleh sebab itu perumusan kembali metode pembinaan dan pendidikan santri pada
pondok pesantren sehingga memiliki kesiapan dalam menjawab tantangan zaman.
Pembinaan dan pendidikan menjadi bagian terpenting dalam mewujudkan keberhasilan,
sehingga perlu penyisipan aspek umum yang dianggap penting. Dengan demikian,
pendidikan dan pembinaan santri pada pondok pesantren lebih bersifat holistik.

3. Prinsip Pembelajan Pesantren


Penggemblengan diri atau pembelajaran yang terjadi di pesantren, tidak dapat
lepas dari unsur-unsur yang berhubungan dengan metode pembelajaran, sebab
penggunaan metode pembelajaran yang kurang tepat dapat menyebabkan terhambatnya
proses pembelajaran yang dilangsungkan. Sebagaimana lazimnya pesantren, pola
metode pembelajaran yang digunakan, biasanya masih berpusat pada guru (teacher
center), padahal pada saat ini pola pembelajaran tersebut sudah mulai diubah menjadi
berpusat kepada siswa (student center).
Bertitik tolak dari sistem pendekatan di atas, maka dalam kegiatan
pembelajaran di suatu pesantren prinsip-prinsip umum belajar dan motifasi yang perlu
diterapkan pada umumnya meliputi:
a. Prinsip Kebermaknaan
Prinsip ini memiliki arti bahwa para santri akan mempelajari sesuatu hal
apapun adalah jika sesuatu itu bermanfaat atau bermakna bagi kehidupan baik untuk
masa kini maupun untuk masa mendatang, baik bagi kepentingan hidupnya sendiri
maupun untuk masyarakatnya. Dengan kata lain salah satu faktor yang mendorong atau
memotifasi santri untuk belajar adalah adanya manfaat praktis dari suatu yang
dipelajarinya itu dalam kehidupan.
Oleh karena itu biasanya seorang kiyai dalam mengajarkan suatu materi
pelajaranya kepada para santri nya melakukan:
1. Menghubungkan pelajaran yang ia berikan dengan minat dan nilai-nilai
santri.
2. Menghubungkan pelajaran dengan kehidupan masa depan para santri.

b. Prinsip Prasyarat
Pada prinsip ini seorang santri akan tergerak untuk mempelajari sesuatu hal
yang baru apabila ia telah memiliki semua prasarat yang diperlukan untuk
mempelajarinya. Bila santri telah memilikinya, maka ia akan merasa bahwa pelajaranya
itu akan bermakna. Ia akan mampu menerima hubungan pengetahuan yang lebih dan
lainnya. Hal ini dapat di mengerti karena para kyai di pesantren tidak hanya berfungsi
sebagai pengajar tetapi juga berfungsi sebagai orang tua bagi para santri yang senantiasa

memberikan bimbingan-bimbingan dalam suasana kekeluargaan. Sehingga dalam


struktur sosilnya, pesantren lebih mencerminkan sebagai kesatuan keluarga dalam
jumlah besar dimana santri yang masih muda usinya memperlakukan dan menganggap
sebagai kakaknya terhadap santri yang lebih tua usianya, demikian pula sebaliknya.
c. Prinsip Keterbukaan
Prinsip ini menuntut agar pendidik mendorong para santrinya agar lebih
banyak lagi mempelajari sesuatu dengan cara penyajian yang disusun sedemikian rupa
sehingga pesan-pesan pendidik terbuka bagi santri. Untuk itu, pendidik biasanya
melakukan langkah-langkah berikut ini:
1. Menjelaskan kepada para santri tentang tujuan-tujuan pembelajaran yang
jelas sehingga segala sesuatuyang diharapkan oleh kyai dapat dimengerti
oleh santrinya.
2. Menunjukan hubungan-hubungan sebab akibat, mengapa hal-hal tersebut
baru dipelajari.
3. Menghindari segala penjelasan yang dapat mengurangi minat belajar para
santri
4. Merangsang kemampuan sensoris para santri dengan bantuan alat-alat
peraga yang relevan dengan materi pelajaran.
5. Memberikan kesempatan kepada para santri untuk menanyakan hal-hal
yang belum dimengerti atau belum jelas.
d. Prinsip Kebaruan
Para santri biasanya akan lebih tertarik untuk mempelajari sesuatu hal apabila hal
itu adalah sesuatu yang baru yang belum diketahuinya.
e. Prinsip Keterlibatan
Prinsip ini menjelaskan bahwa para santri dapat belajar lebih giat dan aktif bila
mana mereka terlibat secara aktif dalam berbagai kegiatan pembelajaran di pesantren.
Keterlibatan para santri secara aktif ini biasanya dilakukan pada waktu kegiatan praktek
Ibadah.
f. Prinsip Kebersamaan
Dalam dunia pesantren dikarenakan kehidupan para santri senantiasa berada
dalam kehidupan sosial yang intens, maka dalam kegiatan belajarpun mereka
melakukannya bersama-sama. Misalnya sewaktu ditugaskan untuk menghafal teks-teks
tertentu, mereka akan melakukannya secara bersama-sama di dalam bilik masingtmasing, demikian juga ketika muthalaah (menelaah materi yang sudah atau akan
dipelajarinya) suatu kitab, mereka akan melakukannya secara berjamaah (Berdiskusi).
F. Konsep-Konsep
Menjelaskan ruang lingkup pengertian istilah-istilah yang dipakai dalam
naskah akademik.