Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

TOKSIKOLOGI
KERACUNAN LOGAM BERAT : KASUS KERACUNAN TIMBAL (Pb)

DI SUSUN OLEH:
KELOMPOK 3 :
Feri Hariandi
Talha Yakub
Wahdiatun Adawiyah
DOSEN : Apriani, S.Si., M.Si

PROGRAM DIPLOMA III ANALIS KESEHATAN


STIKes KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA
TAHUN AJARAN 2014/2015

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmatnya-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan tugas makalah ini tentang
KERACUNAN LOGAM BERAT : KASUS KERACUNAN TIMBAL (Pb) dengan baik
dan lancar.
Pada kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada dosen pengajar
mata kuliah Toksikologi yang telah memberikan tanggung jawab kepada kami untuk
menyelesaikan makalah ini sebagai bentuk pemenuhan tugas mata kuliah Toksikologi.
Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan masih
jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami sangat membutuhkan kritik serta saran dari
Dosen dan para pembaca demi perbaikan dan kesempurnaan makalah-makalah selanjutnya.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.

Jakarta, 21 November 2015


Penyusun

Kelompok 3

DAFTAR ISI

JUDUL 1
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


1.

2. Defini Loham Berat Timbal ( Pb ) ...6


3. Bagaimana Timbal Masuk Ke Dalam Tubuh Manusia

4. Kesimpulan 11
5. Analisis Vitamin

12

6. Analisis Alkaloid

21

7. Analisis Bahan Tambahan Makanan

22

KESIMPULAN.... 32
SARAN 35
PENUTUP.............36

BAB I
PENDAHULUAN
I.

Latar Belakang
Udara adalah suatu campuran gas yang terdapat pada lapisan yang
mengelilingi bumi. Komposisi campuran gas tersebut tidak selalu konstan.
Kualitas dari udara yang telah berubah komposisinya dari komposisi udara
alamiahnya adalah udara yang sudah tercemar sehingga tidak dapat
menyangga kehidupan. Udara merupakan komponen kehidupan yang sangat
penting untuk kelangsungan hidup manusia maupun makhluk hidup lainnya
seperti tumbuhan dan hewan. Tanpa makan dan minum kita bisa hidup
untuk beberapa hari tetapi tanpa udara kita hanya dapat hidup untuk
beberapa menit saja
Pencemaran udara adalah masuk atau dimasukkannya mahluk
hidup, zat,energi dan komponen lain ke dalam air atau udara. Pencemaran
juga bisa berarti berubahnya tatanan (komposisi) air atau udara oleh
kegiatan manusia dan proses alam, sehingga kualitas air/ udara menjadi
kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya.
Udara di alam tidak pernah ditemukan bersih tanpa polutan sama
sekali. Pencemaran udara pada suatu tingkat tertentu dapat merupakan
campuran dari satu atau lebih bahan pencemar, baik berupa padatan, cairan,
atau gas yang masuk terdispersi ke udara dan kemudian menyebar ke
lingkungan sekitarnya. Kecepatan penyebaran ini tentu tergantung pada
keadaan geografi dan metereologi setempat. Sebagian besar pencemar udara
(sekitar 75%) berasal gas buangan hasil pembakaran bahan bakar fosil.
Sumber polusi yang utama berasal dari kendaraan bermotor. Sumber-sumber
4

polusi lainnya misalnya pembakaran, proses industri, pembuangan limbah


dan lain-lain
Sumber pencemaran timbal (Pb) terbesar berasal dari pembakaran bensin,
dimana dihasilkan berbagai komponen timbal (Pb), Timbal (Pb)
dicampurkan ke dalam bensin sebagai anti letup atau anti knock aditif
dengan kadar sekitar 2,4 gram/gallon. Timbal (Pb) yang digunakan untuk
anti knock adalah tetraethyl timbal (C2H5)4. Fungsi penambahan timbal
(Pb) adalah dimaksudkan untuk meningkatkan bilangan oktana. Timbal (Pb)
adalah bahan yang dapat meracuni lingkungan dan mempunyai dampak
pada seluruh sistem di dalam tubuh. Timbal (Pb) dapat masuk ke tubuh
melalui inhalasi, makanan dan minuman serta absorbsi melalui kulit.
Menurut Environment Project Agency, sekitar 25% Pb tetap berada
dalam mesin dan 75% lainnya akan mencemari udara sebagai asap knalpot.
Emisi Pb dari gas buangan tetap akan menimbulkan pencemaran udara
dimanapun kendaraan itu berada, tahapannya adalah sebagai berikut:
sebanyak 10% akan mencemari lokasi dalam radius kurang dari 100 m, 5%
akan mencemari lokasi dalam radius 20 Km, dan 35% lainnya terbawa
atmosfer dalam jarak yang cukup jauh.
Logam Timbal (Pb) sebagai gas buang kendaraan bermotor dapat
membahayakan kesehatan dan merusak lingkungan. Pb yang terhirup oleh
manusia setiap hari akan diserap, disimpan dan kemudian ditampung dalam
darah. Bentuk kimia Pb merupakan faktor penting yang mempengaruhi
sifat-sifat Pb di dalam tubuh. Komponen Pb organik misalnya tetraethil Pb
segara dapat terabsorbsi oleh tubuh melalui kulit dan membran mukosa. Pb
organik diabsorbsi terutama melalui saluran pencernaan dan pernafasan dan
merupakan sumber Pb utama di dalam tubuh. Tidak semua Pb yang terhisap
atau tertelan ke dalam tubuh akan tertinggal di dalam tubuh. Kira-kira 5-10
5

% dari jumlah yang tertelan akan diabsorbsi melalui saluran pencernaan,


dan kira-kira 30 % dari jumlah yang terisap melalui hidung akan diabsorbsi
melalui saluran pernafasan akan tinggal di dalam tubuh karena dipengaruhi
oleh ukuran partikel-partikelnya
II.

Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Definisi logam berat timbal (Pb)
2. Bagaimana timbal masuk ke dalam tubuh manusia
3. Gejala Keracunan
4. Pertolongan pertama keracunan timbal
5. Pencegahan terjadinya keracunan timbal

III.

Maksud dan Tujuan


Maksud pembuatan makalah adalah untuk mengetahui apa itu Logam
berat timbal, proses keracunan timbal didalam tubuh, pencegahan serta
pengobatannya.

Sedangkan

tujuannya

yaitu

agar

pembaca

dapat

memperoleh informasi tentang analisis tersebut. Makalah ini digunakan


untuk memenuhi tugas Toksikologi agar memperoleh nilai yang baik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.1

1. Uraian Materi
Definisi logam berat timbal (Pb)
Timbal adalah suatu unsur

kimia dalam tabel

periodik yang

memiliki

lambang Pb dan nomor atom 82. Lambangnya diambil dari bahasa Latin Plumbum.
Timbal (Pb) adalah logam berat yang terdapat secara alami di dalam kerak bumi.
Keberadaan timbal bisa juga berasal dari hasil aktivitas manusia, yang mana
jumlahnya 300 kali lebih banyak dibandingkan Pb alami yang terdapat pada kerak
bumi. Pb terkonsentrasi dalam deposit bijih logam. Unsur Pb digunakan dalam
bidang industri modern sebagai bahan pembuatan pipa air yang tahan korosi, bahan
pembuat cat, baterai, dan campuran bahan bakar bensin tetraetil.
Timbal (Pb) adalah logam yang mendapat perhatian khusus karena sifatnya
yang toksik (beracun) terhadap manusia. Timbal (Pb) dapat masuk ke dalam tubuh
melalui konsumsi makanan, minuman, udara, air, serta debu yang tercemar Pb.
1.2

Bagaimana timbal masuk ke dalam tubuh manusia


1. Absorbsi
Pajanan timbal (Pb) dapat berasal dari makanan, minuman, udara,
lingkungan umum, dan lingkungan kerja yang tercemar timbal (Pb). Pajanan non
okupasional biasanya melalui tertelannya makanan dan minuman yang tercemar
timbal (Pb). Pajanan okupasional melalui saluran pernapasan dan saluran
pencernaan terutama oleh timbal (Pb) karbonat dan timbal (Pb) sulfat. Masukan
timbal (Pb) 100 hingga 350 mikrogram/hari dan 20 mikrogram/hari diabsorbsi
melalui inhalasi uap timbal (Pb) dan partikel dari udara lingkungan kota yang
polutif (DeRoos, 1997 dalam Ardyanto, 2005.). Timah hitam dan senyawanya
masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan dan saluran
pencernaan, sedangkan absorbsi melalui kulit sangat kecil sehingga dapat
diabaikan. Bahaya yang ditimbulkan oleh timbal (Pb) tergantung oleh ukuran
partikelnya. Partikel yang lebih kecil dari 10 mikrogram dapat tertahan di
paruparu, sedangkan partikel yang lebih besar mengendap di saluran nafas
bagian atas. Absorbsi timbal (Pb) melalui saluran pernafasan dipengaruhi oleh

tiga proses yaitu deposisi, pembersihan mukosiliar, dan pembersihan alveolar.


Deposisi terjadi di nasofaring, saluran trakeobronkhial, dan alveolus. Deposisi
tergantung pada ukuran partikel timbal (Pb) volume pernafasan dan daya larut.
Partikel yang lebih besar banyak di deposit pada saluran pernafasan bagian atas
dibanding partikel yang lebih kecil (DeRoos 1997, dan OSHA, 2005
dalamArdyanto, D, 2005.). Pembersihan mukosiliar membawa partikel di
saluran pernafasan bagian atas ke nasofaring kemudian di telan.
Rata-rata 1030% Pb yang terinhalasi diabsorbsi melalui paru-paru, dan
sekitar 5-10% dari yang tertelan diabsorbsi melalui saluran cerna (Palar, 1994).
Fungsi pembersihan alveolar adalah membawa partikel ke ekskalator mukosiliar,
menembus lapisan jaringan paru kemudian menuju kelenjar limfe dan aliran
darah. Sebanyak 30-40% timbal (Pb) yang di absorbsi melalui saluran
pernapasan akan masuk ke aliran darah. Masuknya timbal (Pb) ke aliran darah
tergantung pada ukuran partikel daya larut, volume pernafasan dan variasi faal
antar individu (Palar, 1994).
2. Distribusi dan penyimpanan
Timah hitam yang diabsorsi diangkut oleh darah ke organ-organ tubuh
sebanyak 95% timbal (Pb) dalam darah diikat oleh eritrosit. Sebagian timbal (Pb)
plasma dalam bentuk yang dapat berdifusi dan diperkirakan dalam keseimbangan
dengan pool timbal (Pb) tubuh lainnya dibagi menjadi dua yaitu ke jaringan lunak
(sumsum tulang, sistim saraf, ginjal, hati) dan ke jaringan keras (tulang, kuku,
rambut, gigi) (Palar, 1994). Gigi dan tulang panjang mengandung timbal (Pb)
yang lebih banyak dibandingkan tulang lainnya. Pada gusi dapat terlihat lead
line yaitu pigmen berwarna abu abu pada perbatasan antara gigi dan gusi
(Goldstein & Kipen, 1994 dalam Ardyanto, 2005.). Hal itu merupakan ciri khas
keracunan timbal (Pb). Pada jaringan lunak sebagian timbal (Pb) disimpan dalam
aorta, hati, ginjal, otak, dan kulit. Timah hitam yang ada dijaringan lunak bersifat
toksik.
3. Ekskresi
Ekskresi timbal (Pb) melalui beberapa cara, yang terpenting adalah melalui
ginjal dan saluran cerna. Ekskresi timbal (Pb) melalui urine sebanyak 7580%,
8

melalui feces 15% dan lainnya melalui empedu, keringat, rambut, dan kuku
(Palar,1994). Ekskresi timbal (Pb) melalui saluran cerna dipengaruhi oleh saluran
aktif dan pasif kelenjar saliva, pankreas dan kelenjar lainnya di dinding usus,
regenerasi sel epitel, dan ekskresi empedu. Sedangkan Proses eksresi timbal (Pb)
melalui ginjal adalah melalui filtrasiglomerulus.

1.3

Gejala Keracunan
Keracunan akibat kontaminasi Pb bisa menimbulkan berbagai macam hal
diantaranya :
1. Menghambat
aktivitas enzim yang
pembentukan hemoglobin (Hb)
2. Meningkatnya kadar asam -aminolevulinat
kadar protoporphin dalam sel darah merah

terlibat

dehidratase

dalam

(ALAD)

dan

3. Memperpendek umur sel darah merah


4. Menurunkan jumlah sel darah merah dan retikulosit, serta meningkatkan
kandungan logam Fe dalam plasma darah.
Timbal bersifat kumulatif. Dengan waktu paruh timbal dalam sel darah
merah adalah 35 hari, dalam jaringan ginjal dan hati selama 40 hari, sedangkan
dalam tulang selama 30 hari.
Gejalanya :
1. Keracunan akut, Keracunan ini jarang terjadi. Keracunan biasanya terjadi
karena masuknya senyawa timbal yang larut dala asam atau inhalasi uap timbal.
Efek adstringen menimbulkan rasa haus dan rasa logam disertai rasa mulut
terbakar. Gejala lain mual, muntah berwarna putih seperti susu karena Pb
chlorida dan rasa sakit perut yang hebat. Lidah berlapis dan nafas mengeluarkan
bau menyengat. Pada gusi terdapat garis biru, tinja berwarna hitam dapat disertai
diare atau konstipasi. System syaraf juga terpengaruh dapat ditemukan vertigo
dan kebas. Pergelangan tangan dan kaki terkulai (wrist and foot drop).1
2. Keracunan subakut, Terjadi karena pemaparan berulangkali dengan dosis kecil.
Gejala yang timbul adalah rasa kebas, kaku otot dengan kejang-kejang dan

koma. Penderita mengalami gangguan system pencernaan, pengeluaran urin


sangat sedikit, berwarna merah. Dosis fatal:20-30 gram. Periode fatal : 1-3 hari1.
3. Keracunan kronis, Keracunan kronis dapat mempengaruhi system syaraf dan
ginjal, sehingga menyebabkan anemia dan kolik, mempengaruhi fertilitas,
menghambat pertumbuhan janin atau memberikan efek kumulatif yang dapat
muncul kemudian1.
4. Ut moshman (1997) mengungkapkan bahwa akumulasi logam berat Pb pada
tubuh manusia yang terus menerus dapat mengakibatkan anemia, kemandulan,
penyakit ginjal, kerusakan syaraf dan kematian. Sedangakan keracunan Cd dapat
menyebabkan tekanan darah tinggi, kerusakan jaringan-jaringan testicular,
kerusakan ginjal dan kerusakan sel butir-butir darah merah.

1.4

Pertolongan Pertama Keracunan Timbal


Para pekerja dengan absorbsi timbale berlebihan hendaknya dijauhkan dari
paparan lebih lanjut hingga pengukuran-pengukuran yang diharuskan pada
pemeriksaan berkala turun dibawah nilai kritis.
Pengawasan ketat terhadap sumber-sumber debu atau uap timbal dan
penerapan langkah-langkah pengendalian dimana perlu. Hygiene industry dan
perorangan sangat penting. Batasan paparan untuk timbale dalam udara berbeda di
berbagai Negara antara 0,001 mg/m3 hingga 0,15 mg/m3. Suatu kelompok studi
WHO telah merekomendasikan batas paparan berdasarkan kesehatan untuk timbale
dalam darah sebesar 400g/liter untuk pria dan wanita lewat masa produktif, dan
300 g/liter untuk wanita pada usia reproduktif. Dengan pertimbangan kadar
timabal

di

udara,

dianjurkan

sutau

batas

antara

30-60

g/m3.

Jika menemukan gejala-gejala keracunan timbal, masyarakat dapat memberi


pertolongan pertama untuk sedapat mungkin menekan risiko dan dampaknya pada
penderita. Untuk keracunan akut melalui saluran pencernaan misalnya, pasien
sebaiknya segera dipindahkan agar tidak terpapar lagi dengan timbal. Bilas

10

mulutnya dan berikan rangsangan untuk muntah ( untuk penderita yang sadar).
Rujuklah segera ke bagian perawatan medis.

1.5

Pencegahan terjadinya keracunan timbal


Mencegah keracunan timbal sebenarnya mudah. Berkaca pada kehidupan
masyarakat jaman dulu yang masih langka penyakit keracunan timbal ini,
pencegahan utama dari penyakit ini adalah dengan tidak berinteraksi langsung
dengan timbal. Masalahnya, perkembangan teknologi dan modernitas dewasa ini
sangat sulit membuat kita 100% bisa menghindari timbal. Saat berada di jalan raya,
kita ketemu asap knalpot kendaraan bermotor. Mau menghindari produk
berteknologi tinggi motor juga kita masih susah, sebab motor laksana kaki kedua
bagi kita. Jadi, sebaiknya kita mengenakan masker saat berada di jalan raya atau
saat bersinggungan dengan asap kendaraan bermotor. Cara yang lain adalah
minimalkan penggunaan kendaraan bermotor. Kalau masih bisa dijangkau dengan
jalan kaki atau naik sepeda, mending kita pakai dua alat transportasi tradisional
tersebut. Keuntungan lain menggunakan kaki atau sepeda untuk bepergian adalah
meningkatkan kualitas udara bersih. Jadi, jantung sehat, udara bersih, dan global
warming bisa dihindari.
Berikut beberapa tips untuk menghindari pemaparan timbal, karena
timbal bukan hanya ditemukan di udara namun juga terdapat pada makan
serta beberapa barang lainnya :
1. Tidak membeli atau menggunakan benda-benda yang mengandung
timbal
2. Menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan pola hidup sehat,
salah satunya mencuci tangan sebelum makan
3. Bersihkan karpet dari debu
4. Cuci pakaian kerja secepatnya
11

5. Cuci selimut dan mainan secara berkala


6. Jaga kesehatan anak-anak, hewan peliharaan serta rumah dari debu
7. Bersihkan lantai, furnitur, mainan dan jendela dengan kain atau lap
basah
8. Sering cuci tangan dan keringkan
9. Kuku tangan dan kaki jaga supaya tetap pendek dan bersih
10. Makan-makanan yang bergizi tinggi (zat besi, protein, kalsium, vitamin
C & zinc) serta rendah lemak
11. Membersihkan sandal atau sepatu sebelum masuk rumah
12. Menanam tanaman yang dapat menyerap timbel, seperti Palem Kuning,
Lili Paris, Hanjuang, Puring, Lidah Mertua, Palem Kol, Sri Rejeki,
Bambu Meranti, Kuping Gajah, Pandan Bali, Angsana, Nusa Indah.

12

KESIMPULAN
Timbal adalah
lambang Pb dan nomor

suatu unsur
atom 82.

kimia dalam tabel

Lambangnya

diambil

periodik yang
dari bahasa

memiliki

Latin Plumbum.

Timbal (Pb) adalah logam berat yang terdapat secara alami di dalam kerak bumi. Keberadaan
timbal bisa juga berasal dari hasil aktivitas manusia, yang mana jumlahnya 300 kali lebih
banyak dibandingkan Pb alami yang terdapat pada kerak bumi. Pb terkonsentrasi dalam
deposit bijih logam. Unsur Pb digunakan dalam bidang industri modern sebagai bahan
pembuatan pipa air yang tahan korosi, bahan pembuat cat, baterai, dan campuran bahan bakar
bensin tetraetil.
Timbal (Pb) adalah logam yang mendapat perhatian khusus karena sifatnya
yang toksik (beracun) terhadap manusia. Timbal (Pb) dapat masuk ke dalam tubuh melalui
konsumsi makanan, minuman, udara, air, serta debu yang tercemar Pb.

SARAN
13

Mencegah keracunan timbal sebenarnya mudah. Berkaca pada kehidupan masyarakat


jaman dulu yang masih langka penyakit keracunan timbal ini, pencegahan utama dari
penyakit ini adalah dengan tidak berinteraksi langsung dengan timbal. Masalahnya,
perkembangan teknologi dan modernitas dewasa ini sangat sulit membuat kita 100% bisa
menghindari timbal. Saat berada di jalan raya, kita ketemu asap knalpot kendaraan bermotor.
Mau menghindari produk berteknologi tinggi motor juga kita masih susah, sebab motor
laksana kaki kedua bagi kita. Jadi, sebaiknya kita mengenakan masker saat berada di jalan
raya atau saat bersinggungan dengan asap kendaraan bermotor. Cara yang lain adalah
minimalkan penggunaan kendaraan bermotor. Kalau masih bisa dijangkau dengan jalan kaki
atau naik sepeda, mending kita pakai dua alat transportasi tradisional tersebut. Keuntungan
lain menggunakan kaki atau sepeda untuk bepergian adalah meningkatkan kualitas udara
bersih. Jadi, jantung sehat, udara bersih, dan global warming bisa dihindari

PENUTUP

14

Demikianlah makalah yang kami buat ini, semoga bermnfaat dan menambah
pengetahuan para pembaca. Kami mohon maaf apabila ada kesalahan ejaan dalam
penulisan kata dan kalimat yang kurang jelas. Tentunya banyak kekurangan dan
kelemahan karena terbatasnya pengetahuan karena kurangnya rujukan atau referensi yang
kami peroleh. Sehubungnya dengan makalah ini penulis banyak berharap kepada para
pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang membangun kepada saya demi
sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan
khususnya para pemabaca.

DAFTAR PUSTAKA
15

- Widowati W, Sastiono A, Jusuf R (2008). Efek Toksik Logam Pencegahan dan


Penanggulangan Pencemaran. Yogyakarta : Andi. ISBN 978-979-29-0448-2.
- Klaassen CD, Amdur MO, Doull J (1986). Toxicology The Basic Science of
Poisons. New YorkL: Macmillan Publishing Company.
- Ut moshman (1997)
- Palar, 1994
-

DeRoos, 1997 dalam Ardyanto, 2005

16