Anda di halaman 1dari 13

TEORI HUMANISTIK

ABRAHAM HAROLD MASLOW

Mata Kuliah : Teori Teori Kepribadian


Dosen Pengampu : Renie Tri H. S.Psi. M.Pd
Di Susun Oleh Kelompok 6 :
1. Adzani Fajar Pradana ( 1115500003 ) / 2B
2. Dini Indriani ( 1115500023 ) / 2B
3. Silvia Andriyani ( 1115500076 ) / 2B

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
TAHUN AJARAN 2016/2017

DAFTAR ISI

A.
B.
C.
1.
2.
3.
4.
5.

Daftar isi
Kata Pengantar
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
Biografi Abraham Maslow
Hirarki Kebutuhan Abraham Maslow
Motif kekurangan dan motif pertumbuhan
Penerapan Aktualisasi Diri
Kelemahan Dan Kelebihan Teori
BAB III PENUTUP
Simpulan
Daftar Pustaka

KATA PENGANTAR

puja dan puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT, berkat rahmat dan hidayah
nya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam selalu tercurahkan
kepada Rasulullah SAW, keluarga dan sahabatnya. Selanjutnya, kami ingin menyampaikan
rasa terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang membantu kelancaran

penulisan makalah ini. Karena kami yakin tanpa bantuan dan dukungan tersebut, sulit
rasanya bagi kami untuk menyelesaikan penulisan makalah ini. Makalah ini akan
menyampaikan beberapa informasi yang telah kami peroleh baik melalui media cetak
maupun media masa. Kami akan membahas mengenai Teori Kepribadian Humanistik
menurut Abraham Maslow . Makalah ini kami susun secara sistematis dan disertai dengan
pembahasan yang sekiranya mudah untuk di pelajari . Demikian pula dengan makalah ini.
Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun tetap kami nantikan demi kebaikan
makalah ini. Kami mohon maaf apabila ada kata yang tidak sesuai.

Tegal, 10 Mei 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Teori Kepribadian humanistik atau disebut juga dengan nama lain psikologi
kemanusiaan adalah suatu pendekatan yang multifase terhadap pengalaman dan tingkah
laku manusia yang memusatkan perhatian pada keunikan dan aktualisasi diri manusia.
Salah satu cabang ilmu psikologi adalah psikologi kepribadian. Dalam psikolog
kepribadian ini terdapat tiga revolusi yang mempengaruhi pemikiran personologis
modern. Revolusi pertama adalah psikoanalisis, kedua behaviorisme dan yang ketiga
adalah humanistik. Makalah yang kami susun membahas mengenai psikologi
kepribadian teori humanistik menurut Abraham Maslow. Dalam dunia psikologi Maslow
dikenal sebagai pelopor psikologi humanistik. Dalam teori ini, Maslow barpendapat
tentang lima ajaran-ajaran dasar psikologi yaitu, individu sebagai keseluruhan yang
integral, ketidakrelevanan penyelidikan dengan hewan, pembawaan baik manusia,
potensi kreatif manusia, dan penekanan kesehatan pada psikologis. Dan juga Maslow
mengemukakan tentang kebutuhan kebutuhan manusia yang harus terpenuhi yaitu
kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan kasih sayang, kebutuhan
penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri. Manusia adalah makhluk yang unik yang
memerlukan kebutuhan kebutuhan tersebut untuk memperoleh kepuasan dalam
hidupnya.
B. RUMUSAN MASALAH
A.
B.
C.
D.
E.

Biografi Abraham Malsow


Hirarki kebutuhan Abraham maslow
Motif kekurangan dan motif pertumbuhan
Penerapan aktualisasi diri
Kelemahan dan kelebihan teori

C. TUJUAN PENULISAN
A.
B.
C.
D.

Uuntuk mengetahui tentang teori kebutuhan bertingkat Abraham Malow


Uuntuk mengetahui penerapan aktualisasi diri
Mengetahui motif kekurangan dan motif pertumbuhan
Uuntuk mengetahui kelemahan dan kelebihan teori Abraham Maslow

BAB II
PEMBAHASAN
1. BIOGRAFI ABRAHAM MASLOW
Abraham Harold Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tanggal 1 April
1980. Dan meninggal karena serang jantung pada 8 Juni 1970. Maslow dibesarkan dalam
keluarga Yahudi Rusia yang pindah ke Amerika Serikat untuk memperoleh kehidupan yang
lebih baik. Maslow adalah anak tertua dari tujuh bersaudara sehingga orang tuanya
mendorong dengan kuat agar Maslow mencapai keberhasilanya. Hal ini menjadikan

Maslow menderita dan kurang berkembang dibanding anak-anak lainnya. Maslow menulis
saya adalah seorang anak yahudi di tengah-tengah anak-anak non yahudi. Merasa terisolasi
dan tidak bahagia. Saya tumbuh di perpustakaan di antara buku-buku, tanpa teman.
(Maslow, 1968).
Maslow awalnya memilih hukum sebagai bidang studinya di City College, New
York. Namun pada akhirnya ia memilih bidang study psikologi di Universitas Wisconsin
dan meraih gelar sarjana muda pada tahun 1930, sarjana penuh tahun 1931, dan meraih
doktor pada tahun 1934. Maslow memutuskan untuk belajar psikologi karena pengaruh
behaviorisme Watson. Bagi Maslow, behaviorisme merupakan suatu yang menarik, dan
dengan mengikuti program-programnya, Maslow berharap dirinya bisa mengubah dunia.
Dalam karir profesionalnya Maslow banyak melakukan penelitian mengenai
masalah seks dan penyimpangan-penyimpanganya, terutama homoseksualitas, suatu
masalah yang Malow pandang sebagai suatu hal yang esensial bagi pemahaman yang
mendalam tentang manusia. Maslow mengawali karir akademis dan profesionalnya dengan
memegang jabatan sebagai asisten instruktur psikologi di Universitas Wiconsin (19301934), dan sebagai staf pengajar (1934-1935). Kemudian Maslow menjadi staf peneliti di
Universitas Columbia sampai tahun 1937.
Maslow terutama tertarik kepada psikologi pertumbuhan (growth psychology), dan
sampai akhir hayatnya ia mendukung Essalen Institude di California dan kelompokkelompok lain yang melibatkan diri dalam gerakan daya manusia (human potential
movement). Sebagian besar buku-buku Maslow ditulis dalam sepuluh tahun terakhir dari
hidupnya, yang meliputi buku-buku Toward a Psychology of Being. (1962), Religious and
Peak Experiences (1964), Eupsychian Management: A Journal (1965) The Psychology of
Science: A Reconnaissance (1966), Motivation and Personality (1970), dan The Father
Reaches of Human natures, sebuah buku kumpulan artikel Malow yang diterbitkan setahun
setelah ia meninggal.

2. TEORI KEBUTUHAN BERTINGKAT ABRAHAM MASLOW


Teori maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri manusia
terdapat dua hal, yaitu:
1. Suatu usaha yang positif untuk berkembang
2. Kekuatan untuk menolak atau melawan perkembangan itu. (maslow
1968)
Hal ini membuktikan bahwa manusia itu adalah makhluk yang aktif.
Ia dapat memenuhi kebutuhannya dan dapat menyesuaikan diri dengan

lingkungannya. Dengan kata lain dapat pula disebut bahwa dalam diri
manusia terdapat motive.
Di dalam kehidupan ini, manusia tidak lepas dari perbuatan belajar.
Agar perbuatan belajar itu dapat berlangsung, dibutuhkan motive.
Maslow mengemukakan adanya motive bertingkat pada manusia yang
jumlahnya lima, yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.

Kebutuhan
Kebutuhan
Kebutuhan
Kebutuhan
Kebutuhan

fisiologis (physiological needs)


rasa aman (safety needs)
memperoleh kasih sayang (needs for belonging and love)
memperoleh penghargaan (needs for esteem)
untuk aktualisasi diri (needs for self actuali zation)

Menurut maslow, kebutuhan yang ada di tingkat dasar pemuasaanya


lebih mendesak dari pada kebutuhan yang ada di atasnya. Sebagai
contoh, kebutuhan akan makanan (kebutuhan fisiologis) lebih mendesak
untuk dipuaskan dari pada kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan
rasa aman ini akan lebih mendesak dari pada kebutuhan akan cinta, dan
seterusnya. Dalam pandangan Maslow, susunan kebutuhan-kebutuhan
dasar yang bertingkat itu merupakan organisasi yang mendasari
motivasi manusia. Dan dengan melihat pada tingkat kebutuhan atau
corak pemuasan kebutuhan pada diri individu, kita bisa melihat kualitas
perkembangan kepribadian individu tersebut. Semakin individu itu
mampu memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang tinggi, maka individu itu
akan semakin mampu mencapai individualitas, matang dan berjiwa
sehat, dan sebaliknya. Tetapi perlu ditambahkan bahwa dalam beberapa
buku psikologi, Maslow mengemukakan 7 kebutuhan, 2 tambahan
tersebut yaitu :
1. Kebutuhan untuk mengetahui dan mengerti (Needs to know and
understand)
2. Kebutuhan estetis (Aesthetic needs)
Berikut ini perincian dari 5 tingkat kebutuhan sebagaimana yang
dimaksud oleh maslow :
1. Kebutuhan fisiologis
Kebutuhan fisiologis (physiological needs) adalah sekumpulan
kebutuhan dasar yang paling mendesak pemuasannya karena berkaitan
langsung dengan pemeliharaan biologis dan kelangsungan hidup.
Kebutuhan-kebutuhan dasar fisiologis antara lain kebutuhan akan
makanan, air, oksigen, aktif, istirahat, keseimbangan temeratur, seks,
dan kebutuhan akan stimulasi sensoris. Karena merupakan kebutuhan
yang paling mendesak, maka kebutuhan fisiologis akan paling

didahulukan pemuasannya oleh individu. Dan jika kebutuhan fisiologis ini


tidak terpenuhi atau belum terpuaskan. Maka indivudu tidak akan
tergerak untuk bertindak memuaskan kebutuhan-kebutuhan lain yang
lebih tinggi. Sebagai contoh : jika kita sedang lapar, maka tidak akan
bergerak untuk belajar, membuat komposisi musik, atau membangun
sesuatu. Pada saat lapar ini kita dikuasai hasrat untuk memperoleh
makanan secepatnya.
2. Kebutuhan akan rasa aman
Apabila kebutuhan fisiologis individu telah terpuaskan, maka dalam
diri individu akan muncul satu kebutuhan lain sebagai kebutuhan yang
dominan dan menuntut pemuasan, yakni kebutuhan akan rasa aman
(needs for self-security). Yang dimaksud oleh maslow dengan kebutuhan
akan rasa aman ini adalah suatu kebutuhan yang mendorong individu
untuk memperoleh ketentraman, kepastian, dan keteraturan dari
keadaan lingkungannya. Maslow mengemukakan bahwa kebutuhan akan
rasa aman in sangat nyata dan bisa di amati pada bayi dan anak-anak
karena ketidakberdayaan mereka. Indikasi lain dari kebutuhan akan rasa
aman pada anak-anak adalah ketergantungan. Menurut maslow, anakanak akan memperoleh rasa aman yang cukup apabila mereka berada
dalam ikatan dengan keluarganya, sebaliknya, jika ikatan ini tidak ada
atau lemah, maka si anak akan merasa kurang aman, cemas, dan kurang
percaya diri, yang akan mendorong si anak untuk mencari area-area
hidup dimana dia bisa memperoleh ketentraman dan kepastian atau rasa
aman. Sedangkan Pada orang-orang dewasa pun kebutuhan akan rasa
aman itu nampak dan berpengaruh secara aktif. Usaha-usaha untuk
memperoleh perlindungan dan keselamatan kerja, penghasilan tetap
atau membayar asuransi, merupakan contoh dari tingkah laku yang
mencerminkan kebutuhan akan rasa aman pada orang-orang dewasa.
3. Kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki
Kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki (need for love and
belongingness) ini adalah suatu kebutuhan yang mendorong individu
untuk mengadakan hubungan afektif atau ikatan emosional dengan
individu lain, baik dengan sesama jenis maupun dengan yang berlainan
jenis, di lingkungan keluarga ataupun di lingkungan kelompok di
masyarakat. Seperti seorang mahasiswa perantau yang jauh dari
kampung halamanya akan kehilangan ikatan atau rasa memiliki,
keadaan ini bisa mendorong si mahasiswa untuk membentuk ikatan baru
dengan orang-orang atau keolompok yang ada di tempat dia merantau.
Menurut
Maslow,
terbentuknya
kelompok-kelompok
pertemuan
(encounter groups) dan kelompok-kelompok lain semacamnya dimotivasi

oleh kelaparan untuk melakukan kontak dengan orang lain, oleh hasrat
untu menciptakan keintiman dan rasa memiliki, oleh hasrat untuk
mengatasi kesepian dan keterasingan yang kian meningkat, oleh
runtuhnya kelompok-kelompok tradisional dan tercerai-berainya keluarga
serta oleh menghilangnya kesempatan untuk melakukan hubungan tatap
muka. Maslow juga menekankan bahwa kebutuhan akan cinta itu
mencangkup keinginan untuk mencintai dan dicintai. Mencintai dan
dicintai ini, menurut Maslow merupakan prasyarat bagi adanya perasaan
yang sehat, sebaliknya tanpa cinta orang akan dikuasai oleh perasaan
kebencian, rasa tak berharga dan kehampaan.

4. Kebutuhan akan rasa harga diri


Kebutuhan akan rasa harga diri (need for self-esteem), dibagi menjadi 2
yaitu :
1. Penghormatan atau penghargaan dari diri sendiri. Bagian pertama ini
mencangkup hasrat untuk memperoleh kompetensi, rasa percaya diri,
kekuatan pribadi, adekuasi, kemandirian dan kebebasan.
2. Penghargaan dari orang lain. Bagian ini meliputi prestasi, dalam hal ini
individu butuh penghargaan atas apa-apa yang dilakukanya.
Terpuaskanya kebutuhan akan rasa harga diri pada individu akan
menghasilkan sikap percaya diri, rasa berharga, rasa kuat, rasa mampu,
dan perasaan berguna. Sebaliknya, frustasi atau terhambatnya
pemuasan kebutuhan akan rasa harga diri itu akan menghasilkan sikap
rendah diri, rasa tak pantas, rasa lemah, rasa tak mampu, dan rasa tak
berguna, yang menyebabkan individu tersebut mengalami kehampaan,
keraguan, dan keputusasaan dalam menghadapi tuntutan-tuntutan
hidupnya, serta memiliki penilaian yang rendah atas dirinya sendiri
dalam kaitanya dengan orang lain.
5. Kebutuhan akan aktualisasi diri
Kebutuhan aktualisasi diri (need for self actualization) atau
kebutuhan untuk mengungkapkan diri merupakan kebutuhan manusia
yang paling tinggi dalam teori Maslow. Kebutuhan ini akan muncul
apabila kebutuhan-kebutuhan yang ada dibawahnya telah terpuaskan
dengan baik. Maslow menandai kebutuhan akan aktualisasi diri sebagai
hasrat individu untuk menjadi orang yang sesuai dengan keinginan dan
potensi yang dimilikinya. Contoh dari aktualisasi diri ini yaitu seorang
yang berbakat musik menciptakan komposisi musik, dan seseorang yang
memiliki potensi intelektual menjadi ilmuwan.

Bentuk pengaktualisasian diri ini berbeda pada setiap orang. Hal ini
disebabkan karena cerminan dari adanya perbedaan-perbedaan
individual. Pencapaian taraf aktualisasi diri ini tidak gampang karena
adanya hambatan-hambatan. Hambatan-hambatan tersebut yaitu :
1. Hambatan yang pertama berasal dari dalam diri individu, yakni
berupa ketidaktahuan, keraguan, dan bahkan juga rasa takut dari
individu untuk mengungkapkan potensi-potensi yang dimilikinya,
sehingga potensi-potensi itu tetap laten.
2. Hambatan yang kedua berasal dari luar atau dari masyarakat, yakni
berupa kecenderungan mendepersonalisasi individu dan perepresian
sifat-sifat, bakat atau potensi-potensi.
3. Hambatan yang terakhir yaitu berupa pengaruh negatif yang
dihasilkan oleh kebutuhan yang kuat akan rasa aman.

3. MOTIF KEKURANGAN DAN MOTIF PERTUMBUHAN


Maslow (1955) membagi motif-motif manusia kedalam dua kategori, yakni motif
kekurangan (deficit motive) dan motif pertumbuhan (growth motive). Motif-motif
kekurangan menyangkut kebutuhan-kebutuhan fisiologis dan rasa aman. Sasaran utama
dari motif-motif kekurangan ini adalah mengatasi peningkatan tegangan organismik yang
dihasilkan oleh keadaan kekurangan. Contohnya, lapar (kekurangan makanan), haus
(kekurangan rasa aman). Maslow mengajukan 5 kriteria atau ciri-ciri dari motif
kekurangan yaitu:
1. Ketiadaan pemuasnya membuat sakit (dengan menggunakan lapar sebagai contoh, jika
nseseorang yang lapar tidak memakan makanan, maka dia akan jatuh sakit).
2. Adanya atau kehadiran pemuasnya mencegah sakit (dengan memakan makanan, maka
orang yang lapar itu tidak akan jatuh sakit).
3. Perbaikan atau pengadaan pemuasnya menyembuhkan sakit (tidak ada obat bagi orang
yang lapar kecuali makanan).
4. Dibawah kondisi memilih, pemenuhan motif kekurangan akan diutamakan (orang
yang lapar akan memilih makanan daripada memilih baju).
5. Motif-motif kekurangan tidak begitu dominan pada orang sehat (orang yang sehat
tingkah lakunya tidak terus-menerus dikuasai oleh hasrat memperoleh maknanan).
Sedangkan motif pertumbuhan (metaneeds atau being motives) adalah motif-motif
yang mendorong individu untuk mengungkapkan potensi-potensinya. Arah dari motif
pertumbuhan ini adalah memperkaya kehidupan dengan memperbanyak belajar dan
pengalaman. Motif pertumbuhan juga bisa menjadi motif yang utama setelah motif-motif

kekurangan terpuaskan. Seseorang tidak akan tergerak untuk mempelajari kimia organik
apabila dirinya sedang lapar.
Maslow (1967) mengemukakan, bahwa motif-motif pertumbuhan pada manusia
adalah naluriah dan inheran seperti halnya motif-motif kekurangan. Karena itu motif-motif
pertumbuhan juha harus terpuaskan apabila kesehatan psikologis ingin terpelihara dan
perkembangan yang maksimal ingin dicapai. Jika tidak terpuaskan, maka individu akan
sakit secara psikologis. Maslow menyebut penyakit yang muncul karena tidak
terpuaskannya motif-motif pertumbuhan adalah metapatologi.

4. PENERAPAN AKTUALISASI DIRI MASLOW


Pencapaian aktualisasi diri merupakan gambaran yang optimis dari corak
kehidupan yang ideal. Dan keadaan psikologis yang sehat yang menandai aktualisasi diri,
serta taraf aktualisasi diri itu sendiri. Aktualisasi diri tidak bisa dicapai dengan mudah,
pencapaian aktualisasi diri memerlukan banyak syarat, Maslow sendiri menyebutkan
bahwa syarat yang paling utama bagi pencapaian aktualisasi diri itu adalah terpuaskanya
kebutuhan-kebutuhan dasar dengan baik.
Adapun 15 ciri dari orang yang self-actualized :
1. Mengamati realitas secara efisien
2. Penerimaan atas diri sendiri, orang lain, dan kodrat
3. Spontan, sederhana, dan wajar
4. Terpusat pada masalah
5. Pemisahan diri dan kebutuhan privasi
6. Kemandirian dari kebudayaan dan lingkungan
7. Kesegaran dan apresiasi
8. Pengalaman puncak atau pengalaman empiris
9. Minat sosial
10. Hubungan antar pribadi
11. Berkarakter demokratis
12. Perbedaan antara cara dan tujuan
13. Rasa humot yang filosofis
14. Kreativitas
15. Penolakan enkulturasi

5. KELEMAHAN DAN KELEBIHAN


Kelebihan :
1. Selalu mengedepankan hal-hal yang bernuansa demokratis, partisipatif-diaglogis dan
humanis.
2. Teori ini cocok untuk diterapkan dalam materi pembelajaran yang bersifat
pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap
fenomena sosial.
3. Suasana pembelajaran yang saling menghargai, adanya kebebasan berpendapat,
kebebasan mengungkapkan gagasan.
4. Keterlibatan peserta didik dalam berbagai aktivitas di sekolah, dan lebih-lebih adalah
kemampuan hidup bersama (komunal-bermasyarakat) diantara peserta didik yang
tentunya mempunyai pandangan yang berbeda-beda.
Kekurangan :
1. teori humanistik tidak bisa diuji dengan mudah
2. banyak konsep dalam psikologi humanistik, seperti misalnya orang yang telah berhasil
mengaktualisasikan dirinya, ini masih buram dan subjektif.
3. Psikologi humanistik mengalami pembiasan terhadap nilai individualistis.

BAB III
PENUTUP

SIMPULAN
Teori Humanistik Maslow menggunakan piramida sebagai peraga untuk
memvisualisasi gagasannya mengenai teori hirarki kebutuhan. Menurut Maslow,
manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhankebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah
(bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Teori
humanistik juga konsep belajar yang lebih melihat pada sisi perkembangan
kepribadian manusia. Berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan
menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan
tersebut. Bahwa setiap manusia adalah makhluk yang unik yang memiliki
kepribadian yang berbeda-beda, manusia juga membutuhkan kebutuhan yang sudah
Maslow kemukakan bahwa manusia perlu adanya kepuasan fisiologis, rasa aman,
kasih sayang, penghargaan dan aktualisasi diri, karena dengan terpuaskanya
kebutuhan tersebut maka individu akan hidup dengan baik dan bahagia serta
merasakan kepuasan dalam hidupnya.

DAFTAR PUSTAKA
E.Koeswara. 1991. Teori-Teori Kepribadian. Bandung: PT Erecso.
Prof. Dr. H. Djaali. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Tim pengembangan MKDK Semarang. 1990. Psikologi Belajar. IKIP Semarang Press.
https://retnowulandarii.wordpress.com/2015/07/02/makalah-teori-kepribadian-humanistikabraham-maslow/