Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH MAGANG INDUSTRI KERTAS

Disusun Oleh:
Dwi Ayu Stephanie

(14307141058/ 2014)

Denny Hadya Khoirulfatihin

(14307144002/ 2014)

Fauziyyah Diyah Anggita Sari

(14307144003/ 2014)

Cahyaningtyas Kusumastuti

(14307144010/ 2014)

Chumaydi

(14307144022/ 2014)

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA


YOGYAKARTA
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas segala
rahmat dan hidayah-Nya penulis diberikan kelancaran dalam menyelesaikan
makalah industri kertas ini sebaik mungkin. Makalah ini disusun guna memenuhi
tugas mata kuliah magang industri.
Terselesaikanya karya ini tidak lepas berkat bimbingan, dukungan, serta
doa dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan
terima kasih kepada pihak yang telah membantu dalam penyusunan dan
pembuatan karya tulis ilmiah ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:
1. Siti Marwati, M.Si. selaku dosen mata kuliah magang industri ini.
2. Kedua orang tua tercinta yang senantiasa mendoakan untuk kemudahan
belajar dan menuntut ilmu selama ini.
3. Dan semua pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini.
Semoga segala bantuan yang diberikan menjadi amal baik dan mendapat
balasan yang setimpal dari Allah SWT. Penulis menyadari dalam penulisan karya
ini masih banyak terdapat kekurangan dan ketidaksempurnaan, maka dari itu
kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan untuk perbaikan
selanjutnya. Semoga karya ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Yogyakarta, 14 Maret 2016


Penyusun,

ii

BAB I
SUMBER LIMBAH
Limbah merupakan buangan yang dihasilkan dari suatu proses
produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga atau yang lebih dikenal
sabagai sampah), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak
dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Jenis sampah ini
pada umumnya berbentuk padat dan cair.
A. Limbah Padat
Limbah padat pabrik kertas terdiri dari (Hammer, 1977 cit. Hastutik et al.,
2005) :
a. Sludge
Sludge adalah istilah umum yang digunakan untuk residu atau
limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan pulp dan kertas. Secara
umum, sludge merupakan residu padat yang diperoleh dari aliran air
limbah proses pembuatan pulp dan kertas. Sludge dihasilkan pada dua
tahapan proses. Sludge primer didapat dari tahap pertama proses pada
bagian pencucian atau penjernihan awal serat. Pencucian awal biasanya
terbawa oleh proses sedimentasi. Proses sedimentasi limbah cair tersebut
dipompa ke tangki penampungan besar, dimana bahan-bahan padatnya
diloloskan melalui bagian dasar tangki. Bahan-bahan padat berkisar 1,5 6,5% dari jumlah limbah bergantung pada karakteristik materialnya. Air
sisa pencucian dilewatkan ke tahapan kedua (Scott dan Smith, 1995).
Sludge adalah larutan berbentuk lumpur yang terdiri dari serat-serat
kayu berukuran kecil yang tak layak mutu untuk dijadikan kertas
bercampur dengan filler yaitu kalsium karbonat (CaCO) dan air (H 2O).
Limbah padat berserat industri kertas dihasilkan dari pemisahan serat yang
lolos pada pembuangan limbah cair mesin kertas. Limbah padat ini jumlah
dan karakteristiknya sangat bervariasi tergantung dari bahan baku, proses
pembuatan dan produk yang dihasilkan (Haroen dkk., 2007).
Sludge merupakan limbah dengan volume terbesar. Semakin meningkatnya
kebutuhan kertas, semakin tinggi pula limbah sludgeyang dihasilkan.
Karakteristik sludge industri kertas antara lain lembek, strukturnya lunak
seperti bubur, berwarna abu-abu keruh atau kehitaman, dan berbau tidak

sedap. Seperti halnya limbah agroindustri lainnya, sludge merupakan


limbah dengan kandungan senyawa karbon yang sangat tinggi. Limbah
padat pabrik kertas juga mengandung unsur-unsur lain yaitu kalium,
kalsium, magnesium, besi,dan sulfida yang merupakan hara untuk
tanaman. Selain itu, limbah pabrik kertas umumnya mengandung logamlogam berbahaya seperti merkuri (Hg), tembaga (Cu), krom (Cr), timbal
(Pb), seng (Zn), dan nikel (Ni) (Arisandi, 2002). Berdasarkan aspek nutrisi
tanaman, aplikasi kompos sludge memperbaiki medium tumbuh karena
kompos merupakan sumber hara makro dan mikro bagi tanaman (Widyati,
2006).
Sludge merupakan limbah padat pabrik kertas yang terdiri dari
padatan 90% dan air 10% yang didapat dari proses pengendapan pada
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Selain itu limbah padat kertas
juga menghasilkan sludge sekunder yang merupakan hasil sampingan dari
pengendapan air (biological aeration) limbah yakni dengan penambahan
mikroorganisme untuk menetralisir bahan kimia yang terkandung pada air
limbah sebelum dialirkan. Sludge sekunder tersusun dari bahan baku pulp
yang mengandung mikroorganisme sebagai efek dari biological aeration.
Sludge kertas pada dasarnya terdiri atas serat-serat kayu dan berbagai
materi inorganik, seperti lumpur kaolin dan kalsium karbonat. Penggunaan
sludge kertas dapat dijadikan cara yang inovatif untuk mendaur ulang
sludge kertas. Industri kertas menghasilkan sekitar 4 juta ton sludge setiap
tahunnya, dimana sebagian besarmengandung sejumlah serat bermutu
tinggi. Kandungan sludge berbeda-beda pada tiap industri tergantung
proses pengerjaan yang digunakan. Hal ini mengakibatkan tantangan besar
dalam teknologi pemanfaatan sludge. Sludge yang berasal dari proses
pulping murni mengandung serat kayu yang berpotensi. Akan tetapi sludge
juga mengandung kontaminan seperti chip kayu dan kotoran berupa tanah.
Di sisi lain, sludge yang berasal dari daur ulang kertas biasanya
mengandung sedikit serat dan lebih banyak filler(pengisi) serta berbagai
kontaminan termasuk plastik, bahan baku serta kotoran (tanah). Sulit untuk
mengenali dan mengelompokkan kandungan beragam dari sludge yang
dihasilkan tersebut. Seiring dengan bertambahnya proses daur ulang kertas

yang dilakukan dan permintaan terhadap kertas daur ulang, maka otomatis
volume sludge yang dihasilkan oleh industri juga meningkat (Scott dan
Smith, 1995).
b. Biosludge
Biosludge adalah hasil samping dari efflument treatment yakni dari
proses biological aeration, tersusun dari bahan baku pulp, selain
mengandung mikroorganisme sebagai efek dari biological aeration.
Limbah padat biosludge industri pulp dan kertas mempunyai karakteristik
yang tergantung dari bahan baku, sumber proses dan produk yang
dihasilkan dari sumber tersebut. Limbah padat biosludge yang dihasilkan
industri pulp dan kertas berasal dari proses pencucian / penyaringan bubur
pulp (reject screen) dan hasil instalasi pengolahan limbah. Limbah padat
biosludge adalah limbah padat serat pendek yang masih memilki kadar
serat tinggi yang selama ini limbah padat biosludge tersebut belum optimal
pemanfaatannya, sebagian kecil dimanfaatkan menjadi bahan bakar
alternatif sebagai pengganti batu bara dan sebagai landfill pada area yang
telah disediakan, sedangkan sisanya ditimbun begitu saja. Apabila keadaan
ini dibiarkan terus semakin lama pabrik akan kekurangan lahan untuk
penimbunan limbah sehingga terjadi pencemaran lingkungan.
c. Pith
Pith adalah bahan dari proses depething plant yaitu proses
pemisahan secaramekanik bahan baku pulp yaitu antar bahan serat dan
bahan bukan serat.
B. Limbah Cair
Pabrik Kertas menghasilkan limbah cair yang mengandung logam
berat jenis Hg dan Cu. Limbah cair tersebut berupa bubur kertas encer yang
apabila dibuang sembarangan akan mengakibatkan pencemaran lingkungan.
Disamping itu sebagian besar industri kertas menggunakan pemutih yang
mengandung klorin. Klorin akan bereaksi dengan senyawa organik dalam kayu
membentuk senyawa toksik seperti dioksin. Dioksin ditemukan dalam proses
pembuatan kertas, air limbah (efluen), bahkan di dalam produk kertas yang
dihasilkan. Industri kertas menggunakan air dalam jumlah yang sangat besar
untuk membilas zat kimia dan senyawa yang tidak diinginkan dari pulp. Oleh
karenanya air limbah yang telah digunakan pada umumnya mempunyai nilai

BOD, COD dan TSS yang relatif tinggi, jauh diatas batas ambang yang diijinkan.
Disamping itu juga mengandung berbagai jenis zat kimia berbahaya termasuk
dioksin. Meskipun konsentrasi dioksin sangat kecil di dalam air limbah, tetapi
pabrik terus beroperasi dan terus menghasilkan dioksin sehingga konsentrasinya
dalam air akan terus bertambah. Dioksin adalah senyawa organik yang sukar
terdegradasi dan konsentrasinya akan berlipat ganda jika masuk ke dalam rantai
makanan karena adanya proses biomagnifikasi. Senyawa dioksin adalah
merupakan senyawa yang tersusun atas atom karbon, hidrogen, oksigen dan klor.
Pada dasarnya, dioksin merupakan istilah yang digunakan untuk menyebutkan
sekelompok zat-zat kimia berbahaya yang termasuk dalam golongan senyawa
CDD (Chlorinated Dibenzo-p-Dioxin), CDF (Chlorinated Dibenzo Furan) dan
PCB (Polly Chlorinated Biphenyl). Senyawa dioksin bersifat ada terus menerus
(persistent) dan terakumulasi secara biologi (bioaccumulated), serta tersebar di
dalam lingkungan yang berada dalam konsentrasi rendah.
C. Limbah Beracun
Pabrik kertas menghasilkan limbah dalam volume yang sangat besar.
Karakteristik dari limbah pabrik kertas adalah warnanya yang kehitaman atau abuabu keruh, bau yang khas, kandungan padatan terlarut dan padatan tersuspensi
yang tinggi, COD yang tinggi dan tahan terhadap oksidasi biologis. Pabrik kertas
juga menghasilkan limbah beracun seperti :
a. limbah korosif yang dihasilkan dari penggunaan asam dan basa kuat dalam
proses pembuburan kertas.
b. limbah pewarna dan

tinta

yang

mengandung

logam

berat

Warna air limbah yang hitam tidak mudah terurai secara alami sehingga
meninggalkan warna yang persisten pada badan air penerima dan akan
menghambat fotosintesis dan proses pembersihan alami self purification.
Bahan kimia dalam air limbah pabrik kertas seperti sulfite, fenol,
klorin, metal merkaptan sangat membahayakan kehidupan biota perairan, dapat
mengendap ke dasar perairan dan mengganggu keseimbangan dan kelestarian
kehidupan perairan.Tingginya kebutuhan oksigen untuk menguraikan limbah
pabrik kertas akan menurunkan kadar oksigen terlarut (DO) dalam air dan dapat
menyebakan kondisi anoksik di perairan, sehingga tidak dapat dihuni lagi oleh
biota alami.

Industri kertas menggunakan air dalam jumlah yang sangat besar,


sehingga dapat mengancam keseimbangan air pada lingkungan sekitarnya karena
akan mengurangi jumlah air yang diperlukan makhluk perairan sungai dan
mengubah suhu air. Limbah pabrik kertas dapat menyebabkan kelainan
reproduktif pada plankton dan invertebrate yang menjadi makanan ikan serta
kerang-kerangan.
Sludge pabrik kertas yang dibuang ke sungai menimbulkan
pendangkalan sungai dan membunuh tumbuhan air di tepi sungai karena
tumbuhan tersebut tertutupi oleh lapisan bubur kertas. Limbah sludge tersebut
mestinya tidak dibuang ke sungai bersama air limbah tetapi diendapkan dan
dikeringkan untuk kemudian dibuang secara sanitary land fill atau dibakar agar
tidak mencemari tanah, air dan udara.

BAB II
KOMPOSISI LIMBAH KERTAS
Pada proses pembuatan kertas terdapat zat yang berpotensi mencemari
lingkungan. Menurut Rini (2002), limbah proses pembuatan kertas yang
berpotensi mencemari lingkungan tersebut dibagi menjadi 4 kelompok yaitu :
A. Limbah cair:
1. Padatan tersuspensi yang terdiri dari partikel kayu, serat, pigmen, debu
dan sejenisnya.
2. Senyawa organik koloid terlarut serat hemisellulosa, gula, lignin, alkohol,
terpentin, zat pengurai serat, perekat pati dan zat sintetis yang
3.
4.
5.
6.

menghasilkan BOD tinggi.


Limbah cair berwarna pekat yang berasal dari lignin dan pewarna kertas.
Bahan anorganik terlarut seperti NaOH, Na2SO4, klorin dan lain-lain.
Limbah panas.
Mikroorganisme seperti golongan bakteri coliform.

B. Partikulat
1. Abu dari pembakaran kayu bakar dan sumber energi lain.
2. Partikulat zat kimia terutama yang mengandung Na dan Ca.
C. Gas
Gas sulfur yang berbau busuk seperti merkaptan dan H 2S yang dilepaskan
dari berbagai tahap dalam proses kraft pulping dan proses pemulihan bahan
kimia.
1. Oksida sulfur dari pembakaran bahan bakar fosil, kraft recovery furnace
dan lime kiln (tanur kapur).
2. Uap yang akan membahayakan karena mengganggu jarak pandangan.
D. Solid Wastes:
1. Sludge dari pengolahan limbah primer dan sekunder.
2. Limbah padat seperti potongan kayu.

BAB III
DAMPAK PENCEMARAN LIMBAH PABRIK KERTAS
A. Dampak Pencemaran Industri Kertas
Adapun dampak dari limbah industri kertas yaitu pencemaran
lingkungan dan kesehatan manusia, dan ini dampak bagi pencemaran lingkungan
antara lain :
1. Membunuh ikan, kerang, dan invertebrata akuatik lainnya
2. Memasukkan zat kimia karsinogenik dan zat pengganggu aktivitas hormon
ke dalam lingkungan
3. Menghabiskan jutaan liter air tawar
4. Menimbulkan resiko terpaparnya masyarakat oleh buangan zat kimia
berbahaya dari limbahindustri yang mencemari lingkungan
Menurut Green (2005), terdapat beberapa senyawa dalam industri
pulp dan kertas yang berpeluang besar bersifat karsinogenik bagi kesehatan
manusia, yaitu :
1. Asbes
Asbes dapat

menyebabkan

kanker

paru-paru,

digunakan

pada

penyambungan pipa dan boiler.


2. Aditif kertas lainnya termasuk benzidine-base dyes, formaldehid dan
epichlorohydrin yang berpeluang menimbulkan kanker pada manusia.
3. Kromium heksavalen dan senyawa nikel
Senyawa ini umumnya digunakan pada pengelasan stainless steel dan
dikenal sebagaikarsinogenik terhadap paru-paru dan organ pernafasan lain.
4. Debu kayu (utamanya kayu keras)
Debu kayu keras dikenal sebagai penyebab kanker pernafasan.
5. Hidrazin, styren, minyak mineral, chlorinated phenols dan dioxin.
Senyawa-senyawa tersebut berpeluang besar menyebabkan kanker.

BAB IV
PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI KERTAS
A. Karakteristik Limbah Industri Kertas
Warnanya yang kehitaman atau abu-abu keruh, bau yang khas,
kandungan padatan terlarut dan padatan tersuspensi yang tinggi, COD yang tinggi
dan tahan terhadap oksidasi biologis.
B. Pengelolaan Limbah Industri Kertas
Pengolahan limbah industri kertas dapat dilakukan berdasarkan
wujudnya dan berdasarkan proses pembuatannya. Berikut merupakan pengolahan
limbah industri kertas berdasar wujud dan berdasar prosesnya.
1. Pengelolaan berdasarkan wujudnya
a. Pengolahan Limbah Cair
Limbah yang dihasilkan dari proses produksi pulp dapat dibedakan menjadi
tiga, yaitu cair, padat, dan emisi udara. Limbah cair yang dihasilkan dari
proses produksi diolah dengan menggunakan Instalasi Pengelolaan Air
Limbah (IPAL). Sistem pengelolaan limbah cair berdasarkan unit operasinya
dibedakan menjadi tiga, yaitu :
1) Fisik
Pada unit operasi ini, salah satu hal yang ditangani ialah proses
screening (penyaringan). Screening merupakan cara yang efisien dan
murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar.
Screening dilakukan pada sisa-sisa potongan kayu yang masih berukuran
besar sehabis diolah pada proses chipper. Setelah dilakukan penyaringan,
umumnya kayu yang masih berukuran besar akan dikembalikan lagi ke
proses chipper, untuk diolah lagi dan mendapatkan ukuran kayu yang
dikehendaki.
Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara
mudah dengan proses pengendapan. Pengendapan primer biasanya terjadi
di bak pengendapan atau bak penjernih. Bak pengendap yang hanya
berfungsi atas dasar gaya berat, tidak memberi keluwesan operasional.

Karena itu memerlukan waktu tinggal sampai 24 jam. Parameter desain


yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan mengendap
partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap. Bak
penjernih bulat yang dirancang dengan baik dapat menghilangkan 80%
zat padat yang tersuspensi dan 50-995 BOD. Beberapa contoh Limbah
atau proses-proses yang menggunakan pengolahan unit ini ialah :
Hasil pemasakan merupakan serat yang masih berwarna coklat dan
mengandung sisa cairan pemasak aktif. Serat ini masih mengandung
mata kayu dan serat-serat yang tidak dikehendaki (reject). Sisa cairan
pemasak dalam serat dibersihkan dengan menggunakan washer,
sedangkan pemisahan kayu dan reject dipakai screen.
Larutan hasil pencucian bubur pulp di brown stock washers
dinamai weak black liquor yang disaring sebelum dialirkan ke unit
pemekatan.
2) Kimia
Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk
menghilangkan partikel-partikel yang sukar mengendap, senyawa fosfor,
logam-logam berat, dan zat organik beracun. Dinamakan secara kimia
karena pada proses ini dibutuhkan bahan kimia yang akan mengubah
sifat bahan terlarut tersebut dari sangat terlarut menjadi tidak terlarut atau
dari ukuran sangat halus menjadi gumpalan (flok) yang dapat diendapkan
maupun dipisahkan dengan filtrasi.
Beberapa limbah-limbah atau proses-proses yang menggunakan
pengolahan unit ini ialah :
Cairan sisa dari hasil proses pemutihan yang menggunakan bahan
kimia chlorine dioksida, ekstraksi caustic soda, hidrogen peroksida.
Dalam proses pemutihan, setiap akhir satu langkah dilakukan pencucian
untuk meningkatkan efektivitas proses pemutihan. Sebelum bubur kertas
yang diputihkan dialirkan ke unit pengering, sisa klorin dioksida akan
dinetralkan dengan injeksi larutan sulfur dioksida.
Jika pengambilan air dilakukan dari sungai, maka biasanya industri pulp
seharusnya memberikan bahan pengendap secukupnya dan sedikit larutan

10

hypo untuk membunuh bakteri dan jamur sebelum mengalami proses


pengendapan di dalam settling basin dan penyaringan sehingga
dihasilkan air proses yang bersih dan bebas jamur.
Pemasakan menggunakan bahan larutan kimia, seperti NaOH (sodium
hidroksida) dan NaS (sodium sulfida) yang berfungsi untuk memisahkan
serat selulosa dari bahan organik. Cairan yang dihasilkan dari proses
pemasakan diolah dan menghasilkan bahan kimia, dengan daur ulang.
Pada proses daur ulang terjadi limbah cair.
Proses pemutihan menggunakan zat-zat kimia, utamanya ClO 2 dan cairan
yang masih tertinggal berubah menjadi limbah dengan kandungan
berbagai bahan kimia berupa organoklorin yang umumnya beracun.
3) Biologi
Tujuan utama dari pengolahan limbah cair secara biologi adalah
Menggumpalkan dan menghilangkan/menguraikan padatan organik
terlarut

yang

biodegradable

dengan

memanfaatkan

aktivitas

mikroorganisme. Pengolahan secara biologis mengurangi kadar racun


dan meningkatkan mutu estetika buangan (bau, warna, potensi yang
menggangu dan rasa air). Apabila terdapat lahan yang memadai, laguna
fakultatif dan laguna aerasi bisa digunakan. Laguna aerasi akan
mengurangi 80% BOD buangan pabrik dengan waktu tinggal 10 hari.
Pabrik-pabrik di Amerika Utara sekarang dilengkapi dengan laguna
aerasi bahkan dengan waktu tinggal yang lebih panjang, atau kadangkadang dilengkapi dengan kolam aerasi pemolesan dan penjernihn akhir
untuk lebih mengurangi BOD dan TSS sampai di bawah 30mg/1.
Prinsip dasar pengolahan secara biologi sebetulnya mengadopsi proses
pertumbuhan mikroorganisme di alam, mikroorganisme yang tumbuh
membutuhkan energi berupa unsure karbon (C) dimana unsure karbon
(C) tersebut dengan mudah diperoleh dari senyawa organic dalam air
limbah, sehingga senyawa organic tersebut terurai menjadi CO 2 dan H2O.
Salah satu limbah yang menggunakan pengolahan unit ini ialah hasil
perasan sludge yang berasal dari primary clarifier yang berupa larutan.
Larutan ini didinginkan di 6 unit menara pendingin sebelum dialirkan ke

11

deep tank air activated sludge untuk mengurangi kandungan organik


secara biologi dengan memanfaatkan bakteri dan gas oksigen dari udara
yang diinjeksikan dan bantuan dari pupuk fosfor dan nitrogen. Setelah
penjelasan mengenai tiga unit operasi Instalasi Pengelolaan Air Limbah
diatas, maka satu hal yang penting untuk diketahui ialah standar baku
mutu limbah cair yang telah ditetapkan pemerintah untuk pabrik pulp.
Standar baku mutu limbah cair yang telah ditetapkan pemerintah
berdasarkan Keputusan Menteri LH No 51 Tahun 1995 untuk pabrik
pulp, yakni toleransi PH dikisaran 6,0-9,0, BOD5: 150 mg/l, COD: 350
mg/l, dan TSS 150 mg/l.
b. Pengolahan Limbah Padat
Industri bubur kertas umumnya menghasilkan limbah padat berupa
batu dari kapur dan mengandung soda. Ini harus dibuang di lingkungan
aman dan nyaman. Limbah padat itu harus dibuang ke tempat pembuangan
akhir yang secure land fill (aman). Jika tidak, peristiwa fatal seperti di Love
Canal, Niagara Falls (AS), bisa terulang. Daerah bekas land fill dekat Love
Canal dijadikan tempat pembuangan limbah sebuah pabrik (1940-1950).
Setelah pabrik itu pindah lokasi, land fill itu dijadikan permukiman bagi 500
keluarga. Beberapa waktu kemudian zat-zat beracun keluar dari tanah land
fill dan mengancam nyawa warga di sekitarnya. Untuk menghindari
jatuhnya korban, daerah itu dikosongkan. Pemerintah menghukum
perusahaan kimia tersebut dengan denda dan ganti rugi bagi warga yang
jumlahnya ratusan juta dollar AS. Peristiwa land fill di Love Canal itu
mendorong Kongres AS menerbitkan undang-undang super fund (1970- an)
untuk melindungi penduduk dari limbah industri.
Dua jenis limbah padat lainnya, diolah dengan menggunakan Bark
Boiler dan Lime Klin. Bark Boiler digunakan untuk pembakaran kulit kayu.
Sedangkan Lime Klin digunakan untuk pengolahan lumpur kapur.
c. Pengolahan Limbah Emisi Udara
Untuk limbah berupa emisi udara yang dihasilkan dari proses produksi
pulp, biasanya pabrik pulp menggunakan alat-alat berupa blow gas
treatment di unit pulping, Electro Static Dust Precipitator pada Recovery

12

Boiler, dan Wet Scrubber di Recausticizing Unit. Beberapa limbah atau


proses yang menghasilkan emisi udara ini, beserta penanganannya ialah :
Kondensat tercemar yang berasal dari proses digester dikumpulkan dan
dialirkan ke unit penanganan kondensat di evaporator plant.
Noncondensable gas (NCG) dibakar sebagian menjadi limbah di lime klin
(tanur kapur).
Uap tekanan tinggi yang dihasilkan dari pembakaran bahan organik
digunakan untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik dan steam
tekanan menengah untuk pemanasan dalam proses di seluruh unit operasi
produksi.
Sisa bahan kimia menguap karena panas di unit pencucian. Uap diisap
blower dan diarahkan ke sebuah menara penyerap yang berlangsung dua
tahap. Di menara ini digunakan larutan sodium hidroksida dan diinjeksikan
dengan sulfur dioksida (reduktor) untuk menetralkan sisa bahan kimia
berupa klorin dioksida (oksidator) sehingga gas yang keluar bebas dari
unsur gas klorin dioksida.
Limbah yang mengandung partikel solid dari cerobong boiler, baik dari
multi fuel boiler, recovery boiler, maupun lime kiln. Untuk tujuan ini, pabrik
pulp harus memiliki alat electrostatic precipitator. Sedangkan cerobong asap
dari dissolving tank recovery boiler dilengkapi dengan scrubber yang dialiri
weak wash dari recaust plant.
2. Pengelolaan berdasarkan prosesnya
a. Pengolahan Primer
Pengolahan primer bertujuan membuang bahan bahan padatan yang
mengendap atau mengapung. Pada dasarnya pengolahan primer terdiri dari
tahap tahap untuk memisahkan air dari limbah padatan dengan
membiarkan padatan tersebut mengendap atau memisahkan bagian
bagian padatan yang mengapung. Pengolahan primer ini dapat
menghilangkan sebagian BOD dan padatan tersuspensi serta sebagian
komponen organik. Proses pengolahan primer limbah cair ini biasanya
belum memadai dan masih diperlukan proses pengolahan selanjutnya.

13

b. Pengolahan Sekunder
Pengolahan sekunder limbah cair merupakan proses dekomposisi
bahan bahan padatan secara biologis. Penerapan yang efektif akan dapat
menghilangkan sebagian besar padatan tersuspensi dan BOD. Ada 2 proses
pada pengolahan sekunder yaitu :
1) Penyaring trikle
Penyaring trikle menggunakan lapisan batu dan kerikil dimana
limbah cair dialirkan melalui lapisan ini secara lambat. Dengan
bantuan bakteri yang berkembang pada batu dan kerikil akan
mengkonsumsi sebagian besar bahan bahan organik.
2) Lumpur aktif
3) Kecepatan

aktivitas

bakteri

dapat

ditingkatkan

dengan

cara

memasukkan udara dan lumpur yang mengandung bakteri ke dalam


tangki sehingga lebih banyak mengalami kontak dengan limbah cair
yang telah diolah pada proses pengolahan primer. Selama proses ini
limbah organik dipecah menjadi senyawa senyawa yang lebih
sederhana oleh bakteri yang terdapat di dalam lumpur aktif.
c. Pengolahan tersier
Proses pengolahan

primer

dan sekunder limbah

cair

dapat

menurunkan BOD air dan meghilangkan bakteri yang berbahaya. Akan


tetapi proses tersebut tidak dapat menghilangkan komponen organik dan
anorganik terlarut. Oleh karena itu perlu dilengkapi dengan pengolahan
tersier.
Pengolahan limbah cair pada industri pulp dan kertas terdiri atas tahap
netralisasi,

pengolahan

primer,

pengolahan

sekunder

dan

tahap

pengembangan. Sebelum masuk ke tempat pengendapan primer, air limbah


masuk dalam tempat penampungan dan netralisasi. Pada tahap ini
digunakan saringan untuk menghilangkan benda benda besar yang
masuk ke air limbah.
Pengendapan primer biasanya bekerja atas dasar gaya berat. Oleh
karenanya

memerlukan

waktu

tinggal

sampai

24

jam.

Untuk

meningkatkan proses pengendapan dapat digunakan bahan flokulasi dan

14

koagulasi di samping mengurangi bahan yang membutuhkan oksigen.


Pengolahan secara biologis dapat mengurangi kadar racun dan
meningkatkan kualitas air buangan (bau, warna, dan potensi yang
mengganggu badan air). Apabila terdapat lahan yang memadai dapat
digunakan laguna fakultatif dan laguna aerasi. Laguna aerasi akan
mengurangi 80 % BOD dengan waktu tinggal 10 hari.
Apabila tidak terdapat lahan yang memadai maka proses lumpur aktif,
parit oksidasi dan trickling filter dapat digunakan dengan hasil kualitas
yang sama tetapi membutuhkan biaya operasional yang tinggi.
Tahap pengembangan dilakukan dengan kapasitas yang lebih besar,
melalui pengolahan fisik dan kimia untuk melindungi badan air penerima
(Devi, 2004). Sedangkan endapan (sludge) yang biasanya diperoleh dari
proses filter press dari IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), menurut
Sunu (2001) dapat dikategorikan sebagai limbah B3 (Bahan Berbahaya
dan Beracun) atau tidak. Pembuangan lumpur organik, termasuk pada
industri pulp dan kertas, dapat dibedakan menjadi :
a) Metode pembakaran
Metode pembakaran ini merupakan salah satu cara untuk
mencegah dampak lingkungan yang lebih luas sebelum dilakukan
pembuangan akhir. Beberapa metode yang dapat dilakukan antara lain
adalah metode incinerator basah yang mengoksidasi lumpur organik
pada suhu dan tekanan tinggi.
b) Metode fermentasi metan dan metode pembusukan
Metode fermentasi metan dilakukan menggunakan tangki
fermentasi sehingga dihasilkan gas metan, sedangkan metode
pembusukan akan diperoleh hasil akhir berupa kompos. Lumpur yang
dihasilkan dari pengolahan buangan pada masa lalu biasanya ditimbun.
Akan tetapi sistem ini menimbulkan bau karena pembusukan dan
menyebabkan pencemaran air tanah dan air permukaan. Sekarang
lumpur dihilangkan airnya dan dibakar atau digunakan sebagai bahan
bakar (Rini, 2002).

15

DAFTAR PUSTAKA
Rini, D.S. 2002. Minimasi Limbah dalam Industri Pulp and Paper. Gresik:.
Ecologycal Observation and Wetland Conservation. [Online]. Tersedia:
http://www.egs.com/Volume 1/part 1/dioxin.htm
Siswani, Endang Dwi. 2016. Diktat Kuliah Kimia Industri. Yogyakarta: UNY.
Himawan, Aditia. 20. Makalah Sistem Perlakuan Limbah Limbah Industri Kertas.
https://www.academia.edu/8494776/MAKALAH_SISTEM_PERLAKU
AN_LIMBAH_LIMBAH_INDUSTRI_KERTAS tanggal 29 Februari
2016 pukul 07.30 WIB.

16

PERTANYAAN
1. Thinus Christian (008)
Pada saat proses pengelolaan limbah terakhir itu kan di filtrasi, kemudian
hasil yang diperoleh berupa padatan, lalu bagaimana hasil itu akan dikelola?
Jawab: Hasil limbah yang berupa padatan tersebut bisa digunakan sebagai
pengganti alternatif batu bara atau bisa dengan land fill.
2. Minandre Wiratama (046)
Bagaimana pengelolaan hasil limbah kayu yang kecil-kecil?
Jawab : limbah kayu yang kecil-kecil dibakar terlebih dahulu sehingga
menjadi arang, selanjutya dipress menggunakan alat press. Arang tersebut
telah menjadi briket yang siap digunakan untuk bahan bakar pada proses
produksi kertas selanjutnya.
3. Neny Rahmawati (055)
Disekitar pabrik kertas blabag banyak mengeluarkan bau. Berasal dari
manakah bau tersebut? Kemudian apa yang dimaksud NCG (Noncondensable
gas), dan berikan contohnya?
Jawab : Bau yang dihasilkan tersebut bisa berasal dari H2S atau belerang.
NCG (Noncondensable gas) adalah gas yang tidak dapat terkondensasi,
contohnya metil merkaptan, dimetil sulfida, hidrogen sulfida.