Anda di halaman 1dari 4

PEMECAHAN SAHAM

Pemecahan saham / Stock split adalah suatu aktifitas yang dilakukan oleh para manajer
perusahaan dengan melakukan perubahan terhadap jumlah saham yang beredar dan nominal per
lembar saham sesuai dengan split factornya ( Szewezyk dan Tsetsekos, 1993 dalam Beni
Suhendra Winarso, 2005 ). Pada dasarnya ada dua jenis pemecahan saham yang dapat dilakukan,
yaitu pemecahan naik ( split up ) dan pemecahan turun ( split down / reverse split ). Pemecahan
naik adalah meningkatan jumlah saham yang beredar dengan cara memecah selembar saham
menjadi n lembar saham. ( Jogiyanto, 2000 ). Pemecahan naik ini mengakibatkan bertambahnya
jumlah saham yang beredar, misalnya pemecahan saham dengan split factor 2:1, 3:1, 4:1.
Sedangkan pemecahan turun adalah kebalikan dari pemecahan naik, yaitu peningkatan nilai
nominal per lembar saham dan mengurangi jumlah saham yang beredar. Misalnya pemecahan
turun dengan split factor 1:2, 1:3, 1:4. Pemecahan saham ( split up ) biasanya dilakukan
perusahaan pada saat harga saham dinilai sudah terlalu tinggi sehingga mengakibatkan daya beli
investor berkurang ( Ewijaya dalam Muniya Alzeta, 2008 ). Oleh karena itu, pemecahan saham
dilakukan karena diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat, antara lain ( Scott, Martin,
Petty, Keown, 1999 ) :
1. agar saham tidak terlalu mahal sehingga dapat meningkatkan jumlah pemegang saham dan
meningkatkan likuiditas perdagangan saham
2. untuk mengembalikan harga dan ukuran perdagangan rata rata saham kepada kisaran yang
telah ditargetkan
3. untuk membawa informasi mengenai kesempatan investasi yang berupa peningkatan laba dan
deviden kas

Perlu untuk diketahui bahwa pemecahan saham hanya mengakibatkan penambahan jumlah
lembar saham, tetapi tidak mengubah jumlah modal ditempatkan dan modal disetor ( paid in
capital ), sehingga ada yang berpendapat bahwa pemecahan saham hanya merupakan corporate
action yang sifatnya adalah kosmetik dan administratif yaitu upaya memoles saham agar tampak
lebih menarik di mata investor, dimana tindakan ini hanya menyebabkan perubahan akuntansi
lewat pengurangan nilai par tetapi tidak mengubah jumlah modal di neraca sehingga tidak
mengubah kekayaan perusahaan ( Sukardi, 2000 dalam Alzeta, 2008 ). Tindakan pemecahan
saham menimbulkan efek fatamorgana saja dimana investor seolah olah menjadi lebih makmur
karena memegang lembar saham dalam jumlah yang lebih
banyak, padahal penambahan lembar saham yang dimiliki juga dibarengi dengan penurunan nilai
per lembar saham. Dari sini dapat disimpulkan bahwa sebenarnya pemecahan saham tidak
memiliki nilai ekonomis. Meski demikian, banyaknya peristiwa pemecahan saham yang terjadi
tetap mengindikasikan bahwa pemecahan saham merupakan salah satu instrumen penting yang
dipakai perusahaan di pasar
modal. Grinblatt, Masulis dan Titman dalam Winarso ( 2005 ) berpendapat bahwa pemecahan
saham, meski tidak memiliki nilai ekonomis, memberikan sinyal yang positif terhadap aliran kas
perusahaan pada masa yang akan datang. Sinyal positif dari pengumuman pemecahan saham
menginterpretasikan bahwa manajer perusahaan akan menyampaikan prospek kinerja keuangan
yang baik sehingga dianggap dapat meningkatkan kesejahteraan investor.

Stock split
Definisi stock split menurut Abdul Halim (2005) adalah pemecahan jumlah lembar saham
menjadi jumlah lembar yang lebih banyak dengan menggunakan nilai nominal yang lebih rendah
per lembar sahamnya secara proporsional. Tujuan dilakukan pemecahan saham adalah untuk
Menjaga harga agar saham tidak terlalu tinggi sehingga sahamnya lebih memasyarakat dan lebih
banyak diperdagangkan. Dengan pemecahan saham, pemegang saham harus menukarkan
sahamnya dengan saham baru yang memiliki nilai nominal lebih rendah. Sebab jika batas waktu
penukaran yang ditetapkan terlampaui, maka saham dengan nilai nominal lama tidak bisa
diperdagangkan di bursa.
Hal-hal yang perlu diketahui oleh pemegang saham/investor sehubungan dengan pemecahan
saham Abdul Halim (2005):
1. Rasio pemecahan saham yaitu perbandingan jumlah saham baru terhadap saham lama.
2. Tanggal terakhir perdagangan saham dengan nilai nominal lama di bursa.
3. Tanggal dimulainya perdagangan saham dengan nilai nominal baru di bursa.
4. Tanggal terakhir dilakukannya penyelesaian transaksi dengan nilai nominal lama.
5. Tanggal dimulainya penyelesaian transaksi dengan nilai nominal baru dan distribusi
saham dengan nilai nominal baru ke dalam rekening efek perusahaan efek/bank kustodian
di KSEI.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Purwo Adi Wibowo (2004) menyatakan bahwa stock split
merupakan kebijakan perusahaan yang go publik (emiten) yang melakukan perubahan terhadap
jumlah saham yang beredar dan nilai nominal per lembar saham sesuai dengan faktor pemecah
(split factor).
Marwata (2001) definisi stock split adalah memecahkan selembar saham menjadi n lembar
saham. Pemecahan saham mengakibatkan bertambahnya jumlah lembar saham yang beredar
tanpa transaksi jual beli yang mengubah besarnya modal. Harga per lembar saham adalah sebesar
1/n dari harga sebelumnya.
Adapun menurut Brigham & Houston (2006), pemecahan saham adalah tindakan yang diambil
oleh sebuah perusahaan untuk meningkatkan jumlah lembar saham beredar, seperti
menggandakan jumlah lembar saham beredar dengan memberikan dua saham baru kepada
pemegang saham untuk setiap satu lembar saham yang sebelumnya dia miliki. Perubahan jumlah
saham yang beredar dibarengi dengan perubahan harga saham sehingga tidak mempengaruhi
jumlah modal.

Tujuan utama emiten melakukan stock split adalah untuk meningkatkan likuiditas saham
sehingga distribusi saham menjadi lebih luas. Selain itu, untuk menempatkan saham dalam
trading range yang optimal. Kebijakan stock split merupakan strategi untuk mempengaruhi
transaksi saham tersebut di Bursa Efek. Harga awal yang diperkirakan terlalu tinggi dapat
memberikan image mahal bagi investor sehingga tidak semua investor berani membeli saham
tersebut. Kemampuan investor untuk membeli saham juga menjadi berkurang. Kebijakan stock
split akan menurunkan harga saham sehingga diharapkan dapat mendorong peningkatan
transaksi, Robert Ang (1997).
Dampak stock split yang meningkatkan transaksi sesuai dengan hasil penelitian Marwata (2001).
Baker dan Gallagher (Sri Fatmawati dan Marwan Asri, 1999) mengadakan tanya jawab terhadap
100 CFO (Chief Financial Officer) perusahaan yang sahamnya terdaftar di New York Stock
Exchange (NYSE). Hasil survey tersebut adalah 94 CFO mengindikasikan bahwa perusahaan
melakukan stock split agar menarik investor melakukan transaksi perdagangan sehingga dapat
meningkatkan likuiditas saham. Daya tarik bagi investor karena stock split membawa informasi
mengenai kesempatan investasi yang berupa peningkatan laba dan deviden kas.
Penelitian Baker (1956) dan Lamoureux (1987) dalam penelitian Purwo Adi Wibowo (2005)
menyimpulkan bahwa jumlah pemegang saham menjadi bertambah banyak setelah stock split.
Kenaikan tersebut disebabkan oleh penurunan harga, volatilitas (pergerakan harga saham)
menjadi bertambah besar sehingga menarik investor untuk memperbanyak jumlah yang dipegang
(Indah, 2003) dalam Purwo Adi Wibowo (2005).
Menurut Abdul Halim (2005) terdapat dua jenis stock split:

Pemecahan naik (Split Up atau sering disebut Stock split) : Pemecahan naik adalah
penurunan nilai nominal perlembar saham yang mengakibatkan bertambahnya jumlah
saham yang beredar. Misalnya pemecahan saham dengan faktor pemecahan 1:2, 1:3.

Pemecahan turun (Split Down atau sering disebut Revers Stock Split) : Pemecahan turun
adalah peningkatan nilai nominal per lembar saham dan mengurangi jumlah saham yang
beredar. Misalnya pemecahan turun dengan faktor pemecahan 2:1, 3:1

New York Stock Exchange (NYSE) juga mengatur kebijakan mengenai stock split. NYSE
membedakan stock split menjadi dua bagian yaitu:

Pemecahan saham sebagian : Pemecahan saham sebagian adalah tambahan distribusi


saham yang beredar sebesar 25% atau lebih tetapi kurang dari 100% dari jumlah saham
beredar yang lama.

Pemecahan saham penuh : Pemecahan saham penuh adalah tambahan distribusi saham
yang beredar sebesar 100% atau lebih dari jumlah saham yang beredar yang lama.

Stock Split adalah pemecahan nilai nominal saham kedalam nilai nominal
yang lebih kecil. Dengan demikian jumlah lembar saham yang beredar akan
meningkat proporsional dengan penurunan nilai nominal saham.
Dengan adanya pemecahan saham maka nilai pari atau nilai yang ditetapkan menjadi berubah
tetap dilain pihak jumlah lebar saham yang beredar akan bertambah. Oleh karena itu jumlah nilai
pari atau nilai yang ditetapkan secara keseluruhan tidak mengalami perubahan.
Kenapa ada STOCK SPLIT ?
Salah satu alasan perseroan melakukan stock split adalah untuk menurunkan harga sahamnya.
karna kalau harga saham terlalu tinggi dapat mengurangi minat investor terhadap saham yang
dikeluarkan oleh perseroan yang bersangkutan.
Stock Split yang dilakukan perusahaan emiten dapat berupa stock split atas dasar satu jadi
dua(two for one stock) dimana setiap pemegang saham akan menerima dua lembar saham setiap
lembar yang dipegang sebelumnya, nilai saham baru adalah setengah dari nilai nominal saham
sebelumnya. begitu juga jika dilakukan stock split atas dasar satu jadi tiga (three for one stock).
Pemegang saham akan menerima tiga lembar saham untuk setiap satu saham yang dimiliki
sebelumnya, nilai saham baru adalah sepertiga dari nilai nominal saham sebelumnya.
Sebagai contoh :
Perusahaan dengan 100 Lembar saham dengan harga $50 / saham,
Kapitalisasi pasar adalah 100 x $50 = total $5000
Perusahan stock split dua untuk satu
Maka jumlah lembar saham menjadi 200 lembar
Harga saham disesuaikan dengan total $5000/200 maka harga lembar saham menjadi $25
Pada dasarnya ada dua jenis stock split yang dilakukan
1. Split Up (Pemecahan saham naik)
Adalah penurunan naik nominal perlembar saham yang mengakibatkan bertambahnya jumlah
yang beredar. Misalnya :
Pemecahan saham dengan faktor 3:1 pada awalnya nilai nominal perlembar saham sebelum
melakukan stock split sebesar Rp.1500 maka setelah dilakukan stock Split Up dengan
perbandingan 3: 1, nilai nominal perlembar saham baru adalah Rp. 500 sehingga lembar saham
awalnya 1 lembar menjadi 3 lembar saham.
2. Split Down (Pemecahan saham turun)
Adalah peningkatan nilai nominal perlembar saham yang mengakibatkan berkurangnya jumlah
lembar saham yang beredar.
Misalnya :
Split Down dengan faktor 1:3 yang merupakan kebalikan dai split up, awalnya nilai nominal
perlembar saham Rp. 1000, kemudian dilakukan Split Down dengan perbandingan 1:3 maka
nilai nominal perlembar saham baru adalah Rp. 3000 dan jumlah lembar saham yang aalnya 3
lembar menjadi 1 lembar saham.
Banyak investor percaya bahwa stock split akan menghasilkan harga saham meningkat dan
membeli saham akan cenderung meningkat. Orang lain berpendapat bahwa manajemen
perusahaan dengan memulai stock split secara implisit merupakan sinyal kepercayaan dalam
prospek masa depan perusahaan.