Anda di halaman 1dari 22

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Awal

dari

ditemukan

tambang

emas

ini

berawal

dari geologis Belanda Jean-Jacquez Dozy yang mengunjungi Indonesia pada


tahun 1936 untuk

menentukan

skala glasier Pegunungan

Jayawijaya di

provinsi Irian Jaya di Papua Barat. Dia membuat catatan di atas batu hitam
yang aneh dengan warna kehijauan. Pada 1939, dia mengisi catatan
tentang Ertsberg. Namun, peristiwa Perang Dunia II menyebabkan laporan
tersebut tidak diperhatikan. Dua puluh tahun kemudian, geologis Forbes
Wilson, bekerja untuk perusahaan pertambangan Freeport, membaca laporan
tersebut. Dia dalam tugas mencari cadangan nikel, tetapi kemudian melupakan
hal tersebut setelah dia membaca laporan tersebut. Dia memutuskan untuk
menyiapkan perjalanan untuk memeriksa Ertsberg. Ekspedisi yang dipimpin
oleh Forbes Wilson dan Del Flint, menemukan deposit tembaga yang besar di
Ertsberg pada 1960.
Emas digunakan sebagai standar keuangan di banyak negara dan juga
digunakan sebagai perhiasan, dan elektronik. Penggunaan emas dalam bidang
moneter dan keuangan berdasarkan nilai moneter absolut dari emas itu sendiri
terhadap berbagai mata uang di seluruh dunia, meskipun secara resmi di bursa
komoditas dunia, harga emas dicantumkan dalam mata uang dolar amerika.
Bentuk penggunaan emas dalam bidang moneter lazimnya berupa bulion atau
batangan emas dalam berbagai satuan berat gram sampai kilogram.

B. Identifikasi Masalah
Dalam makalah ini, identifikasi masalah yang ada yaitu bagaimana cara
memberikan pemahaman dan penjelasan tentang mineral emas, baik dari segi
proses penambangan serta proses genesanya terhadap mahasiswa khususnya di
Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang.
C. Batasan Masalah
Dalam makalah ini, batasan masalah yang diterapkan yaitu sebatas mengetahui
dan memahami bagaimana proses terbentuknya emas, proses penambangan,
metode yang digunakan dalam pengambilan emas, pengolahan serta
manajemen yang dilakukan.
D. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini antara lain:
1. Bagaimana proses terbentuknya emas?
2. Metode apa yang dapat digunakan dalam penambangan emas?
3. Bagaimana sistem manajemen dalam penambangan emas?
4. Bagaimana proses pengolahan emas?
E. Tujuan Makalah
Tujuan penyusunan makalah ini antara lain:
1. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai logam emas.
2. Untuk mengetahui beberapa metode yang digunakan dalam penambangan
3. Untuk mengetahui bagaimana sistem penambangan dan pengolahan dari
emas itu sendiri.
4. Untuk mengetahui manejemen penambangan mineral emas.
5. Untuk memenuhi tugas yang diberikan pada mata kuliah Tambang Terbuka
dengan dosen Bapak Drs. Sumarya, MT.
F. Manfaat Makalah
Manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Manfaat Praktis
Manfaat praktis yang dimaksudkan yaitu bagi penyusun untuk lebih
memahami dan mengerti tentang genesa dan sistem penambangan emas.
2.Manfaat Akademis
Manfaat akademis yang dimaksudkan yaitu bagi civitas akademika
Universitas Negeri Padang pada umumnya, khususnya di Jurusan Teknik
Pertambangan, makalah ini diharapkan dapat menjadi dokumen yang
berguna untuk dijadikan acuan pembelajaran.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Proses Terbentuknya Emas

Emas merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa,


kekerasannya berkisar antara 2,5 3 (skala Mohs), serta berat jenisnya
tergantung pada jenis dan kandungan logam lain yang berpadu dengannya.
Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue
minerals). Mineral ikutan tersebut umumnya kuarsa, karbonat, turmalin,
flourpar, dan sejumlah kecil mineral non logam. Mineral pembawa emas juga
berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah teroksidasi. Mineral pembawa
emas terdiri dari emas nativ, elektrum, emas telurida, sejumlah paduan dan
senyawa emas dengan unsur-unsur belerang, antimon, dan selenium. Elektrum
sebenarnya jenis lain dari emas nativ, hanya kandungan perak di dalamnya
>20%.

Gambar 1. Proses Terbentuknya Emas


Emas berasal dari suatu reservoar yaitu inti bumi dimana air magmatik
yang mengandung ion sulfida, ion klorida, ion natrium, dan ion kalium
mengangkut logam emas ke permukaan bumi. Kecenderungan terdapatnya
emas terdapat pada zona epithermal atau disebut zona alterasi hidrothermal.
Zona alterasi hidrotermal merupakan suatu zona dimana air yang berasal dari
magma atau disebut air magmatik bergerak naik kepermukaan bumi. Celah dari
hasil aktivitas Gunungapi menyebabkan air magmatik yang bertekanan tinggi
naik ke permukaan bumi. Saat air magmatik yang yang berwujud uap mencapai

permukaan bumi terjadi kontak dengan air meteorik yang menyebabkan ion
sulfida dan ion klorida yang membawa emas terendapkan. Air meteorik
biasanya menempati zona-zona retakan-retakan batuan beku yang mengalami
proses alterasi akibat pemanasan oleh air magmatik.
Seiring dengan makin bertambahnya endapan dalam retakan-retakan
tersebut, semakin lama retakan-retakan tersebut tertutup oleh akumulasi
endapan dari logam-logam yang mengandung ion-ion kompleks yang
mengandung emas. Zona alterasi yang potensial mengandung emas dapat
diidentifikasi dengan melihat lapisan pirit atau tembaga pada suatu reservoar
yang tersusun atas batuan intrusif misalnya granit atau diorite.
Emas terbentuk dari proses magmatisme atau pengendapan di
permukaan. Beberapa endapan terbentuk karena prosesmetasomatisme yaitu
kontak yang terjadi antara bebatuan dengan air panas (hydrothermal) atau
fluida lainnya. Genesis emas dikategorikan menjadi dua yaitu endapan primer
dan endapan plaser (Alamsyah, 2006) Berdasarkan temperatur, tekanan dan
kondisi geologi pada saat pembentukan emas dapat dibagi menjadi 3 jenis,
yaitu:
1. Endapan Hipotermal
Endapan ini terbentuk pada temperatur antara 300C - 600C pada
kedalaman > 12.000 meter. Endapan ini merupakan endapan urat (vein) dan
penggantian (replacement) yang terbentuk pada temperatur dan tekanan
tinggi. Pada endapan ini, biasa terdapat mineral logam yang berupa bornit,
kovelit, kalkosit, kalkopirit, pirit, tembaga, emas, wolfram, molibdenit, seng
dan perak. Mineral logam tersebut berasosiasi dengan mineral - mineral
pengotor seperti piroksen, amfibol, garnet, ilmenit, spekularit, turmalin,
topaz, mika hijau dan mika cokelat (Warmada, 2007)
2. Endapan Mesotermal
Endapan ini terbentuk pada suhu 200-4000C dan kedalaman bekisar
3.000 meter sampai 12.000 meter. Endapan ini terletak agak jauh dari tubuh
intrusi, maka sumber panas yang utama berasal dari fluida panas yang

bergerak naik dari lokasi intrusi menuju lokasi terbentuknya endapan ini.
Fluida tersebut berasal dari meteorik water yang masuk menuju lokasi
intrusi dan mengalami pemanasan yang selanjutnya naik menuju lokasi
endapan mesotermal.
Logam utama yang terdapat pada endapan ini antara lain emas, perak,
tembaga, seng dan timbal. Mineral bijih yang ditemukan berupa sulfida,
arsenida, sulfantimonida, dan sulfarsenida. Pirit, kalkopirit, sfalerit, galena,
tetrahedrit, dan tentalit serta emas stabil merupakan mineral bijih yang
paling banyak ditemukan. Mineral pengotor yang dominan adalah kuarsa
namun selain itu juga dijumpai karbonat seperti kalsit, dolomit, ankerit dan
sedikit siderit, florit yang merupakan asosiasi penting.
3. Endapan epitermal
Endapan ini terbentuk pada suhu 50C - 250C yang berada dekat
permukaan bumi dan terletak pada kedalaman paling jauh dari tubuh intrusi,
dan terbentuk pada kedalaman 1 km. Sumber panas yang utama pada
endapan ini berasal dari fluida panas yang bergerak naik dari lokasi intrusi
menuju lokasi terbentuknya endapan ini. Dengan kata lain, fluida panas
tersebut telah melewati zona endapan mesotermal
B. Sistem Penambangan
Metode penambangan emas sangat dipengaruhi oleh karakteristik
cebakan emas primer atau sekunder yang dapat mempengaruhi cara
pengelolaan lingkungan yang akan dilakukan untuk meminimalisir dampak
kegiatan penambangan tersebut. Cebakan emas primer dapat ditambang secara
tambang terbuka (open pit) maupun tambang bawah tanah (underground
minning). Sementara cebakan emas sekunder umumnya ditambang secara
tambang terbuka.
Pada industri, emas diperoleh dengan cara mengisolasinya dari batuan
bijih emas (ekstraksi). Bijih emas dikategorikan dalam 4 (empat) kategori :
1. Bijih tipis dimana kandungannya sebesar 0.5 ppm
2. Bijih rata-rata (typical) dengan mudah digali, nilai biji emas khas dalam
galian terowongan terbuka yakni kandungan 1-5 ppm
3. Bijih bawah tanah/harrdrock dengan kandungan 3 ppm
4. Bijih nampak mata ( visible ) dengan kandungan minimal 30 ppm

Menurut Greenwood dkk (1989), batuan bijih emas yang layak untuk
dieksploitasi sebagai industri tambang emas, kandungan emasnya sekitar 25
g/ton (25 ppm). Endapan emas dikatagorikan menjadi dua yaitu :
1. Endapan primer / Cebakan Primer

Gambar 2. Endapan Emas Primer


Cebakan primer merupakan Cebakan yang terbentuk bersamaan dengan
proses pembentukan batuan. Salah satu tipe cebakan primer yang biasa
dilakukan pada penambangan skala kecil adalah bijih tipe vein (urat), yang
umumnya dilakukan dengan teknik penambangan bawah tanah terutama
metode gophering / coyoting (di Indonesia disebut lubang tikus). Terhadap
batuan yang ditemukan, dilakukan proses peremukan batuan atau
penggerusan, selanjutnya dilakukan sianidasi atau amalgamasi, sedangkan
untuk tipe penambangan sekunder umumnya dapat langsung dilakukan
sianidasi atau amalgamasi karena sudah dalam bentuk butiran halus.

Beberapa karakteristik dari bijih tipe vein (urat) yang mempengaruhi teknik
penambangan antara lain :
1. Komponen mineral atau logam tidak tersebar merata pada badan urat.
2. Mineral bijih dapat berupa kristal-kristal yang kasar.
3. Kebanyakan urat mempunyai lebar yang sempit sehingga rentan dengan
pengotoran (dilution).
4. Kebanyakan urat berasosiasi dengan sesar, pengisi rekahan, dan zona
geser (regangan), sehingga pada kondisi ini memungkinkan terjadinya
efek dilution pada batuan samping.
5. Perbedaan assay (kadar) antara urat dan batuan samping pada umumnya
tajam, berhubungan dengan kontak dengan batuan samping, impregnasi
pada batuan samping, serta pola urat yang menjari (bercabang).
6. Fluktuasi ketebalan urat sulit diprediksi, dan mempunyai rentang yang
terbatas, serta mempunyai kadar yang sangat erratic (acak/tidak
beraturan) dan sulit diprediksi.
7. Kebanyakan urat relatif keras dan bersifat brittle.

Gambar 3. Tambang Emas Bawah Tanah


Cara penambangan ini umumnya tanpa penyangga yang memadai dan
penggalian umumnya dilakukan tanpa alat-alat mekanis. Metode tambang
emas seperti ini umum diterapkan di berbagai daerah operasi tambang

rakyat di Indonesia, seperti di Pongkor-Bogor, Gn.Peti, Cisolok-Sukabumi,


Cikidang-Cikotok,Gn.Subang,Tanggeung-Cianjur, Cikajang-Garut, CineamTasikmalaya, Kokap-Kulonprogo, Selogiri-Wonogiri, Punung-Pacitan dan
lain-lain. Penambangan dilakukan secara sederhana, tanpa development
works, dan langsung menggali cebakan bijih menuruti arah dan bentuk
alamiahnya. Bila cebakan bijih tersebut tidak homogen, kadang-kadang
terpaksa ditinggalkan pillar yang tak teratur.
2. Endapan plaser / Cebakan Sekunder
Cebakan emas sekunder atau yang lebih dikenal sebagai endapan
emas aluvial merupakan emas yang diendapkan bersama dengan material
sedimen yang terbawa oleh arus sungai atau gelombang laut adalah
karakteristik yang umum ditambang oleh rakyat, karena kemudahan
penambangannya.

Gambar 4.
Emas Sekunder
Secara umum penambangan emas aluvial dilakukan berdasarkan atas
prinsip:
1. Butir emas sudah terlepas sehingga bijih hasil galian langsung
mengalami proses pengolahan.
2. Berdasarkan lokasi keterdapatan, pada umumnya kegiatan penambangan
dilakukan pada lingkungan kerja berair seperti sungai-sungai dan rawa-

10

rawa, sehingga dengan sendirinya akan memanfaatkan air yang ada di


tempat sekitarnya.
Karakteristik dari endapan emas aluvial akan menentukan sistem dan
peralatan

dalam

melakukan

kegiatan

penambangan.

Berdasarkan

karakteristik endapan emas tersebut, metode penambangan terbuka yang


umum diterapkan dengan menggunakan peralatan berupa :
1. Pendulangan (panning)
Penambangan dengan cara pendulangan banyak dilakukan oleh
pertambangan rakyat di sungai atau dekat sungai. Cara ini banyak
dilakukan oleh penambang perorangan dengan menggunakan nampan
pendulangan untuk memisahkan konsentrat atau butir emas dari mineral
pengotornya.

G
ambar 5. Proses Mendulang Emas

2. Tambang semprot (hydraulicking)


Pada tambang semprot digunakan alat semprot (monitor) dan
pompa untuk memberaikan batuan dan selanjutnya lumpur hasil

11

semprotan dialirkan atau dipompa ke instalasi konsentrasi (sluicebox /


kasbok). Cara ini banyak dilakukan pada pertambangan skala kecil
termasuk tambang rakyat dimana tersedia sumber air yang cukup,
umumnya berlokasi di atau dekat sungai.

Gambar 6. Tambang Semprot


Beberapa syarat yang menjadikan endapan emas aluvial dapat ditambang
menggunakan metode tambang semprot antara lain :
a. Kondisi/jenis material memungkinkan terberaikan oleh semprotan air
b. Ketersediaan air yang cukup
c. Ketersediaan ruang untuk penempatan hasil cucian atau pemisahan
bijih
3. Dredging
Dredging adalah teknik penambangan yang dilakukakan bila
endapan placer terletak di bawah permukaan air, misalnya di lepas pantai,
sungai, danau atau lembah yang tersedia banyak air. Pada tambang ini
banyak dilakukan pada pertambangan skala kecil termasuk tambang
rakyat dengan menggunakan kapal keruk (dredge) atau dengan dragline

12

yang dikombinasi dengan pengolahan di atas pontoon (floating washing


plants).

Gambar 7. Dredging
Menurut Turner, 1975, dredges dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :
a. Mekanik, terdiri dari Bucket line, Bucket wheel suction, dan Dripper.
b. Hidraulik, terdiri dari Suction dan Cutter head.
Alat-alat yang dipakai pada penambangan kapal keruk berdasarkan alat
galinya dibedakan menjadi tiga, yaitu :
a. Multy bucket dredge, kapal keruk yang alat galinya berupa rangkaian
mangkok (bucket)
b. Cutter suction dredge, alat galinya berupa pisau pemotong yang
menyerupai mahkota.
c. Bucket wheel dredge, alat galinya dilengkapi dengan timba yang
berputar (bucket wheel).
Meskipun metode ini sebagian besar telah digantikan oleh metode
modern, dredging masih banyak dilakukan oleh penambang skala kecil
dengan menggunakan kapal keruk hisap. Ini adalah mesin kecil yang
mengapung di atas air dan biasanya dioperasikan oleh beberapa orang.
Sebuah rangkaian dredging hisap terdiri dari mesin pompa hisap, kotak

13

konsentrator, dan kompresor yang didukung oleh ponton. Pada selang


isap dikendalikan oleh penambang bekerja di bawah air (penyelam). Para
penyelam menggunakan kompresor untuk mencukupi kebutuhan oksigen.
Dampak

dari

sistem

penambangan

model

ini

umumnya

mengakibatkan terjadinya kolam-kolam air yang ada disepanjang sungai


akibat pengerukan oleh mesin keruk. Degradasi lingkungan yang
mungkin terjadi pada sistem penambangan metode ini adalah
terganggunya sistem hidrologi air tanah.
Metode penambangan ini umum diterapkan diberbagai daerah
operasi

pertambangan

rakyat

di

Indonesia,

seperti

di

Sungai

Kahayan,Bukitrawi, Palangkaraya-Kalimantan Tengah; Sungai Katingan,


Katingan-Kalimantan Tengah; Sungai Batang Asai, Sarolangun-Jambi,
Sungai Batang Hari, Mersam, Muara Bulian-Jambi; Sungai Batahan Aek
Nabirong, Ranah Batahan, Pasaman Barat-Sumatera Barat; Sungai
Batang Hari, Tiumang, Dharmasraya-Sumatera Barat; Sungai Tenom,
Aceh Jaya-NAD, dan lain-lain.
C. Manajemen Penambangan
Manajemen dapat juga didefinisikan sebagai sebuah proses perencanaa
pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk
mencapai sasaran secara efektif dan efisien. Tambang adalah usaha
pengambilan mineral berharga atau mineral berharga atau material geologi
lainnya dari dalam bumi, biasanya (tapi tidak selalu) dari bentuk bijih atau
lapisan mineral. Manajamen Penambangan adalah sebuah proses perencanaan,
pengorganisasian dan pengontrolan segala sumber daya yang berkaitan dengan
usaha di bidang pertambangan untuk mencapai sasaran secara efektif dan
efisien. Manajemen penambangan emas mencakup :
1. Perencanaan
a. Perencanaan strategis
Perencanaan strategis yang mengscu kepada sasaran secara menyeluruh,
strategi pencapaiannya serta penentuan cara, waktu, dan biaya.

14

b. Perencanaan operasional
Perencanaan operasional, menyangkut teknik pengerjaan dan penggunaan
sumber daya untuk mencapai sasaran. Dari dasar perencanaan tersebut
diatas, dapat disimpulkan bahwa suatu perencanaan akan berjalan dengan
menggunakan dua pertimbangan yaitu pertimbangan ekonomis dan
pertimbangan teknis.
2. Perhitungan cadangan bijih
Salah satu tahapan dalam melakukan perencanan tambang adalah
melakukan prhitungan cadangan. Untuk setiap blok atau lubang dalam bijih
harus dihitung kualitas dan kuantitasnya dengan baik. Dengan menggunakan
data hasil perhitungan cadangan maka rencana produksi dapat dibuat.
3. Pertimbangan
Dalam suatu perencanaan tambang, khususnya tambang bijih emas terdapat
dua pertimbangan dasar yang perlu diperhatikan, yaitu:
a. Pertimbangan ekonomis
Pertimbangan ekonomis

ini

menyangkut

anggaran. Data

untuk

pertimbangan ekonomis dalam melakukan perencanaan tambang


batubara, yaitu:
1) Nilai (value) dari endapan per ton batubara
2) Ongkos produksi, yaitu ongkos yang diperlukan sampai mendapatkan
produk berupa bijih nikel diluar ongkos stripping.
3) Ongkosstripping of overburdendengan terlebih dahulu mengetahui
stripping rationya.
4) Keuntungan yang diharapkan

dengan

mengetahui

Economic

Stripping Ratio.
5) Kondisi pasar
b. Pertimbangan teknis
Yang termasuk dalam data untuk pertimbangan teknis adalah
1) Menentukan Ultimate Pit Slope (UPS)
Ultimate pit slope adalah kemiringan umum pada akhir operasi
penambangan yang tidak menyebabkan kelongsoran atau jenjang
masih dalam keadaan stabil. Untuk menentukan UPS ada beberapa hal
yang harus diperhatikan yaitu:

15

a) Stripping ratio yang diperbolehkan.


b) Sifat fisik dan mekanik batuan
c) Struktur Geologi
d) Jumlah air dalam di dalam batuan
2) Ukuran dan batas maksimum dari kedalaman tambang pada akhir
operasi.
3) Dimensi jenjang/bench
Cara-cara pebongkaran atau penggalian mempengaruhi ukuran
jenjang. Dimensi jenjang juga sangat tergantung pada produksi yang
diinginkan dan alat-alat yang digunakan. Dimensi jenjang harus
mampu menjamin kelancaran aktivitas alat mekanis dan faktor
keamanan. Dimensi jenjang ini meliputi tinggi, lebar, dan panjang
jenjang.
4) Pemilihan sistem penirisan yang tergantung kondisi air tanah dan
curah hujan daerah penambangan.
5) Kondisi geometrik jalan
Kondisi geometrik jalan terdiri dari beberapa parameter antara
lain

lebar

jalan,

kemiringan

jalan,

jumlah

lajur,

jari-jari

belokan,superelevasi,cross slope, dan jarak terdekat yang dapat dilalui


oleh alat angkut.
6) Pemilihan peralatan mekanis yang meliputi Pemilihan alat dengan
jumlah dan type yang sesuai dan Koordinasi kerja alat-alat yang
digunakan.
7) Kondisi geografi dan geologi
a) Topografi
Topografi suatu daerah sangat berpengaruh terhadap sistem
penambanganyang digunakan. Dari faktor topografi ini,dapat
ditentukan cara penggalian, tempat penimbunan overburden,
penentuan jenis alat, jalur-jalur jalan yang dipergunakan,dan sistem
penirisan tambang.
b) Struktur geologi
Struktur geologi ini terdiri atas lipatan, patahan, rekahan,
perlapisan dan gerakan-gerakan tektonis.
c) Penyebaran batuan
d) Kondisi air tanah terutama bila disertai oleh stratifikasi dan
rekahan. Adanya air dalam massa ini akan menimbulkan tegangan
air pori

16

D. Sistem Pengolahan
Secara umum proses pengolahan emas dapat dilihat dari diagram alir
pada gambar di bawah ini :

17

Gambar 8. Diagram Alir Proses Pengolahan Bijih Emas


1. Kominusi
Kominusi adalah proses untuk mereduksi ukuran bijih dengan tujuan
untuk membebaskan logam berharga dari bijihnya dan atau memperluas
permukaan bijih agar dalam proses pelindian dapat berlangsung dengan
cepat. Faktor-faktor yang mengendalikan kominusi diantaranya sifat fisik
dari bijih, seperti tingkat homogenitas, kekerasan, kandungan air. Bijih yang
heterogen, porous, dan brittle mudah dikecilkan. Sedangkan bijih yang
homogen, kompak dan liat sulit untuk dikecilkan. Agar partikel bijih dapat
remuk harus ada tekanan yang cukup besar dan melebihi kuat remuk bijih.
Terdapat 3 (tiga) cara/mekanisme meremuk partikel, yaitu :

18

a. Compression (Tekanan).
b. Impact (Benturan).
c. Abrasion.
Kominusi terdiri dari dua tahap yaitu crushing (peremukan) dan grinding
(penggerusan).
a. Crushing.
Crushing merupakan suatu proses peremukan ore (bijih) dari hasil
penambangan melalui perlakuan mekanis.Ada 2 tahap dalam proses
peremukan yaitu primary crushing dan secondary crushing.Primary
crusher adalah peremuk yang digunakan untuk mengecilkan ukuran bijih
yang datang dari tambang pada tahap pertama dan dioperasikan secara
terbuka. SementaraSecondary Crusher merupakan alat untuk meremuk
material yang telah diremukan oleh primary crusher.
b. Grinding
Grinding atau penggerusan merupakan lanjutan dari crushing dan
merupakan tahapan akhir dari kominusi, yaitu untuk mendapatkan ukuran
butiran yang sesuai sehingga pada tahap selanjutnya bisa dilakukan
pelindian.
2. Pengayakan (Screening).
Pengayakan adalah pemisahan partikel-partikel secara mekanis
berdasarkan ukuran, dan hanya dapat dilakukan pada partikel yang relatif
berukuran kasar. Di dalam industri mineral, tujuan pengayakan ialah :
a. Mencegah

masuknya

undersize

ke

proses

komunusi

sehingga

meningkatkan kapasitas dan efisiensi alat peremuk atau penggerus.


b. Mencegah oversize masuk ke tahap berikutnya pada operasi sirkuit
tertutup pada peremukan dan penggerusan sehingga alat peremuk atau
penggerus lebih awet.
c. Mempersiapkan umpan yang berselang ukuran kecil pada operasi
konsentrasi
d. Menghasilkan produk dalam kelompok-kelompok ukuran tertentu,
misalnya pada industri pasir dan batu.
3. Klasifikasi

19

Klasifikasi adalah proses pemisahan antara ukuran partikel yang


diinginkan dan yang tidak diinginkan. Pemisahan ini biasanya dilakukan di
dalam fluida (gas dan air). Tapi di industri pengolahan bahan galian
biasanya digunakan air. Alat untuk melakukan klasifikasi disebut classifier.
Secara lebih khusus fungsi classifier yaitu :
a. Mengeluarkan material yang ukurannya sudah memenuhi syarat sebagai
overflow.
b. Mencegah terjadinya overgrinding (penggerusan yang berlebihan).
c. Mengembalikan material yang masih kasar untuk digerus kembali.
4. Leaching
Leaching adalah proses pelarutan selektif dimana hanya logam-logam
tertentu yang dapat larut. Secara hidrometalurgi terdapat beberapa jenis
leaching, yaitu :
a. Leaching in Place (In-situ Leaching)
Leaching yang dilakukan di tempat bijih ditemukan atau di tempat
penyimpamnan bijih. Pada metode ini tidak ada proses transportasi.
Metode ini digunakan untuk bijih kadar rendah atau bijih yang
sebelumnya tidak masuk kategori layak olah.
b. Heap Leaching
Dalam heap leaching terdapat proses preparasi dan pengangkutan ke
tempat penumpukan setelah diremuk, heap leaching cocok untuk bijih
kadar rendah.
c. Vat Leaching /Percolation Leaching
Penggunaan vat leaching terbatas pada leaching untuk material yang tidak
biasa yaitu material yang tidak bisa diproses dengan heap leching tetapi
tidak memerlukan grinding untuk pemisahan emasnya. Keuntungan dari
vat leaching ini adalah :
1)
2)
3)
d.

konsumsi bahan pelindi minimal.


dapat menghasilkan larutan kadar relatif tinggi.
mengurangi cost karena tidak perlu filter atau thickener.
Agitation Leaching
Cocok untuk bijih dengan kadar medium hingga tinggi.

e. Autoclaving.
1) pelindian pada temperatur dan tekanan tinggi

20

2) bijih kadar tinggi yang bersifat refraktori yaitu sulit dilarutkan pada
kondisi normal
5. Adsorpsi
Larutan emas hasil ekstraksi di serap oleh ekstraktan yang berupa
karbon aktif atau ion exchange resin sintetic. Ekstrakan yang memakai
karbon aktif, prosesnya disebut Carbon In Leach (CIL).
6. Elution
Elution adalah proses desorbsi, yaitu pelepasan kembali [Au(CN)2]dari karbon aktif dengan cara pemutusan ikatan antara keduanya. Faktorfaktor yang mempengaruhi desorbsi yaitu:
a. Temperatur dan Tekanan.
b. Konsentrasi Sianida
c. Kekuatan Ion
d. pH
e. Larutan Organik
f. Pembersihan Pengotor Inorganik
g. Pembersihan Pengotor Organik
7. Electrowining
Elektrowinning adalah proses penangkapan logam-logam yang ada
dalam air kaya dengan prinsip elektrolisa (reaksi reduksi-oksidasi). Faktorfaktor yang mempengaruhi proses elektrowining larutan yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Arus yang digunakan


Voltage yang digunakan
Konsentrasi Emas
Jumlah dan luas permukaan katoda
Konsentrasi sianida
Konduktivitas larutan
Hidrodinamika elektrolit
Temperatur
pH

8. Smelting
Peleburan bertujuan untuk mengambil logam Au-Ag dari cake dengan
cara memisahkan logam berharga dengan slagnya pada suhu tinggi (titik
leburnya) dengan bantuan penambahan flux. Fungsi flux adalah untuk

21

mengikat slag agar terpisah dengan baik dari logam berharganya, di


samping itu juga bisa menurunkan titik lebur.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian yang telah disampaikan di atas maka dapat disimpulkan :
1.
Emas merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa,
kekerasannya berkisar antara 2,53 (skala Mohs), serta berat jenisnya
2.

tergantung pada jenis dan kandungan logam lain yang berpadu dengannya.
Metode penambangan emas sangat dipengaruhi oleh karakteristik cebakan
emas primer atau sekunder, Cebakan emas primer dapat ditambang secara
tambang terbuka (open pit) maupun tambang bawah tanah (underground
mining). Sementara cebakan emas sekunder umumnya ditambang secara

3.

tambang terbuka.
Manajamen Penambangan

adalah

sebuah

proses

perencanaan,

pengorganisasian dan pengontrolan segala sumber daya yang berkaitan

22

dengan usaha di bidang pertambangan untuk mencapai sasaran secara


4.

efektif dan efisien.


Sistem pengolahan emas meiputi kominusi, klasifikasi, leaching, adsorbsi

elution, elactrowining, smelting, dure bulliaon


B. Saran
Penulis menyarankan agar pembaca menambah berbagai referensi tambahan
untuk lebih memahami dan mengerti tentang mineral emas. Karena kami
menyadari bahwa makalah ini masih terdapat beberapa kekurangan. Dengan
menambah referensi, diharapkan dapat melengkapi dan menambah hal-hal
yang masih belum lengkap dalam makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
Tanpa Nama. 2011. Proses Terbentuknya Emas. (http://dahabgroup.blogspot.com,
online, diakses pada 20 November 2014)
Tanpa Nama. 2014. Metode dan Proses Penambangan Batubara.
(http://www.blog.alatberat.com, online, diakses pada 20 November 2014)
Trianto, Wahyu. 2013. Ganesa dan Proses Terbentuknya emas.
(http://bacabukuselalu.blogspot.com, online, diakses pada 20 November
2014)
Tanpa Nama. 2013. Manajemen Tambang. (http://jhem90.blogspot.com, online,
diakses pada 20 November 2014)
Tanpa Nama. 2014. Pengolahan Emas. (http://pengolahan-emas.blogspot.com,
online, diakses pada 20 November 2014)