Anda di halaman 1dari 17

PROPOSAL PRAKTEK KERJA LAPANG

PROSES PENGALENGAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus)


DI PT. PAN PUTRA SAMUDERA - REMBANG

DISUSUN OLEH :

1. Cita Ka Widuri
125100101111047
2. Muthiah
125100101111065
3. Nur Khasanah Novitasari 125100107111054

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

LEMBAR PERSETUJUAN
i

Kami yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa mahasiswa yang
tersebut dibawah ini:
Nama

: Cita Ka Widuri

NIM

: 125100101111047

Semester

: 5 (lima)

Minat/Program Studi : Teknologi Pengolahan Pangan/Ilmu dan Teknologi Pangan


Jurusan/Fakultas

: Teknologi Hasil Pertanian/Teknologi Pertanian

Universitas

: Brawijaya

akan melaksanakan Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT. Pan Putra Samudera - Rembang
pada 19 Januari hingga 19 Februari 2015

Menyetujui,
Ketua Jurusan
Jurusan Teknologi Hasil Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Brawijaya

Dr. Agustin Krisna Wardani, STP, M.Si


NIP. 19690807 199702 2 001

Mengetahui,
Dosen Pembimbing PKL
Jurusan Teknologi Hasil Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Brawijaya

Dr. Erryana Martati STP,MP


NIP. 19691126 199903 2 003

ii

LEMBAR PERSETUJUAN
Kami yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa mahasiswa yang
tersebut dibawah ini:
Nama

: Muthiah

NIM

: 125100101111065

Semester

: 5 (lima)

Minat/Program Studi : Teknologi Pengolahan Pangan/Ilmu dan Teknologi Pangan


Jurusan/Fakultas

: Teknologi Hasil Pertanian/Teknologi Pertanian

Universitas

: Brawijaya

akan melaksanakan Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT. Pan Putra Samudera - Rembang
pada 19 Januari hingga 19 Februari 2015

Menyetujui,
Ketua Jurusan
Jurusan Teknologi Hasil Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Brawijaya

Mengetahui,
Dosen Pembimbing PKL
Jurusan Teknologi Hasil Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Brawijaya

Dr. Agustin Krisna Wardani, STP, M.Si


NIP. 19690807 199702 2 001

Kiki Fibrianto STP, M.Phil., Ph.D


NIP. 19820206 200501 1 001

iii

LEMBAR PERSETUJUAN
Kami yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa mahasiswa yang
tersebut dibawah ini:
Nama

: Nur Khasanah Novitasari

NIM

: 125100107111054

Semester

: 5 (lima)

Minat/Program Studi : Teknologi Pengolahan Pangan/Ilmu dan Teknologi Pangan


Jurusan / Fakultas

: Teknologi Hasil Pertanian/ Teknologi Pertanian

Universitas

: Brawijaya

akan melaksanakan Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT. Pan Putra Samudera - Rembang
pada 19 Januari hingga 19 Februari 2015

Menyetujui,
Ketua Jurusan
Jurusan Teknologi Hasil Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Brawijaya

Mengetahui,
Dosen Pembimbing PKL
Jurusan Teknologi Hasil Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Brawijaya

Dr. Agustin Krisna Wardani, STP, M.Si


NIP. 19690807 199702 2 001

Rosalina Ariesta Laeliocattleya, SSi, M.Si


NIP.

iv

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah yang Maha Esa karena atas limpahan
rahmat-Nya penyusun dapat menyelesaikan penyusunan Proposal Praktek Kerja Lapang
dengan judul Proses Pengalengan Rajungan (Portunus pelagicus) di PT. Pan Putra
Samudera-Rembang dengan baik. Adapun pembuatan proposal ini bertujuan untuk
memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan Strata 1 di Jurusan Teknologi Hasil
Pertanian Universitas Brawijaya, Malang.
Tidak lupa juga ucapan trimakasih penyusun sampaikan kepada pihak-pihak yang
telah membantu dan memberikan bimbingan dalam penyusunan proposal ini,terutama
kepada:

1. Seluruh dosen pembimbing kami yaitu ibu Dr. Erryana Martati STP.,MP, Bapak Kiki
Fibrianto, STP, M.Phil, Ph.D, dan ibu Rosalina Ariesta Laeliocattleya, SSi. M.Si yang
telah meluangkan waktunya untuk membimbing kami dalam menyelesaikan proposal
ini

2. PT. Pan Putra Samudera yang telah memberikan peluang kepada kami untuk
melakukan Praktek Kerja Lapang

3. Orang tua dan teman-teman yang telah memberikan dukungan kepada kami
sehingga proposal ini dapat terselesaikan dengan baik.
Kami menyadari proposal ini masih jauh dari sempurna sehingga kritik dan saran
yang membangun sangat kami harapkan. Demikianlah proposal ini kami buat. Semoga
proposal ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Malang, 13 Desember 2014

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................................ i
DAFTAR ISI.....................................................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR....................................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL........................................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang.................................................................................................................... 1
1.2. Tujuan................................................................................................................................. 1
1.2.1.

Tujuan Umum........................................................................................................... 1

1.2.2.

Tujuan Khusus......................................................................................................... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................................................ 2


2.1 Rajungan............................................................................................................................ 2
2.1.1

Deskripsi Rajungan (Portunus pelagicus).................................................................2

2.1.2

Pengelompokan Mutu Daging Rajungan..................................................................2

2.2 Proses Penanganan dan Pengalengan Rajungan..............................................................3


2.3 Bahan Baku Penunjang......................................................................................................5
2.4 Analisis Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis (Hazard Analysis and Critical Control Points,
HACCP).............................................................................................................................. 6
BAB III METODE PELAKSANAAN................................................................................................7
3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan........................................................................................7
3.2 Metode Pelaksanaan...........................................................................................................7
3.3 Jadwal Kegiatan..................................................................................................................8

vi

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Rajungan (Portunus pelagicus).............................................................................2

vii

DAFTAR TABEL
Tabel 1. ciri-ciri rajungan kondisi segar dan tidak segar.........................................................3

viii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan salah satu jenis organisme laut yang
banyak terdapat diperairan Indonesia, dan juga merupakan salah satu komoditas ekspor
sektor perikanan Indonesia dalam bentuk rajungan beku atau kaleng (Yanuar, 2013).
Negara tujuan ekspor diantaranya Amerika, Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan,
dan Cina, Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia, dan sejumlah negara di Eropa.
Ekspor rajungan dilakukan dalam bentuk beku atau dalam kaleng dikarenakan rajungan
bersifat perishable (mudah rusak/busuk). Hal ini disebabkan oleh kandungan air dan
proteinnya tinggi sehingga rajungan segar tidak dapat disimpan dalam waktu yang lama
dan cepat mengalami pembusukan. Oleh karena itu pengalengan atau pembekuan
dilakukan untuk memperpanjang umur simpannya. Namun perusahaan di Indonesia
kebanyakan melakukan ekspor rajungan dengan proses pengalengan yang disertai
pasteurisasi.
Menurut Ibrahim dkk (2007), salah satu persyaratan mutu yang menjadi
pertimbangan dan ikut menentukan suatu produk diterima atau di tolak konsumen
adalah keamanan pangan (food safety). Keamanan pangan yang hingga kini masih
menjadi pertimbangan paling besar yaitu keamanan mikrobiologis (ada tidaknya
cemaran mikroba tertentu) dan kimia (ada tidaknya zat tambahan makanan berbahaya).
Oleh karenanya dalam penanganan dan pengolahan rajungan kelang perlu pengawasan
dan pengendalian mutu yang tepat pada saat dilakukan proses pengalengan agar
didapatkan produk yang aman sesuai standar yang telah ditetapkan.
Hingga saat ini produk rajungan kaleng dari perusahaan yang ada di Indonesia
masih tetap bisa bersaing di pasar Internasional. Hal ini membuktikan bahwa sistem
pengendalian mutu industri pengalengan rajungan di Indonesia baik. Salah satu
perusahaan ekspor rajungan dalam kaleng yaitu PT. Pan Putra Samudera yang
beralamat di Jl. Raya Sumur Tawang No. 10 Kec. Kragan, Rembang-Jawa Tengah.
Rajungan juga merupakan salah satu obyek kajian yang dipelajari di jurusan Teknologi
Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Oleh karena
itu dengan melaksanakan Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT. Pan Putra Samudera,
diharapkan penulis dapat mengetahui dan menambah pengalaman serta pengetahuan
tentang proses penanganan rajungan kaleng yang baik sehingga dihasilkan produk
yang dapat diterima oleh konsumen dalam keadaan baik dan aman skala internasional.
1.2. Tujuan
1.2.1.Tujuan Umum
Tujuan Umum pelakasanaan PKL ini adalah untuk memenuhi salah satu persyaratan
dalam menyelesaikan jenjang program pendidikan tingkat strata satu (S-1) di Fakultas
Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya.
1.2.2.Tujuan Khusus
Tujuan khusus pelakasanaan PKL ini adalah untuk mengetahui kemungkinan
kerusakan fisik, kimia dan mikrobiologi yang dapat terjadi selama pengemasan dan
penyimpanan rajungan kaleng. Selain itu, tujuan yang hendak dicapai adalah untuk
mengetahui proses produksi dan manajemen mutu serta proses lainnya yang terjadi
pada pengalengan rajungan di PT. Pan Putra Samudera.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Rajungan
2.1.1 Deskripsi Rajungan (Portunus pelagicus)
Klasifikasi rajungan menurut Martin dan Davis (1978) dalam Yanuar (2013) termasuk
dalam kingdom Animalia, filum Arthropoda, kelas Crustacea, sub kelas Malacostraca, ordo
Eucaridae, sub ordo Decapoda, famili Portunidae, genus Portunus, spesies Portunus
pelagicus. Rajungan hanya bisa hidup di laut baik di perairan pantai dangkal maupun di
dasar perairan. Rajungan biasanya hidup membenamkan diri dalam pasir di daerah pantai
berlumpur, hutan bakau, batu karang, terkadang juga dijumpai berenang di permukaan laut.
Lebar Karapas/cangkang rajungan dewasa dapat mencapai 18,5 cm berbentuk bulat pipih
dan sangat menonjol dibandingkan abdomennya. Pada kedua sisi muka karapas terdapat 9
buah duri yang disebut sebagai duri marginal. Abdomennya berbentuk segitiga (meruncing
pada jantan dan melebar pada betina) tereduksi dan melipat ke sisi ventral karapas. Kaki
jalan berjumlah 5 pasang, pasangan kaki pertama berupa capit (cheliped) untuk memegang
dan memasukkan makanan ke mulutnya, sedangkan pasangan kaki lainnya berfungsi
sebagai pendayung atau alat renangnya yang tereduksi dan tersembunyi di balik abdomen.
Kaki renang pada betina juga berfungsi sebagai alat pemegang dan inkubasi telur. Rajungan
jantan berukuran lebih besar, berwarna biru, serta terdapat bercak-bercak putih terang,
sedangkan rajungan betina berwarna hijau kecoklatan dengan bercak-bercak putih agak
suram. Rajungan dewasa memakan mollusca, crustacean lain, ikan atau bangkai pada
malam hari. Larva rajungan bersifat planktonik, berkembang menjadi dewasa melalui stadia
zoea, megalopa dan rajungan dewasa (Oemarjati dan Wardhana, 1990).

Gambar 1. Rajungan (Portunus pelagicus)

2.1.2 Pengelompokan Mutu Daging Rajungan


Menurut Jupri (2005), daging rajungan dapat digolongkan menjadi 5 (lima) jenis
daging, yaitu:
a. Jumbo lump atau kolosal (daging putih) yang merupakan jaringan terbesar yang
berhubungan dengan kaki renang.
b. Backfin (daging putih) yang merupakan jumbo kecil dan pecahan dari daging jumbo.
c. Special (daging putih) yang merupakan daging yang berada di sekitar badan yang berupa
serpihan-serpihan.
d. Claw Meat (daging merah) yang merupakan daging dari bagian kaki sampai capit dari
rajungan.
e. Claw Finger (daging merah) yang merupakan bagian dari capit rajungan bersama dengan
bagian shell yang dapat digerakkan.
10

Berikut Tabel 1 yang menyajikan ciri-ciri rajungan kondisi segar dan tidak segar:
Keadaan
Penampakan
Mata

Kodisi Segar
Cerah
dan
cemerlang,
warnanya belum
berubah
menurut aslinya
Mengkilat, hitam dan bulat serta
tidak terlalu menonjol keluar

Kulit

Melekat kuat pada daging dan


tak berlendir.
Ruas tubuh
Terhubung kuat dan kompak
dan kaki
serta tidak mudah terlepas
Daging
Masih terasa padat dan lentur
serta melekat
kuat
pada
kulitnya
Aroma
Segar dan tidak berbau lainnya.
Sumber : Irawan 1995

Kondisi tidak segar


Ada banyak warna merah jambu terutama
disekitar kepala dan kaki serta bintik-bintik
hitam di kaki
Pudar dan kelabu gelap serta menonjol
keluar. Bola mata melekat pada tangkai
mata
Mudah terkelupas dan berlendir
Mudah dipisahkan
Kendor dan mudah dilepas dari kulitnya
dan terasa lengket bila ditekan
Menyengat dan busuk

Rendemen total daging rajungan yang diperoleh dari pengolahan umumnya sebesar
25-30 % dari berat utuh dan besarnya rendemen ini dipengaruhi juga oleh kesegaran daging
rajungan serta cara pengambilan dagingnya (picking). Rendemen daging antara kepiting
dan rajungan tidak berbeda, akan tetapi rendemen rajungan antara jantan dan betina
menunjukkan perbedaan, dimana rendemen daging rajungan jantan rata-rata lebih besar
bila dibandingkan dengan betinanya. Dari total berat daging rajungan, biasanya rendemen
dari daging rajungan terdiri dari: 10,1% (mutu 1); 8,6% (mutu 2); dan 10,5% (mutu 3).
Sedangkan untuk daging kepiting terdiri dari 5,3% (mutu 1); 10,5% (mutu 2) dan 12,7%
(mutu 3) (BBPMHP, 1995).
2.2 Proses Penanganan dan Pengalengan Rajungan
Rajungan seperti halnya produk perikanan lainnya merupakan bahan pangan yang
mudah rusak (perishable) hanya dalam beberapa jam saja setelah ditangkap. Penanganan
harus segera dilakukan sejak ditangkap dengan perlakuan suhu rendah dan memperhatikan
faktor kebersihan dan kesehatan agar mutunya tidak turun. Penanganan dan pengolahan
rajungan pasca tangkap oleh nelayan atau pengumpul meliputi pencucian, perebusan atau
pengukusan, pengambilan daging (picking) dan pengepakan. Selanjutnya daging rajungan
umumnya didistribusikan ke industri pengalengan untuk diproses menjadi rajungan
pasteurisasi dalam kaleng. Proses pengalengan rajungan pasteurisasi di industri umumnya
melalui tahaptahap sebagai berikut (Ibrahim dkk.,2007):
a. Penerimaan (Receiving)
Receiving merupakan proses penerimaan bahan baku rajungan berupa daging yang
telah dipisahkan dari cangkangnya dalam toples yang berasal dari pemasok (miniplant).
Toples dimasukan dalam blong plastik yang diselimuti es dan diangkut menggunakan
truk atau pick up. Kemudian dilakukan pembongkaran dan pemisahan daging rajungan
sesuai jenis yang sama dari miniplant yang berbeda, pembongkaran dilakukan dengan
11

cepat dan hatihati untuk menghindari terbukanya toples yang dapat menyebabkan
kontaminasi.
b. Penyimpanan sementara (Temporary chill storage)
Hal ini dilakukan apabila bahan baku melimpah atau terjadi penundaan proses.
c. Pengecekan mutu (Quality checking)
Dilakukan uji organoleptik oleh Quality checker pada produk setelah keluar dari chill
storage untuk diproses. Bahan baku yang tidak sesuai standar yaitu: daging basi, bau
amoniak, minyak tanah/solar, dan lain-lain.
d. Sortasi
Sortasi adalah kegiatan pemisahan daging rajungan dari cangkang (shell) dan benda
asing (foreign material) yang dilakukan secara manual.
e. Pengecekan akhir (Final checking)
Final checking adalah tahap akhir sortasi untuk memastikan daging sudah bersih
dari sisa cangkang dan benda asing, serta daging lunak, basi dan bau amoniak. Final
checking dilakukan oleh QC organoleptik untuk memastikan lolos atau tidaknya daging
f.

rajungan.
Pencampuran (mixing)
Mixing adalah proses pencampuran daging rajungan dari beberapa mini plant.
Pencampuran dilakukan pada semua jenis daging untuk mendapatkan kualitas daging
yang seragam baik warna, penampakan atau tekstur.

g. Pengisian daging (filling)


Setelah proses pencampuran, kemudian daging rajungan dimasukan ke dalam
wadah kaleng tin plate berukuran 401 x 301 inch. Pada filling dilakukan penataan bentuk
daging di dalam kaleng supaya terlihat rapi dan menarik. Selain itu juga dilakukan
penambahan bahan tambahan pangan yaitu SAPP agar tidak terjadi proses blueing dan
struvites pada daging rajungan.
h. Penimbangan (weighing)
Penimbangan biasanya dilakukan untuk mencapai berat 454 g atau 16 oz.
i.

Penutupan kaleng (seaming)


Seaming adalah proses penutupan kaleng secara hermetic, dilakukan oleh operator
seaming setelah kaleng diberi tutup sesuai jenis dagingnya. Penutupan dilakukan
dengan double seamer machine.

j.

Pengkodean (coding)

12

Pengkodean dilakukan setelah kaleng ditutup. Pemberian kode dilakukan dengan


mesin coding jet print. Pemberian kode dilakukan untuk menunjukkan tanggal produksi,
nomor basket, kode suplier, nama/kode perusahaan dan jenis daging.
k. Pasteurisasi
Pasteurisasi adalah perlakuan panas yang cukup untuk membuat berbagai mikroba
patogen menjadi tidak aktif pada bahan pangan. Metode pasteurisasi rajungan kaleng
dilakukan pada suhu 86,187,6oC (183186oF) selama 2 jam (Ibrahim dkk.,2007).
l.

Pendinginan (chilling)
Chiling merupakan perlakuan kejut yang segera dilakukan setelah basket diangkat
dari bak pasteurisasi, bertujuan untuk menginaktifkan bakteri yang tahan panas dan
supaya tidak terjadi overcooking. Selama proses chilling suhu dipertahankan pada 0oC
(32oF) selama 2 jam.

m. Pengemasan (Packing)
Setelah produk diangkat dari chilling tank, dilakukan pengemasan atau pengepakan
menggunakan master carton yang dilapisi lilin. Setiap master carton memuat 12 kaleng
untuk ukuran 16 oz atau 454 gram.
n. Penyimpanan dingin (chill storage)
Setelah pengepakan, produk disimpan dalam chill storage pada suhu 04oC.
o. Stuffing
Stuffing adalah proses pengangkutan produk akhir dari chill storage ke container
untuk ekspor. Stuffing dilakukan bila produk akhir di dalam chill storage mencapai
jumlah pesanan. Suhu container untuk ekspor diatur pada 0-6oC (3238oF).
2.3 Bahan Baku Penunjang
Bahan baku penunjang yang digunakan dalam proses pengalengan rajungan
umumnya adalah Sodium Acid Phyrophosphate (SAPP) atau disodium phyrophosphate
(Na2H2P2O7). SAPP berupa serbuk putih, licin dan larut dalam air. Fungsi SAPP yang
pertama yaitu sebagai pencegah terbentuknya warna biru (blueing) akibat reaksi Cu dan Fe.
SAPP merupakan bahan yang diijinkan pemakaiannya berdasarkan peraturan Menteri
Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/1988 tentang Bahan Tambahan Pangan. SAPP
merupakan bahan tambahan pangan yang mudah menggumpal sehingga harus disimpan
dalam tempat tertutup (Muchtadi dan Sugiyono, 1992).
Fungsi SAPP yang lain yaitu mencegah pembentukan struvites. Struvites adalah
rasa seperti berpasir pada daging rajungan. Hal ini disebabkan oleh komponen magnesium
pada daging rajungan yang dapat mengkristal. Kristal yang terbentuk disebabkan oleh
panas tinggi saat proses pasteurisasi. SAPP dapat mengkompleks magnesium dan

13

mencegah terjadinya pembentukan kristalkristal yang menyebabkan struvites (Muchtadi


dan Sugiyono, 1992).
2.4 Analisis Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis (Hazard Analysis and Critical
Control Points, HACCP)
HACCP adalah suatu sistem kontrol dan pencegahan masalah yang diidasarkan atas
identifikasi titik-titik kritis (critical point) di dalam tahapan pengolahan di mana kegagalan
menyebabkan kerugian/bahaya/hazard (Direktorat Bina Usaha Tani dan Pengolahan Hasil
Perikanan, 1995). Pada awalnya, prinsip HACCP dibuat untuk keamanan bahaya pangan,
namun sistem ini akhirnya dapat diaplikasikan lebih luas dan mencakup industri lainnya.
Aplikasi HACCP, terutama yang diperuntukkan bagi pangan, dilaksanakan berdasarkan
beberapa pedoman, yaitu prinsip umum kebersihan pangan Codex, Codex yang sesuai
dengan kode praktik, dan undang-undang keamanan pangan yang sesuai. Sistem HACCP
terdiri dari tujuh prinsip, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Melakukan analisis bahaya.


Menentukan Titik Pengendalian Kritis (Critical Control Point, CCP).
Menentukan batas kritis.
Membuat suatu sistem pemantauan (monitoring) CCP.
Melakukan tindakan korektif apabila pemantauan mengindikasikan adanya CCP yang

tidak berada di bawah control.


6. Menetapkan prosedur verifikasi untuk mengkonfirmasi bahwa sistem HACCP bekerja
secara efektif.
7. Melakukan dokumentasi terhadap seluruh prosedur dan catatan yang berhubungan
dengan prinsip dan aplikasinya.

BAB III
METODE PELAKSANAAN
3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Praktek kerja lapang ini dilaksanakan di PT. Pan Putra Samudera yang beralamat di
Jl. Raya Sumur Tawang No. 10 Kec. Kragan, Rembang-Jawa Tengah. Waktu pelaksanaan
Praktek Kerja Lapang ini yaitu mulai tanggal 19 Januari 2015 sampai 19 Februari 2015.
14

3.2 Metode Pelaksanaan


Metode pelaksanaan Praktek Kerja Lapang yang dilaksanakan di PT. Pan Putra
Samudera dilakukan dengan mengikuti aktivitas sesuai dengan kondisi lapang. Tahapan
kegiatan Praktek Kerja Lapang, antara lain:
1. Observasi
Tahapan ini dilakukan dengan cara pengamatan, peninjauan serta mengikuti aktifitas
secara langsung terhadap obyek kegiatan dalam manajemen produksi di lapangan,
serta survey ke lokasi fasilitas produksi.
2. Wawancara
Teknik ini dilakukan dengan melakukan tanya jawab secara langsung dengan
pembimbing lapang dan para pekerja yang ada di lokasi baik di fasilitas produksi
maupun manajemen. Teknik ini dilakukan untuk memperoleh keterang-keterangan yang
dibutuhkan untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas praktek kerja lapang
3. Dokumentasi
Teknik ini dilakukan dengan cara mencari dan mengumpulkan dokumen-dokumen,
laporan-laporan, buku-buku yang berhubungan dengan obyek pembahasan. Data yang
dikumpulkan antara lain :
-

Data Primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sumber penelitian

Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumber
penelitian atau sudah dalam bentuk olahhan data.

4. Studi kepustakaan
Teknik ini dilakukan dengan bantuan dari bermacam-macam sumber pustaka yang
bertujuan untuk membandingkan hasil yang diperoleh selama pelaksanaan Praktek
Kerja Lapang dengan literatur yang berhubungan dengan obyek pembahasan.

3.3 Jadwal Kegiatan


Jadwal kegiatan yang kami ajukan adalah sebagai berikut:
Pelaksanaan minggu keNo

Januari

Nama Kegiatan
1

Februari
4

Pengenalan Lingkungan
Perusahaan
a. Sejarah Perusahaan
b. Perkembangan Perusahaan
15

c. Struktur Organisasi
d. Ketenagakerjaan
e. Dll.
Pemahaman Proses
a. Penanganan Bahan Baku
b. Proses Produksi
c. Proses Pengalengan
d. Proses Sterilisasi
e. Proses Cooling
f. Proses Pengendalian Mutu
g. Dll.
Pengumpulan Data/Observasi

Pelaksanaan Tugas Khusus

Studi literature dan penyusunan


laporan

Keterangan :
1) Tanggal 19 Januari 2015
Mendapatkan informasi mengenai Pengenalan Lingkungan Perusahaan
2) Tanggal 20-29 Januari 2015
Mendapatkan informasi mengenai pemahaman proses pengalengan rajungan
3) Tanggal 30 Januari -13 Februari 2015
Mendapatkan informasi mengenai pemahaman proses pengalengan rajungan dan
mengumpulkan data serta observasi
4) Tanggal 13-19 Februari 2015
Pelaksanaan tugas khusus, studi literatur, dan penyusunan laporan
*Jadwal dan waktu pelaksanaan dapat berubah mengikuti keputusan perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA
Afrianto dan Liviawaty, Evi. 1992. Pengawetan dan Pengolahan Ikan. Yogyakarta: Kanisius.
BBPMHP. 1995. Petunjuk Teknis Pengolahan Kepiting dan Rajungan. Jakarta: Balai
Bimbingan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan.
Direktorat Bina Usaha Tani dan Pengolahan Hasil Perikanan. 1995. HACCP Hand Book.
Jakarta: Direktorat Jenderal Perikanan.
Ibrahim, B. Erungan, A.C, Sadi, U. 2007. Teknologi Proses Thermal Hasil Perairan.
Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor.
16

Irawan, H.S.L. 1995. Pengawetan Ikan dan Hasil Perikanan. Solo: CV Aneka.
Jupri, A. 1997. Pedoman Pemeriksaan Rajungan Kaleng Pasteurisasi. PT Phillips Seafood
Indonesia. Pemalang, Jawa Tengah.
Juwana, S dan R, Kasijan. 2000. Rajungan Perikanan, Cara Budidaya dan Menu Masakan.
Jakarta: Djambatan.
Muchtadi, T.R dan Sugiyono. 1992. Petunjuk Laboratorium Ilmu Bahan Pangan. Bogor:
Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor.
Oemarjati B.S dan Wardhana W. 1990. Taksonomi Avertebrata. Di dalam Pengantar
Praktikum Laboratorium. Universitas Indonesia. Jakarta: UI Press.

17