Anda di halaman 1dari 23

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Appendiks
Appendiks vermiformis adalah organ seperti tabung dengan lumen sempit, vermian
(berbentuk seperti cacing) yang timbul dari dinding caecum bagian posteromedial, 2 cm dibawah
ileum bagian akhir. Bisa menempati salah satu dari berbagai posisi berikut :8
1. Retrocaecal
2. Retrocolic (dibelakang caecum atau bagian bawah ascending colon),
3. Pelvic atau descending (jika tergantung pada tepi pelvis, dekat dengan tuba
uterina dan ovarium kanan pada wanita). Itu merupakan posisi paling umum yang
sering terdapat pada praktek kilinik. Posisi lainnya jarang ditemukan terutama jika
ada appendiks mesenter panjang yang dapat meyebabkan mobilitas appendiks
4.
5.
6.
7.

yang lebih tinggi.


Subcaecal (dibawah caecum),
Promontorik
Preilial (anterior terhadap ileum terminal)
Postileal (dibelakang ileum terminal).

Gambar 2.1 Berbagai Posisi Appendiks 8


Tiga taenia coli pada colon ascendens dan caecum bersatu pada basis appendiks, dan
bergabung menuju otot longitudinalnya. Taenia caecal anterior biasanya terpisah dan bisa
ditelusuri munuju appendiks, yang dapat dipakai sebagai panduan untuk mencari lokasi
appendiks pada praktek kilinis. Ukuran appendiks bervariasi panjangnya, dari 2 cm sampai
20cm; sering ditemukan relatif lebih panjang pada anak-anak dan mungkin mengalami atrofi dan
memendek seiring bertambahnya usia.8
Lumen appendiks sempit dan membuka ke caecum melalui orifisium yang terletak
dibawah dan sedikit posterior terhadap orifisium ileocaecal. Orifisium tersebut kadang dijaga
oleh lipatan mukosa semilunaris yang membentuk katup. Lumen mungkin akan paten pada awal
kehidupan anak-anak dan sering hilang pada dekade akhir kehidupan.8
Vaskularisasi appendiks.

Arteri utama appendiks, cabang dari divisi bawah arteri ileocolic, berjalan dibelakang
ileum terminal dan memasuki mesoappendiks dengan jarak yang dekat dari basis appendiks dan
beranastomosis dengan cabang dari arteri caecal posterior.8

G
ambar 2.2 Vaskularisasi appendiks.7
Vena Appendiks
Darah dari arteri Appendiks dialirkan melewati satu atau lebih vena-vena appendikular
menuju ke vena ileokolik atau saekum posterior. Kemudian dari vena-vena ini menuju ke vena
mesenterika superior.8
Limfatik.

Pembuluh limfe appendiks sangat banyak: terdapat banyak jaringan limfoid di dinding
nya. Dari keseluruhan bagian appendiks terdapat 8-15 pembuluh limfe yang melewati
mesoappendiks dan biasanya disertai beberapa nodus limfatik. Mereka bersatu membentuk
kurang lebih 3-4 pembuluh limfe yang lebih besar yang juga akan menuju ke pembuluh limfe di
kolon asendens. Semuanya akan berakhir di nodus inferior dan superior dari rangkaian pembuluh
limfe ileokolik.8
Persarafan Appendiks
Persarafan parasimpatis appendiks berasal dari cabang n.vagus yang mengikuti
a.mesenterikasuperior dan a.apendikularis. Persarafan simpatis nya berasal dari n.torakalis X.6
B. Fisiologi Appendiks
Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml/hari. Lendir ini secara normal dicurahkan kedalam
lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran lendir di muara tampaknya berperan
dalam patogenesis appendisitis.6
Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Limphoid Tissue) yang
terdapat di sepanjang saluran cerna, termasuk appendiks, ialah IgA. Imunoglobulin itu sangat
efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan appendiks tiadk
mempengaruhi sistem imun tubuh, karena jumlah jaringan limfe disini kecil sekali, jika
dibandingkan dengan jumlah nya di saluran cerna dan di seluruh tubuh.6
C. Appendisitis akut
Definisi
Appendisitis adalah peradangan bakterial appendiks vermiformis. Appendisitis akut
adalah appendisitis dengan onset akut yang memerlukan intervensi bedah dan biasanya ditandai
dengan nyeri di abdomen kuadaran kanan bawah dengan nyeri tekan lokal dan nyeri alih, spasme
otot yang ada diatasnya, dan hiperestesia kulit.3
Epidemiologi

Insidens appendisitis akut di negara maju lebih tinggi daripada di Negara berkembang.
Namun, dalam tiga-empat dasawarsa terakhir kejadiannya menurun secara bermakna. Hal ini
diduga disebabkan oleh meningkatnya penggunaan makanan berserat dalam menu sehari-hari.6
Appendisitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak kurang dari satu tahun
jarang dilaporkan. Insidens tertinggi pada kelompok umur 20-30 tahun, setelah itu menurun.
Insidens pada lelaki dan perempuan umumnya sebanding, kecuali pada umur 20-30 tahun, ketika
insidens pada lelaki lebih tinggi.6
Etiologi dan Patofisiologi
Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan
pengaruh konstipasi terhadap timbulnya appendisitis. Konstipasi akan menaikkan tekanan
intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional appendiks dan meningkatnya
pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semuanya ini akan mempermudah timbulnya appendisitis
akut.6
Obstruksi lumen appendiks merupakan faktor etiologis utama dalam appendisitis akut,
berikut merupakan berbagai penyebab dari obsruksi :1,4
1. Fecaliths atau Appendicolith, merupakan penyebab utama obstruksi, ditemukan pada
40% kasus appendisitis akut sederhana, 65% kasus appendisitis ganggrenosa tanpa
2.
3.
4.
5.
6.

ruptur, dan mendekati 90% kasus appendisitis ganggrenosa dengan ruptur.


Hipertrofi Jaringan Limfoid
Barium tersisa dari pemeriksaan x-ray terdahulu (pemeriksaan Colon in loop)
Tumor
Biji buah-buahan
Parasit intestinal

Obstruksi lumen appendiks disertai dengan sekresi yang terus-menerus dari mukosa
appendiks menyebabkan distensi. Distensi dari appendiks menstimulasi nerve endings karena
peregangan serat saraf aferen visceral, menyebabkan nyeri tumpul yang diffus pada midabdomen atau epigastrium bawah. Peristaltik juga distimulasi oleh distensi yang timbul
mendadak, sehingga kram dapat menyertai nyeri visceral awal pada appendisitis.1

Distensi yang terus berlanjut karena sekresi dari mukosa yang terus-menerus dan dari
multiplikasi bakteri di appendiks. Distensi ini menyebabkan refleks mual dan muntah, dan nyeri
visceral akan semakin parah. Seiring dengan penekanan pada organ yang meningkat, tekanan
pada vena juga meningkat. Kapiler dan vena menjadi tertutup, tetapi aliran arteriol akan terus
berlanjut, menyebabkan pelebaran dan kongestif vascular. Proses inflamasi segera melibatkan
serosa pada appendiks dan peritoneum parietal regional, memproduksi perpindahan nyeri yang
khas menuju kuadran kanan bawah.1, 2
Gangguan terhadap aliran limfatik dan vena akan menyebabkan iskemia pada mukosa.
Mukosa appendiks rawan dengan gangguan suplai darah, dan bila integritasnya terganggu, akan
memudahkan terjadinya invasi bakteri. Selama distensi semakin progresif maka akan semakin
menekan aliran balik vena dan kemudian aliran arteriol sehingga menyebabkan infark pada area
dengan suplai darah yang buruk. Seiring peningkatan distensi, invasi bakterial, terganggunya
aliran darah, dan progresi infark, kombinasi ini akan menyebabkan proses inflamasi yang lebih
terlokalisir dan menyebabkan gangren serta perforasi, biasanya pada salah satu area infark pada
batas antimesenterik. Perforasi biasanya terjadi setelah setidaknya 48 jam sejak onset timbulnya
gejala.1,4
Appendisitis akut merupakan infeksi bakteri seperti Escherecia coli, Streptoccocus viridans,
dan Bacteroides.6 Diduga, lumen yang intergritasnya terganggu karena peningkatan tekanan
lumen atau iskemia intramural dapat menjadi sumber lokasi invasi organisme.5 Penyebab lain
yang diduga dapat menimbulkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena parasit
E.histolytica.6
Bakteriologi
Flora normal di appendiks mirip dengan yang ada di kolon, dengan terdapat berbagai
macam bakteri aerob dan anaerob fakultatif. Beberapa macam mikroba dari appendiks yang
mengalami perforasi sudah diketahui. Escherichia coli., Streptococcus viridans, Bacteriodes spp.,
dan Pesudomonas spp., merupakan mikroba yang paling sering terisolasi (tabel 2.1)4

Tabel 2.1 Bakteri yang sering ditemukan pada apendisitis perforata4


Pada pasien yang mengalami appendisitis akut non perforasi, kultur daripada cairan
peritoneal biasanya negatif dan tidak memberikan peran klinis yang nyata. Akan tetapi pada
pasien appendisitis perforasi, kultur cairan peritoneal biasanya akan positif, dan menunjukkan
bakteri-bakteri pada kolon dengan sensitifitas terhadap antibiotik yang dapat di prediksi. Karena
pemilihan pemberian antibiotik sangat jarang dipegaruhi oleh hasil kultur ini, maka kultur ini
jarang dilakukan.4
Patologi
Patologi appendisitis dapat dimulai di mukosa dan kemudian melibatkan seluruh lapisan
dinding appendiks dalam waktu 24-48 jam pertama. Upaya pertahanan tubuh berusaha
membatasi proses radang ini dengan menutup appendiks dengan omentum, usus halus, atau
adneksa sehingga terbentuk massa periapendikuler yang secara salah dikenal dengan istilah
infiltrat appendiks atau periapendikular infiltrat. Di dalamnya, dapat terjadi nekrosis jaringan
berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Jika tidak terbentuk abses, appendisitis akan
sembuh dan massa periapendikuler akan menjadi tenang dan selanjutnya akan mengurai diri
secara lambat.6
Appendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna tetapi membentuk
jaringan parut yang melengket dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan ini dapat menimbulkan
keluhan berulang di perut kanan bawah. Suatu saat, organ ini dapat meradang akut lagi dan

dinyatakan sebagai mengalami eksaserbasi akut atau disebut sebagai acute in chronic
appendicitis.6
Gambaran Klinis
Appendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh terjadinya
peradangan mendadak pada umbai cacing yang memberikan tanda setempat, baik disertai
maupun tidak disertai dengan rangsang peritoneum lokal. Gejala klasik appendisitis ialah nyeri
samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium di sekitar
umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang ada muntah. Umumnya, nafsu makan
menurun. Dalam beberapa jam, nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke titik McBurney. Di sini,
nyeri dirasa lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga rnerupakan nyeri somatik setempat.
Kadang tidak ada nyeri epigastrium, tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa
memerlukan obat pencahar. Tindakan itu dianggap berbahaya karena bisa mempermudah
terjadinya perforasi. Bila terdapat perangsangan peritoneum, biasanya pasien mengeluh sakit
perut bila berjalan atau batuk (Dunphy sign).6,4
Bila appendiks terletak retrosekal retroperitoneal, tanda nyeri perut kanan bawah tidak
begitu jelas dan tidak ada tanda rangsangan peritoneal karena appendiks terlindung oleh sekum.
Rasa nyeri lebih ke arah perut sisi kanan atau nyeri timbul pada saat berjalan karena kontraksi
otot psoas mayor yang menegang dari dorsal.6
Radang pada appendiks yang terletak di rongga pelvis dapat menimbulkan gejala dan
tanda rangsangan sigmoid atau rektum sehingga peristaltik meningkat dan pengosongan rektum
menjadi lebih cepat serta berulang sehingga dapat memberikan keluahan diare atau tenesmus.
Jika appendiks tadi menempel ke kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kencing
ataupun disuria akibat rangsangan appendiks terhadap dinding kandung kemih.6,9
Gejala appendisitis akut pada anak tidak spesifik. Pada awalnya, anak sering hanya
menunjukkan gejala rewel dan tidak mau makan. Anak sering tidak bisa melukiskan rasa
nyerinya. Beberapa jam kemudian, anak akan muntah sehingga menjadi lemah dan letargik.
Karena gejala yang tidak khas tadi, appendisitis sering baru diketahui setelah terjadi perforasi.
Pada bayi, 80-90% appendisitis baru diketahui setelah terjadi perforasi.6 Pada anak yang lebih

besar bisa terdapat riwayat baru saja terserang penyakit bakterial maupun viral, yang dapat
meyebabkan pembesaran folikel appendiks dan obstruksi.9
Pada beberapa keadaan, appendisitis agak sulit didiagnosis sehingga tidak ditangani pada
waktunya dan terjadi komplikasi. Misalnya, pada orang berusia lanjut, gejalanya sering samarsamar saja sehingga lebih dari separuh penderita baru dapat didiagnosis setelah perforasi.6
Gejala pada orang tua biasanya berupa malaise, nyeri yang tidak khas, konstipasi, atau bahkan
perubahan status mental.9
Pada kehamilan, keluhan utama appendisitis adalah nyeri perut, mual, dan muntah. Hal
ini perlu dicermati karena pada kehamilan trimester pertama sering juga terjadi mual dan
muntah. Pada kehamilan lanjut, sekum dan appendiks terdorong ke kraniolateral sehingga
keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih di regio lumbal kanan.6
Pada penelitian nya Treaves menganggap saekum adalah pusat dari jam dan appendiks
merupakan jarum dari jam. Oleh karena itu, posisi appendiks dapat dideskripsi kan sebagai:2
Posisi jam 11 atau para colic/ para caecal. Appendiks mengarah ke atas dan terletak
menempel di sebelah kanan sekum. Pada posisi ini, appendiks juga terletak di depan
daripada ginjal kanan. Pada appendiks yang panjang, dapat mengiritasi ureter,
mengakibatkan leukosit terdeteksi pada urinalisis/ menyerupai gejala daripada
pielonefritis.
Jam 12 atau retrocaecal. Appendiks berada di belakang sekum atau kolon asendens dan
bisa intra peritoneal atau retro peritoneal.
Jam 2 atau posisi splenik. Appendiks mengarah ke limpa atau ke kuadran kiri atas, dan
dapat terletak di depan ileum terminal (preileal) atau di belaknag ileum terminal (post
ileal).
Jam 3 atau posisi promonterik. Appendiks mengarah secara transversal menuju ke
promontorium sakrum.
Jam 4 atau pelvik. Appendiks mengarah ke arah kavum pelvis.
Jam 6 atau mid inguinal. Appendiks mengarah ke titik tengah dari ligamen inguinal.
Nama lain dari posisi ini adalah posisi sub sekum.

Pemeriksaan Fisik
Demam biasanya ringan dengan suhu sekitar 37,5 - 38,5C. Bila suhu lebih tinggi,
mungkin sudah terjadi perforasi. Bisa terdapat perbedaan suhu aksilar dan rektal sampai 1C.
Pada inspeksi perut, tidak ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat pada penderita
dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada massa atau abses
periapendikuler.6
Pada palpasi, didapatkan nyeri tekan yang terbatas pada regio iliaka kanan, bisa disertai
nyeri lepas (Rebound Phenomena). Defans muskuler menunjukkan adanya rangsangan
peritoneum parietale. Nyeri tekan perut kanan bawah yang terutama terletak pada titik McBurney
merupakan kunci diagnosis. Appendiks normal sifatnya mobile, sehingga lokasi inflamasi bisa
saja terdapat di berbagai tempat pada area lingkaran 360 dari sekitar basis dari sekum. Pada
penekanan perut kiri bawah, akan dirasakan nyeri di perut kanan bawah yang disebut tanda
Rovsing. Pada appendisitis retrosekal atau retroileal, diperlukan palpasi dalam untuk menentukan
adanya rasa nyeri.6,4
Peristalsis usus sering normal tetapi juga dapat menghilang akibat adanya ileus paralitik
pada peritonitis generalisata yang disebabkan oleh appendisitis perforata.6
Pemeriksaan colok dubur menyebabkan nyeri bila daerah infeksi dapat dicapai dengan
jari telunjuk, misalnya pada appendisitis pelvika.6
Pada appendisitis pelvika, tanda perut sering meragukan, maka kunci diagnosis adalah
nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator
merupakan pemeriksaan yang lebih ditujukan untuk mengetahui letak appendiks. Uji psoas
dilakukan dengan rangsangan peritoneum lewat hiperekstensi sendi panggul kanan atau fleksi
aktif sendi panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila appendiks yang meradang
menempel di otot psoas mayor, tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. Uji obturator
digunakan untuk melihat bilamana appendiks yang meradang bersentuhan dengan otot obturator
internus yang merupakan dinding panggul kecil. Gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul
pada posisi terlentang akan menimbulkan nyeri pada appendisitis pelvika.6

Jika appendiks perforasi, nyeri perut akan sangat terasa intens dan menyeluruh,
peningkatan spasme daripada otot-otot abdomen (defans muskuler), detak jantung akan
meningkat dengan elevasi dari temperatur lebih dari 39C. Pasien tampak sangat sakit dan
membutuhkan resusitasi cairan dan antibiotik sebelum dilakukan operasi.4
Laboratorium
Pemeriksaan jumlah leukosit membantu menegakkan diagnosis appendisitis akut. Pada
kebanyakan kasus terdapat leukositosis, terlebih pada kasus dengan komplikasi.3 Leukosit yang
tinggi (>20.000/mL) dapat menandakan terdapatnya komplikasi appendisitis, bisa berupa
ganggren ataupun perforasi. Urinalisis dapat berguna untuk menyingkirkan pyelonefritis atau
nefrolitiasis. Pada penderita wanita sebaiknya juga diperiksa Beta-HCG untuk menyingkirkan
kemungkinan kehamilan.9
Dari penelitian yang dilakukan oleh Memisoglu et al. 2010 pada pasien post
appendectomy yang dilakukan studi retrospektif, didapatkan bahwa jumlah appendisitis akut
dengan leukosit tinggi ditemukan sebanyak 83%, dan pada pasien dengan leukosit tinggi yang
appendiks nya ternyata normal, sebanyak 61%. Memisoglu et. al berkesimpulan bahwa untuk
mendiagnosa appendisitis tidak cukup dari hasil laboratorium dan radiologi.5
Radiologi
Foto polos abdomen jarang berguna untuk mendiagnosa appendisitis akut. Foto polos
abdomen berperan penting dalam menyingkirkan keadaan patologi lainnya.1 Kegagalan dari
barium enema untuk memenuhi lumen appendiks berhubungan dengan appendisitis, tetapi
temuan ini kurang sensitif dan spesifik karena 20% appendiks normal tidak terisi dengan barium
enema.4
Pada pasien dengan nyeri abdomen, ultrasonography memiliki sensitifitas sekitar 85%
dan spesifitas lebih dari 90% dalam mendiagnosa appendisitis akut.4 Hal ini dipertegas oleh
penelitian yang dilakukan Memisoglu et al yang menyatakan bahwa hanya 34% pasien dengan
appendisitis akut yang memiliki hasil USG yang negatif.5 Temuan sonografi yang konsisten
dengan appendicitis akut antara lain ukuran appendiks 7 mm atau lebih pada diameter

anteroposterior, dinding yang tebal, struktur lumen yang tidak tertekan dapat dilihat pada cross
section yang dikenal sebagai target lesion, atau tampaknya appendicolith.4
CT scan sering dipakai untuk mengevaluasi pasien dewasa dengan dugaan appendisitis
akut. CT scan memiliki sensitivitas sekitar 90% dan spesifitas 80%-90% dalam mendiagnosa
appendisitis akut pada pasien dengan nyeri abdomen akut.4 Dari penelitian yang Willms dkk
tahun 2011 disimpulkan bahwa selain anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan lab,
pemeriksaan radiologi (terutama CT Scan) dibutuhkan untuk pasien dengan suspected
appendicitis.

Tabel 2.4 Modalitas pencitraan dalam diagnosis appendicitis akut. 2

Gambar 2.4 4

A. CT Scan abdomen/pelvis pada pasien dengan appendisitis akut menunjukkan adanya


appendikolit (garis panah putih)
B. CT Scan menunjukkan adanya appendiks yang terdistensi (panah putih) dengan
penebalan daripada dinding serta cairan periapendikular. (segitiga putih) gambaran ini
disebut sebagai target sign.
C. C= saekum

Gambar 2.5 Hasil USG menunjukkan:4


-

Normal Appendiks: potongan coronal (kiri atas), potongan longitudinal (kanan atas)
Appendisitis: terdapat distensi dan penebalan dinding (kanan bawah): Target Sign
Pada appendisitis juga terjadi peningkatan aliran darah (kiri bawah), sehingga disebut
juga Ring of Fire appearance

Diagnosis
Meskipun pemeriksaan dilakukan dengan cermat dan teliti, diagnosis klinis appendisitis
akut masih mungkin salah pada sekitar 15-20% kasus. Kesalahan diagnosis lebih sering terjadi
pada perempuan dibandingkan dengan lelaki. Hal ini dapat disadari mengingat pada perempuan,
terutama yang masih muda, sering timbul gangguan yang menyerupai appendisitis akut. Keluhan
itu berasal dari genitalia interna karena ovulasi, menstruasi, radang di pelvis, atau penyakit
ginekologik lain.6

Appendisitis perlu dipikirkan sebagai diagnosa banding pada setiap pasien dengan nyeri
abdomen akut. Diagnosis awal merupakan tujuan klinis paling penting pada pasien dengan
dugaan appendisitis dan pada kebanyakan kasus bisa ditegakkan melalui anamnesa dan
pemeriksaan fisik. Gejala awal biasanya dimulai dengan nyeri periumbilikal (karena aktivasi
neuron aferen viseral) dan kemudian dilanjutkan oleh anorexia dan nausea.4
Nyeri kemudian terlokalisir pada kuadran kanan bawah karena proses inflamasi yang
progresif dan melibatkan peritoneum parietal diatas appendiks. Muntah bisa didapatkan. Demam
menyertai, diikuti oleh perkembangan leukositosis. Gejala klinis bisa bervariasi. Contohnya,
tidak semua pasien menjadi anoreksia.4 Untuk menurunkan angka kesalahan diagnosis
appendisitis akut, bila diagnosis meragukan, sebaiknya penderita diobservasi di rumah sakit
dengan frekuensi setiap 1-2 jam.6
Foto barium kurang dapat dipercaya. Ultrasonografi dapat meningkatkan akurasi
diagnosis. Demikian pula laparoskopi pada kasus yang meragukan.6 Untuk meminimalkan
kesalahan diagnosa appendisitis, terdapat suatu sistem scoring yang dinamakan Alvarado Score.
Pasien dengan skor 9 atau 10 hampir pasti menderita appendisitis, pasien dengan skor 7 atau 8
memiliki kemungkinan besar menderita appendisitis, skor 5 atau 6 memiliki gejala yang mirip
dengan appendisitis, tetapi bukan didiagnosa appendisitis.1

Diagnosis banding
Pada keadaan tertentu, beberapa penyakit perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis banding.6

1) Gastroenteritis.
Pada gastroenteritis, mual, muntah, dan diare mendahului rasa nyeri. Nyeri perut sifatnya
lebih ringan dan tidak berbatas tegas. Sering dijumpai adanya hiperperistalsis. Panas dan
leukositosis kurang menonjol dibandingkan dengan appendisitis akut.
2) Demam Dengue
Dapat dimulai dengan nyeri perut mirip peritonitis. Pada penyakit ini, didapatkan hasil tes
positif untuk Rumpel Leede, trombositopenia, dan peningkatan hematokrit.
3) Limfadenitis mesenterika.
Limfadenitis Inesenterika yang biasa didahului oleh enteritis atau gastroenteritis, ditandai
dengan nyeri perut, terutama perut sebelah kanan, serta perasaan mual dan nyeri tekan perut yang
sifatnya samar, terutama perut sebelah kanan.
4) Kelainan Ovulasi
Folikel ovarium yang pecah pada ovulasi dapat menimbulkan nyeri pada perut kanan
bawah di tengah siklus menstruasi. Pada anamnesis, nyeri yang sama pernah timbul lebih dahulu.
Tidak ada tanda radang, dan nyeri biasa hilang dalam waktu 24 jam, tetapi mungkin dapat
mengganggu selama dua hari.
5) Infeksi Panggul.
Salpingitis akut kanan sering di kacaukan dengan appendisitis akut. Suhu biasanya lebih
tinggi daripada appendisitis dan nyeri perut bagian bawah perut lebih difus. Infeksi panggul pada
wanita biasanya disertai keputihan dan infeksi urin. Pada colok vagina, akan timbul nyeri hebat
di panggul jika uterus diayunkan. Pada gadis dapat dilakukan colok dubur jika perlu untuk
diagnosis banding.
6) Kehamilan Di Luar Kandungan.
Hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhan yang tidak me-rientu. Jika ada
ruptur tuba atau abortus kehamilan di luar rahim dengan perdarahan, akan timbul nyeri yang
mendadak difus di daerah pelvis dan mungkin terjadi syok hipovolemik. Pada pemeriksaan

vagina, didapatkan nyeri dan penonjolan rongga Douglas dan pada kuldosentesis didapatkan
darah.
7) Kista Ovarium Terpuntir.
Timbul nyeri mendadak dengan intensitas yang tinggi dan teraba massa dalam rongga
pelvis pada pemeriksaan perut, colok vagina, atau colok rektal. Tidak terdapat demam.
Pemeriksaan ultrasonografi dapat menentukan diagnosis
8) Endometriosis Externa
Endometrium di luar rahim akan menimbulkan nyeri di tempat endometriosis berada, dan
darah menstruasi terkumpul di tempat itu karena tidak ada jalan ke luar.
9) Urolitiasis Pielum/Ureter Kanan
Adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut yang menjalar ke inguinal kanan merupakan
gambaran yang khas. Eritrosituria sering ditemukan. Foto polos perut atau urografi intravena
dapat memastikan penyakit tersebut. Pielonefritis sering disertai dengan demam tinggi,
menggigil, nyeri kostovertebral di sebelah kanan, dan piuria.
10) Penyakit Saluran Cerna Lainnya.
Penyakit lain yang perlu dipikirkan adalah peradangan di perut, seperti divertikulitis
Meckel, perforasi tukak duodenum atau lambung, kolesistitis akut, pankreatitis, divertikulitis
kolon, obstruksi usus awal, perforasi kolon, demam tifoid abdominalis, karsinoid, dan mukokel
appendiks.
Komplikasi
Komplikasi yang paling membahayakan adalah perforasi baik berupa perforasi bebas
maupun perforasi pada appendiks yang telah mengalami pendindingan sehingga berupa massa
yang terdiri atas kumpulan appendiks, sekum, dan lekuk usus halus.6
1) Massa Periapendikular

Massa appendiks terjadi bila appendisitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi atau
dibungkus oleh omentum dan/atau lekuk usus halus. Pada massa periapendikuler dengan
pembentukan dinding yang belum sempurna, dapat terjadi penyebaran pus ke seluruh rongga
peritoneum jika perforasi diikuti oleh peritonitis purulenta generalisata. Bila terjadi perforasi,
akan terbentuk abses appendiks. Hal ini ditandai dengan kenaikan suhu dan frekuensi nadi,
bertambahnya nyeri, dan teraba pembengkakan massa, serta bertambahnya angka leukosit.6
Riwayat klasik appendisitis akut, yang diikuti dengan adanya massa yang nyeri di regio
iliaka kanan dan disertai demam, mengarahkan diagnosis ke massa atau abses periapendikuler.6
2) Appendisitis Perforata
Adanya fekalit di dalam lumen, umur (orang tua atau anak kecil), dan keterlambatan
diagnosis, merupakan faktor yang berperanan dalam terjadinya perforasi appendiks. Insidens
perforasi pada penderita di atas usia 60 tahun dilaporkan sekitar 60%.6
Faktor yang memengaruhi tingginya insidens perforasi pada orang tua adalah gejalanya
yang samar, keterlambatan berobat, adanya perubahan anatomi appendiks berupa penyempitan
lumen, dan arteriosklerosis. Insidens tinggi pada anak disebabkan oleh dinding appendiks yang
masih tipis, anak kurang komunikatif sehingga memperpanjang waktu diagnosis, dan proses
pendindingan kurang sempurna akibat perforasi yang berlangsung cepaL dan omentum anak
belum berkembang.6
Perforasi appendiks akan mengakibatkan peritonitis purulenta yang ditandai dengan
demam tinggi, nyeri makin hebat, nyeri tekan dan defans muskular, peristalsis usus dapat
menurun sampai menghilang akibat adanya ileus paralitik. Abses rongga peritoneum dapat
terjadi bila pus yang menyebar terlokalisasi di suatu tempat, paling sering di rongga pelvis dan
subdiafragma. Adanya massa intraabdomen yang nyeri disertai demam harus dicurigai sebagai
abses. Ultrasonografi dapat membantu mendeteksi adanya kantong nanah.6
3) Appendisitis Kronik Eksaserbasi Akut
Diagnosis appendisitis kronik eksaserbasi akut baru dapat dipikirkan jika ada riwayat
serangan nyeri berulang di perut kanan bawah yang mendorong dilakukannya apendektomi, dan
hasil patologi menunjukan peradangan akut. Kelainan ini terjadi bila serangan appendisitis akut

pertama kali sembuh spontan. Namun, appendiks tidak pernah kembali ke bentuk aslinya karena
terjadi fibrosis dan jaringan parut. Risiko terjadinya serangan berulang adalah sekitar 50%.
Insidens appendisitis kronik eksaserbasi akut adalah 10% dari spesimen apendektomi yang
diperiksa secara patologik. Pada appendisitis kronik eksaserbasi akut, biasanya dilakukan
apendektomi karena penderita datang dalam serangan akut.6
4) Appendisitis Kronik
Diagnosis appendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika semua syarat berikut terpenuhi :
riwayat nyeri perut kanan bawah yang lebih dari dua mingau, terbukti terjadi radang kronik
appendiks baik secara makroskopik maupun mikroskopik, dan keluhan menghilang pasca
apendektomi.6
Kriteria mikroskopik appendisitis kronik meliputi adanya fibrosis menyeluruh pada
dinding appendiks, sumbatan parsial atau total pada lumen appendiks, adanya jaringan parut dan
ulkus lama di mukosa, dan infiltrasi sel inflamasi kronik. Insidens appendisitis kronik adalah
sekitar 1-5%.6
Penatalaksanaan
Bila diagnosis klinis sudah jelas, tindakan paling tepat dan merupakan satu-satunya
pilihan yang baik adalah apendektomi. Pada appendisitis tanpa komplikasi, biasanya tidak perlu
diberikan antibiotik, kecuali pada appendisitis gangrenosa atau appendisitis perforata. Penundaan
tindak bedah sambil memberikan antibiotik dapat mengakibatkan abses atau perforasi.6
Apendektomi bisa dilakukan secara terbuka atau dengan laparoskopi. Bila apendektomi
terbuka, insisi McBurney paling banyak dipilih oleh ahli bedah. Pada penderita yang
diagnosisnya tidak jelas, sebaiknya dilakukan observasi terlebih dulu. Pemeriksaan laboratorium
dan ultrasonografi dapat dilakukan bila dalam observasi masih terdapat keraguan. Bila tersedia
laparoskop, tindakan laparoskopi diagnostik pada kasus meragukan dapat segera menentukan
akan dilakukan operasi atau tidak.6
Appendisektomi atau Appendektomi ialah suatu tindakan pembedahan membuang
appendiks. Adapun indikasi appendiktomi :10

1)
2)
3)
4)
5)

Appendisitis akut.
Appendisitis subakut.
Appendisitis infiltrat (appendikular mass) yang sudah dalam stadium tenang (afroid).
Appendisitis perforata
Appendisitis kronis

Persiapan pembedahan :10


1) Inform consent
2) Penderita harus dipuasakan sedikitnya 4 sampai 6 jam sebelum operasi.
3) Pemberian antibiotika (spektrum luas). Bilamana ada peritonitis umum perlu
memperbaiki keadaan umum dengan memberi infus serta pemasangan kateter.
4) Pemberian premedikasi anestesi.
5) Mempersiapkan lapangan pembedahan dengan membersihkan (mencuci) dan bilamana
perlu dicukur.
Teknik Pembedahan :10
Penderita ditidurkan dengan posisi terlentang dan ahli Bedah berdiri di sisi kanan penderita.
1)
1)
2)
3)
4)

Desinfeksi
Lapangan pembedahan didesinfeksi dengan bahan Iodin Povidon 10% atau Alkohol 70%.
Kemudian lapangan pembedahan dipersempit dengan pemasangan kain
(duk) steril.
Membuka Dinding perut
Irisan kulit dengan arah oblique melalui titik Mc Burney tegak lurus garis antara S.I.A.S.
dan umbilikus disebut juga irisan Gridiron. Irisan lain ialah irisan tranversal atau irisan
paramedian. Irisan diperdalam dengan memotong lemak dan akhirnya sampai tampak

aponeurosis muskulus Obliqus Abdominis Externus (M.O.E.).


M.O.E. dibuka dengan skalpel searah seratnya, diperlebar ke lateral dan ke medial
dengan bantuan pinset anatomi. Wound haak tumpul dipasang di bawah M.O.E., tampak
Muskulus Obliqus Abdominis Internus (M.O.I.).
M.O.I. dan otot di bawahnya (musculus transversus abdominis) dibuka secara tumpul
dengan gunting atau klem arteri yang bengkok, searah seratnya, tampak lemak
peritoneum yang berwarna kuning.
Preperitoneal fat disingkirkan dan peritoneum yang berwarna putih mengkilap dipegang
dengan 2 pinset Chirurgis dan dibuka dengan gunting, perhatikan apa yang keluar pus,
udara atau cairan lain (darah, faeces dan sebagainya); perlu diperiksa kultur dan test
kepekaan kuman. Dari cairan yang keluar itu. Pembukaan peritoneum diperlebar dengan

gunting atau scalpel dengan melindungi usus atau organ lain di bawah peritoneum dengan
2 jari atau sonde kocher. Arah irisan peritoneum sesuai dengan arah irisan kulit . Wond
haak diletakkan di bawah peritoneum.
5) Melakukan appendektomi
Sekum dicari dan dikeluarkan (luxir). Untuk itu kita harus mengetahui tanda-tanda sekum
yaitu :

Warnanya lebih putih.


Mempunyai taenia coli.
Adanya haustrae.
Adanya apendices epiploicae

Appendiks yang basisnya terletak pada pertemuan tiga tinea mempunyai bermacam - macam
posisi antara lain antececal, retrocecal, anteileal, retroileal dan pelvinal.
Setelah sekum diketemukan, kita pegang dengan pinset usus (darm pinset) dan kita tarik
keluar. Kemudian dengan kasa steril dan basah sekum dikeluarkan dengan menarik ke
arah mediokaudal. Setelah keluar sekum ditarik ke kraniolateral, biasanya appendiks akan
ikut keluar dan tampak dengan jelas.
Dengan memakai kasa yang basah sekum dipegang oleh asisten dengan ibu jari berada di
atas.
Mesenterium pada ujung appendiks dipegang dengan klem Kocher kemudian meso
appendiks dipotong dan diligasi sampai pada basis appendiks dengan mempergunakan
benang sutera 3/0. Pangkal appendiks di crush dengan appendiks klem Kocher dan pada
bekas crush tersebut diikat dengan chromic catgut No. 1 atau 1/0. Dibuat jahitan
tabakzaaknaad (kantong tembakau) atau jahitan pursestring pada serosa sekitar pangkal
appendiks dengan menggunakan benang sutera halus 3/0.
Dibagian distal dari ikatan pada pangkal appendiks diklem dengan Kocher dan di antara
klem Kocher dan ikatan tersebut appendiks dipotong dengan pisau yang telah diolesi
iodium.
Sisa appendiks (appendiks stump) ditanam di dalam dinding sekum dengan pertolongan
pinset anatomis didorong ke dalam dan jahitan tabakzaak dieratkan. Kemudian dibuat
jahitan penguat di atasnya (overhechting), memakai benang sutera halus. Setelah kita
perhatikan ada tidaknya perdarahan sekum dimasukkan kembali ke dalam rongga perut.

6) Penutupan Luka Operasi (Dinding Perut).


Peritoneum ditutup dengan jahitan delujur Feston dari bahan catgut Plain Nomor 1 atau
1/0.
Muskulus obligus abdominis internus dan muskulus transversus abdominis ditutup
dengan catgut chromic nomor 1 secara simpul.
Muskulus obliges abdominis externus dan aponeurosisnya ditutup dengan jahitan catgut
chromic secara simpul.
Lemak ditutup dengan jahitan simpul catgut plain 3/0, dan kulit dijahit dengan benang
sutera 2/0 atau 3/0 secara simpul

DAFTAR PUSTAKA

1. Brunicardi CF, et al. 2010. The Appendix, dalam : Schwartzs Manual of


Surgery. Ninth Edition. New York : McGrawHill. Hlm. 2043-2071.
2. Harrison S, Harrison B. 2012. Diagnostic Challenges in Acute Appendicitis,
Appendicitis. Retrieved November 1, 2013, from: A Collection of Essays from
Around

the

World,

Dr.

Anthony

Lander

(Ed.).

http://www.intechopen.com/books/appendicitis-a-collection-of-essays-fromaround-theworld/ diagnostic-challenges-in-acute-appendicitis
3. Henry, Michael M, et al. 2005. The Epidemiology Of Appendicitis And
Appendectomy

In

The

United

States

diakses

12

oktober

2014

http://aje.oxfordjournals.org/content/132/5/910
4. Hortic, matiza. 2005. Analysis of Scores in Diagnosis of Acute Appendicitis in
Women. Coll. Antropol. 29 (2005) 1: 133138
5. Koesoemawati H, dkk. 2010. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 31. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hlm. 143.

6. Maa J, Kirkwood KS. 2012. The Appendix, dalam : Sabiston Textbook of Surgery.
19th edition. New York : Elsevier. Hlm. 1279-1293.
7. Memisoglu et al. 2010. The value of preoperative diagnostic tests in acute
appendicitis, retrospective analysis of 196 patients. Retrieved November 1, 2013,
from : World Journal of Emergency Surgery. http://www.wjes.org/content/5/1/5
8. Sjamsuhidajat R, dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 3. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Hlm. 755-762.
9. Snell, Richard S. 2008. The Abdomen: Part 2 Abdominal Cavity, dalam :
Clinical Anatomy by Regions. Eight edition. New York : Lippincott Williams &
Wilkins Inc. Hlm. 232
10. Standring S, et al. 2005. Abdomen: Regional Anatomy, dalam : Grays
Anatomy : The Anatomical Basis of Clinical Practice. Thirty-Ninth Edition. New
York : Elsevier. Hlm. 280-283.
11. Tamanna et al. 2012. Alvarado Score In Diagnosis Of Acute Appendicitis.
Retrieved December 1, 2013, from: International Journal of Basic and Applied
Medical Sciences. http://www.cibtech.org/jms.htm
12. Thompson, Graham. 2012. Clinical Scoring Systems in the Management of
Suspected Appendicitis in Children, Appendicitis - A Collection of Essays from
Around the World, Dr. Anthony Lander (Ed.), ISBN: 978-953-307-814-4
13. Wibowo S, dkk. 2008. Appendisektomi/appenditomi, dalam: Pedoman Teknik
Operasi OPTEK. Surabaya : Pusat Penerbitan dan Percetakan Unair (AUP).
Hlm. 75-88.