Anda di halaman 1dari 22

Departemen Keperawatan Dewasa“Sistem Onkologi

LAPORAN PENDAHULUAN

Tumor Mandibula

PERSEPTOR LAHAN

(

PENDAHULUAN “ Tumor Mandibula ” PERSEPTOR LAHAN ( OLEH: FITRIANI, S.KEP NIM : 70900115001 ) PERSEPTOR

OLEH:

FITRIANI, S.KEP NIM : 70900115001

)

PERSEPTOR INSTITUSI

(Ns. Eni Sutriani, S.Kep)

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN IX

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UIN ALAUDDIN MAKASSAR

2015

KONSEP DASAR MEDIS

A. Defenisi Tumor mandibula merupakan tumor odontogenik yang berasal dari epitelium yang terlibat dalam proses pembentukan gigi, akan tetapi pemicu transformasi neoplastik pada epitel tersebut belum diketahui dengan pasti. Secara mikroskopis, tumor mandibula tersusun atas pulau-pulau epitelium di dalam stroma jaringan ikat kolagen. Tumor mandibula juga mempunyai beberapa variasi dari tampilan histopatologis, akan tetapi tipe yang paling sering terlihat yaitu tipe folikular dan pleksiform. Pada sebagian besar kasus, tumor mandibula biasanya asimptomatik, tumbuh lambat, dan dapat mengekspansi rahang (Mansjoer, 2001). Tumor mandibula adalah tumor jinak ondontogenik pada mandibula yang mempunyai kecenderungan tumbuh ekspansif dan progresif, hingga menimbulkan deformitas wajah. Tumor mandibula adalah tumor jinak epitel yang besifat infltrati, tumbuh lambat, tidak berkapsul, berdiferensiasi baik. Lebih dari 75 % terjadi akibat adanya kista folikular (Mansjoer, 2001).

B. Etiologi Etiologi tumor mandibula sampai saat ini belum diketahui dengan jelas, tetapi beberapa ahli mengatakan bahwa tumor mandibula dapat terjadi setelah pencabutan gigi, pengangkatan kista dan atau iritasi lokal dalam rongga mulut. tumor mandibula dapat terjadi pada segala usia, namun paling banyak dijumpai pada usia dekade 4 dan 5. Tidak ada perbedaan jenis kelamin, tetapi prediksi pada golongan penderita kulit berwarna. Tumor ini tumbuh dari berbagai asal, walaupun rangsangan awal dari proses pembentukan tumor ini belum diketahui. Tumor ini dapat berasal dari:

Sisa sel dari enamel organ atau sisa-sisa dental lamina. Struktur mikroskopis dari beberapa spesimen dijumpai pada area epitelial sel yang terlihat pada perifer berbentuk kolumnar dan berhubungan dengan ameloblast yang pada bagian tengah mengalami degenerasi serta menyerupai retikulum stelata. Sisa-sisa dari epitel Malassez. Terlihat sisa-sisa epitel yang biasanya terdapat pada membran periodontal dan kadang-kadang dapat terlihat pada tulang spongiosa yang mungkin menyebabkan pergeseran gigi dan menstimulasi terbentuknya kista odontogenik. C. Patofisiologi Tumor mandibula berasal dari sel ameloblast atau adamantoblast, berupa sel yang tidak berdiferensiasi membentuk email. Walaupun secara histopatologis tidak tergolong lesi yang ganas, namun tumor ini tumbuh sangat agresif, yang menggambarkan suatu lesi ganas yang indolent atau low- grade semacam basalioma. Rekurensi bisa terjadi bila tumor ini hanya dioperasi dengan cara melakukan kuratase. Pada operasi yang dilakukan adekuat dengan cara melakukan reseksi 1 cm ditepi lesi, maka sangat jarang didapatkan rekurensi. Tumor ini bersifat infiltratif, tumbuh lambat, tidak berkapsul, berdiferensiasi baik. Lebih dari 75% terjadi di rahang bawah, khususnya regio molar dan sisanya terjadi akibat adanya kista folikular. Tumor ini muncul setelah terjadi mutasi-mutasi pada sel normal yang disebabkan oleh zat-zat karsinogen tadi. Karsinogenesisnya terbagi menjadi 3 tahap :

1. Tahap pertama merupakan inisiasi yatu kontak pertama sel normal dengan zat karsinogen yang memancing sel normal tersebut menjadi ganas.

2. Tahap kedua yaitu promosi, sel yang terpancing tersebut membentuk klon melalui pembelahan (poliferasi).

3. Tahap terakhir yaitu progresi, sel yang telah mengalami poliferasi

mendapatkan satu atau lebih karakteristik neoplasma ganas.

D. Manifestasi Klinis Manifestasi klinik dalam tahap awal jarang menunjukkan keluhan, oleh karena itu tumor ini jarang terdiagnosa secara dini, umumnya diketahui setelah

4 sampai dengan 6 tahun. Adapun gambaran klinis tumor mandibula, yaitu sebagai berikut:

1. Pembengkakan dengan berbagai ukuran yang bervariasi sehingga dapat meyebabkan deformitas wajah.

2. Konsestensi bervariasi ada yang keras dan kadang ada bagian yang lunak

3. Terjadi ekspansi tulang ke arah bukal dan lingual

4. Tumor ini meluas ke segalah arah mendesak dan merusak tulak sekitarnya

5. Terdapat tanda egg shell cracking atau pingpong ball phonemona bila massa tumor telah mendesak korteks tulang dan tulangnya menipis

6. Tidak terdapat nyeri dan parasestesi, hanya pada beberapa penderita dengan benjolan disertai rasa nyeri.

7. Berkurangnya sensilibitas daerah distribusi n.mentalis kadang-kadang terdapat ulserasi oleh karena penekanan gigi apabila tumor sudah mencapai ukuran besar.

8. Biasanya berisi cairan berwarna merah kecoklatan

9. Gigi geligi pada daerah tumor berubah letak dan goyang.

Tumor mandibula merupakan tumor yang jinak tetapi merupakan lesi invasif secara lokal, dimana pertumbuhannya lambat dan dapat dijumpai setelah beberapa tahun sebelum gejala-gejalanya berkembang. Tumor mandibula dapat terjadi pada usia dimana paling umum terjadi pada orang- orang yang berusia diantara 20 sampai 50 tahun dan hampir dua pertiga pasien

berusia lebih muda dari 40 tahun. Kira-kira 80% terjadi di mandibula dan kira- kira 75% terlihat di regio molar dan ramus. Pada tahap yang sangat awal, riwayat pasien asimtomatis (tanpa gejala). Tumor mandibula tumbuh secara perlahan selam bertahun-tahun, dan tidak ditemui sampai dilakukan pemeriksaan radiografi oral secara rutin. Pada tahap awal, tulang keras dan mukosa diatasnya berwarna normal. Pada tahap berikutnya, tulang menipis dan ketika teresobsi seluruhnya tumor yang menonjol terasa lunak pada penekanan dan dapat memiliki gambaran berlobul pada radiografi. Dengan pembesarannya, maka tumor tersebut dapat mengekspansi tulang kortikal yang luas dan memutuskan batasan tulang serta menginvasi jaringan lunak. Pasien jadi menyadari adanya pembengkakan yang progresif, biasanya pada bagian bukal mandibula, juga dapat mengalami perluasan kepermukaan lingual, suatu gambaran yang tidak umum pada kista odontogenik. Ketika menembus mukosa, permukaan tumor dapat menjadi memar dan mengalami ulserasi akibat penguyahan. Pada tahap lebih lanjut,kemungkinan ada rasa sakit didalam atau sekitar gigi dan gigi tetangga dapat goyang bahkan tanggal. Pembengkakan wajah dan asimetris wajah adalah penemuan ekstra oral yang penting. Sisi asimetris tergantung pada tulang utama atau tulang- tulang yang terlibat. Perkembangan tumor tidak menimbulkan rasa sakit kecuali ada penekanan saraf atau terjadi komplikasi infeksi sekunder. Terkadang pasien membiarkan tumor mandibula bertahan selama beberapa tahun tanpa perawatan dan pada kasus-kasus tersebut ekspansi dapat menimbulkan ulkus namun tipe ulseratif dari pertumbuhan karsinoma yang tidak terjadi. Pada tahap lanjut, ukurannya bertambah besar dapat menyebabkan gangguan penguyahan dan penelanan.

Perlu menjadi perhatian, bahwa trauma seringkali dihubungkan dengan perkembangan tumor mandibula (ameloblastoma). Beberapa penelitian menyatakan bahwa tumor ini sering kali diawali oleh pencabutan gigi, kistektomi atau beberapa peristiwa traumatik lainnya. Seperti kasus-kasus tumor lainnya pencabutan gigi sering mempengaruhi tumor (tumor yang menyebabkan hilangnya gigi) selain dari penyebabnya sendiri.

E. Pemeriksaan Penunjang Adapun pemeriksaan penunjang untuk tumor mandibula yaitu sebagi berikut:

1. X-ray kepala, yang menghasilkan satu-dimensi gambar dan leher untuk membantu mencari daerah yang tidak normal pada rahang.

2. CT scan (computed tomography scan). CT scan, yang menghasilkan gambar dua dimensi dari kepala dan leher yang dapat mengungkapkan apakah ameloblastoma telah invaded tisu atau organ lain.

3. MRI (magnetic resonance imaging). MRI Scan, yang menggunakan magnet dan gelombang radio untuk membuat gambar 3 dimensi yang dapat mengungkapkan abnormalitas kecil di kepala dan leher. Dokter juga menggunakan MRI Scan untuk menentukan apakah ameloblastoma telah menyebar ke rongga mata atau sinuses.

4. Tumor marker (penanda tumor)

F. Penatalaksanaan Terapi utama pada tumor mandibula adalah pembedahan. Tingkat rekurensi berkisar antara 55-90% setelah perawatan secara konsevatif. Mengingat besarnya tingkat rekurensi tersebut, pendekatan secara radikal (reseksi) dapat dipertimbangkan sesuai indikasi, meskipun berakibat hilangnya

sebagaian tulang rahang, bridging plate titanium dapat digunakan untuk

mengganti sebagian tulang yang hilang dan berfungsi sebagai alat rekonstruksi. Dapat juga rekonstruksi dengan memasang tandur ahli tulang kalau mungkin bisa dikerjakan. Indikasi perawatan ditentukan berdasarkan luas dan besarnya jaringan yang terlibat, struktur histologis dari tumor dan keuntungan yang didapat. Menurut Ohishi indikasi perawatan konservatif adalah pada penderita usia muda dan ameloblastoma unikistik. Sedangkan indikasi perawatan radikal adalah ameloblastoma tipe solid dengan tepi yang tidak jelas, lesi dengan gambaran soap bubble, lesi yang tidak efektif dengan penatalaksanaan secara konservatif dan ameloblastoma ukuran besar. Penatalaksanaan secara radikal berupa reseksi segmental, hemimandibulektomi dan reseksi marginal (reseksi enblok). Reseksi marginal (reseksi enblok) merupakan teknik untuk mengangkat jaringan tumor dengan mempertahankan kontinuitas korteks tulang mandibula bagian bawah yang masih intak. Reseksi enblok ini dilakukan secara garis lurus dengan bor dan atau pahat atau gergaji, 1-2 cm dari tepi batas tumor secara rontgenologis yang diperkirakan batas minimal reseksi. Adapun tindakan dapat dilakukan secara intra oral maupun ekstra oral, hal ini tergantung pada seberapa besar untuk mendapat eksposure yang adekuat sampai ke ekstensi tumor. Rekontruksi mandibula adalah ditinjau dari fungsi dan kosmetik, organ ini mempengaruhi bentuk wajah, fungsi bicara, mengunyah dan menelan. Beberapa cara yang dapat dipakai antara lain dengan menggunakan bahan aloplastik, misalnya bridging plate titanium dan autogenous bone grafting misalnya tandur tulang iga, krista iliaka dan tibia serta dapat juga secara kombinasi aloplastik material dengan autogenous bone grafting.

Perawatan pasca operasi reseksi enblok mandibula: medikasi antibiotik dan analgetik, tidak perlu intermaksila fiksasi. Hindarkan trauma fisik pada muka atau rahang karena dapat menyebabkan fraktur mandibula. Jaga oral hygiene hingga luka operasi sembuh sempurna. Diet lunak dipertahankan 4-6 minggu. Jika diperlukan dapat dibuatkan prostesi gigi setelah dipertimbangkan bahwa telah terjadi internal bone remodeling tulang mandibula, lebih kurang 6 bulan pasca operasi.

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A. Pengkajian

1. Aktifitas/istirahat Data Subyektif : Pusing, sakit kepala, nyeri, mulas. Data Obyektif: Perubahan kesadaran, masalah dalam keseimbangan cedera (trauma).

2. Sirkulasi Data Obyektif: kecepatan (bradipneu, takhipneu), pola napas (hipoventilasi, hiperventilasi, dll).

3. Integritas ego Data Subyektif: Perubahan tingkah laku/ kepribadian (tenang atau dramatis) Data Obyektif: Cemas, bingung, depresi.

4. Eliminasi Data Subyektif: Inkontinensia kandung kemih/usus atau mengalami gangguan fungsi.

5. Makanan dan cairan Data Subyektif : Mual, muntah, dan mengalami perubahan selera makan.

Data Obyektif : Mengalami distensi abdomen.

6. Neurosensori. Data Subyektif : Kehilangan kesadaran sementara, vertigo. Data Obyektif : Perubahan kesadaran bisa sampai koma, perubahan status mental, Kesulitan dalam menentukan posisi tubuh.

7. Nyeri dan kenyamanan Data Subyektif : Sakit pada abdomen dengan intensitas danlokasi yang berbeda, biasanya lama.

Data Obyektif : Wajah meringis, gelisah, merintih.

8. Pernafasan Data Subyektif : Perubahan pola nafas. Data Objektif: Pernapasan menggunakan otot bantu pernapasan/ otot aksesoris.

9. Keamanan Data Subyektif : Trauma baru akibat gelisah.

Data Obyektif : Dislokasi gangguan kognitif. Gangguan rentang gerak.

B. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri

2. Resiko infeksi

3. Nutrisi kurang dari kebutuhan

4. Insomnia

5. Hambatan komunikasi verbal

C. Penyimpangan KDM

Fitriani, S.Kep (70900115001) | 11

D. Intervensi Keperawatan

1.

Nyeri Batasan Karakteristik Subjektif Mengungkapkan secara verbal atau melaporkan (nyeri) dengan isyarat

Objektif

a. Posisi untuk menghindari nyeri

b. Perubahan tonus otot (dengan rentang dari lemas, tidak bertenaga sampai kaku

c. Perubahan selera makan

d. Perilaku ekspresif (misalnya gelisah, merintih, menangis, peka terhadap rangsang, dan menghela napas panjang)

e. Wajah topeng (nyeri)

f. Perilaku menjaga atau sikap melindungi

g. Bukti nyeri yang dapat diamati

h. Berfokus pada diri sendiri

i. Gangguan tidur (mata terlihat kuyu, gerakan tidak teratur, atau tidak menentu dan menyeringai) Tujuan dan Kriteria Hasil NOC

a. Memperlihatkan Pengendalian Nyeri, yang dibuktikan oleh indikator sebagai berikut (sebutkan 1-5: tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering atau selalu):

1) Mengenali awitan nyeri 2) Menggunakan tindakan pencegahan 3) Melaporkan nyeri dapat dikendalikan

b. Melaporkan Tingkat Nyeri, yang dibuktikan oleh indikator sebagai berikut (sebutkan 1-5: sangat berat, berat, sedang, ringan atau tidak ada):

1) Ekspresi nyeri pada wajah 2) Gelisah atau ketegangan otot 3) Durasi episode nyeri 4) Merintih dan menangis 5) Gelisah Intervensi NIC

a. Kaji tingkat nyeri dengan menggunakan skala 0-10

b. Kaji dampak agama, budaya, kepercayaan, dan lingkungan terhadap nyeri dan respon pasien

c. Ajarkan penggunaan teknik relaksasi, imajinasi tebimbing, terapi musik, terapi bermain, distraksi, kompres hangat atau dingin sebelum, setelah, dan jika memungkinkan , selama aktivitas yang menimbulkan nyeri, sebelum nyeri terjadi atau meningkat, dan bersama penggunaan tindakan peredaan nyeri yang lain.

d. Lakukan perubahan posisi, massase [punggung dan relaksasi

e. Libatkan pasien dalam pengambilan keputusan yang menyangkutn aktivitas keperawatan

f. Bantu pasien untuk lebih berfokus pada aktivitas, bukan pada nyeri dan rasa tidak nyaman dengan melakukan pengalihan melalui TV, radion, dan interaksi dengan pengunjung

g. Kolaborasi pemberian analgesik sesuai program terapi

2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Batasan Karakteristik Subjektif

a. Kram abdomen

b. Nyeri abdomen

c. Menolak makan

d. Persepsi ketidakmampuan untuk mencerna makanan

e. Melaporkan perubahan sensasi rasa

f. Merasa cepat kenyang setelah mengomsumsi makanan Objektif

a. Diare atau steatore

b. Bising usus hiperaktif

c. Kurangnya minat terhadap makanan

d. Membran mukosa pucat

e. Tonus otot buruk

f. Menolak untuk makan

g. Kelemahan otot untuk menelan atau mengunyah

Faktor yang Berhubungan

a. Kesulitan mengunyah atau menelan

b. Intoleransi makanan

c. Faktor ekonomi

d. Kebutuhan metabolik tinggi

e. Kurang pengetahuan dasar tentang nutrisi

f. Hilang nafsu makan

g. Mual dan muntah

h. Pengabaian oleh orang tua

Tujuan dan Kriteria Hasil NOC

a. Selera makan: Keinginan untuk makan ketika dalam keadaan sakit atau sedang menjalani pengobatan

b. Memperlihatkan status gizi yang adekuat

c. Mengungkapkan tekad untuk mematuhi diet

d. Mempertahankan massa tubuh dan berat badan dalam batas normal

e. Melaporkan tingkat ekergi yang adekuat.

Tujuan dan Kriteria Hasil menurut Wilkinson (2007) Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan ebutuhan nutrisi pasien terpenuhi dengan kriteria hasil: asupan makanan dan cairan adekuat, zat gizi terpenuhi, asupan cairan oral atau IV dapat terpenuhi dengan baik, serta mencapai berat badan ideal

Intervensi NIC

1. Kaji faktor pencetus mual dan muntah

2. Catat warna, jumlah, dan frekuensi muntah

3. Tentukan motivasi pasien untuk mengubah kebiasaan makan

4. Manajemen nutrisi NIC:

- Ketahui makanan kesukaan pasien

- Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi

- Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan

- Timbang pasien pada interval yang tepat

5. Ajarkan orang tua dan anak tentang makanan yang bergizi dan tidak mahal

6. Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana memenuhinya

7. Berikan makanan dalam porsi sedikit tetapi sering dengan makanan yang bervariasi

8. Membantu pasien untuk makan

9. Kolaborasi pemberian obat antiemetik dan atau analgesik sebelum makan atau sesuai dengan jadwal yang dianjurkan.

3.

Insomnia

Batasan Karakteristik

a. Afek tampak berubah

b. Tampak kurang energi

c. Pasien melaporkan staus kesehatan

d. Pasien melaporkan penururna kualitas tidur

e. Pasien melaporkan kesulitasn berkonsentrasi

f. Pasien melaporkan kesulitan untuk tidur

g. Pasien melaporkan kesulitan untuk tetap tidur

h. Pasien melaporkan ketidakpuasan dengan tidurnya (saat ini)

i. Pasien melaporkan kekurangan energi

j. Pasien melaporkan tidur yang tidak mengembalikan kesegaran tubuh

k. Pasien melaporkan gangguan tidur yang memberi dampak pada hari berikutnya.

l. Pasien melaporkan terbangun terlalu dini Faktor yang Berhubungan

a. Pola aktivitas

b. Ansietas

c. Depresi

d. Faktor lingkungan

e. Ketakutan

f. Berduka

g. Gangguan pola tidur normal

h. Medikasi

i. Ketidaknyamanan fisik (mis, nyeri, suhu tubuh, batu, dsb)

j. Stres

Tujuan dan Kriteria Evaluasi NOC

a. Pasien memperlihatkan tidur yang dibuktikan oleh indikator ( sebutkan 1-5: gangguan ekstrem, berat, sedang, ringan, atau tidak ada gangguan):

Jumlah jam tidur (sedikitnya 5 jam per 24 jam untuk orang dewasa) Pola, kualitas, dan rutinitas tidur Intervensi NIC

a. Pantau pola tidur pasien

b. Ajarkan pasien utnuk enghindari makanan atau minuman yang saat akan tidur yang dapat mengganggu tidur

c. Hindari suara keras dan penggunaan lampu saat tidur malam, ciptakan lingkungan yang tenang, damai dan meminimalkan gangguan

d. Bantu pasien mnegidentifikasi faktor-faktor yang mungkin menyebabkan kurang tidur

e. Anjurkan pasien untuk mandi dengan air hangat di sore hari

f. Berikan atau lakukan tindakan kenyamanan seperti massase, pengaturan posisi, dan sentuhan afektif

g. Fasilitasi untuk empertahankan rutinitas waktu tidur pasien, persiapan/ritual sebelum tidur.

h. Kolaborasi pemberian pil tidur

4. Hambatan Komunikasi Verbal Batasan Karakteristik Objektif

a. Tidak ada kontak mata atau kesulitan dalam kehadiran tertentu

b. Kesulitan mengungkapkan pikiran secara verbal

c. Kesulitan mengolah kata-kata atau kalimat

d. Kesulitan dalam mengomprehensifkan dan mempertahankan pola komunikasi yang biasanya

e. Disorientasi dalam tiga lingkup, ruang, dan orang

f. Tidak dapat berbicara

g. Dispnea

h. Verbalisasi yang tidak sesuai

i. Ketidakmampuan atau kesulitan dalam menggunakan ekspresi tubuh atau wajah verbalisasi yang tidak sesuai

j. Bicara pelo

k. Kesulitan berbicara atau mengungkapkan dengan kata-kata

l. Bicara gagap

m.Tidak mampu untuk berbicara dalam bahasa pemberi asuhan

n. Keinginan menolak untuk bicara Faktor yang Berhubungan

a. tidak adanya orang yang terdekat

b. perubahan pada sistem saraf pusat

c. perubahan pada harga diri atau konsep diri

d. gangguan persepsi

e. defek anatomis

f.

penuruan sirkulasi ke otak

g.

kondisi emosi

h.

kendala lingkungan

i.

kurang informasi

j.

hambatan fisik

k.

kondisi fisiologis

l.

hambatan psikologis

m.efek samping obat

n. stres

o. kelemahan sistem muskuloskeletal

Tujuan dan Kriteria Hasil NOC:

a. Menunjukkan komuniasi yang dibuktikan oleh indikator gangguan

sebagai berikut (sebutkan 1-5: gangguan ekstrem, berat, sedang, ringan, atau tidak mengalami gangguan):

b. Tertulis, lisan atau non verbal

c. Menggunakan bahasa isyarat

d. Bertukar pesan secara akurat dengan orang lain

Intervensi NIC:

a. Kaji dan dokumentasikan bahasa utama, kemampuan untuk berbicara/melaukan komuniasi dengan keluarga dan staf

b. Dorong pasien untuk berkomunikasi secara perlahan dan untuk mengulangi permintaan

c. Berikan penguatan positif dengan sering atas upaya pasien utnuk berkomunikasi

d. Anjurkan ekspresi diri dengan cara lain dalam menyampaikan informasi kepada keluarga dan staf

5. Risiko Infeksi Tujuan dan Kriteria Hasil NOC:

a. Kontrol infeksi dengan indikator (Sebutkan 1-5: tidak pernah, terbatas, sedang, sering, selalu):

1) Menerangkan cara-cara penyebaran infeksi 2) Menerangkan factor-faktor yang berkontribusi dengan penyebaran 3) Menjelaskan tanda-tanda dan gejala 4) Menjelaskan aktivitas yang dapat meningkatkan resistensi terhadap infeksi Intervensi:

a. Bersikan lingkungan setelah digunakan oleh pasien

b. Ganti peralatan pasien setiap selesai tindakan

c. Batasi jumlah pengunjung

d. Ajarkan cuci tangan untuk menjaga kesehatan individu

e. Anjurkan pasien untuk cuci tangan dengan tepat

f. Gunakan sabun antimikrobial untuk cuci tangan

g. Anjurkan pengunjung untuk mencuci tangan sebelum dan setelah

meninggalkan ruangan pasien

h. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien

i. Lakukan universal precautions

j. Gunakan sarung tangan steril

k. Lakukan perawatan aseptic pada semua jalur IV

l. Lakukan teknik perawatan luka yang tepat

m.Ajarkan pasien untuk pengambilan urin porsi tengah

n. Tingkatkan asupan nutrisi

o. Anjurkan asupan cairan yang cukup

p. Anjurkan istirahat

q. Berikan terapi antibiotik

r. Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda-tanda dan gejala dari infeksi

s. Ajarkan pasien dan anggota keluarga bagaimana mencegah infeksi

DAFTAR PUSTAKA

Bruner & Suddarth. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, volume 2. EGC:

Jakarta.

Doenges.

2000.

Rencana

Asuhan

Keperawatan:

Pedoman

untuk

perencanaan

dan

Pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: EGC.

Mansjoer, Arif. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1.UI: Media.

Price, Sylvia A. (2006). Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Smeltzer & Bare. (2002). Buku ajar keperawatan medikal bedah. Edisi 8. Jakarta: EGC.