Anda di halaman 1dari 26

Departemen Keperawatan Dewasa“Sistem Integumen

LAPORAN PENDAHULUAN

Psoriasis

PERSEPTOR LAHAN

( Harlina, S.Kep., Ns )

“ Psoriasis ” PERSEPTOR LAHAN ( Harlina, S.Kep., Ns ) OLEH: FITRIANI, S.KEP NIM : 70900115001

OLEH:

FITRIANI, S.KEP NIM : 70900115001

PERSEPTOR INSTITUSI

(Muh. Ramlan, S.Kep.,Ns)

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN IX

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UIN ALAUDDIN MAKASSAR

2015

KONSEP DASAR MEDIS

A. Defenisi Psoriasis adalah penyakit peradangan kulit kronik dengan dasar genetik yang kuat dengan karakteristik perubahan pertumbuhan dan diferensiasi sel epidermis disertai manifestasi vaskuler, juga diduga adanya pengaruh sistem saraf (Jacoeb, 2015). Psoriasis adalah penyakit kulit dimana penderita mengalami proses pergantian kulit yang terlalu cepat yaitu 2-4 hari. Hal ini dikarenakan adanya gangguan pada inti sel yang memprogram pergantian kulit tersebut. Kemunculan penyakit ini terkadang untuk jangka waktu lama dan bersifat residif (hilang-timbul). Sampai saat ini psoriasis belum da-pat disembukan atau dicegah, yang bisa hanya se-batas menghilangkan gejalanya. Sesuai sifatnya yang menahun dan residif, pengobatan yang dilakukan dimaksudkan meny embuhkan peradangan dan mencegah kekambuhan dan ini berlangsung dalam jangka panjang (Izzati dan Waluya, 2012). Psoriasis adalah adalah penyakit kulit kronik residif dengan lesi yang khas berupa bercak-bercak eritema berbatas tegas, ditutui oleh skuama tebal berlapis-lapis bel/warna putih mengkilat (Siregar, 2004). Psoriasis adalah penyakit yang bersifat kronis dan residuf, ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama ang kasar, berlais-lapis dan transparan disertai fenomena tetesan lilin dan Auspitz (Mansjoer, 2000).

B. Klasifikasi Gambar 1.1 Psoriasis Menurut Sinaga (2013), klasifikasi psoriosis adalah sebagai berikut: 1. Psoriasis

B. Klasifikasi

Gambar 1.1 Psoriasis

Menurut Sinaga (2013), klasifikasi psoriosis adalah sebagai berikut:

1. Psoriasis Gutata Ukuran 0,2-1 cm bentuk bulat atau sedikit lonjong simetris Predileksi proksimal anggota tubuh di muka dan kulit kepala jarang terdapat. Sering terdapat pada anak dan dewasa muda atau setelah infeksi akut streptokokus misal pada saluran nafas bagian atas. Bila lesi terdapat di muka akan cepat hilang.

2. Psoriasis Plakat Bentuk yang paling sering ditemukan berupa lesi merah tertutup sisik

yang terus berganti dan dapat bertahan berbulanbulan atau tahun. Lesi kecil yang bergabung dengan lainnya akan membentuk plakat yang pinggirnya menyerupai gambar peta disebut: Psoriasis Geografika. Bila membentuk lingkaran dan bergabung satu dengan yang lain menyerupai Gyrus disebut : Psoriasis Gyrata. Bila penyembuhan terdapat di tengah lesi akan berbentuk linier. Predileksi : siku lutut skalp retroaurikular lumbal

3. Psoriasis Pustulosa Ditandai dengan eritema skuama pustul miliar berwarna putih atau kekuningan. Ada dua pendapat mengenai psoriasis pustulosa, pertama dianggap sebagai penyakit tersendiri, kedua dianggap sebagai varian psoriasis.Terdapat dua bentuk Psoriasis Pustulosa yaitu tipe Barber yang setempat (lokalisata) dan generalisata.

a. Psoriasis pustulosa Tipe Barber Pada psoriasis pustulosa tipe Barber terdapat pustul-pustul miliar yang steril pada telapak tangan dan telapak kaki.

b. Psoriasis Tipe Zumbusch

Pada psoriasis pustulosa tipe Zumbusch terdapat pustul pada lesi psoriasis dan kulit yang normal. Pustul bergerombol sirsinar yang disertai demam, leukositosis dan dengan keadaan umum pasien tampak sakit yang kemudian akan menjadi eritroderma. Penyakit ini terjadi karena penghentian obat kortikosteroid sistemik dan perluasan psoriasis itu sendiri. Pada penderita Psoriasis pada dasar kukunya terjadi penebalan dan kehilangan kecerahan, di sebut Pitting Nail.

4. Psoriasis inversus (psoriasis fleksural)

Psoriasis tersebut mempunyai tempat predileksi pada daerah fleksor sesuai dengan namanya.

5. Psoriasis eksudativa Bentuk tersebut sangat jarang, biasanya kelainan psoriasis kering, tetapi pada bentuk ini kelainannya membasah seperti dermatitis akut.

6. Eritrodermapsoriatik Eritroderma psoriatik dapat disebabkan oleh pengobatan topikal yang terlalu kuat atau oleh penyakitnya sendiri yang meluas. Biasanya lesi yang khas untuk psoriasis tidak tampak lagi karena terdapat eritema dan skuama tebal menyeluruh. Ada kalanya lesi psoriasis masih tampak samar-samar, yakni lebih eritematosa dan kulitnya lebih meninggi.

C. Etiologi Penyebab psoriasis belum jelas, tetapi yang pasti adalah pembentukan epidermis yang dipercepat. Biasanya terjadi pada dewasa muda. Frekuensi sama antara pria dan wanita Siregar (2004). Menururt Siregar (2004), faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya psoriasis adalah:

1. Bangsa: Kulit putih lebih banyak daripada kulit berwarna

2. Daerah: Lebih banyak pada daerah dingin

3. Iklim: Lebih sering di musim hujan

4. Keturunan: Biasanya diturunkan secara autosomal dominan. Infeksi lokal dan gangguan metabolik dapat menjadi faktor pencetus penyakit ini.

5. Lain-lain: Stres dan emosi serta kehamilan dapat memperberat

penyakit. Menurut Mansjoer (2000), etiologi psoriasis belum diketahui, yang jelas ialah waktu pulih (turn over time) epidermis dipercepat menjadi 3-4 hari, sedangkan pada kulit normal lamanya 27 hari. Pada sebagian pasien terdapat faktor hereditier yang bersifat dominan. Faktor fisik dikatakan

mempercepat terjadinya residif. Infeksi fokal mempunyai hubungan erat

dengan salah satu bentuk psoriasis, yaitu psoriasis guata. Hunugngannya dengan psoriasis vulgaris tidak jelas. Menurut Sinaga (2013), Faktor-faktor yang dapat mencetuskan psoriasi yaitu:

1. Trauma kulit. Garukan atau gesekan dan tekanan atau tahanan yang berulang-ulang pada saat gatal digaruk terlalu berat atau penekanan anggota tubuh terlalu sering pada saat beraktifitas. Bila psoriasis sudah muncul dan kemudian digaruk dikorek maka akan menyebabkan kulit bertambah tebal.

2. Infeksi saluran pernafasan atas, yang kelihatannya dapat berupa, demam, nyeri menelan, batuk dan beberapa infeksi lainnya, makanan berkalori sangat tinggi sehingga badan terasa panas dan kulit menjadi merah, misalnya mengandung alkohol

3. Stres yang tidak terkendali

4. Infeksi fokal

5. Obat anti hipertensi dan antibiotik

6. Mengoleskan obat terlalu keras bagi kulit

7. Endokrin: cahaya, gangguan metabolik, alkohol, merokok.

D. Patofisiologi Mekanisme peradangan kulit psoriasis cukup kompleks yang melibatkan berbagai sitokin, kemokin maupun faktor pertumbuhan yang mengakibtakan gangguan regulasi keratinosit, sel-sel radang dan pembuluh darah sehingga lesi tampak menebal dan beskuama tebal berlapis. Aktivasi sel T dalam pembuluh limfe terjadi setelah sel makrofag penangkap antigen (antigen persenting cell/APC) melalui major histocompability complex (MHC) mempresentasekan antigen tersangka

dan diikat oleh ke sel T. Peningkatan sel T terhadap antigen tersebut selain melalui reseptor sel T harus dilakukan pula oleh ligan dan reseptor tambahan yang dikenal dengan kostimulasi. Setelah sel T teraktivasi sel ini berplorifelrasi menjadi sel T efektor dan meori kemudian masuk ke dalam sirkulasi sistemik dan bermigrasi ke kulit (Jacoeb, 2015).

E. Manifestasi Klinis Gejala dimulai dengan makula dan papula eritematosa dngan ukuran mencapai lentikular-numular, yang menyebar secara sentrifugal. Akibat penyebaran yang seperti ini dijumpai beberapa bentuk psoriasis (Siregar, 2004). Menurut Mansjoer (2000), keadaan umum tidak dipengaruhi kecuali pada psoriasis yang menjadi eritroderma. Sebagian pasien mengeluh gatal ringan. Tempat predileksi pada kulit kepala, perbatasan daerah dahi dan rambut, ekstremitas bagian ekstensor terutama siku serta lutut, dan daerah lumbosakral. Kelainan kulit terdiri atas bercak-bercak eritema yang meninggi dengan skuama di atas eritema terbatas tegas dan merata, tetapi pada stadium penyembuhan sering eritema yang di tengah menghilangdan hanya terdapat di pinggir. Skuama berlapis-lapis, kasar, berwarna putih seperti mika, serta transparan. Besar kelainan bervariasi mulai dari lentikuler nomular sampai plakat dan dapat berkonfluensi, Jika seluruhnya atau sebagian lentikular disebut psoriasis gutata, biasanya terdapat pada anak-anak dan dewasa dan pada umumnya terjadi setelah adanya infeksi akut oleh streptokokus. Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner (Isomorfik). Kedua fenomena yang disebut lebih dahulu dianggap khas, sedangkan yang terakhir tak khas, hanya kira-kira 47 % yang positif dan

didapati pula pada penyakit lain, misalnya liekn planus dan veruka plana juvenilis. Fenomena tetesan lilin adalah skuama yang berubah warna menjadi putih setelah digores, seperti lilin yang digores, akibat berubanhya indeks bias cahaya pada lapisan skuama (Mansjoer, 2000). Psoriasis juga dapat menyebabkan kelainan kuku yakni sebanyak kira-kira 50 % yang khas adalah pitting nail (nail pit) berupa lekukanlekukan miliar. Kelainan yang tak khas ialah kuku yang keruh, tebal, bagian distalnya terangkat karena terdsapat lapisan tanduk di bawahnya dan onikolisis. Selain itu, penyakiti ini dapat pula menyebabkan kelainan pada sendi. Umumnya bersifat poliartikular, tempat predileksi pada sendi interfalangs distal. Banyak terdapat pada usia 30-50 tahun. Sendi membesar, kemudian menjadi ankilosis dan lesi kistik subkorteks. kelainan pada mukosa jarang ditemukan dan tidak penting untuk diagnosi (Mansjoer, 2000). Lesi berupa makula atau papul eritematosa dengan skuama putih kasar berlapis lapis seperti mika di atasnya, ukurannya bervariasi, dan batasnya tegas. Predileksinya terdapat pada siku, lutut, kulit kepala dan retroaurikular lumbal. Dapat juga mengenai lipatan axial, genitokrural, dan leher. Biasa pada tempat ini terdapat sedikit skuama atau hampir tidak ada, sehingga terlihat berwarna merah kilat dan berbatas jelas. Eritema tertutup skuama kasar bertumpuk batas tegas (Levena dalam Sinaga, 2013).

F. Pemeriksaan Penunjang

1.

Pemeriksaan kulit Lokalisasi Meliputi siku, lutut, kulit kepala, telapak kaki, dan tangan, punggung, tungkai atas dan bawah serta kuku.

a.

b. Efloresensi/sifat-sifatnya Makula erimatosa yang besarnya bervariasi dari miliar sampai numular dengan gambaran yang beranka ragam, dapat srsinar, sirsinar, polisiklis, atau geografis. Makula ini berbatas tegas, ditutupi oleh skuama kasar berwarna putih mengkilat. Jika skuama

digores dengan benda tajam menunjukkan tanda tetetsan lilin. Jika penggoresan diteruskan maka timbul tanda Auspitz dengan bintik- bintik darah. Dapat pula menunjukkan fenomena Koebner atau reaksi isomorfik yaitu tibmul lesi-lesi psoriasis pada bekas trauma atau garukan.

2. Pemeriksaan yang bertujuan menganalisis penyebab psoriasis seperti pemeriksaan darah rutin, kimia darah, gula darah, kolesterol dan asam urat (Siregar, 2004).

G. Penatalakasanaan Menurut Sinaga (2013), sampai saat ini penyakit psoriasis belum

diketahui penyebabnya secara pasti sehingga belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan secara total penyakit psoriasis tetapi dapat membantu untuk mengontrol gejala dari penyakit tersebut.

1. Pengobatan promotif Menenangkan pasien dan memberikan dukungan emosional adalah hal yang sangat tidak terhingga nilainya. Menekankan bahwa psoriasis tidak menular serta suatu saat akan mengalami psoriasis akan remisi spontan dan tersedianya pengobatan yang bervariasi untuk setiap bentuk dari psoriasis.

2. Pengobatan preventif Menghindari atau mengurangi faktor pencetus, yaitu stres psikis, infeksi fokal, endokrin, seta pola hidup lain yang dapat meningkatkan resiko penurunan sistem imun seperti seks bebas sehingga bisa tertular penyakit AIDS.

3. Pengobatan kuratif a. Topikal 1) Preparat ter mempunyai efek anti radang. Ada tiga jenis: (a) Fosil Iktiol/Kurang efektif untuk psoriasis, (b) Kayu (Oleum kadini dan oleum ruski) Sedikit memberikan efek iritasi, (c) Batu Bara (Liantar dan Likuor karbonis detergen); Pada Psoriasis yang telah menahun lebih baik digunakan ter yang berasal dari batu bara dengan konsentrasi 2-5% dimulai dengan konsentrasi rendah, jika tidak ada perbaikan konsentrasi dinaikkan. Supaya lebih efektif, maka daya penetrasinya harus dipertinggi dengan cara menambahkan asam salisilat dengan konsentrasi 3% atau lebih. Untuk mengurangi daya iritasinya, dapat dibubuhi seng oksida 10% sebagai vehikulum dalam bentuk salap. 2) Kortikosteroid. Harus dipilih golongan kortikosteroid yang potensi dan vehikilumnya baik pada lokasinya misalnya senyawa flour. Jika lesinya hanya beberapa dapat pula disuntikkan triamsinolon asetonid intralesi. Pada setiap muka didaerah lipatan digunakan krem. Di tempat lain digunakan salap. Pada daerah muka lipatan dan genitalia eksterna dipilih potensi sedang. Bila digunakan potensi kuat pada muka dapat

memberikan efek samping, diantarnya teleangiektasi, sedangkan di lipatan berupa striae atrofikans. Pada bagian tubuh dan ekstremitas digunakan salap dengan potensi kuat atau sangat kuat bergantung pada lama penyakit. Jika telah terjadi perbaikan potensi dan frekuensinya dikurangi. 3) Ditranol (Antralin); Konsentrasi yang digunakan biasanya 0,2%-0,8% dalam pasta atau salap. Penyembuhan biasanya terjai dalam waktu 3 minggu. 4) Etetrinat (Tegison,Tigason); digunakan bagi psoriasis yang sukar disembuhkan dengan obat -obat lain. Dosis bervariasi. Pada bulan pertama diberikan 1 mg/kg berat badan. Jika belum terjadi perbaikan dosis dapat di naikkan menjadi 0,5 mg/kg berat badan.

b. Pengobatan dengan penyinaran/Fototerapi Fototerapi yang dikenal ultraviolet A (UVA) dan ultraviolet B (UVB). Fototerpai memiliki kemampuan menginduksi opotosis, imunosupresan, mengubah profil sitokin dan mekanisme lainnya. Diketahui efek biologik UVB terbesar pada kisaran 311-313 nm oleh karena itu sekarang tersedia lampu UVB (TL-01) yang dapat memancarkan sinar monokromatik dna disebut spektrum sempit. Psoriasis sedang sampai berat dapat diobati dengan UVB, kombinasi dengan ter meningkatkan efektivitas terapi. Efek samping cepat berupat sunburn, eritema, vesikulasi, dan kulit kering. Efek jangka panjang berupa penularan kulit dan keganasan kulit yang masih sulit dibuktikan. Bila dilakukan di klinik, kombinasi UVB dengan ter san antralin memiliki masa remisi berlangsung lama pada 55 % pasien.

Pemakaina uVB spektrum sempit lebih banyak dipilih karena lebih aman dibandingkan dengan PUVA (psoralen dan UVA) yang dihubungkan dengan karsinoma sel basal dan melanoma maligna apda kulit. Peningkatan keganasan kulit karena UVB spektrum sempit sampai saat ini belum bisa ditetapkan (Jacoeb, 2015).

c. Pengobatan Sistemik Kortikosteroid hanya dapat digunakan pada psoriasiseritrodermik, psoriasis pustulosa generalisata dan psoriasis artrits. Dosis permulaan 40-60 mg prednison sehari. Jika telah sembuh dosis di turunkan perlahan-lahan, kemudian diberi dosis pemeliharaan. Penghentian obat secara mendadak akan menyebabkan kekambuhan dan dapat terjadi psoriasis pustulosa generalisata. Obat Sitostatik biasanya digunakan Metotreksat pemberian per os 2 hari berturut-turut dalam seminggu dengan dosis sehari peroral 12,5 mg. Dapat pula di berikan secara intramuskuler dengan dosis 15-25 mg/minggu. Efek samping pada hati ginjal dan sumsum tulang belakang. Levodova. Dosis 2 x 250 mg -3 x 500 mg, efek samping berupa mual muntah, anoreksia, hipotensi, gangguan psikis dan pada jantung. DDS (Diamino Difenil Sulfan) dipakai sebagai pengobatan psoriasis pustulosa tipe barber dengan dosis 2 x 100 mg sehari. Efek samping anemia hemolitik, methemoglobin dan agranulositosis.

d. Pengobatan psikologis Psikoterapi digunakan untuk membenahi pikiran dan dari pikiran inilah mampu untuk mengontrol kondisi tubuh. Terapi relaksasi seperti meditasi juga mampu untuk mengendalikan emosi yang memicu stres dan menekan kemunculan dan tingkat keparahan psoriasis. Selain itu

cognitive behavior therapy CBT) juga efektif digunakan untuk merubah pola pikir negatif penderita dengan menghadirkan pandangan dan pemikiran baru bahwa penderita tidak mengalami sakit lebih parah dibanding dirinya.

H. Komplikasi Menururt Siregar (2004), komplikasi yang dapat ditimbulkan dari psoriasis adalah:

1. Dapat menyerang sendi, menimbulkan artritis psoriasis

2. Psoriasis pustuulos: pada eritema timbul pustula miliar. Jika menyerang telapak tangan dan kaki serta ujung jari disebut psoriasis pustula tipe Barber. Namun, jika pustula timbul pada lesi psoriasis dan juga kulit di luar lesi, dan disertai gejala sistemik berupa panas/rasa terbakar disebut

tipe Zumbusch. Yang terakhir ini berprognosis kurang baik.

3. Psoriasis eritrodermia: jika lesi psoriasis terdapat di seluruh tubuh, dengan skuama halus dan gejala konstitusi berupa badan terasa panas-dingin.

I. Prognosis Psoriasis tidak menyebabkan kematian tetapi bersifat kronik dan residif (Siregar, 2004). Penyakit psoriasi tidak sembuh sama sekali sehingga seolah-olah penyakit ini dapat timbul kembali sepanjang hidup. Memperhatikan tanda dan gejala biasanya membutuhkan terapi seumur hidup. Penyakit psoriasis biasanya menjadi lebih berat dari waktu ke waktu tetapi tidak mungkin untuk muncul dan menghilang (Sinaga, 2013).

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A. Pengkajian

1. Pola Persepsi Kesehatan

a. Adanya riwayat infeksi sebelumya.

b. Pengobatan sebelumnya tidak berhasil.

c. Riwayat mengonsumsi obat-obatan tertentu, mis., vitamin; jamu.

d. Adakah konsultasi rutin ke dokter.

e. Hygiene personal yang kurang.

f. Lingkungan yang kurang sehat, tinggal berdesak-desakan.

2. Pola Nutrisi Metabolik

a. Pola makan sehari-hari: jumlah makanan, waktu makan, berapa kali

sehari makan.

b. Kebiasaan mengonsumsi makanan tertentu: berminyak, pedas.

c. Jenis makanan yang disukai.

d. Napsu makan menurun.

e. Muntah-muntah.

f. Penurunan berat badan.

g. Turgor kulit buruk, kering, bersisik, pecah-pecah, benjolan.

h. Perubahan warna kulit, terdapat bercak-bercak, gatal-gatal, rasa terbakar atau perih.

3. Pola Eliminasi

a. Sering berkeringat.

b. Tanyakan pola berkemih dan bowel.

4. Pola Aktivitas dan Latihan

a. Pemenuhan sehari-hari terganggu.

b. Kelemahan umum, malaise.

c. Toleransi terhadap aktivitas rendah.

d. Mudah berkeringat saat melakukan aktivitas ringan.

e. Perubahan pola napas saat melakukan aktivitas.

5.

Pola Tidur dan Istirahat

a. Kesulitan tidur pada malam hari karena stres.

b. Mimpi buruk.

6.

Pola Persepsi Kognitif

a. Perubahan dalam konsentrasi dan daya ingat.

b. Pengetahuan akan penyakitnya.

7.

Pola Persepsi dan Konsep Diri

a. Perasaan tidak percaya diri atau minder.

b. Perasaan terisolasi.

8.

Pola Hubungan dengan Sesama

a. Hidup sendiri atau berkeluarga

b. Frekuensi interaksi berkurang

c. Perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran

9.

Pola Reproduksi Seksualitas

a. Gangguan pemenuhan kebutuhan biologis dengan pasangan.

b. Penggunaan obat KB mempengaruhi hormon.

10.

Pola Mekanisme Koping dan Toleransi Terhadap Stress

a. Emosi tidak stabil

b. Ansietas, takut akan penyakitnya

c. Disorientasi, gelisah

11.

Pola Sistem Kepercayaan

a. Perubahan dalam diri klien dalam melakukan ibadah

b. Agama yang dianut

B. Diagnosa

1. Kerusakan integritas kulit

2. Gangguan citra tubuh

3. Ansietas

C. Penyimpangan KDM

D. Intervensi

1. Kerusakan integritas kulit Batasan Karakteristik Objektif

a. Kerusakan pada lapisan kulit (dermis)

b. Kerusakan pada permukaan kulit (epidermis)

c. Invasi struktur tubuh

Tujuan dan Kriteria Hasil NOC Menunjukkan integritas jaringan kuli: kulit dan membran mukosa yang dibuktikan oleh indikator (sebutkan 1-5:gangguan ekstrem, berat, sedang, ringan, atau tidka ada gangguan):

Suhu, elastisitas, hidrasi, dan sensasi

Perfusi jaringan Keutuhan kulit Intervensi NIC

a. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar

b. Hindari kerutan pada tempat tidur

c. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering

d. Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali

e. Monitor kulit akan adanya kemerahan

f. Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan

g. Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien

h. Monitor status nutrisi pasien

i. Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat

j. Kaji lingkungan dan peralatan yang menyebabkan tekanan

k. Observasi luka : lokasi, dimensi, kedalaman luka, karakteristik,warna cairan, granulasi, jaringan nekrotik, tanda-tanda infeksi lokal, formasi traktus

l. Ajarkan pada keluarga tentang luka dan perawatan luka

m. Kolaburasi ahli gizi pemberian diae TKTP, vitamin

n. Cegah kontaminasi feses dan urin

o. Lakukan tehnik perawatan luka dengan steril

p. Berikan posisi yang mengurangi tekanan pada luka

2. Gangguan citra tubuh Batasan Karakteristik Subjektif

a. Rasa takut terhadap penolakan atau reaksi dari orang lain

b. Fokus pada perubahan

c. Mengungkapkan secara verbal perubahan gaya hidup

d. Berfokus pada kekuatan, fungsi atau penampilan di masa lalu

Objektif

c. Perubahan aktual pada struktur atau fungsi tubuh

d. Perilaku menghindar, mrmantau tentang tubuh individu

e. Perubahan dalam keterlibatan sosial

f. Kehilangan bagian tubuh

g. Tidak menyenth bagian tubuh

h. Menutupi bagian tubuh

Tujuan dan Kriteria Hasil NOC

Menunjukkan citra tubuh yang dibuktikan oleh indikator sebagi berikut:

(sebutkan

selaluditampilkan):

pernah, jarang, kadang-kadang, sering atau

1-5:

tidak

Kesesuian antara realitas tubuh, ideal tubuh dan perwujudan tubuh Kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh Keinginan untuk menyentuh bagian tubuh yang mengalami gangguan Intervensi NIC

a. Kaji dan dokumentasikan respons verbal dan nonverbal pasien

3.

terhadap tubuh

b. Identifikasi mekanisme koping yang digunakan pasien

c. Identifikasi pengaruh budaya, agama, ras, jenis kelamin, dan usia pasien menyangkut citra tubuh

d. Pantau frekuensi pernyataan kritik diri

e. Ajarkan cara merawat dan perawatan diri termasuk komplikasi kondisi medis

f. Beri reinforcement pada pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaannya

g. Dukung mekanisme koping yang biasa digunakan

Ansietas

Batasan Karakteristik Perilaku

a. Penurunan produktivitas

b. Mengekspresikan kekhawatiran akibat perubahan dalam peristiwa hidup

c. Gerakan yang tidak relevan (misalnya mengeret kaki, gerakan lengan)

d. Gelisah

e. Memandang sekilas

f. Insomnia

g. Kontak mata buruk

h. Resah

i. Menyelidik dan tidak waspada

Afektif

a. Gelisah

b. Kesedihan yang mendalam

c. Distres

d. Ketakutan

e. Perasaan tidak adekuat

f. Fokus pada diri sendiri

g. Peningkatan kekhawatiran

h. Iritabilitas

i. Gugup

j. Gembira berlebihan

k. Nyeri dan peningkatan ketidakberdayaan yang persisten

l. Marah

m. Menyesal

n. Perasaan takut

o. Ketidakpastian

p. Khawatir

Fisiologis

a. Wajah tegang

b. Insomnia

c. Peningkatan keringat

d. Peningkatan ketegangan

e. Terguncang

f. Gemetar atau tremor di tangan

g. Suara bergetar

Parasimpatis

a. Nyeri abdomen

b. Penurunan tekanan darah

c. Penurunan nadi

d. Diare

e. Pingsan

f. Keletihan

g. Mual

h. Gangguan tidur

i. Kesemutan pada ekstremitas

j. Sering berkemih

k. Berkemih tidak lampias

l. Urgensi berkemih

Simpatis

a. Anoreksia

b. Eksitasi kardiovaskuler

c. Diare

d. Mulut kering

e. Wajah kemerahan

f. Jantung berdebar-debar

g. Peningkatan tekanan darah

h. Peningkatan nadi

i. Peningkatan refleks

j. Peningkatan pernapasan

k. Dilatasi pupil

l. Kesulitan bernapas

m. Vasokontriksi superfisial

n. Kedutan otot

o. Kelemahan

Kognitif

a. Kesadaran terhadap gejala-gejala fisiologis

b. Blocking pikiran

c. Konfusi

d. Penurunan lapang pandang

e. Kesulitan untuk berkonsentrasi

f. Keterbatasan kemampuan untuk menyelesaikan masalah

g. Keterbatasan kemampuan untuk belajar

h. Takut terhadap konsekuensi yang tidak spesifik

i. Fokus pada diri sendiri

j. Mudah lupa

k. Gangguan perhatian

l. Tenggelam dalam dunia sendiri

m. Melamun

n. Kecendruangan untuk menyalahkan orang lain

Faktor yang Berhubungan

a. Terpajan toksin

b. Hubungan keluarga/hereditas

c. Transmisi dan penularan interpersonal

d. Krisis situasi dan maturasi

e. Stres

f. Penyalahgunaan zat

g. Ancaman kematian

h. Ancaman atau perubahan pada status peran, fungsi peran, lingkungan, status kesehatan, status ekonomi, atau pola interaksi

i. Ancaman terhadap konsep diri

j. Konflik yang tidak disadari tentang nilai dan tujuan hidup yang esensial

k. Kebutuhan yang tidak terpenuhi

Tujuan dan Kriteria Evaluasi NOC

a. Ansietas berkurang, dibuktikan oleh bukti tingkat ansietas hanya ringan sampai sedang

b. Kemampuan untuk fokus pada stimulus tertentu

c. Memiliki TTV dalam batas normal

d. Meneruskan aktivitas yang dibutuhkan meskipun mengalami kecemasan

Intervensi NIC

a. Kaji tingkat ansietas pasien

Skala

kecemasan (ansetas) terdiri dari 14 item, meliputi:

Hamilton

Anxiety

Rating

Scale

(HARS) dalam penilaian

1)

Perasaan Cemas firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah

2)

tersinggung. Merasa tegang, gelisah, gemetar, mudah terganggu dan lesu.

3)

Ketakutan : takut terhadap gelap, terhadap orang asing, bila tinggal

4)

sendiri dan takut pada binatang besar. Gangguan tidur sukar memulai tidur, terbangun pada malam hari, tidur tidak pulas dan mimpi buruk.

5) Gangguan kecerdasan : penurunan daya ingat, mudah lupa dan sulit konsentrasi. 6) Perasaan depresi : hilangnya minat, berkurangnya kesenangan pada hoby, sedih, perasaan tidak menyenangkan sepanjang hari. 7) Gejala somatik : nyeri pada otot-otot dan kaku, gertakan gigi, suara tidak stabil dan kedutan otot. 8) Gejala sensorik : perasaan ditusuk-tusuk, penglihatan kabur, muka merah dan pucat serta merasa lemah. 9) Gejala kardiovaskuler : takikardi, nyeri di dada, denyut nadi mengeras dan detak jantung hilang sekejap. 10) Gejala pernapasan : rasa tertekan di dada, perasaan tercekik, sering menarik napas panjang dan merasa napas pendek. 11) Gejala gastrointestinal: sulit menelan, obstipasi, berat badan menurun, mual dan muntah, nyeri lambung sebelum dan sesudah makan, perasaan panas di perut. 12) Gejala urogenital : sering keneing, tidak dapat menahan keneing, aminorea, ereksi lemah atau impotensi. 13) Gejala vegetatif : mulut kering, mudah berkeringat, muka merah, bulu roma berdiri, pusing atau sakit kepala. 14) Perilaku sewaktu wawancara : gelisah, jari-jari gemetar, mengkerutkan dahi atau kening, muka tegang, tonus otot meningkat dan napas pendek dan cepat. Cara Penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai dengan kategori:

0 = tidak ada gejala sama sekali

1 = Ringan / Satu dari gejala yang ada

2 = Sedang / separuh dari gejala yang ada

3 = berat / lebih dari ½ gejala yang ada

4 = sangat berat / semua gejala ada

Penentuan derajat kecemasan dengan cara menjumlah nilai skor dan item 1-14 dengan hasil:

Skor < 14 = tidak ada kecemasan.

Skor 14 - 20 = kecemasan ringan.

Skor 21 27 = kecemasan sedang.

Skor 28 41 = kecemasan berat.

Skor 42 56 = panik.

b. Gali bersama pasien tentang teknik yang berhasil dan tidak berhasil menurunkan ansietas di masa lalu

c. Berikan informasi tentnag gejala ansietas

d. Beri dorongan kepada pasien untuk mengungkapkan secara verbal pikiran dan aperasaan untuk mengeksternalisasikan ansietas

e. Yakinakan kembali pasien melalui sentuhan, dan sikap empatik secara verbal dan nonverbal secara bergantian

f. Dorong pasien untuk mengekspresikan kemarahan dan iritasi serta izinkan pasien untuk menangis

g. Bermain dengan anak atau bawa anak ke tempat bermain anak di rumah sakit dan libatkan anak dalam permainan

h. Kolaborasi pemberian obat untuk menurunkan ansietas.

DAFTAR PUSTAKA

Izzati, Aida dan Waluya , O.J. 2012. Gambaran Penerimaan Diri pada Penderita Psoriasis. Journal Psikologi Volume 10 Nomor 2. Diakses pada 21.04 WITA, 14 Desember 2015. Jacoeb, Tjut Nurul alam. 2015. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Ketujuh. Badan Penerbit FKUI. Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 2. Media Aeusclapius FKUI. Sinaga, Dameria. 2013. Pengaruh Stress Psikologis Terhadap Pasien Psoriasis. Journal Ilmiah Widya. Volume 1 Nomor 2. Diakses pada 22.08 WITA, 14 Desember 2015. Siregar. 2004. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: EGC. Wilkinson J.M, dan Ahern N.R. 2013. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 9. Jakarta: ECG.