Anda di halaman 1dari 4

BAB III

METODE PENELITIAN
A. Bahan dan Alat
1. Bahan yang digunakan adalah :
Daun urang-aring (Eclipta prostrata L.), tablet Loperamid, Oleum ricini

aquades. Hewan uji adalah tikus betina galur Wistar umur .. bulan dengan
berat badan 210 230 gram.
2. Alat yang digunakan adalah :
Panci infus, thermometer, kertas saring, kompor listrik, neraca untuk
menimbang hewan uji, timbangan untuk menimbang bahan, timbangan untuk
menimbang feses. Tempat penampung feses, spuit injeksi, jarum oral serta alat-alat
gelas yang lazim digunakan.
B. Cara Penelitian
1.

Koleksi dan Determinasi Simplisia


Daun urang aring (Eclipta prostrata L.) yang digunakan pada penelitian

ini diperoleh dari .. Jogjakarta. Kemudian dilakukan determinasu di


Laboratorium .. Farmasi UII Jogjakarta.
2.

Penentuan Dosis infusa Daun Urang Aring

3.

Pembuatan Ekstrak Daun Urang Aring


Bagian tumbuhan yang digunakan untuk ekstraksi adalah daun. Bahan

dibersihkan dan dikeringkan dengan cara diangin- anginkan di tempat terbuka tanpa
terkena cahaya matahari secara langsung. Setelah menjadi kering dipotong kecil-kecil
agar mudah dimasukkan ke dalam mesin penggilingan. Selanjutnya digiling sampai
berbentuk serbuk halus untukmemudahkan pelarut melakukan penetrasi pada saat
ekstraksi.
Sebanyak satu kilogram serbuk dimasukkan ke dalam tabung kemudian
direndam dengan 4 liter etanol selama dua kali 24 jam pada suhu kamar. Serbuk yang
direndam disaring dan ampasnya dimaserasi kembali sampai beberapa kali hingga
filtratnya relatif tidak kental. Filtratnya disatukan dan pelarutnya diuapkan dengan
memasukkannya ke dalam rotavapor pada suhu 40C sampai diperoleh ekstrak

etanol kental. Ekstrak kental ini dikeringkan di atas penangas air pada 40C sehingga
diperoleh ekstrak etanol kering.
Ekstrak etanol kering dihidrolisis basa untuk memisahkan ikatan gula dari
senyawa bioaktif dengan cara sebagai berikut. Ekstrak etanol tersebut dilarutkan
dalam metanol-air (1:9) lalu ditambahkan larutan natrium hidroksida (NaOH) 2N
sampai menjadi 1N. Selanjutnya larutan didiamkan di dalam ruang gelap pada suhu
kamar selama 24 jam agar reaksi tidak terganggu cahaya, hal ini dilakukan untuk
memisahkan bahan aktif yang berupa aglikon dari gulanya. Hasil hidrolisis ditambah
dengan asam sulfat (H2S04) 10% agar larutan netral kembali. Pelarut ekstrak yang
diperoleh diuapkan kembali dengan rotavapor yang dilanjutkan di atas penangas air
pada suhu 40C sampai diperoleh ekstrak etanol terhidrolisis kering.
(Siahaan,Parluhutan.2012.Pengaruh Ekstrak Urang Aring (Eclipta alba L. Hask.)
terhadap Pertumbuhan Jamur Fusarium oxysporum f. lycopersici (Sacc.) Snyder &
Hans. Jursusan biologi Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi. Manado. )
3.

Pembuatan Infusa Daun Urang Aring

Daun urang aring dikumpulkan terlebih dahulu. Kemudian dicuci dengan air bersih
untuk menghilangkan kotoran dan debu. Daun kemudian ditimbang dan dikeringkan
di lemari pengering selama lebih kurang .. hari/minggu. Daun urang aring
yang telah kering ditimbang dan diremas-remas kemudian dimasukkan ke dalam
panic infusa dan ditambah aquadest. Lalu dipanaskan , di atas tangas air selama 15
menit terhitung mulai suhu mencapai 90 0C sambil sekali-sekali diaduk. Serkai
(saring) selagi panas melalui kain flanel, tambahkan air panas secukupnya melalui
ampas hingga diperoleh volume infusa yang dikehendaki. (Anonim, 1974, Ekstra
Farmakope Indonesia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, 410)
4.

Penentuan Dosis Injeksi Minyak Jarak (Oleum ricini)


Dosis Injeksi Minyak Jarak (Oleum ricini) 1ml/200 g BB doberikan secara

peroral. ( Yogesh, M.,Pratap, S.A., Devender, P., 2012, Comparison Of Anti-Diarrheal


Activity Of Hydroethanolic Extract Of Calotropis, Procera and Calotropis Gigantea
Leaves, JPSI, 1 (4) : 32.
5.

Penentuan Dosis Loperamid

6.

Rancangan Perlakuan Hewan Uji


Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap pola searah. Digunakan

tikus Wistar betina dengan berat 210-230 gram yang dipuasakan semalam dan
kandangnya harus jauh dari air. Sebanyak 36 ekor tikus betina Wistar dibagi secara

acak masing masing kelompok mendapat 6 ekor tikus. Untuk kelompok II sampai VI
tikus diinduksi oleh minyak jarak (Castor Oil) sampai diare.
Kelompok I

: Sebagai control normal, untuk mengamati tikus pada keadaan normal.

Kelompok II : Sebagai control negative, tanpa diberi obat.


Kelompok III : Sebagai control positif, tikus diberi Loperamid.
Kelompok IV : Sebagai kelompok perlakuan I, tikus diberi infus daun urang aring
.. gram.
Kelompok V : Sebagai kelompok perlakuan II, tikus diberi infus daun urang aring
.. gram
Kelompok VI : Sebagai kelompok perlakuan III, tikus diberi infus daun urang aring
.. gram
Satu jam setelah diberi obat dan ataupun ekstrak urang aring secara peroral, tikus
diinduksi dengan 1 ml minyak jarak ( Casor Oil). Kemudian diamati selama 24 jam .
Feses dikoleksi pada lembaran kertas saring yang dibentuk seluas kandang tikus.
Setiap 15 menit dalam 8 jam pertama,diamati urine yang kering karena adanya
gravitasi dan berat feses bersih. Hal tersebut merupakan ekskresi diare awal. Periode
diare bebas didefinisikan sebagai waktu dalam menit antara pemberian minyak jarak
dan terjadinya diare pertama. Tahap diare akut adalah waktu antara pertama dan
terakhir diare dari periode pengamatan 8 jam pertama. Feses yang terjadi antara 8 dan
24 jam setelah pemberian minyak jarak disebut ekskresi diare akhir
Parameter yag diamati meliputi konsistensi feses degan cara melihat feses
yang dikeluarkan apakah padat, cair, atau lembek. Kemudian skor ditentukan jika cair
harganya 1, jika lembek harganya 3 dan jika padat harganya 5.Frekuensi diare
dihitung selama pengamatan berapa kali hewan uji mengalami defekasi abnormal.
Diperoleh dari banyaknya jumlah frekuensi selama 24 jam. ()
36 ekor tikus Wistar betina dibagi menjadi 6 kelompok

Kelompok I Kontrol
Kelompok
Normal
II Kontrol
Kelompok
NegatifIII Kontrol
Kelompok
Positiv
IV Perlakuan I

Kelompok VI Perlakuan III

Diberi Castor Oil

Tanpa
Diobati

Diberi
Loperami
d

Diberi
infus daun
urang
aring g

Diberi
infus daun
urang
aring g

Diberi
infus daun
urang
aring g

Diukur frekuensi diare, konsistensis feses, berat badan dan


berat feses.

Analisis data menggunakan Anova ( p < 0,05 )